Posts tagged ‘ayu anjani telanjang ‘




Cerita 18sx – Ngentot dengan Ari, Suami Temanku

Namaku Ratih, asalku dari Surabaya. Umurku 26 tahun dan sudah lulus dari sebuah universitas terkenal di Yogyakarta. Selama kuliah aku punya teman kuliah yang bernama Iva. Iva adalah teman dekatku, dia berasal dari Medan. Kami seumur, tinggi kami hampir sama, bahkan potongan rambut kami sama, hanya Iva pakai kacamata sedangkan aku tidak. Kadang-kadang teman-teman menyebut kami sebagai saudara kembar. Kami juga lulus pada saat yang bersamaan. Satu-satunya yang berbeda dari kami ialah selama setahun kuliah terakhir, Iva sudah bertunangan dengan Ari, seorang kakak kelasku sedangkan aku masih berpacaran dengan Andy, juga kakak kelasku.

Salah satu persamaan lainnya ialah bahwa saat lulus itu kami sama-sama sudah tidak perawan lagi. Kami saling terbuka dalam hal ini, artinya kami saling bercerita mulai dari hal-hal yang mendalam misalnya tentang perasaan, kegelisahan dan hal-hal lain tentang kami dan pacar-pacar kami. Atau terkadang tentang hal-hal yang nakal misalnya bagian-bagian erotis atau ukuran vital dari pacar-pacar kami, sehingga darinya aku tahu bahwa milik Ari lebih panjang 3 cm dibandingkan milik Andy. Dengan lugas kadang-kadang Iva bercerita bahwa dia tidak pernah merasakan seluruh panjang batang milik Ari, diceritakannya pula bahwa Ari tidak pernah bisa lebih lama dari 3 menit setiap kali berhubungan badan dengannya. Meski begitu dia selalu merasa puas.

Kadang-kadang aku merasa iri juga dengan anugrah yang didapat Iva. Meskipun sebenarnya 15 cm milik Andy pun sudah cukup panjang, tapi membayangkan 18 cm milik Ari terkadang cukup membuatku gundah. Belum lagi aku mengingat-ingat tak pernah Andy sanggup bertahan lebih lama dari hitungan menit, mungkin karena aku dan Andy selalu melakukan pemanasannya lama dan menggebu-gebu (kadang-kadang malah aku atau Andy sudah lebih dulu orgasme pada tahap ini), jadi ketika saat penetrasi sudah tinggal keluarnya saja. Meskipun kadang-kadang cukup memuaskan tetapi rasanya masih saja ada yang kurang. Belum lagi secara fisik, Ari lebih baik dari Andy dari penilaian obyektifku. Semua perasaan itu tersimpan di diriku sekian lama selama aku masih sering berhubungan dengan Iva, yang artinya juga sering bertemu dengan Ari.

Tepat sebulan setelah lulus, Iva menikah dengan Ari. Lalu mereka berdua pindah ke Medan, sedangkan aku sendiri bekerja di sebuah perusahaan multinasional di Yogyakarta. Beberapa lama kami sering berkirim kabar baik lewat email maupun telepon. Iva sering menuliskan apa saja yang sudah dilakukannya dalam kehidupan suami istrinya. Diceritakannya betapa sering mereka berdua berhubungan intim, sebulan pertama jika dirata-rata bisa lebih dari 1 kali sehari. Dengan nada cekikikan sering juga diceritakannya bahwa memang milik Ari terlalu panjang untuk kedalamannya, bahwa semakin lama Ari semakin tahan lama dalam melakukannya yang oleh karenanya mereka sering terlambat bangun pagi karena semalaman melakukannya sampai dini hari. Juga dengan nada menggoda, diceritakannya betapa hangat semprotan sperma di dalam liang kemaluan.

Cerita yang terakhir ini sungguh merangsangku, karena meskipun telah melakukannya, aku belum pernah merasakan hal itu. Selalu Andy mengeluarkan spermanya di luar atau dia memakai kondom. Di perut atau paha memang sering kurasakan hangatnya cairan itu, tetapi di dalam liang kemaluan memang belum. Singkat kata semakin banyak yang diceritakannya semakin membuatku ingin segera menikah. Masalahnya Andy masih ingin menyelesaikan studi S2-nya yang mungkin kurang dari setahun lagi selesai.

Beberapa bulan kemudian Iva mengabarkan bahwa dia sudah hamil sekian bulan. Semakin bertambah umur kandungannya semakin sedikit cerita-cerita erotisnya. Ketika kandungan sudah beranjak lebih dari 7 bulan, dia bercerita bahwa mereka sudah tidak pernah berhubungan seks lagi. Kadang-kadang dia bercerita bahwa sesekali dia me-masturbasi-kan Ari, karena meskipun secara klinis mereka masih boleh berhubungan seks tapi mereka khawatir. Jadi Ari terpaksa berpuasa. Sekian bulan kemudian lahirlah putra pertamanya, Iva mengabarkan kepadaku berita gembira itu. Kebetulan sekali perusahaanku mempunyai kebijaksanaan adanya liburan akhir tahun selama dua minggu lebih. Sehingga aku memutuskan untuk pergi ke Medan untuk menjenguknya. Andy terpaksa tidak bisa ikut karena dia sedang hangat-hangatnya menyelesaikan tesisnya.

Jadilah aku pergi sendirian ke Medan dan segera naik taksi menuju rumahnya. Rumah Iva adalah sebuah rumah yang besar untuk ukuran sebuah keluarga kecil. Rumah itu adalah hadiah dari orang tua Iva yang memang kaya raya. Letaknya agak keluar kota dan berada di dekat area persawahan dengan masih beberapa rumah saja yang ada di sekitarnya. Ketika aku datang, di rumahnya penuh dengan keluarga-keluarganya yang berdatangan menjenguknya. Ari sedang menyalami semua orang ketika aku datang.

“Ratih, apa kabar? Sudah ditunggu-tunggu tuh!” dia memelukku dengan hangat.

Kemudian dia mengenalkanku kepada keluarga-keluarga yang datang. Aku pun menyalami mereka satu persatu. Mereka ramah-ramah sekali. Ari bercerita bahwa aku adalah saudara kembarnya Iva selama kuliah. Keluarganya saling tersenyum dan berkomentar sana sini.

Sekian saat berbasa basi, Ari segera mengantarku masuk rumah dan langsung menuju kamar Iva. Tampak Iva lebih gemuk dan di sampingnya tampak bayi lucu itu.

“Iva sayang, apa kabar?” aku mencium keningnya dan memeluknya hangat.

“Sudah siap-siap begituan lagi ya?” aku berbisik di telinganya yang dijawabnya dengan cubitan kecil di lenganku.

“Sstt.. harus disempitin dulu nih!” dia menjawab dengan berbisik pula sambil menggerakkan bola matanya ke bawah, aku tertawa.

Singkat kata, hari itu kami isi dengan berbasa-basi dengan keluarganya. Aku akhirnya menginap di rumahnya itu karena semua keluarga menyarankan begitu. Iva dan Ari pun tak keberatan. Aku diberi kamar yang besar di ujung ruangan tengahnya. Rumahnya mempunyai 6 kamar besar dengan kamar mandi sendiri dan baru satu saja yang telah diisi olehnya dan Ari. Hari itu sampai malam kami isi dengan mengobrol di kamarnya menemani sang bayi yang baru saja tidur. Sementara Ari menyelesaikan tugas-tugasnya sebagai dosen di ruang kerjanya.

Akhirnya aku menyarankannya istirahat.

“Sudah kamu istirahat dulu deh Va!”

“He eh deh, lelah sekali hari ini aku! Kamu masih suka melek sampai malam?”

“Iya nih!”

“Itu ada banyak film di rak! Masih baru lho!”

“Oke deh! Sekali lagi selamat ya!” kucium keningnya.

Aku keluar kamar dan menutupnya perlahan. Ari bercelana pendek dan berkaos oblong baru saja keluar dari ruang kerjanya.

“Mau tidur?”

“Sebenarnya aku sudah lelah, tapi mataku tidak bisa terpejam sebelum jam 2 malam nih! Katanya punya banyak film?”

“Itu di rak, buka aja!”

“Oke deh!”

Ari masuk kamar Iva. Kupilih satu film, judulnya aku lupa, lalu kuputar. Beberapa saat kemudian Ari keluar kamar dan tersenyum.

“Masih dengan kebiasaan lama? Melek sampai malam!”

“He eh nih!”

“Gimana kabarnya Andy?”

“Dua bulan lagi selesai tesisnya! Terus kami mau menikah, kalian datang ya!”

“Oh pasti! Mau minum, aku buatin apa?”

“Apa aja deh!”

Sebentar kemudian Ari keluar dengan dua botol soft drink di tangannya.

“Pembantu pada kelelahan nih! Jadi ini saja ya!”

“Makasih!” aku ambil satu dan meminumnya langsung, rasanya segar sekali.

“Kalo ada perlu aku lagi ngerjain proyek nih di ruang kerja”, ketika Ari beranjak sekilas aku melihat tatapan yang belum pernah kulihat darinya, sekilas saja.

“Oke, makasih!”

Tak berapa lama aku melihat film itu, mataku ternyata tidak seperti biasa, tiba-tiba terasa berat sekali. Aku segera matikan player itu, berjalan ke depan ke ruang kerja Ari.

“Ari, aku tidur dulu deh! sudah kumatiin semua!”

“Oke deh, istirahat dulu ya!”

Aku segera masuk kamar, menutup pintu, segera ganti baju dengan kaos tanpa bra dan celana pendek saja dan langsung ambruk di atas ranjang. Aku masih sempat mematikan lampu dan menggantinya dengan lampu tidur yang remang-remang. Aku langsung terlelap, saat itu mungkin sekitar pukul satu dinihari.

Tak terasa berapa lama aku tidur, ketika aku merasakan sesuatu menindihku. Aku terbangun dan masih belum sadar ada apa, ketika seseorang menindihku dengan kuat. Nafasnya terasa hangat memburu di wajahku. Ketika sepenuhnya sadar aku tahu bahwa Ari sedang di atas tubuhku dan sedang menggeranyangiku dengan ganas, mengelus-elus pahaku dan mencoba mencium bibirku. Beberapa lama aku tidak tahu harus bagaimana. Jika aku berteriak, aku kasihan pada Iva, jika sampai dia tahu. Selain itu sosok Ari telah kukenal dekat sehingga aku tak perlu menjerit untuk membuatnya tidak melakukan itu.

“Ar, kamu apa-apaan?” kataku sambil mencoba mendorongnya dari tubuhku.

“Bantulah aku Rat! Telah lama sekali!” sambil berkata begitu dia terus menggeranyangi tubuhku.

Tangannya mendarat dengan mantap di atas payudaraku dan meremas-remasnya. Jika saja aku tadi masih memakai BH-ku mungkin rasanya akan lain. Tapi kali itu hanya kain kaos yang tipis saja yang memisahkannya dengan tangannya. Selain itu samar-samar kurasakan sesuatu yang mengeras menimpa pahaku. Aku tidak asing lagi dengan benda itu. batang kemaluannya telah tegang penuh.”Ari..!” dia mencoba menciumku. Entah antara ingin mengatakan sesuatu atau ingin menghindar, aku malah menempatkan bibirku tepat di bibirnya. Yang terjadi kemudian aku malah membalas lumatannya yang ganas sekali. Beberapa lama itu dilakukannya, cukup untuk membuat puting susuku mengeras, yang kuyakin dirasakannya di dadanya.

“Kalo Iva tahu gimana dong?”

“Ayolah sebentar saja tak akan membuatnya tahu!” bisik Ari.

Entah untuk mencari pembenaran atas keinginan terpendamku atau mencoba untuk terlihat tidak terlalu permisif akhirnya yang keluar dari mulutku adalah, “Ar.. aku akan melakukannya untuk Iva!”

Seperti bendungan jebol, Ari langsung kembali melumatku dengan ganas. Aku pun tampaknya memang telah terhanyut oleh perbuatannya, sehingga langsung membalas lumatan bibirnya. Tampaknya dalam hal beginian Andy lebih jagoan, dia bisa membuatku basah kuyup hanya dengan ciumannya. Sedangkan Ari tampak tersengat ketika aku langsung membalas lumatan bibirnya dengan ganas.

Beberapa lama kami melakukan lumatan-lumatan itu, kemudian Ari bangkit dari atas tubuhku dan berlutut di antara pahaku. Dia kemudian menarik kaosku ke atas tanpa melepasnya dari tubuhku sehingga payudaraku terbuka, terasa dingin oleh AC. Beberapa saat kemudian aku merasakan jemarinya kembali meremas-remasnya perlahan, bukan itu saja kemudian aku merasakan bibirnya mendarat dengan mulus memilin-milin puting susuku yang kurasakan semakin mengeras. Tapi sebenarnya sebagian kecil tubuhku masih menolak perbuatannya itu, mengingat kedekatanku dengan Iva. Meski begitu sebagian besar lainnya tak bisa menolak rangsangan-rangsangan itu.

Beberapa saat Ari bermain-main dengan puting dan gundukan payudaraku. Kemudian dia bangkit dan menarik lepas celana pendek dan celana dalamku. Dengan segera aku merasakan tangannya membuka kedua pahaku dan sebentar kemudian kurasakan jemarinya menyapu permukaan liang kemaluanku. Ujung-ujung jemarinya mengelus-elus klitorisku dengan cepat, cukup cepat untuk membuat rangsangan bagiku. Walau begitu tetap saja gelitikannya semakin merangsangku.

Tak berapa lama dia kembali berhenti. Sekali lagi dalam hal pemanasan ini Andy masih lebih baik dibandingkan Ari. Dalam keremangan, aku melihatnya berdiri dan menarik celana pendek dan kaos oblongnya sehingga Ari akhirnya telanjang bulat. Justru di sinilah nafsuku langsung naik dengan sangat cepat demi menyaksikan tubuhnya di dalam keremangan lampu tidur di kamar itu. Sesuatu di tengah tubuhnya langsung membakarku, batang kemaluan yang sedang tegang dan tampak sedikit melengkung ke atas. Bentuknya yang gemuk, panjang dan berkepala bonggol itu langsung menggelitikkan rasa terangsang yang amat sangat mengalir dari mata dengan cepat langsung menggetarkan selangkanganku.

Aku segera saja merasa gelisah dan tak sabar.

“Ar.. Ke sini deh!”

Dengan bertelanjang bulat, Ari berjalan mendekat kepadaku dan naik ranjang, langsung berlutut di samping tubuhku, batang kemaluannya yang tegak itu tampak jauh lebih besar jika dilihat dari baliknya.

“Ada apa Rat?”

“Kadang-kadang aku punya impian yang bahkan Iva pun tak tahu apa itu?”

“Apa coba?”

“Jangan diketawain ya. Iva sering bercerita tentang ini! Dan kadang-kadang timbul keinginan untuk sekedar memandangnya”, sambil berkata begitu kuraih batang kemaluannya itu dan kugenggam erat batang dan sebagian kepalanya sehingga seperti kalau sedang memegang persneling mobil. Ari tampak sedikit gugup ketika genggamanku mendarat mulus di batang kemaluannya tanpa diduga-duga olehnya. Tubuhnya seperti terdorong ke belakang sedikit sehingga semakin mengangkat posisi batang kemaluannya dari posisi berlututnya. Beberapa saat aku merasakan kerasnya batang kemaluannya itu.

Pantas sekali kalau Iva begitu membangga-banggakannya. Dan emang selisih tiga centi terasa sekali secara visual.

