Posts filed under: ‘Cerita 18sx‘




Cerita 18sx – Makna Persahabatan – 4

Ruang kamar mandi itu dengan segera dipenuh oleh gelak tawa dan gurauan-gurauan yang membangkitkan birahi. Gesekan-gesekan, rabaan-rabaan dan remasan-remasan tak ayal lagi merangsang nafsu terpendam. Ketika ledakan-ledakan nafsu itu tidak tertahankan lagi, jalan satu-satunya ialah menyetubuhi kedua wanita itu bergiliran. Maka dinding-dinding kamar mandi itu pun menjadi saksi bisu aku beradu nafsu syahwat dengan Fenny dan Dewi.

Fenny minta disetubuhi duluan. Aku duduk di tepi bathtub dengan kemaluanku mengacung tegak ke atas. Dewi merangkulku dari belakang sehingga buah dadanya yang padat itu menempel erat di punggungku. Fenny mengangkangkan pahanya dan mendekatiku dari depan, siap-siap untuk disetubuhi.

“Mas Ardy pasti bangga ya, dilayani oleh dua cewek bahenol”, kata Fenny tersenyum.

“Jelas dong”, sahutku.

“Bayangkan! Dua cewek Cina, putih mulus, cantik dan bahenol, dapat kusetubuhi bergantian dalam semalam.”

“Apa yang paling Mas Ardy suka”, sahut Dewi.

“Aku dan Fenny kan sama saja dengan wanita-wanita yang lain.”

“Oh, jelas beda” jawabku.

“Aku suka wanita yang bahenol dengan buah dada dan pantat yang besar. Jelas, kalian berdua masuk dalam kriteriaku. Yang kedua, aku terobsesi untuk bersetubuh dengan wanita-wanita Tionghoa. Putih, mulus dan halus. Awalnya sih pingin tau aja, senikmat apa sih bersetubuh dengan wanita-wanita Cina. Eh, ternyata luar biasa nikmatnya. Jadinya ketagihan”

“Ah, Mas Ardy aja ada”, kata Fenny mencubit lenganku.

“Kita akan saling memuaskan”, kata Dewi.

“Mas Ardy membutuhkan tubuh kami sedang kami membutuhkan kejantananmu.”

“Hahaa..” bertiga kami tertawa bareng.

Fenny yang sudah duduk di pahaku merapatkan tubuhnya. Kemaluanku yang sudah tegak tanpa halangan langsung menembus kemaluannya, bersarang sedalam-dalamnya. Ia segera menggoyang pantatnya dengan liar sambil melenguh-lenguh nikmat. Kedua buah dadanya diarahkan ke mulutku. Dengan buas kuterkam keduah buah dada yang bergoyang-goyang itu. Fenny mengerang keras. Nafsunya semakin melonjak mendekati orgasme.

Ia semakin liar. Kepalaku ditekan keras-keras ke dadanya sehingga terbenam di buah dadanya yang empuk. Sementara itu, Dewi juga terus menekan-nekan dadanya ke arah punggungku. Jadinya dua pasang buah dada sungguh memanjakanku. Huu.. Seru! Fenny yang sudah terangsang hebat cepat sekali mencapai orgasmenya. Badannya mengejang-ngejang diiringi erangan kenikmatan.

“Auu.. Mas!” jerit Fenny seraya mengerkah bahuku.

Jeritan kenikmatannya tersekat di sana. Untuk beberapa saat kami terdiam. Ia memelukku erat-erat menggapai kekuatan menahan deraan kenikmatan yang menerpa tubuhnya. Perlahan ia melepaskan tubuhku dan dengan lemas mencebur ke dalam bathtub yang sudah terisi air hangat.

“Sekarang giliranku, Mas”, kata Dewi.

Ia langsung berdiri dan bersandar ke wastafel dan menaikkan pantatnya, siap menerima batang kejantananku dalam doggy style penetration. Sejenak aku menikmati bayangan indah di cermin. Rambut Dewi yang panjang dan awut-awutan itu menggantung. Matanya tertutup sambil agak menengadah. Bibirnya yang merah mungil itu agak terbuka, menghiasi wajahnya yang cantik.

Wajah itu jelas memancarkan gelora birahi yang menggila dan butuh pemuasan. Buah dadanya yang ranum besar itu menggelantung dengan indahnya, bergerak naik turun seirama nafasnya yang memburu. Tangannya bertumpu pada tepi wastafel. Pahanya sudah membuka lebar, memperlihatkan celah kemaluannya yang seperti berteriak tak sabar. Rambut kemaluannya yang basah itu melekat di pinggir mulut gua gelap itu.

Aku mendekatinya. Tanganku menyapu lembut kulit pantatnya yang mulus tapi padat. Dari bayangan cermin kulihat Dewi menggigit bibirnya dan menahan napas, tak sabar menanti penetrasi batang kejantananku. Tanganku melingkari kedua pahanya lalu kuarahkan kemaluanku ke lubang kenikmatannya. Perlahan-lahan ujung kemaluanku yang melebar dan berwarna merah mengkilap itu menerobosi kemaluannya. Dewi mendongak dan dari mulutnya terdengar desisan liar. Sejenak aku berhenti dan membiarkan ia menikmatinya lalu mendadak aku menghentakkan pantatku keras ke depan. Sehingga terbenamlah seluruh batang kejantananku di liang kewanitaannya.

“Aacchh..!!”, Dewi mengerang keras.

Aku menjambak rambutnya sehingga wajah yang cantik itu mendongak ke atas. Sambil terus menggenjot kemaluannya, aku menikmati perubahan mimik wajahnya menahan rasa nikmat yang bergelora dan menjalari seluruh tubuhnya. Wajahnya yang memerah itu dialiri butiran-butiran keringat. Kedua buah dadanya berguncang-guncang seirama dengan gerakan keluar masuk kemaluanku di liang nikmatnya.

Bunyi kecipak cairan vaginanya terdengar merdu berirama, diiringi desahan dan lenguhan yang terus menerus keluar dari mulutnya yang mungil. Melihat itu aku semakin bernafsu. Aku mempercepat gerakan pantatku. Kemaluanku terasa semakin membesar dan memanjang. Erangan dan lenguhan Dewi berubah menjadi jeritan histeris penuh birahi yang meledak-ledak.

“Oohh..! Lebih keras!” jerit Dewi.

“Ayo, cepat. Cepat. Lebih keras lagii!”

Keringatku deras menetesi pungguh dan dadaku. Wajahku pun telah basah oleh keringat. Rambut Dewi semakin keras kusentak. Kepalanya semakin mendongak. Dan dengan satu sentakan keras, aku membenamkan kemaluanku sedalam-dalamnya. Dewi menjerit karena orgasme yang menggelora. Kusentakkan tubuh Dewi ke atas. Kedua tanganku menggapai kedua buah dadanya dan meremas-remas dengan penuh nafsu. Ia pun menghentakkan pantatnya ke belakang agar lebih penuh menerima batang kemaluanku. Pantatnya bergetar hebat. Aku menggeram seperti singa lapar.

Di saat itulah kurasakan spermaku menyemprot dengan derasnya ke dalam rahim Dewi. Rasanya tak ada habis-habisnya. Dinding-dinding vagina Dewi menjepit kemaluanku. Rasanya seperti terpilin-pilin. Tangan Dewi melemah dan ia pun merebahkan dirinya di atas keramik lebar samping wastafel. Aku pun rubuh menindih tubuhnya. Beberapa lama kami diam di tempat dengan kelamin yang tetap bersatu sepenuhnya, menggeletar dan mengejang, mereguk segala kenikmatan yang hanya dapat ditemukan dalam persetubuhan.

“Udah waktunya mandi, Mas, Mbak Dewi”, kata-kata Fenny menyadarkan kami berdua.

Aku membimbing Dewi yang masih lemas didera rasa nikmat orgasmenya. Bertiga kami berendam di dalam bathtub mewah dalam kamar mandi Mei yang lapang ini. Dengan penuh kelembutan keduanya memandikanku, membersihkan seluruh peluh yang melekat di badanku, mencuci bersih kemaluanku.

Benar kata Yen. Dewi dan Fenny tidak mengecewakan. Malah harus kuakui, permainan seks kedua wanita ini jauh lebih menggairahkan. Menikmati tubuh keduanya saja sudah begini menyenangkan. Bagaimana kalau mereka berempat, Mei dan Yen serta Dewi dan Fenny bersama-sama melayani dalam semalam? Sesudah malam ini, hari-hari selanjutnya pasti akan sangat menyenangkan.

Bagai mendapat durian runtuh, demikian kata pepatah lama. Bagaimana tidak. Empat wanita Cina yang cantik bermata sipit dengan tubuh yang montok dan bahenol siap aku setubuhi kapan saja. Ooh, betapa beruntungnya aku.

“Mikiran apa, ayo”, kata Fenny membuyarkan lamunanku. Ia tersenyum.

“Aku berpikir, gimana rasanya kalau dalam semalam aku menyetubuhi kalian berdua serta Mei dan Yen bergantian ya?” kataku.

“Ih maunya”, sahut Fenny.

“Itu bisa saja, Mas”, sahut Dewi sambil menyiramkan air hangat ke bahuku.

“Mei dan Yen udah berencana kok. Pasti kita akan main berlima. Aku yakin, Mas Ardy tidak keberatan. Ya kan?”

“Siapa yang nolak”, sahutku.

“Apalagi dilayani oleh empat wanita Cina yang cantik-cantik dan montok-montok ini.”

“Itulah manfaatnya mempunyai sahabat”, sahut Fenny.

“Bisa berbagi suka dan duka.”

“Benar kata Fenny”, timpal Dewi.

“Kami semua mapan secara ekonomis. Begitu juga karier. Selama ini kami tidak pernah merasa perlu berbagi kegembiraan. Sekarang semua itu terjadi, berkat bantuan Mas Ardy. Karena di sini kami berempat telah berbagi kenikmatan!”

“Jadi inikah makna persabahatan itu?” tanyaku dalam hati.

Apapun jawabannya aku tidak peduli. Malam itu sungguh menjadi malam yang tak terlupakan. Kami bersetubuh sampai pagi, sama-sama tidak menyia-nyiakan kesempatan membagi rasa nikmat hubungan kelamin satu sama lain.

Pagi hari, Mei dan Yen kembali. Setelah menyelesaikan ronde terakhir persetubuhan pagi itu, kami bertiga bergabung dengan Mei dan Yen menikmati sarapan pagi. Wajah Dewi dan Fenny terlihat sayu karena kurang tidur tetapi jelas berbinar-binar karena kepuasan yang telah mereka peroleh.

“Kho Ardy”, kata Yen.

“Benarkan kataku kalau aku ini sahabat sejati. Sesuatu yang indah dan nikmat itu kalau dibagi-bagi akan menjadi lebih indah dan nikmat.”

“Betul kata Yen”, tambah Mei.

“Tapi malam ini milik aku dan Yen, kan?

“Tentu”, sahutku pendek sambil menyeruput kopiku.

“Pokoknya mulai sekarang, kapan saya Mas Ardy pengen, kami pasti bersedia”, tambah Fenny.

“Kecuali kalau lagi menstruasi tentunya. He.. He.. He..”

“Gimana Dewi?” tanyaku.

“Aku setuju”, sahut Dewi.

“Sahabat sejati selalu memberikan yang terbaik kepada para sahabatnya. Kami berempat adalah teman-teman lama. Kini menjadi berlima bersama Mas Ardy. Orang lain saling membagi harta dan ceritera. Kita saling membagi rasa nikmat hubungan kelamin. Kami berempat ini milikmu. Gimana?”

“Setujuu..!!” sahut Mei, Yen dan Fenny.

Aku hanya tersenyum bangga. Mataku menatap langit-langit diiringi derai tawa keempat wanita cantik nan bahenol itu. Ada makna baru persahabatan bagiku sekarang!

TAMAT

Tags : Cerita 18sx,cerita dewasa,cerita sex,gadis seksi,cewek telanjang,cerita 17 tahun,cerita sexs,cerita seks,foto telanjang,tante girang, indonesian bugil, cina bugil, photo bugil, artis cantik, indo artis, mahasiswi bugil, mandi bugil, bugil telanjang, putri bugil, cantik bugil, asia bugil, sma bugil, abg bugil, bugil ayu azhari

1 komentar 28 Mei 2010

Cerita 18sx – Makna Persahabatan – 3

Dari Bagian 2

Kulihat Dewi sudah menelentang dengan mata tertutup. Bibirnya sedikit terbuka dan mendesis-desis. Pahanya telah dibuka lebar-lebar. Kemaluannya merekah merah dan basah oleh cairan vaginanya, dihiasi oleh bulu-bulu hitam lebat di seputarnya. Tangan kirinya berpegangan erat dengan tangan Fenny seakan-akan menimba kekuatan dan dukungan. Dadanya kelihatan bergemuruh oleh denyut jantungnya. Ia terlihat menahan napas. Aku tahu, ia tak sabar menantikan sensasi indah bersatu dengan diriku. Kuarahkan kemaluanku yang sudah menegang dan berkilat-kilat.

Ujung kemaluanku menguak perlahan-lahan bibir kemaluannya. Ia mendesah nikmat. Lalu perlahan-lahan aku menyuruk masuk. Mulutnya semakin lebar terbuka. Batang kemaluanku yang berkasa itu menerobos dinding-dinding vaginanya yang telah basah berlendir. Ketika separuh batang kemaluanku telah menerobos liang nikmatnya Dewi, aku berhenti sejenak dan membiarkan dia menikmatinya. Kulihat ekspresi wajah Dewi yang menggelinjang kenikmatan. Rambut hitamnya yang terserak di bantal mempertegas ekspresi wajahnya yang putih mulus. Tangannya meremas-remas kain seprei. Dari mulutnya keluar desah-desah nikmat yang menggelora. Aku tersenyum bangga, bisa menikmati tubuh wanita secantik dan semontok Dewi.

Ketika aku dengan hati puas menikmati ekspresi penuh kenikmatan wajah Dewi, di saat itulah ciuman bibir Fenny mendarat di belakangku, tepat di atas pantatku. Aku terkejut karena geli. Reaksiku tak terduga. Aku menyodokkan kemaluanku dengan keras ke arah Dewi. Batang kemaluanku yang besar dan panjang itu dengan ganasnya menerobosi lubang surgawi Dewi dan tertanam sepenuhnya di lubang yang sudah basah berlendir itu. Dewi tersentak dan membelalakkan matanya sambil mengerang hebat. Jeritannya keras dan panjang membelah udara malam yang hening itu.

“Aaoohh..”, erang Dewi penuh kenikmatan.

Pantatnya dihentak-hentakkan ke atas untuk menerima kemaluanku sepenuhnya. Pahanya yang padat itu membelit pinggangku, sehingga aku sepenuhnya bersatu dengan dirinya. Ia melolong-lolong seperti orang hilang ingatan. Sementara itu jilatan lidah Fenny di seputar bokongku membuat rasa nikmat itu semakin menjadi-jadi. Setelah berhenti sejenak dan memberi kesempatan kepada Dewi untuk menikmati sensasi nikmat ini, aku mulai bergerak. Kemaluanku kugerakkan maju mundur secara berirama. Mula-mula perlahan-lahan, lalu bergerak makin cepat. Tubuh montok Dewi bergetar-getar seirama dengan genjotan kemaluanku. Mulutnya terbuka dan mendesis-desis.

Melihat indahnya bibir-bibir mungil merah merekah itu, aku segera mendaratkan bibirku di sana. Kulumat habir bibir-bibir seksi itu. Dewi membalas tak kalah hebatnya. Lidahku terpilin-pilin oleh sedotan mulutnya. Tubuhku mulai berpeluh, menetes dan menyatu dengan keringat Dewi. Pahanya kini dibuka lebar-lebar sehingga aku dapat leluasa menggenjot kemaluannya itu. Kecipak bunyi cairan vaginanya karena sodokan kemaluanku secara berirama menambah panas pertarungan penuh birahi ini.

“Aku mau keluar..” erang Dewi.

“Ayo, Mas.. Lebih keras! Auu!!”

Mengingat masih ada Fenny yang harus dipuaskan, aku mempercepat gerakanku agar Dewi secepatnya orgasme. Benar! Dalam hitungan dua menit, Dewi menjerit sekeras-kerasnya sambil menghentak-hentakkan pantatnya ke atas. Tubuhnya menggeletar dengan hebas karena didera rasa nikmat yang luar biasa. Jeritannya itu tersekat oleh mulutku. Pahanya ketat membelit pinggangku. Tangannya memelukku seerat-eratnya. Desah puas terdengar dari mulutnya.

“Fenny masih menunggu”, kataku mengingatkan.

Ia mengangguk dan melepaskanku. Aku mencabut kemaluanku yang masih tegak keras dan berkilat-kilat karena dilumuri lendir vagina Dewi. Dari kemaluannya kulihat aliran lendir orgasmenya. Dewi tetap berbaring dengan paha terbuka dan mata tertutup. Buah dadanya membusung ke atas, agak memerah karena remasan dan gigitanku. Kemaluannya tetap merekah terbuka dan bergetar-getar, masih harus terbiasa dengan genjotan kemaluanku yang keras dan besar ini.

Aku menoleh dan kulihat Fenny menatapku dengan pandangan yang menyiratkan harapan agar nafsunya pun segera dipuaskan. Aku menghampirinya. Ia bergerak dan menyiapkan dirinya untuk disetubuhi. Tak kusangka, ia langsung menungging. Rupanya ia suka doggy style penetration.

“Aku tahu, Mas Ardy suka pantatku”, katanya sambil tertawa kecil.

“Ayo, Mas! Fenny udah nggak sabar, nih. Pengen cepat dirudal oleh penismu yang gede itu.”

“Siapa takut!” sahutku.

Karena Fenny sudah sangat terangsang, aku tidak menunggu lama-lama. Langsung saja kuarahkan kemaluanku ke arah kemaluannya yang merekah, diapiti oleh kedua bongkahan pantatnya yang montok, padat dan lebar itu. Sungguh pemandangan yang indah dan sangat mengungkit birahi yang terpendam. Pantat yang lebar dan mulus itu pasti menjanjikan kenikmatan yang tak ada duanya. Bulu-bulu kemaluannya yang hitam lebat itu menutupi sedikit liang nikmat Fenny. Kusibak rambut-rambut itu dan tampaklah bibir-bibir vagina yang berwarna merah muda, segar dan basah berlendir. Apa lagi yang dapat menghalangiku menyetubuhi si pantat besar ini?

Fenny menurunkan kepalanya hingga bertumpu ke bantal. Pantatnya diangkat. Tangannya meremas ujung-ujung bantal itu seakan-akan mencari kekuatan. Nafasnya berdesah tak teratur. Bulu-bulu halus tubuhnya meremang, menantikan saat-saat sensasional ketika kemaluanku ini akan menerobosi lubang surgawinya. Aku merapat. Kuelus-elus kedua belahan pantatnya yang mulus padat itu. Perlahan-lahan jari-jariku mendekati bibir-bibir vaginanya yang telah basah itu. Jariku mempermainkan rambut lebat di seputar lubang itu. Fenny mengerang-erang menahan birahinya yang semakin menggila. Pantatnya bergetar-getar menahan rangsangan tanganku.

“Ayo, Mas”, erang Fenny.

“Udah nggak tahan nih!”

Kuarahkan kemaluanku yang masih sangat keras itu ke arah lubang kenikmatan Fenny. Kuletakkan kepala kemaluanku di atas bibir-bibirnya. Fenny mendesah. Kemudian perlahan tapi pasti aku mendorongnya ke depan. Kemaluanku menerobosi lubang nikmatnya itu. Fenny menjerit kecil sambil mendongakkan kepalanya ke atas. Sejenak aku berhenti dan membiarkan Fenny menikmatinya. Ketika ia tengah mengerang-erang dan menggelinjang-gelinjang, mendadak aku menyodokkan kemaluanku ke depan dengan cepat dan keras. Dengan lancar batang kemaluanku meluncur ke dalam liang vaginanya. Fenny tersentak dan menjerit keras.

“Ampunn, Mas!” jerit Fenny.

“Auu..!!”

Di saat itu terdengar telepon berdering. Siapa sih yang nelpon malam-malam begini? Dewi beranjak menerima telepon ini. Sambil terus menggenjoti kemaluan Fenny, aku menangkap pembicaraan itu.

“Eh, Yen”, kata Dewi.

“Tuh lagi asyik di sana. Fenny sampai menjerit-jerit tuh. Bisa dengar kan? Ya.. Aku sampai orgasme berulang-ulang lho. Mas Ardy memang jagoan deh. Ok.. Aku ke sana.”

Dewi membawa cordless telepon itu ke samping ranjang. Ia mendekatkannya ke kepala Fenny yang menjerit kenikmatan. Rupanya Mei dan Yen ingin mendengarnya juga. Aku terpacu untuk menunjukkan kejantananku. Maka aku mempercepat genjotan kemaluanku di vagina Fenny. Kujambak rambutnya sehingga wajahnya mendongak ke atas. Semakin keras dan cepat genjotanku, semakin keras erangan dan jeritan Fenny. Bunyi hentakan pantatnya semakin memukau. Akhirnya kurasakan lahar sperma di kemaluanku akan memuncrat. Maka aku mempercepat kocokanku, biar Fenny duluan orgasme. Benar!

“Aa..h.!” jerit Fenny.

“Aah.. Aku keluar! Aku keluar!”

Diiringi jeritan kerasnya, tubuh Fenny menggeletar hebat didera rasa nikmat orgasme yang tak terkatakan. Punggungnya melengkung ke atas dan mengejang. Hentakkan pantatku membenamkan kemaluanku dalam-dalam ke vagina Fenny. Dinding liang kemaluannya itu terasa menjepit batang kemaluanku, mengiringi muntahan spermaku memenuhi lubang kenikmatannya. Tanganku mencekal pahanya yang padat itu dan menarik erat-erat ke arah kemaluanku, sehingga kemaluanku yang kubanggakan itu terbenam sedalam-dalamnya di kemaluan Fenny.

