Posts tagged ‘cerita berahi ‘




Cerita 18sx – Maaf Bu…, Maaf! 03

Sambungan dari bagian 02

Setelah tiga hari berlalu tibalah saatnya aku harus berlimau. Dugaanku rupanya meleset. Aku menerima kabar dari suamiku bahwa dia baru akan pulang dua hari lagi. Jadi berarti baru besoknya suamiku kembali. Ketika menjelang senja Pak Zein datang ke rumahku. Kemudian dia mulai mempersiapkan ramuannya dalam kamarku sendirian. Selanjutnya dia memanggilku masuk dan memberikanku sehelai kain putih untuk dipakai sebagai petilasan ketika aku mandi. Kulihat kain putih itu sangat tipis sekali sehingga apabila terkena air sudah pasti akan mencetak bentuk tubuhku yang basah dengan jelas. Akan tetapi apa mau dikata akhirnya aku lebih takut kepada akibat bersenggama dengan jin daripada mandi bertelanjang di depan Pak Zein.

Pak Zein memandikanku dalam kamar mandi yang memang berada dalam kamar tidurku, berduaan saja. Sambil mengucapkan matera Pak Zein menyirami tubuhku yang hanya terbungkus oleh sehelai kain putih yang tipis dengan air limau bercampur bunga rampai sampai basah kuyub sehingga apa yang kukhawatirkan benar saja terjadi. Kain putih yang membalut tubuhku itu begitu basah langsung melekat di tubuhku sehingga bayangan siluet tubuhku yang telanjang tercetak nyata di balik kain putih yang basah. Buah dadaku yang subur beserta puting susunya tercetak dengan jelas sekali di balik kain putih itu sehingga praktis seluruh bayangan tubuhku yang bertelanjang bulat samar-samar terlihat secara utuh.

Selesai aku dimandikan, aku tidak boleh mengeringkan badan. Sambil menunggu badanku kering Pak Zein menuliskan sesuatu dengan telunjuknya di tubuhku. Mula-mula di keningku kemudian di kedua belah pipi dan bahuku. Selanjutnya dia memintaku menurunkan sedikit kemben yang kukenakan untuk menulis di antara kedua belahan buah dadaku. Pada saat dia menulis di buah dadaku dengan telunjuknya maka tidak dapat dihindari telunjuknya itu telah menyentuh puting susuku. Hal itu membuatku agak bergelinjang. Aku merasakan puting susuku tiba-tiba menjadi tegang. Itulah salah satu kelemahanku bahwa sekali puting susuku tersentuh maka aku akan merasakan birahi di seluruh tubuhku. Selanjutnya dia katakan bahwa dia harus membuat tulisan di daerah pusatku dan juga di kedua belah pangkal pahaku. Oleh karena itu aku terpaksa membuka bagian depan kembenku itu sehingga praktis seluruh bagian depan tubuhku yang bertelanjang kini terhampar jelas di hadapannya.

Pada saat dia menulis di pangkal pahaku yang letaknya berdekatan sekali dengan alat kewanitaanku, aku agak bergelinjang kembali. Kudapati juga Pak Zein nafasnya agak memburu, namun kelihatannya dia tetap menahan gejolak yang mungkin dialaminya. Hal itu lumrah saja mengingat umurnya yang relatif masih muda, maka adalah sangat normal apabila dia juga menjadi terangsang melihat tubuhku yang telanjang. Apalagi tubuhku itu boleh dikatakan bentuknya sangat mengiurkan pandangan setiap laki-laki karena masih padat dan berisi. Akhirnya dia memintaku membalikkan badan untuk menulis di punggungku yang diakhiri pada daerah pantatku.

Selesai menulis di seluruh tubuhku Pak Zein memintaku melepaskan kain putih petilasan yang masih kupakai, katanya akan dia bawa untuk dibuang jauh-jauh. Dengan agak malu-malu kulepaskan kain petilasan itu sehingga kini aku benar-benar bertelanjang bulat di hadapan Pak Zein.