“Nih sudah, kamu boleh apain aja deh! Oh ya Iva sudah cerita apa saja ke kamu?”

“Banyak pokoknya!”

“Kalo sama punya Andy?”

“No comment deh!” nada bicaraku agak mendesah.

Ari tersenyum dan bangkit dari sampingku terus membuka pahaku dan mulai mengambil posisi. Ketika bangkit aku melihat pinggulnya seperti bertangkai oleh cuatan batang kemaluannya itu. Dia memandangku sebentar, kubalas dengan pandangan yang sama.

“Pelan-pelan ya Ar!”

“Lho, sudah pernah khan?”

“Iya, tapi..”

“Tidak segini ya?” Dia kembali tersenyum.

Aku cuma tersenyum kecut demi ketahuan kalau punya Andy tidak sebesar punyanya. Perlahan-lahan Ari mengangkat kedua pahaku dan menyusupkan lututnya yang tertekuk di bawahnya sehingga ketika dia meletakkan pahaku kembali keduanya menumpang di atas paha atasnya yang penuh rambut. Dengan posisi seperti itu selangkangannya langsung berhadapan dengan selangkanganku yang agak mendongak ke atas karena posisi pahaku. Aku hanya bisa menunggu seperti apakah rasanya. Aku merasakan perlahan-lahan Ari membuka sekumpulan rambut kemaluanku yang rimbun di bawah sana dan beberapa saat kemudian sesuatu yang tumpul menggesek-gesek daging di antara sekumpulan itu dengan gerakan ke atas dan ke bawah menyapu seluruh permukaannya, dari klitoris sampai ke lubang kemaluanku. Rasa terangsangku segera memuncak kembali merasakan sensasi baru itu.

“Ayolah Ar, keburu bangun!”

“Ini baru jam 3.15?

“Iya siapa tahu?”

Perlahan-lahan aku merasakan gesekan kepala batang kemaluannya tadi berhenti di area dekat lubangku tepat pada posisi membuka bibir-bibir labiaku sehingga langsung berhadapan dengan lubang di bawahnya itu. Sesaat kemudian sesuatu yang besar dan tumpul serta hangat menyodoknya perlahan-lahan. Tanpa hambatan yang terlalu kuat, kepalanya langsung masuk diikuti batangnya perlahan-lahan. Aku segera merasakan nikmat akibat gesekan urat-uratnya itu di dinding lubang kemaluanku. Sampai tahap ini sebenarnya rasanya tidak beda jauh dari punya Andy, walaupun tidak sepanjang punya Ari ini tapi cukup gemuk. Tapi semakin lama tubuhku segera bereaksi lain ketika batang itu mulai masuk semakin dalam. Dan ketika semuanya masuk ke dalam, aku segera merasakan rasa nikmat yang amat sangat ketika ujung kepala batangnya itu mentok di dinding bagian dalam liang kemaluanku. Aku segera mencari lengannya dan mencengkeramnya erat.

Ari berhenti sesaat dan menarik nafas panjang sekali.

“Rat.. Ini yang kucari!” Ari berbisik perlahan sekali tapi cukup terdengar olehku. Kutahu apa yang dimaksudnya. Sesuatu yang sanggup menelan semua panjang batangnya itu. Ari tidak segera bergerak tapi seperti menggeliat dalam tancapan penuh batang kemaluannya ke dalam liang kemaluanku itu. Tampaknya reaksi dari bagian yang belum pernah tertelan itu sangat mempengaruhi dirinya. Dia bahkan belum bergerak sampai sekian puluh detik ke depan, wajahnya tertunduk, kedua tangannya mencengkeram pinggulku, meraih-raih pantatku dan meremas-remasnya dengan ganas cenderung kasar. Dengan sedikit nakal, aku mencoba mengejan, mengkontraksikan otot-otot di sekeliling selangkanganku.

Walaupun terasa penuh oleh masuknya batang kemaluannya itu aku mulai bisa melakukan kontraksi itu dengan teratur. Tak terlihat tapi efeknya luar biasa. Aku merasakan kedua tangannya dengan liar memutar-mutar, meremas dan mencengkeram bongkahan pantatku, pastinya karena reaksi dari apa yang kulakukan pada batangnya itu. Dia segera ambruk di atas tubuhku dan segera mengambil posisi menggenjot, kedua tangannya diletakkan di antara dadaku, salah satunya menyangkutkan paha kananku sehingga mengangkat selangkanganku ke atas sedangkan paha kiriku otomatis terangkat sendiri. Paha kanannya masih tertekuk sedangkan kaki kirinya diluruskannya ke bawah sehingga mempertegas sudut tusukan batang kemaluannya di liang kemaluanku.

Dia mulai mencabut batang kemaluannya yang beberapa lama tadi masih tertancap penuh di dalam tubuhku dan belum sampai tiga perempat panjang batangnya keluar, dia langsung menghujamkannya dengan kuat ke bawah sehingga menekan kuat area ujung rahimku. Kemudian ditariknya lagi dan ditusukkannya kembali. Mulailah terasa beda pengaruh panjangnya terhadap kenikmatan yang kurasakan. Hal ini mungkin dikarenakan bidang gesekan satu arahnya yang panjang dan lebih lama sehingga mengalirkan kenikmatan yang lebih kuat pula.

“Arr..! Jangan kuat-kuat..!” tapi sebenarnya aku sangat menikmatinya. Ari tampaknya tak peduli, dia terus saja bergerak-gerak dengan kuat dan semakin cepat. “Oh.. Rat.. Ratih!” dia terus menggenjot dan tak terasa begitu cepat 5 menit yang pertama terlewati dan dia masih tangguh saja memompa liang kemaluanku. Benar kata Iva. Pagi itu tak ada seorang pun yang bangun dan terjaga, tapi kami berdua malah sedang mencoba mendaki dengan alasan yang berbeda. Kalau Ari karena tak tahan menunggu Iva berfungsi kembali sedangkan aku karena ingin saja. Sekitar sekian saat setelah 5 menitnya yang ketiga, aku jebol. Gesekan urat-urat batang kemaluannya itu meledakkan tubuhku dengan kuat sehingga membuatku menjepitkan pahaku ke tubuhnya. Bukan itu saja senam yang teratur yang aku ikuti ternyata berguna pada saat itu.

Tepat pada puncaknya kutahan kontraksi di liang kemaluanku dan sekuat tenaga kupertahankan agar tidak segera meledak. Sesaat aku merasakan aliran arus balik di tubuhku tapi tidak lama jebol juga sehingga dibawah genjotan cepatnya aku merasakan tiba-tiba seperti melayang di angkasa luas tanpa batas. Tubuhku kaku, kejang, nafasku memburu dan keluar tertahan-tahan bersamaan dengan keluarnya bunyi-bunyian yang tidak jelas nadanya dari bibirku.

“Ohh.. eehh.. hmm.. Ar.. yang kuat!” Mungkin gabungan antara suara dari bibirku dan mungkin cengkeraman-cengkeraman kuat dari dinding-dinding liang kemaluanku, segera membuatnya bergerak cepat dan kuat sekali. Aku tidak pernah merasakan kekuatan sekuat dan setahan itu dari Andy. Tubuhku kejang sampai dia menyelesaikan 5 menitnya yang keempat dan masih terus bergerak mantap. Sampai orgasmeku mereda aku merasakan gerakannya semakin cepat dan kuat dan belum sampai pertengahan 5 menitnya yang kelima, Ari pun jebol juga.

Posisi kami selama itu masih belum berubah, tapi ketika dia mau menyelesaikan genjotan-genjotan terakhirnya dia menggerakkan tubuhku ke kiri sehingga menggerakkan seluruh tubuhku miring ke kiri dan paha kananku tepat menumpang di atas dadanya sedangkan paha kiriku berada di antara kedua pahanya. Ketika posisinya pas, dia langsung bergerak cepat. Dalam posisi itu ternyata rasanya lain karena yang menggesek dinding lubang kemaluanku pun dinding yang lain dari batang kemaluannya. Tapi orgasmeku yang pertama rasanya terlalu kuat untuk diulangi dalam waktu sedekat itu, sehingga meskipun rasanya memuncak lagi tapi ketika aku merasakan semprotan-semprotan panas seperti yang diceritakan Iva kepadaku itu aku belum bisa meraih orgasmeku yang kedua.

“Hoohh.. Hooh.. Hoo.. Rat..Ratih!” Ari bergerak-gerak tak teratur dan hentakan-hentakannya ketika orgasme itu tampak liar dan ganas tapi terasa nikmat sekali bagiku. Aku memegang kedua lengannya yang berkeringat sampai dia menyelesaikan orgasme itu. Sesekali aku mengusap wajahnya dengan lembut. Beberapa lama tubuhku kaku karena posisi kaki-kakiku itu, sampai akhirnya dia ambruk di samping kiriku. Batang kemaluannya tercabut dengan cepat dan semuanya itu membuat posisi kembaliku agak terasa linu, terutama di paha bagian dalamku.

Kami terdiam dalam pikiran masing-masing. Aku telentang sedangkan Ari tengkurap di sampingku basah kuyup oleh keringat. Tiba-tiba terdengar bunyi sesuatu perlahan-lahan dari balik pintu kamar. Tiba-tiba Ari panik dan segera mengenakan celana pendek dan kaosnya. Batang kemaluannya meskipun sudah lemas tapi masih belum seluruhnya lemas sehingga tampak menggunduk di celana pendeknya. Aku melirik jam, sudah hampir jam 4 pagi. Ari dengan sedikit tertatih-tatih berjalan perlahan tanpa suara ke arah pintu kamarku, membukanya perlahan dan sebelum keluar sempat melihatku sejenak dan tersenyum.

Tinggallah aku sendiri di kamarku dan aku mencari-cari celana pendekku dan segera mengenakannya. Aku terus menarik kaosku ke bawah sehingga menutupi payudaraku yang pasti penuh pagutan-pagutan merah. Dan dengan sisa-sisa tenaga mencoba merapikan sprei yang terasa lembab di tanganku. Mungkin karena lelahnya aku kembali terlelap dan terbangun hampir jam 10.00 pagi. Singkat kata hari itu kuselesaikan segala urusan di Medan. Rasanya tak ada hambatan dengan segala hal yang terjadi. Iva biasa-biasa saja tidak terlihat seperti curiga, bahkan wajah cerianya tampak sedih ketika pada hari ketiga aku terpaksa harus pamit untuk pulang. Ari mengantarku ke bandara dan sebelum aku naik ke pesawat sempat Ari mengucapkan terima kasih. Aku membalasnya dengan terima kasih juga sambil tak lupa tersenyum manis penuh arti.

Sampai tiga bulan setelah aku meninggalkan Medan, tiba-tiba Iva mengirimiku email yang menyentakku, isinya begini, “Rat, sebenarnya aku tidak ingin menyinggung-nyinggung soal ini tapi akhirnya agar kamu tahu terpaksa deh aku ungkapin. Tidak tahu aku harus mengucapkan terima kasih atau malah mencaci kamu. Kamu tega deh, di saat puncak kebahagianku kamu malah melakukannya dengan Ari. Aku tahu bukan kamu yang memulai, dan aku tahu sekali kamu tidak akan mau melakukannya jika tanpa sesuatu sebab. Sebenarnya aku kasihan juga sama Ari, bayangkan hampir dua bulan terakhir sebelum aku melahirkan, dia tidak pernah melakukannya, meskipun hanya sekedar masturbasi. Belum lagi ditambah dua bulan setelah aku melahirkan aku masih belum bisa melayaninya. Dan aku tidak menyalahkannya jika akhirnya dia memintamu melakukannya. Dan jika akhirnya kamu terpaksa melayaninya, kuucapkan terima kasih telah menggantikanku. Mungkin itu saja deh Rat, yang perlu untuk kamu ketahui. Aku tidak tahu harus bagaimana tapi sudah deh segalanya sudah terjadi, mohon jangan mengulanginya lagi ya! Please! Aku sudah omong-omong tentang ini sama Ari dan dia menangis habis-habisan menyesalinya. Oke, udahan dulu ya. Bales ya secepatnya!” Iva.

“NB: sedikit nakal, kok sekarang Ari jadi ganas gitu sih? Kalo ini karena kamu makasih ya! Terakhir, bagaimana dia melakukannya? Hi.. hi.. hi Jangan khawatir aku tetap sahabatmu.”

Berhari-hari setelah itu aku kebingungan mempertimbangkan apa yang harus kulakukan terhadap ini, sampai akhirnya aku harus menjawab juga.

“Iva sayang, hanya maaf yang bisa aku mohonkan ke kamu. Aku tidak ingin membela diri, aku salah dan aku janjikan itu tidak akan terulang lagi. Jika ada yang bisa aku lakukan untuk menebusnya? Katakan saja kepadaku! Aku tidak punya lagi kata-kata apapun, jadi sekali lagi maaf ya!” Ratih

“NB: tentang yang ganas-ganas itu aku tidak tahu tanya aja sama dia, tapi kalo tentang pertanyaan yang kedua, jawabannya secara jujur ya iya. Mohon maaf sekali lagi!”

Email balasanku pagi itu terkirim, sorenya langsung dibalas dan isinya, “Ratih, Oke deh. Meskipun agak sakit, kita kubur jauh-jauh peristiwa itu. Kapan kamu menikah? Kabarin lho! Aku punya ide (agak liar), supaya setimpal, gimana kalo nanti pas kamu mengalami saat-saat yang sama kayak aku, boleh dong aku mbantuin Andy? He.. He.. He.. (gambar tengkorak lagi tertawa!)” Iva

Nah loh! Akhirnya memang begitu yang terjadi setahun kemudian, jadi kedudukanku dengan Iva menjadi 1-1.

TAMAT

Tags : cerita 18sx, gadis indonesia, gambar bokep, bunga citra lestari telanjang, telanjang bulat, cynthiara alona telanjang, tante girang telanjang, ayu anjani telanjang, mahasiswi jogja, mahasiswi bispak, dengan mahasiswi, mahasiswi toket gede, mahasiswi baru, cerita mahasiswi

1 komentar 23 Juni 2010

Cerita 18sx – Pewaris Pertama 02

Sambungan dari bagian 01

Bab V

“Pertama, jangan pakai poni. Menjijikkan.”

Aku hanya bisa mengiyakan saat Kak Ray membawaku ke salon. Beberapa saat kemudian aku sudah memandangi rambutku yang baru. Cepak dan berdiri seperti kaktus. Wajahku malah nampak bundar. Kak Ray tersenyum menatapku.

“Begini lebih bagus.”

Masa?

“Kedua, berpakaian lebih funky. Jangan semua dimasukkan seperti anak kura-kura.” Kak Ray menarik baju belakangku dan menyelipkan sedikit ujung baju ke celanaku. Aku yakin, kalau mama melihatku saat ini, pasti beliau akan sangat marah.

“Ketiga, tunjukkan bahwa kamu memiliki jati diri yang pasti.” Kak Ray memasangkan gelang-gelang kain itu ke pergelanganku. Kuhitung-hitung semuanya berjumlah lima biji. Tiga di kanan, dan dua di kiri.

“Keempat, ayo ikut aku.”

“Ke mana, Kak?”

“Ekskul Basket. Khusus kakak kelasmu.”

“Hah?”

