Arsip untuk Juni 2010




Cerita 18sx – Akhirnya Kunikmati Pemerkosaan Itu – 5

Dari Bagian 4

Sentuhan dan isapan Mas Rudi benar-benar lain malam ini, membuat birahiku seketika melonjak naik. Apalagi ketika bibirnya mulai turun dan menciumi bagian vitalku, aku sampai basah kuyup dibuat kenikmatan. Tiba-tiba Mas Rudi mengubah posisiku, dibuatnya aku menghadap kekanan dengan posisi membelakangi tubuhnya. Ia kemudian menjilati sekujur punggungku setelah menarik turun daster yang kupakai. Tangannya kemudian menyibak daster bawahku sehingga dasterku terkumpul diperut. Dari belakang, kurasakan tangan Mas Rudi menyerang vaginaku, bibir mungil bawahku dibelai dengan jari-jarinya, kadang jari tengah disisip dan digesekkan tepat dibelahan vaginaku.

“Ouhh..,” aku merintih kenikmatan saat jari tengah Mas Rudi mulai mengocok vaginaku dari belakang.

Sepuluh menit kocokan jari itu kurasakan, aku sudah melayang dan nyaris sampai puncak. Tapi mendadak jari itu berhenti dan dicabut dari liang senggamaku yang sudah monyong-monyong kenikmatan.

“Kok berhenti mas..,” aku tetap terpejam dan membelakangi Mas Rudi.

Mas Rudi diam dan kembali mencumbuiku, tapi tetap tak bersuara. Masih dengan tubuh mebelakangi Mas Rudi, aku mencoba meraih bagian celana suamiku. Tapi, astaga, punya Mas Rudi ternyata bangun malam ini, tegak dan terasa keras.

Karena bingung campur penasaran, kupicingkan mata dan segera berbalik kebelakang.

“Haahh, Bruuccee.., apa-apaan ini?” aku sangat terkejut karena ternyata yang sedang mencumbuiku ternyata Bruce, bukan Mas Rudi. Bruce juga terkejut, mungkin tak mengira kalau aku akan bangun. Tiba-tiba tangan kekar Bruce membekap mulutku dan ia pun segera menindih tubuhku.

“Ayo Anni, please.. Tolong aku, ini sudah tanggung.., jangan melawan kalau tak mau kukasari,” Bruce sedikit mengancamku.

Keadaan memang sudah tanggung, aku dan Bruce sudah sama bernafsunya. Tapi aku harus melawan, aku tak boleh begitu saja pasrah, aku gengsi dan malu dong. Namun aku tak berkutik ditindih berat tubuh Bruce.

“Jangan Bruce.., aku takut Rudi tahu,” pintaku, walau sebenarnya aku pun ingin menikmati cumbuan itu lagi.

“Hsstt.., Ani.. Tolong aku. Oke aku tak akan masukan penisku ke vaginamu, tapi tolong bantu aku sampai aku puas ya..,” Bruce merengek.

Bruce aktif lagi mencumbuiku. Sudah kepalang tanggung pikirku, sehingga akupun pasrah terbawa cumbuan Bruce. Dengan posisi menindihku, Bruce membuka celananya dan menempelkan penis panjangnya yang sudah tegap di vaginaku. Menepati janjinya, penis itu tidak dimasukan dalam liang vaginaku, tetapi hanya digesekkan saja dipermukaan vaginaku. Lima menit berlalu rupanya pertahananku hampir bobol. Meski tak masuk keliang nikmatku, namun gesekan penis Bruce ditambah bobot tubuhnya diatas tubuhku membuat vaginaku menerima rangsangan yang cukup dibagian klitorisnya.

“Emmhh.. Bruuccee..,” akhirnya erangan nikmatku keluar juga. Saat itu kurasakan klitorisku mulai membesar dan denyutan kecil mulai terasa mengitarinya, aku hampir orgasme.

“Ani..,” Bruce memanggilku dan menghentikan aktifitasnya. Setelah itu kurasa Bruce memindahkan posisi penisnya sehingga ujung penisnya tepat berada dibelahan bibir vaginaku yang sudah basah kuyup.

Bruce kini lebih berani, penis itu ditekan masuk ke vaginaku yang memang sudah resah menunggu. Akhirnya aku dan Bruce bersenggama, ya Bruce jadi pejantanku malam itu. Kuakui mungkin Bruce adalah pria pertama yang memberi kepuasan begitu dasyat padaku. Sore hingga malam itu, kami lakukan aktifitas seks sampai empat kali. Empat kali itu pula aku merasa puncak yang sangat fantastis.

Namun kenangan bersama Bruce tinggal kenangan saat esok paginya Bruce harus kembali ke Jakarta. Aku Ani, kembali kesepian. Terima kasih Bruce, untuk kenangan satu malam yang sangat berkesan.

*****

Seminggu ini rumahku sering dapat telepon gelap yang intinya mengancam Mas Rudi suamiku, lantaran berita yang dibuat Mas Rudi menohok salah satu kepentingan pejabat di kota M. Malah belakangan yang ikut mengancam mengaku-ngaku dari aparat keamanan juga.

“Mas.., kita pindah rumah sementara yuk. Aku kok jadi takut diteror terus,” pintaku pada Mas Rudi malam itu. Kami sudah berbaring di kamar karena memang jam sudah menunjuk angka 10 malam.

“Heemm, kenapa sayang? Aku janji nggak akan ada apa-apa,” Mas Rudi menjawab sambil memeluk tubuhku.

Mas Rudi kemudian menjelaskan padaku tentang berita yang dibuatnya itu. Katanya masalah dengan pejabat itu sudah selesai dua hari lalu, damai. Tapi aku masih saja trauma dengan kejadian pertama yang berakibat fatal hingga penganiayaan yang membuat penis Mas Rudi mati total itu.

“Tapi Mas..,”

“Sudah sayang.., kamu nggak usah takut. Itu resiko kerja namanya,” katanya lagi.

Pembicaraan kami akhirnya berhenti, dan kami berdua terlelap tidur. Seharian tadi memang aku sangat capek mengurus kios hanya dibantu Ijah, dan Mas Rudi pun kelihatan letih seharian bekerja.

“Sayang.., bangun sayang..,” suara Mas Rudi membangunkan aku tengah malam.

“Tuh dengar.. Sepertinya ada yang masuk ke rumah,” kata Mas Rudi saat aku membuka mataku. Benar saja, di ruang tamu rumah kami terdengar banyak langkah kaki dan suara berisik. Mas Rudi segera bangkit dan membuka pintu kamar.

Braakk!! pintu kamar terbuka sebelum dibuka Mas Rudi, daun pintu yang terdorong kencang malah membentur wajah Mas Rudi hingga ia terpental ke lantai.

“Jangan berteriak..!!,” empat lelaki bersenjata api dan senjata tajam mendesak masuk ke kamar tidur kami sambil mengancam dan menodongkan senjata mereka. Aku sungguh takut malam itu, apalagi kulihat Mas Rudi pingsan akibat benturan pintu.

“Ha.. Ha.. Ha, sekarang kalian akan rasakan pembalasan bos kami ya..! Hei kamu pelacur, ayo kesini,” lelaki yang bertubuh paling besar memanggilku kasar dan menarik tubuhku turun dari kasur.

“Sssiapa kalian.., apa salah kami?” aku mengiba.

Muka mereka tertutup stoking mirip perampok, kupikir kami memang sedang dirampok. Tapi setelah mereka menjelaskan bahwa kedatangannya adalah untuk menghajar Mas Rudi karena berita pejabat itu, aku baru sadar, kami sedang dalam bahaya. Astaga, mereka juga rupanya sudah meringkus Ijah, dan dibawa serta kekamar kami.

“Nyaahh, toloong Nyah..” Ijah dipegang erat dua lelaki lainnya, sementara yang dua mulai mengikat tubuh Mas Rudi ke sebuah kursi di kamar. Singkatnya malam itu kami bertiga diikat kaki dan tangan, tapi aku dan Ijah dibiarkan terikat di kasur sedangkan Mas Rudi diikat dalam posisi duduk menghadap kami di kursi.

“Hai kopral.. Ambil air, biar nih wartawan sok jago sadar,” kata lelaki yang paling besar kepada yang lain.

“Oke komandan, segera laksanakan,” dua lelaki langsung mengambil air, begitu kembali seember air langsung diguyur ke Mas Rudi.

“Hhhaahh.. Siapa kalian bangsaat..,” Mas Rudi menghardik mereka ketika sadar. Tapi posisi yang terikat membuat Mas Rudi tak bisa berbuat banyak, apalagi setelah itu mulut Mas Rudi ditutup lakban. Mereka juga menutup mulutku dan Ijah dengan lakban pula.

“Heii sombong, kamu pikir bos kami begitu saja memaafkanmu dengan damai dua hari lalu? Tadinya kami ditugaskan gorok lehermu. Tapi.. (Lelaki itu memandang aku dan Ijah) Tidak. Kami akan lebih kejam dari itu.. Lihat saja bagaimana sebentar lagi kontol-kontol kami mengoyak-koyak pembantu dan istrimu yang cantik dan mulus itu,” tangannya menuju arahku dan Ijah.

Setelah mengatakan akan memperkosa aku dan Ijah, keempat orang itu lalu saling bagi. Yang paling besar dan satu lagi yang agak tambun meraihku dan mengikatku kembali dalam posisi terlentang. Tangan dan kakiku diikat diujung-ujung ranjang. Sedangkan dua lelaki lain, yang jangkung dan yang botak meraih Ijah dan mengikatnya seperti posisiku dilantai kamar.

“Hmmpp..,” Mas Rudi hanya bisa bersuara tersumbat dengan mata melotot ketika keempat lelaki itu membugili aku dan Ijah. Mata keempat lelaki itu memandangi tubuh polos kami berdua.

Aku sangat takut malam itu, sungguh aku takut. Kupikir aku dan Ijah akan jadi korban perkosaan brutal, terus terang aku jijik sekali melihat tampang mereka malam itu. Tapi dugaanku meleset. Si jangkung mendekat ke arah Ijah, sedangkan tiga lelaki lainnya duduk menonton dikursi dekat Mas Rudi berada.

“Tenang sayang.. Kamu pasti asyiik kubuat,” jangkung mulai meraba-raba Ijah. Aku bisa melihat semuanya karena posisi Ijah tak terlalu jauh dari dipan tempat aku diikat.

Bibir si jangkung langsung mengisap isap susu Ijah.

“Ehgghh.. Mmmppffhh,” ijah bersuara keras tersumbat, tapi nadanya protes.

Jangkung terus beraksi, malah hisapan dan rabaannya mulai turun dan akhirnya bermuara di vagina Ijah yang jelas terlihat karena diikat mengangkang. Awalnya Ijah terus mengeluarkan suara keras bernada protes. Tapi beberapa menit kemudian Ijah sepi, yang ada justru Ijah mendesis-desis menahan birahi.

“Mmmpphhff.. Eengghh..,” tubuh ijah mengelinjang menahan geli saat lidah jangkung menyapu klitorisnya.

“Ha.. Ha.. Kenapa sayang.. Hah? Mulai enak ya,” jangkung mengejek Ijah sambil melucuti pakaiannya sendiri sampai bugil juga.

Kini jangkung siap menyetubuhi pembantu kami itu. Penisnya yang lumayan besar sudah diletakkan persis dipintu masuk vagina Ijah. Ijah sudah birahi dengan mata sayu memandang jangkung, nafasnya pun terlihat memburu dari dadanya yang turun naik. Bleess.. Pleess.. Jlebb.. penis jangkung amblas total di vagina Ijah.

“Ngghh..,” Ijah menggelinjang menerima penis jangkung.

“Ouhh eennakk sekali tempikmu sayang,” jangkung nyerocos sambil menggenjot Ijah.

Ke Bagian 6

Tags : Cerita ngewe,cerita seks,cerita 17tahun,cerita sex,ceritasexs,toket montok, Foto Toket Gadis Abg, pentil tete, pentil toket, toket gede banget, cewek cantik, bugil, gambar bugil, tante girang, chika bandung, cewek telanjang, telanjang bugil, model bugil, telanjang bulat

1 komentar 17 Juni 2010

Cerita 18sx – Akhirnya Kunikmati Pemerkosaan Itu – 4

Dari Bagian 3

Vaginaku mulai membasah, sentuhan jemari Jaka sudah berani nakal membelai-belai bibir vaginaku. Udara dingin dan suara hujan membuat nafsuku melambung, Jaka pun kian girang menikmati tubuh mulus majikannya ini. Tiba-tiba Jaka menghentikan aktifitasnya, kulirik dari sela mataku, Jaka mempreteli pakaiannya sendiri sampai bugil. Wah walau bertubuh pendek dan kurus, tapi penis Jaka lumayan juga, lebih panjang dari punya Maman walau pun lebih langsing.

Aku masih pura-pura tidur, Jaka mengangkat dasterku dan bebas melototi vaginaku yang memang tak ber CD. Dielus lagi vaginaku dengan jemarinya, sambil dia naik ke sofa tempatku berbaring.

“Duhhss, Mass.. Rud, cepeetaan dong.. Annii nggak tahaan.. aahhmmpp,” belum selesai ceracauku, Jaka sudah menyumpal bibirku dengan mulutnya. Disedotnya seluruh bibirku dengan nafsu, dan penisnya yang tegang mulai amblas dalam vaginaku. Bleess.. jleepp.., Jaka mulai menggoyangku dengan sangat nafsunya.

“Eiihh.. huuss.. eenaakk sekallii Ani memekmu enaak..,” Jaka terus menggenjotku.

“Aahh.. ohh..,” aku mulai merasa nikmat yang sama menjalari tubuhku, pinggulku kubuat seirama kocokan penis Jaka.

Tapi rupanya gerakanku itu salah, karena membuat nafsu Jaka tak terkendali. Baru lima menit gerakan pinggul kulakukan, tubuh Jaka sudah mengejang kaku diatas tubuhku.

“Ahh.. uueennaakk.. sayaang,” crot.. crot.. Jaka orgasme karena nafsu yang sangat tinggi akibat goyangan dan suara erotisku. Terang saja aku kecewa, aku belum lagi apa-apa, lantas aku bangkit dan membuka mata melotot.

“Jaka.., apa-apaan kamu ini hah..,” sergahku pura-pura marah.

Belum sempat aku lanjutkan kata-kataku, Jaka mengeluarkan sebilah pisau dari bajunya di lantai.

“Jangan berteriak Bu,” pisau tajam itu ditodongkan ke arahku, aku takut.

“Sekarang diam, dan Ibu harus nungging.. ayo nungging. Disini Bu ceppaat,” teriak Jaka sambil menunjuk sisi sofa.

Hujan masih lebat, aku terpaksa nungging dengan dua tangan menekan pinggir Sofa, Jaka berdiri tepat dibelakangku.

“Nah.., akan kubuat Ibu lebih enak dari yang tadi. Anggap saja aku suamimu Bu,” Jaka membelai-belai bokongku, lalu jongkok tepat di belahan bokongku. Tangannya menyibak bongkahan bokongku sehingga vaginaku jelas terlihat olehnya, setelah itu, astaga, Jaka mulai menjilati vaginaku.

“Ahh.. sstt Jakk.. aouhh gelii Jak,” aku tak bisa lagi berpura-pura, jilatan Jaka dalam posisiku nungging begitu terasa nikmat sekali.

Mendengar desahku Jaka makin berani, kini pisau ditangannya sudah dilepas dan ia kembali menjilati vitalku itu. Cukup lama Jaka menciumi dan menjilati vaginaku, sampai kurasa sesuatu mulai mengumpul di paha, pantat dan bibir vaginaku itu. Aku hampir orgasme ketika Jaka menghentikan jilatannya. Tadinya aku mau marah lagi karena orgasmeku batal, tapi setelah jilatan itu lepas, ternyata penis Jaka sudah kembali tegang dan langsung menusuk ke liang nikmatku.

“Ahh, enaak ya Buu,” Jaka menggenjot tubuhku dari belakang, maju mundur.

Aku terbuai, posisiku hampir kalah, kedutan kecil mulai tercipta di dinding vaginaku. Jaka mempercepat goyangnya, hingga sepuluh menit kemudian aku semakin merasa mau jebol. Posisi nunggingku sudah utuh, tangan tak lagi menyangga tubuh. Kini aku seperti tiarap di Sofa dengan kaki berlutut di lantai, Jaka ikut jongkok, aku mirip betina yang sedang di setubuhi jantannya.

“Ouughh.. Jakk.., akuu.. ammpuun..,” pertahananku jebol, kurasakan semua sendiku ngilu, dan kedutan di dinding vaginaku menjepit-jepit penis Jaka yang masih aktif.

Tapi tak lama berselang, Jaka pun sampai puncaknya, dan tegang kaku di atas punggungku.

“Ahh Nyah.. ohh,” Jaka masih menidihku, dan posisi kami masih seperti pasangan jantan dan betina yang sedang senggama.

Kurasakan kedutan kelamin kami berpadu sampai akhirnya hilang perlahan, aku ngantuk dan terpejam, aku tertidur pulas dibuai kenikmatan dari penis pembantuku.

Paginya aku terbangun saat Minah menggoyang-goyang bahuku.

“Nyah bangun Nyah.., kok Nyonya telanjang di luar begini sih?,” suara Minah bercampur heran melihatku dalam kondisi bugil tertidur di sofa tengah.

“Ehh Min, oh.. aku ketiduran semalam nih,” aku segera bangkit dan beranjak ke kamarku sambil pakai daster kembali, Jaka sudah tak ada entah di mana dia.

Siangnya aku baru tahu dari Ijah kalau Jaka kabur. Dia cuma bilang ke Ijah kalau dia punya masalah sama preman di pasar tempat aku membeli barang dagangan untuk kios milikku. Aku tahu Jaka takut kejadian malam tadi sampai terdengar Mas Rudi, ia pikir ia telah memperkosaku. Kasihan juga Jaka, seharusnya aku jujur kalau aku pun ingin begituan, lagipula aku juga yang memancing birahinya. Tapi begitulah, aku juga gengsi sebagai majikan relah disetubuhi pembantu. Belum lagi selesai memikirkan Jaka yang kabur, sorenya Maman dan Minah menemuiku. Mas Rudi pulang cepat sore itu, dan mereka berdua, Maman dan Minah berbicara dengan kami di ruang tamu.

“Anu Pak Rudi, kami salah pak.., anu pak,” Maman gagap.

“Ada apa Pak Maman bicara saja,” dorong Mas Rudi.

Tadinya aku yang gugup jangan-jangan Maman mau bongkar rahasia seks kami selama ini, tapi setelah itu aku lega.