Punggung Fenny yang padat berisi itu bersimbah peluh. Rambutnya melekat. Ia mencengkam seprei kuat-kuat seakan-akan hendak menimba kekuatan dari sana, menahan deraan rasa nikmat yang melanda sekujur tubuhnya. Rasa nikmat yang sama menjalari tubuhku, diimbangi oleh rasa bangga karena dapat beradu birahi dengan dua wanita Cina yang yang cantik dan bahenol. Kebanggaanku menjadi lebih lengkap karena keduanya sudah meraih orgasme berkat kejantananku.

“Udah dulu ya, Mbak”, suara Dewi membuyarkan lamunanku.

“Fenny udah keluar, tuh! Aku mendingan mandi, deh! Sebentar lagi pasti giliranku.” Rupanya ia mengobrol dengan Mei dan Yen lewat telepon.

Rasa bangga menjalari kepalaku mendengar ucapan Dewi itu. Sambil tetap membiarkan kemaluanku menancap di tubuh Fenny, aku menoleh ke arah Dewi. Aku tersenyum, ia membalasnya. Ia mendekatiku dan mendaratkan bibirnya di bibirku. Kami berpagutan erat sementara tubuh Fenny yang masih menyatu dengan tubuhku terus menggeletar menggapai sisa-sisa kenikmatan. Oh, malam yang teramat indah dan akan kukenang seumur hidupku.

“Oh! Nikmatnya!” kata Fenny.

“Aku belum pernah sepuas ini!”

“Aku juga”, sahut Dewi.

“Luar biasa Mas Ardy ini!”

Aku mencabut kemaluanku dari kemaluan Fenny. Kuperhatikan liang vaginanya yang dipenuhi spermaku bercampur cairan kemaluannya, menetes jatuh membasahi pahanya. Kami bertiga rebah di atas ranjang. Kedua wanita itu menempel lekat, Dewi di sisi kiriku dan Fenny di sisi kananku. Ciuman hangat mendarat di kedua pipiku. Sekitar lima belas menit kami hanya berbaring diam melemaskan badan, mereguk sisa-sisa kenikmatan dan menghimpun tenaga.

“Mandi, yuk!” ajak Dewi.

Bertiga kami beralih ke kamar mandi. Seperti dengan Mei dan Yen dulu, kamar mandi itu berubah menjadi arena pemuasan nafsu birahi. Dewi dan Fenny memandikanku. Keduanya menyabuniku bukan dengan tangan. Dewi sibuk menyabuni seluruh bagian belakang tubuhku dengan buah dadanya, sementara Fenny menyapu bersih seluruh bagian depan tubuhku dengan pantatnya yang lebar.

Ke Bagian 4

Tags : Cerita 18sx,cerita dewasa,cerita sex,gadis seksi,cewek telanjang,cerita 17 tahun,cerita sexs,cerita seks,foto telanjang,tante girang, indonesian bugil, cina bugil, photo bugil, artis cantik, indo artis, mahasiswi bugil, mandi bugil, bugil telanjang, putri bugil, cantik bugil, asia bugil, sma bugil, abg bugil, bugil ayu azhari

1 komentar 28 Mei 2010

Cerita 18sx – Makna Persahabatan – 2

Dari Bagian 1

Dadaku berdegup kencang, mataku membelalak dan mulutku terbuka. Mimpi apa aku semalam? Kupandangi keempat wanita Cina yang putih mulus, cantik montok dan bahenol itu dengan nafas yang menderu-deru. Keempatnya tersenyum manis.

“Selamat datang ke dunia impian”, kata Yen dengan suaranya yang merdu.

“Semua ini milikmu”, sambung Mei.

“Nikmati sepuas hati.”

“Ayolah, Kho Ardy”, kata Yen manja.

“Kenalan dong, sama si Fenny dan Dewi. Katanya pingin kenalan dengan dua cewek montok nan sexy ini. Ayo, kemarilah.”

Aku mendekat. Mei dan Yen mendekat dan mengapitiku di kiri dan kanan. Keduanya bergayut di bahuku dengan buah dada mereka yang montok kenyal itu menempel di lengan kiri dan kananku. Kedua wanita montok ini telah puluhan kali merasakan kejantananku. Sekarang mereka ingin membagi kenikmatan dengan dua teman yang lain. Aduhai! Dadaku berdegub-degub.

Fenny mendekat. Goyangan dada dan pantatnya saja sudah mampu membangkitkan birahiku. Apalagi goyangannya di atas ranjang, pastilah membuatku terbang ke awan-awan. Kuulurkan tanganku. Ia menyambutnya hangat. Kurengkuh tubuh montok itu ke dalam pelukanku. Dadanya terasa empuk menempel di dadaku. Tanganku melingkari pinggulnya dan meraih pantatnya yang besar itu. Kutekan pantatnya itu ke arahku dalam gerak menyerupai persetubuhan. Fenny terkikik diiringi tawa Mei dan Yen. Ketika kukecup bibirnya, terasa ada getar-getar birahi dalam desah nafasnya yang hangat.

Lalu giliran Dewi. Jalannya anggun. Dengan postur tubuh setinggi itu ia lebih layak menjadi peragawati. Buah dadanya yang putih mulus dan disangga oleh BH kecil itu bergoyang-goyang dengan lembutnya. Sungguh pemandangan yang mengungkit birahi terpendam.

“Senang berkenalan dengan Mas Ardy”, kata Dewi sambil menyambut tanganku.

Aku merengkuh tubuh sintal dan sexy itu ke dalam pelukanku. Ia menggeletar. Ketika masih kunikmati dadanya yang empuk menempeli dadaku dan tanganku meraih-raih pantatnya, ia mendaratkan kecupannya di pipiku. Mei dan Yen bertepuk tangan.

“Nah, Kho Ardy”, kata Yen.

“Tugasku sudah selesai. Dewi dan Fenny akan menemanimu. Nikmati malam ini sepuas-puasnya. Aku dan Mei akan pergi.”

“Dewi, Fen”, kata Mei.

“Kami pergi ya. Aku jamin deh, kalian berdua nggak bakalan kecewa. Malah ketagihan nanti. Hati-hati, jangan lupa pulang lho, besok.”

Mei dan Yen segera berpakaian dan meninggalkan ruangan. Tidak lama berselang, terdengar derum mobil Mei meninggalkan halaman rumah. Aku turun dan mengunci pagar dan pintu depan. Ketika aku kembali, Dewi dan Fenny sudah menantiku di pintu ruang tengah. Keduanya langsung menyerbuku dan mendaratkan ciuman-ciumannya yang panas dan penuh gairah birahi terpendam. Aku sampai kewalahan dibuatnya. Malam ini, Dewi dan Fenny sepenuhnya menjadi milikku. Aku akan mereguk kenikmatan sepuas-puasnya dalam pelukan hangat keduanya.

Sambil merangkul keduanya, Fenny di kiri dan Dewi di kanan, kuajak keduanya duduk di sofa ruang tengah. Di ruang inilah dulu aku berpesta seks pertama kali dengan Mei dan Yen. Di ruang inilah pertama kali Mei dan Yen melayaniku dan menjadi ketagihan sejak itu. Kini aku ingin agar di ruang yang sama ini Fenny dan Dewi merasakan kejantananku dan selanjutnya menjadi ketagihan.

Tanpa kuminta, kedua wanita Cina yang cantik montok nan bahenol ini mulai membuka pakaianku. Satu persatu dilepaskannya sehingga yang tertinggal hanya celana dalamku saja. Kemudian serentak keduanya mendaratkan ciuman-ciuman di pipi dan leherku hingga akhirnya mulut-mulut mungil dengan bibir-bibir sexy itu mulai mengulum puting susuku, Fenny di sebelah kiri dan Dewi di sebelah kanan.

Aku mengerang-ngerang nikmat dan dengan segera tanganku bergerilya di lekukan-lekukan tubuh keduanya. Kedua tanganku melingkar ke punggung Dewi dan Fenny lalu melepaskan kaitan BH masing-masing. Terlepas dari BH, buah dada keduanya yang memang besar dan montok mencuat keluar dengan indahnya. Warnanya putih mulus dengan puting yang merah kecoklatan. Buah dada keduanya sudah menegang sehingga terasa padat dan empuk di telapak tanganku.

Ketika tanganku mulai mengelus buah dada keduanya yang montok itu, desah nafas nikmat terdengar dari mulut keduanya. Geletar birahi sudah melanda urat nadi seluruh tubuh mereka. Serentak tanga-tangan mungil Dewi dan Fenny menerobos celana dalamku dan berebutan menggenggam batang kemaluanku yang sudah menegang sekeras tank baja. Aku tidak peduli tangan siapa yang mengelus batang kemaluanku dan yang lain mengusap-usap buah pelirku. Yang kurasakan hanya geletar-geletar nikmat yang menjalari seluruh bagian tubuhku dan meledak-ledak di denyutan kemaluanku.

Melepaskan kuluman di kedua puting susuku, Fenny menyusuri perutku dan mendekati selangkanganku. Dewi merayapi leherku dan mengendus-ngendus di pangkal kupingku. Tangan kiriku menyelusuri belahan buah dada Fenny dan sejalan dengan itu bibirku merambah tonjolan buah dada Dewi yang ternyata lebih besar dan lebih montok dari buah dada Fenny. Kuremas buah dada Fenny dan kuisap buah dada Dewi. Kedua wanita Cina itu bersamaan mengerang dengan suara keras.

Sambil tetap mengisap-isapi buah dada Dewi, tanganku mulai bergerilya ke balik celana dalam keduanya. Bongkahan-bongkahan pantat keduanya yang montok dan padat itu kini menjadi sasaran remasan tanganku. Telapak tanganku terasa empuk menelusuri halus kulit dan montoknya bongkah-bongkah itu. Keduanya menggelinjang ketika jari-jariku nakal menyelusuri belahan pantat yang menggairahkan itu. Keduanya bereaksi menjawab gerak tanganku itu.

Celana dalamku diperosotkan Fenny sehingga aku telanjang. Sejalan dengan mencuatnya kemaluanku tegak ke atas laksana menara, mulut mungil Fenny langsung menyergapnya. Kemaluanku yang sudah tegang itu berdenyut-denyut dalam mulutnya. Sedotannya sungguh membawa nikmat tidak terkira. Aku menggeram, tetapi geramanku itu tertahan di buah dada Dewi yang menekan kepalaku kuat-kuat ke dadanya. Kedua tanganku dengan cepat menerobosi celana dalam keduanya dan bersarang di kemaluan masing-masing. Tangan kiriku menggerayangi kemaluan Fenny dan tangan kananku sibuk mencari-cari kemaluan Dewi. Ternyata keduanya telah basah oleh lendir.

Dewi mengaduh keras ketika jemariku menerobosi liang nikmatnya itu. Jeritan Fenny tertahan oleh kemaluanku yang telah memenuhi mulutnya. Sambil tangan kirinya terus menekan kepalaku ke arah dadanya, tangan kanannya memerosotkan celana dalamnya sendiri. Fenny menggelinjang-gelinjang ketika tangan kiriku mencopot celana dalamnya. Kini aku bersama kedua wanita cantik itu sudah dalam keadaan bugil penuh tanpa ditutupi sehelai benang pun. Adakah sesuatu yang dapat menghalangi aku untuk menikmati tubuh-tubuh bahenol ini sekarang?

“Kita ke kamar sekarang”, kataku kepada Fenny dan Dewi.

Fenny melepaskan kulumannya atas kemaluanku. Bertiga kami bangkit dan melangkah ke lantai atas. Kedua wanita itu bergayut di bahuku, Fenny di sebelah kiri dan Dewi di sebelah kanan. Tangan kanan Dewi menggenggam dan mengusap-usap kemaluanku sehingga tetap tegang dan keras. Buah dada keduanya menempeli lengan kiri dan kananku sementara kedua tanganku merayapi bongkah-bongkah pantat keduanya yang montok dan padat. Kedua wanita cantik itu mengikik genit dan seksi. Aku tahu persis, nafsu birahi keduanya telah menggelora, tidak sabar menantikan pemuasan.

Kamar tidur Mei terasa sangat romantis dan berbau wangi. Ruangan berpenyejuk itu terasa sangat lapang. Lampu yang redup membuat suasana semakin indah. Aku merebahkan tubuhku di atas ranjang. Kemaluanku tegak menjulang dengan gagahnya, menantikan saat-saat mendebarkan, menyatu dengan kedua wanita itu bergantian. Dewi dan Fenny berdiri sejajar mempertontonkan tubuhnya yang molek padat kepadaku. Dewi lebih tinggi dengan buah dada yang lebih besar dan padat.

Fenny lebih pendek, buah dadanya juga kalah besar dari Dewi, tetapi pantatnya itu! Aduhai! Lebih besar dari pantat Dewi, bahkan lebih besar dari pantat Mei dan Yen. Getaran pantatnya yang besar itu jelas-jelas sangat mengungkit birahiku yang terpendam. Sambil tertawa-tawa keduanya berputar-putar, mempertontonkan kemontokan dan kemolekan tubuh bugil mereka. Kupandang buah dada keduanya yang montok, bongkahan-bongkahan pantat yang bulat, padat dan besar. Rambut kemaluan yang hitam legam itu memberi pemandangan yang sangat indah dan kontras di atas kulit yang putih dan mulus itu.

“Udah puas lihatnya?” tanya Dewi.

“Udah”, jawaku sekenanya.

Segera kedua wanita itu menerkamku di atas ranjang Mei yang lebar dan empuk itu. Spring bed itu bergetar-getar menahan gempuran keduanya. Jari-jari mungil mereka merambah dan mengelus seluruh bagian tubuhku, sementara bibir-bibir mungil dan basah itu menjelajah seluruh bagian sensitif tubuhku. Tubuh-tubuh bugil bahenol itu menghimpitku dengan ketatnya. Kubiarkan keduanya menjelajahi tubuhku. Sentuhan-sentuhan manis itu sungguh-sungguh membawa rasa nikmat yang tak terkira.

Dewi mendekatkan buah dadanya ke wajahku. Mulutku dengan segera menangkap dan mengulum puting buah dadanya yang menegang itu. Ia mengerang keras ketika lidahku mempermainkan putingnya. Sementara itu bibir dan lidah Fenny leluasa menjelajahi sela-sela pahaku. Batang kemaluanku yang sudah sekeras laras senapan itu terasa terpilin-pilih dalam mulutnya. Lidahnya begitu lihai mempermainkan kemaluanku itu. Pantatnya yang bulat lebar itu menjadi sasaran remasan tangan kiriku. Ketika nafsu birahiku semakin menggila dan tak tertahankan lagi, kupikir saatnya untuk menyetubuhi kedua wanita itu. Aku melepaskan diri dan meminta keduanya berbaring berjajar.

“Dewi duluan”, kata Fanny.

Ke Bagian 3

Tags : Cerita 18sx,cerita dewasa,cerita sex,gadis seksi,cewek telanjang,cerita 17 tahun,cerita sexs,cerita seks,foto telanjang,tante girang, indonesian bugil, cina bugil, photo bugil, artis cantik, indo artis, mahasiswi bugil, mandi bugil, bugil telanjang, putri bugil, cantik bugil, asia bugil, sma bugil, abg bugil, bugil ayu azhari

Add a comment 28 Mei 2010

Cerita 18sx – Makna Persahabatan – 1

Sudah beberapa bulan berlalu sejak Mei memperkenalkan Yen kepadaku. Sejak itu kedua wanita Cina yang cantik dan bahenol ini menjadi partner seksku. Secara rutin kami bertemu untuk bersetubuh dan memuaskan nafsu birahi. Kebanyakan kami berkumpul di rumah Mei di bilangan Margorejo (baca ceritaku sebelumnya: Hadiah Ulang Tahun Yang Mengejutkan 1 dan 2). Keduanya seperti tak terpuaskan. Apalagi Yen. Nafsunya yang besar itu seperti tak ada habisnya. Permainan ranjangnya sungguh-sungguh menggairahkan, sehingga selalu ada kegembiraan dan kebanggaan tersendiri setiap kali aku menggumuli, menyetubuhi dan memuaskan nafsunya.

Satu hari Jumat, jam istirahat makan siang. Bersama seorang teman aku meluncur ke Delta Plaza. Ketika lagi asyik menyantap mie goreng, ada SMS masuk ponselku. Ternyata dari Yen.

“Kho Ardy, aku di meja pojok kanan. Buat aja seperti nggak kenal, ya.”

Aku menoleh ke pojok kanan itu. Yen ada di sana bersama sekelompok teman wanita. Ada enam orang, semuanya Cina. Wow.. Cantik-cantik dan mulus-mulus. Mereka bercerita sambil tertawa-tawa dengan ceria. Yen melirik ke arahku sambil menulis SMS di ponselnya. Beberapa detik kemudian ada SMS masuk lagi.

“Pilih aja yang Kho Ardy suka.”

Aku tak dapat lagi berkonsentrasi pada makan siangku. Mataku meneliti para wanita itu satu persatu. Aku lalu teringat percakapanku dengan Yen dan Mei satu malam setelah bersetubuh dengan keduanya.

“Aku sudah punya dua wanita Cina yang cantik dan seksi”, kataku.

“Kapan dua ini akan bertambah menjadi empat?”

“Kho Ardy pingin tambah lagi”, kata Yen di luar dugaanku.

“Mudah, Kho. Akan Yen atur. Mau tambah dua atau berapa, terserah Kho Ardy aja.”

“Nggak usah khawatir”, lanjut Mei.

“Akan ada saatnya hadiah baru lagi. Tapi harus hemat-hemat tenaganya. Soalnya wanita Cina itu nafsunya gede-gede. Haha..”

Aku tak menduga kalau guyonan itu akan menjadi kenyataan. Berarti Yen sungguh-sungguh akan menepati janjinya. Mataku menangkap yang duduk di sebelah kiri Yen. Wajahnya manis imut-imut. Pandangan sekilas jelas menunjukkan sosok tubuhnya yang tinggi tetapi padat. Rambutnya panjang seperti punya Yen dibiarkan tergerai.

Lalu mataku menangkap sosok yang membelakangiku. Wanita berambut pendek itu jelas bertubuh padat. Kursi kecil merah yang didudukinya tak mampu memuat pantatnya yang lebar itu. Yang lain-lain walaupun berwajah manis rata-rata bertubuh agak kecil, tentu tidak masuk dalam kriteria seleraku.

“Yang di sebelah kiri dan yang di depanmu”, tulisku dalam SMS untuk Yen.

Kulihat Yen membaca SMS di ponselnya dan tersenyum sekilas. Ketika mereka berjalan beriringan meninggalkan mejanya, aku memperhatikan satu per satu. Tidak salah pilihanku. Si rambut panjang itu setinggi Yen. Rok sedikit di bawah lutut dan blazer biru terang itu cukup memberi gambaran bentuk tubuhnya yang seksi. Buah dadanya menonjol. Pantatnya bulat besar. Gambaran celana dalamnya sedikit terlihat.

Yang berambut pendek sedikit lebih rendah. Pinggangnya ramping dan buah dadanya besar. Dan pantatnya. Aduhai! Bulat besar dan bergoyang-goyang dengan indahnya. Lebih besar dari pantat wanita yang tinggi itu, malah lebih besar dari pantat Mei dan Yen. Aku menelan liur. Yen mengedipkan matanya sekilas sambil melirikku. Mereka berlalu sementara teman makan siangku terus ngomong tanpa sadar apa yang sedang terjadi. Kembali ke kantor aku tak dapat berkonsentrasi lagi. Kutelepon Yen.

“Gimana tadi?” tanyaku.

“Aku mau yang rambut panjang di sebelah kirimu dan si rambut pendek di depanmu itu.”

“Sudah kuduga kalau Kho Ardy akan memilih yang itu”, katanya sambil tertawa kecil.

“Keduanya memang sesuai selera Kho Ardy. Yang berambut panjang namanya Dewi, 28 tahun. Yang berambut pendek namanya Fenny, seusiaku, 29 tahun.”

“Kapan ketemunya”, kataku tak sabar.

“Haha..” tawanya renyah.

“Udah nafsu nih ye”, lanjutnya menggoda.

“Habis, montok-montok segitu”, sahutku.

“Kho Ardy harus sabar karena perlu pendekatan. Begitu berhasil, Kho Ardy akan kukabarkan. Saya yakin tak lama”, katanya berbisik-bisik.

“Tapi, sebelum ketemu mereka kan masih ada aku sama Mei yang selalu siap.”

Sesudah pertemuan itu, setiap kali bersetubuh dengan Mei dan Yen saya selalu bertanya kapan bertemu si Dewi dan Fenny. Mei juga tidak berkeberatan bahkan bermimpi dapat bermain berlima pada satu kesempatan nanti. Ternyata penantianku tidak berlangsung lama. Tiga minggu sesudah SMS di Delta Plaza, suatu siang Yen menelponku.

“Ada khabar gembira, Kho”, kata Yen dengan suara renyah.

“Dewi dan Fenny pingin segera kenalan dengan Kho Ardy.”

“Betul Yen”, sahutku.

“Siapa dulu dong yang ngatur”, sahutnya.

“Supaya puas, nanti Kho Ardy main aja sama Dewi dan Fenny dulu. Lalu nanti berlima sama aku dan Mei kalau sudah memungkinkan”, kata Yen.

“Gimana baiknya?”, tanyaku.

“Hari Jumat besok Mei akan nginap di tempatku”, katanya lagi.

“Kalian pakai aja rumah Mei, biar aman.”

“Jadi Mei udah tau?” tanyaku.