Dan baru aku ketahui bahwa basket itu menyenangkan. Kak Ray meyakinkan sahabat-sahabatnya bahwa aku ‘harus’ diterima mulai saat itu. Kurasakan keringat menetes membanjiri sekujur tubuhku saat aku berlari, melompat. Kakak-kakak yang lain dengan ramah mengajariku cara melakukan dribbling, pivot, shooting, dan berbagai atraksi lainnya. Aku sedikit kecewa saat ekskul berakhir. Sementara aku masih belum menghapal benar setiap gerakan yang mereka ajarkan.

“Nih. Bawa pulang. Main di rumah saja.”

Kutangkap bola basket itu. Luar biasa. Semua kakak pelatih menatapku dan tersenyum mengangguk.Aku kini salah seorang dari mereka. Luar biasa.

Setelah mengantarku sampai ke depan rumah, Kak Ray menyodorkan tas sekolahku. Katanya, tas ini tadi dititipkannya pada salah seorang sahabatnya. Mungkin lebih tepat disebut ‘bawahannya’?

“Di sini pelajaran ke lima, jangan lupa mempelajarinya di rumah nanti.” Kutatap pandangannya yang ramah. Sekejap aku mulai merasa ingin menangis. Tapi Kak Ray meninju lenganku dengan keras.

“Pelajaran selingan, jangan menangis seperti banci.”

Kubusungkan dadaku dan berusaha menahan air mataku. Kak Ray tertawa dan berlalu sambil melambaikan tangannya.

“Jangan lupa, pelajari baik-baik.”

Tentu saja, Kak.

Mama sekejap merasa heran dengan penampilanku yang begitu aneh. Tapi beliau lebih memilih untuk menggelengkan kepalanya. Papa malah menatapku dengan tersenyum.

“Kamu tampak seperti laki-laki.”

Dan aku merasa benar-benar bangga. Ingin rasanya aku berteriak sekeras mungkin. Tapi aku segera berlari ke kamar dan membuka tasku dengan penuh penasaran.

“Teka-teki Kepribadian oleh bla bla bla.”

Hanya ini?? Sebersit rasa kecewa merasukiku. Kubuka halaman pertama. Dan secarik kertas terjatuh. Segera kupungut dan kubaca. Akhirnya. Aku ingin menangis lagi. Tapi kubusungkan dadaku dan berlari ke depan cermin. Kutiru gerakan Kak Ray saat menjadi guard di ekskul basket tadi sore.

“Dan kalian gadis-gadis. Akan segera kujilat. Satu-persatu.”

Bab VI

Rasa percaya diriku terasa surut seketika saat menyaksikan bayangan di depan cermin itu. Awut-awutan mungkin sebuah kata yang tepat. Tapi seperti kata buku semalam. Aku seorang sanguinis. Penuh percaya diri. Tapi mama tak boleh melihatku. Jadi kularikan saja tubuhku keluar tanpa berpamitan. Di sepanjang trotoar kupraktekkan gaya berjalan John Travolta dalam film Grease–persis gaya berjalan Kak Ray saat menelusuri lorong sekolah. Stylish. Penuh gaya. Kukunyah permen karet di mulutku dengan berirama.

It’s a new me.

Ray Junior.

Si pewaris.

“Hahahaha.. huahahaha..”

Gendang telingaku terasa sakit. Semua anak menatapku dengan tertawa. Mata mereka menyipit seperti mata setan. Aku gila. Aku gila. Kulihat Mela menutupi mulutnya dan terbahak-bahak sampai mengeluarkan selembar tissue dari tasnya. Apakah aku sekonyol itu? Apakah kakak-kakak itu mempermainkanku? Tak mungkin. Kak Ray begitu baik. Buku itu. Aku harus cuek. Kutegakkan tubuhku dan melangkah mendekati salah seorang anak yang tertawa paling keras. Kudekatkan wajahku dan mendesis.

“Kamu..sirik, ya?”

Tawa-tawa itu terhenti seketika. Aku merasa sedikit lebih tangguh dari yang kukira. Tentu saja sebelum lengan-lengan itu meraihku dan menempelkan punggungku ke tembok.

“Heheh.. si Helm.. eh.. Kaktus ini sudah mulai rewel.”

Aku tak boleh gemetar sekarang. Aku harus berani. Kuayunkan dengkulku sekuat tenaga dan menyaksikan anak di depanku terjatuh. Darahku tersirap, sejenak keringat dingin menyeruak tengkukku. Kurasakan anak-anak lain yang memegangiku sejenak ikut terdiam melihat reaksiku yang tak terduga. Mendadak suasana menjadi riuh rendah. Kupejamkan mataku saat kepalan tangan itu terangkat.

“Hey, Rik. Kok tidak segera datang? Kamu ditunggu loh.”

Kubuka mataku perlahan. Kerumunan anak itu mendadak menyeruak. Seseorang berdiri dan bersandar di ambang pintu.

“Ayo, tunggu apa lagi?”

Kukembangkan senyumku melihat Kak Ray yang mengerutkan alisnya tak sabar. Beberapa gadis mulai kasak-kusuk di sebelahku. Anak yang terjatuh tadi tak mengucapkan sepatah katapun. Begitupula anak-anak yang memegangiku. Kalian baru tahu, ya? Aku salah seorang dari mereka. Kulangkahkan kakiku keluar kelas, bergabung dengan Kak Ray dan teman-temannya. Tak berapa jauh dari kelas, Kak Ray berbisik di telingaku.

“Bodoh. Jangan pernah memejamkan mata.”

Beberapa kakak yang menguping tertawa. Kurasakan wajahku memerah.

Bab VII

Hubunganku dengan Kak Ray semakin dekat. Kak Ray mulai menjemputku sebelum ekskul basket, dan mengantarku pulang setelahnya. Aku sangat mengagumi kemampuan Kak Ray berkomunikasi dengan papa dan mama. Kedua orang tuaku sering membincangkan kebaikan-kebaikannya di meja makan. Aku merasa semakin bangga saat mereka menganjurkanku untuk bisa menjadikan Kak Ray sebagai teladanku.Anak-anak itu? Mereka tak pernah lagi mencemoohku setelah kejadian itu. Mereka justeru berubah seratus delapan puluh derajat. Anak-anak pria selalu mengerubungiku dan bertanya-taya tentang informasi terbaru di dunia elite kakak kelas. Gadis-gadis mulai melirik ke arahku dengan malu-malu. Beberapa dari mereka bahkan mulai dijodoh-jodohkan denganku. Aku sendiri tak menyadari perubahan yang terjadi padaku. Semenjak ikut ekskul basket beratku berkurang jauh. Pipiku yang semula seperti bakpao sekarang sudah mengempis–setidaknya istilah yang tepat menurutku. Buku yang diberikan Kak Ray padaku tempo hari sangat bermanfaat. Apalagi setelah aku berhasil memasuki kamarnya –yang ternyata sangat berantakan– aku bisa membaca apapun yang aku inginkan. Mulai dari cara menjadi pendengar yang baik, cara berkomunikasi dengan orang-orang dengan keaneka ragaman mereka. Aku mulai bisa membuat mereka tertawa. Aku mulai bisa memberikan nuansa kehadiranku di tengah-tengah mereka. Dan itu sungguh menceriakan hidupku dari sisi yang belum pernah kualami sebelumnya. Sampai tiba pelajaran ke-enam. Wanita dan Cinta.

“Ehm, Rik. Mau temani aku ke tata usaha?”

“Huh?” Kupandangi wajah gadis itu dengan seksama. Dalam hati aku tertawa. Alangkah konyolnya gadis ini. Ternyata masih banyak gadis yang lebih cantik darimu. Lalu kenapa aku harus mau?

“Aku ma..”

“Please.”

Dan kini aku berjalan mengiringinya ke ruang tata usaha. Menyebalkan. Mengingat betapa enam bulan lalu gadis ini menamparku di depan teman-temannya. Dan inilah. Dan itulah. Konyol benar.

“Rik, maafkan aku waktu itu.”

“Oh, yang mana?”

“Jangan menggodaku,” Mela menundukkan kepalanya, “Kamu tahu.”

“Aku sudah lupa.”

“Rik.”

“Yang kamu menamparku? Wah, aku barusan lupa.”

Kubiarkan gadis itu mencubit lenganku dan berlari malu-malu. Mendadak rasa suka itu datang lagi.

Pelajaran ke-enam kuhabiskan semalaman bersama Kak Ray di kamarnya. Kak Ray menunjukkan foto-foto gadis yang pernah dikencaninya. Aku terkagum-kagum melihat beberapa gadis yang berasal dari SMP lain. Selebihnya, aku berusaha keras mencerna semua yang dikatakannya dalam otakku. Semua. Sampai aku hapal.

Bab VII

Inikah rasanya?

Kubuka perlahan kancing baju gadis itu. Menelan air liurku saat menatap buah dada yang menyembul dari balik bra itu. Ingatanku melayang pada selorohan Kak Ray, “Payudara yang paling asyik adalah payudara muda yang sama sekali belum pernah tersentuh.”

Itu sebuah kenyataan.

Kugerakkan lenganku dan menekan kulit payudara itu, merasakan kekenyalannya di jemariku. Mela mendesah dan meraba punggungku. Kujulurkan lidahku dan menjilat apapun yang bisa kujilat. Kususupkan jemariku ke balik cup bra-nya dan bergetar saat merasakan puting susunya. Luar biasa. Inikah yang dinamakan payudara? Inikah yang disebut puting susu? Kutarik cup itu ke atas dan membuka mataku lebar-lebar, mengamati setiap lekuk payudara di hadapanku. Mela mendesah saat kukecup puting susunya. Gadis itu menggeliat penuh kenikmatan. Kugerakkan lidahku seperti yang diajarkan Kak Ray padaku semalam. Letter U. Letter S. Letter O. Dan dapat kudengar desahan itu keluar dari bibirnya.

Itu yang pertama.

Sebulan berikutnya aku mulai sedikit jarang menghabiskan waktu bersama Kak Ray, kecuali saat ekskul basket seminggu dua kali. Aku lebih banyak menghabiskan waktuku bersama Mela. Menjelajahi dan menemukan apa yang belum pernah kualami sebelumnya. Saat itu aku sudah mulai berani menelanjangi tubuh atasku dan tubuh atasnya, menempelkan ketelanjangan dada kami satu dengan lainnya. Jemariku mulai beraksi dengan lebih mahir. Aku mulai bisa memagut bibirnya sementara tanganku beraksi di dadanya. Jilatan-jilatanku pada puting susunya mulai terasa mengalir seperti kebiasaan sarapan pagi.

Bulan kedua.

Aku mulai berani mempertontonkan kemaluanku padanya. Bersama kami mempelajari cara-cara melakukan masturbasi satu dengan lainnya. Ketakjubanku saat melihat vagina untuk yang pertama kalinya di depan mataku menjadi sebuah kenangan yang tak terlupakan. Aku menyukai kelembaban liang itu saat jemariku menyentuh dan memainkan bibir-bibirnya. Aku menikmati setiap desahan yang keluar dari bibirku saat jemari Mela memainkan batang penisku. Mela sempat menjerit kaget saat spermaku menyembur dan membasahi telapak tangannya. Tepat di minggu ke tiga bulan kedua aku bersamanya, aku sudah memberanikan diri untuk menjilat kemaluannya. membiarkan wajahku dibasahi oleh cairannya. Kata-kata Kak Kemal selalu terngiang di telingaku.

“..lalu.. menjilati kemaluan mereka dan meminum cairan mereka sepuasnya. Bergantian. Dari hari ke hari. Dan mereka begitu terpesona..”

Dan aku mengerang saat Mela mencium kemaluanku dan memasukkannya ke dalam mulutnya. Benar-benar sebuah perasaan yang luar biasa. Apakah gadis-gadis yang lain juga serupa? Bergantian. Aku juga menginginkan mereka.

Bab IX

Bulan ketiga minggu kedua.

Saat itu aku bahkan masih bisa terkagum-kagum dengan Kak Ray, guruku dan sahabatku. Bahkan dengan kebengalannya, ia masih bisa menduduki rangking di sepuluh besar danem tertinggi di SMP kami. Walaupun bukan tiga besar, tapi tetap sebuah prestasi yang mengagumkan. Saat itu aku sudah positif memenangkan pemilihan Ketua OSIS. Temanku sudah begitu banyaknya. Mela juga semakin dekat denganku. Gadis-gadis sudah mulai bersuit saat aku lewat. Tak ada yang kurang dalam hidupku. Apalagi setelah papa membelikanku sebuah Honda Tiger hijau metalik. Persis seperti kepunyaan Kak Ray. Kudengar Kak Kemal juga sudah lulus dengan nilai memuaskan. Aku juga harus bisa. Kutekadkan itu. Pandai dalam bergaul dan cerdas akademik.

“Rik, mulai sekarang kamu sendiri. Sanggup?”

“Sanggup, Kak.” Kupandangi STTB dan Danem yang terselip di lengannya. Aku ingin memeluknya saat itu juga.

“Aku setelah ini di kompleks. Kalau ada apa-apa, aku di Warung Ibu.”

“Ya, Kak.”

“Pelajaran selingan, jangan menangis.”

Ia tahu. Tapi aku tak perduli. Kak Ray tersenyum dan menyeka air mata di pipiku, “Bodoh. Oh, ya. Pelajaran ketujuh. Tentang berhubungan seksual..”

“Aku tahu, Kak. Aku tahu,” isakku.

“Oh, baguslah.”

“Aku sudah melakukannya. Dengan Mela. Luar biasa.”

Aku tersenyum, mengharapkan pujian darinya.

Tapi Kak Ray mengangkat lengan kanannya dan menepukkannya di dahinya sendiri. Wajahnya terlihat pucat dan matanya membelalak.

“K..kenapa, Kak?”

“Pelajaran terakhir.. jangan sampai terjebak dan terikat.”

Kudengar Kak Ray mendesah menatapku.

Kurasakan jantungku berdegup kencang.

“Jangan terjebak. Jangan terikat.”

Satu-satunya jurus yang tersisa.

Satu-satunya yang terlewatkan.

Masa depan mendadak terbentang terlalu jelas di depan mataku.

TAMAT

Tags :Cerita 18sx,cerita seks, cerita daun muda, gadis bandung, video bugil, cerita sexs, tante,telanjang gadis indonesia, bunga citra lestari telanjang, telanjang bulat, cynthiara alona telanjang, tante girang telanjang, ayu anjani telanjang, dewi persik telanjang, telanjang artis indonesia, artis bugil telanjang

1 komentar 7 Juni 2010

Cerita 18sx – Pewaris Pertama 01

Bab I

2009

Dan kutarik bajunya. Kancing-kancing itu berserakan di permukaan lantai. Kupandangi buah dada yang bergelayutan di depanku. Tanpa terasa air liurku menetes ke dagu. Gadis ini begitu menyelerakan. Kujambak poni di kepalanya yang terkulai dan kutarik ke atas. Dapat kurasakan nafas lembut itu. Ia masih hidup, dan itu sesuatu yang menggembirakan. Kuamati bibirnya yang berdarah dan kantung matanya yang lebam. Mempesona. Kucium bibir itu, menggigitnya dengan gemas. Dan darah semakin banyak mengalir. Anyir. Kubiarkan cairan kental itu memenuhi rongga mulutku. Perlahan mata gadis itu semakin berkerut sebelum akhirnya membuka. Seperti yang kuduga. Gadis itu menjerit keras-keras menyadari ketelanjangannya. Menyenangkan. Kujilat bibir bawahnya serentak memegangi kepalanya supaya tidak berpaling. Gadis itu menggeliat, mencoba meronta melepaskan belenggu di tangannya. Tapi tentu saja usaha yang sia-sia. Kuangkat rok biru gadis itu. Pahanya yang tercancang membuka, membuatku leluasa untuk menyentuh dan memainkan lipatan vaginanya. Gadis itu melenguh dan jejak-jejak air mata mulai tampak di pipinya yang lembut.