“Kami mau pulang kampung pak, si Minah hamil, kami harus nikah,” pengakuan Maman membuatku agak terkejut sekaligus kecewa, apalagi Jaka sudah pergi juga. Terbayang olehku hari-hari yang bakalan sepi di saat gairah seksku sedang tinggi-tingginya akhir-akhir ini.

Singkatnya sore itu Mas Rudi mengijinkan mereka pulang kampung sekaligus membayar pesangon kerja mereka. Sejak saat itu di rumah hanya ada aku, Ijah dan Mas Rudi yang selalu pulang larut malam. Meski dua pembantu lelaki itu sudah tiada tapi kenangan bersama mereka selalu kukenang, terutama saat aku birahi sendiri dalam sepi, bersama penis Mas Rudi yang tak bisa berdiri lagi.

Sejak kepergian Jaka, Maman serta Minah, tiga pembantuku, aku jadi kesepian dan hanya Ijah satu-satunya teman setiaku dirumah. Tapi kulalui saja kehidupan itu dengan sibukan diri mengurus kios kami, tentu saja dibantu Ijah.

Siang itu tak seperti biasanya Mas Rudi pulang ke rumah, tapi ia tidak sendiri. Bersama Mas Rudi turun dari mobil seorang lelaki bertampang bule.

“Ani.., kenalkan ini Bruce, teman kameraman TV Australia,” kata Mas Rudi menunjuk lelaki di sampingnya, kami pun bersalaman.

Setelah kubuatkan minuman dingin dan duduk bertiga diruang tamu, Mas Rudi mulai menceritakan siapa Bruce. Bruce adalah pria asal Australia berusia 28 tahun yang sudah tiga tahun ini tinggal di Jakarta. Bruce bekerja di sebuah stasiun TV Australia sebagai kameramen untuk reporter yang ada di Jakarta. Kebetulan Bruce sudah seminggu ini ada di kota M untuk meliput sebuah event internasional yang diselenggarakan di kota M.

“Bruce akan menginap disini beberapa hari, pingin lihat-lihat kota M, kasihan kalau harus nginap di hotel. Toh aku juga pernah liputan bareng dia di Jakarta,” Mas Rudi menjelaskan. Singkatnya untuk beberapa hari Bruce menginap di rumah kami di Kota M.

Sore itu, hari ketiga Bruce menginap di rumah kami. Ijah masih sibuk ngurus pelanggan kios, sedangkan Mas Rudi baru saja pergi ke redaksinya. Bruce bertubuh sangat atletis, tingginya mencapai 187 cm dengan postur yang ideal. Apalagi wajahnya yang mirip Antonio Banderas itu pasti membuat semua wanita tergila-gila padanya.

Bruce berolahraga ringan di taman belakang rumahku. Menggunakan kaos ketat dan celana pendek ketat pula, lekuk tubuh atletis Bruce makin mempesona dihiasi titik titik keringat yang membasahi.

“Istirahat dulu Bruce.., ini kubuatkan es limon untukmu,” aku meletakkan segelas es limon dimeja dan mengambil duduk di kursi taman. Bruce menatapku dan tersenyum, lalu menghampiriku duduk bersama.

“Kamu baik sekali Ani.., pasti Rudi bahagia punya istri sepertimu,” Bruce memujiku tulus.

“Makasih Bruce, kamu ini ada saja,”

“Aku juga punya istri, dan rindu juga karena dia di Australia,” Bruce bercerita.

Rupanya selama tiga tahun di Jakarta, Bruce hanya sesekali pulang ke Australia, atau istrinya yang ke Jakarta.

“Kamu bisa tahan ya Bruce,” aku keceplosan menanyakan itu, kesalahanku memang.

“Tahan apa Ani?,”

“Eh.. Maksudku tahan nggak ketemu istri,” aku tertunduk malu.

“Kalau maksudmu itu aku sih tahan, tapi kalau masalah seks.. Aku menghabiskan waktu olahraga saja,” katanya.

Kami pun terlibat obrolan seputar rumah tangga kami. Entah kenapa akhirnya kisahku bersama Mas Rudi kuceritakan pula, bagaimana kecelakaan itu, bagaimana Mas Rudi sudah tak mampu menjalani tugasnya sebagai suami, dan bagaimana sampai kini kami tak kunjung punya anak.

Malam mulai merayap, kami sudah selesai makan malam tapi Mas Rudi belum juga pulang. Sampai akhirnya jam 9 malam Mas Rudi mengirim SMS yang intinya ia nggak bisa pulang karena ada berita yang harus dikejar dan ditunggu sampai malam. Bruce sudah masuk ke kamar tidur yang kami siapkan untuknya, sedangkan aku sudah berbaring di kamar tidurku, dan siap untuk tidur.

Malam itu akhirnya Mas Rudi pulang juga, dan langsung berbaring disampingku. Seperti biasa kalau mau melampiaskan nafsunya, Mas Rudi mulai menciumiku. Aku membiarkan saja ketika suamiku melepaskan CD yang kupakai, Bra yang kukenakan pun ditanggalkan menyisakan daster merah muda yang masih melekat ditubuhku.

“Ahhmm.. Mas,” aku bersuara manja tetap terpejam.

Mas Rudi semakin aktif menciumiku. Dasterku dibuka bagian atas dan susuku mulai diisap-isap putingnya, sementara tangannya mulai aktif menjelajahi bagian bawahku.

Ke Bagian 5

Tags : Cerita ngewe,cewek cantik, toket, cewek abg, cerita saru, Cerita Setengah Baya, Cerita Daun Muda, toket montok, Foto Toket Gadis Abg, pentil tete, pentil toket, toket gede banget, cewek cantik, bugil, gambar bugil, tante girang, chika bandung, cewek telanjang, telanjang bugil, model bugil,cerita sex,cerita seks,cerita sexs

1 komentar 16 Juni 2010

Cerita 18sx – Akhirnya Kunikmati Pemerkosaan Itu – 3

Dari Bagian 2

Ya Tuhan, aku sudah menodai kepercayaan Mas Rudi. Aku menitikan air mata usai meraih kepuasanku dari Maman.

“Maafkan saya nyonya, saya khilaf waktu lihat nyonya tidur dan pintu tak ditutup,” Maman membuka bicara.

Dari situ aku tahu, sehabis dipijat Ijah, aku tertidur dan Ijah tak menutup pintu kamarku. Setelah larut saat Ijah, Minah dan Jaka tidur, Maman hendak menguncikan pintu rumah tetapi batal karena melihat posisi tidurku dengan daster tersingkap. Maman jadi khilaf dan berniat memperkosaku.

“Kalau saya mau dipecat, saya hanya minta uang saku untuk pulang kampung nyah, saya nggak minta apa-apa lagi,” tutur Maman mengiba.

“Kamu nggak salah Man, aku yang salah aku juga khilaf. Ya sudah kamu pindah kamar sana dan jangan bilang siapa-siapa ya, anggap saja tadi itu hadiah dariku buat kamu,” kataku sambil menyuruh Maman pergi dari kamarku.

Hari ketiga saat Mas Rudi liputan luar kota, aku jadi termenung sendiri dalam kamar sejak pagi. Urusan kios aku percayakan sepenuhnya pada pembantuku, sementara aku hanya memikirkan kejadian malam kemarin dengan Maman. Kupikir aku diperkosa dan diinjak-injak harga diriku, tapi kupikir lagi aku pun menikmatinya, malah harus berterima kasih pada Maman yang telah mengobati rinduku selama ini untuk bersenggama dengan lelaki sebenarnya.

Sejak kejadian dengan Maman itu, aku seperti menemukan kehidupan baru. Jika aku butuh kepuasan semacam itu aku akan memanggil Maman melayaniku. Tentu saja semua tanpa sepengetahuan Mas Rudi, suamiku tercinta.

Tiga bulan sejak kerap melakukan hubungan gelap dengan Maman, tukang kebunku, aku merasa irama hidupku menjadi normal. Walau aku sadar telah menodai kepercayaan Mas Rudi suamiku, tapi aku juga kan wanita normal yang butuh kepuasan yang tak mungkin kudapat dari Mas Rudi lagi.

Sore itu hujan turun di kota M, sementara aku, Ijah, dan Jaka masih melayani pelanggan kios serba ada milikku. Mas Rudi belum pulang, biasanya pulang larut malam, Minah sibuk masak di dapur, dan Maman terakhir tadi kulihat membersihkan taman dibelakang rumahku.

“Aduh.. Jah, lanjutin dulu ya kerjaannya, saya mau lihat Minah di dapur. Tadi lupa bapak minta buatin telur asin,” aku mendadak ingat Mas Rudi memesan telur asin kesukaannya untuk makan malam.

Kutinggalkan Ijah dan Jaka melayani pelanggan kiosku, dan aku berlari kecil melalui pintu pembatas kios-rumah menuju dapurku.

“Minn.. Minaahh..,” sampai di dapur Minah yang kucari sudah tak ada, hanya ada sayur lodeh yang mendidih diatas kompor nyala.

“Astaga Minah kok ceroboh sih.., kemana lagi si Minah uhh,” segera kuangkat panci berisi lodeh, kompor kupadamkan dan selanjutnya mencari Minah.

Tadinya kupikir Minah lagi pipis atau buang air besar di WC belakang, jadi aku melangkah kesana. Tapi belum sampai ke WC pembantu itu, aku dengar suara rintihan khas orang sedang bersenggama. Ups.., langkah kuhentikan di tepi letukan tembok, kusaksikan pemandangan yang membuat darahku berdesir.

Maman sedang asyik menggenjot pantatnya dengan penis besar yang tertancap di vagina Minah, Maman berdiri, sedangkan Minah nungging berpegang pada pagar kayu di taman belakang rumahku. Mereka tampak buru-buru dan tidak telanjang, daster Minah diangkat naik dan CDnya diturunkan sebatas lutut, dan celana Maman merosot sebatas lutut pula, tapi baju mereka tetap terpasang. Meski hujan cukup deras mereka tidak basah karena di taman belakang rumahku Mas Rudi sengaja membuat tempat duduk teduh untuk menghabiskan jika ada waktu santai kami.

“Ohh Kaang.. enak.. aahhsst,” Minah menjerit tertahan, orgasme sampai pinggulnya bergetar hebat.

“Ouhh iyaahh Minnhh.. ssiip,” tubuh Maman pun mengejang menyusul orgasme Minah, tentu sperma Maman banyak menyiram vagina Minah, pikirku.

Sialan, rupanya mereka curi kesempatan karena hujan deras. Ehm, mungkin enak juga ya bersenggama saat hujan deras. Sebelum mereka merapikan pakaiannya, aku langsung kembali ke dapur dan duduk di kursi dapur.

“Ehh, Ibu kok disini?, ehh anu Bu.., saya habis pipis.., tapi sayurnya nggak hangus kan Bu?,” Minah gugup melihatku ada di dapur.

“Iya.. iya, tapi lain kali jangan ceroboh dong, untung saya ke dapur. Kalau nggak kan bisa kebakaran rumah ini,” kataku pada Minah, Minah manggut-manggut.

Malamnya, hujan masih lebat. Tiba tiba telepon berdering.

“Halo sayang, maaf ya.. aku nggak bisa pulang. Nginep di kantor ada kerjaan tambahan yang harus kelar malam ini,” begitu inti bicara Mas Rudi saat telepon kuangkat.

Aneh, harusnya sebagai istri aku kecewa suami nggak pulang. Tapi kok aku malah senang ya? Malah pikiranku ingin segera menemui Maman dan melampiaskan kerinduanku pada penisnya yang hitam besar itu.

Jam 10 malam, aku sengaja mengenakan daster tipis tanpa CD dan bra, menikmati acara hiburan TV di ruang tengah rumahku, sejuk segar rasanya. Hujan masih lebat.

“Permisi Bu, mau ikutan nonton,” suara Jaka membuatku sedikit terkejut.

“Eh.. kamu Jak, si Ijah mana?,” aku duduk diatas sofa, Jaka ambil duduk di lantai semeter di depanku.

“Anu Bu, sudah tidur, kecapean mungkin. Semua sudah tidur, saya aja belum ngantuk Bu”

“Wah.., padahal saya mau dipijitin, cape juga nih, pegel,” aku memijit-mijit sendiri kakiku, tubuhku merunduk.

Jaka memperhatikanku tak berkedip, dasterku terkuak dalam posisi itu, buah dadaku pasti terlihat Jaka.

“Kamu bisa mijitin Jak?,” pertanyaanku membuat Jaka kaget, tapi tetap menatapku.

“Ah Ibu, saya nggak berani Bu, nanti dikira usil,” Jaka malu, pemuda itu memang selalu pemalu, tapi aku tahu selama ini dia sering curi pandang menikmati indah tubuhku.

“Kok gitu? kalau bisa tolong saya dipijitin ya Jak. Disini aja disofa biar kamu nggak dibilang usil,” aku rebah dengan posisi menelungkup.

Jaka ragu-ragu tapi kemudian mendekatiku. Sofa ruang tengah agak lebar ukurannya, jadi Jaka kusuruh duduk di tepi sofa dan memijitku.

“Permisi loh Bu,” Jaka mulai memijiti betisku, tangannya dingin membuat pijitannya terasa asyik di betisku.

“Hmmh, enak juga tanganmu ya Jak, belajar mijit dimana sih,”

“Nggak kok Bu, cuma biasa mijitin Kang Maman aja kalau dia cape,”

“Agak naik dong Jak, pahanya agak pegel,” perintahku disambut Jaka semangat. Paha dan betisku dipijit naik turun, kanan kiri.

Hujan semakin lebat diluar, pijitan Jaka mulai asyik kurasakan. Kadang tangannya terasa mengelus dan membelai betis dan pahaku, bukan lagi memijit. Tapi kubiarkan saja aksinya itu, kunikmati saja tangan nakalnya itu.

“Badannya mau dipijit juga Bu?,”

“Iya dong Jak, sekarang punggungku pijitin gih,”

Jaka memijit punggungku masih terhalang daster, tapi Jaka tahu, aku tak pakai bra karena tali bra tak ada di punggungku.

“Sebentar Jak, biar gampang kamu mijit,” aku bangun dan menurunkan dasterku sebatas dada, menutupi susuku saja, lalu rebah lagi tengkurap. Kini tangan Jaka memijit punggungku dan menyentuh langsung kulit mulusku, kadang tangannya mengambil kesempatan ke sisi tubuh menyentuh samping pangkal susuku.

“Ohh di situ Jak, pegel tuh, ouhh asshh.. enak Jak,” suaraku sengaja mendesis, nampaknya Jaka sudah dibuai nafsu. Pijitannya sudah berubah elusan dan remasan dipunggungku, kini malah turun ke pinggang, menyentuh pantatku, aku yakin Jaka pun tahu aku tak pakai CD.

“Jak?,”

“Ehh.. saya Bu,” suara Jaka agak serak menahan nafsunya.

“Pijitin terus sampai saya tidur ya. Kalau saya ketiduran nanti kamu kunci pintu belakang kalau sudah nonton TV ya, biar saya tidur disini,” aku sengaja bicara sambil terpejam, Jaka mengiraku sudah ngantuk benar.

Beberapa menit setelah itu aku sengaja tak bersuara lagi dengan mata terpejam seperti tidur. Jaka masih mijitin aku, tapi sekarang sepenuhnya hanya meremas dan meraba-raba tubuhku. Sekejap aku balikkan badan dan masih pura-pura tertidur, posisiku jadi menghadap atas, daster bagian depanku turun sampai separuh susuku nampak jelas. Jaka kaget, kulihat dari sela mata pejamku, ia berhenti mijit tapi tetap duduk di sisi sofa dan memandangi tubuhku. Aku tahu Jaka tersangsang dengan posisi tubuhku yang menantang.

Sebentar saja Jaka mematung, setelah itu kurasakan tangannya mengelus-elus pangkal susuku yang tersibak. Pelan-pelan sekali, dia takut aku bangun tuh. Setelah yakin aku tidur Jaka lebih berani menyibak dasterku lebih terbuka sampai susuku bebas tak terhalang.

“Ohh.. cantik sekali kamu Bu..,” Jaka berbisik sendiri sambil mengelus-elus susuku.

“Ahhss Mas Rud..,” aku pura-pura ngigau.

“Iya sayang.. ini Mas Rudi,” Jaka konyol menjawab ngigauku, pasti ia mulai berpikir ini kesempatan emas.

Benar saja dugaanku, setelah igauan itu didengar, Jaka tak ragu lagi melancarkan serangannya. Tangannya yang kasar mulai meremas-remas susuku, bibirnya juga ikut terjun mencium dan menjilati puting susuku.

“Ouuhh Mass.., ngghh.. gelii Mas aahhff..,” masih pura pura tidur aku merangkul tubuh kurus Jaka, ia semakin semangat menciumi susuku. Kini tangan Jaka sudah merayap ke bawah, pahaku diusap-usapnya.

Ke Bagian 4

Tags : Cerita ngewe,cerita sex, ngentot, Bugil, Telanjang, Foto Bugil, ABG BUGIL, cewek bugil, gambar bugil, gambar, cerita berahi, cerita pemerkosaan, cerita ghairah, cerita sexs, Cerita Seks, cerita 17 tahun

Add a comment 16 Juni 2010

Cerita 18sx – Agen Asuransi – 2

Dari bagian 1

Vera memandangku dan mengangguk ketika kepalanya ada di atas selangkanganku. Aku juga mengangguk. Aku memang tidak pernah meminta wanita yang kutiduri untuk melakukan oral sex. Aku sendiri tidak terlalu suka melakukan oral sex pada setiap wanita. Ada type-type wanita tertentu yang kuberikan service khusus ini. Jika mereka mau melakukannya biarlah mereka yang berinisiatif. Kepalanya kemudian bergerak ke bawah. Ia mengisap-isap buah zakarku dan menjilatinya sampai ke titik 2 cm di dekat anusku. Aku baca titik itu adalah titik Kundalini. Aku tidak tahan dengan perlakuannya. Kututup mukaku dengan bantal. Kugigit bibir bawahku sampai terasa sakit.

Tiba-tiba meriamku seperti kena setrum yang besar ketika lidah Vera menjilat kepalanya. Secara refleks kukencangkan otot perutku sehingga meriamku juga ikut bergerak-gerak. Punyaku memang tidak terlalu besar. Rata-rata saja untuk ukuran umum, namun ternyata beberapa wanita yang pernah merasakannya sangat puas. Kulepas bantal yang menutup mukaku dan kubuka mataku. Kulihat Vera dengan asyiknya menjilat, menghisap dan mengulum meriamku. Kadang-kadang ia melihat ke arahku dan tersenyum kecil. Aku terpekik kecil setiap lidahnya yang runcing menjilat lubang kencingku. Syaraf-syarafku di sana terasa mau putus.