“Yah, udah”, sahut Yen.

“Keduanya udah kenalan sama Mei. Mei setuju kok, makanya ia menginap di rumahku biar kalian bisa leluasa bermain bertiga. Kami menanti Kho Ardy besok di sana. Sesudah Kho Ardy datang, aku dan Mei pergi, biar Kho Ardy leluasa menikmati Dewi dan Fenny.”

“Wuii.. Kamu hebat deh, Yen”, kataku.

“Tapi Sabtu malam tetap milikku dan Mei”, katanya.

“Hemat tenaganya, ya. Aku dan Mei juga mau puas-puas.”

“Ngomong-ngomong, gimana sih sampai mereka bisa mau?” tanyaku.

“Haha..”, Yen tertawa.

“Mudah kok. Mereka tahu kalau aku dan Mei itu janda-janda muda. Tapi kok selalu berseri-seri setiap awal pekan. Tahu kan, maksudku? Mereka lalu bertanya. Yah, kuceriterakan. Mei juga ceritera. Mei hebat promosinya seperti ceritanya dulu ke aku. Lama-lama keduanya tertarik dan akhirnya pingin kenalan sungguh.”

“Udah kawin keduanya?” tanyaku lagi.

“Kawin sih udah”, sahut Yen sambil ketawa lagi.

“Tapi belum menikah. Nggak apa-apa kan? Masa mau cari yang perawan.”

“Ya, nggak”, kataku.

“Tapi mau keduanya main bareng bertiga?” tanyaku lagi.

“Jangankan bertiga, berlima juga mau”, sahut Yen.

“Nggak usah khawatir Kho, keduanya orang-orang yang santai kok. Kalau mau, minggu depan kita main berlima aja. Kho Ardy dilayani kami berempat khan enak.”

“Terima kasih Yen”, kataku setelah yakin.

“Akan ada hadiah untukmu.”

“Apa itu?” tanyanya.

“Dua jam tambahan di ranjang”, sahutku.

“Iihh.. Maunya”, sahut Yen sambil tertawa.

Aku menutup telepon sambil tersenyum sendiri. Babak baru pengalaman seksku akan bertambah lagi dengan hadirnya dua wanita ini. Aku membayangkan nikmatnya bergumul dengan Dewi dan Fenny, kedua wanita cantik dan montok itu. Apalagi kalau menggumuli empat-empatnya bergiliran dalam satu pesta seks, pasti akan menjadi pengalaman yang tak terlupakan. Tidak terasa, kemaluanku bergerak-gerak dalam celanaku, seakan-akan sudah tidak sabar menantikan saat-saat nikmat bersatu dengan Dewi dan Fenny yang cantik dan bahenol itu.

Jumat sore. Aku menuju rumah Mei dengan jantung berdebar-debar. Ada rasa bangga yang menyelip di dadaku karena boleh menikmati kehangatan tubuh-tubuh wanita Cina yang cantik-cantik itu. Sebaliknya ada rasa cemas juga, takut ditolak karena tidak sesuai dengan harapan mereka. Maklum, usiaku sudah 39 tahun, sebelas dan sepuluh tahun lebih tua dari Dewi dan Fenny. Apa jadinya kalau aku dirasa kurang cakep dan ditolak? Wah, pasti malu sekali. Namun kupikir Yen dan Mei tak mungkin berbohong. Bukankah keduanya sudah ketagihan dengan kejantananku?

Di depan pintu pagar aku ragu-ragu sejenak. Setelah menarik nafas beberapa kali, aku mendorong pintu yang tidak terkunci. Aku masuk dan mengancing pintu pagar stainless still itu. Tanpa mengetuk, aku mendorong pintu depan. Seperti biasa, kalau sudah ada janji pintu depan tidak dikunci. Aku mendorong pintu dan melangkah masuk.

“Hi, sayang”, suara Mei menyambutku.

Astaga! Mei hanya mengenakan celana dalam dan BH kecil berwarna merah yang membuat buah dadanya yang montok itu seperti akan meloncat keluar. Aku terpesona. Mei yang sudah puluhan kali kugumuli itu tetap tampil menawan. Tetapi yang membuatku terkejut ialah caranya berpakaian. Pasti yang lain-lain juga berpakaian seperti itu.

Apakah aku akan dilayani keempat wanita itu sekaligus? Dengan mesra Mei mengecup bibirku dan menggandengku masuk. Dan benar dugaanku, di ruang tengah telah menunggu Yen, Dewi dan Fenny, ketiga-tiganya hanya mengenakan celana dalam dan BH kecil. Memperhatikan tubuh-tubuh montok bahenol nyaris bugil itu, nafsu birahiku langsung menggelegak butuh penyaluran. Kemaluanku langsung berdenyut-denyut di balik celanaku, tidak sabar menanti saat-saat indah menyatu dengan wanita-wanita Cina cantik bahenol ini.

Mei melepaskanku dan berdiri berjajar bersama Yen, Dewi dan Fenny. Aku tertegun memandang keempat wanita ini yang mengenakan hanya BH dan celana dalam. Keempat-empatnya memakai sepatu hak tinggi sehingga menambah seksi pemandangan di depanku. Yen yang berdiri di sebelah Mei mengenakan celana dalam dan BH berwarna hitam. Dadanya menyembul keluar dengan indahnya. Rambutnya yang panjang dibiarkan tergerai. Di sebelah kiri Yen berdiri Fenny.

Ia mengenakan celana dalam dan BH berwarna abu-abu. Rambutnya juga panjang tergerai sampai ke pantatnya. Dadanya menonjol ke depan, membusung dan dengan indahnya menyembul dari BH yang kecil. Dan.. Pantatnya itu, aduhai besarnya. Menariknya, pinggulnya cukup ramping untuk wanita dengan ukuran pantat sedemikian besarnya. Dan akhirnya, di jangkung Dewi dengan rambut di bawah pundak. Ia mengenakan celana dalam dan BH berwarna cream. Dadanya pun montok mempesona dengan tubuh padat dan sintal. Pinggangnya melekuk dengan indahnya menuruni pinggulnya yang digantungi dua bongkahan pantatnya yang lebar, walaupun tidak selebar punya Fenny.

Ke Bagian 2

Tags : Cerita 18sx,cerita dewasa,cerita sex,gadis seksi,cewek telanjang,cerita 17 tahun,cerita sexs,cerita seks,foto telanjang,tante girang, indonesian bugil, cina bugil, photo bugil, artis cantik, indo artis, mahasiswi bugil, mandi bugil, bugil telanjang, putri bugil, cantik bugil, asia bugil, sma bugil, abg bugil, bugil ayu azhari

1 komentar 28 Mei 2010

Cerita 18sx – Wanita Penjaga Showroom – 2

Dari bagian 1

Beberapa minggu kemudian ketika hari libur aku ke rumahnya. Ternyata rumahnya kosong. Kata tetangganya semuanya lagi ke Cibadak. Aku pulang lagi. Beberapa hari kemudian aku kembali ke rumahnya. Kuketuk pintu depan. Tak lama pintu terbuka dan seorang wanita keluar dari dalam.

“Cari siapa ya?” tanyanya.

“Ida ada?”

“Oh ada. Silakan masuk dulu, dia lagi di kamar”.

Aku masuk dan duduk di ruang tamu. Wanita tadi, temannya, masuk ke ruang dalam. Tak lama Ida keluar. Wajahnya terlihat berantakan.

“Sorry, habis baring-baring di kamar. Habis mandi agak siang tadi lalu mengantuk” katanya sambil mengulurkan tangannya. “Kok nggak pernah ke sini lagi?”.

Kusambut tangannya dan “Waktu libur kemarin aku ke sini tapi kosong, nggak ada orang sebiji acan. Kata tetangga sebelah ke Sukabumi”.

“Iya, memang waktu itu rame-rame ke rumah teman kost di sini. Ke Cibadak beberapa hari. Tunggu sebentar aku ambilkan air” katanya sambil berlalu.

“Nggak usah repot-repot”.

“Ah. Nggak kok cuma air putih saja”.

Ia kembali dengan membawa nampan berisi segelas air putih. Mukanya terlihat sudah lebih rapi.

“Diminum ya, cuma air putih. Nggak ada temannya”.

“Cukup kok, terima kasih” jawabku sambil meminum air di dalam gelas sampai setengahnya.

Ida menarik kursi dan duduk di dekatku. Ia tersenyum-senyum. Mungkin membayangkan peristiwa waktu itu.

“Kenapa senyum-senyum sendiri. Bahaya, nanti keterusan” kataku.

“Ah nggak, cuma.. Hmm” Ia tidak melanjutkan kalimatnya.

“Mau diulangi di sini?”

“Hussh, nggak enak sama teman-teman. Prinsipnya sih mereka nggak mau campur urusan orang, tapi jangan di sini”.

“Kalau begitu kita jalan aja yuk!” ajakku.

“Boleh, tapi tunggu sebentar aku ganti baju dulu” katanya sambil berjalan.

Ida keluar lagi. Kami jalan dan nonton lagi di Sukasari Theatre. Hanya kali ini nggak ada kesempatan untuk “pemanasan”. Ada penonton lain di samping dan belakang kami. Selesai film diputar, kami keluar.

“Kemana sekarang kita, Da?”

“Terserah kamu. Aku ikut saja kok”.

Kupegang tangannya “Da, aku mau belajar lagi sama kamu, boleh nggak?”

“Dimana?” Ida balik tanya.

“Kita ke Gadog. Nginap di sana, tapi sebentar ya aku ke apotik dekat situ!”

“Mau beli apa ke apotik?”

“Aku takut kamu hamil, jadi cari pengaman dulu, sarung karet”.

“Nggak usah. Aku nggak mau kalau pakai itu” nada suaranya meninggi.

“Kenapa, kan supaya kita sama-sama aman”.

“Aku percaya kamu bersih dan aku masih ikut KB. Aku belum lepas spiral. Makanya waktu itu aku berani aja. Berapa kali kita waktu itu, tiga atau empat kali kan?” suaranya kembali merendah.

“Enam kali. Ya sudah kalau begitu. Ayo kita berangkat!”

Kami berangkat ke Gadog. Sampai di Gadog kuajak dia ke salah satu wisma yang ada. Ida menunjukkan raut muka heran. Kami masuk ke kamar. Room boy mengiringkan kami dengan membawa handuk dan air putih di teko. Setelah room boy keluar Ida menuangkan air ke dalam gelas yang tersedia, meminumnya sedikit dan mengisinya kembali hingga penuh, menutup lalu meletakkannya pada meja kecil di samping bed. Kurogoh kantungku, masih ada permen mint beberapa butir, kuletakkan di dekat gelas.

“Kamu sering ke sini?”

“Nggak juga, cuma pernah rame-rame dengan teman nginap di sini”.

“Kamu bayar penuh nginap satu malam?”.

“Iya, tapi dapat diskon, kurayu penjaganya. Aku mau mandi dulu, kamu nggak mandi?”

“Sudah tadi mandi di rumah agak siangan”.

Ida melepas celana panjangnya. Baru kuperhatikan bahwa ternyata dia mengenakan baju yang sama dengan pakaian yang dipakai pada pertemuan yang dulu.

“Kamu pakai pakaian yang sama dengan waktu itu ” komentarku.

Aku melepas baju dan celana panjang, ke kamar mandi berlilitkan handuk. Selesai mandi kembali ke kamar, aku masih berlilitkan handuk tanpa pakai celana dalam lagi. Kulihat Ida di bawah selimut, bagian bahunya terbuka. Aku ikut masuk ke bawah selimut dan melepas handuk yang kukenakan. Ternyata Ida sudah full bugil di bawah selimut. Kucium lembut bibirnya, kami saling merapatkan badan. Udara di Gadog cukup dingin, apalagi setelah mandi. Badanku beberapa kali menggigil.

“Dingin ya?” tanya Ida.

“Lumayan, tapi sekarang sudah mulai hangat”.

Tanganku mulai gerilya, merayap di sekujur tubuhnya. Kurasakan kehangatan merayap ditubuhku. Adik kecilku mulai bangun, kurapatkan pada pahanya. Ia tertawa kecil, merasakan adik kecilku yang mendesak dan bergerak membesar di pahanya. Selimut yang menutupi tubuh kami tersingkap semuanya sehingga tubuh kami terbuka tanpa ada penutup selembar benangpun.

“Matikan lampunya, kain kordennya berlubang-lubang. Nanti diintip orang!” katanya.

“Nggak usah, aku ingin bercinta sambil melihat wajahmu. Kalau ada yang ngintip paling dia nanti yang kepingin. Biarin aja”.

Kami mulai berciuman. Gerak tubuhnya mengisyaratkan keinginannya. Kujilati leher dan dagu kemudian kucium bagian belakang telinganya. Ia menggelinjang.

“Merinding ah, kamu kok jadi pintar. Jangan-jangan selama ini belajar dengan perempuan lain”.

“Nggak kok, cukup satu gurunya”.

Kubalikkan tubuhnya sehinga dia memunggungiku. Kugigit tengkuknya dan kususuri punggungnya dengan lidahku. Ia merintih perlahan. Kurasakan ia semakin terangsang. Kubalikkan tubuhnya dan kutindih setengan tubuhnya.

Kembali kami berciuman. Kali ini dengan nafsu yang membara. Suara-suara kecipak dan desahan tertahan terdengar ketika kedua mulut kami beradu dan saling menyedot. Lehernya kucium dan kujilat, ia makin mendongakkan kepalanya memberi kesempatan kepadaku untuk menjelajahi lehernya. Tangannya mengusap pipi, leher kemudian punggungku sampai ke dekat pinggang dan berputar menggesekkan kukunya perlahan pada kulitku, memberikan sensasi tersendiri. Sementara tangan kirinya mengusap punggung, tangan kanannya mulai mengelus kantung zakar dan mengurut batangku mulai dari pangkal ke ujungnya. Mr. P-ku makin menegang dan membesar. Ida berguling sehingga kini ia di atas. Tangannya masih mengurut senjataku.

Ia melepaskan diri dari pelukanku dan membuka tasnya. Kulihat ia mengambil sesuatu, ternyata adalah baby oil dan eau de toilette. Ida duduk di samping pinggangku menghadap ke arah kepalaku. Ia menuangkan sedikit baby oil ke tangan kanannya dan kembali mengurut senjataku.

“Aduh.. Achh, luar biasa nikmat. Ternyata masih ada pelajaran baru yang aku belum tahu”.

Kupegang tangannya menahan kenikmatan. Dilepaskannya tanganku “Sudah, kamu diam saja. Jangan ganggu aku. Kalau nggak tahan pegangan kasur dan gigit ujung bantal saja. Kalau terasa mau keluar bilang”.

Kuikuti perintahnya. Diurutnya terus penisku yang makin keras. Kepalanya yang besar kelihatan memerah dan mengkilat terkena baby oil. Aku makin terlena, kadang kuangkat pantatku menahan rangsangan yang luar biasa.

“Ouhh Ida.. Aku mau keluar, aku mau ke.. Lu.. ar”.

Ida menggenggam dan merenggut kantong penisku dengan perlahan. Kurasakan rangsangan itu menurun pelan-pelan. Ida melepaskan genggamannya pada batang penisku. Kini dengan kedua tangannya ia mengurut pinggangku dari bagian luar ke bawah dalam ke arah penis. Beberapa menit ia lakukan itu. Kemudian ia menuangkan eau de toilette dan mencampurnya dengan sedikit baby oil lalu mengusapkannya pada dada dan perutku. Setelah itu dia berbaring miring menghadap ke arahku. Kuremas payudaranya yang sebelah kanan dengan kuat karena gemas. Ia tersenyum kecil dan menggelinjang.

“Sudah istirahatlah dulu, rileks dan buat pikiranmu menjadi santai. Hilangkan pikiran yang merangsang. Masih ada babak berikutnya”.

Ida berbaring telentang di sampingku dan menutupkan matanya. Ditariknya kembali selimut yang tadi sudah terlepas untuk menutup tubuh kami berdua. Aku mencoba untuk rileks dan menghilangkan bayangan dan pikiran yang merangsang. Agak susah memang tapi terus kucoba sambil menarik nafas dalam-dalam. Harumnya eau de toillette sangat membantu untuk menenangkan pikiranku. Lama-lama pikiranku menjadi tenang. Kulihat tarikan nafas Ida teratur, tetapi aku tahu ia tidak tidur meskipun matanya terpejam. Setengah jam lebih berlalu.

Ida bangun kemudian ke kamar mandi, dalam keadaan polos. Ketika keluar kulihat ia membawa air dalam gayung, sabun dan handuk kecil. Ia duduk di sampingku dan membasuh penisku dan menyabuninya sampai bekas baby oil tadi hilang, kemudian mengelapnya dengan hati-hati. Setelah selesai ia ke kamar mandi membuang air dalam gayung tadi.

“Ayo kita masuk babak berikutnya!” Katanya ketika kembali dari kamar mandi.

Aku berpikir apalagi yang akan dilakukannya. Ia membuka selimut yang masih menutup tubuhku, menindih dan menciumiku dengan ganas. Harumnya eau de toilette masih tercium. Aku kembali terangsang dengan cepat oleh aksinya. Ia memberi isyarat agar aku berada di atas. Adikku yang terangsang sudah mengacung dan siap menembus guanya. Ida memegang penisku dan mengarahkannya ke lubangnya yang agak lembab. Kedua kakinya mengangkang lebar dengan lutut agak diangkat. Kali ini penisku bisa langsung masuk dan menerobos ke dalam hingga tenggelam sampai ke pangkalnya. Ida memegang pinggulku dan membantu menggerakkannya ke atas ke bawah. Kupacu kuda betinaku mendaki lereng kenikmatan. Gerakan kami semakin liar. Erangan dan lenguhan kami semakin kuat dan sering. Sampai akhirnya aku merasakan hampir sampai ke puncak kenikmatan. Kupercepat gerakan naik turunku sambil mendesah.

“Ida.. Ouuhh.. Ida, kita sama-sama.. “.

Berbeda dengan kehendakku, Ida malahan mendorong tubuhku dan melepaskan pelukanku. Aku menolaknya.

“Apa-apaan kamu Da!” kataku kecewa. “Sudahlah lepaskan aku dulu, aku akan memberikanmu sesuatu yang luar biasa malam ini. Percayalah” katanya lembut sambil mengecup keningku.

Aku berbaring menjauhi tubuhnya dengan hati kecewa dan penuh tanda tanya. Ida mencoba menghiburku.

“Berikutnya aku akan memberikan kepuasan yang lain yang belum pernah kamu peroleh”. Aku masih diam saja.

“Sekarang istirahatlah lagi agak lama dari yang tadi,” sambil berkata begitu jari tangannya memegang erat jari tanganku. Aku menurut saja dan berpikir lagi, pastilah dia tidak bermaksud untuk mengecewakanku. Tapi apa berikutnya?

Kulihat kali ini Ida benar-benar tertidur. Akhirnya aku mencoba juga untuk tidur. Sempat kulirik arlojiku. Jam sepuluh lewat sedikit. Beberapa lama kemudian entah karena dongkol atau lelah karena perasaan “menggantung” akupun tertidur.

Entah berapa lama aku tertidur sampai aku merasakan ada tubuh yang mendesakku dengan lembut. Ida sudah bangun rupanya. Dadanya meskipun kecil tapi masih terasa menekan lenganku. Aku terkejut,

“Jam berapa sekarang?” tanyaku.

“Jam dua belas lewat” jawabnya.

Berarti sudah dua jam aku tertidur. Ida menggapai gelas yang ada di meja kecil dekat ranjang, meneguk airnya dan memberikannya padaku.

“Minum dulu, mulut orang habis bangun tidur bau “.

“Siapa bilang?” kataku sambil mengambil permen yang kuletakkan di dekat gelas tadi, membuka bungkusnya dan memasukkannya ke dalam mulut.

“Ih curang, bagi dong permennya” katanya sambil menciumi bibirku. Kami saling memainkan permen tadi, bergantian mengulumnya sampai akhirnya habis.

Ida di atasku, menciumi dadaku dan menjilati putingku. Diganjalnya kepalaku dengan bantal satu lagi sehingga kepalaku agak ke atas. Aku tidak tahan dengan aksinya sehingga kutarik mukanya ke mukaku. Kami berciuman dengan penuh gairah. Kaki kami saling menjepit, kakiku menjepit kaki kirinya dan kakinya juga menjepit kaki kiriku. Kugesekkan selangkanganku pada pahanya. Ia mendesah. Gantian sekarang selangkangannya yang menggesek pahaku.

Kami makin terbuai dengan gerakan masing-masing. Kini kedua kakinya menjepit kakiku. Sementara penisku yang dari tadi penasaran sudah kembali mengeras. Dalam posisi di atasku sambil menahan tubuh dengan tangannya Ida menggerak-gerakkan pinggulnya mencoba memasukkan penisku ke dalam liang kenikmatannya tanpa bantuan tangannya. Agak sulit memang, tapi ketika kepala penisku sudah mulai masuk ke dalam liang vaginanya ia memutar-mutar pinggulnya sambil menekan ke bawah. Kurasakan gerakan peristaltik yang kuat dari otot kemaluannya. Sampai kemudian seluruh batang penisku terbenam dalam vaginanya. Ia masih memutar-mutar pinggul dan membuat gerakan naik turun. Aku meremas, memilin serta mengulum payudaranya. Kami saling berbagi kenikmatan dengan posisi seperti itu.

“Ouh.. Mmmhh.. Ngngngnhhk” Ida mendesah tertahan.

Aku mencoba duduk dengan Ida tetap dalam pangkuanku. Kami bisa berpelukan dan berciuman dengan sangat intens. Ida tetap menggerakkan pinggulnya naik turun. Penisku terasa seperti dikocok-kocok.