“Eh.. eh.. sebaiknya Ibu sekarang bertelungkup di tempat tidur.. karena sebelum saya memasang penangkal itu, saya harus membersihkan tubuh ibu dari sisa-sisa air mani dari lelaki yang pernah meniduri Ibu”, katanya agak tersendat-sendat karena kelihatannya dia mulai agak tergugup .

Aku pun segera menelungkupkan diri di tempat tidur dalam keadaan yang masih tanpa busana sama sekali. Pak Zein kemudian duduk di sisi tempat tidur mulai meraba seluruh punggungku dengan cara mengusap-usapkannya dengan halus mulai dari atas sampai ke daerah belahan pantatku. Ketika tangan Pak Zein sampai ke bagian daerah itu secara terus terang aku merasakan kembali gairah birahiku. Tidak berapa lama dia mengusap-usap pantatku tiba-tiba dia memberikan sesuatu kepadaku.

“Bu.. lihat ini.. ada serpihan dari air mani yang ada di tubuh Ibu”, katanya sambil memberikan sebuah benda kecil sebesar pasir berwarna putih seperti mutiara. “Mungkin masih banyak lagi yang tersebar di seluruh badan Ibu”, katanya selanjutnya. Betul saja dari daerah pantatku dia mendapatkan beberapa butir lagi barang seperti itu. Ada yang berbentuk seperti kristal dan ada juga yang seperti mutiara seperti yang diberikan kepadaku tadi.

Selesai mengurut bagian tubuh belakangku, dia memintaku membalikkan badan. Begitu aku telah telentang segera saja aku memejamkan mata. Aku tidak kuasa menahan malu bertelentang dalam keadaan bertelanjang bulat di hadapan laki-laki lain (selain suamiku) dalam jarak yang sedemikian dekat dan hanya berduaan saja dalam kamar. Oleh karena itu aku hanya merasakan saja sentuhan-sentuhan Pak Zein ketika mengobatiku. Kurasakan seluruh buah dadaku berkali-kali diusap dengan lembut yang kadang-kadang diselingi dengan remasan-remasan halus. Agak lama juga dia meremas-remas buah dadaku sehingga perasaam birahiku semakin muncul.

Setelah beberapa lama mengusap buah dadaku kemudian dia menemukan lagi beberapa butir sisa air mani berbentuk kristal.

“Maaf Bu.. ini ada lagi sisa-sisanya di sini”, katanya sambil memberikan butiran itu di tanganku. “Tapi rupanya sudah begitu membeku di daging Ibu.. saya khawatir tidak akan dapat bersih seluruhnya”, katanya lagi dengan nada suara yang agak bergetar.

“Jadi kalau begitu bagaimana? Apa yang harus saya perbuat?” kataku sedikit ketakutan.

“Saya harus lebih kuat lagi menariknya. Dengan tenaga tangan ini masih kurang kekuatannya.. tapi biar saya coba lagi ya Bu.. dan maaf sekali lagi tarikan saya sekarang mungkin agak kencang”, katanya sambil terus meraba lagi buah dadaku tapi kali ini dengan remasan yang kuat. Agak lama Pak Zein meremas-remas buah dadaku sehingga aku merasa sangat kejang sekali dan nafasku mulai memburu. Liang kewanitaanku juga terasa mulai basah oleh cairan birahi sehingga secara tidak sadar aku telah melenguh-lenguh kecil.

“Betul-betul sudah sangat membeku Bu”, katanya dengan nafas yang juga terengah-engah.

“Saya kira saya harus lakukan dengan cara lain agar dapat mencair sedikit dan baru saya akan tarik lagi”, katanya selanjutnya.

“silakan saja Pak..” jawabku dengan suara yang sangat lemah.

Dengan tidak ayal lagi tiba-tiba Pak Zein menghisap buah dadaku dengan sekuat-kuatnya. Puting susuku dipermainkannya dengan lidahnya dan giginya menempel erat di bagian permukaan daging dadaku yang kenyal lembut itu sehingga aku tercampak dalam suatu arus birahi yang dahsyat. Selesai menghisap buah dadaku dia mulai lagi meremas-remas buah dadaku dan tidak berapa lama kemudian sambil terengah-engah hebat dia tunjukkan kembali beberapa butiran seperti mutiara yang katanya telah dapat diambilnya melalui penyedotan di puting susuku.