Vera melepaskan kepalanya dari selangkanganku dan tangannya melepas celana dalamnya sendiri dengan cepat. Kembali bibirnya menyambar bibirku. Kubalas dengan ganas dan kudorong lidahku menggelitik rongga mulutnya. Lidahku kemudian diisapnya dengan kuat. Aku hampir tersedak. Tangannya mengembara ke selangkanganku dan kemudian meremas dan mengocok meriamku. Meriamku semakin tegang dan keras.

“Ouououhhkk.. Puaskan aku. Berikan aku kenikmatan” ia memekik tertahan.

Tidak lama kemudian tangannya memegang erat meriamku dan kurasakan pantat dan pinggul Vera bergerak-gerak menggesek meriamku. Dan kemudian.. Blesshh. Kepala meriamku masuk ke dalam gua kenikmatannya. Terasa lembab namun masih kering dan sempit. Kurasakan dinding guanya berdenyut-denyut meremas kemaluanku.

“Akhh.. Oukkhh” Vera mendongakkan kepalanya dan kujilati lehernya yang berada di depan wajahku. Ia terus menggoyangkan pantatnya sehingga sedikit demi sedikit makin masuk dan akhirnya semua batang meriamku sudah terbenam dalam guanya.

Vera menahan tubuhnya dengan kedua tangannya di sampingku. Pantatnya bergerak maju mundur untuk menangguk kenikmatan. Kadang gerakannya berubah kadang menjadi ke kanan ke kiri dan kadang berputar-putar. Sesekali gerakannya menjadi pelan dan pantatnya naik agak tinggi sehingga hanya kepala meriamku berada di bibir guanya dan bibir guanya kemudian berkontraksi mengurut kepala meriamku. Kemudian ia hanya pelan menggesek-gesekkan bibir guanya pada kepala meriamku sampai beberapa kali dan kemudian dengan cepat ia menurunkan pantatnya hingga seluruh batang meriamku tenggelam seluruhnya. Ketika batang meriamku terbenam seluruhnya badannya bergetar dan kepalanya bergoyang ke kanan dan kekiri. Napasnya mulai tersengal-sengal dan memburu.

Kunaikkan punggungku dengan bertopang pada siku. Kuisap puting buah dadanya yang sudah membatu. Gerakannya semakin liar dan berat. Tanganku kini memeluk punggungnya seolah-olah seperti menggantung pada badannya. Kulengkungkan bagian atas tubuhku mendekat ke tubuhnya. Berat badanku kutumpukan pada punggungku.

Tangannya yang menahan berat badanya kemudian dilepaskan dan memeluk diriku rapat-rapat. Kini gerakannya pelan namun sangat terasa. Pantatnya naik ke atas kadang sampai meriamku lepas, namun kemudian ia menurunkan lagi dengan pelan dan kusambut dengan gerakan pantatnku ke atas. Kembali meriamku menembus guanya, guanya berdenyut sehingga seluruh batang meriamku mulai dari pangkal hingga ke ujung seperti diurut. Baru kali ini aku merasakan denyutan dinding vagina yang begitu kuat. Ada beberapa wanita yang bisa melakukannya namun kali ini benar-benar luar biasa. Melebihi wanita Madura yang pernah kurasakan. Aku sendiri belum mengerahkan otot kemaluanku untuk berkontraksi, kubiarkan saja sampai ia mencapai puncak terlebih dahulu.

Tangannya meremas dan menjambak rambutku, punggungnya melengkung menahan kenikmatan. Mulutnya merintih dan mengerang keras. Kupikir mungkin terdengar sampai keluar kamar. Emangnya gua pikirin! Paling yang dengar jadi kepengin.

“Anto.. Ouhh Anto, aku mau nyampai, aku mau kelu.. ar”

“Sshh.. Shh”

“Anto sekarang ouhh.. Sekarang” ia memekik.

Tubuhnya mengejang rapat diatasku dan kakinya membelit kakiku. Mulutnya mencari-cari bibirku dan kusambar agar ia tidak merintih terlalu keras lagi. Vaginanya berdenyut kuat sekali dan pantatnya menekan ke bawah dengan keras hingga meriamku terasa sakit. Vaginanya terasa becek, namun tidak menyembur seperti yang banyak diceritakan orang. Kupikir mereka itu pembohong kalau menceritakan orgasme wanita yang sampai memancar seperti air mani. Kupeluk punggungnya dan kuurut dengan kuat mulai dari belakang leher sampai ke pinggangnya.

Tubuh Vera mulai melemas di atas badanku. Keringatnya menitik di sekujur pori-porinya. Kemaluanku yang masih menegang keras di dalam vaginanya. Vera sepertinya sengaja membiarkannya dalam posisi seperti itu.

“Terima kasih Anto. Kau sungguh hebat sekali. Aku nggak tahan lagi” ia berbisik di telingaku.

Aku diam saja sambil mengelus-elus punggungnya. Kuciumi rambutnya. Kupikir akan kupuaskan dia sampai tak bertenaga.

Akhirnya Vera bangun setelah napasnya teratur menghela napas dalam-dalam. Ia masuk ke dalam kamar mandi dan kudengar suara shower. Namun kedengarannya ia tidak mandi, hanya membasuh vaginanya saja. Sementara aku mencoba memejamkan mata sebentar untuk berkonsentrasi dan mengumpulkan tenaga. Ia keluar sambil menenteng gayung, sabun dan handuk. Dengan perlahan ia membasuh dan membersihkan kemaluanku yang masih agak tegang karena belum mencapai puncaknya. Karena terkena air, maka kemaluanku kontan saja mengkeret dan mengecil ke ukuran normal. Vera kembali ke dalam kamar mandi mengembalikan gayung dan sebentar keluar lagi.

Aku duduk menyelonjorkan kaki di atas ranjang dan merapikan kemeja yang tetap kupakai selama bercinta babak pertama tadi. Vera memelukku dari belakang dan menciumi tengkukku. Aku merinding oleh ciumannya. Tangannya mempermainkan bulu dadaku. Kelihatannya ia sangat suka.

Vera menarik kemeja yang kukenakan dan akhirnya sekarang aku bugil 100%. Dadanya yang keras menekan punggungku. Kuputar tubuhnya sedemikian sehingga kami berhadapan. Kucium bibirnya dan kuremas buah dadanya. Ia merintih, nafsunya mulai bangkit. Kubalikkan lagi tubuhnya sehingga membelakangiku. Kuciumi tengkuk, cuping telinga dan leher belakangnya.

“Ouhh jangan kau siksa aku.. Ayo kita lanjutkan lagi say..”

Kami kembali berbaring miring ke kiri dalam posisi Vera tetap membelakangiku. Kuremas dadanya dengan kuat, kupilin putingnya. Kemaluanku yang belum menembakkan pelurunya dengan cepat mengeras kembali. Mulutnya mencari bibirku ketika bibirku menjilati lehernya pada bagian samping. Kami berciuman dalam posisi miring.

Kuangkat kaki kanannya dan kucoba memasukkan kemaluanku ke dalam vaginanya dari belakang. Beberapa kali kucoba dan gagal. Akhirnya Vera mencondongkan pantatnya dan menjauhkan tubuh bagian atasnya dari tubuhku. Dalam posisi demikian aku bisa menembus guanya meskipun dengan berjuang keras.

Kudorong pantatku maju mundur dengan pelan tapi bertenaga. Meskipun tanpa kontraksi dalam posisi demikian terasa sempit sekali vaginanya. Kuputar tubuhnya hingga ia berada di atasku. Dari bawah kugenjot vaginanya. Kupikir tadinya akan mudah, ternyata sangat sulit. Tubuhku tidak bisa bergerak dengan leluasa. Vera mengerti kesulitanku. Ia melepaskan pelukanku dan berjongkok tetap membelakangiku. Tak berapa lama kembali ia memainkan kontraksi otot vaginanya. Aku tetap membiarkannya ia kontraksi sendirian.

Vera menaikturunkan pantatnya dan rasa nikmat menjalari tubuh kami berdua. Kadang pantatnya menggantung dan giliranku untuk memompa dari bawah. Demikian dalam posisi ini kami bertahan beberapa saat sampai akhirnya.

“Gila kamu To, aku keluar lagi.. Oukhh”

Ia berteriak dan melengkungkan badannya, lalu merebahkan badannya telentang dan menekan kemaluanku sampai amblas. Tangannya mencengkeram sprei. Sunyi sejenak tanpa ada suara apapun kecuali napas Vera yang terengah-engah. Vera memutarkan tubuhnya tanpa melepaskan kemaluanku, sehingga ia dapat berada dalam posisi berhadapan di atasku.

“Luar biasa kamu Anto, aku puas sekali malam ini”

“Aku yang belum puas, kini giliranku mendapatkan kepuasan”.

Kugulingkan badannya sehingga kini aku yang berada di atas mengendalikan permainan. Kusodokkan kemaluanku ke dalam kemaluannya dengan satu hentakan keras sehingga ia melenguh.

“Uuuhh.. Tahan dulu To, aku masih lelah” katanya.

Aku tak pedulikan permintaannya, tetap kusodokkan kemaluanku dengan pelan dan mantap sampai akhirnya kemaluanku menjadi sangat keras. Vera akhirnya kembali terangsang setelah beberapa saat kugerakkan kemaluanku. Kucabut kemaluanku, kutahan dan kukeraskan ototnya kemudian pelan-pelan kugesekkan dan kemudian kumasukkan kepalanya saja ke bibir guanya yang lembab dan merah. Vera terpejam menikmati kontraksi kemaluanku pada bibir kemaluannya.

“Kenapa dari tadi nggak kau mainkan.. Hggk”.

Dia menjerit tertahan ketika tiba-tiba kusodokkan kemaluanku sampai mentok ke rahimnya. Kumaju mundurkan dengan pelan setengah batang sampai beberapa hitungan kemudian kusodokkan dengan kuat sampai semua batangku amblas. Vera menggerakkan pinggulnya memutar dan naik turun sehingga kenikmatan yang luar biasa sama-sama kami rasakan. Kusedot payudaranya sampai ke pangkalnya dan kumainkan putingnya dengan lidahku.

Dalam posisi kemaluanku terbenam seluruhnya aku diam di atas tubuhnya, menciumi bibir, leher dan payudaranya serta menggerakkan otot kemaluan. Hasilnya luar biasa. Vera seperti orang yang mau menangis menahan kenikmatan hubungan ini. Vera mengimbanginya dengan kontraksi pada dinding vaginanya. Ia meringis dan memukul-mukul dadaku seperti histeris.

“Auuhkhh.. Terus.. Teruskan.. Anto.. Nikmat.. Ooh”

Kini kakiku berada di luar kedua kakinya sehingga kedua kakiku menjepit kakinya. Masih tetap dalam posisi diam, hanya otot kemaluan yang bekerja. Ternyata vaginanya memang luar biasa, meskipun sudah becek namun cengkeramannya masih sangat ketat.

Aku menghentikan kontraksiku dan mulai menggenjot lagi. Vera seperti seekor kuda betina yang melonjak-lonjak tubuhnya dan sukar dikendalikan. Akhirnya tidak ada suara apapun di dalam kamar itu selain desah napas kami yang memburu beradu dengan suara paha bertemu dan derit ranjang. Keringat sudah membanjir di tubuh kami. Kupacu kuda binalku mendaki lereng terjal yang penuh kenikmatan. Kami saling memagut, mencium dan menjilat bagian tubuh lawan bergumul.

Kubuka lagi kedua kakinya, kini kakinya yang membelit pinggangku. Matanya kadang terpejam kadang terbeliak. Badannya seperti menggantung di tubuhku. Kini aku siap untuk menembakkan peluruku.

“Vera, sebentar lagi Ver.. Aku mau keluar”.

“Tungu sayang, kita sama-sama, tunggu..”.

.. Beberapa saat kemudian..

“Sekarang Ver sekarang.. Ouuhh” Aku mengejang ketika lahar kepuasan membersit dari kepundan kejantananku.

“Anto.. Agghh” kakinya menjepit kakiku dan mengejang sehingga kejantananku seperti tertarik mau keluar.

Aku tetap menahan agar kemaluanku tetap berada dalam vaginanya. Matanya terpejam, tangannya meremas rambutku, mulutnya menggigit dadaku. Kemaluan kami saling berdenyut sehingga kenikmatan puncak ini terasa sampai beberapa detik. Setelah beberapa saat kemudian keadaan menjadi tenang.

“Luar biasa kamu To, Aku bisa tiga kali orgasme”

“Kamu juga hebat, empot ayammu membuat ketagihan”

Akhirnya kami membersihkan diri dan check out. Sebelum keluar kamar kami saling bertukar nomor telepon. Aku menumpang mobilnya sampai di Gatot Subroto dekat Hilton. Vera ke arah Blok M dan aku ke kawasan Jakarta Timur.

Beberapa hari kemudian di kantor aku dikejutkan suara operator yang nongol di ruanganku.

“Pak Anto ada telepon dari asuransi, line 2,” katanya.

“Thanks”.

Kuambil gagang telepon, “Hallo, siang” kataku.

“Hai Anto ingat aku?” terdengar suara dari seberang.

“Oh tentu, kuda binalku. Ada apa?”

“Kemarin habis nurunin kamu, ban mobilku kempes, untung ada yang nolongin”

“Habis kamu nyetirnya terlalu bernafsu, injak gas nggak kira-kira” kataku. Apa hubungannya gas dengan ban kempes ya?

“Nanti sore ketemu lagi ya. Aku sudah nggak sabar menanti hasil kerjamu”

Nanti sore kupikir boleh juga. Hari ini nggak banyak pekerjaan kok. Cerita kejadian nanti sore pikir dan bayangkan saja sendiri.

TAMAT

Tags : cerita seks, cerita daun muda, gadis bandung, video bugil, cerita sexs, tantek,ngentot, memek,artis telanjang, telanjang, bugil, pondok putri, cewek, bokep, gadis, ngaceng, kontol, ngewe, perawan, memeknya,cerita dewasa

Add a comment 15 Juni 2010

Cerita 18sx – Agen Asuransi – 1

Pulang kantor jalanan masih agak macet. Kantorku berada di daerah Harmoni. Pada jam-jam sibuk tentu saja macet total. Langit agak mendung, tapi dugaanku sore sampai malam ini tidak akan turun hujan. Dengan langkah sedang aku keluar kantor dan berjalan ke arah Juanda, rencana naik bis dari sana saja. Maklum karyawan baru, jadi masih naik Mercy dengan kapasitas besar.

Sampai di Juanda aku cari bis kota tujuan ke Senen. Sebentar kemudian datang bis kota yang sudah miring ke kiri. Aku naik dan menyelinap ke dalam. Aroma di dalam bis sungguh rruarr biasa. Segala macam aroma ada di sana. Mulai dari parfum campur keringat sampai bau asap dan lain-lainnya.

Tak lama aku sampai di Senen. Turun di Pasar Senen dan masuk ke dalamnya. Ada beberapa barang yang harus kucari. Putar sana putar sini nggak ketemu juga yang kucari. Malahan digodain sama kapster-kapster di salon lantai 2. Dengan kata-kata yang menjurus mereka merayuku untuk masuk ke salonnya. Kubalas saja godaan mereka, toh aku juga lagi nggak ada keperluan ke salon. Sekedar membalas dan menyenangkan mereka yang merayu untuk sekedar gunting, facial atau creambath.

Akhirnya kuputuskan untuk cari di Atrium saja. Aku nyeberang di dekat jembatan layang. Memang budaya tertib sangat kurang di negara ini. Senangnya potong kompas dengan mengambil resiko.

Baru saja kakiku melangkah masuk ke dalam Atrium, mataku tertuju pada seorang wanita setengah baya, kutaksir umurnya tiga puluh lima tahun. Ia mengenakan blazer hijau dengan blouse hitam. Pandangannya kesana kemari dan gelisah seolah-olah menunggu seseorang. Aku lewat saja di depannya tanpa ada suatu kesan khusus. Sampai di depannya dia menyapaku.

“Maaf Mas mengganggu sebentar. Jam berapa sekarang?” tanyanya halus. Dari logatnya kutebak dia orang Jawa Tengah, sekitar Solo.

“Aduh, sorry juga Mbak, saya juga tidak pakai jam,” sambil kulihatkan pergelangan tanganku.”Mbak mau kemana, kok kelihatannya gelisah?” tanyaku lagi.

“Lagi tunggu teman, janjian jam setengah lima kok sampai sekarang belum muncul juga” jawabnya.

“Ooo..” komentarku sekedar menunjukkan sedikit perhatian.

“Mas mau kemana, baru pulang kantor nih?” dia balik bertanya.

“Iya, mau beli sesuatu, tadi cari di Proyek nggak ada, kali-kali aja ada di Atrium”.

Akhirnya meluncurlah dari mulut kami beberapa pertanyaan basa-basi standar.

“Oh ya dari tadi kita bicara tapi belum tahu namanya, saya Vera,” katanya sambil mengulurkan tangan.

“Anto,” sahutku pendek, “OK Vera, saya mau jalan dulu cari barang yang saya perlukan”.

“Silakan, saya masih tunggu teman di sini, barangkali dia terjebak macet atau ada halangan lainnya”.

Kami berpisah, saya masuk ke dalam dan langsung ke Gunung Agung. Kulihat Vera masih menunggu di pintu Atrium. Setengah jam keliling Gunung Agung ternyata tidak ada barang yang kucari. Kuputuskan pulang saja, besok coba cari di Gramedia atau Maruzen. Aku keluar dari pintu yang sama waktu masuk, arah ke Proyek. Kulihat Vera masih juga berdiri di sana. Kuhampiri dia dan kutanya.

“Masih ada disini, belum pulang?”.

“Ini mau pulang, besok aja kutelpon dia ke kantor,” jawabnya.

Waktu itu, 1994, HP masih menjadi barang mewah yang tidak setiap orang dapat memilikinya.

“Mbak naik apa?”

“Oh, saya bawa mobil sendiri, meskipun butut”.

“OK, kalau begitu saya pulang, saya naik Mercy besar ke Kampung Melayu”.

Dia kelihatan agak berpikir. Baru pada saat ini aku mengamati dia dengan lebih teliti. Tingginya kutaksir 158 cm, kulitnya kuning kecoklatan, khas wanita Jawa dengan perawakan seimbang. Rambutnya berombak sebahu, matanya agak lebar dan dadanya standar, 34.

“Kenapa, something wrong?” kataku.

“Nggak, nggak aku juga mau jalan lagi suntuk. Rumah saya di Cinere, jam segini juga lagi full macet” sambil memandangku dengan tatapan yang sulit kutafsirkan.

“Boleh saya temani,” sahutku asal saja. Jujur aku hanya asal berkata saja tanpa mengharap apapun. Dia menatapku sejenak dan akhirnya..