Kurebahkan Ida ke arah yang berlawanan dengan posisi tidur semula, sehingga kini bantal berada di posisi kaki. Kugenjot pinggulku naik turun dengan ritme yang berubah-ubah. Kadang cepat kadang sangat lambat. Tapi setiap gerakanku selalu kubuat agak tinggi sehingga penisku terlepas dari vaginanya, lalu kutekan lagi. Setiap penisku dalam posisi masuk, menggesek bibir vaginanya ia terpekik kecil. Kami berdua sangat menikmati permainan ini.

Kakinya bergerak dan kedua kakinya kujepit dengan kedua kakiku. Dalam posisi begini aku tidak bisa menarik penis terlalu tinggi karena susah untuk memasukkannya lagi. Namun dalam posisi begini jepitan vaginanya jadi sangat terasa.

Kami mengubah posisi lagi. Kali ini kaki kirinya di luar kaki kananku dan kaki kanannya di dalam kaki kiriku. Kubelit kaki kirinya dengan kaki kananku dan sebaliknya. Dengan posisi begini kami bisa menghemat gerakan. Dengan sedikit gerakan saja rangsangan kenikmatan yang timbul sangat terasa. Kadang kami hanya diam saja dan cukup menggerakkan otot kemaluan kami untuk saling memberi rangsangan. Ketika kurasakan akan mencapai puncak kenikmatan kuubah posisi kaki dalam posisi konvensional. Posisi konvensional ini paling memungkinkan bagi kami untuk mengekspresikan puncak kepuasan secara maksimal.

“Ida.. Ouhh nikmat sekali, hebat sekali permainanmu.. “

Kuperkirakan sudah setengah jam kami bercinta, namun terasa ada energi tambahan yang membuat kami bertahan untuk tidak segera mencapai puncak. Kupercepat gerakanku dan gerakannya juga semakin liar.

“Agak ke atas sedikit.. Oooh” pintanya.

Kuikuti saja permintaanya. Aku menggeser tubuhku agak ke atas bagian tubuhnya, sehingga gerakan penisku menggesek bagian atas vaginanya. Rupanya dengan posisi ini gesekan penisku dengan klitorisnya mebuat dia sangat nikmat. Tubuhnya kadang seakan merinding dan gemetar. Pinggulnya memutar-mutar dan naik seakan-akan menghisap penisku.

Bunyi deritan ranjang, erangan dan bunyi selangkangan beradu seakan-akan berlomba. Tubuh kami sudah basah oleh keringat yang membanjir. Dinginnya udara Puncak tak terasa lagi. Kurasakan ada gerakan menjalar dalam penisku. Inilah saatnya sebentar lagi akan kuakhiri permainan ini. Ida terengah-engah menikmati kenikmatan yang dirasakannya.

“Ida.. Da sebentar lagi aku mau keluar.. “

Gerakanku semakin cepat hingga seakan-akan tubuhku melayang. Lututku mulai sakit.

“Ayolah Anto aku juga mmau kkel.. uar. Kita sama-sama sampai”.

Ketika kurasakan aliran pada penisku tak tertahankan lagi kuunjamkan dalam-dalam sambil memekik tertahan.

“Ida.. Ouh .. Sekarang.. Sekarang”

“Ouh Anto aku.. Keluar”

Kakinya membelit kakiku, kepalanya mendongak dan pantatnya diangkat. Kurasakan denyutan dalam vaginanya sangat kuat. Kutembakkan laharku sampai beberapa kali. Giginya dibenamkan dalam bahuku sampai terasa pedih. Aku merasakan hal yang luar biasa sepertinya melayang di udara dan rasanya cairan laharku menjadi lebih banyak. Napas kami masih tersengal-sengal, kucabut penisku dan menggelosor di sampingnya. Jarinya memegang erat jariku.

“Bagaimana?” tanyanya.

“Wouw.. Luar biasa” jawabku.

“Aku baca dari sebuah buku tentang teknik pijatan untuk melancarkan aliran darah ke penis dan memperbanyak tembakan mani”.

“Pantas saja, rasanya maniku sangat banyak dan senjataku sangat keras. Terima kasih Ida”.

Kami tidur sampai pagi dan rasanya cukup sekali saja kami bercinta dalam semalam kalau kepuasan yang didapat luar biasa seperti kali ini. Kuantarkan Ida kembali ke rumahnya. Temannya yang membukakan pintu kemarin tersenyum-senyum dan melirik genit ke arahku.

“Boleh dong lain kali ajak kita, masakan Ida terus yang diajak. Kita punya oke juga lho” katanya sambil melihat ke arah Ida sambil meleletkan lidahnya.

“Silakan aja kalau Antonya mau”.

Hmm, dipikir kita takut.

TAMAT

Tags : Cerita 18sx,cerita sex, foto ngentot, smu bugil, gadis indonesia, gambar bokep,gadis bugil indonesia tante girang, galeri gambar cewek bugil, gadis indonesia bugil bugil abg bugil, cewek bugil, galeri artis bugil, koleksi cowok bugil, artis bugil indonesia majalah popular

1 komentar 27 Mei 2010

Cerita 18sx – Wanita Penjaga Showroom – 1

Suatu sore ketika aku berjalan-jalan di sekitar Pasar Ramayana ada seorang wanita mendahuluiku berjalan tergesa-gesa. Isengku timbul, sambil kususul kupanggil dia dari belakang.

“Da, Ida!”

Dia menoleh ke belakang tersenyum dan memperhatikanku.

“Siapa ya?” tanyanya.

“Maaf, maaf kukira temanku,” sahutku, “Kebetulan dia bernama Ida”.

“Mau ke mana sih?” tanyaku sambil kuulurkan tangan mengajak berkenalan. “Saya Anto”.

“Ida, Farida” jawabnya sambil menyambut tanganku.

“Sebenarnya saya mau nonton di Ramayana Theatre, tapi sudah terlambat lagipula filmya nggak bagus”, sambungnya lagi.

“Sekarang mau kemana lagi” pancingku.

“Nggak ada, mau pulang aja” jawabnya.

“Jalan yuk ke Sukasari”.

“Mau ngapain?”

“Jalan aja, kalau ada film bagus kita nonton di sana aja”.

“Ayolah, kebetulan aku juga nggak ada acara, daripada bengong di rumah”.

Sambil ngobrol akhirnya kuketahui bahwa Ida bekerja di sebuah showroom mobil di Jakarta. Ia janda cerai beranak satu. Sudah dua tahun ia menjanda. Umurnya lima tahun di atasku. Tinggal di daerah Warung Jambu, kost dengan beberapa temannya. Perawakannya sedang, tinggi 160 cm dengan badan yang agak kurus dan dada kecil. Wajahnya lumayan, kalau dinilai dapat angka tujuh. Kacamata minus satu nongkrong di hidungnya.

Sampai di Sukasari Theatre ternyata film sudah diputar setengah jam.

“Sekarang bagaimana?” tanyaku.

“Terserah kamu saja”.

Kuajak dia jalan mutar-mutar di Matahari lihat-lihat baju dan kosmetik. Akhirnya dia ngajak minum jamu di kedai dekat jalan. Tiba-tiba saja dia menggandeng lenganku berjalan ke kedai jamu tersebut.

“Mau minum sari rapet” godaku.

“Nggak ah, saya biasanya minum sehat wanita saja”.

Akhirnya dia pesan jamu sehat wanita dan aku minum sehat lelaki. Setelah minum jamu duduk-duduk sebentar di sana dan kami kembali ke Sukasari Theatre. Tak berapa lama loket buka.

“Jadi nonton?” tanyaku, “Tentu saja jadi, buat apa nunggu lama-lama di sini?”.

Aku ke loket beli tiket. Dan kembali duduk di sampingnya di lobby. Suasana kelihatan sepi, hanya ada beberapa orang saja yang duduk-duduk di lobby. Sukasari Theatre memang bukan bioskop favorit di Bogor. Kalah sama Sartika 21 yang baru dibuka.

Akhirnya kami masuk ke dalam bioskop, kemudian film mulai diputar. Beberapa lama kemudian tangannya menyusup ke lenganku. Aku diam saja. Ida semakin merapat. Aku berpaling dan menatap wajahnya. Ia tersenyum dan membuka mulutnya sedikit. Tampak giginya yang berderet rapi. Ia menyorongkan mukanya ke arahku dan mencium pipiku. Aku sedikit kaget atas tindakannya. Aku melepaskan tangannya dari lengan kiriku, lalu kulingkarkan ke bahu kirinya. Muka kami berdekatan. Kutatap lagi wajahnya dan perlahan-lahan muka kami saling mendekat. Matanya agak terpejam dan mulutnya terbuka. Kukecup bibirnya pelan dan lama-lama menjadi ciuman yang dalam. Kacamatanya menghalangi aksiku, kuminta dia melepas kacamatanya. Kuremas dada sebelah kirinya dari luar baju dengan tangan kiriku. Ia menolak dan menepiskan tanganku, tetapi dibiarkan tanganku memeluk bahunya.

Praktis kami nggak konsentrasi lagi ke cerita film yang sedang diputar. Sepanjang pemutaran film itu kami saling merapat dan berciuman. Kadang-kadang lidah kami saling mendesak ke dalam rongga mulut, bergantian kadang lidahnya menggelitik rongga mulutku, kadang lidahku yang masuk ke dalam mulutnya. Ia mendesah menahan dorongan nafsunya yang tertahan sekian lama.

Film habis, kami keluar dan berjalan mencari angkutan.

“Kalau sudah malam begini dari sini susah cari angkutan ke rumahku ” katanya.

“Jadi bagaimana?”

“Kita coba saja ke Ramayana, nanti disambung lagi”.

Akhirnya kami dapat angkutan, tetapi hanya sampai Pajajaran saja. Kami turun di depan pintu Kebun Raya yang di Pajajaran. Kami menungu lagi di situ.

“Jam segini nggak ada lagi angkutan ke Warung Jambu kali ya?” tanyaku.

“Kelihatannya sih nggak ada lagi. Kita cari penginapan saja yuk, saya pernah nginap rame-rame dengan teman-teman di satu penginapan. Agak murah, tapi saya lupa tempatnya”.

Sekilas terpikir olehku Wisma T dekat Pasar Kebon Kembang.

“Benar nih mau nginap? Saya tahu ada penginapan yang bersih dan murah”.

Setelah lima belas menit menunggu ada mobil omprengan plat hitam berhenti di depan kami.

“Kemana Pak? Mari saya antar” tanya sopir sambil membuka kaca jendelanya.

Kami naik dan minta diantar ke Wisma T. Sampai di sana ternyata hanya ada kamar standar double bed. Setelah menyelesaikan bill, kami berdua masuk ke kamar. Di dalam kamar kami rapatkan dua bed yang ada. Karena agak gerah kubuka kausku. Ida hanya memandang dan tersenyum saja. Kami berbaring berdampingan di bed masing-masing.

“Boss-nya yang punya showroom orang mana sih?”

“Keturunan Arab” Jawabnya.

“Asyik dong pasti gede punya barangnya. Kamu sering diajak sama boss dong “.

“Nggak pernah kok”. Entah dia berbohong atau benar.

“Terus kalau tiba-tiba kepengen gimana?” Ida hanya diam saja.

Ida bangun dan kulihat dia membuka celana panjangnya.

“Eh ngapain dibuka?” kataku terkejut.

Ida hanya tersenyum saja. Ternyata dia mengenakan celana pendek santai sebatas lutut di dalamnya. Kembali Ida berbaring di bednya. Karena kedua bed sengaja kami susun berhimpitan, tanganku bisa menjangkau tubuhnya dan kurengkuh mendekat tubuhku. Kembali kami berciuman. Mula-mula hanya kukecup bibirnya saja dengan lembut. Ida membalas lembut dan lama kelamaan mulai menjadi liar. Tangannya memainkan bulu dadaku. Beberapa menit kami saling berciuman dengan dengus napas yang berat. Kutindih dia sambil berciuman. Meriamku di bawah mulai bangkit. Ida merapatkan selangkangannya pada selangkanganku. Mulutku turun ke atas dadanya dan kucoba membuka kancing blouse nya dengan bibirku dan gigiku.

“Sebentar, aku buka dulu bajuku ya,” Katanya sambil membuka kancing bajunya satu persatu.

“Jangan, nggak usah dibuka” kataku sambil menahan tangannya.

“Nggak apa-apa kok. Kamu mau kan”. Katanya mendesah.

Ia terus membuka baju dan celana pendeknya. Kemudian tangannya membuka ikat pinggangku dan akhirnya menarik ritsluiting dan kemudian dengan perlahan ia menarik celanaku ke bawah. Kini kami hanya mengenakan pakaian dalam saja.

“Kamu sering mengajak perempuan untuk begini ya?” tanyanya.

“Ah nggak, aku belum pernah kok berhubungan dengan wanita” kataku berbohong. Aku memang sudah beberapa kali berhubungan dengan wanita.

“Nggak percaya, kelihatannya kamu lihai sekali dalam bercumbu tadi”.

“Kalau sebatas ciuman emang sih, tapi untuk lebih jauh lagi belum pernah. Paling hanya nonton film dan baca cerita saja”

“Jadi kamu masih perjaka?” ia meyakinkan lagi.

“Emangnya kenapa?”

“Eehhngng..” Ia mendesah ketika lehernya kujilati.

Ida menindihku dan tangannya kebelakang punggungnya membuka pengait bra-nya. Kini terbukalah dadanya di hadapanku. Buah dadanya tidak besar, hanya pas setangkupan jariku. Terasa sudah agak kendor. Ida mendorong lidahnya masuk jauh ke dalam rongga mulutku. Lidahnya liar memainkan lidahku. Aku hanya pasif saja, sesekali membalas mendorong lidahnya. Tanganku memilin puting serta meremas payudaranya. Ida menggeserkan tubuhnya ke bagian atas tubuhku sehingga payudaranya pas di depan mulutku. Segera kuterkam payudaranya dengan mulutku. Putingnya kuisap pelan dan kugigit kecil.

“Aaacchh, teruskan Anto.. Teruskan”. Ia mulai mengerang dan meracau, punggungnya melengkung ke belakang.

Meriamku semakin keras. Ida semakin merapatkan selangkangannya pada selangkanganku, sehingga kadang terasa agak sakit jika dia terlalu keras menindihku. Puting dan payudaranya semakin kencang dan keras. Kukulum payudaranya sehingga semuanya masuk ke dalam mulutku, sambil putingnya terus kumainkan dengan lidahku. Dadanya terlihat memerah dan menjadi lebih gelap dibanding bagian tubuh lainnya pertanda nafsunya mulai terbakar. Napasnya tersengal-sengal.

Tangan Ida bergerak ke bawah menyelusup di balik celana dalamku, meremas, mengocok dan menggoyang-goyangkan senjataku. Akhirnya dia menarik celana dalamku sampai ke lutut dan dengan bantuan jari kakinya ia melepaskannya ke bawah. Kini aku dalam keadaan telanjang bulat. Ida menggeserkan mulutnya ke arah bawah, menjilati leher dan menggigit kecil daun telingaku. Hembusan napasnya terasa kuat menerpa tubuhku. Dia mulai menjilati putingku. Aku terangsang hebat sekali sehingga harus menggeleng-gelengkan kepalaku untuk menahan rangsangan ini. Kupeluk pinggangnya erat-erat.

Tangannya kemudian membuka celana dalamnya sendiri. Kini tangan kiriku leluasa bermain di antara selangkangannya. Rambut kemaluannya tidak begitu lebat dan pendek-pendek. Dengan jari telunjuk dan jari manis kubuka labia mayora dan labia minoranya. Jari tengahku menekan bagian atas organ kewanitaannya dan mengusap bagian yang menonjol seperti kacang tanah. Setiap aku mengusap kelentitnya Ida menggigit kuat dadaku dan mengerang tertahan.

“Aaauhh.. Ngngnggnghhk”

Mulutnya bergerak semakin ke bawah, bermain-main dengan bulu dada dan perutku, terus semakin ke bawah, menjilati bagian dalam lutut dan pahaku. Sendi-sendi kakiku terasa mau lepas. Tangannya masih bermain-main di kejantananku. Kini mulutnya mulai menjilati kantung penisku. Tanganku meremas-remas rambutnya untuk mengimbanginya. Aku pikir dia mau meng-oral, tetapi ternyata tidak, dia hanya sampai pada kantung penis saja. Aku hanya menunggu dan mengimbangi gerakannya saja, seolah-olah aku belum pernah melakukan hal ini.

Kembali Ida bergerak ke atas, tangan kirinya memegang dan mengusap kejantananku yang telah berdiri mengeras. Ia dalam posisi jongkok di atas selangkanganku. Perlahan lahan ia menurunkan pantatnya sambil memutar-mutarkannya. Agak susah dia kelihatannya berusaha memasukkan kejantananku ke liang vaginanya. Mungkin benar juga setelah menjanda dia tidak pernah merasakan lagi nikmatnya berhubungan badan. Penisku memang lebih besar di bagian ujung daripada pangkalnya. Kepala kejantananku dijepit dengan kedua jarinya, digesek-gesekkan di mulut vaginanya. Terasa hangat dan lembab, lama-lama seperti berair. Dia mencoba lagi untuk memasukkan kejantananku. Kali ini..

Blleessh.. Usahanya berhasil.

“Ouhh.. Ida ouhh” kini aku yang setengah berteriak.

Ida bergerak naik turun dalam posisi setengah jongkok. Mula-mula perlahan-lahan dia menggerakkannya, karena memang terasa masih agak kesat dan kering. Aku mengimbanginya dengan memutar pinggulku dan meremas payudaranya. Kepalanya mendongak ke atas dan bergerak ke kanan kiri. Kedua tangannya bertumpu pada pahaku. Ketika lendirnya sudah membasahi organnya Ida mempercepat gerakannya, kadang-kadang dibuatnya tinggal kepala penisku saja yang menyentuh mulut vaginanya.

Ida menghentikan gerakannya, merebahkan tubuhnya di atasku dan kini terasa otot vaginanya meremas penisku. Terasa nikmat sekali. Aku mengimbanginya, ketika dia relaksasi aku yang mengencangkan otot perutku seolah-olah menahan kencing. Demikian bergantian kami saling meremas dengan otot kemaluan kami. Beberapa saat kami dalam posisi itu tanpa menggerakkan tubuh, hanya otot kemaluan saja yang bekerja sambil saling berciuman dan memagut tubuh kami.

“Anto, .. Nikmat sekali .. Ooouuhh” desisnya sambil menciumi leherku.

Ida berguling ke samping, kini dalam posisi menyamping aku yang bergerak maju mundur menyodokkan kejantananku ke dalam vaginanya. Dalam posisi ini gerakanku menjadi kurang nyaman dan kurang bebas. Kugulingkan lagi tubuhnya, kini aku yang berada di atas. Kuatur gerakanku dengan ritme pelan namun dalam sampai kurasakan kepala penisku menyentuh mulut rahimnya. Kuangkat penisku sampai keluar dari vaginanya dan kumasukkan lagi dengan pelan, demikian berulang-ulang. Ketika penisku menyentuh rahimnya Ida mengangkat pantatnya sehingga tubuh kami merapat.

“Lebih cepat lagi, oohh.. Aku mau keluar aacchhkk..” Ida memeluk punggungku lebih erat. Betisnya membelit pinggangku, matanya setengah terpejam, kepalanya terangkat sehingga seolah-olah tubuhnya menggantung di tubuhku.

Kuubah ritmeku, kugerakkan dengan pelan namun hanya ujung penisku saja yang masuk beberapa kali kemudian sekali kutusukkan dengan cepat sampai seluruh batang terbenam. Matanya semakin sayu dan gerakannya semakin liar. Aku mendadak menghentikan gerakanku. Payudaranya sebelah kuremas dan sebelah lagi kukulum dalam-dalam. Tubuh Ida bergetar seperti menangis.

“Ayo jangan berhenti, teruskan.. Teruskan lagi” pintanya.

Aku tahu wanita ini hampir mencapai puncaknya. Kugerakkan lagi tubuhku. Kali ini dengan ritme yang cepat dan dalam. Semakin lama semakin cepat. Terdengar bunyi seperti kaki diangkat dari dalam lumpur ketika penisku kunaikturunkan dengan cepat.

“Ayolah Anto, aku mau sampai “.

Gerakan pantatku semakin cepat dan akhirnya

“Sekarang.. Anto.. Sekarang.. Yeeah!!”

Kurasakan tubuhnya menegang, vaginanya berdenyut dengan cepat, napasnya tersengal dan tangannya meremas rambutku. Kukencangkan otot perutku dan kutahan, terasa ada aliran lahar yang mau meledak. Aku berhenti sejenak dalam posisi kepala penis saja yang masuk dalam vaginanya, kemudian kuhempaskan dalam-dalam. Serr.. Seerr beberapa kali laharku muncrat di dalam vaginanya. Ida hendak berteriak untuk menyalurkan rasa kepuasannya, namun sebelum keluar suaranya kusumbat mulutnya dengan bibirku.

“MMmmhh.. Achh” pantatnya diangkat menyambut hunjamanku dan tubuhnya bergetar, pelukan tangan dan jepitan kakinya semakin erat sampai aku merasa kesulitan bernafas, denyutan di dalam vaginanya terasa kuat sekali meremas kejantananku. Setelah satu menit denyutannya masih terasa sampai penisku terasa ngilu.

Ketika penisku mau kucabut dia menahan tubuhku.

“Jangan dicabut dulu, biarkan saja di dalam. Ouhh kamu hebat sekali Anto. Terima kasih kamu telah memuaskanku” Ida mengecup bibirku.

Kubiarkan dia memelukku sampai penisku mengecil dan akhirnya keluar sendiri dari vaginanya. Malam itu dalam waktu kurang lebih tujuh jam kami bertempur sampai enam ronde. Paginya dia memelukku dan berkata,

“Aku mau lagi di lain hari”.