Aku semakin bergairah saat gadis itu mengerang. Kuangkat tubuhku dan berdiri di belakangnya. Kubuka reitsleting celanaku dan membiarkan penisku yang menegang keluar. Gadis itu terus menggeliat. Menggeliat saat kutarik celana dalamnya menelusuri kulit kakinya yang putih mulus. Kugenggam penisku, menggerakkannya dengan cepat. Kurasakan nafsu sudah mencapai ubun-ubun kepalaku. Kujulurkan jemariku dan meraba liang vagina gadis itu. Si gadis meronta, mengejang sesaat, mengerang dan menjerit. Namun aku terlalu bergairah untuk memperhatikan ceceran darah di lantai yang membentuk pola tak menentu.

Dengan gerakan perlahan kuturunkan pinggulku dan menyusupkan batang penisku di lipatan pahanya. Gadis itu menjerit tertahan dan berusaha memalingkan wajahnya ke belakang. Matanya mendelik menatap senyumku. Aku menyukai kengerian yang terpancar darinya. Kulihat butir keringat mulai keluar dari pori-pori di kulit pantatnya. Indah sekali.

Kutekan batang penisku perlahan dengan gerakan vertikal. Sempit sekali. Kepala gadis itu terjatuh ke depan seiring rintihan tak jelas yang keluar dari bibirnya. Kuperhatikan batang penisku yang perlahan namun pasti menghilang di balik celah pantatnya. Geraman dan desahan keluar dari bibirku. Nikmat sekali. Gadis itu masih berusaha menggoyangkan pinggulnya ke kiri dan ke kanan. Masih berusaha menghindar. Tapi tidakkah itu justeru menambah kenikmatan yang kurasakan di ujung penisku? Tubuh gadis itu mulai melemas. Kugoyangkan pinggulku semakin cepat. Aliran darah membantuku memasuki liang vaginanya. Gemerincing rantai memenuhi ruangan. Hasratku semakin memuncak.

Dan kini ia memandangiku dengan sinis. Seperti biasanya. Lamunanku buyar seketika.

“Ngapain lihat-lihat?”

Bab II

“Mel. Jangan ketus seperti itu.”

“Biar saja. Lagian siapa yang mau dilihati olehnya.”

Ah sudahlah. Jangan bertengkar. Kupalingkan saja wajahku menatap buku yang terbuka di bawah mataku. Angka-angka serasa menari-nari di hadapanku. Kudengar Mela mendengus kesal sebelum berlalu dari hadapanku. Yah, sudahlah. Lagipula aku masih punya urusan penting yang harus kuatasi sekarang juga. Penisku mengeras. Sampai terasa sakit terjepit meja.

“Whoi, si Helm lagi on!!” Suara teriakan itu mengejutkanku.

Anak-anak yang lain mulai berkerumun dan bergunjing di sebelahku. Beberapa dari mereka tertawa dan menudingku seraya mengeluarkan kata-kata cemoohan.

“Pasti kamu lagi membayangkan Mela. Iya kan?”

Aku membenci anak-anak sok tahu itu. Tapi mereka jauh lebih kuat dariku. Dan sekarang. Aku merasa wajahku panas seperti udang rebus. Beberapa anak memegangi kedua lenganku dan menarikku berdiri, seolah ingin memperlihatkan ‘barang’ku yang menegang. Aku ingin menangis seketika itu juga. Kurasakan Mela menatapku.

Plakk!!

“Kurang ajar.”

“Sudah, Mel. Ayo kita keluar.”

Mama. Aku ingin pulang. Kurontakan lenganku dan berlari sekencang mungkin menuju gerbang sekolah. Aku tak perduli seruan beberapa siswa dan guru di belakangku. Aku tak perduli tawa mereka yang begitu menyakitkan. Tapi mengapa suara-suara itu justru menukik di gendang telingaku, walau sudah kututup rapat-rapat? Kutubruk jeruji gerbang yang terkunci itu. Air mataku sudah terlalu banyak untuk kubendung.

Mama. Aku ingin pulang. Sekarang juga.

“Nih. Jangan cengeng. Lelaki harus tegar.”

Sebuah sapu tangan coklat menempel di punggung lenganku.

Kak Ray??

Bab II

Anak itu tertawa dengan gaya begitu menyebalkan.

“Lalu begitu saja kamu menangis? Hahahaha. Alangkah tololnya.”

“Tapi, Kak,” aku mulai bergumam.

“Sini, aku ajak kamu menemui seseorang.”

Wah. Ini sesuatu yang tak pernah kusangka. Kapten tim basket mengajakku pergi bersamanya? Tapi ini masih jam sekolah.

“Cuek saja. Ayo.”

Kak Ray membisikkan beberapa kata kepada penjaga sekolah yang lalu memandangiku dengan penuh perhatian. Ketakutan mulai menyelubungiku. Tapi Mas pejaga sekolah itu malah tersenyum padaku dan membuka gembok gerbang.

“Ayo. Sebelum orang-orang usil itu datang.”

Tanpa berpikir panjang kuikuti langkah Kak Ray keluar.

Dan kini aku bersama Kak Ray di atas Tiger-nya. Benar-benar merupakan sebuah kebanggaan tersendiri bagiku dapat memeluk pinggangnya dan merasakan rambut tebalnya menyapu wajahku. Seandainya anak-anak itu dapat melihatku sekarang. Seandainya Mela melihatku sekarang.Dia pasti akan menaksirku tanpa banyak cing-cong.

“Kita ke mana, Kak?”

“Ke rumah teman.”

“Oh.” Dan bahkan kini aku bisa mencium bau asap rokok itu menyerang hidungku. Ini benar-benar luar biasa. Aku dan Kak Ray. Di atas motor kesayangannya. Koboi sekolah. Aku seolah dapat merasakan kenikmatan yang pasti dirasakan juga oleh Kak Ray.

“Sinting. Ngapain kamu di sini?”

Kupandangi anak-anak bercelana abu-abu itu dengan was-was. Bagaimana kalau mereka mengompasiku? Tapi Kak Ray malah tampak tenang-tenang saja. Senyum masih mengembang di bibirnya.

“Ini namanya Warung Ibu,” Kak Ray menatapku tanpa menghiraukan sapaan sinis dari beberapa anak. Sinis, setidaknya menurutku.

“Hoy, Ray. Ngapain ke sini?”

“Heheh,” Kak Ray tertawa,” mana Kak Kemal?”

Beberapa anak yang lain tertawa. Salah seorang yang paling dekat dengan Kak Ray merogohkan jemarinya ke kantung baju Kak Ray dan mengambil sebungkus Marlboro.

Setelah menyalakan rokoknya, anak yang barusan berteriak.

“Mal!”

Seraut wajah menoleh dari samping warung. Sekejap aku terkesiap merasakan kemiripan wajah itu dengan wajah Kak Ray. Bukan wajahnya, tapi pandangan matanya. Setengah terkatup, nakal dan menggoda. Kulirik Kak Ray yang tersenyum simpul. Orang yang duduk lesehan di samping warung itu juga tersenyum.

“Hik hik hik, sini Ray.”

Tawa itu sedikit menyeramkan. Tapi getarannya penuh daya tarik. Aku jadi teringat cersil Kho Ping Hoo, tentang semacam tenaga dalam yang bisa tersalurkan lewat getaran suara. Tapi aku tak bisa tersenyum saat itu. Hanya mengikuti langkah Kak Ray. Aku bahkan tak berani duduk lesehan di atas trotoar dimana orang itu duduk. Aku memilih duduk di pinggir trotoar, setengah menggantungkan pantatku.

Kulihat Kak Ray tertawa-tawa dengan orang itu, mengatakan hal-hal yang tak jelas di telingaku, sambil sesekali melirikku penuh arti.

“Hik hik hik, jadi begitu ceritanya. Hey, sini kamu.”

Tawa seram itu lagi. Tapi kali ini aku seperti tertarik mendekati orang itu. Lagipula, ia memanggilku. Kak Ray hanya tersenyum. Orang itu menatapku. Kulihat lingkaran tengah matanya yang kecoklatan seakan berusaha menelanjangiku. Lalu orang itu terkekeh.

“Hik hik hik, persis Ray dua tahun yag lalu. Kacangan.”

Kulihat Kak Ray tertawa sambil menggaruk-garuk rambutnya.

“Jangan begitu ah, Kak.”

“Benar, kok. Lengkap dengan sisa air matanya.”

Air mata?

Jadi dulu Kak Ray..

Bab IV

“Kita perkosa saja rame-rame.”

“Telanjangi, perkosa, potong tujuh..”

“..buang ke semak-semak.”

“Gantung, diperkosa. Pokoknya ‘salome’.”

“Sodomi.”

“Ah, dasar maniak.”

Kulihat wajah-wajah itu seolah menjadi begitu liar. Dan Kak Ray duduk diantara mereka seolah-olah merupakan bagian dari kerumunan itu. Aku sebenarnya tak menyukai suasana buas ini, tapi kupaksakan diriku untuk tetap tertawa. Lagipula aku sempat membayangkannya pagi tadi.Kulihat Kak Kemal–kami sudah berkenalan tadi– menghisap rokoknya dan menghembuskan asap dari sudut bibirnya.

“Bagaimana, Rik? Kamu mau?”

“T..tidak usah r..repot-repot, Kak.”

Aku ingin memaki diriku sendiri, mengapa aku bisa membuat mereka tertawa saat itu. Termasuk Kak Ray.

“Hey,” salah seorang dari kakak-kakak itu berseru, “Tak perlu sungkan dengan kami. Teman Ray berarti teman kami juga.”

“I..iya, K..kak.”

Aku sangat ingin memaki diriku.

“Kamu mau tahu apa yang dibuat Ray tempo dulu?”

“Wah, ini off the record, Kak.”

Nada Kak Ray terdengar memprotes. Tapi mataku yang memancarkan sinar keingintahuan tak bisa menipu mereka.

Kak Kemal mendekatiku dan berbisik lirih.

“Ia menelanjangi mereka semua. Satu demi satu. Helai demi helai..”

“Kak!!”

“..lalu.. menjilati kemaluan mereka dan meminum cairan mereka sepuasnya. Bergantian. Dari hari ke hari. Dan mereka begitu terpesona, bahkan kami sendiri nyaris tak kebagian.”

Kerumunan anak SMA itu tertawa bersamaan, salah seorang dari mereka menimpali, “Nyaris semua. Kecuali kamu, Mal.” Dan yang ditimpali hanya terkekeh. Seolah merasa bangga. Wajah Kak Ray terlihat memerah.

“Tentu, dong. Mana mungkin murid mengalahkan gurunya, hik hik hik.”

Kutatap Kak Kemal dengan penuh kekaguman. Bahkan Kak Ray yang selalu gonta-ganti pacar masih mempunyai seorang guru.

“Aaahh..” tanpa sadar desahan itu keluar dari mulutku.

“Kamu mau seperti dia, Rik?”

Mendadak suasana menjadi begitu khidmat. Semua mata –termasuk Kak Ray– menatapku dengan penuh tanda tanya. Kurasa jawabanku sudah jelas.

Bersambung ke bagian 02

Tags : Cerita 18sx,cerita seks, cerita daun muda, gadis bandung, video bugil, cerita sexs, tante,telanjang gadis indonesia, bunga citra lestari telanjang, telanjang bulat, cynthiara alona telanjang, tante girang telanjang, ayu anjani telanjang, dewi persik telanjang, telanjang artis indonesia, artis bugil telanjang

1 komentar 7 Juni 2010

Cerita 18sx – Daun-daun Muda

Hai, para penikmat cerita dewasa, kenalkan nama saya Andra (nggak nama sebenarnya). Umur 24 tahun dan sekarang lagi kuliah di sebuah PTS di Kediri. Aku termasuk cowok yang populer di kampus (sekeren namaku). Tapi aku punya kelemahan, saat ini aku udah nggak perjaka lagi (emang sekarang udah nggak jamannya keperjakaan diutamakan). Nah, hilangnya perjakaku ini yang pengin aku ceritakan.

Aku punya banyak cewek. Diantaranya banyak cewek itu yang paling aku sukai adalah Rere. Tapi dalam kisah ini bukan Rere tokoh utamanya. sebab hilangnya perjakaku nggak ada sangkut pautnya sama Rere. Malah waktu itu aku aku lagi marahan sama doski.

Waktu itu aku nganggap Rere nggak bener-bener sayang sama aku. Aku lagi jutek banget sama dia. Habisnya udah lima bulan pacaran, masak Rere hanya ngasih sun pipi doang. Ceritanya pas aku ngapel ke tempat kostnya, aku ngajakin dia ML. Habis aku pengin banget sih. (keseringan mantengin VCD parto kali yee..). Tapi si Rere menolak mentah-mentah. Malahan aku diceramahin, busyet dah!

Makanya malam minggu itu aku nggak ngapel (ceritanya ngambek). Aku cuman duduk-duduk sambil gitaran di teras kamar kostku. Semua teman kostku pada ngapel atau entah nglayap kemana. Rumah induk yang kebetulan bersebelahan dengan rumah kost agak sepi. Sebab sejak tadi sore ibu kost dan bapak pergi ke kondangan. Putri tertua mereka, Murni sudah dijemput pacarnya sejam yang lalu. Sedang Maidy, adiknya Murni entah nglayap kemana. Yang ada tinggal Maya, si bungsu dan Ersa, sepupunya yang kebetulan lagi berkunjung ke rumah oomnya. Terdengar irama lagu India dari dalam rumah induk, pasti mereka lagi asyik menonton Gala Bollywood.

Nggak tahu, entah karena suaraku merdu atau mungkin karena suaraku fals plus berisik, Maya datang menghampiriku.

“Lagi nggak ngapel nih, Mas Andra?” sapanya ramah (perlu diketahui kalau Maya memang orangnya ramah banget)

“Ngapel sama siapa, May?” jawabku sambil terus memainkan Sialannya Cokelat.

“Ah.. Mas Andra ini pura-pura lupa sama pacarnya.”

Gadis itu duduk di sampingku (ketika dia duduk sebagian paha mulusnya terlihat sebab Maya cuman pakai kulot sebatas lutut). Aku cuman tersenyum kecut.

“Udah putus aku sama dia.” jawabku kemudian.

Nggak tahu deh, tapi aku menangkap ada yang aneh dari gelagat Maya. Gadis 14 tahun itu nampaknya senang mendengar aku putus. Tapi dia berusaha menutup-nutupinya.

“Yah, kacian deh.. habis putus sama pacar ya?” godanya. “Kayaknya bete banget lagunya.”

Aku menghentikan petikan gitarku.

“Yah, gimana ya.. kayaknya aku lebih suka sama Maya deh ketimbang sama dia.”

Nah lo! Kentara benar perubahan wajahnya. Gadis berkulit langsep agak gelap itu merah mukanya. aku segera berpikir, apa bener ya gosip yang beredar di tempat kost ini kalo si Maya ada mau sama aku.

“May, kok diam aja? Malu yah..”