“Boleh saja, kalau nggak mengganggu” jawabnya.

Kami menuju basement tempat parkir mobilnya. Dia memberikan kunci mobilnya padaku.

“Bisa bawa mobil kan?” tanyanya.

Aku terkejut, karena aku memang bisa nyetir mobil tapi masih belum lancar sekali dan tidak punyai SIM.

“Aduh, so.. Sorry, jangan aku yang bawa. Aku nggak punya SIM,” kataku mengelak.

“Baiklah kalau begitu, biar aku sendiri yang bawa,” katanya sambil tersenyum.

Vera naik mobil dan membukakan pintu sebelah kiri depan dari dalam. Mobilnya Suzuki Carry warna merah maron. Kulihat di atas jok tengah berserakan map dan kertas.

“Kemana kita?” katanya.

“Terserah ibu sopir saja, asal jangan ke Bogor, jauh” sahutku bercanda.

“Kita ke Monas saja deh” katanya sambil terus tetap menyetir.

Karena dia mengenakan rok span selutut, jadinya waktu duduk menyetir agak ketarik ke atas, pahanya terlihat sedikit. Aku menelan ludah.

Monas terlihat sepi sore ini, jam di dashboard menunjukkan 17.55. Hanya ada beberapa mobil yang parkir di pelataran parkir. Vera memarkir mobilnya agak jauh dari mobil lainnya. Ia mematikan kontak dan membuka jendela. Kami tetap duduk di dalam mobil.

“Uffh, hari yang melelahkan”. Vera menyandarkan tubuh dan kepalanya pada jok mobil. Blazernya tidak dikancingkan sehingga dadanya kelihatan menonjol.

“Ngomong-ngomong Mas Anto ini kerja di mana?”

“Karyawan swasta, kantornya di Harmoni, Mbak Vera sendiri di mana?” balasku.

“Saya agen sebuah Asuransi BUMN, rencananya tadi dengan teman saya, Dewi, akan prospek di sebuah kantor di Kramat, makanya janjian di Atrium. Eh, dianya nggak datang. Eh, bagaimana kalau kita masing-masing panggil dengan nama saja tanpa sebutan basa-basi supaya lebih akrab. Toh umur kita nggak jauh berbeda. Aku tiga puluh lima, kutaksir kamu paling-paling tiga puluh”.

Ternyata taksiranku tepat, taksirannya meleset. Waktu itu umurku sendiri baru dua puluh lima. Mungkin karena warna kulitku agak gelap dan berkumis maka wajahku kelihatan lebih tua. Tapi menurut teman-temanku baik perempuan ataupun laki-laki, dengan wajah cukup ganteng, tinggi 170 cm, perawakan tegap, berkumis dan dada berbulu aku termasuk idaman wanita.

Vera ternyata seorang janda dengan satu anak. Ketika kutanya kenapa dia bercerai, air mukanya berubah dan ia menghela napas panjang.

“Sudahlah, itu kenangan buruk dari masa laluku, tak usah dibicarakan lagi” katanya.

“Baiklah, maaf kalau sudah menyinggung perasaanmu,” kataku.

Senja semakin merambat, lampu jalan sudah mulai dinyalakan mengalahkan temaram senja. Di bawah lampu merkuri wajah Vera terlihat pucat. Tiba-tiba saja kami bertatapan. Vera terlihat sangat lelah, tapi bibirnya dipaksakan tersenyum. Entah bagaimana mulanya tiba-tiba saja tangan kananku sudah kulingkarkan di lehernya dan kurengkuh ia ke dalam pelukanku. Kucium bibir tipisnya dan ia membalasnya dengan melumat bibirku lembut. Kami saling memandang dan tersenyum.

“Anto, maukah kamu menemaniku ngobrol?”

“Lho, bukankah sekarang ini kita lagi ngobrol”.

“Maksudku, kita cari.. Nggh.. Tempat yang tenang”.

Kucium bibirnya lagi dan ia membalas lebih panas dari ciuman yang pertama tadi. Tanpa kujawab mestinya ia sudah tahu.

“Ayo kita berangkat,” ajaknya sambil menghidupkan mesin mobil.

“Baiklah kita ke arah Tanah Abang saja yuk,” jawabku.

Dari Monas kami menuju ke Tanah Abang. Kami sempat terjebak kemacetan di sekitar Stasiun Tanah Abang. Akhirnya kuarahkan dia ke Petamburan. Kulihat dia ragu-ragu untuk masuk ke halaman sebuah hotel.

“Ayolah masuk saja, nggak apa-apa kok. Hotelnya cukup bersih dan murah” kataku meyakinkannya.

“Bukan apa-apa. Aku hanya tidak ingin mobilku terlihat secara mencolok di halaman hotel” sahutnya. Akhirnya kami mendapatkan tempat parkir yang cukup terlindung dari jalan umum.

Setelah membereskan urusan di front office, kami masuk ke dalam kamar. Kuamati sejenak keadaan di dalam kamar. Di dinding sejajar dengan arah ranjang dipasang cermin selebar 80 cm memanjang sepanjang dinding. Aku tersenyum dan membatin rupanya hotel ini memang dipersiapkan khusus untuk pasangan yang mau kencan.

“Kamu sering masuk ke sini, To? Kelihatannya sudah familiar sekali” tanyanya.

“Nggak juga. Namanya nginap di hotel kan tahapannya standar aja. Lapor ke front office, serahkan ID, bayar bill untuk semalam lalu ambil kunci kamar. Beres kan?”

“Kalau lagi prospek, bagaimana pengalamanmu. Sering dijahili klien nggak” tanyaku memancing.

“Yahh, ada juga yang iseng. Tapi kalau orangnya oke, boleh juga sih. Sudah dapat komisi plus tip plus enak gila”.

Ternyata beginilah salah satu sisi dunia asuransi. Saya nggak menghakimi, tetapi semua itu kembali tergantung pada orangnya.

“Aduh, kalau begitu saya nggak bisa kasih tip. Kita pulang saja yuk” kataku pura-pura serius.

“Huussh.. Kamu kok nganggap saya begitu sih”.

Kami berbaring berjejer di ranjang yang empuk. Vera tengkurap di sebelahku dan menatapku sejenak, lalu ia mendekatkan mukanya ke mukaku dan mencium bibirku. Aku membalas dengan perlahan. Vera terus menciumiku sambil melepas blazernya. Kaki kirinya membelit kakiku. Tangannya merayap di atas kemejaku dan mulai melepas kancing serta menariknya sehingga dadaku terbuka. Vera semakin terangsang melihat dadaku yang berbulu. Ia membelai-belai dadaku dan sekali-sekali menarik perlahan bulu dadaku.

“Simbarmu iku lho To, bikin aku.. Serr” bisiknya. Simbar adalah sebutan bulu dada dalam bahasa Jawa.

“Mandi dulu yuk” kataku.

“Nggak usah, nanti aja. Bau tubuhmu lebih merangsang daripada bau sabun bahkan parfum” katanya.

Bibirnya bergeser ke bawah dan kini ia menciumi leherku. Aku menggelinjang kegelian sekaligus nikmat. Napas kami mulai berat dan memburu. Sambil terus menciumi dadaku, Vera melepaskan blousenya. Kulihat buah dadanya yang masih kenyal dan padat terbungkus bra warna merah jambu. Seksi sekali. Tangannya bergerak ke bawah, membuka kepala ikat pinggangku, melepas kancing celana dan menarik ritsluitingku dan langsung menariknya ke bawah. Aku sedikit mengangkat pantatku membantu gerakan tangannya membuka celanaku. Kini tangannya bergerak ke belakangnya, tidak lama kemudian roknya sudah merosot dan hanya dengan gerakan kakinya rok tersebut sudah terlepas dan terlempar ke lantai.

Tangan kananku bergerak ke punggungnya dan terdengar suara “tikk” kancing pengait branya sudah terlepas. Aku melepas branya dengan sangat perlahan sambil mengusap-usap bahu dan lengannya. Vera mengangkat tangannya dari tubuhku dan akhirnya terlepaslah bra merah jambu yang dipakainya. Buah dadanya berukuran sedang, taksiranku 34 saja, terlihat kenyal dan padat. Urat-uratnya yang membiru di bawah kulit terlihat sangat menarik seperti alur sungai di pegunungan. Putingnya yang merah kecoklatan menantangku untuk segera mengulumnya. Payudara sebelah kanan kuisap dan kukulum, sementara sebelah kirinya kuremas dengan tangan kananku, demikian berganti-ganti. Tangan kiriku mengusap-usap punggungnya dengan lembut.

Vera mengerang dan merintih ketika putingnya kugigit kecil dan kujilat-jilat.

“Ououououhh.. Nghgghh, Anto teruskan.. Ouuhh.. Anto”

Payudaranya kukulum habis sampai ke pangkalnya. Vera menghentakkan kepalanya dan menjilati telingaku. Akupun sudah merangsang hebat. Senjataku sudah mengeras dan kepalanya sudah nongol di balik celana dalamku. Vera melepaskan diri dari pelukanku dan kini ia yang aktif menjilati dan menciumi tubuhku bagian atas. Dari leher bibirnya menyusuri dadaku, menjilati bulu dadaku dan..

“Oukhh, Vera.. Yachh.” aku mengerang ketika mulutnya menjilati puting kiriku. Kini bibirnya pindah ke puting kananku. Aku mendorong tubuhnya, tak tahan dengan rangsangan pada puting kananku.

Vera semakin ke bawah, ke perut dan terus ke bawah. Digigitnya meriamku yang masih terbungkus celana dalam. Tangannya juga bergerak ke bawah, menarik celanaku sampai ke lutut dan akhirnya menariknya ke bawah dengan kakinya. Aku tinggal memakai kemeja saja yang kancingnya juga terbuka semua.

Ke bagian 2

Tags :Cerita 18sx,cerita seks, cerita daun muda, gadis bandung, video bugil, cerita sexs, tantek,ngentot, memek,artis telanjang, telanjang, bugil, pondok putri, cewek, bokep, gadis, ngaceng, kontol, ngewe, perawan, memeknya,cerita dewasa

2 komentar 15 Juni 2010

Cerita 18sx – Akhirnya Kunikmati Pemerkosaan Itu – 2

Dari Bagian 1

Ijah yang sudah telanjang bulat berbaring diranjang dengan posisi kaki menjuntai kelantai, sedangkan Jaka mengambil posisi berdiri. Jaka kemudian mengangkat dua kaki Ijah sehingga posisi Ijah mengangkang, lalu perlahan Jaka memasukan penisnya ke dalam vagina Ijah.

“Nghhss Jak.. ohh,” Ijah mulai mendesis dan mengerang ketika Jaka memompa tubuhnya.

Keduanya lalu tenggelam dalam nafsu birahi, sementara aku yang sudah tak kuat lagi segera berlari ke kamarku dan memuaskan diri dengan penis karet sialan itu. Sampai akhirnya Mas Rudi pulang larut malam dan kembali memuaskanku dengan alat sialan itu lagi.

Sejak kejadian itu, aku semakin tak habis pikir dengan kelakuan para pembantuku itu. Tapi lama-lama aku pikir wajar saja, karena Maman memang duda dan Minah janda, lalu Jaka dan Ijah mungkin saja sudah menjalin cinta sejak di kampung dulu. Apalagi pengawasan terhadap mereka di rumahku tak terlalu ketat. Namun tak bisa kupungkiri juga, sejak melihat kejadian itu, aku semakin merasakan haus untuk melakukan seks. Apa boleh buat keinginan itu harus kuredam dengan penis karet lagi, dan lagi.

Hari itu Mas Rudi pamit akan liputan luar kota selama tiga hari, dan tiga hari itu pula aku harus kesepian di rumahku. Hari pertama berjalan seperti biasa meski tanpa Mas Rudi. Tapi hari kedua sejak pagi aku merasa kurang enak badan, sehingga kios hanya dijaga para pembantuku.

“Bu.., kalau mau biar saya pijatin supaya enak badannya,” suara Ijah menawariku usai makan malam.

Malam itu sengaja kuajak empat pembantuku itu makan malam bersama di rumahku dan mereka juga bebas nonton TV dirumah majikannya ini.

“Iya deh Jah, pijitin aku dikamar ya..,” ujarku sambil berjalan menuju kamar.

Sementara Minah, Maman, dan Jaka masih nonton TV diruang tengah. Sampai di kamarku, Ijah langsung memijiti seluruh badanku dari kaki sampai kepala. Pijitan Ijah memang enak sampai-sampai aku terlelap dan tidur.

Aku tak tahu berapa lama aku sempat tertidur, tetapi saat bangun tubuhku rasanya sudah segar kembali. Hanya saja, astaga, aku dalam keadaan terikat. Kedua tangan dan kakiku terikat pada tiap sudut ranjang, dan mulutku tertutup erat plester lakban. Hanya mataku yang terbuka dan melihat kamar dalam keadaan terang, dan aku sendiri dalam keadaan bugil tanpa sehelai benang pun.

“Selamat malam nyonya sayang,” suara Maman tiba-tiba mengejutkanku.

Lelaki bertubuh gempal itu sudah berdiri tepat di depanku di ranjang bagian kakiku. Matanya berbinar liar menatap kearah tubuhku yang terikat, terlentang, dan telanjang. Sialan, apa mau Maman ini, aku mau berteriak tapi mulutku tertutup lakban.

“Tenang saja nyonya, malam ini akulah yang akan memuaskanmu. Tuankan sedang tidak ada,” Maman masih berdiri di hadapanku sambil melepaskan pakaiannya sendiri.

Tubuh Maman masih terlihat atletis di usia 40 tahun, dengan bidang dada dan otot perut kotak-kotak menandakan tenaga yang kuat, apalagi kulitnya yang agak hitam membuat kesan kuat jelas terlihat.

Maman kini tinggal pakai CD saja, dan perlahan bergerak kearahku yang terlentang diranjang. Aku tahu apa yang sebentar lagi akan terjadi, Maman akan menyetubuhiku, memperkosaku, tapi juga memberi kepuasan yang selam ini aku cari.

“Eemphh.. mmffhh,” aku berusaha bergerak berontak ketika Maman mulai menyentuh tubuhku.

Tapi percuma, ikatan tali jemuran pada kaki dan tanganku sangat kuat, Maman akhirnya leluasa meraba-raba tubuhku.

“Tenang nyonya, sabar ya.., wah mulus sekali nyonya ini,” Maman terus meraba-raba dan mempermainkan jari kasarnya di sekujur tubuhku.

Aku hanya bisa pasrah ketika Maman mulai berani menciumi puting susuku dan menghisap-isapnya. Kumis tebal dan mulut monyongnya seperti hendak melahap habis susu ukuran 36B milikku. Aku pun tak kuasa berontak ketika jeri-jari kasar Maman menyentuh bibir-bibir vaginaku, dan kurasakan gelora birahiku mulai menjalar ketika jari-jari itu mulai menelusup pada celah bibir vaginaku dan memainkan, menekan-nekan klitorisku.

“Mmffhh..,” meski aku mulai menikmati sentuhan nakal Maman, tetapi aku harus tunjukan kalau aku tak suka diperlakukan begitu, setidaknya untuk mempertahankan martabatku sebagai majikannya.

Aku mulai berontak lagi, tapi percuma. Kini Maman bukan hanya bermain jari, bibirnya mulai turun kearah perut dan terus keselangkanganku yang sudah basah. Oh.., tidak, bibir Maman mulai menyentuh bibir vaginaku. Kumisnya yang tebal sengaja digesek pada klotorisku, membuat aku menggelinjang. Setiap gerakan perlawananku membuat Maman semakin bernafsu menjilati vaginaku, dan hal itu membuat kenikmatan yang tercipta semakin tak bisa kuelakan. Akhirnya gerakan pinggulku semakin seirama dengan jilatan kasan lidah dan kumis Maman.

“Gimana nyonya? Enak nggak?,” tanya Maman sambil menatapku.

Aku tentu saja melotot kepadanya. Tetapi Maman nampaknya sudah mengerti ciri wanita dilanda birahi, sebab meski mataku melotot marah, vaginaku yang sudah basah tak bisa menyembunyikan ciri nafsuku. Maman melanjutkan aktifitasnya menjilati vaginaku. Desakan-desakan bibir Maman dibagian vital milikku membuat rasa nikmat tersendiri menjalar dan mengumpul dibagian vagina, pinggul, pantat, hingga ujung kaki dan ujun rambutku. Mamang semakin teratur menjilati klitorisku, sampai akhirnya aku tak bisa membendung desakan dari dalam vaginaku.

“Mmmffhhpp..,” kali ini aku jebol, aku orgasme dengan perlakuan Maman itu.

Maman menghentikan jilatannya, dan menatap wajahku, ia tahu aku sudah sampai puncak pertama. Maman berdiri lagi dan menanggalkan CD kusam miliknya. Kini dihadapanku berdiri seorang lelaki dengan penis yang normal dan ereksi total, hal yang sudah setahun lebih tak pernah kulihat. Penis milik pembantuku itu siap menghujani vaginaku dengan kepuasan.

“Nyonya.., sudah kepalang basah. Saya tahu nyonya juga senang kok, buktinya sampai keluar airnya. Jangan berteriak ya nyah,” ujar Maman sambil melepas plester lakban dari mulut.

Kini plester sudah terlepas dan mulutku bebas bersuara, tapi aku tak berkata-kata apalagi berteriak. Tubuhku lemas dan tiap jengkalnya merasa rindu sentuhan Maman seperti tadi.

“Ohh.., uhh.. adduuhh..,” hanya itu yang keluar dari mulutku ketika Maman kembali menjilati vaginaku.

Tangan Maman yang cekatan meremas-remas susuku, pinggulku, dan belahan pantatku diremas gemas. Terus terang saat itu aku sudah tak sabar menunggu hujaman penis Maman yang tegar ke vaginaku, aku rindu disetubuhi lelaki, bukan sekedar vibrator sialan itu.

Maman beralih posisi mengambil posisi berlutut tepat di selangkanganku. Dipegangnya penisnya dan diarahkan ke vaginaku yang sudah benar-benar kuyup. Maman menggesek-gesekkan penisnya dipermukaan vaginaku, oh.., aku benar-benar tak sabar menunggu senjata Maman itu.

“Uhh Man.. ampunhh.. aku nyerah.. mmffhh,” aku akhirnya mengucapkan itu dengan mata terpejam.

Kupikir mau menolak pun percuma karena posisiku sulit, lagipula aku ingin agar dosa itu segera berlalu dan selesai. Ucapanku membuat angin segar bagi Maman, sebelum menyetubuhiku penuh, Maman membuka ikatan tali di kaki dan tanganku.