“Ah kamu nakal, perjakaku kamu ambil”.

“Kamu yang nakal, kamu yang mulai”.

Kupeluk dia dan kuangkat ke kamar mandi untuk mandi dan membersihkan diri. Akhirnya kuantar dia pulang dan aku berjanji untuk datang lagi ke rumahnya. Ternyata dia tinggal serumah dengan beberapa teman-temannya. Semuanya wanita, sebagian janda dan sebagian lagi masih gadis. Mereka masing-masing punya pekerjaan tetap.

Ke bagian 2

Tags : Cerita 18sx,cerita sex, foto ngentot, smu bugil, gadis indonesia, gambar bokep,gadis bugil indonesia tante girang, galeri gambar cewek bugil, gadis indonesia bugil bugil abg bugil, cewek bugil, galeri artis bugil, koleksi cowok bugil, artis bugil indonesia majalah popular

1 komentar 27 Mei 2010

Cerita 18sx – Horror di Ruang UKS

Mereka semua mulai melepas semua pakaian mereka, dan ternyata penis penis merekaxiy sudah ereksi dengan gagahnya, membuat jantungku berdegup semakin kencang melihazlyrt penis penis itu begitu besar. Girno mengambil posisi di tengah selangkanganku,zu sementara yang lain melepaskan ikatan pada kedua pergelangan tangan dan kakiku.dkvm Girno menarik lepas celana dalamku, kini aku sudah telanjang bulat. Tubuhku yanbgeg putih mulus terpampang di depan mereka yang terlihat semakin bernafsu.

“Infbdah sekali non Eliza, memeknya non. Rambutnya jarang, halus, tapi indah sekali”,xzo puji Girno. Memang rambut yang tumbuh di atas vaginaku amat jarang dan halus. Syijemakin jelas aku melihat penis Girno, yang ternyata paling besar di antara merekuzsa semua, dengan diameter sekitar 6 cm dan panjang yang sekitar 25 cm. Aku menatalup sayu pada Girno.

“Pak, pelan pelan pak ya..” aku mencoba mengingatkan Girno, ymdtxjang hanya menganguk sambil tersenyum. Kini kepala penis Girno sudah dalam posisiwz siap tempur, dan Girno menggesek gesekkannya ke mulut vaginaku. Aku semakin terwfangsang, dan mereka tanpa memegangi pergelangan tangan dan kakiku yang sudah tidyoezak terikat, mungkin karena sudah yakin aku yang telah mereka taklukkan ini tak aprkan melawan atau mencoba melarikan diri, mulai mengerubutiku kembali.

Kedua pjtyibayudaraku kembali diremas remas oleh Hadi dan Yoyok, sementara Urip dan Soleh beqtrgantian melumat bibirku. Rangsangan demi rangsangan yang kuterima ini, membuat drheaku orgasme yang ke dua kalinya. Kembali tubuhku berkelojotan dan kakiku melejanrastfg lejang, bahkan kali ini cairan cintaku muncrat menyembur membasahi penis Girnoxj yang memang sedang berada persis di depan mulut vaginaku.

“Eh.. non Eliza inifslbo… belum apa apa sudah keluar 2 kali, pake muncrat lagi. Sabar non,kenikmatan yobuwang sesungguhnya akan segera non rasakan. Tapi ada

bagusnya juga lho, memek nonyzw pasti jadi lebih licin, nanti pasti lebih gampang ditembus ya”, ejeknya sambil uynvmulai melesakkan penisnya ke

vaginaku.

“Aduh.. sakit pak” erangku, dan Girno onberkata “Tenang non, nanti juga enak”.

Kemudian ia menarik penisnya sedikit, dzuban melesakkannya sedikit lebih dalam dari yang tadi. Rasa pedih yang amat sangatpc melanda vaginaku yang sudah begitu licin, tapi tetap saja karena penis itu terlqvrybalu besar, Girno kesulitan untuk menancapkan penisnya ke vaginaku, namun dengan tmfphpenuh kesabaran, Girno terus memompa dengan lembut hingga tak terlalu menyakitikmutwsu.

Lambat laun, ternyata memang rasa sakit di vaginaku mulai bercampur rasa nxajqikmat yang luar biasa. Dan Girno terus melakukannya, menarik sedikit, dan menusujodkkan lebih dalam lagi, sementara yang lain terus melanjutkan aktivitasnya sambilstfj menikmati tontonan proses penetrasi penis Girno ke dalam vaginaku. Hadi dan Yoymbrkwok mulai menyusu pada kedua puting payudaraku yang sudah mengeras karena terus moqzpsenerus dirangsang sejak tadi. Tak lama kemudian, aku merasakan selangkanganku sabidsmkit sekali, rupanya akhirnya selaput daraku robek.

“Ooohhh… aaaauuugggh… hynngggkk aaaaagh…” Aku menjerit kesakitan, seluruh tubuhku mengejang, dan air maoktaku mengalir, dan kembali aku merasakan keringatku mengucur deras. Aku ingin mervqronta, tapi rasa sesak di vaginaku membatalkan niatku. Aku hanya bisa mengerang,ujk dan gairahku pun padam dihempas rasa sakit yang nyaris tak tertahankan ini.

“nejAduh.. sakit pak Girno… ampun”, erangku, namun Girno hanya tertawa tawa puas kzyarena berhasil memperawaniku, dan yang lain malah bersorak, “terus.. terus..”. Agdhku menggeleng gelengkan kepalaku kuat kuat ke kanan dan ke kiri menahan sakit, sosdementara bagian bawah tubuhku mengejang hebat, tapi aku tak berani terlalu banyagkoxk bergerak, dan berusaha menahan lejangan tubuhku supaya vaginaku penuh sesak itmivou tak semakin terasa sakit. Namun lumatan penuh nafsu pada bibirku oleh Urip ditryfambah belaian pada rambutku serta dua orang tukang sapu yang menyusu seperti anamogck kecil di payudaraku ini membuat gairahku yang sempat padam kembali menyala.

eol Tanpa sadar, dalam kepasrahan aku mulai membalas lumatan itu. Girno terus memperjrdalam tusukannya penisnya yang sudah menancap setengahnya pada vaginaku. Dan Giephdrno memang pandai memainkan vaginaku, kini rasa sakit itu sudah tak begitu kurasluakan lagi, yang lebih kurasakan adalah nikmat yang melanda selangkanganku. Peniswrcel itu begitu sesaknya walaupun baru menancap setengahnya, dan urat urat yang berdkaenyut di penis itu menambah sensasi yang luar biasa. Sementara itu Girno mulai mtraneracau, “Oh sempitnya non. Enaknya.. ah…”, sambil terus memompa penisnya sampasyqbui akhirnya amblas sepenuhnya, terasa menyodok bagian terdalam dari vaginaku, munnravgkin itu rahimku. Aku hanya bisa mengerang tanpa berani menggeliat, walaupun akuijnb merasakan sakit yang bercampur nikmat.

Mulutku ternganga, kedua tanganku mencjsiqgengkeram sprei berusaha mencari sesuatu yang bisa kupegang, sementara kakiku teroxlasa mengejang tapi kutahan. Aku benar benar tak berani banyak bergerak dengan peomscnis raksasa yang sedang menancap begitu dalam di vaginaku.

Dan setelah diam ujtwyntuk memberiku kesempatan beradaptasi, akhirnya Girno memulai pompaanya. Aku menhqeugerang dan mengerang, mengikuti irama pompaan si Girno. Dan erangangku kembali tdrertahan ketika kali ini dengan gemas Urip memasukkan penisnya ke dalam mulutku yvjxmang sedang ternganga ini. Aku gelagapan, dan Urip berkata “Isep non. Awas, jangacdxzn digigit ya!” Aku hanya pasrah, dan mulai mengulum penis yang baunya tidak enakxn ini, tapi lama kelamaan aku jadi terbiasa juga dengan bau itu. Penis itu panjanesyug juga, tapi diameternya tak terlalu besar disbanding dengan penisnya Girno. Tapndfui mulutku terasa penuh, dan ketika aku mengulum ngulum penis itu, Urip memompa pxmbenisnya dalam mulutku, sampai berulang kali melesak ke dalam tenggorokanku. Aku hflbrberusaha supaya tidak muntah, meskupun berulang kali aku tersedak. Selagi aku bejmpbyjruang beradaptasi terhadap sodokan penis si Urip ini, Soleh meraih tangan kanantbzcku, menggengamkan tanganku ke penisnya.

“Non, ayo dikocok!”, perintahnya. Penixobs itu tak hampir tak muat di genggaman telapak tanganku yang mungil, dan aku taksrw sempat memperhatikan seberapa panjang penis itu, walaupun dari kocokan tangankuxi, aku sadar penis itu panjang. Aku menuruti semuanya dengan pasrah, ketika tiba vstiba pintu terbuka, dan pak Edy, guru wali kelasku masuk, dan semua yang mengeruzerfbutiku menghentikan aktivitasnya, tentu saja penis Girno masih tetap bersemayam etmxkdalam vaginaku.

Melihat semuanya ini, pak Edy membentak, “Apa apaan ini? Apa sdlyang kalian lakukan pada Eliza?”. Aku merasa ada harapan, segera melepaskan kuluwrayimanku pada penis Urip, dan sedikit berteriak “Pak Edy, tolong saya pak. Lepaskanepxq saya dari mereka”. Pak Edy seolah tak mendengarku, dan berkata pada Girno, “Kalznuyian ini.. ada pesta kok tidak ngajak saya? Untung saya mau mencari bon pembeliankoiht kotak P3K tadi. Kalo begini sih, itu bon gak ketemu juga tidak apa apa… hahahvoipa…”. Aku yang sempat kembali merasa ada harapan untuk keluar dari acara gangbavxng ini, dengan kesal melanjutkan kocokan tanganku pada penis Soleh juga kulumankkquzyu pada penis Urip. Memang aku harus mengakui, aku menikmati perlakuan mereka, tauwpi kalau bisa aku juga ingin semua ini berakhir.

Setelah sadar bahwa pak Edy juigwdtga sebejat mereka, semuanya tertawa lega, dan sambil mulai melanjutkan pompaan pumckrenisnya pada vaginaku, Girno berkata, “Pak Edy tenang saja, masih kebagian kok. dnvzItu tangan kiri non Eliza masih nganggur, kan bisa buat ngocok punya pak Edy dulwrdfu. Tapi kalo soal memeknya, ngantri yo pak. Abisnya, salome sih”.

Pak Edy tertazquwa.

“Yah gak masalah lah. Ini kan malam minggu, pulang malam juga wajar kan?” nyjkatanya mengiyakan sambil melepas pakaiannya dan ternyata (untungnya) penisnya tpednzidak terlalu besar, bahkan ternyata paling pendek di antara mereka.

Tapi aku avsudah tak perduli lagi. Vaginaku yang serasa diaduk aduk mengantarku orgasme yanlsg ke tiga kalinya.

“Aaaaagh.. paaak… sayaaa… keluaaaar….”, erangku yang sexowtanpa sadar mulai menggenggam penis pak Edy yang disodorkan di dekat tangan kirirxgitku yang memang menganggur.

Pinggangku terangkat sedikit ke atas, kembali tubuhksbeolu terlonjakufl

Ludah Urip yang bercampur dengan air liurku di penis Urip yang baru kukulum tadi, tak membantu sama sekalihc. Rasa pedih yang menjadi jadi mendera anusku, dan aku kembali mengerang panjang.

“Aaaaaaaaaaaaagh… sakgqiiiit”, erangku tanpa daya ketika akhirnya penis itu amblas seluruhnya dalam anusku. Selagi aku mengerang frhdan mulutku ternganga,

Soleh mengambil kesempatan itu untuk membenanmkan penisnya dalam mulutku, hingga erfgcianganku teredam. Sial, ternyata penis Soleh ini agak mirip punya Urip yang sedang menyodomiku, begitu panjrnqbang, walaupun diameternya tidak terlalu besar. Tapi penis itu cukup panjang untuk menyodok nyodok tenggorokhvfpkanku. Kini tubuhku benar benar bukan milikku lagi. Urip mulai memompa anusku. Setiap ia mendorongkan penihezbsnya, penis Soleh menancap semakin dalam ke tenggorokanku, sementara penis Girno sedikit tertarik keluar, sjniqtapi sebaliknya, saat Urip memundurkan penisnya, penis Soleh juga sedikit tertarik keluar dari kerongkonganeaywnku, tapi akibatnya tubuhku yang turun membuat penis Girno kembali menancap dalam dalam di vaginaku, ditamyvnaubah lagi Girno sedikit menambah tenaga tusukannnya, membuat aku benar benar melayang dalam kenikmatan. Haneqwya 2 menit dalam posisi ini, aku sudah orgasme hebat, namun aku hanya bisa pasrah. Tubuhku hanya bisa bergwrketar, aku tak bisa bergerak banyak karena semuanya seolah olah terkunci. Dalam keadaan orgasme, mereka tanqbkfspa ampun terus bergantian memompaku, membuat orgasmeku tak kunjung reda bahkan akhirnya aku mengalami multgwaoi orgasme!

Tanpa terkendali lagi, aku mengejang hebat susul menyusul, dan cairan cintaku keluar berulang qigjulang, sangat banyak mengiringi multi orgasmeku yang sampai lebih dari 3 menit. namun semua cairan cintakuit yang aku yakin sudah bercampur darah perawanku tak bisa mengalir keluar, terhambat oleh penis Girno.

Tanrfiztganku yang menumpu pada genggaman tangan Girno bergetar getar. Sementara Soleh membelai rambutku dan Urip hymeremas remas payudaraku dari belakang. Sungguh, aku tak kuasa menyangkal. Kenikmatan yang aku alami sekarkhxeang ini benar benar dahsyat, belum pernah sebelumnya aku merasakan yang seperti ini.

Aku memang pernah berfgxmasturbasi, namun yang ini benar benar membuatku melayang. Mereka terus menggenjot tubuhku. Desahan yang tmuwqerdengar hanya desahan mereka, karena aku tak mampu mengeluarkan suara selama penis Soleh mengorek ngorek cdtenggorokanku. Entah sudah berapa kali aku mengalami orgasme, sampai akhirnya, “Hegh.. hu… huoooooooh..”ljva, Girno melenguh, penisnya berkedut, kemudian spermanya yang hangat menyemprot berulang ulang dalam liang aovvaginaku, diiringi dengan keluarnya cairan cintaku untuk yang ke sekian kalinya. Akhirnya Girno orgasme juuorxga bersamaan denganku, dan penisnya sedikit melembek, dan terus melembek sampai akhirnya cukup untuk membudihreat cairan merah muda meluber keluar dengan deras dari sela sela mulut vaginaku, yang merupakan campuran daxaokrah perawanku, cairan cintaku dan sperma Girno.

“Oh.. enake rek, memek amoy seng sek perawan…”, kata Gicwgrno, yang tampak amat puas. Nafasku sudah tersengal sengal. Untungnya, Urip dan Soleh cukup pengertian. Urrzjxip mencabut penisnya dari anusku, dan Soleh tak memaksaku mengulum penisnya yang terlepas ketika aku yang ruxytsudah begitu lemas karena kelelahan, ambruk menindih Girno yang masih belum juga melepaskan penisnya yang kjbmasih terasa begitu besar untukku. Kini aku mulai sadar dari gairah nafsu birahi yang menghantamku selamarvkb hampir satu jam ini. Namun aku tidak menangis.

Tak ada keinginan untuk itu, karena sejujurnya aku tadi aoamat menikmati perlakuan mereka, bahkan gilanya, aku menginginkan diriku digangbang lagi seperti tadi. Apalpexobagi mereka cukup lembut dan pengertian, tidak sekasar yang aku bayangkan.

Mereka benar benar menepati janjbpzi untuk tidak melukaiku dan menyakitiku seperti menampar ataupun menjambak rambutku. Bahkan Girno memelukkmhwlu dan membelai rambutku dengan mesra dan penuh kasih saying, setidaknya menurut perasaanku, sehingga memburenvatku semakin pasrah dan hanyut dalam pelukannya. Apalagi yang lain kembali mengerubutiku, membelai sekujurajvkq tubuhku seolah ingin menikmati tiap senti kulit tubuhku yang putih mulis ini. Entah kenapa aku merasa akukhmw rela

melayani mereka berenam ini untuk seterusnya, membuatku terkejut dalam hati.

“Hah? Apa yang baru satqoyja aku pikirkan? Aku ini kan diperkosa, kok aku malah berpikir seperti itu?”, pikirku dalam hati.

Lamunanovhqfku terputus saat Girno mengangkat tubuhku hingga penisnya yang sudah mengecil terlepas dari vaginaku.

“Nohwgqbn, kita lanjutin ya”, kata Soleh yang sudah tiduran di bawahku yang sedikit mengkangkang. Aku hanya menuruldevkt saja dan mengarahkan vaginaku ke penisnya yang tegak mengacung. Aku memegang dan membimbing penis itu uxvplntuk menembus vaginaku yang sudah tidak perawan lagi ini.

“Ooh… aaah….”, erang Soleh ketika penisnya mugmulai melesak ke dalam vaginaku. Lebih mudah dari punya Girno tadi, karena diameter penis si Soleh memang ubhlebih kecil. Namun tetap saja, panjangnya membuat aku sedikit banyak kelabakan.

“Ooh.. aduuuuh…”, erangyqarjku panjang seiring makin menancapnya penis Soleh hingga amblas sepenuhnya dalam vaginaku. Penisnya terasa etohangat, lebih hangat dari punya si Girno yang kini duduk di kursi tengah ruang ini sambil merokok. Mereka rjwumemberiku kesempatan untuk bernafas sejenak, kemudian Urip mendorongku hingga aku kembali telungkup, kali wtcini menindih Soleh yang langsung mengambil kesempatan itu untuk melumat bibirku. Baru aku sadar, Soleh inihbgq pasti tinggi sekali. Dan rupanya si Urip belum puas dan ingin melanjutkan anal seks denganku. Kembali akuvcl disandwich seperti tadi. Namun kali ini aku lebih siap.

Aku melebarkan kakiku hingga semakin mengkangkantlpg seperti kodok, dan… perlahan tapi pasti, anusku kembali ditembus penis Urip yang

amat keras ini, membucdat bagian bawah tubuhku kembali terasa sesak. Walaupun memang tidak sesesak tadi, namun cukup untuk membuaiogftku merintih mengerang antara pedih dan nikmat.

Kini Hadi dan Yoyok ikut mengepungku. Mereka masing masinpmg memegang tangan kiri dan kananku, mengarahkanku untuk menggenggam penis mereka dan mengocoknya. Selagi aztku mulai mengocok dua buah penis itu, wali kelasku yang ternyata bejat ini mengambil posisi di depanku, meslcmintaku mengoral penisnya.

“Dioral sekalian El, daripada nganggur nih”, katanya dengan senyum yang memuakkzhxan. Tapi aku terpaksa menurutinya daripada nanti ia berbuat atau mengancam yang macam macam. Kubuka mulutkxuefru walaupun dengan setengah hati, membiarkan penis pak Edy yang berukuran kecil ini masuk dalam kulumanku. hyxJadi kini aku digempur 5 orang sekaligus, yang mana justru membuat gairahku naik tak karuan. Apalagi Solehxlqsd dan Urip makin bersemangat menggenjot selangkanganku, benar benar dengan cepat membawaku orgasme lagi.

“Ejpieeeeemmmmph….”, erangku keenakan. Tubuhku mengejang, dan kurasakan cairan cintaku keluar, melumasi vaginlisaku yang terus dipompa Soleh yang juga merem

melek keenakan. Tiba tiba penis pak Edy berkedut dalam mulutkduklju, dan tanpa ampun spermanya muncrat membasahi kerongkonganku. Baru kali ini aku merasakan sperma dalam munipqlutku, rasanya aneh, asin dan asam.

Mungkin karena sudah beberapa kali melihat film bokep, tanpa disuruh craku sudah tahu tugasku. Kubersihkan penis pak Edy dengan kukulum, kujilati, dan kusedot sedot sampai tidakvqfu ada sperma yang tertinggal di penis yang kecil itu.

Soleh mengejek pak Edy, “Lho pak, kok sudah keluar? dixhMasa kalah sama sepongannya non Eliza? Bagaimana nanti sama memeknya? Seret banget lho pak”, kata Soleh, ydtorang disambung tawa yang lain.

Pak Edy terlihat tersenyum malu, dan tak berkata apa apa, hanya duduk di seycbelah si Girno. Aku tertawa dalam hati, namun ada bagusnya juga, kini tugasku menjadi sedikit lebih ringanncj. Hadi yang juga ingin merasakan penisnya kuoral, pindah posisi ke depanku, dan mengarahkan penisnya ke muiptlutku. Aku mengulum penis itu tanpa penolakan, dan kocokan tangan kananku pada penis Yoyok kupercepat, menpoayzgimbangi cepatnya sodokan demi sodokan penis Soleh dan Urip yang semakin gencar menghajar vagina dan anuskwmu. Urip tiba tiba mendengus dengus dan melolong panjang

“Oooouuuuggghh…”, seiring berkedutnya penisnya dyzqflalam anusku, dan menyemprotkan maninya berulang ulang. Terasa hangat sekali anusku di bagian terdalam. Kinmvii aku tinggal melayani 3 orang saja, namun entah aku sudah orgasme berapa kali. Aku amat lelah untuk menghdxitungnya. Dan Yoyok menggantikan Urip membobol anusku. Baru aku sadar, dari genggaman tanganku tadi pada pczenis Yoyok, aku tahu penis Yoyok tidak panjang, tapi… diameternya itu… rasanya seimbang dengan punya siwnaoi Girno.

Oh celaka… penis itu akan segera menghajar anusku.