Maya melirik ke arahku dengan manja. Tiba-tiba saja batinku ngrasani, gadis yang duduk di sampingku ini manis juga yah. Masih duduk di kelas dua smp tapi kok perawakannya udah kayak anak sma aja. Tinggi langsing semampai, bodinya bibit-bibit peragawati, payudaranya.. waduh kok besar juga ya. Tiba-tiba saja jantungku berdebar memandangi tubuh Maya yang cuman pakai kaos ketat tanpa lengan itu. Belahan dadanya sedikit tampak diantara kancing-kancing manisnya. Ih, ereksiku naik waktu melirik pahanya yang makin kelihatan. Kulit paha itu ditumbuhi bulu-bulu halus tapi cukup lebat seukuran cewek.

“Mas, daripada nganggur gimana kalo Mas Andra bantu aku ngerjain peer bahasa inggris?”

“Yah Maya, malam minggu kok ngerjain peer? Mendingan pacaran sama Mas Andra, iya nggak?” pancingku.

“Ah, Mas Andra ini bisa aja godain Maya..”

Maya mencubit pahaku sekilas. Siir.. Wuih, kok rasanya begini. Gimana nih, aku kok kayak-kayak nafsu sama ini bocah. Waduh, penisku kok bangun yah?

“Mau nggak Mas, tolongin Maya?”

“Ada upahnya nggak?”

“Iiih, dimintai tolong kok minta upah sih..”

Cubitan kecil Maya kembali memburu di pahaku. Siir.. kok malah tambah merinding begini ya?

“Kalau diupah sun sih Mas Andra mau loh.” pancingku sekali lagi.

“Aah.. Mas Andra nakal deh..”

Sekali lagi Maya mencubit pahaku. Kali ini aku menahan tangan Maya biar tetap di pahaku. Busyet, gadis itu nggak nolak loh. Dia cuman diam sambil menahan malu.

“Ya udah, Maya ambil bukunya trus ngerjain peernya di kamar Mas Andra aja. Nanti tak bantu ngerjain peer, tak kasih bonus pelajaran pacaran mau?”

Gadis itu cuman senyum saja kemudian masuk rumah induk. Asyik.. pasti deh dia mau. Benar saja, nggak sampai dua menit aku sudah bisa menggiringnya ke kamar kostku.

Kami terpaksa duduk di ranjang yang cuman satu-satunya di kamar itu. Pintu sudah aku tutup, tapi nggak aku kunci. Aku sengaja nggak segera membantunya ngerjain peer, aku ajak aja dia ngobrol.

“Sudah bilang sama Ersa kalo kamu kemari?”

“Iya sudah, aku bilang ke tempat Mas Andra.”

“Trus si Ersa gimana? Nggak marah?”

“Ya enggak, ngapain marah.”

“Sendirian dong dia?”

“Mas Andra kok nanyain Ersa mulu sih? Sukanya sama Ersa ya?” ujar Maya merajuk.

“Yee.. Maya marah. Cemburu ya?”

Maya merengut, tapi sebentar sudah tidak lagi. Dibuka-bukanya buku yang dia bawa dari rumah induk.

“Maya udah punya pacar belum?”tanyaku memancing.

“Belum tuh.”

“Pacaran juga belum pernah?”

“Katanya Mas Andra mau ngajarin Maya pacaran.” balas Maya.

“Maya bener mau?” Gayung bersambut nih, pikirku.

“Pacaran itu dasarnya harus ada suka.” lanjutku ketika kulihar Maya tertunduk malu. “Maya suka sama Mas Andra?”

Maya memandangku penuh arti. Matanya seakan ingin bersorak mengiyakan pertanyaanku. tapi aku butuh jawaban yang bisa didengar. Aku duduk merapat pada Maya.

“Maya suka sama Mas Andra?” ulangku.

“Iya.” gumamnya lirih.

Bener!! Dia suka sama aku. Kalau gitu aku boleh..

“Mas Andra mau ngesun Maya, Maya nurut aja yah..” bisikku ke telinga Maya

Tanganku mengusap rambutnya dan wajah kami makin dekat. Maya menutup matanya lalu membasahi bibirnya (aku bener-bener bersorak sorai). Kemudian bibirku menyentuh bibirnya yang seksi itu, lembut banget. Kulumat bibir bawahnya perlahan tapi penuh dengan hasrat, nafasnya mulai berat. Lumatanku semakin cepat sambil sekali-sekali kugigit bibirnya.

Mmm..muah.. kuhisap bibir ranum itu.

“Engh.. emmh..” Maya mulai melenguh.

Nafasnya mulai tak beraturan. Matanya terpejam rapat seakan diantara hitam terbayang lidah-lidah kami yang saling bertarung, dan saling menggigit. Tanganku tanpa harus diperintah sudah menyusup masuk ke balik kaos ketatnya. Kuperas-peras payudara Maya penuh perasaan. ereksiku semakin menyala ketika gundukan hangat itu terasa kenyal di ujung jari-jariku.

Bibirku merayap menyapu leher jenjang Maya. Aku cumbui leher wangi itu. Kupagut sambil kusedot perlahan sambil kutahan beberapa saat. Gigitan kecilku merajang-rajang birahi Maya.

“Engh.. Mass.. jangan.. aku uuh..”

Ketika kulepaskan maka nampaklah bekasnya memerah menghias di leher Maya.

“May.. kaosnya dilepas ya sayang..”

Gadis itu hanya menggangguk. Matanya masih terpejam rapat tapi bibirnya menyunggingkan senyum. Nafasnya memburu. Sambil menahan birahi, kubuka keempat kancing kaos Maya satu persatu dengan tangan kananku. Sedang tangan kiriku masih terus meremas payudara Maya bergantian dari balik kaos. Tak tega rasanya membiarkan Maya kehilangan kenikmatannya. Jemari Maya menggelitik di dada dan perutku, membuka paksa hem lusuh yang aku kenakan. Aku menggeliat-geliat menahan amukan asmara yang Maya ciptakan.

Kaos pink Maya terjatuh di ranjang. Mataku melebar memandangi dua gundukan manis tertutup kain pink tipis. Kupeluk tubuh Maya dan kembali kuciumi leher jenjang gadis manis itu, aroma wangi dan keringatnya berbaur membuatku semakin bergairah untuk membuat hiasan-hiasan merah di lehernya.Perlahan-lahan kutarik pengait BH-nya, hingga sekali tarik saja BH itupun telah gugur ke ranjang. Dua gundukan daging itupun menghangat di ulu hatiku.

Kubaringkan perlahan-lahan tubuh semampai itu di ranjang. Wow.. payudara Maya (yang kira-kira ukuran 34) membengkak. Ujungnya yang merah kecoklatan menggairahkan banget. Beberapa kali aku menelan ludah memandangi payudara Maya. Ketika merasakan tak ada yang kuperbuat, Maya memicingkan mata.

“May.. adekmu udah gede banget May..”

“Udah waktunya dipetik ya mass..”

“Ehem, biar aku yang metik ya May..”

Aku berada di atas Maya. Tanganku segera bekerja menciptakan kenikmatan demi kenikmatan di dada Maya.

Putar.. putar.. kuusap memutar pentel bengkak itu.

“Auh..Mass.. Aku nggak tahan Mass.. kayak kebelet pipis mas..” rintih Maya.

Tak aku hiraukan rintihan itu. Aku segera menyomot payudara Maya dengan mulutku.

“Mmm.. suup.. mm..” kukenyot-kenyot lalu aku sedot putingnya.

“Mass.. sakiit..” rintih Maya sambil memegangi vaginanya.

Sekali lagi tak aku hiraukan rintihan itu. Bagiku menggilir payudara Maya sangat menyenangkan. Justru rintihan-rintihan itu menambah rasa nikmat yang tercipta.

Tapi lama kelamaan aku tak tega juga membuat Maya menahan kencing. Jadi aku lorot saja celananya. Dan ternyata CD pink yang dikenakan Maya telah basah.

“Maya kencing di celana ya Mass?”

“Bukan sayang, ini bukan kencing. Cuman lendir vaginamu yang cantik ini.”

Maya tertawa mengikik ketika telapak tanganku kugosok-gogokkan di permukaan vaginanya yang telah basah. Karena geli selakangnya membuka lebar. Vaginanya ditumbuhi bulu lebat yang terawat. Lubang kawin itu mengkilap oleh lendir-lendir kenikmatan Maya. Merah merona, vagina yang masih perawan.

Tak tahan aku melihat ayunya lubang kawin itu. Segera aku keluarkan penisku dari sangkarnya. Kemudian aku jejalkan ke pangkal selakangan yang membuka itu.

“Tahan ya sayang..engh..”

“Aduh.. sakiit mass..”

“Egh.. rileks aja..”

“Mas.. aah!!” Maya menjambak rambutku dengan liar.

Slup.. batang penisku yang perkasa menembus goa perawan Maya yang masih sempit. Untung saja vagina itu berair jadi nggak terlalu sulit memasukkannya. Perlahan-lahan, dua centi lima centi masih sempit sekali.

“Aduuh Mass.. sakiit..” rintih Maya.

Aku hentakkan batang penisku sekuat tenaga.

“Jruub..”

Langsung amblas seketika sampai ujungnya menyentuh dinding rahim Maya. Batang penisku berdenyut-denyut sedikit sakit bagai digencet dua tembok tebal. Ujungnya tersentuh sesuatu cairan yang hangat. Aku tarik kembali penisku. Lalu masukkan lagi, keluar lagi begitu berkali-kali. Rasa sakitnya berangsur-angsur hilang.

Aku tuntun penisku bergoyang-goyang.

“Sakit sayang..” kataku.

“Enakk..eungh..” Maya menyukainya.

Ia pun ikut menggoyang-goyangkan pantatnya. Makin lama makin keras sampai-sampai ranjang itu berdecit-decit. Sampai-sampai tubuh Maya berayun-ayun. Sampai-sampai kedua gunung kembar Maya melonjak-lonjak. Segera aku tangkap kedua gunung itu dengan tanganku.

“Enggh.. ahh..” desis Maya ketika tanganku mulai meremas-remasnya.

“Mass aku mau pipis..”

“Pipis aja May.. nggak papa kok.”

“Aaach..!!”

“Hegh..engh..”

“Suur.. crot.. crot.. “

Lendir kawin Maya keluar, spermaku juga ikut-ikutan muncrat. Kami telah sama-sama mencapai orgasme.

“Ah..” lega. Kutarik kembali penisku nan perkasa. Darah perawan Maya menempel di ujungnya berbaur dengan maniku dan cairan kawinnya. Kupeluk dan kuciumi gadis yang baru memberiku kepuasan itu. Mayapun terlelap kecapaian.

Kreek.. Pintu kamarku dibuka. Aku segera menengok ke arah pintu dengan blingsatan. Ersa terpaku di depan pintu memandangi tubuh Maya yang tergeletak bugil di ranjang kemudian ganti memandangi penisku yang sudah mulai melemas. Tapi aku juga ikut terpaku kala melihat Ersa yang sudah bugil abis. Aku tidak tahu tahu kalau sejak Maya masuk tadi Ersa mengintip di depan kamar.

“Ersa? Ng.. anu..” antara takut dan nafsu aku pandangi Ersa.

Gadis ini lebih tua dua tahun diatas Maya. Pantas saja kalau dia lebih matang dari maya. Walau wajahnya tak bisa menandingi keayuan Maya, tapi tubuhnya tak kalah menarik dibanding Maya, apalagi dalam keadaan full naked kayak gitu.

“Aku nggak akan bilang ke oom dan tante asal..”

“Asal apaan?”

Mata Ersa sayu memandang ke arah Maya dan penisku bergantian. Lalu dia membelai-belai payudara dan vaginanya sendiri. Tangan kirinya bermain-main di belahan vaginanya yang telah basah. Ersa sengaja memancing birahiku. Melihat adegan itu, gairahku bangkit kembali, penisku ereksi lagi. Tapi aku masih ingin Ersa membarakan gairahku lebih jauh.

Ersa duduk di atas meja belajarku. Posisi kakinya mekangkang sehingga vaginanya membuka merekah merah. Tangannya masih terus meremas-remas susunya sendiri. Mengangkatnya tinggi seakan menawarkan segumpal daging itu kepadaku.

“Mas Andra.. sini.. ay..”

Aku tak peduli dia mengikik bagai perek. Aku berdiri di depan gadis itu.

“Ayo.. Mas mainin aku lebih hot lagi..” pintanya penuh hasrat.

Aku gantiin Ersa meremas-remas payudaranya yang ukuran 36 itu. Puting diujungnya sudah bengkak dan keras, tanda Ersa sudah nafsu banget.

“Eahh.. mmhh..” rintihannya sexy sekali membuatku semakin memperkencang remasanku.

“Eahh.. mas.. sakit.. enak..”

Ersa memainkan jarinya di penisku. Mempermainkan buah jakarku membuatku melenguh keasyikan. “Ers.. tanganmu nakal banget..”

Gadis itu cuman tertawa mengikik tapi terus mempermainkan senjataku itu. Karena gemas aku caplok susu-susu Ersa bergantian. Kukenyot sambil aku tiup-tiup.

“Auh..”

Ersa menekan batang penisku.

“Ers.. sakit sayang” keluhku diantara payudara Ersa.

“Habis dingin kan mas..” balasnya.

Setelah puas aku pandangi wajah Ersa.

“Ersa, mau jurus baru Mas Andra?”

Gadis itu mengangguk penuh semangat.

“Kalau gitu Ersa tiduran di lantai gih!”

Ersa menurut saja ketika aku baringkan di lantai. Ketika aku hendak berbalik, Ersa mencekal lenganku. Gadis yang sudah gugur rasa malunya itu segera merengkuhku untuk melumat bibirnya. Serangan lidahnya menggila di ronga mulutku sehingga aku harus mengeluarkan tenaga ekstra untuk mengimbanginya. Tanganku dituntunnya mengusap-usap lubang kelaminnya. Tentu saja aku langsung tanggap. Jari-jariku bermain diantara belantara hitam nan lebat diatas bukit berkawah itu. “Mmm.. enghh..”

Kami saling melenguh merasakan sejuta nikmat yang tercipta.

Aku ikut-ikutan merebah di lantai. Aku arahkan Ersa untuk mengambil posisi 69, tapi kali ini aku yang berada di bawah. Setelah siap, tanpa harus diperintah Ersa segera membenamkan penisku ke dalam mulutnya (aku jadi berpikiran kalau bocah ini sudah berpengalaman).

Ersa bersemangat sekali melumat penisku yang sejak tadi berdenyut-denyut nikmat. Demikian juga aku, begitu nikmatnya menjilati lendir-lendir di setiap jengkal vagina Ersa, sedang jariku bermain-main di kedua payudaranya. Srup srup, demikian bunyinya ketika kusedot lendir itu dari lubang vagina Ersa. Ukuran vagina Ersa sedikit lebih besar dibanding milik Maya, bulu-bulunya juga lebih lebat milik Ersa. Dan klitorisnya.. mm.. mungil merah kenyal dan mengasyikkan. Jadi jangan ngiri kalo aku bener-bener melumatnya dengan lahap.

“Ngngehh..uuhh..” lenguh Ersa sambil terus melumat senjataku.

Sedang lendir kawinnya keluar terus.

“Erss.. isep sayang, isepp..” kataku ketika aku merasa mau keluar.

Ersa menghisap kuat-kuat penisku dan croott.. cairan putih kental sudah penuh di lubang mulut Ersa. Ersa berhenti melumat penisku, kemudian dia terlentang dilantai (tidak lagi menunggangiku). Aku heran dan memandangnya.

“Aha..” ternyata dia menikmati rasa spermaku yang juga belepotan di wajahnya, dasar bocah gemblung.