“Ayo sayang, sekarang aku puaskan kamu cantik,” celoteh Maman sambil kembali menindih tubuh bebasku.

Dalam posisi itu Maman masih terus memancing nafsuku yang sudah sangat puncak, penisnya hanya digesek ujungnya saja pada vaginaku membuat aku yang mengejar dengan pinggul naik turun. Setelah tak mampu menahan nafsu yang sama, Maman akhirnya menghujamkan utuh penisnya kedalam vaginaku.

“Ouhhggff.. ah Kang Maman..,” bibirku mulai menceracau saat Maman memompakan penisnya maju mundur dalam vaginaku.

Tangan dan kakiku yang sudah lepas dari ikatan bukannya mendorong tubuh Maman menjauh dariku, tetapi justru memeluk dan meremas remas dada kekar Maman. Penis Maman terasa memenuhi liang senggamaku dan menciptakan rasa nikmat yang selama ini tak lagi kurasakan dari Mas Rudi.

“Ohh nyonya, uennaakk sekali vaginamu nyahh.. oh,” Maman menggenjot tubuhku dengan irama yang cepat dan tetap, dan aku mengimbangi gerakan Maman. Kini aku total melayani kebutuhan seks Maman sekaligus meraih kebutuhan seksku.

Sampai menit kedua puluh permainan kami, aku merasakan seluruh sarafku mengumpul disatu titik antara bibir vagina dengan klitorisku. Lalu beberapa detik kemudian seluruh otot dibagian itu terasa mengejang.

“Auuhhff.. mmffhh, enghh.. ohh,” kurasakan kontraksi yang sangat sensasional pada vaginaku.

“Iyyaahh.. nyaahh.. ohh nyaahh,” Maman menggeram hebat dengan tubuh kejang diatas tubuhku, kurasakan semburan spermanya masuk hingga kedinding rahimku.

Maman rebah diatas tubuhku. Keringat kami bercampur baur dan kedutan-kedutan lembut kelamin kami masih terasa sesekali, sampai akhirnya Maman rebah disisi kananku.

Ke Bagian 3

Tags :Cerita 18sx,cerita dewasa,cerita sex,gadis seksi,cewek telanjang,cerita 17 tahun,cerita sexs,cerita seks,foto telanjang,tante girang,gambar Toket,gambar seks,gadis hangat,tante kesepian,gadis abg bugil, gadis bule bugil bugil abg bugil, abg bugil indo, bugil abg bispak

Add a comment 13 Juni 2010

Cerita 18sx – Akhirnya Kunikmati Pemerkosaan Itu – 1

Sebut saja namaku Ani, wanita berusia 30 tahun dengan wajah cantik dan kulit kuning langsat. Aku berani bilang aku cantik karena banyak lelaki tergila-gila padaku sewaktu masih kuliah dulu. Mereka bilang aku mirip artis sinetron Bella Saphira atau Jihan Fahira.

Tapi kini aku tak lagi lajang, sejak selesai kuliah 5 tahun lalu, aku menikah dengan Mas Rudi, kakak kuliahku yang aku cintai. Saat ini kami hidup di kota M, dan Mas Rudi bekerja sebagai wartawan pada sebuah media cetak lokal di kota itu.

Kehidupan kami berjalan mulus hingga tahun keempat pernikahan, walaupun kami belum juga dikaruniai buah hati hasil perkawinan kami. Aku sendiri lebih banyak menghabiskan waktu di rumah, sambil menjaga kios serba ada yang setiap waktu semakin berkembang pesat. Intinya, kami sama-sama bahagia walaupun kadang merasa sepi juga tanpa hadirnya buah hati.

Tapi, sesuatu ternyata terjadi diluar perkiraan kami berdua. Profesi Mas Rudi sebagai wartawan mengharuskannya berhadapan dengan resiko yang rumit. Aku ingat betul saat itu suamiku berseteru dengan seorang pejabat yang kasus KKN nya dibongkar suamiku. Seminggu setelah berseteru, suamiku dianiaya belasan orang tak dikenal, beberapa saat setelah meninggalkan rumah.

Tak parah memang, tapi luka disekujur tubuh Mas Rudi ternyata berpengaruh pada kemampuan seksualnya. Ya, sejak penganiayaan itu, Mas Rudi selalu gagal melakukan tugasnya sebagai suami. Tadinya kami pikir itu akibat shok yang dialami karena penganiayaan, dan dokter yang menangani Mas Rudi pun berpikiran seperti itu. Tapi sudah hampir setahun berlalu, kondisi Mas Rudi tetap tak berubah, malah bisa dibilang semakin parah. Bahkan sekarang, Mas Rudi sudah mulai enggan mencoba melakukan tugasnya memberikan kebutuhan biologis padaku.

“Aku takut kamu malah kecewa sayang,” katanya dengan tatap sedih suatu malam.

Sebagai istri, meskipun tersiksa, aku mencoba untuk tetap setia dan bertahan dengan keadaan itu. Walau terkadang timbul juga ketakutan kalau aku tak bakalan punya anak sampai tua nanti. Lambat tapi pasti, akhirnya aku dan Mas Rudi bisa menepis semua ketakutan itu, dan mulai tenggelam dengan kesibukan kami masing-masing.

Untuk menghilangkan rasa sepi kami, aku dan Mas Rudi mempekerjakan empat orang pembantu dirumah kami. Dua wanita, Ijah berusia 22 tahun, dan Minah berusia 34 tahun, kupekerjakan sebagai pembantu rumah tangga dan penjaga kios serba ada. Sedangkan dua lelaki, Maman berusia 40 tahun, dan Jaka berusia 19 tahun, kupekerjakan sebagai tukang kebun dan penjaga kios serba ada pula. Untuk mereka pula, kami membuat dua buah kamar lagi, dan suasana rumah tak lagi sepi sejak mereka berempat turut tinggal di rumah kami sejak lima bulan lalu.

Malam itu entah apa yang ada dipikiran Mas Rudi. Yang pasti suamiku itu membawa belasan keping VCD porno dan mengajakku menikmati tontonan erotis itu bersama-sama. Waktu itu jam menunjuk angka 11.30 malam, dan kami berdua sudah berbaring di ranjang kamar, sementara adegan porno dilayar TV sudah mulai tayang.

Terlihat jelas bagaimana gadis Cina dalam VCD itu merintih dan mengerang ketika lidah lelaki cina pasangan mainnya menjilati bibir-bibir vaginanya, terlihat jelas juga bagaimana rintih kenikmatan keduanya ketika kelamin mereka bersatu dalam senggama. Tak bisa kupungkiri, aliran darahku cepat terpacu dan kehausanku akan kebutuhan itu semakin menjadi-jadi.

Mas Rudi masih terdiam di sampingku, namun mendadak tangannya mulai merayap dan meraba bagian tubuh sensitifku.

“Sayang, mungkin aku nggak bisa memberimu kepuasan seperti itu. Tapi aku akan berusaha membahagiakanmu,” katanya sambil mulai menciumi sekujur tubuhku. Satu persatu pakaian kami terbuka hingga akhirnya kami benar-benar bugil.

Astaga, penis suamiku tetap saja layu meski adegan di TV sudah membakar nafsu kami berdua. Sebagai istri aku berinisiatif mengulum dan menjilati penis Mas Rudi yang layu, tapi tak juga ada perubahan sampai aku lelah sendiri.

Akhirnya Mas Rudi bangkit dan mengambil sesuatu dari balik lemari kami, penis karet dengan vibrator elektrik. Alat itu baru dibelinya, karena selama ini aku selalu menolak menggunakan alat bantu semacam itu. Aku selalu berpikir jika pakai alat itu sama saja aku melakukannya dengan orang lain, bukan dengan suamiku.

Tapi entahlah, malam itu aku benar-benar tak kuasa menahan birahiku. Mungkin akibat tontonan porno yang kami nikmati bersama itu.

“Ohh Mass ngghhss,” aku mulai mendesis ketika Mas Rudi menyibak bibir vaginaku yang sudah banjir dengan penis buatan itu.

Aku tak lagi memperhatikan suamiku, dan mataku tertuju pada layar TV, sambil membayangkan akulah yang sedang disetubuhi pria di TV itu. Vibrator penis karet yang sudah sepenuhnya masuk keliang vaginaku dihidupkan Mas Rudi, getarannya mulai membuat menikmatan tersendiri di daerah klitorisku. Aku mengelinjang sambil merintih nikmat hingga akhirnya tiba pada puncak kenikmatan. Aku orgasme, orgasme semu oleh alat buatan pabrik. Malam itu aku bahagia, tetapi batinku menangis.

“Maafkan aku sayang,” hanya itu yang terucap dari bibir Mas Rudi.

“Nggak apa Mas, aku sudah sangat puas kok,” balasku sambil mengecupnya.

Sejak menikmati getaran asyik dari vibrator penis karet malam itu, sepertinya ada yang berubah pada diriku. Aku menjadi sangat agresif dan selalu ingin melakukan hubungan seksual dengan alat itu. Kadang kala, saat Mas Rudi sedang tak dirumah, aku melakukannya sendiri hingga mencapai puncak kenikmatanku. Aku tahu itu salah, tetapi aku tak bisa menolak keinginanku yang selalu menggebu untuk terpenuhi, sementara aku juga ingin tetap setia pada suamiku.

Siang itu pelanggan kios serba ada kami cukup banyak yang datang. Maklum tanggal muda biasanya pelanggan kios yang rata-rata pegawai negeri membeli kebutuhan sehari-hari di kios kami. Aku dan Ijah sibuk melayani pembeli, malah Minah yang seharusnya bekerja didapur ikut membantu kami. Jarak kios dan rumah kami hanya berselat tembok, tembok itu pun ada pintu khususnya yang menghubungkan kios dan rumah, jadi tidak sulit mondar-mandir kios-rumah atau sebaliknya rumah-kios.

“Si Jaka kemana Jah? kok nggak kelihatan dari tadi?,” tanyaku pada Ijah sambil menghitung bayaran pelanggan.

“Nggak tahu tuh bu, tadi sih katanya mules, dia lagi mencret bu, sakit perut,” jawab Ijah.

“Sakit kok nggak bilang?, ya sudah kamu jaga dulu kiosnya sama Minah ya, Ibu mau lihat Jaka,” setelah kios sepi, aku pun meninggalkan Ijah dan Minah untuk melihat Jaka.

Kamar pembantuku tepat di belakang kios, satu kamar Ijah dan Minah, satu lagi kamar Jaka dan Maman. Aku langsung menuju kamar Jaka, dan saat aku buka pintunya terlihat Jaka sedang terbaring dengan wajah pucat dan meringis-ringis sambil memegangi perutnya seperti menahan sakit.

“Kamu sakit Jaka?, ke Puskesmas saja ya mumpung masih buka,” kataku terus masuk kedalam kamar pembantuku.

“Eh.. ibu.., nggak apa kok bu, cuma sakit perut biasa. Tadi juga sudah minum obat diberi Ijah,” Jaka berkata sambil bangkit dan duduk diranjangnya.

Jaka adalah pemuda sopan dari kampung yang sama dengan tiga pembantuku lainnya. Mereka kuambil dari kampungku juga, kebetulan keluarga kami sudah saling mengenal dikampung. Aku juga sebenarnya sama seperti mereka, orang kampung. Hanya saja aku agak beruntung kawin dengan Mas Rudi, anak orang kaya yang juga berprofesi matang.

Aku lalu duduk ditepi ranjang Jaka sambil mengusap dahinya.

“Mana yang sakit Jak?” tanyaku seraya mengusap perutnya.

“Sudah baikan kok bu, cuma masih lemas,” jawabnya.

Rasa peduliku pada Jaka mungkin suatu kesalahan, soalnya begitu mengusap perut Jaka, aku justru menatap suatu bagian di bawah perut Jaka. Sebuah benda yang tersembul dibalik celana karet komprangnya, astaga milik Jaka yang kusadari tentu tak bermasalah seperti milik suamiku. Aku jadi jengah dan menarik tanganku, lalu meninggalkan Jaka sendirian di kamarnya.

Malamnya, sekitar jam 09.00 setelah makan malam, aku kembali ke kamar para pembantu untuk melihat keadaan Jaka. Terus terang aku sangat takut kalau pembantuku ada yang sakit, apalagi bagiku mereka sudah seperti kerabat sendiri.

Tapi malam itu aku jadi kaget dan tersentak. Aku mendapati bukan Minah dan Ijah atau Jaka dan Maman yang sekamar. Tetapi Jaka sekamar dengan Ijah dan Maman dengan Minah. Rupanya, mereka keblinger dan melanggar aturan yang kutetapkan.

Hal itu aku tahu ketika dekat kamar Minah, aku mendengar suara rintih dan desah khas orang yang sedang bersetubuh. Ketika kuintip ternyata Maman yang duda sedang menindih Minah yang janda.

Aku lalu beralih menintip kamar Jaka lewat celah jendela. Astaga, di kamar itu aku melihat Ijah sudah setengah telanjang dan Jaka sedang mengulum buah dada Ijah. Aku hendak marah dan menghardik mereka, tetapi tak tahu kenapa aku malah seperti terpaku dengan adegan yang kusaksikan itu.

“Iiihh gelii Jak.., nakal kamu ya,” ucapan genit Ijah terdengar jelas olehku saat Jaka mulai menjilati bagian perutnya.

“Geli dikit nggak apa kan, Kang Maman dan Bi Minah juga begitu kok caranya,” balas Jaka.

Keduanya pun mulai melepas pakaiannya hingga bugil. Sementara aku semakin terpaku melihat adegan mereka dari balik celah jendela. Jaka yang bertubuh kurus dan agak pendek rupanya memiliki penis yang lumayan besar, setidaknya lebih besar dari milik suamiku yang layu itu.

Ke Bagian 2

Tags : Cerita 18sx,cerita dewasa,cerita sex,gadis seksi,cewek telanjang,cerita 17 tahun,cerita sexs,cerita seks,foto telanjang,tante girang,gambar Toket,gambar seks,gadis hangat,tante kesepian, artis indonesia bugil, foto telanjang, cewek telanjang, gambar cewek telanjang, gambar telanjang, gadisbandung, melayu bugil, telanjang, pondok putri, situs indonesia, selebriti indonesia, gadis mandi, cewek abg, seks abg

Add a comment 13 Juni 2010

Cerita 18sx – Dewi, Sepupuku yang Nakal

Udara panas di dalam kereta membuat seluruh keringatku mengucur sebesar-besar jagung. Memang beginilah keadaannya kalau naik kereta siang-siang, apalagi perjalanan jauh. Kalau pergi ke rumah nenek memang paling praktis kalau naik kereta walaupun panasnya tidak ketulungan, soalnya tinggal turun, jalan sedikit, sampai deh.

Sekitar jam empat lewat sedikit, kereta yang kutumpangi tiba di stasiun kecil di ibukota kecamatan di bilangan utara Jawa Tengah. Keadaan stasiun di sini tidak sekacau di Jakarta. Aku pun berjalan menyusuri rel berbalik kea arah Jakarta. Melewati gang-gang kecil, tak lama aku tiba di rumah nenek.

“Kulo nuwun.., Mbah.. Mbah..?” sapaku sambil mengetuk-ngetuk pintu.

“Lah, koe toh Lik. Masuk.. masuk, Mbah kirain siapa. Numpak bus opo sepur..?”

“Kereta, Mbah.”

“Gimana kabar Bapak sama Ibumu..?”

“Baik, Mbah. Ini ada titipan dari Ibu,” jawabku sambil meberikan sebuah bungkusan titipan ibu.

“Yo wis, mandi dulu sana.”

Aku pun langsung mandi, kalau udaranya panas seperti ini memang paling enak mandi. Jebur-jebur..!

Selesai mandi aku pun ke dapur, kalau bisa sih ingin langsung makan. Waktu di dapur, yang kutemui bukannya nenekku, tapi seorang gadis, memakai daster hijau sedang berjongkok dekat sumur. Mencuci piring kali yah..? Terlihat dari sini badannya gemuk, tapi pantatnya.. waahh.. Asoy geboy.. gedebuk enjoy.. weleh-weleh.. Aku pun terkesima sesaat, namun..

“Ngeliatin opo toh, Lik..?” tanya nenek mengagetkanku dan membuyarkan fantasi meraih..

“Eh.., Embah. Itu siapa toh, Mbah..?” tanyaku.

“Itu Dewi, anaknya Om Sabar, adiknya Bude-mu As, sekarang dia ikut Bude-mu.”

“Jadi ya masih sepupuku..?”

“Iya toh..?” jawab nenek.

Dewi pun berbalik melihatku, manis juga. Apalagi disambung sama senyuman yang manis itu. Sepetinya sih dia pemalu. Lalu aku dikenalkan sama dia. Saat aku makan, sepertinya dia beberapa kali memandangku dari seberang sana sambil memotongi sayur. Ketika aku membalasnya dia langsung memalingkan pandangannya. Manis juga sepupuku yang satu ini, walaupun gemuk dan terlalu besar untuk anak kelas dua SMP.

Lalu sebuah cerita terjadi, semuanya bermula ketika keesokan harinya aku ke rumah Bude As. Aku pingin pipis, duh.. kebelet banget. Aku langsung lari ke kamar mandi. Kamar mandi memang agak aneh, karena tidak berpintu namun seperti masuk ke dalam ruangan yang disekat-sekat, hanya WC yang ada pintunya. Karena sudah kebelet banget aku langsung masuk ke dalam ruangan yang ruang antaranya cukup gelap. Ternyata Dewi ada di sebelah dalam dekat bak dan membelakangiku. Jarak kami sekitar dua sampai tiga meter. Dengan bengong aku memandangi dari atas ke bawah tubuhnya yang polos tanpa sehelai kain pun alias telanjang bulat.

Melihat pantatnya yang membujur besar padat membuat ‘anu’-ku menegang. Bahenol sekali pantatnya. Belum lagi ketika dia menyamping dan buah dadanya yang ranum terlihat. Aku hanya dapat menelan ludah melihatnya jebar-jebur sambil memegangi adik kembarnya. Jadi pengen megang juga. Tapi karena sudah tidak tahan, aku langsung masuk ke dalam WC dan melepas bebanku.. aahh legaa..

Entah apa yang ada di pikiranku, padahal kalau mau ngintip terus aku bisa saja, tapi aku menunggu di dalam WC sampai Dewi selesai mandi baru aku keluar. Gendut-gendut sexy juga tuh cewek. Kalo bukan sepupu kali sudah kutembak. Selesai makan siang, Bude As menyuruh Dewi mengajakku jalan-jalan ke ladang tebu. Walaupun panas tapi rasa tetap segar dapat jalan berdua bersama Dewi.

“Kamu baru setahun ini di sini ya, Dew..?”

“Iya, Mas. Bapak sama Ibu di Jakarta, jadi aku ikut Bude.”