“ooooh… oooooogh… sakiiiit…”, erangkutfsm ketika Yoyok memaksakan penisnya sampai akhirnya masuk. Namun seperti yang tadi tadi, rasa sakit yang menqsglderaku hanya berlangsung sebentar, dan berganti rasa nikmat luar biasa yang tak bisa dilukiskan dengan kataba kata. Aku semakin tersengat birahi ketika Soleh yang ada di bawahku meremas remas payudaraku yang tergansiheqtung di depan matanya, sementara Hadi menekan nekankan kepalaku untuk lebih melesakkan penisnya ke kerongkgwvfqonganku. Di sini aku juga sadar, ternyata penis si Hadi ini setipe dengan punya Urip atau Soleh.

Dengan pormgeasrah aku terus melayani mereka satu per satu sampai akhirnya mereka orgasme bersamaan. Dimulai dari kedutwgan penis Soleh dalam vaginaku, tapi tiba tiba penis Hadi berkedut lebih keras dan langsung menyemburkan spabermanya yang amat banyak dalam rongga mulutku. Aku gelagapan dan nyaris tersedak, namun aku usahakan semuaobnya tertelan masuk dalam kerongkonganku. Selagi aku berusaha menelan semuanya, tiba tiba dari belakang Yoyovhjok menggeram, penisnya juga berkedut, kemudian menyemprotkan sperma berulang ulang dalam anusku, diikuti Svwlrjoleh yang menghunjamkan penisnya dalam dalam sambil berteriak penuh kenikmatan.

“Oooooohh… aaaaaaargh”, uvrnseolah tak mau kalah, aku juga mengerang panjang. Bersamaan dengan berulang kali menyemprotnya sperma Solezeih di dalam vaginaku, aku juga mengalami orgasme hebat. Hadi jatuh terduduk lemas setelah penisnya kubersihiwnkan tuntas seperti punya pak Edy tadi.

Lalu Soleh yang penisnya masih menancap di dalam vaginaku memeluk dqskvian lembali melumat bibirku dengan ganas, sampai aku tersengal sengal kehabisan nafas. Yoyok yang penisnya pdtak terlalu panjang hingga sudah terlepas dari anusku, juga duduk bersandar di dinding. Kini tinggal aku dixan Soleh yang ada di atas ranjang, dan kami bergumul dengan panas. Soleh membalik posisi kami hingga aku tukmhaelentang di ranjang ditindihnya, dan penisnya tetap masih menancap dalam vaginaku meskipun mulai lembek, mzjsequngkin dikarenakan penis Soleh yang panjang. Tanpa sadar, kakiku melingkari pinggangnya Soleh, seakan tak fantingin penisnya

terlepas, dan aku balas melumat bibir si Soleh ini.dmbg

Pergumulan kami yang panas, menyebabkan Girno terbakar birahi. Tenaganya yang sudah pulih seolah ditandai dengan mengacobtldungnya penisnya, yang tadi sudah berejakulasi. Namun ia dengan sabar membiarkan aku dan Soleh yang bergumul dengan penuhah nafsu. Namun penis Soleh yang semakin mengecil itu akhirnya tidak lagi tertahan erat dalam vaginaku, dan Soleh pun taqkaompaknya tahu diri untuk memberikanku kepada yang lain yang sudah siap kembali untuk menggenjotku. Girno

segera menyergapmap dan menindihku, tanpa memberiku kesempatan bernafas, dengan penuh nafsu Girno segera menjejalkan penisnya yang amat bsaresar itu ke dalam vaginaku. Aku terbeliak, merasakan kembali sesaknya vaginaku.

Girno yang sudah terbakar nafsu ini mupalai memompa vaginaku dengan ganas, membuat tubuhku kembali bergetar getar sementara aku mendesah dan merintih merasakanemrb nikmat berkepanjangan ini. Gilanya, aku mulai berani mencoba lebih merangsang Girno dengan pura pura ingin menahan sodtwmzokan penisnya dengan cara menahan bagian bawah tubuhnya. Benar saja, dengan tatapan garang ia mencengkram kedua pergelakhprngan

tanganku dan menelentangkannya, membuatku tak berdaya. Dan sodokan yang menghajar vaginaku terasa semakin keras. Agnreku menatap Girno dengan pandangan sayu memelas untuk lebih merangsangnya lagi, dan berhasil. Dengan nafas memburu, Girndkvbo melumat bibirku sambil terus memompa vaginaku. Kini aku yang gelagapan. Orgasme yang menderaku membuat tubuhku bergetpoar hebat, tapi aku tak berdaya melepaskannya karena seluruh gerakan tubuhku terkunci, hingga akhirnya Girno

menggeram nobggeram, semprotan sperma yang cukup banyak kembali membasahi liang vaginaku.

Girno melepaskan cengkramannya pada keduatkud pergelangan tanganku, namun aku sudah terlalu lelah dan lemas untuk menggerakkannya. Ia turun dari ranjang, setelah mezixlumat bibirku dengan ganas, lalu memberi kesempatan pada pak Edy yang sudah ereksi kembali. Kali ini, ia terlihat lebihzui gembira, karena mendapatkan jatah liang vaginaku, yang kelihatannya sudah ditunggunya sejak tadi. Dengan tersenyum sencgbxang, yang bagiku memuakkan, ia mulai menggesekkan kepala penisnya ke vaginaku yang sudah banjir cairan sperma bercampurci cairan cintaku. Tanpa kesulitan yang berarti, ia sudah melesakkan penisnya seluruhnya. Aku sedikit mendesah ketika ia hnosmulai memompa vaginaku. Namun lagi lagi seperti tadi, belum ada 3 menit, pak Edy sudah mulai menggeram, kemudian tanpa npemampu menahan lagi ia menyemprotkan spermanya ke dalam liang vaginaku.

Yang lain kembali tertawa, sedangkan aku yang bkgqyelum terpuaskan dalam “sesi” ini, memandang yang lain, terutama Hadi yang belum sempat merasakan selangkanganku. Hadi yfxdang seolah mengerti, segera mendekatiku. Terlebih dulu ia mencium bibirku dengan dimesra mesrakan, membuatku sedikit geuiljli namun cukup terangsang juga. Tak lama kemudian, Hadi sudah siap dengan kepala penis yang menempel di vaginaku, lalu nxwjsmulai melesakkan penisnya dalam dalam. Ia terlihat menikmati hal ini, sementara aku sedikit mengejang menahan sakit karubyrcena Hadi cukup terburu buru dalam proses penetrasi ini. Selagi kami dalam proses menyatu, yang lain sedang mengejek pakdu Edy yang terlalu cepat keluar. Ingin aku menambahkan, penisnya agak sedikit lembek. Tapi aku menahan diri dan diam sajhnqa, karena aku tak ingin terlihat murahan di depan mereka.

Hadi mulai memompa vaginaku. Rasa nikmat kembali menjalari typhubuhku. Pinggangku bergerak gerak dan pantatku sedikit terangkat, seolah menggambarkan aku yang sedang mencari kenikmatpmeuwan. Selagi aku dan Hadi sudah mulai menemukan ritme yang pas, aku melihat yang lain yaitu Yoyok dan Urip akan pergi ke kpwc, katanya untuk mencuci penis mereka yang tadi sempat terbenam dalam anusku.

Sambil keluar Urip berkata, “nanti kasinmeojhan non Eliza, kalo memeknya yang bersih jadi kotor kalo kontolku tidak aku cuci”.

“Iya, juga, kan kasihan, amoy cakep twlpgcakep gini harus ngemut kontol yang kotor seperti ini”, sambung Yoyok.

Oh… ternyata mereka begitu pengertian padaku.ljs Aku jadi semakin senang, dan menyerahkan tubuhku ini seutuhnya pada mereka. Kulayani Hadi dengan sepenuh hati, setiap fmuvtusukan penisnya kusambut dengan menaikkan pantatku hingga penis itu bersarang semakin dalam. Tanpa ampun lagi, tak 5 mrpenit kemudian aku orgasme disusul Hadi yang menembakkan spermanya dalam liang vaginaku, bersamaan dengan kembalinya Yoyakynok dan Urip. Namun mereka berdua ini tak langsung menggarapku. Setelah Hadi kembali terduduk lemas di bawah, mereka beragiqxdua mengerubutiku, tapi hanya membelai sekujur tubuhku, memberiku kesempatan untuk beristirahat setelah orgasme barusanbsng. Mereka berdua menyusu pada payudaraku, sambil meremas kecil, membuatku mendesah tak karuan. Kini jam sudah menunjukkalzen pukul 21:00 malam. Tak terasa sudah satu jam aku melayani mereka semua.

Dalam keadaan lelah, aku minta waktu sebentaryhr pada Urip dan Yoyok untuk minum. Keringat yang mengucur deras sejak tadi membuatku haus.

“Sebentar bapak bapak, sayajov mau minum dulu ya”, kataku.

Kebetulan di tasku ada sekitar setengah botol air Aqua, sisa minuman yang tadi sore, tapizk aku langsung teringat, minuman itu dicampur obat cuci perut yang mengantarku ke horor di ruang UKS ini.

“Pak Girno. Itjuclu air sudah bapak campurin obat cuci perut kan? Tolong pak, belikan saya minuman dulu. Tapi jangan dicampurin apa apa lryiagi ya pak”, kataku sambil akan turun dari ranjang untuk mencari uang dalam dompet yang ada di dalam tas sekolahku.

Tazupgypi Girno berkata, “Gak usah non. Saya belikan saja”.

Girno pergi ke wc sebentar untuk mencuci penisnya, kemudian kembalokcxbi dan mengenakan celana dalam dan celana panjangnya saja. Lalu ia keluar untuk membeli air minum untukku. Sambil menungjeitsgu, yang lain menggodaku, merayuku betapa cantiknya aku, betapa putih mulusnya kulit tiubuhku yang indah dan sebagainyatjg. Aku hanya tersenyum kecil menanggapi itu semua. Tak lama kemudian, Girno kembali sambil membawa sebotol Aqua, yang sevogelnya sudah terbuka. Aku menatapnya curiga, dan bertanya dengan ketus.

“Pak, masa bapak tega mencampuri air minum ini mvzflagi? Nanti kan saya mulas mulas lagi?”.

Girno dengan tersenyum menjawab, “nggak non. Masa lagi enak enak gini saya pintawngin non bolak balik ke WC lagi. Ini cuma supaya non Eliza gak terlalu capek. Buat tambah tenaga non”.

Yah.. pokoknya yklhfbukan obat cuci perut, aku akhirnya meminumnya sampai setengahnya, karena aku sudah semakin kehausan. Tak lupa aku mengohsjgambil botol sisa air minum yang tadi di dalam tasku, dan membuangnya ke tong sampah.

Kemudian aku kembali ke ranjang, wsemenuntaskan tugasku melayani Urip dan Yoyok. Tiba tiba aku merasa aneh, tubuhku terasa panas terutama wajahku, keringatrgax kembali bercucuran di sekujur tubuhku. Padahal mereka belum menyentuhku. Aku langsung mengerti, ini pasti ada obat perpaknmangsang yang dicampurkan dalam minuman tadi. Sialan deh, aku kini semakin terperangkap dalam cengkeraman mereka. Urip dmzxan Yoyok bergantian memompa vagina dan mulutku. Awalnya Urip melesakkan

penisnya dalam vaginaku, sementara Yoyok meminttmanwaku mengoral penisnya.

Karena obat perangsang itu, sebentar sebentar aku mengalami orgasme, dan tiap aku orgasme merekaor bertukar posisi. Rasa sperma dari banyak orang, bercampur cairan cintaku kurasakan ketika mengoral penis mereka, dan mnmembuatku semakin bergairah. Mereka akhirnya berorgasme bersamaan, Yoyok di vaginaku dan Urip di tenggorokanku. Sedangkahen aku sendiri sampai pada titik dimana aku kembali mengalami multi orgasme.

Ada 3 sampai 4 menit lamanya, tubuhku terlshonjak lonjak hingga pantatku terangkat angkat, kakiku melejang lejang sementara tanganku menggengam sprei yang sudah seiypbsmakin basah dan awut awutan. Aku melenguh panjang, kemudian roboh telentang pasrah, dalam keadaan masih terbakar nafsu lrxbirahi, tapi kelelahan dan nafasku yang tersengal sengal membuatku hanya bisa memejamkan mata menikmati sisa getaran pahfbkda sekujur tubuhku. Kemudian bergantian mereka terus menikmati tubuhku. Aku sudah setengah tak sadar kerena terbakar nagmfsu birahi yang amat hebat, melayani dan melayani mereka semua tanpa bisa mengontrol diriku.

Akhirnya mereka sudah selkaesai menikmati tubuhku ketika jam menunjukan pukul 21:45. Mereka membiarkanku istirahat hingga staminaku sedikit pulih.nowg Aku bangkit berdiri lalu melap tubuhku yang basah kuyup oleh keringat dengan handuk dan membersihkan selangkangan dan lyamcpahaku yang belepotan sperma. Dan dengan nakal Girno melesakkan roti hot dog ke dalam vaginaku. Aku mendesah dan memanduphgangnya penuh tanda tanya, tapi Girno hanya tertawa sambil memakaikan celana dalamku, hingga roti itu semakin tertekan oowzsileh celana dalamku yang cukup ketat. Aku melenguh nikmat, dan mereka berebut memakaikan braku. Tanganku direntangkan, dsjdan mereka menutup kedua payudaraku dengan cup bra-ku, memasang kaitannya di belakang punggungku. Lalu setelah memakaikaekwmfn seragam sekolah dan rokku, mereka melingkariku yang duduk di atas ranjang dan sedang mengenakan kaus kaki dan sepatu xdfsekolahku. Kemudian aku menatap mereka semua, siap mendengarkan ancaman kalo tidak boleh bilang siapa siapa lah.. ah, kcdyvalo itu sih nggak usah mereka mengancam, memangnya aku sampai tak punya malu sehingga menceritakan bagaimana aku yang akzoesalnya diperkosa kemudian melayani mereka sepenuh hati seperti yang tadi aku lakukan?? Dan tentang kalo mereka ingin meplmperkosaku lagi di lain waktu, aku juga sudah pasrah.

“Non Eliza, kami puas dengan pelayanan non barusan. Tapi tentu skhxwaja kami masih menginginkan non melayani kami untuk berikut berikutnya”, kata Girno.

Aku tak terlalu terkejut mendengaraouyr hal ini, tapi aku berpura pura tidak mengerti dan bertanya, “maksud bapak?”

“Non tentu sudah mengerti, kami masih ingpxinkan servis non di lain hari. Kebetulan, minggu depan hari kamis tu kan hari terima rapor semester 3. Dua hari sebelumxmg hari Natal. Tanggal 24 kan libur, kami ingin non Eliza datang ke sini jam 7 malam untuk melayani kami lagi. Seperti haubrpri ini, non cukup melayani kami 2 jam saja. Soal pertemuan berikutnya, kita bisa atur lagi nanti tanggal 24 itu. Non haptrus datang, karena kalo tidak wali kelas non bisa memberikan sanksi tegas. Iya kan pak Edy?” jelas Girno panjang lebar.ts

Pak Edy mengiyakan dan berkata, “benar Eliza. Saya bisa membuatmu tidak naik kelas, dengan alasan yang bisa saya carieqbta cari. Jadi sebaiknya kamu jangan macam

macam, apalagi sampai melaporkan hal ini ke orang lain. Lagipula, saya yakin kapqfmmu cukup cerdas untuk tidak melakukan hal bodoh seperti itu”.

Mendengar semuanya ini, aku hanya bisa mengangguk pasrah.ryuik

Oh Tuhan… di malam Natal minggu depan, aku harus bermain sex dengan enam laki laki yang ada di sekitarku ini… Danps aku tak bisa menolak sama sekali… Setelah semua beres, aku diijinkan pulang. Dalam keadaan loyo, aku berjalan tertatxlkfih tatih ke mobilku, selain sakit yang mendera selangkanganku akibat baru saja diperawani dan disetubuhi ramai ramai, retoti yang menancap pada vaginaku sekarang ini membuat aku tak bisa berjalan dengan normal dan lancar. Untungnya tak ada tpbyang melihatku dan menghadangku, akhirnya aku sampai ke dalam mobil, dan menyetir sampai ke rumah dengan selamat.

Samppkeuai di rumah, sekitar pukul 22:30, aku memencet remote pintu pagar untuk membuka, lalu aku memasukkan mobilku halaman ruoeimah. Setelah memencet remote untuk menutup pintu pagar, aku masuk ke dalam rumah, langsung menuju kamarku. Di sana aku hstbuka semua bajuku, lalu pergi ke kamar mandi yang ada di dalam kamarku, mencabut roti yang sudah sedikit hancur terkenarf campuran sperma dan cairan cintaku. Aku menyemprotkan air shower ke vaginaku untuk membersihkan sisa roti yang tertingzrefwgal di dalamnya, sambil sedikit mengorek ngorek vaginaku untuk lebih cepat membersihkan semuanya. Rasa nikmat kembali mgbcenjalari tubuhku, namun aku tahu aku harus segera beristirahat. Maka aku segera mandi keramas sebersih bersihnya, kemudmjkian setelah mengeringkan tubuhku aku memakai daster tidur satin yang nyaman, dan merebahkan tubuhku yang sudah amat kelhnfelahan ini di ranjangku yang empuk. Tak lama kemudian aku sudah tertidur pulas, setelah berhasil mengusir bayangan wajaksfh puas orang orang yang tadi menggangbang aku.

TAMAT

Tags : Cerita 18sx,cerita seks, cerita daun muda, gadis bandung, video bugil, cerita sexs, tante,indonesian artis, artis cina, agnes bugil, artis sma, indonesian bugil, cina bugil, photo bugil, artis cantik, indo artis, mahasiswi bugil, mandi bugil, bugil telanjang, putri bugil, cantik bugil, asia bugil, sma bugil, abg bugil, bugil ayu azhari, pria bugil, smp bugil, artis wanita

1 komentar 26 Mei 2010

Cerita 18sx – Daun-daun Muda

Hai, para penikmat cerita dewasa, kenalkan nama saya Andra (nggak nama sebenarnya). Umur 24 tahun dan sekarang lagi kuliah di sebuah PTS di Kediri. Aku termasuk cowok yang populer di kampus (sekeren namaku). Tapi aku punya kelemahan, saat ini aku udah nggak perjaka lagi (emang sekarang udah nggak jamannya keperjakaan diutamakan). Nah, hilangnya perjakaku ini yang pengin aku ceritakan.

Aku punya banyak cewek. Diantaranya banyak cewek itu yang paling aku sukai adalah Rere. Tapi dalam kisah ini bukan Rere tokoh utamanya. sebab hilangnya perjakaku nggak ada sangkut pautnya sama Rere. Malah waktu itu aku aku lagi marahan sama doski.

Waktu itu aku nganggap Rere nggak bener-bener sayang sama aku. Aku lagi jutek banget sama dia. Habisnya udah lima bulan pacaran, masak Rere hanya ngasih sun pipi doang. Ceritanya pas aku ngapel ke tempat kostnya, aku ngajakin dia ML. Habis aku pengin banget sih. (keseringan mantengin VCD parto kali yee..). Tapi si Rere menolak mentah-mentah. Malahan aku diceramahin, busyet dah!

Makanya malam minggu itu aku nggak ngapel (ceritanya ngambek). Aku cuman duduk-duduk sambil gitaran di teras kamar kostku. Semua teman kostku pada ngapel atau entah nglayap kemana. Rumah induk yang kebetulan bersebelahan dengan rumah kost agak sepi. Sebab sejak tadi sore ibu kost dan bapak pergi ke kondangan. Putri tertua mereka, Murni sudah dijemput pacarnya sejam yang lalu. Sedang Maidy, adiknya Murni entah nglayap kemana. Yang ada tinggal Maya, si bungsu dan Ersa, sepupunya yang kebetulan lagi berkunjung ke rumah oomnya. Terdengar irama lagu India dari dalam rumah induk, pasti mereka lagi asyik menonton Gala Bollywood.

Nggak tahu, entah karena suaraku merdu atau mungkin karena suaraku fals plus berisik, Maya datang menghampiriku.

“Lagi nggak ngapel nih, Mas Andra?” sapanya ramah (perlu diketahui kalau Maya memang orangnya ramah banget)

“Ngapel sama siapa, May?” jawabku sambil terus memainkan Sialannya Cokelat.

“Ah.. Mas Andra ini pura-pura lupa sama pacarnya.”

Gadis itu duduk di sampingku (ketika dia duduk sebagian paha mulusnya terlihat sebab Maya cuman pakai kulot sebatas lutut). Aku cuman tersenyum kecut.

“Udah putus aku sama dia.” jawabku kemudian.

Nggak tahu deh, tapi aku menangkap ada yang aneh dari gelagat Maya. Gadis 14 tahun itu nampaknya senang mendengar aku putus. Tapi dia berusaha menutup-nutupinya.

“Yah, kacian deh.. habis putus sama pacar ya?” godanya. “Kayaknya bete banget lagunya.”

Aku menghentikan petikan gitarku.

“Yah, gimana ya.. kayaknya aku lebih suka sama Maya deh ketimbang sama dia.”

Nah lo! Kentara benar perubahan wajahnya. Gadis berkulit langsep agak gelap itu merah mukanya. aku segera berpikir, apa bener ya gosip yang beredar di tempat kost ini kalo si Maya ada mau sama aku.

“May, kok diam aja? Malu yah..”