Beberapa saat kemudian dia kembali menyerang penisku. Mendapat serangan seperti itu, aku malah ganti menyerangnya. Aku tumbruk dia, kulumat bibirnya dengan buas. Tapi tak lama Ersa berbisik, “Mas.. aku udah nggak tahan..”

Sambil berbisik Ersa memegangi penisku dengan maksud menusukannya ke dalam vaginanya.

Aku minta Ersa menungging, dan aku siap menusukkan penisku yang perkasa. penisku itu makin tegang ketika menyentuh bibir vagina. Kutusuk masuk senjataku melewati liang sempit itu.

“Sakit Mas..”

Sulitnya masuk liang kawin Ersa, untung saja dindingnya sudah basah sejak tadi jadi aku tak terlalu ngoyo.

“Nggeh.. dikit lagi Ers..”

“Eeehh.. waa!!”

“Jlub..” 15 centi batang penisku amblas sudah dikenyot liang kawin Ersa. Aku diamkan sebentar lalu aku kocok-kocok seirama desah nafas.

“Eeehh.. terus mass.. uhh..”

Gadis itu menggeliat-geliat nikmat. Darah merembes di selakangnya. Entah sadar atau tidak tangan Ersa meremas-remas payudaranya sendiri.

Lima belas menit penisku bermain petak umpet di vagina Ersa. Rupaya gadis itu enggan melepaskan penisku. Berulang-ulang kali spermaku muncrat di liang rahimnya. Merulang-ulang kali Ersa menjerit menandakan bahwa ia berada dipucuk-pucuk kepuasan tertinggi. Hingga akhirnya Ersa kelelahan dan memilih tidur terlentang di samping Maya.

Capek sekali rasanya menggarap dua daun muda ini. Aku tak tahu apa mereka menyesal dengan kejadian malam ini. Yang pasti aku tak menyesal perjakaku hilang di vagina-vagina mereka. Habisnya puas banget. Setidaknya aku bisa mengobati kekecewaanku kepada Rere.

Malam makin sepi. Sebelum yang lain pada pulang, aku segera memindahkan tubuh Maya ke kamarnya lengkap dengan pakaiannya. Begitu juga dengan Ersa. Dan malam ini aku sibuk bergaya berpura-pura tak tahu-menahu dengan kejadian barusan. Lagipula tak ada bukti, bekas cipokan di leher Maya sudah memudar.

He.. he.. he.. mereka akan mengira ini hanya mimpi.

TAMAT

Tags : cerita 18sx,cerita seks, cerita daun muda, gadis bandung, video bugil, cerita sexs, tante,telanjang gadis indonesia, bunga citra lestari telanjang, telanjang bulat, cynthiara alona telanjang, tante girang telanjang, ayu anjani telanjang, dewi persik telanjang

1 komentar 24 Mei 2010

Cerita 18sx – Perawatan Medis Plus – 1

Februari, Senin 2010

Saya terbangun dipagi hari dengan perasaan sakit yang luar biasa. Kepala saya terasa berat, badan saya panas sekali, dan badan tidak terasa bertenaga. Saya mencoba bangun dan sarapan. Setelah makan, saya malah terasa semakin lemas. Akhirnya saya SMS sekretaris saya untuk bilang tidak masuk kantor karena sakit. Jam 11 siang saya terbangun, kepala terasa semakin berat dan lemas sekali.

“Something is wrong” gumam saya.

Saya minta pembantu saya untuk panggil taksi. Setelah taksi tiba, saya berangkat dan minta diantar ke rumah sakit swasta yang besar di daerah kuningan, Jakarta. Saya langsung masuk ke unit gawat darurat dan tim medis langsung menangani saya. Darah saya diambil untuk dites dan sebuah infus dipasang dilengan kiri saya. Sejam kemudian, dokter memberitahukan hasil lab yang menyatakan trombosit darah saya jauh dibawah normal. Saya diminta untuk diopname.

Sambil mengisi registrasi rumah sakit, saya minta kamar VIP dan menelepon orang tua saya bahwa saya diopname dan minta dibawakan baju ganti dari rumah saya. Setelah urusan beres, saya langsung diantar ke kamar VIP. Selesai makan siang dan obat, saya langsung tidur dengan pulas. Sore hari, orang tua saya datang membawa baju ganti, dsb. Saya wanti-wanti mereka untuk tidak memberitahu kakak atau saudara saya karena tidak mau diganggu selama diopname.

Selasa

Jam 5:45 pintu kamar saya terbuka, seseorang membawa sarapan disusul oleh seorang pria yang membawa kotak putih, rupanya ia perlu mengambil darah saya untuk dibawa ke lab. Kepala saya masih sakit, badan masih panas dan masih tak bertenaga. Selesai sarapan kembali saya tertidur. Jam 6:30, seorang suster masuk.

“Selamat pagi Pak Arthur, saya mandikan ya supaya segar” kata suster.

Saya membuka mata sedikit dan mengangguk. Si suster dengan cekatan membuka baju dan celana tidur saya. Seluruh tubuh saya dioleskan dengan sabun cair lalu digosok setelah itu dilap dengan handuk basah. Selama dimandikan, saya menutup mata saya karena masih pusing. Sesekali saya membuka mata, saya perhatikan si suster bernama Mia (bukan nama asli). Tubuhnya langsing, rambutnya pendek, dadanya terlihat membusung dibalik baju seragam perawatnya.

“Pak, mau dibersihkan daerah selangkangan?” suster Mia bertanya.

“Ya boleh aja” jawab saya malas-malasan.

Celana dalam saya dibuka dan kembali suster Mia mengoleskan sabun cair dan membersihkan daerah selangkangan lalu dilap dengan handuk basah. Selama dibersihkan didaerah selangkangan, kontol saya terkulai dengan lemas. Ternyata urat mesum saya sedang tidak beraksi sama sekali, hahahaha. Setelah beres, suster Mia membantu saya memakai pakaian yang bersih dari tas saya lalu saya mengucapkan terima kasih. Jam 8, dokter datang untuk memeriksa kondisi saya kemudian saya melanjutkan tidur.

Rabu

Rutinitas pagi hari kembali terulang, sarapan diantar lalu datang si pria yang meminta darah saya (udah kayak drakula minta darah) dan kembali suster Mia datang untuk memandikan saya. Kepala saya masih sakit walaupun tidak separah kemarin dan badah masih hangat. Kali ini sambil dimandikan, mata saya terbuka lebar dan tertuju pada TV walaupun sekali-sekali melirik ke tubuh suster Mia. Wajahnya saya perhatikan, ternyata cantik juga dia. Jika dilihat sepintas mirip Wanda Hamidah. Kalau tersenyum, maka sebuah lesung pipit akan terlihat di pipi sebelah kanan. Kembali suster Mia menawarkan untuk membersihkan daerah selangkangan, saya perbolehkan. Kontol saya masih terkulai lemas. Rupanya badan lemas memang tidak akan mampu membuat kontol berdiri.

Saya melewati hari ini dengan lebih banyak tidur supaya cepat sehat. Sekali-sekali saya nonton TV tapi setelah itu kembali tidur.

Kamis

Pagi ini saya merasa cukup segar, kepala sudah tidak lagi sakit, temperatur badan sudah kembali normal dan tenaga tubuh terasa sudah membaik. Tidak sabar saya menunggu dimandikan suster Mia. Selesai sarapan dan pengambilan darah, suster Mia datang.

“Halo selamat pagi, kelihatannya sudah segar Pak Arthur” kata Mia dengan tersenyum.

“Panggil Arthur saja, enggak usah pakai Pak. Iya, sudah jauh lebih baik” kata saya dengan tersenyum.

“Wah kalau begitu enggak perlu ya dimandikan, bisa mandi sendiri” goda Mia.

“Kalau saya sehat, saya tidak ada disini, suster” jawab saya sambil tertawa.

“Hahaha, bisa saja Arthur” kata Mia.

Mia membuka baju dan celana tidur saya. Saat mengoles dada dan punggung saya dengan sabun cair, saya melirik kearah dadanya, wah besar juga! Mia menggosok dada, punggung dan lengan saya. Bibir Mia yang merah terasa dekat sekali saat itu membasuh dada saya dengan handuk basah. Ingin rasanya menciumnya. Lalu Mia melanjutkan membersihkan paha dan kaki saya. Tangannya yang lembut saat menyentuh paha saya tiba-tiba membangunkan urat mesum saya dan langsung kontol saya berdiri, hore! Mia tetap melanjutkan membasuh paha dan kaki walaupun sekali-sekali saya menangkap matanya melirik kearah kontol saya.

“Mau dibersihkan selangkangannya?” tanya Mia.

“Boleh, silakan” kata saya sok cuek.

Tangan Mia meraih celana dalam saya dan perlahan ia menariknya kebawah. Kontol saya langsung terayun kearahnya. Mia lalu membalur sabun cair di daerah selangkanganku. Tangannya terasa lembut sekali dan kontol saya terasa semakin mengeras.

“Maaf ya kalau ereksi” jawa saya sedikit malu.

“Tidak apa-apa kok, normal kok” jawab Mia sambil tersenyum.

Duh senyumannya membuat jantung saya berdegup dengan kencang. Mia kelihatannya hati-hati untuk tidak sampai menyenggol kontol saya. Selesai mandi, Mia membantu saya memakai baju lalu saya nonton TV sambil menunggu dokter datang.

Jum’at

Saya sudah merasa sehat sekali. Saya kembali membayangkan kenikmatan dimandikan oleh si cantik suster Mia. Sarapan dan tukang palak darah pun datang, dan sekarang saatnya mandi. Pintu kamar saya terbuka dan tiba-tiba yang muncul bukan Mia melainkan suster lain yang sama sekali tidak menarik.

“Aarggh, shit, who the hell are you?, I want Mia” jerit saya dalam hati.

Suster itu menawarkan untuk dimandiin. Serta merta saya menolak, saya bilang saya cukup kuat untuk mandi sendiri. Suster itu membantu saya ke kamar mandi setelah itu meninggalkan kamar saya. Selesai mandi, dokter datang dan membawa hasil lab terbaru. Trombosit darah saya sudah kembali normal. Nanti siang saya diijinkan untuk membuka infus dan kalau segala sesuatu baik maka hari Sabtu boleh pulang. Saya agak sedih tidak ketemu Mia, seharian saya melewatkan waktu dengan nonton TV dan menanyakan ke sekretaris keadaan di kantor.

Malam hari setelah makan malam, orang tua saya pamit untuk pulang. Saya masih nonton TV untuk menunggu suster shift malam datang. Biasanya suster itu hanya akan memantau kondisi sebelum saya tidur. Tangan kiri saya sudah kembali bebas setelah jarum infus dicabut. Jam 21:30, pintu terbuka dan suster Mia muncul.

“Selamat malam Arthur, sudah sehat?” Mia bertanya dengan tersenyum.

“Halo Mia, saya sudah merasa sehat. Kok sekarang datangnya malam?” tanya saya.

“Biasa, rotasi jam kerja” kata Mia.

“Senang melihat Mia lagi” kata saya sedikit merayu, tanpa saya sadari saya menyentuh lengan Mia. Mia tersenyum dan membiarkan tangan saya memegang lengannya.

“Gimana kabarnya? Masih lemas?” tanya Mia.

“Sudah sehat, kan tadi sudah saya jawab” kata saya sedikit bingung.

“Bukan kamu, tapi adik kamu” kata Mia dengan pandangan menggoda.

“Coba saja kamu tanya sendiri” kata saya sambil tersenyum.

Dengan mata yang tetap tertuju pada mata saya, Mia mengulurkan tangannya ke arah kontolku. Ia meremas kontol saya dari balik selimut.

“Besar ya, Arthur” kata Mia.

“Buka aja celananya” kata saya.

Mia membuka celana piyama dan celana dalamku. Kontol saya langsung digenggam. Mia membungkukkan dadanya kearah saya dan saya langsung mencium bibirnya, saya buka kancing baju seragamnya lalu saya tarik BHnya kebawah. Payudaramia cukup besar, berukuran 34B. Putingnya berwarna coklat muda dan payudaranya terlihat sedikit menurun. Dengan gemas, saya cium bibir Mia sambil meremas dan memelintir puting Mia. Mia membalas dengan meremas dan mengocok kontol saya. Setelah berciuman agak lama, Mia melepaskan dirinya dan menghisap kontol saya. Lidahnya menyapu seluruh kepala kontol lalu ke batang kontol dan biji. Hmm, nikmatnya.

Saya mengangkat rok putih Mia dan terlihat celana dalamnya berwarna putih. Saya remas pantatnya yang tidak terlalu besar lalu saya elus vaginanya dari belakang pantatnya. Mia menggelinjang kegelian. Saya menyelipkan jari saya kebalik celana dalamnya dan mengelus-elus vaginanya. Terasa bulu-bulu kemaluan Mia disekitar vaginanya. Vagina Mia sendiri terasa basah dan licin. Wah kelihatannya Mia sudah orgasme, mungkin saat kita ciuman dia mengalami orgasme. Jari saya sibuk mengelus vagina dan memainkan klitorisnya. Nafas Mia mendengus-dengus dan ia menghisap kontol saya semakin keras.

Ke bagian 2

Tags : Cerita 18sx,cewe bispak,cewek blogspot,tante cantik,gadis photo,tante bispak,gadis model,gadis,gambar,wanita 18,photo abg,foto tante girang,gadis nakal,sheila marcia joseph,ayu anjani telanjang,ciuman,gang dolly,mansturbasi,ayu anjani bugil,model cantik,tante,majalah dewasa,biro jodoh,ngocok,petua,wanita

1 komentar 6 Mei 2010

Cerita 18sx – Kisah dengan Tetangga 1: Hesti – 3

Dari Bagian 2
Hesti kemudian berjongkok dan pantatnya bergerak naik turun, memutar dan maju mundur seperti joki yang sedang memacu kudanya. Payudaranya bergoyang-goyang dan segera kuremas-remas. Aku bergerak menaikkan tubuhku sehingga kini posisiku duduk memangkunya. Payudaranya kupermainkan dengan tangan dan mulutku. Tangannya memegang pahaku, dadanya semakin tegak dan kepalanya mendongak. Tidak ada bagian tubuh atasnya yang kulewatkan. Gerakan pantatnya semakin dipercepat sampai tubuhnya seakan meliuk-liuk.

Aku bangkit berdiri dan kuangkat tubuhnya, tanpa melepaskan penisku dari vaginanya kugendong ke ranjang. Aku ingin menuntaskan di atas ranjang yang empuk. Ternyata sebelum mencapai ranjang penisku terlepas.

Kurebahkan tubuhnya di ats ranjang dengan kaki mengangkang. Aku menjilat pangkal pahanya dan kususuri betis hingga pahanya dan kemudian lidahku sudah menggelitik vaginanya yang kemerahan. Ia semakin menekan kepalaku ke selangkangannya dan meremas-remas rambutku. Sementara itu tanganku bekerja mengusap, meremas dan memilin payudaranya. Akhirnya ia sudah tidak sabar minta kusetubuhi.

“Anto cepat To.. Ayo aku sudah tidak tahan lagi. Masukin oohh.. Masukin!”

Aku naik ke atas tubuhnya dan mengarahkan penisku ke vaginanya. Dengan sedikit mengangkat kakinya, maka penisku dengan mudah amblas ke dalam vaginanya. Kupompa vaginanya, sementara bibir kami di atas juga saling berpaut. Tangannya memeluk punggungku sedangkan tanganku meremas payudaranya atau mengusap pinggulnya. Kami bergerak saling menimba kenikmatan agar gairah kami segera tuntas.