Selesai mengerjakan bagian buah dadaku, dia kini beralih ke bagian perutku di sekitar pusat, dengan halus dia mengusap-usap perutku diiringi dengan sesekali mencucupi pusatku dengan halus.

“Di bagian sini tidak ada Bu..” katanya, “Jadi tubuh Ibu kini sudah bersih. Sekarang saya akan pasang penangkal di badan Ibu agar terjauh dari maksud jahat para jin atau pun mahkluk halus lainnya. Selain itu penangkal ini juga bersifat penawar dan pengasihan.”

“Penawar dan pengasihan..? Apa artinya itu Pak”, aku bertanya agak heran.

“Betul Bu, kalau penawar itu sifatnya menetralisir semua pengaruh buruk di badan Ibu. Artinya setelah Ibu memakai itu, maka Ibu juga tidak perlu khawatir lagi ada pengaruh buruk di badan Ibu. Maaf ya Bu.. namanya juga manusia bisa saja khilaf, apakah kemarin atau nanti. Jadi misalnya kalau Ibu nanti sewaktu-waktu berhubungan badan lagi dengan laki-laki lain, maka tidak ada lagi pengaruh buruk yang melekat di badan Ibu, apakah itu dari jin maupun lainnya. Kalau pengasihan.., ya itu untuk diri Ibu agar dicintai dan digandrungi oleh semua orang, terutama laki-laki. Laki-laki mana saja yang memandang Ibu, dia akan teringat selalu, seperti kata pepatah, wajah Ibu akan selalu terbayang-bayang, siang terkenang-kenang dan malam termimpi-mimpi. Dia akan merasa jatuh cinta kepada Ibu serta tunduk dan patuh mengikuti apa kemauan Ibu. Apalagi kalau laki-laki itu sudah pernah mencoba.. ya.. ya itunya Ibu, maka dia tidak akan pernah melupakannya lagi kenikmatan dari itunya Ibu. Dia akan terus lengket kepelet dengan Ibu”, katanya lagi.

“Lha bagaimana nanti dengan suami saya?” aku bertanya. “Itu tidak apa-apa Bu, malahan suami Ibu juga akan lebih cinta dan sangat sayang kepada Ibu. Walaupun Ibu berbuat apa saja, misalnya Ibu mau bersebadan dengan laki-laki manapun dan di depan matanya sekalipun, dia tidak akan pernah marah, malahan akan bertambah sayang dan takut kalau kehilangan Ibu.”

Akhirnya dia mulai memasang penangkal dan pengasih itu di alat kewanitaanku. Mula-mula dia membacakan mantera di mulut liang kewanitaanku, kemudian jari tengahnya ditusukkan ke dalam liang kewanitaanku. Awalnya hanya pada klitorisku saja kemudian semakin lama semakin dalam. Aku kembali menjadi bergelinjang ketika jari tengahnya memutar-mutar di daerah klitorisku karena merasakan kenikkmatan arus birahiku yang mulai muncul. Namun ketika jarinya mulai masuk lebih dalam lagi ke liang kemaluanku, aku agak tersentak kesakitan.

“Eh maaf.. sekali lagi maaf Bu..” katanya, “Sekarang sudah terpasang, tapi rupanya masih belum sempurna kedudukannya, jadi..”, tiba-tiba dia berhenti berkata-kata.

“Jadi apa Pak?” kataku dengan agak terengah-engah.

“Perlu didorong lagi sedikit biar lebih dalam lagi kedudukannya, tapi jari tangan ini rasanya kurang panjang, jadi.. jadi.. eh, maaf Bu..”, katanya lagi dengan nada suara yang tidak begitu jelas karena nafasnya pun kini sudah mulai terengah-engah. Aku pun maklum apa yang dia maksudkan itu karena aku pun merasakan birahiku semakin memuncak. Dengan demikian kurenggangkan kedua belah pahaku lebar-lebar sehingga lubang kemaluanku kini menganga.