Maya melirik ke arahku dengan manja. Tiba-tiba saja batinku ngrasani, gadis yang duduk di sampingku ini manis juga yah. Masih duduk di kelas dua smp tapi kok perawakannya udah kayak anak sma aja. Tinggi langsing semampai, bodinya bibit-bibit peragawati, payudaranya.. waduh kok besar juga ya. Tiba-tiba saja jantungku berdebar memandangi tubuh Maya yang cuman pakai kaos ketat tanpa lengan itu. Belahan dadanya sedikit tampak diantara kancing-kancing manisnya. Ih, ereksiku naik waktu melirik pahanya yang makin kelihatan. Kulit paha itu ditumbuhi bulu-bulu halus tapi cukup lebat seukuran cewek.

“Mas, daripada nganggur gimana kalo Mas Andra bantu aku ngerjain peer bahasa inggris?”

“Yah Maya, malam minggu kok ngerjain peer? Mendingan pacaran sama Mas Andra, iya nggak?” pancingku.

“Ah, Mas Andra ini bisa aja godain Maya..”

Maya mencubit pahaku sekilas. Siir.. Wuih, kok rasanya begini. Gimana nih, aku kok kayak-kayak nafsu sama ini bocah. Waduh, penisku kok bangun yah?

“Mau nggak Mas, tolongin Maya?”

“Ada upahnya nggak?”

“Iiih, dimintai tolong kok minta upah sih..”

Cubitan kecil Maya kembali memburu di pahaku. Siir.. kok malah tambah merinding begini ya?

“Kalau diupah sun sih Mas Andra mau loh.” pancingku sekali lagi.

“Aah.. Mas Andra nakal deh..”

Sekali lagi Maya mencubit pahaku. Kali ini aku menahan tangan Maya biar tetap di pahaku. Busyet, gadis itu nggak nolak loh. Dia cuman diam sambil menahan malu.

“Ya udah, Maya ambil bukunya trus ngerjain peernya di kamar Mas Andra aja. Nanti tak bantu ngerjain peer, tak kasih bonus pelajaran pacaran mau?”

Gadis itu cuman senyum saja kemudian masuk rumah induk. Asyik.. pasti deh dia mau. Benar saja, nggak sampai dua menit aku sudah bisa menggiringnya ke kamar kostku.

Kami terpaksa duduk di ranjang yang cuman satu-satunya di kamar itu. Pintu sudah aku tutup, tapi nggak aku kunci. Aku sengaja nggak segera membantunya ngerjain peer, aku ajak aja dia ngobrol.

“Sudah bilang sama Ersa kalo kamu kemari?”

“Iya sudah, aku bilang ke tempat Mas Andra.”

“Trus si Ersa gimana? Nggak marah?”

“Ya enggak, ngapain marah.”

“Sendirian dong dia?”

“Mas Andra kok nanyain Ersa mulu sih? Sukanya sama Ersa ya?” ujar Maya merajuk.

“Yee.. Maya marah. Cemburu ya?”

Maya merengut, tapi sebentar sudah tidak lagi. Dibuka-bukanya buku yang dia bawa dari rumah induk.

“Maya udah punya pacar belum?”tanyaku memancing.

“Belum tuh.”

“Pacaran juga belum pernah?”

“Katanya Mas Andra mau ngajarin Maya pacaran.” balas Maya.

“Maya bener mau?” Gayung bersambut nih, pikirku.

“Pacaran itu dasarnya harus ada suka.” lanjutku ketika kulihar Maya tertunduk malu. “Maya suka sama Mas Andra?”

Maya memandangku penuh arti. Matanya seakan ingin bersorak mengiyakan pertanyaanku. tapi aku butuh jawaban yang bisa didengar. Aku duduk merapat pada Maya.

“Maya suka sama Mas Andra?” ulangku.

“Iya.” gumamnya lirih.

Bener!! Dia suka sama aku. Kalau gitu aku boleh..

“Mas Andra mau ngesun Maya, Maya nurut aja yah..” bisikku ke telinga Maya

Tanganku mengusap rambutnya dan wajah kami makin dekat. Maya menutup matanya lalu membasahi bibirnya (aku bener-bener bersorak sorai). Kemudian bibirku menyentuh bibirnya yang seksi itu, lembut banget. Kulumat bibir bawahnya perlahan tapi penuh dengan hasrat, nafasnya mulai berat. Lumatanku semakin cepat sambil sekali-sekali kugigit bibirnya.

Mmm..muah.. kuhisap bibir ranum itu.

“Engh.. emmh..” Maya mulai melenguh.

Nafasnya mulai tak beraturan. Matanya terpejam rapat seakan diantara hitam terbayang lidah-lidah kami yang saling bertarung, dan saling menggigit. Tanganku tanpa harus diperintah sudah menyusup masuk ke balik kaos ketatnya. Kuperas-peras payudara Maya penuh perasaan. ereksiku semakin menyala ketika gundukan hangat itu terasa kenyal di ujung jari-jariku.

Bibirku merayap menyapu leher jenjang Maya. Aku cumbui leher wangi itu. Kupagut sambil kusedot perlahan sambil kutahan beberapa saat. Gigitan kecilku merajang-rajang birahi Maya.

“Engh.. Mass.. jangan.. aku uuh..”

Ketika kulepaskan maka nampaklah bekasnya memerah menghias di leher Maya.

“May.. kaosnya dilepas ya sayang..”

Gadis itu hanya menggangguk. Matanya masih terpejam rapat tapi bibirnya menyunggingkan senyum. Nafasnya memburu. Sambil menahan birahi, kubuka keempat kancing kaos Maya satu persatu dengan tangan kananku. Sedang tangan kiriku masih terus meremas payudara Maya bergantian dari balik kaos. Tak tega rasanya membiarkan Maya kehilangan kenikmatannya. Jemari Maya menggelitik di dada dan perutku, membuka paksa hem lusuh yang aku kenakan. Aku menggeliat-geliat menahan amukan asmara yang Maya ciptakan.

Kaos pink Maya terjatuh di ranjang. Mataku melebar memandangi dua gundukan manis tertutup kain pink tipis. Kupeluk tubuh Maya dan kembali kuciumi leher jenjang gadis manis itu, aroma wangi dan keringatnya berbaur membuatku semakin bergairah untuk membuat hiasan-hiasan merah di lehernya.Perlahan-lahan kutarik pengait BH-nya, hingga sekali tarik saja BH itupun telah gugur ke ranjang. Dua gundukan daging itupun menghangat di ulu hatiku.

Kubaringkan perlahan-lahan tubuh semampai itu di ranjang. Wow.. payudara Maya (yang kira-kira ukuran 34) membengkak. Ujungnya yang merah kecoklatan menggairahkan banget. Beberapa kali aku menelan ludah memandangi payudara Maya. Ketika merasakan tak ada yang kuperbuat, Maya memicingkan mata.

“May.. adekmu udah gede banget May..”

“Udah waktunya dipetik ya mass..”

“Ehem, biar aku yang metik ya May..”

Aku berada di atas Maya. Tanganku segera bekerja menciptakan kenikmatan demi kenikmatan di dada Maya.

Putar.. putar.. kuusap memutar pentel bengkak itu.

“Auh..Mass.. Aku nggak tahan Mass.. kayak kebelet pipis mas..” rintih Maya.

Tak aku hiraukan rintihan itu. Aku segera menyomot payudara Maya dengan mulutku.

“Mmm.. suup.. mm..” kukenyot-kenyot lalu aku sedot putingnya.

“Mass.. sakiit..” rintih Maya sambil memegangi vaginanya.

Sekali lagi tak aku hiraukan rintihan itu. Bagiku menggilir payudara Maya sangat menyenangkan. Justru rintihan-rintihan itu menambah rasa nikmat yang tercipta.

Tapi lama kelamaan aku tak tega juga membuat Maya menahan kencing. Jadi aku lorot saja celananya. Dan ternyata CD pink yang dikenakan Maya telah basah.

“Maya kencing di celana ya Mass?”

“Bukan sayang, ini bukan kencing. Cuman lendir vaginamu yang cantik ini.”

Maya tertawa mengikik ketika telapak tanganku kugosok-gogokkan di permukaan vaginanya yang telah basah. Karena geli selakangnya membuka lebar. Vaginanya ditumbuhi bulu lebat yang terawat. Lubang kawin itu mengkilap oleh lendir-lendir kenikmatan Maya. Merah merona, vagina yang masih perawan.

Tak tahan aku melihat ayunya lubang kawin itu. Segera aku keluarkan penisku dari sangkarnya. Kemudian aku jejalkan ke pangkal selakangan yang membuka itu.

“Tahan ya sayang..engh..”

“Aduh.. sakiit mass..”

“Egh.. rileks aja..”

“Mas.. aah!!” Maya menjambak rambutku dengan liar.

Slup.. batang penisku yang perkasa menembus goa perawan Maya yang masih sempit. Untung saja vagina itu berair jadi nggak terlalu sulit memasukkannya. Perlahan-lahan, dua centi lima centi masih sempit sekali.

“Aduuh Mass.. sakiit..” rintih Maya.

Aku hentakkan batang penisku sekuat tenaga.

“Jruub..”

Langsung amblas seketika sampai ujungnya menyentuh dinding rahim Maya. Batang penisku berdenyut-denyut sedikit sakit bagai digencet dua tembok tebal. Ujungnya tersentuh sesuatu cairan yang hangat. Aku tarik kembali penisku. Lalu masukkan lagi, keluar lagi begitu berkali-kali. Rasa sakitnya berangsur-angsur hilang.

Aku tuntun penisku bergoyang-goyang.

“Sakit sayang..” kataku.

“Enakk..eungh..” Maya menyukainya.

Ia pun ikut menggoyang-goyangkan pantatnya. Makin lama makin keras sampai-sampai ranjang itu berdecit-decit. Sampai-sampai tubuh Maya berayun-ayun. Sampai-sampai kedua gunung kembar Maya melonjak-lonjak. Segera aku tangkap kedua gunung itu dengan tanganku.

“Enggh.. ahh..” desis Maya ketika tanganku mulai meremas-remasnya.

“Mass aku mau pipis..”

“Pipis aja May.. nggak papa kok.”

“Aaach..!!”

“Hegh..engh..”

“Suur.. crot.. crot.. “

Lendir kawin Maya keluar, spermaku juga ikut-ikutan muncrat. Kami telah sama-sama mencapai orgasme.

“Ah..” lega. Kutarik kembali penisku nan perkasa. Darah perawan Maya menempel di ujungnya berbaur dengan maniku dan cairan kawinnya. Kupeluk dan kuciumi gadis yang baru memberiku kepuasan itu. Mayapun terlelap kecapaian.

Kreek.. Pintu kamarku dibuka. Aku segera menengok ke arah pintu dengan blingsatan. Ersa terpaku di depan pintu memandangi tubuh Maya yang tergeletak bugil di ranjang kemudian ganti memandangi penisku yang sudah mulai melemas. Tapi aku juga ikut terpaku kala melihat Ersa yang sudah bugil abis. Aku tidak tahu tahu kalau sejak Maya masuk tadi Ersa mengintip di depan kamar.

“Ersa? Ng.. anu..” antara takut dan nafsu aku pandangi Ersa.

Gadis ini lebih tua dua tahun diatas Maya. Pantas saja kalau dia lebih matang dari maya. Walau wajahnya tak bisa menandingi keayuan Maya, tapi tubuhnya tak kalah menarik dibanding Maya, apalagi dalam keadaan full naked kayak gitu.

“Aku nggak akan bilang ke oom dan tante asal..”

“Asal apaan?”

Mata Ersa sayu memandang ke arah Maya dan penisku bergantian. Lalu dia membelai-belai payudara dan vaginanya sendiri. Tangan kirinya bermain-main di belahan vaginanya yang telah basah. Ersa sengaja memancing birahiku. Melihat adegan itu, gairahku bangkit kembali, penisku ereksi lagi. Tapi aku masih ingin Ersa membarakan gairahku lebih jauh.

Ersa duduk di atas meja belajarku. Posisi kakinya mekangkang sehingga vaginanya membuka merekah merah. Tangannya masih terus meremas-remas susunya sendiri. Mengangkatnya tinggi seakan menawarkan segumpal daging itu kepadaku.

“Mas Andra.. sini.. ay..”

Aku tak peduli dia mengikik bagai perek. Aku berdiri di depan gadis itu.

“Ayo.. Mas mainin aku lebih hot lagi..” pintanya penuh hasrat.

Aku gantiin Ersa meremas-remas payudaranya yang ukuran 36 itu. Puting diujungnya sudah bengkak dan keras, tanda Ersa sudah nafsu banget.

“Eahh.. mmhh..” rintihannya sexy sekali membuatku semakin memperkencang remasanku.

“Eahh.. mas.. sakit.. enak..”

Ersa memainkan jarinya di penisku. Mempermainkan buah jakarku membuatku melenguh keasyikan. “Ers.. tanganmu nakal banget..”

Gadis itu cuman tertawa mengikik tapi terus mempermainkan senjataku itu. Karena gemas aku caplok susu-susu Ersa bergantian. Kukenyot sambil aku tiup-tiup.

“Auh..”

Ersa menekan batang penisku.

“Ers.. sakit sayang” keluhku diantara payudara Ersa.

“Habis dingin kan mas..” balasnya.

Setelah puas aku pandangi wajah Ersa.

“Ersa, mau jurus baru Mas Andra?”

Gadis itu mengangguk penuh semangat.

“Kalau gitu Ersa tiduran di lantai gih!”

Ersa menurut saja ketika aku baringkan di lantai. Ketika aku hendak berbalik, Ersa mencekal lenganku. Gadis yang sudah gugur rasa malunya itu segera merengkuhku untuk melumat bibirnya. Serangan lidahnya menggila di ronga mulutku sehingga aku harus mengeluarkan tenaga ekstra untuk mengimbanginya. Tanganku dituntunnya mengusap-usap lubang kelaminnya. Tentu saja aku langsung tanggap. Jari-jariku bermain diantara belantara hitam nan lebat diatas bukit berkawah itu. “Mmm.. enghh..”

Kami saling melenguh merasakan sejuta nikmat yang tercipta.

Aku ikut-ikutan merebah di lantai. Aku arahkan Ersa untuk mengambil posisi 69, tapi kali ini aku yang berada di bawah. Setelah siap, tanpa harus diperintah Ersa segera membenamkan penisku ke dalam mulutnya (aku jadi berpikiran kalau bocah ini sudah berpengalaman).

Ersa bersemangat sekali melumat penisku yang sejak tadi berdenyut-denyut nikmat. Demikian juga aku, begitu nikmatnya menjilati lendir-lendir di setiap jengkal vagina Ersa, sedang jariku bermain-main di kedua payudaranya. Srup srup, demikian bunyinya ketika kusedot lendir itu dari lubang vagina Ersa. Ukuran vagina Ersa sedikit lebih besar dibanding milik Maya, bulu-bulunya juga lebih lebat milik Ersa. Dan klitorisnya.. mm.. mungil merah kenyal dan mengasyikkan. Jadi jangan ngiri kalo aku bener-bener melumatnya dengan lahap.

“Ngngehh..uuhh..” lenguh Ersa sambil terus melumat senjataku.

Sedang lendir kawinnya keluar terus.

“Erss.. isep sayang, isepp..” kataku ketika aku merasa mau keluar.

Ersa menghisap kuat-kuat penisku dan croott.. cairan putih kental sudah penuh di lubang mulut Ersa. Ersa berhenti melumat penisku, kemudian dia terlentang dilantai (tidak lagi menunggangiku). Aku heran dan memandangnya.

“Aha..” ternyata dia menikmati rasa spermaku yang juga belepotan di wajahnya, dasar bocah gemblung.

Beberapa saat kemudian dia kembali menyerang penisku. Mendapat serangan seperti itu, aku malah ganti menyerangnya. Aku tumbruk dia, kulumat bibirnya dengan buas. Tapi tak lama Ersa berbisik, “Mas.. aku udah nggak tahan..”

Sambil berbisik Ersa memegangi penisku dengan maksud menusukannya ke dalam vaginanya.

Aku minta Ersa menungging, dan aku siap menusukkan penisku yang perkasa. penisku itu makin tegang ketika menyentuh bibir vagina. Kutusuk masuk senjataku melewati liang sempit itu.

“Sakit Mas..”

Sulitnya masuk liang kawin Ersa, untung saja dindingnya sudah basah sejak tadi jadi aku tak terlalu ngoyo.

“Nggeh.. dikit lagi Ers..”

“Eeehh.. waa!!”

“Jlub..” 15 centi batang penisku amblas sudah dikenyot liang kawin Ersa. Aku diamkan sebentar lalu aku kocok-kocok seirama desah nafas.

“Eeehh.. terus mass.. uhh..”

Gadis itu menggeliat-geliat nikmat. Darah merembes di selakangnya. Entah sadar atau tidak tangan Ersa meremas-remas payudaranya sendiri.

Lima belas menit penisku bermain petak umpet di vagina Ersa. Rupaya gadis itu enggan melepaskan penisku. Berulang-ulang kali spermaku muncrat di liang rahimnya. Merulang-ulang kali Ersa menjerit menandakan bahwa ia berada dipucuk-pucuk kepuasan tertinggi. Hingga akhirnya Ersa kelelahan dan memilih tidur terlentang di samping Maya.

Capek sekali rasanya menggarap dua daun muda ini. Aku tak tahu apa mereka menyesal dengan kejadian malam ini. Yang pasti aku tak menyesal perjakaku hilang di vagina-vagina mereka. Habisnya puas banget. Setidaknya aku bisa mengobati kekecewaanku kepada Rere.

Malam makin sepi. Sebelum yang lain pada pulang, aku segera memindahkan tubuh Maya ke kamarnya lengkap dengan pakaiannya. Begitu juga dengan Ersa. Dan malam ini aku sibuk bergaya berpura-pura tak tahu-menahu dengan kejadian barusan. Lagipula tak ada bukti, bekas cipokan di leher Maya sudah memudar.

He.. he.. he.. mereka akan mengira ini hanya mimpi.

TAMAT

Tags : cerita 18sx,cerita seks, cerita daun muda, gadis bandung, video bugil, cerita sexs, tante,telanjang gadis indonesia, bunga citra lestari telanjang, telanjang bulat, cynthiara alona telanjang, tante girang telanjang, ayu anjani telanjang, dewi persik telanjang

1 komentar 24 Mei 2010

Cerita 18sx – Nikmatnya ABG SMU Lainnya – 2

Dari Bagian 1

Setelah beberapa saat, saya masukkan tangan kanan ke dalam CD putihnya yang ternyata ditumbuhi bulu halus yang terawat rapi dan saya usap beberapa menit.

“Sst.. Ndi.. Ge.. Li.. Mmh..” gumam Lia pelan sambil matanya menatap setengah sayu. Gerakan jari tangan saya keluar masukkan ke dalam vaginanya yang mulai basah.

“Mmh.. Sst.. Enak.. Ndi.. Te.. Rus.. Agak cepe.. tan.. Sst”

“Sst.. Ya.. Nah.. Sst.. Gitu” rintih Lia yang kelihatan mulai terangsang hebat.

Tangan kiri saya yang tadinya hanya mengusap-usap pinggangnya jadi aktif mengusap payudara kirinya dan saya percepat permainan tangan pada vaginanya dan tiba-tiba saja Lia menjepit tangan saya dan disusul keluarnya cairan putih, berarti Lia telah orgasme yang pertama.

“Mmh.. Nikmat juga ya rasanya Ndi” gumam Lia sambil memandangku sayu.

“Mau nggak ngerasain si boy?” bujuk saya melihat Lia yang sedang terangsang berat.

“Mmh..” gumannya pelan, agak ragu Lia menjawab tapi akhirnya Lia pindah ke belakang mobil, wah tambah asyik nich.

Saya juga berpindah ke belakang mobil sambil melepas celana jins serta CD saya hingga bagian bawah saya bugil dan atasnya masih memakai kaos, untuk berjaga-jaga siapa tahu ada orang lewat.

“Ndi.. Pelan aja” guman Lia pelan sambil melepas CD putihnya hingga Lia sekarang bagian bawah atasnya juga bugil cuma memakai baju seragam SMU-nya tanpa BH.

“Ya, Sayang, kupakai kondom dulu ya supaya aman” jawab saya sambil mengambil posisi duduk menghadap ke depan dan mengarahkan Lia dalam posisi saya pangku serta menghadap saya. Pantatnya yang semok saya pegang dengan kedua tangan dan memberi arahan pada Lia.

“Pegangin si boy, ya tangan kanan” pinta saya pada Lia yang memegang kontolku dan mengarahkan ke vaginanya yang masih sempit.

“Nanti Lia dorong ke bawah ya, kalau udah pas kontolnya”

“Aduh.. Sakit..” rintih Lia karena kontol saya meleset pada bibir vaginanya.

Kembali saya arahkan kontol pada lubang vaginanya, pada usaha keempat, bless akhirnya masuk kepala dulu.

“Sst.. Pe.. Lan.. Ndi..” Rintih Lia sambil memegang tangan kiri saya dengan tangan kanannya dan mengigit bibir bawahnya dengan pelan.

“Pertamanya sakit kok, tapi agak lama juga enak” rayu saya sambil mendorong pinggulnya ke bawah hingga lama kelamaan, bless..

“Akhh..” jerit Lia lirih karena kontol saya semuanya masuk dalam vaginanya.

“Gimana rasanya?”

“Sakit sich, tapi.. Geli..” gumam Lia mencium saya dengan lembut. Dengan perlahan saya sodok vaginanya naik turun hingga Lia mendesis lirih.

“Sst.. Agak.. ee.. tengah.. sst..” rintih Lia lirih sambil menggoyangkan pinggulnya hingga sodokan dan goyangan itu menimbulkan bunyi clop.. clop.. clop.., begitu kira-kira.

Semakin lama sodokan saya percepat disertai dengan goyangan Lia yang makin liar hingga tangan saya kewalahan menahan posisi vaginanya agar pas pada kontol saya yang keluar masuk makin cepat. Bahkan payudaranya bergoyang-goyang ke atas ke bawah, kadang membentur muka saya, sungguh nikmat sekali pembaca sekalian.