“Di sini sama Jakarta enak mana..?”

“Ya enak di Jakarta, kalo mo jalan-jalan banyak tujuannya.”

“Kamu sudah punya pacar belum..? Nanti pacarmu marah lagi liat kamu jalan sama aku..” pancingku.

“Engga toh, Mas. Aku belom punya pacar. Lagian siapa yang mau..?”

“Masak cantik kayak kamu nggak ada yang mau..?”

Dewi hanya tersenyum saja.

Menyusuri pematang, kami berdua sepertinya bahagia sekali, tak jarang kami tertawa dan bergandengan tangan. Dua jam kami berjalan, sampailah kami di sebuah stasiun tua tempat pengangkutan tebu, tapi sepertinya sudah lama tidak digunakan lagi. Dewi mengajakku masuk melihat-lihat ke dalam.

“Serem ya, Mas..?”

“Ah, siang-siang kok serem. Emang kamu takut, Dew..?”

“Engga, asal ada Mas Lolik..” jawabnya sambil menggandeng tanganku.

Lalu dia menarikku lebih masuk ke dalam, tibalah kami di satu sudut ruangan.

“Mas.., Mas Lolik sudah punya pacar belum..?”

“Wah, ngga sempet Dew..,” jawabku yang sebenarnya berbohong.

“Dewi boleh ngga jadi pacar Mas Lolik..?”

“Tapi Dew..,” tak sempat menyelesaikannya Dewi sudah memotongnya dengan menutup mulutku dan menaruh tanganku di dadanya.

Besar, empuk tapi padat. Awalnya aku tidak ingin sampai.. oh.., namun birahiku pun bergejolak, ‘anu’-ku menegang ketika Dewi mulai meremas-remaskan tanganku di payudaranya.

“Dewi ngga cantik toh, Mas..?” tanyanya sambil merangsang manja.

“Bukan.. bukan itu Dew..,” namun Dewi terus meremas-remaskan tanganku, benar-benar empuk, padat dan sensasinya begitu nikmat.

Tak kuasa menahan, aku mulai mencium bibirnya sambil meremas-remas sendiri payudara Dewi.

Kunikmati ciumannya yang hot sambil menutup mataku. Dewi lalu menarik tangan kiriku dan memasukkannya ke bawah roknya. Pertama aku berpikir akan menyentuh halusnya celana dalam Dewi. Ternyata kasar dan itu adalah rambut..! Dewi sudah menurunkan celana dalamnya ketika kami berciuman. Sempat kaget aku dibuatnya, namun tanpa basa-basi aku langsung memainkan jariku di sepanjang kemaluannya dan menjelajahi hampir tiap helai rambutnya yang lebat. Kemaluannya pun kian membasah, mengalir cairan kental dari dalam vaginanya. Jari semakin tangguh bermain di tengah beceknya kemaluan Dewi.

Tangan Dewi tidak mau kalah dan masuk ke dalam celanaku sambil memainkan batangku yang sudah membesar. Dia menurunkan resleting celanaku dan mengeluarkan batangku itu. Dia berjongkok di depanku dan mulai menjilati batangku. Dewi mengulum-ngulumnya dan memutar-mutarnya di dalam mulut dengan permainan lidah yang menawan. Hebat sekali sih dia.. sering nonton ‘bokep’ kali yah..?

Aku pun gantian jongkok dan mengangkat rok Dewi dan mulai melakukan oral sex pada kemaluan Dewi. Lezatnya Juice Cinta yang keluar dari vagina, Juicer alami milik Dewi. Aroma kemaluannya yang merangsang membuatku kesetanan menjilati ‘garis’ dari depan sampai belakang itu. Kugigit-gigit klitoris Dewi, lalu kujilat kelentitnya yang seperti jengger keluar. Dewi hanya mengerang dan mendesah menahan rasa sakit yang pasti nikmat itu. Naik aku menjilati perutnya yang gemuk berisi itu. Namun nafsuku tidak memperdulikan bentuk tubuhnya itu, bagiku dia tetap gehoy.. geboy.., S E X Y..

Kujelajahi tiap lekuk dan gunung-gunung di tubuhnya, lalu ke pantatnya yang besar bahenol dan lubang di tengah garis belakangnya tak luput dari incaranku. Lebih naik lagi aku mulai melahap kedua payudaranya yang sepertinya 36B apa C itu, kukulum-kulum puting-putingnya di dalam mulutku dan memainkan lidahku di atas kedua adik kembarnya itu. Tak diam tanganku terus mengorek-ngorek kemaluannya agar terus basah dan menarik klitorisnya, lalu mencoba memasukkan jariku ke dalam vagina Dewi.

“Kamu suka, Dew..?”

“Ah.., Mas.. masukin donk.. aah.., masukin aja.. Dewi ngga tahan nih..!” jawabnya sambil tak henti-hentinya mendesah.

“Apa yang dimasukin, Dew..? Jarinya..?” tanyaku lagi.

“Jangan.. ah.. aduh enak banget sih.. itu.. itu.. aja.. aduh.. ini lho..” jawabnya sambil mendesah terus dan memegang batangku, “Anunya Mas Lolik, memek Dewi udah ngga tahan pengen dicolok-colok aah.. aduh.. ayo dong, Mas..!”

Aku langsung merebahkan Dewi di lantai beralas koran dan menjilati memeknya dulu sekali lagi.

“Udah dong, Mas. Masukin aja..!” serunya sambil meremas-remas sendiri payudaranya.

Tanpa basa-basi aku langsung memasukkan batangku ke dalam vaginanya.

“Aaaghh.., yes..!” Dewi mengerang, entah kesakitan atau saking enaknya.

“Sakit, Dew..?”

“Engga kok, Mas. Enak.. enak banget. Bener kok. Terusin dong, Mas.. terusin..!” jawab Dewi sambil memegang pundakku.

Aku mulai menggerakkan batangku keluar masuk goa di tengah hutan lebatnya Dewi. Aaahh.. benar-benar enak banget. Kupikir akan sulit menembus kedalaman vagina Dewi, mungkin gara-gara basah banget kali yah jadi gampang. Saking basahnya vagina Dewi yang dipenuhi ‘Juice Cinta’, aku dengan cepat dapat ‘mengasah’ batangku di dalam kemaluannya. Kaki yang mengangkang diangkat ke atas benar-benar membuatku terangsang.

“Terus, Mas.. terus.. yes..! Yang dalem.. iya gitu.. terus.. aahh.., iya.. ya..” ujarnya sambil membuka selangkangannya lebih lebar dan menggelepar keasyikan.

Melihat tingkahnya yang begitu, membuatku semakin bersemangat bermain dengannya.

“Enak, Mas..?”

“Enak banget, Dew.. aahh. Kamu suka khan..?”

Dewi hanya mengangguk keenakan.

Lelah dengan satu posisi, kami mengganti posisi. Dewi berdiri sambil menungging memegang meja tua. Aku langsung ‘menusuk’-nya dari belakang.

“Pegang susuku dong, Mas..!” pinta Dewi memelas.

Tanpa berpikir panjang aku meladeninya, tangan kiriku memegang satu susu Dewi, memilin-milin putingnya, dan yang kanan memainkan kelentit tempat pipisnya keluar.

Dewi terus mendesah keasyikan, “Yang dalem.. terus.. aduh.. enak banget sih..! Jangan berhenti ya, Yank..?”

“Aku nggak kuat lagi, Dew. Keluarin yah..? Kamu sexy banget sih..”

“Cium aku dong, Yank. Terus keluarinnya di dalem aja.”

Aku pun mencium dan menggigit lidah dan bibirnya yang manis.

“Bener boleh di dalem nih..?”

“Iyah, cuman jangan lepasin tangan yang di memek, yah..? Abis enak banget..!”

“Kecek.. kecek..” terdengar kocokan pada vagina yang basah.

“Mas.. kentotin terus memek Dewi, Mas..! Iya..! Gitu..! Aduh..! Aahh..! Dewi Orgasme Mas..!”

“Aduh.. aahh.. kamu sexy banget sih Dew..!”

“Creett.. creett.. creett.. creett..!” air maniku pun membanjiri Dewi yang sepertinya ingin mengelepar menikmati orgasmenya.

“Jangan dicabut dulu, terus jangan lepas tanganmu, yah..?” pintanya lagi sambil memegang tanganku yang memainkan klitorisnya, “Abis enak banget, mainin terus dong..!”

Aku tak berhenti memainkannya sampai Dewi puas. Lalu kucabut batangku yang mulai menyusut lagi.

Setelah melepas lelah, kami berdua pulang ke rumah nenek. Selama liburan kami terus melakukan hubungan sex hampir setiap hari di stasiun tua itu sampai aku pulang ke Bandung. Bila tak sempat pergi, kami melakukannya di kamar mandi.

Setelah aku pulang, aku baru tahu kalau ternyata Dewi itu anak nakal. Makanya dia diungsikan dari Jakarta ke Jawa Tengah. Dua kali tidak naik kelas. Pantesan badannya terlalu besar untuk anak kelas dua SMP. Dulu dia suka membolos, jalan-jalan sama pacarnya yang supir dan punya anak istri. Pokoknya dulu dia terkenal nakal. Pantesan dia jago sekali dalam hal bermain sex. Jangan-jangan aku bukan pria pertama yang ‘bermain’ dengannya di stasiun tua itu.

Tetapi itu tidak mengganggu pikiranku. Lagi pula sejak pindah ke Jawa Tengah, sifatnya berangsur-angsur berubah baik. Hubungan kami berdua pun terus berlanjut. Dewi akhirnya menjadi pacar gelapku. Setiap dia pulang ke Jakarta, aku pasti ke rumahnya dan melepaskan rindu dengan terus bermain sex.

TAMAT

Tags : Cerita 18sx,cerita dewasa,cerita sex,gadis seksi,cewek telanjang,cerita 17 tahun,cerita sexs,cerita seks,foto telanjang,tante girang,gambar Toket,cerita bugil,cerita nafsu,cerita daun muda,Foto toket gede abg,Cerita setengah baya,memek basah,memek abg,memek gadis,memek tante girang

3 komentar 11 Juni 2010

Cerita 18sx – Nikmatnya Tubuh Keluargaku

Hari ini entah mengapa aku merasa suntuk banget. Di rumah sendirian, ga ada yang menemani. Mama lagi pergi arisan, Mbak Ani kuliah, Bik Suti lagi pergi ke pasar. Bener-bener deh aku kesepian di rumah.

“Daripada BT sendiri, mending nonton BF aja di kamar,” pikirku.

TV mulai kunyalakan, adegan-adegan panas nampak di layar. Mendengar desahan-desahan artis BF yang cantik dan bahenol tersebut membuat aku terangasang. Dengan lincahnya tanganku melucuti celana beserta CD-ku sendiri. Burungku yang sedari tadi tegak mengacung kukocok perlahan.

Film yang kutonton itu cukup panas, sehingga aku menjadi semakin bergairah. Kutanggalkan pakaian yang masih melekat, akhirnya tubuhku tanpa ada penutup sekalipun.

Kocokan tanganku semakin cepat seiring dengan makin panasnya adegan yang kutonton. Kurasakan ada getaran dalam penisku yang ingin meyeruak keluar. Aku mau orgasme. Tiba-tiba..

“Anton.. apa yang kamu lakukan!!” teriak sebuah suara yang aku kenal.

“Mama..?!”

Aku kaget setengah mati. Aku bingung sekali saat itu. Tanpa sadar kudekati Mamaku yang cantik itu. Tiba-tiba saja aku mendekap tubuh Mamaku yang bahenol itu. Kucium dan kulumat bibir tipisnya yang seksi. Mama mencoba untuk berontak.

“Anton.. ingat, Ton. Aku ini Mamamu?!” teriak Mama mengingatkanku.

Aku tak lagi peduli. Salah Mama sendiri sih. Orang mau orgasme kok diganggu. Dengan buasnya aku jilat telinga dan tengkuknya, kedua payudaranya kuremas-remas sampai Mama menjerit kesakitan. 10 menit aku melakukan hal itu, kurasakan tidak ada lagi perlawanan dari Mama. Nampaknya Mama mulai terangsang juga. Diraihnya penisku yang menggelantung, tangan mungilnya mulai mengocok penisku yang kubanggakan. Dengan perlahan kubuka baju Mama. Satu demi satu kancingnya kulepaskan, dan perlahan mempertontonkan keindahan tubuh di balik kain itu.

Setelah berhasil membuka baju dan BH-nya, kuturunkan ciumanku menuju ke payudara Mama yang padat berisi. Kucium dan kulumat putingnya yang berwarna kecoklatan itu. Terkadang kugigit dan kupuntir putingnya, membuat gairah Mamaku semakin berkobar.

“Uuhh..aahh..Terus, Ton. Ya..terus..Oohh..” erang Mamaku demi menahan nikmat yang dirasa.

“Ma..capek nih berdiri. Pindah ke kasur aja yah..” pintaku.

“Ya deh..” suara Mama bergetar menahan gariah yang tertunda.

Kugendong tubuh Mama yang setengah telanjang itu menuju ke kasurku sambil tetap kuciumi kedua payudaranya. Kurebahkan tubuh mungilnya, dan segera kutindih tubuh Mamaku itu. Kuremas payudara sebelah kanan, sedangkan mulutku ini mengulum dan mencucup yang kiri. Dengan bantuan Mama, kubuka rok mini Mamaku. Ciumanku turun ke pusarnya. Usapan lidahku diperutnya membuat tubuh Mamaku semakin bergelinjang tak karuan.

Setelah kurasa cukup bermain lidah di perutnya, kugigit CD Mama, dan dengan gigiku kutarik CD-nya. Dengan susah payah akhirnya berhasil juga aku membukanya dengan cara tersebut. Terdiam ku sejenak, demi melihat keindahan vagina Mama yang terpampang jelas di depanku.

“Ton, kok malah melamun sih? Kenapa?”

“Ah..enggak, Ma. Anton kagum aja ama vagina Mama. Indah, Ma.”

“Ah..kamu bisa aja. Jangan cuma dipandangi aja dong.”

Vagina Mama sangat indah menurutku. Disana terdapat rambut yang lebat, dan bentuknya sungguh sangat menggairahlan. Kudekatkan wajahku keselangkangan Mama. Tercium bau khas seorang yang wanita yang dapat membangkitkan gairah lelaki. Kusapukan lidahku di garis vertikal itu. Tubuh Mama membusur menerima usapan lidahku di sana. Kutarik klitorisnya, kugigit kecil, kukulum dan terkadang kutarik-tarik. Nampak dari wajahnya, Mamaku menikmati permainanku di daerah kemaluannya.

Kumasukkan ketiga jariku sekaligus, kubiarkan sejenak, kurasakan lembab di sana. Dengan perlahan kumaju-mundurkan jemariku. Perlahan tapi pasti. Tanganku yang satunyapun tak tinggal diam. Kutarik klitorisnya, kupuntir dan kupilin, membuat tubuh Mama semakin bergoyang tak karuan.

Akupun semakin bergairah melihat tubuh Mamaku seperti itu. Semakin cepat aku mengocok vagina Mamaku, bahkan aku mencoba untuk memasukkan kelima jariku sekaligus. Tak lama kemudian kurasakan jepitan vagina Mama semakian kuat, kupercepat kocokanku. Mata Mama membeliak ke atas dan digigit bibir bawahnya yang seksi itu, kemudian.

“Ah..Mama mau sampai, Ton. Ah..ah..”

Dan akhirnya, Seerr.. cairan kewanitaan Mama membasahi jemariku. Kucopot jemariku dari liang kewanitaan Mama, kuturunkan wajahku dan kujilat habis air itu sampai tak tersisa.

“Ton, kamu hebat juga yah. Hanya dengan jemarimu saja Mama sudah bisa orgasme seperti tadi..” kata Mamaku terengah-engah.

Kami terdiam sejenak untuk memulihkan tenaga. Mamaku bersandar dibahuku dengan tersenyum puas. Jemari lentik Mama bermain-main manja mengelus dan mengusap penisku yang masih saja tegak mengacung.

“Ton, punya kamu gede juga ya. Punya Papamu dulu aja nggak sampai segede ini.”

“Ah, Mama. Anton kan malu.”

“Ngapain juga kamu malu, toh memang benarkan.”

Jemari lentik Mama masih saja memainkan penisku dengan manja. Seperti mendapat mainan baru, tangan Mama tak mau lepas dari situ.

“Ma, kok didiemin aja. Dikocok dong, Ma, biar enak.”

“Ton, Ton..kamu keburu nafsu aja.”

Perlahan Mama pindah ke selangkanganku. Digenggamnya penisku dengan kedua tangannya, dijilatnya kepala penisku dengan lidahnya. Bergetar seluruh tubuhku menerima rangsang dari mulut Mamaku. Dijilatnya selutuh batang kemaluanku, mulai dari pangkal sampai ujung. Tak ada bagian yang terlewat dari sapuan lidah Mama.

Dikocoknya penisku didalam mulut Mama, tapi tak semuanya dapat masuk. Mungkin hanya ¾ nya saja yang dapat masuk ke mulut Mama. Kurasakan dinding tenggorokan Mama menyentuh kepala penisku. Sungguh sensasi sangat luar biasa menjalar ke seluruh tubuhku. Cukup lama juga Mama mengulum penisku. Kurasakan batang penisku mulai membesar dan makin mengeras. Dari dalam kurasakan ada sesuatu yang memaksa untuk keluar. Merasa aku akan keluar, Mama semakin cepat mengocok batang kemaluanku.

“Ma.. ah.. aohh.. Ma, Anton mo keluar, Ma.”

Akhirnya..Croott..croott..croott..

Hampir sepuluh kali cairan itu menyembur dari ujung penisku. Diminumnya dengan rakus maniku itu. Dijilatnya semua, sampai tak ada lagi cairan yang tersisa. Meskipun sudah keluar tetapi penisku tetap saja tegar meski tak seberapa keras lagi. Melihat itu, Mamaku menggosok-gosokkan penisku di vaginanya. Merasakan gesekan-gesekan lembut vagina Mama, penisku mulai mengeras kembali. Digengamnya penisku dan diarahkan ke lubang peranakannya. Dengan sedikit gerakan menekan, penisku perlahan masuk setengahnya ke vagina Mama. Kurasa ini sudah mentok, karena beberapa kali Mama coba untuk menekan lebih keras lagi agar penisku dapat masuk semua, tapi keluar kembali setelah menatap ujung rahimnya.

Dengan bersemangat Mama mulai menaik-turunkan tubuhnya. Gerakan naik-turun yang terkadang diselingi dengan gerakan memutar, sungguh merupakan sensasi yang sangat luar biasa. Apalagi posisiku yang ada di bawah sungguh sangat menguntungkanku. Aku dapat melihat payudara Mamaku naik-turun seiring dengan goyangan pinggulnya.