“Jadi.. jadi.. silakan teruskan saja Pak sampai sempurna..” kataku dengan suara yang juga hampir tidak kedengaran. Pak Zein tanpa ayal lagi segera saja menyodorkan alat kejantanannya yang rupanya memang sudah dikeluarkannya semenjak aku memejamkan mata tadi langsung mendekati arah liang senggamaku.

“Eh.. maaf Bu.. sekali lagi maaf Bu”, katanya berkali-kali sambil memasukkan alat kejantanannya ke liang senggamaku yang telah licin dengan cairan birahi sehingga segera saja terhisap dengan mudah menerobos ke dalamnya. Aku segera menjepit alat kejantanannya itu erat-erat dengan seluruh kekuatan ototku kemudian menggoyang-goyangkan pinggulku dengan teratur sehingga Pak Zein menjadi mengerang-erang kenikmatan.

Memang agak lama juga dia mengayunkan tubuhnya di atas tubuhku akan tetapi akhirnya dia tidak tahan juga. Kurasakan alat kejantanannya semakin mengembang dengan keras dan aku pun segera menggoyang-goyangkan pinggulku lebih kuat lagi sehingga akhirnya dia kelihatan tersentak sejenak kemudian aku rasakan curahan sperma yang hangat secara bertubi-tubi membanjiri rahimku.

“Eh.. maaf Bu.. maaf Bu”, katanya lagi berkali-kali sambil terus menggenjot tubuhku kuat-kuat mengimbangi goyangan pinggulku yang semakin liar sampai akhirnya dia tergelusur lemas di atas tubuhku. Aku tidak berkomentar apa-apa, hanya saja dalam hatiku aku berkata, anggap saja ini semua sebagai percobaan akan kemanjuran “penangkal” dan “pengasihan” yang telah dipasangkan di tubuhku tadi. Tetapi yang penting dari kesemuanya ini aku berpikir bahwa antara jin dan manusia memang tidak berbeda, keduanya memang sama-sama suka berzinah.

TAMAT

Tags :cerita sexs, cerita ghairah, melayboleh, gambar telanjang, cerita berahi, setengah baya, gambar gadis, koleksi malaysia, gambar wanita, gambar seksi, dan bogel, cerita melayu, lubuk tupah, foto bogel, cina bogel, gambar telanjang, gambar siti nurhaliza, indonesia bogel, cari gambar, gambar foto, siti bogel

Add a comment 2 Juli 2010

Cerita 18sx – Mama Tiriku, Guru Seksku

Sudah beberapa pengalaman pribadi yang ku tulis di situs ini. Semuanya nyata. Aku memang punya ‘kelainan’ yaitu Oedipus Complex, senang dan terangsang bila melihat wanita lebih tua (STW) yang cantik. Nafsuku akan menggebu-gebu. Semua itu berpengaruh di tempat tidur karena akan lebih hot karena dasarnya aku suka sekali. Pengalaman berikut adalah yang aku alamain saat remaja. Mungkin pula pengalaman ini yang membekas di pikiranku secara psikologis sehingga aku menjadi lelaki yang suka wanita lebih tua. Pengalaman dibawah ini nggak akan pernah aku lupa.

*****

Saat usia 10 tahun, Papa dan Mama bercerai karena alasan tidak cocok. Aku sebagai anak-anak sih nerima aja tanpa bisa protes. Saat aku berusia 15 tahun, Papa kawin lagi. Papa yang saat itu berusia 37 tahun kawin dengan Tante Nuna yang berusia 35 tahun. Tante Nuna orangnya cantik, setidaknya pikiranku sebagai lelaki disuia ke 15 tahun yang sudah mulai merasakan getaran terhadap wanita. Tubuhnya tinggi, putih, pantatnya berisi dan buah dadanya padat. Saat menikah dengan Papa, Tante Nuna juga seorang janda tapi nggak punya anak.