“Barengan ya keluarnya ya.. Mmh..” perintah saya pada Lia karena sepertinya lahar putih saya sudah sampai puncaknya, jadi saya berusaha bertahan beberapa menit lagi.

“Mmhm.. Sst.. Ya.. Ndi..”

“Ce.. Petan.. Sst.. Ndi..” rintih Lia sambil memeluk dan menjepit saya dengan keras. Rupanya Lia sudah mencapai puncaknya dengan goyangannya yang makin keras.

“Ssrtss.. Seka.. Rang.. Sst.. Akhkk..” jerit Lia karena keluarnya cairan putih itu yang berbarengan dengan bobolnya pertahanan saya, secara bersaman kami saling memeluk menikmati sensasi yang luar biasa itu.

Beberapa saat kami masih berpelukan disertai tetesan keringat membasahi badan padahal mobil masih menjalankan AC-nya hampir full.

“Gimana rasanya, puas nggak” tanya saya sambil mencium bibirnya yang indah itu.

“Ternyata enak juga making love sama Om Andi”

“Lain sama pacarnya Lia, agak kasar sich” celotehnya sambil melepaskan pelukan saya dan memakai kembali CD dan BH-nya yang berwarna putih itu, setelah Lia kembali memakai seragam sekolahnya dan tentu saya juga, jam telah menunjukkan pukul 11.45 siang.

“Sebagai tanda terima kasih, gimana kalau Om Andi kutraktir”

“Boleh saja, sekarang kita kemana?” tanya saya melihat Lia menjalankan mobilnya menuju kota.

“Pulang dong” jawabnya manja.

“Lho, terus saya ngapain”

“Nanti kukenalin sama mamanya Lia dan adiknya Lia, mau nggak Om?”

“Okey..”

Ternyata Lia tinggal di perumahan mewah, pantas bawanya mobil. Tampak seorang wanita yang anggun dan cantik berusia kurang lebih 47 tahun sedang membaca sebuah majalah. Tapi yang menarik perhatian saya, baju longdress yang dikenakannya dengan belahan atas yang rendah hingga memperlihatkan payudaranya yang berwarna putih itu, mungkin lebih besar daripada punya Lia, tingginya kira-kira 163 cm/50 kg.

“Selamat siang Bu” sapa saya sopan.

“Selamat siang Pak” jawabnya ramah sambil bersalaman dengan saya.

“Ini Ma, guru privat matematika Lia yang baru, rencananya sich abis makan siang kita belajar”

“Oh ini to, yang namanya Pak Andi yang sering diceritain Lia”

“E.. Eh.. Ya..” jawab saya tergagap-gagap karena begitu lihainya Lia memperkenalkan saya sebagai guru privatnya, pelajaran matematika lagi, aduh.. gawat padahal saya tidak bisa apa-apa.

Setelah berbicara dengan ibunya mengenai les dan biaya tetek bengek lainnya, disepakati bahwa les privat cuma bisa saya lakukan dua minggu, itu pun harinya selang seling. Siang itu saya makan bersama Lia setelah ditinggal ibunya pergi keluar dan baru pulang sore hari. Lia sudah berganti pakaian dengan celana pendek dan kaos ketat khas ABG.

“Gila kamu Lia, nanti kalau ketahuan ibumu gimana?”

“Tenang aja Om, mama itu jarang kok nyampurin urusan Lia”

“Oh, gitu”

“Katanya Om mau ngajarin Lia” goda Lia penuh arti sambil mengerling nakal. Ini baru namanya surga dunia, setelah puas makan kami mengobrol sambil menonton film DVD yang dibawa Lia.

Selama dua minggu itu sebelum Lia akhirnya pindah ke Jakarta, kami sering making love tanpa sepengetahuan mamanya, pokoknya hampir tiap bertemu dengan berbagai posisi, yang sering di mobil, kamar tidur, kamar mandi, bahkan di suatu acara ulang tahun mamanya, saya diundang.

“Gimana Ndi, ramai nggak ulang tahun mama saya?”

“Wah, ramai sekali, pasti papamu pejabat ya?”

“Ah enggak kok, Papa itu pengusaha”

“Oh gitu” jawab saya sambil memperhatikan Lia yang malam itu memakai gaun yang sungguh indah, apalagi belahan atas gaunnya sungguh rendah hingga memperlihatkan payudaranya yang putih itu, mungkin tidak pake BH, gaunnya yang berwarna hijau cuma sebatas di atas lutut. Bahkan kalau Lia duduk dan saya perhatikan gaun bawahnya, mungkin dengan sengaja Lia membuka gaun bawahnya hingga memperlihatkan CD-nya yang berwarna merah muda itu. Wow, sungguh membuat si boy berontak, tapi saya pura-pura cool saja.

“Ndi, Lia lagi pengin nich, gimana?” tanya Lia tiba-tiba sambil mendekat pada saya.

“Kita cari ruangan yuk” ajak saya yang kebetulan tadi melihat ruangan dekat taman sedang kosong.

“Lho kok ke sini, apa tidak ke kamar?” tanya Lia heran.

“Bosan ah di kamar, cari variasi lain, mau nggak?”

“Ayo, cepetan waktunya mepet nich” gandeng Lia terburu-buru.

“Lia, kamu malam ini can..” belum sempat saya berkata romantis sudah dipotong Lia dengan ciumannya yang melumat bibir saya dengan ganas, kami pun berciuman dengan alot sambil tangan saya masuk ke belahan gaunnya dan meremas payudaranya dengan gemas.

“Mmh..” gumam Lia karena bibirnya sudah menyatu dengan bibir saya sambil tangannya membuka resleting celana panjang saya dan meremas-remas kontol saya yang sudah berdiri sejak tadi.

Beberapa menit kami saling melakukan ciuman dan remasan hingga akhirnya Lia mendorong saya perlahan.

“Ayo Ndi, buka celanamu” perintah Lia sambil melepas CD saya dan Lia mengambil posisi berjongkok untuk menghisap kontolku dengan sedotan yang agak keras.

“Pe.. Lan.. Aja..” pinta saya pada Lia karena kerasnya hisapan Lia hingga semua kontol saya masuk pada mulutnya. Beberapa menit telah berlalu dan saya sungguh tidak tahan dengan posisi tersebut.

“Gantian dong..” pinta saya pada Lia sambil saya berjongkok dan membuka CD merah mudanya serta menghisap vaginanya dan mencari biji kacangnya, menghisap dan menjilat sampai dalam vaginanya hingga semakin banyak cairan yang keluar dan Lia semakin merintih-rintih dalam posisi berdiri.

“Sst.. Isep.. Yang keras.. Ndi.. Sst..”

“Udah Ndi.. Sst.. Ayo..” rintihan dan celotehan Lia meminta saya untuk memasukkan si boy ke dalam vaginanya.

Kami sekarang berdiri tapi Lia menghadap ke tembok, saya singkap gaunnya dari belakang, dengan dibantu Lia saya berusaha menyodokkan kontol saya dari belakang pantatnya. Akhirnya masuk semua kontol saya dalam vaginanya, sodokan demi sodokan dengan cepat membuat Lia merintih meminta saya segera mengakhiri permainan itu, beberapa puluh menit kemudian..

“Sst.. Ayo.. Ndi.. Sst.. Keluarin..”

“Lia udah pegel nich sst..” rintih Lia lirih karena kami jarang melakukannya dalam posisi berdiri.

“Sst.. Aduh.. Akhkk..” Dan akhirnya croott.. croot.. Keluarlah lahar putih itu bersamaan dengan jeritan Lia.

Itulah malam terakhir kami sebelum Amelia dan mamanya pindah ke Jakarta mengikuti tugas papanya yang saya dengar dipromosikan jadi general manager di sana. Selamat jalan Lia, sampai ketemu lagi lain waktu, dan kalau kamu membaca cerita ini, jangan lupa ya kasih komentarmu bagian mana yang kurang.

*****

Bagi para cewek atau ibu-ibu yang ingin jalan-jalan ke pulau Lombok bisa menghubungi saya lewat email, dijamin pasti puas, bahkan bisa curhat. Khusus untuk cewek-cewek yang tinggal di pulau Lombok bisa langsung berkenalan dengan saya. Saya biasa merental internet di belakang mall Cilinaya sekitar hari Senin pagi jam 08.45 atau sore jam 17.30, biasa duduk di pojok nomor 9 atau nomor 2. Yang bernama Andi dan bisa membuka email pribadiku, itu pasti Andi asli, kalau tidak bisa berarti bukan Andi yang asli alias penipu. Hati-hati terhadap terhadap penipuan, seperti iklan di TV ya.. He.. He.. He..

TAMAT

Tags : cerita 18sx,cerita dewasa,cerita sex,gadis seksi,cewek telanjang,cerita 17 tahun,cerita sexs,cerita seks,foto telanjang,tante girang,gadis,gadis telanjang indonesia,foto telanjang bugil,abg telanjang bugil,gadis indonesia bugil,gadis indo bugil

1 komentar 23 Mei 2010

Cerita 18sx – Nikmatnya ABG SMU Lainnya – 1

Bulan November 2009 saya mendapat kiriman email dari beberapa cewek yang membaca cerita saya, yang salah satunya dari Amelia. Amelia ternyata sekota dengan saya di pulau Lombok, usianya baru 18 tahun, pelajar Sekolah Menengah Umum yang terkenal di kota saya. Amelia atau panggilannya Lia, gadis berkulit putih, tinggi 187 cm, berat 52 kg dan ukuran payudaranya saya perkirakan 34B, betul-betul anak SMU yang baru berkembang.

Awal perkenalan saya dengan Lia, kami janji bertemu di rental internet favorit saya dekat mall.

“Hallo.. Om yang namanya Andi?” tanya seorang gadis SMU pada saya.

“Iya.. Amelia ya?” tanya saya kembali padanya sambil memperhatikan wajahnya yang manis, rambut hitam lurus sebahu dan masih memakai seragam SMU-nya.

“Lagi ngapain Om?” tanyanya sambil duduk di kursi sebelah saya.

“Liat email yang masuk nich, panggil aja Andi ya” pintaku.

“Ya, panggil juga saya dengan Lia” jawabnya sambil mepet melihat ke arah monitor komputer.

“Okey, Lia bolos sekolah ya, jangan keserinngan bolos loh” nasehatku.

“Enggak kok, wong nggak ada guru, lagi ada rapat tuch”

Wangi juga bau parfumnya, mana rok abu-abunya span lagi, si boy jadi bangkit nich. Wah, kalo bisa making love sama Lia, asyik juga.. Huh dasar lagi mumet nich otak, maunya si boy saja.

“Ndi, Lia boleh tanya nggak?”

“Boleh aja, andi itu orangnya terbuka kok en’ fair, mau nanya apa?”

“Kalo tamu ceweknya Andi ngajak jalan-jalan, bayar nggak?”

“Oh itu, ya terserah ceweknya, pokoknya keliling Lombok ditanggung senang dech”

“Masalah hotel, akomodasi dan lain-lain ditanggung tamu, gitu”

“Kalo making love gimana?” tanya Lia antusias.

“Kalo making love sich, terserah tamunya, kalo suka sama Andi, ayo aja”

“Biasanya Andi selama ini dibayar berapa sich?”

“Ya, kira-kira lima ratus ribu sampai satu jutaan”

“Itu berapa hari?”

“Terserah tamunya aja mau berapa hari, okey, puas?”

“Mmh..” guman Lia seperti ingin menanyakan sesuatu tapi ragu-ragu.

“Kalo Lia udah pernah dicium belum atau udah pernah making love?” tanyaku.

“Ih, si Om nanyanya gitu”

“Ah, nggak usah malu sama Andi, ceritain aja”

“Belum sich Ndi, cuma kalo nonton BF sering”

“Jangan ditonton aja, praktek dong sama pacar” tantang saya sambil menepuk pundaknya.

“Pacarnya Lia itu agak aneh kok”

“Gimana kalo praktek sama Andi, ditanggung senang dan tidak bakalan hamil”

“Hush, jangan aneh-aneh Ndi, Lia udah punya pacar lho”

“Nggak aneh kok, kalo praktek pacar-pacaran” rayu saya, sepertinnya ada peluang nich. Saya harus merayunya supaya Lia tidak ragu-ragu lagi.

“Iya sich, tapi..” jawabnya ragu-ragu.

Setelah selesai membalas email yang masuk, saya berencana mengajak Lia ke pantai Senggigi, siapa tahu ada kesempatan, ya nggak pembaca. Ternyata Lia itu tinggal bersama ibunya yang masih berusia 47 tahun dan suaminya tugas keluar pulau selama beberapa bulan.

“Mau nggak ke pantai jalan-jalan, tadi Lia naik apa?”

“Naik mobil, pake mobil Lia aja” ajaknya bersemangat sambil menggandeng tangan saya seperti Om dan keponakannya.

Ternyata mobilnya memakai kaca rayban gelap dan ber-AC lagi, jadi siang itu kami meluncur ke pantai senggigi dan sebelumnya kami membeli beberapa camilan dan saya juga membeli kondom, biasa.. he.. he..

Lia menjalankan mobil dengan santai, tapi saya jadi tegang terutama si boy dan bukan mobilnya yang jalan santai yang membuat saya tegang, rok abu-abunya itu lho. Sudah span, pas duduk dalam mobil otomatis bertambah pendek saja hingga memperlihatkan setengah bagian pahanya yang putih mulus dan masih kencang.

“Eh, Ndi kok bengong, ngelamun jorok ya?”

“Eh.. Eh.. Nggak juga” jawab saya tergagap-gagap.

“Terus kenapa liatin pahanya Lia terus”

“Badanmu itu bagus kok, rajin fitnes ya?”

“Pasti, supaya badan Lia tetap fit dan seksi. Gimana, seksi nggak?” tanyanya tersenyum.

“Seksi bo! Eh Lia parkir aja yang di pojok tuch” tunjukku pada sebuah pojokan, agak menjauh dari jalan raya dan terlindungi oleh pepohonan, asyik nih siapa tahu bisa indehoy.

“Bagus juga tuch tempatnya” jawab Lia setuju sambil memarkirkan mobilnya hingga pas dengan lebatnya pepohonan, yang kalau dari jalan raya tidak kelihatan dan juga tempatnya sepi, jauh dari pemukiman dan lalu lalang orang, paling-paling orang yang berjalan di pantai, itupun agak samar-samar.

Mudah-mudahan pembaca tidak bingung membayangkan ilustrasi tempat yang saya ceritakan. Setelah Lia parkir, kami saling curhat tentang masalah pribadi Lia yang belum pernah making love dan ibunya yang sering kesepian ditinggal suaminya pergi.

“Ngomongnya nggak enak ya kalo kita berjauhan begini”

“Maksud Andi..”

“Lia duduk aja dekat Andi”

“Tapi kursi itu kan cuma satu”

“Ayo dong Lia, duduk sini kupangku” rayu saya sambil menarik tangan kanannya.

“Malu ah, dilihat orang” jawabnya ragu-ragu sambil melihat ke arah pantai.

“Berarti kalau nggak ada orang nggak malu dong” ujarku sambil menarik tangannya agar mendekat pada saya.

“Ya.. Nggak gitu” jawabnya ragu-ragu.

“Saya udah jinak kok apalagi si boy ini paling jinak” goda saya lagi sambil menunjuk kontol saya yang sudah agak menggembung.

“Ih jorok ih” jawabnya tertawa pelan.

“Mau nggak?”

“Emm.. Bagaimana ya”

“Mau dech..” dan akhirnya dengan paksaan sedikit dan si Lia yang ragu-ragu untuk duduk, saya berhasil menariknya bahkan Lia duduk dengan sedikit ragu.

Saya pangku Lia sambil melihat kembali ke arah pantai. Posisi Lia yang saya pangku menyamping hingga kalau melihat ke pantai agak menoleh sedikit. Posisi itu sungguh enak dan kelihatan si Lia juga menikmatinya, kelihatan dari tangan kanannya yang melingkar pada bahu saya.

“Oh ya, Andi mau nanya hal pribadi, boleh nggak?”

“Boleh aja, Lia itu orangnya terbuka kok” jawabnya sambil menggeser pantatnya supaya tidak terlalu merosot. Wah si boy saya jadi berdiri gara-gara si Lia memperbaiki posisi duduknya hingga pantatnya yang semok semakin mepet sama si boy. Coba pembaca bayangkan seperti posisi saya saat ditemani cewek SMU berumur 18 tahun yang bongsor dan seksi, pasti si boy mau berontak keluar, so pasti coy.

“Lia pernah nggak making love?”

“Mmh.. Gimana ya” jawab Lia ragu-ragu sambil menggigit jari kelingking tangan kirinya.

“Ceritain dong..” bujuk saya sambil mengelus pahanya yang masih terbungkus rok abu-abunya yang mini.

Lumayanlah sebagai permulaan pemanasan, ini kesempatan kalau Lia mau making love sama saya dan kalau tidak mau paling ditolak atau ditampar atau ditinggalkan, tapi dari perasaan saya sih, sepertinya mau.

“Pernah sih sama pacar, tapi itu dulu sebelum putus”

“Kok putus, kenapa emangnya?” tanyaku sambil tangan kiri saya memegang pinggangnya yang langsing.

“Sebetulnya Lia sayang sama dia, kalau cuma making love sich tidak apa-apa”

“Yang penting pake kondom supaya aman”

“Terus apa masalahnya?”

“Ya itu, making lovenya agak aneh, masak Lia diikat dulu”

“Wah, itu sich namanya ada kelainan namanya, harusnya dengan lembut”

“Oh ya, Andi kalau making love sama tamunya secara lembut ya”

“Tentu saja, maka banyak cewek yang senang dengan cara yang romantis dan lembut”

“Asyik dong”

“Mau nyobain nggak?” tantang saya sambil mengelus tangan kirinya yang ternyata sangat halus.

“Wuhh.. Maunya tuch” jawab Lia mencibirkan bibirnya yang seksi.

“Pegang aja boleh nggak ya?” tanya saya mengiba dan tangan kanan saya mulai mengelus-ngelus pahanya yang masih terbungkus seragam sekolahnya dengan lembut.

“Emh.. Gimana ya.. Dikit aja ya” jawab Lia mengejutkan saya yang tadinya cuma bercanda, eh tidak tahunya dapat durian runtuh.

“Lia, mau bagian mana dulu?” goda saya sambil mengelus punggungnya yang halus.

“Ih genit ah..” candanya manja.

Saya naikkan tangan kanan saya mencoba menjamah payudara kirinya yang masih terbungkus seragam sekolahnya dan kelihatannya tidak ada penolakan dari Lia. Dengan perlahan lehernya saya cium perlahan dan jamahan tangan saya berubah menjadi remasan supaya membangkitkan gairahnya. Ternyata Lia adalah tipe cewek yang libidonya cepat naik.

“Geli.. Ndi..” rintihnya pelan, tangan kirinya membantu tangan kanan saya untuk lebih aktif meremas payudara kiri dan kanannya secara bergantian. Lehernya yang putih saya cium dan jilat semakin cepat.

“Sst.. pe.. lan.. Ndi..”

Setelah beberapa menit, tiba-tiba Lia menurunkan tangan saya dan tangannya dengan terampil melepas tiga kancing atas bajunya serta mengarahkan tangan saya masuk ke dalam baju seragam SMU-nya dan tangan kirinya mengusap pipi saya. Tangan kananku yang sudah separuh masuk baju seragamnya langsung masuk juga dalam BH-nya yang ternyata berwarna putih polos. Gundukan payudaranya ternyata sudah keras dan tanpa menunggu aba-aba saya remas payudaranya dengan perlahan, kadang-kadang saya pelintir puting susunya.

“Ndi.. Sst.. Mmh.. Yang ki.. ri.. sst..” rintihnya pelan takut kedengaran.

“Lia, boleh nggak saya ci..” belum sempat habis pertanyaan saya, Lia sudah mencium saya dengan lembut yang kemudian saya balas ciumannya.

Semakin lama lidah saya mencari lidah Lia dan kami pun berciuman dengan mesra, bahkan saling menjilat bibir masing-masing. Sambil berciuman, kancing baju atas seragam Lia yang tersisa itu pun langsung saya lepas hingga tampaklah payudaranya dengan jelas. Kembali saya cium payudaranya. Selama beberapa menit berciuman, kuluman dan hisapan pada putingnya membikin Lia bertambah merintih dan mendesis, untung saja pada saat itu masih sepi dan bukan hari libur atau hari minggu.

“Mmh.. gan.. ti.. sst.. kiri.. sstt..” rintih Lia memberi aba-aba sambil tangan meraih kepala saya dan menggeser serta menekan pada payudaranya.

“Ter.. Us.. Sst.. Ndi..”

Tangan kanan saya yang sedang berada di pusarnya turun merayap masuk ke dalam rok abu-abunya dan mengelus vaginanya yang masih terbungkus CD searah jarum jam.

“Sst.. Terus.. Ndi” rintih Lia yang ikut membantu menyingkapkan rok abu-abu SMU-nya ke atas hingga pantatnya yang putih menyentuh paha saya yang masih terbungkus celana jins.

Ke Bagian 2

Tags : Cerita 18sx,cerita dewasa,cerita sex,gadis seksi,cewek telanjang,cerita 17 tahun,cerita sexs,cerita seks,foto telanjang,tante girang,gadis,gadis telanjang indonesia,foto telanjang bugil,abg telanjang bugil,gadis indonesia bugil,gadis indo bugil

1 komentar 23 Mei 2010

Halaman

Kategori

Tautan

Meta

Kalender

Oktober 2014
S S R K J S M
« Jul    
 12345
6789101112
13141516171819
20212223242526
2728293031  

Posts by Month

Posts by Category

 
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.