Ia memutar pinggulnya dan penisku tersedot sedemikian rupa sehingga kadang aku harus menghentikan gerakanku agar spermaku tidak cepat tumpah. Dinding vaginanya sama sekali tidak berdenyut, namun sedotan akibat gerakan memutar pinggulnya membuatku untuk cepat menyelesaikan babak ini.

Kukencangkan penisku dan kukocok vaginanya dengan cepat sampai terdengar bunyi paha beradu dan seperti tanah becek yang terinjak kaki. Semakin cepat kami bergerak, maka sedotan pada peniskupun semakin kuat sehingga akhirnya..

“Hesti.. Ohh Hesti.. Nikmat sekali..!”

“Ouuhh Anto, kamu benar-benar.. Ouhh..!”

Kami mengendorkan gerakan untuk sedikit menurunkan gairah. Setelah gairahku turun, kupacu lagi kuda binalku ini untuk segera mencapai finish.

“Anto.. Yacch.. Ayo sekarang keluarkan. Kita sama-sama..!” Ia menggigit lenganku. Kakinya membelit pinggangku segera kuhantam dengan keras vaginanya dengan penisku dan.. Croott.. Crott.. Crott… Ia pun mengejang, pantatnya naik menyambut hunjamanku dan ia merapatkan tubuhnya padaku. Menyemburlah spermaku di dalam vaginanya dan kamipun berpelukan lemas.

Setelah napas kami teratur, kami mengobrol tentang keadaan kota kami. Dari tadi malam identitas diriku berusaha kututupi, aku belum mau dikenalinya.

“Ayu sekarang di mana?” tanyaku.

Aku tercekat karena pertanyaan ini akan membuka rahasia diriku, namun sudah telanjur. Ayu adalah adiknya yang juga teman sekelasku. Ia memandangku keheranan.

“Kamu kenal Ayu?” tanyanya. Sudahlah, aku akan berterus terang siapa diriku ini sebenarnya.

“Ya, dan aku kenal almarhum Pak Setyo,” kataku tersenyum. Pak Setyo adalah ayahnya yang sudah almarhum. Ia makin keheranan dan memandangku tajam menyelidik.

“Kamu.. Kamu..”

“Ya, aku Anto, tetanggamu di kampung. Sorry kalau aku dari tadi malam menutupi identitas diriku”.

Ia menarik napas panjang dan menutup mukanya dengan bantal. Setelah beberapa saat ia kemudian menatapku dan menggelengkan kepalanya.

“Dari semula aku merasa ada yang aneh. Seakan-akan aku pernah mengenalmu, tapi aku lupa kapan dan di mana. Kenapa kamu merahasiakan dirimu?”

“Sekali lagi sorry, bukan maksudku berbuat jahat begini”.

Tentu saja, mungkin kalau identitas diriku kubuka dari awal belum tentu aku dapat menikmati tubuhnya.

“Hh.. Ya sudah, sudah telanjur mau apa. Apa lagi permainanmu tadi dahsyat juga,” akhirnya ia berkata dan mencubit lenganku kuat-kuat sampai meninggalkan bekas kemerahan.

“Kita pulang sekarang?” tanyaku.

Ia kelihatan ragu dan menatapku minta pertimbangan. Kutatap matanya dengan penuh percaya diri dan seolah untuk memberi tekanan untuk melanjutkan permainan ini sampai sore nanti.

“Baiklah, aku menyerah. Aku sudah telanjur kalah telak,” katanya hambar.

“Nggak begitu, kadang kita perlu sedikit kejutan dalam hidup ini agar tidak monoton,” kataku.

Menjelang tengah hari kuajak ia makan sate dan sup kambing. Ia hanya tersenyum dan menatapku menggoda.

“Mau nanduk nih?” sindirnya.

“Persiapan saja,” kataku singkat.

Kuajak ia ke sebuah Department Store di dekat situ. Kubelikan ia sebuah baju tidur hijau muda tipis dan lingerie hitam transparan. Aku ingin ia memakainya nanti di kamar pada saat foreplay permainan berikutnya. Membayangkan hal demikian membuat aliran darahku semakin cepat.

Kami kembali ke hotel. Aku merebahkan tubuhku di ranjang tanpa melepas pakaianku. Hesti masih sibuk mematut-matut pakaian yang kubelikan.

“Sudah, pakai saja. Aku juga ingin menikmati tubuhmu dengan pakaian itu,” kataku dengan sedikit tekanan.

Hesti masuk ke kamar mandi sambil membawa bungkusan pakaiannya. Aku memejamkan mataku dan berbaring miring membelakangi pintu kamar mandi. Tak lama kurasakan Hesti keluar dari kamar mandi. Aku sengaja tidak menengok ke arahnya meskipun hatiku penasaran ingin melihat tubuhnya di balik pakaian tidur dan lingerrie yang transparan.

“Anto.. To. Bagaimana menurutmu?” tanyanya.

Perlahan aku berbalik dan duduk di tepi ranjang dan kulihat ia makin menarik dengan pakaian seperti itu. Dengan pakaian seperti itu seolah-olah ia dalam keadaan telanjang bulat diselimuti kabut tipis. Belahan dadanya sangat rendah sehingga makin menonjolkan lekuk dadanya. Ia menggoyang-goyangkan badan dan membusungkan dadanya. Hesti duduk di pangkuanku dan tangannya merangkul leherku. Kepalanya disandarkan dan digesekkannya ke pipiku.

“To, aku merasa sangat seksi dan ada semacam gairah berbeda dengan gairah yang tadi,” katanya. Kubelai pundaknya dan kuusap perlahan.

Ia tidak sabar lagi. Diciumnya pipiku dan tangannya tergesa-gesa membuka kancing bajuku.

“Ayo To kita berpacu lagi. Puasin aku lagi!” rintihnya sambil memejamkan matanya.

Mulutnya berhenti merintih waktu bibirku memagut bibirnya yang merekah. Lidahku menerobos ke mulutnya dan menggelitik lidahnya. Hesti menggeliat dan mulai membalas ciumanku dengan meliukkan lidahnya. Tanganku mulai menari di atas dadanya. Kuremas dadanya. Kurasakan payudaranya sudah mengeras. Jariku terus menjalar mulai dari dada, perut terus ke bawah hingga pangkal pahanya. Hesti makin menggeliat kegelian. Lidahku sudah beraksi di lubang telinganya dan gigiku menggigit daun telinganya.

Kugeser tubuhnya sehingga ia duduk di atas pahaku membelakangiku. Tanganku yang mendekap dadanya dipegangnya erat. Payudaranya terasa mengencang. Kucium rambutnya. Mulutku menggigit tengkuknya. Hesti kini benar-benar sudah takluk dalam pelukanku meskipun ia sudah mengetahui identitasku.

Badannya mulai menghangat dan detak jantungnya semakin cepat. Bibir dan hidungku makin lancar menyelusuri kepala dan lehernya. Hesti makin menggelinjang apalagi waktu tanganku meremas buah dadanya yang masih tertutup baju tidur itu dari belakang. Kuletakkan mukaku dibahunya dan kusapukan napasku di telinganya. Hesti menjerit kecil menahan geli dan rasa nikmat. Ia mempererat pegangan tangannya di tanganku.

Kuangkat tubuhnya berdiri tetap dalam pelukanku. Tangannya bergerak ke belakang dan meremas isi celanaku yang mulai memberontak. Aku merendahkan badan dan mulai mencium dan menggigit punggungnya. Ia mendongakkan kepalanya dan berdesis lirih tertahan. Gigi atas menggigit bibir bawahnya.

Aku menunduk di belakangnya dan meneruskan aksi tanganku ke betisnya, sementara bibirku masih bergerilya di sekitar pinggul dan bongkahan pantatnya. Ia merentangkan kedua kakinya dan tubuhnya bergetar. Kucium pahanya dan kuberikan gigitan semut. Ia makin meliukkan badannya, namun suaranya tidak terdengar. Hanya napasnya yang mulai memburu.

Pada saat ia sedang menggeliat, kuhentikan ciumanku di lututnya dan aku berdiri di hadapannya. Kuusap pantat dan pinggulnya. Kembali ia berdesis pelan. Tubuhnya memang padat dan kencang. Lekukan pinggangnya indah, dan buah dadanya nampak bulat segar dengan puting tegak menantang berwarna coklat kemerahan.

Dengan cepat langsung kusapukan bibirku ke lehernya dan kutarik pelan-pelan ke bawah sambil menciumi dan menjilati leher mulusnya. Hesti semakin merepatkan tubuhnya ke dadaku, sehingga dadanya yang padat menekan keras dadaku. Bau tubuhnya dengan sedikit aroma parfum makin menambah nafsuku. Ia menggerinjal dan mulutnya mulai menggigit kancing bajuku satu persatu.

Dengan sebuah tarikan pelan ia melepas bajuku. Diusap-usapnya dadaku dan kemudian putingku dimainkan dengan jarinya. Kucium bibirnya, ia membalas dengan lembut. Lumatanku mulai berubah menjadi lumatan ganas. Ia melepaskan ciumanku. Ia menatap mataku dan berbisik..

“Ayo To.. Kita masih punya waktu sampai sore. Aku ingin kita bermain dengan pelan tetapi bergairah!”

Kubuka kancing baju tidurnya. Kini tangannya membuka celana panjangku. Kini kami tinggal mengenalan pakaian dalam saja. Bra dan celana dalamnya berwarna hitam berpadu dengan kulitnya yang sawo matang. Bra-nya yang transparan tidak cukup memuat buah dadanya sehingga dapat kulihat lingkaran kemerahan di sekitar putingnya. Celana dalamnya menampilkan bayangan ‘padang rumput hitam’ di bawah perutnya.

“Eehhngng..” Ia mendesah ketika lehernya kujilati. Kulirik bayangan kami di cermin lemari kamar.

Hesti mendorongku ke ranjang dan menindih tubuhku. Tanganku bergerak punggungnya membuka pengait bra-nya. Kususuri bahunya dan kulepas tali bra-nya bergantian. Kini dadanya terbuka polos di hadapanku. Buah dadanya besar dan kencang menggantung di atasku. Putingnya berwarna coklat kemerahan dan sangat keras. Digesek-gesekkannya putingnya di atas dadaku.

Bibirnya lincah menyusuri wajah, bibir dan leherku. Hesti mendorong lidahnya jauh ke dalam rongga mulutku kemudian memainkan lidahku dengan menggelitik dan memilinnya. Aku hanya sekedar mengimbangi. Akan kubiarkan Hesti yang memegang kendali permainan. Sesekali ganti lidahku yang mendorong lidahnya. Tangan kananku memilin puting serta meremas payudaranya.

Ke Bagian 4

Tags : cerita 18sx, gadis indonesia, gambar bokep, bunga citra lestari telanjang, telanjang bulat, cynthiara alona telanjang, tante girang telanjang, ayu anjani telanjang, mahasiswi jogja, mahasiswi bispak, dengan mahasiswi, mahasiswi toket gede, mahasiswi baru, cerita mahasiswi

1 komentar 24 April 2010

Cerita 18sx – Rena Gadis SMU yang Mengairahkan

Pembaca sekalian perkenalkan nama ku Roy sampai sekarang aku masih melanjutkan kuliah di sebuah universitas di Magelang.

Umur ku masih 20 tahun. Cerita ini berawal ketika aku dan teman ku Ronald, Jefry dan rudi yg senang bermain game online ataupun sekedar bermain internet, membuka sebuah game centre dan warnet yg terletak di daerah Magelang utara. Pada dasarnya sih kami membuka usaha itu cuman iseng-iseng aja. Yah dari pada nga ada kerjaan ataupun malah menghabiskan uang untuk main game atau main internet di tempat lain, mendingan buat sendiri toh bias nambah nambah uang buat jajan dan beli rokok.

Belum lama usaha kami buka, kami seperti setengah kaget dan senang.

Bagaimana kami tidak senang, kebanyakan user kami adalah cewek-cewek SMU dengan postur tubuh yg sangat mempesona, bahkan bisa di ibarat kan buah apple yg siap di petik. Dan juga masih banyak gadis-gadis muda yg main ke tempat kami. Dengan keramahan teman-teman yg selalu sopan dan romantis dalam melayani pelangan, yah kami memang cukup professional. Bahkan postur tubuh kami dah wajah kami juga cukup lumayan mungkin itu juga salah satu factor yg membuat mereka tertarik untuk selalu datang berkunjung.

Di antara gadis-gadis yg masih segar itu ada satu yg sangat istimewa di mataku dan teman-temanku. Nama nya Rena dia cukup cantik, bukan hanya cantik, luar biasa mungkin dan istimewa tentu nya. Terkadang dia datang dengan Karina, Monica dan Cindy teman-teman rena yg juga tidak kalah cantik, tapi lebih istimewa Rena tentu nya.dan akhir nya suatu kesempatan, dia datang sendiri ke tempat kami. Ketika dia baru duduk aku sapa,

”loh temen nya mana Rena”,

dia hanya menjawab,

“dah pada balik, pada mau les katanya”.

Lalu aku berbalik ke mejaku dan berusaha mencuri-curi untuk sekedar melihat lekuk tubuh nya dari balik monitor computerku.

15 menit sudah aku memandang nya, eh dia membalas pandangan ku,

aku kaget juga jangan-jangan dia marah, eh dia malah tersenyum.

Karena penasaran dia sedang apa aku mencoba melakukan remote anything ke computernya, yah kami biasanya menyebutnya dengan kata-kata SPY, gitu deh bahasa gaulnya.aku kaget juga setelah tau bahwa dia membuka situs-situs yg berhubungan dengan sex dan pornografi. Mukaku memerah, entah suka atau benci, tp yg jelas kaget sekali. Dengan nekat kucoba mendekati computernya, lalu kutanya dia,

“hayooooo Rena lagi buka apa”,

Karena tanpa persiapan dia langsung kelabakan seperti di anak ayam kehilangan induk nya dan dengan cepat dia menutup kolom situs-situs tersebut. Tapi dengan cepat aku menjawab,

”nga papa lah ama gue ini, nyantai aja lagi”.

Langsung saja muka dia memerah, entah malu atau takut.

lalu dia menjawab,

“emang nya tadi Roy liat Rena lagi buka apa?”, tanyanya.

“liatlah, nga perlu ke sini juga Roy bias liat dari computer roy “,

jawab ku sambil mengedipkan mata, lalu dia tertawa kecil dan tersenyum manis seperti gadis yg masih polos. Lalu dengan cepat aku tidak menyia nyiakan kesempatan ini aku langsung berkata,

“mau di temenin nga Rena biar Roy cariin situs2 yg lebih bermutu”.

Dia diam sejenak lalu menjawab,

“ya udah Roy duduk di sebelah Rena aja”,

katanya lembut penuh arti.

Waduh bakalan seru nih batin ku, untung aja temen-temen ku yg lain pada bermain basket di dekat situ, jadi semuanya lancar tanpa hambatan. Kami sempet ngobrol sejenak, dan dari situ ku ketahui bahwa dia anak pejabat di kota ini, dalam batin ku aku berkata wah ternyata anak pejabat neh.

Lalu mulai kucarikan dia situs situ porno yg belum pernah dia lihat,

kulihat raut muka nya berubah seperti cacing kepanasan tangannya tak bisa diam, aku lihat dia sangat terangsang dengan gambar-gambar dan video yg aku carikan lewat internet. Wah cepet honey dia batinku,

lalu tak kubiarkan dia hanya melihat saja, lalu aku berbisik,

“Ren dari pada liat, punya ku nganggur neh, kan sayang klo di diemin”, ia kaget kukira dia marah.