Sejak kawin, Papa jadi semangat hidup berimbas ke kerjanya yang gila-gilaan. Sebagai pengusaha, Papa sering keluar kota. Tinggallah aku dan ibu tiriku dirumah. Lama-lama aku jadi deket dengan Tante Nuna yang sejak bersama Papa aku panggil Mama Nuna. Aku jadi akrab dengan Mama Nuna karena kemana-mana Mama minta tolong aku temenin. DirumaHPun kalo Papa nggak ada aku yang nemenin nonton TV atau nonton film VCD. Aku senang sekali dimanja sama Mama baruku ini.

Setahun sudah Papa kawin dengan Mama Nuna tapi belom ada tanda-tanda kalo aku bakalan punya adik baru. Bahkan Papa semakin getol cari duit dan sering banget keluar kota. Aku dan Mama Nuna semakin akrab aja. Sampai-sampai kami seperti tidak ada batasan sebagai anak tiri dan ibu tiri. Kami mulai sering tidur disatu tempat tidur bersama. Mama Nuna mulai nggak risih untuk mengganti pakaian didepanku walaupun tidak bener-bener telanjang. Tapi terkadang aku suka menangkap basah Mama Nuna lagi berpolos ria mematut didepan kaca sehabis mandi. Beberapa kali kejadian aku jadi apal kalo setiap habis mandi Mama pasti masuk kamarnya dengan hanya melilitkan handuk dan sesampai dikamar handuk pasti ditanggalkan.

Beberapa kali kejadian aku membuka kamar Mama yang nggak dikunci aku kepergok Mama Nuna masih dalam keadaan tanpa sehelai benang sedang bengong didepan cermin. Lama-lama aku sengajain aja setiap selesai Mama mandi beberapa menit kemudian aku pasti pura-pura nggak sengaja buka pintu dan pemandangan indah terhampar dimata mudaku. Sampai suatu ketika, mungkin karena terdorong nafsu laki-laki yang mulai menggeliat diusia 16 tahun, aku menjadi bernafsu besar ketika melihat Mama sedang tiduran dikasur tanpa pakaian. Matanya terpejam sementara tangannya menggerayang tubuhnya sendiri sambil sedikit merintih. Aku terpana didepan pintu yang sedikit terbuka dan menikmati pemandangan itu. Lama aku menikmati pemandangan itu. Kemaluanku berdiri tegak dibalik celana pendekku. Ah, inikah pertanda kalo anak laki-laki sedang birahi? Batinku. Aku terlena dengan pemandangan Mama Nuna yang semakin hot menggeliat-geliat dan melolong. Tanpa sadar tanganku memegang dan memijit-mijit si otong kecil yang sedari tadi tegang. Tiba-tiba aku seperti pengen pipis dan ahh koq pipisnya enak ya. Akupun bergegas kekamar mandi seiring Mama Nuna yang lemas tertidur.

Kejadian seperti jadi pemandanganku setiap hari. Lama-lama aku jadi bertanya-tanya. Mungkinkah ini disengaja sama Mama? Dari keseringan melihat pemandangan ini rupanya terekam diotakku kalau wanita cantik itu adalah wanita yang lebih dewasa. Wanita berumur yang cantik dimataku terlihat sangat sexi dan sangat menggairahkan.

Suatu siang sepulang aku dari sekolah aku langsung ke kamarku. Seperti biasa aku melongok ke kamar Mama. Kulihat Mama Nuna dalam keadaan telanjang bulat sedang tertidur pulas. Kuberanikan untuk mendekat Mumpum perempuan cantik ini lagi tidur, batinku. Kalau selama ini aku hanya berani melihat Mama dari balik pintu kali ini tubuh cantik tanpa busana bener-bener berada didepanku. Kupelototi semua lekuk liku tubuh Mama. Ahh, si otong bereaksi keras, menyentak-nyentak ganas. Tanpa kusadari, mungkin terdorong nafsu yang nggak bisa dibendung, kuberanikan tanganku mengusap paha Mama Nuna, pelan, pelan. Mama diam aja, aku semakin berani. Kini kedua tanganku semakin nekad menggerayang tubuh cantik Mama tiriku. Kuremas-remas buah dada ranum dan dengan naluri plus pengetahuan dari film BF aku bertindak lebih lanjut dengan mengisap puting susu Mama. Mama masih diam, aku makin berani. Terispirasi film blue yang kutonton bersama temen-temen, aku tanggalkan seluruh pakaianku dan si otong dengan marahnya menunjuk-nujuk. Aku tiduran disamping Mama sambil memeluk erat.