Dengan gemas, kuraih payudara yang menari-nari di depanku itu. Kutarik payudara Mama mendekat ke wajahku. Kulihat wajah Mama meringis kesakitan karena payudaranya kutarik dengan paksa. Kugigit putingnya sampai berubah warnanya menjadi kemerahan. Kurasakan ada cairan putih susu menetes keluar dari putingnya saat kucucup payudaranya. Entah mengapa aku sangat suka sekali mempermaikan payudara Mamaku ini.

Kurasakan otot-otot vagina Mama dengan kuat menyedot penisku. Semakin lama kurasa semakin kuat saja vagina Mama menjepit penisku. Kulihat wajah Mama nampak makin memerah menahan orgasme kuduanya yang akan keluar sebentar lagi.

“Ton.. Ah.. Oougg.. hh.. Ton, Mama mau keluar lagi, Ton.”

Dan.. Seerr..

Kurasakan cairan hangat membasahi penisku. Ada cairan yang menetes disela-sela pahaku saking banyaknya cairan yang keluar.

“Duh, Mama kok udah keluar sih, ga mau nungguin Anton.”

“Maaf deh. Kamu juga sih perkasa banget, Mamakan udah ga tahan lagi.”

Dengan sigap segera kubalik tubuhku, sehingga kini Mama berada dibawah. Tanpa banyak bicara, segera saja kupompa pantatku dengan cepat. Mendapat serangan yang tiba-tiba itu Mamaku menjerit-jerit kesakitan. Meskipun vagina Mama udah becek banget, tapi tetap saja terasa seret untuk penisku.

Tak kuhiraukan suara Mama yang menjerit-jerit kesakitan, yang ada dipikiranku saat itu adalah aku ingin segera mengakhiri permainan ini dan merasakan nikmat yang akan datang padaku.

Kurasakan otot-otot penisku mulai berdenyut-denyut dengan kerasnya. Ada sesuatu yang berusaha untuk keluar dari batang penisku. Kucoba untuk menahannya selama mungkin agar tidak segera keluar. Tapi jepitan vagina Mama akhirnya meruntuhkan pertahananku.

Croott.. croott..

Maniku keluar juga, menambah becek vagina Mama. Kubiarkan penisku tetap didalam vagina Mama untuk merasakan sisa-sisa orgasmeku. Kurasakan vagina Mama tetap saja berdenyur-denyut, meski tak sekuat tadi.

“Ma, terima kasih ya, udah mau temenin Anton main.” kataku dengan manja.

“Kamu, tuh, Ton, kalau mau main jangan maksa dong. Masak Mamamu sendiri kamu perkosa.”

“Tapi Mama senangkan?”

“Iya sih!” Kata Mama malu-malu.

Sejak saat itu aku dan Mama sering berhubungan sex bersama kalau dirumah lagi sepi. Kami pernah melakukannya sehari-semalam karena aku berhasil masuk ke PTN favorit.

“Itu hadiah buat kamu.” Kata Mamaku sambil mengerlingkan sebelah matanya dengan manja.

*****

Siang itu panas sekali terasa. Tidak seperti biasanya panas matahari makin menyengat saja. Segera kutancap motorku agar aku cepat sampai di rumah. Begitu sampai di rumah, segera saja kulepaskan seluruh seragam sekolahku dan langsung saja aku meloncat ke kolam renang.

Byuurr.. terasa segar badanku ketika tubuhku berada di dalam air. Rasa gerah yang sedari tadi kurasakan hilang sudah. Setelah puas berenang segera kupanggil Bik Suti.

“Bik, cepetan kesini!”

“Ya, Den. Ada apa, Den?”

“Bik, tolong buatin makanan dan minuman ya, sekalian tolong cuciin baju seragamku ya.”

“Ya, Den.” Jawab Bik Suti sopan.

Perlu kalian ketahui kalau pembantuku yang satu ini sungguh berbeda dari yang lain. Meskipun berasal dari desa, ia mempunyai wajah yang manis. Ia seumuran dengan Mbak Ani. Tubuhnya sintal, apalagi payudaranya, sungguh membuat hati berdebar-debar setiap kali melihatnya. Aku ingin sekali tahu bagaimana rasanya berhubungan sex dengannya. Mungkin sangat berbeda rasanya.

Begitu makanan dan minumanku sudah diantar, segera saja kuhabiskan dengan cepat. Udah lapar banget sih. Tak berapa lama kemudian datang Mbak Ani menghampiriku.

“Lagi berenang ya, Ton?”

“Iya nih, Mbak. Abis gerah banget sih. Mbak mau ga temenin Anton berenang?”

“Iya deh, tapi tunggu Mbak selesai makan dulu ya.”

Setelah selesai makan, Mbak Ani menuju ke kolam renang. Aku terpesona melihat kemolekan tubuh kakakku ini. Dengan hanya mengenakan bikini, lekukan tubuhnya sungguh sangat menggugah gairahku. Kurasakan penisku mulai menegang. Kami berenang sambil bermain lempar bola. Kadang dengan kusengaja, seringkali aku menyentuh belahan vagina maupun payudara kakakku. Tapi kakakku hanya diam saja. Tidak telalu memperdulikan dengan tindakanku.

Pikiran-pikiran kotor mulai merasuk ke dalam otakku. Aku berfikir bagaimana caranya untuk dapat menikmati tubuh kakakku saat itu juga. Habis sudah hampir seminggu aku tidak pernah main lagi sama Mama. Tanpa sepengetahuan kakakku, kupelorot CD-ku sendiri. Penisku yang sudah tegang dari tadi tampak melayang-layang terkena ombak. Kudekati kakakku dari belakang, dengan tiba-tiba kuraba-raba dan kuremas payudaranya.

“Eh, Anton. Ngapain sih kamu pegang-pegang payudara Mbak?”

“Nggak pa-pa kan? Abis Anton terangsang banget melihat kemolekan tubuh Mbak.”

Mbak Ani hanya diam saja. Aku semakin berani meremas-remas payudara kakakku. Kucopot BH-nya, dan sambil menyelam aku melumat payudara kakakku di bawah air. Sambil menyelam minum susu, pikirku.

Kulumat-lumat payudaranya, terkadang kutarik dan kuremas dengan keras, sehingga membuat kakakku makin bergairah. Aku muncul ke permukaan air, kucari bibir kakakku dan kucium dengan buasnya. Tangan kakakku meraba-raba selakanganku, mencari benda tumpul yang mulai tegang.

“Anton, kamu tadi berenang ga pake CD ya? Dasar, jorok kamu.”

Dielusnya dengan lembut benda kesayanganku itu. Dikocoknya perlahan dan menjadi semakin cepat. Kurasakan ada dorongan dari dalam penisku yang mencoba keluar. Kucoba untuk menahan, tapi kocokan kakakku yang semakin cepat membuat aku mengeluarkan maniku di dalam air. Kulihat maniku yang berenang keluar melayang-layang di air. Dibiarkannya aku beristirahat sebentar, sambil menunggu aku pulih kakakku mencumbu mulutku dengan buasnya. Kumasukkan jemariku ke dalam vagina kakakku. Kukocok terus hingga akhirnya kakakku mencapai orgasmenya yang pertama.

Seiring berjalannya waktu, penisku mulai tegang kembali. Tanpa memberitahu kakakku, kodorong dengan paksa penisku untuk dapat masuk kedalam vagina kakakku. Mbak Ani berusaha untuk menjerit, tetapi jeritannya tertahan karena mulutnya sedang beradu dengan mulutku.

Kumaju-mundurkan pinggulku mengocok vagina kakakku. Sungguh sensasi yang luar biasa berhungan sex di kolam renang. Otot-otot vagina kakakku semakin lama semakin berdenyut dengan cepat seiring dengan makin cepatnya goyanganku. Kurasakan penisku mulai basah dengan cairan kewanitaan kakakku. Karena aku belum sampai makin kupercepat saja goyanganku. Tetapi karena berada di dalam air tubuhku menjadi berat. Dengan penisku masih berada dalam vagina kakakku, kuangkat tubuhnya keluar dari kolam, dan kurebahkan tubuhnya di atas rumput taman. Karena punggungnya bergesekan dengan rumput, kakakku menjadi bergairah kembali. Melihat hal itu aku semakin bersemangat. Dan akhirnya.

Crott.. croott.. croott..

Akhirnya aku keluar juga, dibarengi dengan orgasme kakakku untuk yang ketiga kalinya. Tak kusadari ada seseorang yang berdiri disampingku. Ternyata itu Mama, entah sejak kapan Mama berada di situ, yang jelas Mama kini dalam keadaan telanjang bulat.

“Begitu ya ternyata kalian. Kalo maen ga mau ajak-ajak Mama. Awas ya nanti kupotong uang jajan kalian.” kata Mamaku bercanda.

Kucopot penisku keluar dari vagina Mbak Ani. Kulihat penisku mulai mengecil. Melihat hal itu Mama segera jongkok tepat di penisku. Diraihnya penisku dan mulai dikocok penisku di dalam mulutnya. Kuakui Mamaku ini sangat pandai dalam permainan oral sex. Tak berapa lama penisku mulai tegang kembali. Diarahkannya penisku ke arah kemaluannya. Dengan sekali dorong penisku masuk semua ke dalam vagina Mama yang sudah basah. Perlahan-lahan digoyangkannya pinggulnya. Semakin lama semakin menggila. Mamaku berteriak-teriak sambil terus mengocok penisku.

“Aahh.. sakit.. apa yang kamu lakukan Ani?”

Ternyata tanpa sepengatauan Mama, Mbak Ani memasukkan jemari tangannya ke dalam lubang anusnya. Mendapat perlakuan seperti itu Mama akhirnya sampai juga.

“Ton.. Ani.. Mama mau sampai nih.. ahh..”

Seerr.. kurasakan vagina Mama banjir seketika. Banyak juga cairan yang keluar. Seperti tidak mau kehilangan air mani Mama, Mbak Ani menjilat-jilat vagina Mama dengan penisku yang masih tertancap di dalamnya. Karena posisi Mbak Anis berlawanan denganku, vaginanya tepat di wajahku. Tak kusia-siakan keadaan ini. Ku oral vagina kakakku, kugigit dan kutarik-tarik klitorisnya yang sebesar kacang itu.

Mendapat perlakuan seperti itu Mbak Ani semakin menggila menjilati vagina Mama dan penisku. Bahkan dengan gemasnya, klitoris Mamapun digigit oleh Mbak Ani. Mamakupun menjerit menjadi-jadi. Gairah Mamapun bangkit kembali. Penisku yang masih tertanam di vagina Mama dikocok lagi. Mbak Ani juga ikut mengocok penisku yang tidak semuanya dapat masuk ke dalam vagina Mama, dengan tetap menjilat-jilat vagina Mama dan penisku. Akhirnya kami bertiga orgasme bersamaan.

Dengan sisa-sisa tenaga yang ada, mereka bersandar di bahuku. Sambil menikmati panasnya sinar matahari, kami berbaring di taman. Setelah puas menikmati teriknya sinar matahari, Mamapun berdiri dan masuk ke dalam rumah dengan keadaan tubuh masih telanjang bulat, disusul kemudian dengan Mbak Ani. Merasa ditinggal sendirian akupun juga ikut masuk ke dalam rumah setelah memakai CD-ku kembali yang ada di kolam.

Hari itu badanku terasa pegal-pegal semua. Aku semalam tadi habis lembur mengerjai Mama dan Mbak Ani. Kucoba kurebahkan diriku di kasur mencoba untuk tidur. Tapi karena kecapekan badanku terasa makin sakit. Akhirnya kuputuskan untuk memenggil Bik Suti untuk memijat diriku.

“Bik, bisa minta tolong ga?” kataku di balik pintu kamar Bi Suti.

“Oh, Den Anton. Ada perlu apa, Den?”

“Bik, tolong pijitin aku yah, badanku pegal semua nih.”

“Iya, Den.”

Tanpa banyak bicara, segera saja kutarik tangan Bik Suti menuju ke kamarku. Begitu sampai di kamar, pintu segera kukunci rapat-rapat tanpa sepengetahuannya. Segera kurebahkan tubuhku di atas kasurku yang empuk itu.

“Bik, kok bengong aja. Cepetan dipijitin dong, udah capek banget nih.”

Bik Sutipun memposisikan dirinya disampingku. Diarahkan tangannya ke leherku. Dengan lembut dia memijit leherku dan juga bahuku. Akupun akhirnya terangsang juga dengan pijatan-pijatan Bik Suti. Kurasakan penisku terjepit, karena saat itu aku sedang tengkurap.

Pijatan-pijatan Bik Suti kemudian turun ke punggungku dan ke pantatku. Ku merasa keenakan karena pantatku dipijat seperti itu. Peniskupun menjadi semakin sakit karena terjepit. Kusuruh Bik Suti untuk berhenti dan kemudian kulepas semua pakaian yang melekat hingga akhirnya aku telanjang bulat. Kulihat wajah Bik Suti memerah melihat penisku yang sudah dalam ukuran sempurna itu.

Kubaringkan tubuhku lagi, dengan posisi terlentang penisku terlihat jelas di mata Bik Suti. Dengan malu-malu mata Bik Suti melirik kemaluanku.

“Den, penisnya biar Bibik pijat juga yah. Pasti penis Den Anton kecapekan, kan tiap hari dipake terus.”

“Lho, kok Bik Suti bisa tahu?”

“Iya, Den. Habis tiap malam Bibik ga bisa tidur mendengar suara Nyonya sama Mbak Ani yang lagi maen ama Den Anton. Rame banget sih suaranya.”

“Bik Suti mau ga maen sama Anton?” tanyaku mencoba untuk merangsangnya.

“Ah, Aden..” jawab Bik Suti malu.

Digenggamnya penisku itu, lalu perlahan dipijit. Mulai dari ujung sampai pangkal penisku dipijit oleh Bik Suti. Tak ketinggalan juga dengan dua buah pelir yang menggantung di bawahnya. Pijatan pada penisku sungguh sangat enak sekali. Kuberanikan tanganku mengelus paha Bik Suti yang mulus itu. Dia diam saja. Kuraba pahanya dan terus naik hingga masuk ke dalam roknya. Kuusap-usap vaginanya yang masih terbungkus dengan CD. Kucoba memasukkan jariku disela-sela CD-nya.

“Ouugghh.. tangan Aden nakal..” Bik Suti mengerang menahan rangsangan yang kuberikan.

Tanpa kuduga, wajah Bik Suti mendekat ke kemaluanku. Dikulumnya penisku hingga basah semua. Bik Suti sungguh pandai mengulum penisku. Karena kurasakan aku hampir sampai kusuruh Bik Suti untuk berhenti. Kutindih tubuhnya dan segera kubuka CDnya yang masih melekat. Segera saja kuarahkan penisku itu ke lubang vaginanya.

Dengan susah payah kucoba untuk menembus pertahanannya. Tapi selalu saja gagal. Akhirnya dengan bantuan Bik Suti, peniskupun berhasil masuk juga. Kodorong pelan-pelan agar tidak terlepas dari jalurnya. Perlahan kokocok penisku. Bik Suti cuma bisa merem-melek menerima serangan dariku. Tangannya meremas-remas payudaranya sendiri yang masih terbungkus bajunya.

Kutarik dengan paksa baju yang masih melekat itu hingga sobek. BH-nya yang juga menghalangi kutarik dan kubuang jauh-jauh dari tempat tidurku. Segera saja kulumat payudara Bik Suti yang sudah tegang. Kurasakan lubang Bik Suti sudah basah oleh cairannya sendiri. Kocokanku semakin lama semakin kupercepat, dan akhirnya.

“Bik, Anton mau keluar nih..”

“Iya, Den. Keluarin aja di dalam..Biar enak..Aahh..Oouugghh..Bibik juga mau keluar, Den.”

Crroott..crroott..

Akhirnya kami berduapun orgasme bersamaan. Segera kutarik penisku dan kuarahkan ke wajah Bik Suti. Mengerti dengan maksudku penisku langsung dikulumnya.

“Bik, udah larut nih. Mending Bibik tidur aja sekarang, ntar kecapekan lo.”

“Iya, Den. Makasih banyak lo tadi.”

“Sama-sama, Bik.”

Kurebahkan tubuhku. Dengan badan masih telanjang bulat tanganku mulai memainkan penisku. Karena kecapekan aku hampir saja tertidur, tapi mengetahui pintu yang terbuka aku segera terbangun.

“Anton, kamu tadi maen yang sama Bik Suti.”

“Eh, Mama. Iya, Ma. Tadi sih niatnya cuma mo minta dipijitin doang, tapi keterusan..”

“Dasar kamu tuh ya yang kegatelan. Tapi kamu masih kuat kan?”

“Sebenernya sih Anton udah capek banget sih, Ma. Tapi kalo Mama mau maen, ayo!” kataku dengan semangat.

Akhirnya malam itupun aku tidak tidur. Semalaman aku berhubungan sex dengan Mama hingga pagi menjelang.

TAMAT

Tags : Cerita 18sx,cerita dewasa,cerita sex,gadis seksi,cewek telanjang,cerita 17 tahun,cerita sexs,cerita seks,foto telanjang,tante girang,mahasiswi hot, mahasiswi di, mahasiswi cantik, gadis mahasiswi, mahasiswi seksi,ABG BUGIL, cewek bugil, gambar bugil, gambar, cerita berahi, cerita pemerkosaan, cerita ghairah

1 komentar 9 Juni 2010

Cerita 18sx – Keluarga Yang Kesepian

Kejadian ini berawal dipertengahan bulan Mei yang lalu, kurang lebih setelah peristiwa yang tidak aku sangka-sangka. Cobalah baca “Tahun Baru yang Indah”. Dan sekarang terjadi lagi yang aku sangat tidak diduga sama sekali.

*****

Pada bulan Mei tersebut aku pergi ke Jakarta untuk mencari pekerjaan, tapi memang kata orang bahwa mencari pekerjaan itu tidak semudah yang kita duga, apalagi di kota metropolis. Pada suatu malam minggu aku tersesat pulang dan tiba-tiba saja ada mobil sedan mewah menghampiriku. Terus dia berkata,

“Hey.. kok.. melamun?” katanya.

Aku sangat kaget sekali ternyata yang menyapaku itu adalah seorang wanita cantik dan aku sempat terdiam beberapa detik.

“Eee.. Ditanya kko masih diam sih?” wanita itu bertanya lagi. Lalu aku jawab,

“Ii.. nii.. Tante aku tersesat pulang nih?”

“Ooohh.. Mendingan kamu ikut Tante saja yah?”

“Kemana Tante?” tanyaku.