Eh ternyata dia malah lansung memegang senjataku yg dari tadi sudah on ketika aku duduk di sebelah nya, kontan saja aku kaget dan senang. Lalu dengan cepat aku juga merangsang dia dengan memegang payudara yg sangat indah itu dari belakang.

Untung warnet lagi sepi batinku dalam hati, aneh nya saat itu tak ada satupun pelanggan yg datang, yah mungkin di karenakan hujan yg cukup deras. Kulihat dia kurang puas memegang senjataku jika terhalang oleh celana pendek ku, lalu dia mencoba memelorotkan celana ku hingga batang kemaluan ku bisa dalam posisi enak untuk di kocok oleh tangan nya yg lembut itu.dan dia berkata,

“Roy punya kamu gede juga ya”,

Aku hanya terdiam.

Tanpa sadar aku sangat menikmatinya,

hingga aku hampir berteriak “ah uchhhh ahhh terus Ren” lalu Rena dengan cepat menutup mulutku dengan ciuman bibir nya yg lembut dan sangat sensual itu. Wah untung sepi coba klo banyak orang tadi di sini bakalan berabe batin ku. Setelah dia puas dia mencium bibirku,

dia melanjut kan dengan menciumi kemaluan ku, sungguh luar biasa gadis anak pejabat yg masih polos ini melakukan hal-hal dalam sex yg sangat mengairahkan.

Aku di buat sangat puas oleh nya bahkan aku dibuat tak berdaya,

10 menit kemudian aku mengangkat kepalanya dan aku bisikan mesra di telinga nya, Ren gantian masak kamu terus yg muasin aku kamu kan belom puas, dia tersemyum pertanda iya. Langsung saja aku puaskan dia di antara sekat-sekat yg menjadi pembatas di antara computer computer di warnet ini. Dia kulihat sangat menikmati permainan ku,

aku mencoba sedikit membuka baju nya untuk melepas Bh nya.

Karena kami melakukan nya di tempat umum aku mencoba untuk menahan diriku untuk tidak mencoba menelanjanginya, sehingga aku tetap merangsang payudaranya di balik seragam sekolah nya, tanpa bisa melihat payudaranya yg berukuran 34 b itu. Dia terdengar mendesah lembut dan sangat sexy,

“ah ah..u ah..hhhhhh.ahhhhh” terdengar dari mulut nya.

Berkali kali ku pilin putting nya dia mengelinjang hebat sekali,dan merancau tidak karuan.

”ah uh. roy terus sayanggggg…royyy…ahhhhhh”.

Setelah merangsang buah dada nya aku langsung mencoba mengelus vagina nya dengan jari ku, karena dia memakai rok SMUsehingga tidak sulit untuk melakukan nya.Kurasakan vagina nya sudah sangat basah di karenakan rangsangan ku di buah dada nya tadi, bulu-bulu kemaluanya juga kuraba, wow sangat rapi batin ku. Aku berusaha tidak memasukan jari ku ke vagina nya karena dia masih perawan.

Kucoba merangsang dia lewat gesekan-gesekan lembut di tangan ku,

kurasakan badannya kejang dan keringat keluar dari seragam sekolah nya yg tanpa memakai Bh itu.

Dia berulang kali mendesah,

“Roy ampunnNn Roy sayang YUyy nikmatttTTttt………”.

Padahal itu Baru kugesek dengan tangan bagaimana klo kumasukan senjataku ke dalam vagina nya batin ku.

Setelah 10 menit melakukan itu dia berteriak.

“ahhhhHH..hhhhh SSSshhhhhh”,

dan seketika itu juga dia mengalami orgasme pertamanya.

Kemudian dia terkulai lemas di pelukanku, sambil membelai dia aku membenarkan posisi celanaku dan dia juga mencoba membenarkan letak posisi seragam dan rok nya itu.

Lalu aku mengambilkan air minum untuk dia lalu berkata,

“yah gitu aja dah jebol gimana klo ML bisa-bisa Rena nga bisa bangun 2 hari gara-gara kehabisan stamina dong”. Candaku.

Lalu dia menjawab,

”eh enak aja kan tadi baru training, jadi ya butuh pelatihan dolo kayak tadi”.

Aku hanya tertawa kecil, eh malah dia langsung bilang Roy mau njarain Rena yang lebih expert lagi nga, klo mau abis ini aja kita pergi mau nga tanya nya. Sejenak aku berpikir tapi langkah langkah kaki datang menuju tempat itu dan kulihat wajah wajah teman-teman ku muncul, diantaranya Ronald, Jefry dan Rudi.

Langsung saja kusapa,

“abis basket kalian”,

dengan tersenyum Jefry hanya menjawab,

”dari pada ngurusin basket mendingan ngurusin Rena”.

Mereka pun semua tertawa dan kulihat Rena juga tersenyum nakal dan berusaha menunggu jawabanku. Lalu setelah teman-teman ke belakang aku bisikan ke telinga Rena ya udah tar gue ajarain yg lebih hot lagi ya, Rena tersenyum dan aku pergi berkemas untuk pergi bersama dengan rena.

Setelah itu kami pergi dengan meminjam mobil milik Ronald.

Dalam perjalanan aku bertanya,

“mau kemana ini Ren”,

dia menjawab.

”di rumah Rena aja kan Papa Mama sedang pergi ke Jakarta kak Adi sedang ke Jogja”,

aku kaget dan berkata,

”bener nih di rumah mu”,

“iya bener” katanya.

Setelah kami sampai di rumah nya aku kaget juga dengan rumah nya yg besar seperti istana itu wah gede banget rumah nya dan juga indah.

Setelah memarkir mobil ku aku di bimbing Rena untuk masuk ke rumah nya.Wah tampak nya dia terlihat tidak sabar.

Lalu aku menunggunya mandi sambil nonton tv dan menikmati hidangan yg sangat enak, kayak Raja nih batin ku.

Setelah dia selesai mandi, ia menghampiri ku hanya dengan memakai handuk yg dia balutkan di tubuh nya, ketika melihat nya,

tenggorokanku seperti tidak dapat menelan kue-kue yg tadi aku makan, dan dengan segera Rena mengambil jus jeruk yg ada di meja kamar nya lalu meminumnya, setelah itu mencium bibir ku dan mengalirkan jus jeruk yg telah dia minum tadi seolah-olah induk yg memberikan makan anak-anak nya.

Setelah itu dia membuka handuk nya yg tadi membungkus tubuh nya yg putih mulus dan sexy itu. wah payudara nya benar-benar luar biasa kencang dan besar, tak kusangka anak SMU kelas tiga sudah sematang, bulu-bulu halus yg ketika di warnet tadi aku pegang, aku bisa melihatnya dengan jelas. Sungguh pemandangan yg luar biasa.

Tanpa segan-segan lagi dia memintaku untuk men servicenya.

Dia berkata,

”ayo kok malah diem katanya mau ngajarin”,

ucapnya,

aku berkata kamu

“kamu cantik banget Ren tubuh mu juga sexy”.

Tanpa menunggu dia bicara langsung saja kubenamkan kepalaku di payudaranya itu dan mencoba untuk merangsang salah satu bagian sensitife itu, lalu dia mulai mendesah seperti tadi,

“ah OuchHhh uhhhhhh Ahhhhhh……..”,

dia sangat menikmatinya bahkan sesekali dia menjambak rambut ku,

kulihat payudaranya sangat kencang dan kenyal sekali sesekali aku meremas-remas nya dan aku pun juga sangat menikmatinya, payudara yg indah. Lalu kuteruskan dengan menciumi bagian kewanitaan nya,

dia terlihat memejamkan mata sangat menikmatinya, dan dia meremas remas payudaranya sendiri mencoba merangsang tubuh nya sebaik mungkin. ketika clitoris nya ku hisap-hisap dia sangat kewalahan dan berteriak-teriak,

“roy aduhh Enak ah ouchhhh ahhhHh uhh”.

5 menit kemudian, giliran dia merangsang diriku.kulihat dia mengocok penisku dengan lembut dan menghisapnya bagaikan permen lollipop yg sangat manis,

“ohh ahhhhhhh hahhhh”,

aku sangat menikmatinya, dia menjilati batang kemaluan dan tidak ketinggalan buah zakar ku juga ikut dia hisap.

Aku sudah tak bias berkata apa apa lagi selain menikmati permainanya. Ketika aku hampir memuntahkan laharku aku mencoba melepaskan senjataku dari hisapan nya dan gengamannya, lalu kubaringkan dia diranjangnya dan aku berbicara mesra,

”tahan ya sayang, pertama-tama sakit tp nanti juga enak kok”,

kataku. Dia mengangguk pertanda iya. Kucoba membobol vagina nya ternyata sangat sulit, pada usaha pertama melesat dan setelah ku

oleskan kream di vaginanya, pada usaha ketiga aku berhasil memasukan separo penis ku ke dalam kemaluannya.

Dia menjerit kesakitan,

“Royy sakitT Royyyyyy ampunnNnNnnnnn”,

jerit nya, tapi aku tetap melakukannya dan bless seluruh batang kemaluan ku sekarang berada di dalam nya bersamaan dengan percak-percak darah keperawanannya.

Kubiarkan diam sejenak supaya vaginanya terbiasa menerima kehadiran benda asing itu, setelah kurasakan vaginanya bisa menerima penisku, kucoba menarik maju mundur.

Jeritan sakit yg tadi dia ucapkan berganti dengan desahan-desahan wanita yg sedang mengalami persetubuhan yg sangat nikmat.dan tidak henti-henti nya dia selalu mendesah dan setengah berteriak.

“ah terus Roy Sayang kocok terus bikin Rena puas ah ouchhhhh shhhhh terus kocok jangan berhenti sayangggg… “,

rancau nya, aku juga sangat menikmati denyutan-denyutan di dalam vaginanya itu, gerakan menghisap yg sangat nikmat sekali di alami oleh penis ku kemudian aku membalikan posisinya supaya kami bisa melakukan doggy style.

Lalu ku suruh dia berdiri dan bersandar di depan kaca meja rias nya dan kumasukan senjataku dari belakang sehingga aku bisa menikmati keindahan tubuh nya dan payudaranya serta paras cantik wajahnya dari kaca tersebut.

15 menit kejadian itu berlangsung ku dengar dia berteriak,

“ahhhh roy aku keluarrrrrrrrrrr…….”,

oh tampak nya dia baru saja mendapatkan orgasme pertamanya.

Kucabut penisku dari dalam vaginanya dan membiarkan Rena istirahat sebentar.

Setelah cukup istirahat.dia mengajakku untuk melanjutkan nya di kamar mandinya yg seperti kolam renang itu karena sangat luas.

Kontan saja Karena terburu nafsu aku langsung tancap gas dan segera memasukan penis ku ke dalam vagina nya yg merah merekah itu.

aku sangat menikmati guyuran shower yg membasahi tubuh kami,seolah-olah membasahi jiwa yg kekeringan akan kehausan sex.

Rena terus merancau dan akhirnya aku sangat merasakan kenikmatan yg luar biasa, penis ku yg dari tadi di sedot kurasakan sangat membengkak dan mencapai klimaks sampai ubun-ubun rasanya,

aku berteriak,

“Rena aku mauuuuuuu keeee luuu arrrrrrrrrrrrrrrrrr mauuu diii kelluariinnn dii mannna.jeritku menahan nikmat”,

dia sambil ngos-ngosan bilang

“di dalam ajjjaaaaa”,

lalu aku berkata,

“ nga papa rennn”,

rena menjawab,

“laggiii masaaaaaa tiiiidakkk suburrrrrr”,

dan rena juga tampak merancau lagi dan berteriak,

“yaaaa uuu daaa hhhhh kii taaa ssssaaammaa saaammaaaaaaaaaaaaaaaa”.

Aku tak dapat menahan lagi dan jebolah pertahananku kusemburkan maniku di dalam vaginanya dia juga tampak mencapai orgasme keduanya.

Setelah itu dia masih menjilati kemaluanku dan membersihkan sisa-sisa

maniku, lalu kami mandi bersama.

Setelah selesai aku pamit pulang, aku pamit dengan mengecup kening Rena dan berkata pelajaran nya udah cukup kan, dia hanya tersenyum dengan lembut sungguh seperti gadis yg sangat polos dan berkata ,

“Roy besok kesini ya ajak Ronald, Jefry ama Rudi, jangan lupa loh “.

Aku cukup bingung kok ngajak yg lain segala ya batin ku.

Lalu selepas jam 6 malam esok nya kami ber 4 berkunjung ke rumah rena. Betapa kaget nya kami ketika di sana kami di sambut dengan mesra oleh keempat gadis yg sangat cantik di antaranya Karina,

Monica, Cindy dan Rena tentunya, lalu tanpa basa-basi lagi mereka berkata.

“wah wah kak roy jahat kok kita kita kemaren nga di ajak sech yg di ajak cumin Rena aja,nga suka ya ma kita kita “,

kontan saja aku sendiri kaget.

Dan teman temanku juga ikutan binggung,

lalu tanpa rasa malu rena

“menjawab roy kemaren ma aku ML loh”.

Aku kaget kenapa dia membuka rahasiaku tapi sebelum aku sempat bicara rena menjawab

“jadi hari ini Ronald, Jefry ama Rudi ngajarin Karina , Monica and Cindy, terus Rena tentunya ama roy dong”,

katanya.

Tentu saja teman- teman ku nga jadi marah malah jadi senang, alu aku berkata dalam hati wah rejeki mereka juga neh. Lalu kami pergi ke daerah Kaliurang dah menyewa sebuah villa di sana dan melewati hari dan malam penuh akan nafsu, gairah dan kehausan akan sex.

Dan sampai sekarang jika ada waktu kami masih melakukan nya baik di kamar mandi warnetku, di rumah Rena, di hotel atau villa.

Bahkan sekarang banyak pelanggan wanita ku menjadi kekasih ku hanya untuk semalam/one night stand.begitu juga dengan teman-teman ku Ronald, Jefry dan Rudi mereka juga kalang kabut menerima order dari para wanita yg kesepian. Tapi atas dasar suka sama suka, maaf kami bukan Gigolo.

Sekian kisah ku lain kali aku lanjut kan dengan kisah ku dengan para pelanggan net ku , wilda, ima, susy dan masih banyak lagi, baik itu pengalaman sex party ataupun one on one

END

Tags : cerita 18sx, cerita sexs, cerita seks, foto bugil, mahasiswi bugil, ngentot, memek, cewek telanjang,telanjang gadis indonesia, bunga citra lestari telanjang, telanjang bulat, cynthiara alona telanjang, tante girang telanjang, ayu anjani telanjang, dewi persik telanjang, telanjang artis indonesia, artis bugil telanjang, youtube artis bugil,dewa dewi bugil telanjang ngewe, foto cowok telanjang, inul telanjang, telanjang centil, 4 penyanyi dangdut telanjang, cewek cantik telanjang, cewek smu telanjang, cewek telanjang cantik, chika telanjang, foto dewi telanjang, foto telanjang neng kartika, gadis bandung telanjang,gadis indonesia bugil telanjang abg bugil,gadis pontianak telanjang,gambar telanjang cewek cantik

Add a comment 21 April 2010

Halaman

Kategori

Tautan

Meta

Kalender

April 2014
S S R K J S M
« Jul    
 123456
78910111213
14151617181920
21222324252627
282930  

Posts by Month

Posts by Category

 
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.