“Gimana kalau ke rumah Tante aja yah?” karena aku dalam keadaan bingung sekali dan tanpa berpikir apa-apa aku langsung mengiyakannya.

Singkat cerita aku sudah berada di rumahnya, di perumahan yang super elit. Kemudian aku diperkenalkan sama anak-anaknya yang memang pada cantik dan sexynya seperti Mamanya. Oh yah, setelah aku dan mereka ngobrol panjang lebar ternyata Tante yang nolong aku itu namanya adalah Tante Mey Lin yang dipanggil akrab Tante Mey, anak pertamanya Mbak Hanny, dia masih kuliah di Universitas terkenal di Jakarta, anak yang kedua namanya Sherly kelas 1 SMU dan yang ketiga namanya Poppy kelas 1 SMP, mereka berdua di sekolahkan di sekolah yang terkenal dan favorit di Jakarta.

Walaupun aku baru pertama kenal, tapi aku sama bidadari-bidadari yang pada cantik ini rasanya sudah seperti seseorang yang telah lama berpisah. Lalu kami berlima menonton acara TV yang pas pada waktu itu ada adegan panasnya, dan aku curi pandang sama Tante Mey, rasanya Tante ini enggak tenang dan merasa gelisah sepertinya dia sudah terangsang akan adegan itu, ditambah ada aku disampingnya, namun Tante rupanya malu sama anak-anaknya. Tiba-tiba Tante berkata,

“Hanny, Sherly, Poppy cepat tidur sudah malam?” yang memang pada waktu itu menunjukkan jam 10.30.

“Memangnya kenapa Mami, filmnya kan belum selesai”, kata Mbak Hanny.

Memang dia kelihatannya sudah matang betul dan apa yang akan dilakukan Maminya terhadap aku? Lalu mereka bertiga masuk ke kamarnya masing tapi Sherly dan Poppy tidur satu kamar. Dan kejadian kurang lebih tiga bulan yang lalu terulang lagi dan sungguh diluar dugaan aku.

“Nah dewa sekarang tinggal kita berdua”, katanya.

“Mrmangnya ada apa tuh Tante?” kataku heran.

“Dewa sayang, Tante enggak bisa berbuat bebas terhadap kamu karena Tante malu sama anak-anak,” begitu timbalnya.

“Dewa mendingan kita ke kamar Tante aja yah, please.. temanin Tante malam ini sayang, Tante sudah lama sekali enggak dijamah sama laki-laki”, sambil memeluk aku dan memohon,

“Yah sayang? Mau kan?” katanya lagi

“Ii.. Yaa, mau.. Tante?” jawabku gugup. Karena Tante sudah mau menolongku.

Tiba di kamar Tante rupanya enggak bisa nahan lagi nafsunya dia langsung mencium seluruh tubuhku, lalu kami berdua tanpa terasa sudah seperti sepasang kekasih yang sudah lama pisah. Hingga kami berdua sudah setengah bugil, aku tinggal CD saja dan tante Mey tinggal BH dan CDnya. Tante sempat menari-nari di depanku untuk membangkitkan gairahku supaya semakin nafsu. “Wahh..!! Gile benar nih Tante, kok kayak masih umur 23 tahun saja yah?” gumamku dalam hati. Itu tuh.. Kayak Mbak Hanny anaknya yang pertama. Sungguh indah tubuhnya, payudara yang besar, kencang dan sekel sekali, pinggulnya yang sexy dengan pantat yang runcing ke atas, enak kalau dientot dari belakang? Terus yang paling menggiurkan lagi vaginanya masih bagus dan bersih. Itu gerutuku dalam hati sambil melihat Tante menari-nari.

Tante langsung menindihku lalu mencium bibirku dengan ganasnya lalu aku juga membalasnya, Tante menggesek-gesekkan vaginanya ke penisku yang mulai tegang, juga kedua payudaranya ke dadaku. “Ooohh.. terus.. Tante, gesek.. dan.. Goyang.. yang kerass.. aahh.. oohh..” desahku.

“Dewa sayang itu penismu sudah bangun yah, rasanya ada yang menganjal di vaginaku cinta,” kata Tante Mey.

Lalu kami berdua tanpa ba.. bi.. bu.. langsung melakukan 69, dengan jelas terlihat vagina Tante Mey yang merah merekah dan sudah sangat basah sekali, mungkin sudah terangsang banget karena tadi habis menggesek-gesekkan vaginanya ke penisku. Lalu aku menjilat, mencium dan menghisapnya habis-habisan, kupermainan kritorisnya. Tante mengerang.

“Ooohh.. Eennaakk.. Dewaa.. sayang.. terus.. makan vagina Tante yahh..?”

Begitu juga dengan aku, penis rasanya sudah enggak tahan banget ingin masuk ke lobang vagina kenikmatannya.

“Ooohh.. yahh.. eenaakk terus.. Tante.. yang cepet kocokkannya..?”

Cclluup.. Ccluupp.. Suara penisku didalam mulutnya.

“Dewa, vagina Tante sudah enggak tahan lagi sudah cepet lepasin, cepet masukin saja penis kamu cinta?” Tante Mey meringis memohon.

Kemudian aku mengambil posisi diatas dengan membuka pahanya lebar lalu aku angkat ke atas dan aku mulai memasukan penisku ke dalam vaginanya. Bblless.. Bleess.. Bblleess..

“Awww.. Yeeahh.. Ssaakiitt.. De.. Waa?”

“Kenapa Tante?”

“Pelan-pelan sayang, vaginaku kan sudah lama enggak dientot?”

“Ooohh..?” jawabku.

“Tahan sebentar yah cinta, biar vagina Tante terbiasa lagi dimasukin penis,” katanya.

Selang beberapa menit,

“Nah Dewa, sekarang kamu boleh masukin dan entot vagina Tante sampai puas yah?”

“Ssiipp.. Siap..!! Tante Mey?”

Memang benar vagina Tante rupanya sudah lama enggak dimasukin penis lagi, terbukti aku sampai 3 kali hentakan. Bleess.. Bless.. Bblleess.. Akhir aku masukin semuanya penisku ke vaginanya. Tiga kali juga tente Mey menjerit.

“Dewa genjot dan kocok vaginaku sayang?” lalu aku mulai memasuk keluarkan penisku dari lambat sampai keras dan cepat sekali. Tante Mey mengerang dan mendesah.

“Ooohh.. ahh.. enak.. sekalii.. penis kamu Dewaa.., akhirnya vagina Tante ngerasain lagi penis.. terus.. Entot vagina Taann.. tee.. Dewaa.. Sayaanngg..?” ceracaunya.

“Uuuhh.. Oohh.. Aaahh.. Yeess.. Ennaakk.. vagina Tante seret sekalii.. Kaya vaginanya perawan?” timbalku.

Tiba-tiba, “Dewaa.. Aku mau keluar nih? penis kamu hebatt..?”

“Tunggu Tante sayang, aku juga mau keluar nih..?”

Akhirnya Tante Mey orgasme duluan. Crott.. Ccroott.. Crroott.. Banyak sekali cairan yang ada dalam vaginanya, rasanya penisku hangat sekali.

“Tante aku mau keluar nih..?” kataku, “Dimana nih keluarinnya..?”

“Didalam vagina Tante saja Dewaa.. Please.. ingin air mani kamu yang hangat..?”

Ccrett.. Ccroott.. Ccrroott..

“Aaarrgghh.. Aarrgghh.. Oohh.. Mmhh.. Nikmat vagina Tantee..?” erangku.

Lalu aku dan tente tidur pulas, karena kecapaian akibat pertempuran yang sengit tadi. Sekitar jam 12 malam rasanya penisku ada yang mengulum dan mengocoknya. Ternyata Mbak Hanny,

“Ada apa Mbak?” tanyaku.

Wah gila dia, sambil mengocok penisku didalam mulutnya, tangan kirinya menusuk-nusuk vaginanya sendiri. Dia berkata,

“Dewa aku ingin dong dientot kaya mami tadi, yah.. please..”

Dia mempertegas, “Dewa tolong Mbak yah sayang, vagina Mbak juga sudah kangen enggak ngentot lagi, Mbak baru putus sama pacar habis enggak muasin vagina Mbak,” sambil membimbing tangan kananku untuk mengelus-elus vaginanya.

“Iyah deh Mbak, aku akan berusaha dengan berbagai cara untuk dapat membuat vagina Mbak jadi ketagihan sama penis aku,” jawabku vulgar.

“Kita entotannya dilantai karpet aja yah?” kata Mbak Hanny. Tapi masih di kamar tersebut, “Aku takut mengganggu Mami yang habis kamu entotin vaginanya, entar Mami bangun lagi kalau ngentotnya diranjang,” dia mempertegas.

Mbak Hanny langsung telanjang bulat. Kami pun bercumbu, saling menjilat, mencium, menghisap seperti biasa, dengan gairah yang sangat menggelora sekali. Dan sekarang aku mulai memasukkan penisku ke lubang vaginanya, karena dia sudah gatel banget lihat tadi aku ngentotin Maminya. Maka aku langsung aja, masukkan penisku. Bleess.. Bless.. Bleess..

“Aw.. Oohh.. Aahh.. Yyeess..?” erangnya.

“Sakit Mbak?” tanyaku.

“Enggak cinta, terusin saja enak banget kok?”

Aku langsung mengkocoknya, plak.. plakk.. plokk.. plookk..? suara paha kami berdua beradu..?

“Vagina Mbak enaakk.. Sekali sih..?” sambil aku menggoyangkan pinggulku, terus dia juga mengimbangi goyanganku dengan arah yang berlawanan sehigga benar-benar tenggelam seluruh penisku ke dalam vagina surga kenikmatannya.

“Oohh.. ennak.. Dee.. waa.. terus.. entot.. mee.. meekk.. Mmbaakk.. sayyaanngg..?”

Akhirnya akupun ngentot lagi sama vaginanya Mbak Hanny, tapi Maminya enggak sedikitpun bangun mungkin capek main sama aku, habis aku bikin tubuhnya dan vaginanya melayang-layang. Lagi asyik-asyiknya ngentotin vaginanya Kak Hanny, tiba-tiba terdengar suara.

“Iiihh.. Kakak lagi ngapain?” mendengar suara tersebut, aku terkejut. Rupanya Shelly dan Poppy sedang asyik dan santainya melihat aku ngentot sama kakaknya.

Aku langsung aja berhenti dan seketika itu juga Mbak Hanny berkata,

“Dewa kenapa, kok berhenti sayang, terus dong entot vagina Mbak, sampai enak dan nikmat sekalii..?”

“Ii.. ittuu.. ada..?”

“Ada apa?” katanya lagi penasaran. Pas dia menggerakkan wajahnya kekanan, terlihatlah adik-adiknya yang sama-sama sudah bugil tanpa sehelai benang pun. Lalu Mbak Hanny bicara,

“Eehh.. adik-adikku ini bandel sekali yah..!!”

Setelah dia tahu bahwa aku berhenti karena ada adik-adiknya yang sama sudah telanjang bulat. “Heyy.. kenapa kalian ikut-ikutan telanjang?” kata Mbak Hanny.

“Kak aku ingin ngerasain dientot yah?” tanya Shelly sama kakaknya.

“Iyah nih Kakak kok pelit sih.. aku juga sama Kak Shelly ingin juga ngerasain penisnya Mas Dewa,” timbal poppy.

“Iyah kan Kak?” tanya poppy pada Shelly.

“Iyah nih.. Gimana sih..?” timbal Shelly.

“Please dong Kak? Rengek kedua anak tersebut?” terus mungkin sudah terlanjur mereka berdua melihat kakaknya ngentot dan sudah pada bugil semuanya, maka Kak Hanny membolehkannya.

“Iyah deh kamu berdua sudah telanjur bugil dan lihat kakak lagi dientot vaginanya sama penis Dewa?”

“Sini jangan ribut..” kata Kakaknya lagi, “Tunggu kakak keluar, yah.. entar kamu juga bakal kebagian adikku manis” Tanya kakaknya.

“Dewa cepetan kocokannya yang lebih keras lagi.. Kasihan vagina kedua adikku ini sudah pada basah.. tuhh..”

Akhirnya aku dan Mbak Hanny pun mempercepat ngentotnya kayak dikejar-kejar hantu. Dan akhirnya orgasme secara bersamaan.

“Aaarrgh.. Oohh.. Mmhh.. Aarrgghh.. Enak.. Sekalii.. cintaa? Aku sudah keluar Dewa..?” erangan Mbak Hanny.

“Aku juga sama Mbakk.. Rasanya penisku hangat sekali”

Setelah berhenti beberapa menit, lalu kedua anak abg ini mulai membangkitkan lagi gairahku, Shelly kakaknya lagi asyik mengocok penisku dalam mulut dan bibirnya yang sexy sedangkan Poppy mencium bibirku habis-habisan sampai kedua lidah kami saling bertautan dan aku pun tak tinggal diam, aku mulai meremas-remas toketnya yang sedang seger-segernya seperti buah yang baru matang.

Akhirnya kembali lagi aku ngentotin vagina adiknya yang masih perawan. Yang pertama kuentot vaginanya sherly yang kelas 1 SMU. Aku sangat kesulitan memasukan penisku karena vaginanya masih sempit dan perawan lagi.

“Benar nih, vagina kamu mau aku masukin?” tanyaku dengan penuh kelembutan, perhatian dan kasih sayang.

“Mau sekali Kak..?” jawabnya.

“Aku dari tadi sudah kepengen banget, ingin ngerasain gimana sih kalau vagina aku dimasukin penis Mas dewa? Kelihatannya Kak Hanny enak dan nikmat banget, waktu Kakak lagi ngentotin dia?” jawab polosnya.

Lalu aku suruh dia diatas aku dibawah dan akhirnya dia memasukan juga. Bles.. Bless.. Bbleess..

“Aw.. Aahh.. Ohh.. Kak.. sudah.. Masuk belumm..?” sambil dia mengedangah ke atas, bibir bawahnya digigit lalu kedua payudaranya dia remas-remas sendiri sambil dia menekan pantatnya kebawah.

“Tekan lagi cinta masih kepalanya yang masuk?”

Akhirnya dengan dibantu aku memegang pantatnya kebawah, akhirnya masuklah semuanya.

“Aahh.. oohh.. yeeahh.. masuk semuanya yah kak?” katanya.

“Iyah Shelly sayang, gimana enak kan?” tanyaku sambil aku mencoba menggenjotnya.

“Enak.. sekali.. Kak Dewa..”

“Ini belum seberapa Selly. Ntar kamu akan lebih nikmat lagi?” lalu aku kocok vaginanya dan akhirnya dia orgasme duluan. Creett.. Creett.. Ccroott..

“Aakk.. saayyaanngg.. aa.. kuu.. mau.. keluar nihh..” eranganya.

Sambil memelukku erat-erat dan pantatnya ditahan ke belakang karena dia ada diatas, lalu aku pun sama menghentakkan pantatku ke depan, arah yang berlawanan supaya dia benar-benar menikmatinya, penisku tertekan lebih dalam lagi ke lubang vaginanya. Dia langsung lemes sementara aku belum orgasme dan kulihat Poppy sedang dioral vaginanya sama kakaknya, Mbak Hanny.

“Sudah dong kak..?” kataku pada Mbak Hanny.

“Kasihan tuhh.. vagina Poppy sudah ingin banget ngerasain di tusuk sama penisku ini?” kataku lagi

“Iyah Kak Hanny, sudah dong kak?” kata Poppy.

“Aku sudah enggak tahan sekali dari tadi lihat Kak Shelly dientot sama penisnya Dewa, sepertinya nikmat dan enak sekali?” katanya memohon agar Kak Hanny melepaskan oralnya di dalam vaginanya.

Akhirnya kami berempat mulai perang lagi, aku mau masukin penisku ke vaginanya Poppy sambil nungging (doggy style) kemudian Poppy menjilat vaginanya Mbak Hanny dan Mbak Hanny menjilat vaginanya Shelly yang sudah seger lagi.

“Wah.. seretnya bukan main nih vaginanya Poppy, dia masih kelas 1 SMP jadi lebih sempit dibanding kakak-kakaknya dan cengkramannya pun sangat kuat sekali.”

“Bleess.. Bless.. Bleess..”

“Awww.. Awww.. Ooohh.. Ooohh..” Poppy menjerit lagi setiap aku mau memasukkan lagi penisku.

“Sakit yah?” tanyaku sambil aku meremas-remas payudaranya.

“Ii.. Iyah.. kak.., Tapi kok enak banget sih? terusin aja Kak Dewa.. Vagina poppy rasanya ada yang mengganjal dan rasanya hangat dan berdenyut-denyut,” katanya.

Sambil merem melek karena aku mulai menggenjot vaginanya.

“Oohh.. terruuss.. aakk.. saayyaang.. p.. vaginanya Poppy yah..” ceracaunya.

Dan rasanya dia mulai juga menggoyangkan pinggulnya.

“Tenang cinta.. aku.. akan.. berusaha.. muasin vaginanya dik.. Poppy.. Yah..”

Dan akhirnya aku ngentot vagina keempatnya. Lalu aku dengar dia berkata,

“Aku mau keluar nih?”

“Sabar taahann.. duu.. Luu.. Yah..”

Namun baru sekali ini vaginanya dientot dia tak bisa nahan dan..

Crott.. Croott..

“Aarhhgg, eemmhh.. oohh.. yeeaass..nikmat banget aakh..?” eranganya.

“Makasih.. Yah kak..?” sambil dia tersenyum.

“Aku.. pipisnya kok.. enggak biasanya, tapi enak banget sih.”

“Aku mau keluar nih, dimana sayang?” tanyaku.

“Aakkh.. didalam vaginaku aja yah.. Aku ingin ngerasain.. Gimana di siram air mani penis..”

Ccrroott.. Crroott.. Crott..

Akhirnya aku tumpahkan ke dalam lobang vaginanya dan sebagian lagi kuberikan sama Kak Hanny dan Shelly.

Gile.. Benerr.. sekali ngentot dapat empat vagina, yaitu vaginanya anak SMP, anak SMU, mahasiswi dan Tante-Tante.

TAMAT

Tags : Cerita 18sx,cerita sex, foto ngentot, smu bugil, gadis indonesia, gambar bokep,julia perez telanjang, gambar bugil,gadis cantik, telanjang gadis indonesia, gadis abg telanjang, cewek jakarta, artis bugil telanjang,nafsu wanita, cerita nafsu, nafsu seks, nafsu, nafsu liar

1 komentar 8 Juni 2010

Halaman

Kategori

Tautan

Meta

Kalender

Juni 2010
S S R K J S M
« Mei   Jul »
 123456
78910111213
14151617181920
21222324252627
282930  

Posts by Month

Posts by Category

 
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.