Aku sedikit sadar dan ketakutan ketika Mama tiba-tiba bergerak dan membuka mata. Mama Nuna menatapku tajam.

“Ngapain Ndy? Koq kamu telanjang juga?” tanya Mama.

“Maaf ma, Andy khilaf, abis nafsu liat Mama telanjang gitu” jawabku takut-takut.

“Kamu mulai nakal ya” kata Mama sambil tangannya memelukku erat.

“Ya udah Mama juga pengen peluk kamu, udah lama Mama nggak dipeluk papamu. Mama tadi kegerahan makanya Mama telanjang, e nggak taunya kamu masuk” jelas Mama.

Yang nggak kusangka-sangka tiba-tiba Mama mencium bibirku. Dia mengisap ujung lidahku, lama dan dalam, semakin dalam. Aku bereaksi. Naluri laki-laki muda terpacu. Aku mebalas ciuman Mama tiriku yang cantik.

Semuanya berjalan begitu saja tanpa direncanakan. Lidah Mama kemuidan berpindah menelusuri tubuhku.

“Kamu sudah dewasa ya Ndy, gak apa-apa kan kamu Mama perlakukan seperti papamu” gumam Mama disela telusuran lidahnya.

“Punya kamu juga sudah besar, belom sebesar punya papamu tapi lebih keras dan tegang”, cerocos Mama lagi.

Aku hanya diam menahan geli dan nikmat. Mama lebih banyak aktif menuntun (atau mengajariku). Si otong kemudian dijilatin Mama. Ini membuat aku nggak tahan karena kegelian. Lalu, punyaku dikulum Mama. Oh indah sekali rasanya. Lama aku dikerjain Mama cantik ini seperti ini.

Mama kemudian tidur telentang, mengangkangkan kaki dan menarik tubuhku agar tiduran diatas tubuh indahnya. Mama kemudian memegang punyaku, mengocoknya sebentar dan mengarahkan keselangkangan Mama. Aku hanya diam saja. Terasa punyaku sepertinya masuk ke vagina Mama tapi aku tetep diam aja sampai kemudian Mama menarik pantatku dan menekan. Berasa banget punyaku masuk ke dalam punya Mama. Pergesekan itu membuat merinding. Secara naluri aku kemudian melakukan gerakan maju mundur biar terjadi lagi gesekan. Mama juga mengoyangkan pinggulnya. Mama yang kulihat sangat menikmati bahkan mengangkat tinggi-tinggi pinggulnya sehingga aku seperti sedang naik kuda diatas pinggul Mama.

Tiba-tiba Mama berteriak kencang sambil memelukku erat-erat, “Andyy, Mama enak Ndy” teriak Mama.

“Ma, Andy juga enak nih mau muncrat” dan aku ngerasain sensasi yang lebih gila dari sekedar menonton Mama kemarin-kemarin.

Aku lemes banget, dan tersandar layu ditubuh mulus Mama tiriku. Aku nggak tau berapa lama, rupanya aku tertidur, Mama juga. Aku tersadar ketika Mama mengecup bibirku dan menggeser tubuhku dari atas tubuhnya. Mama kemudian keluar kamar dengan melilitkan handuk, mungkin mau mandi. Akupun menyusul Mama dalam keadaan telanjang. Kuraba punyaku, lengket sekali, aku pengen mencucinya. Aku melihat Mama lagi mandi, pintu kamar mandi terbuka lebar. Uhh, tubuh Mama tiriku itu memang indah sekali. Nggak terasa punyaku bergerak bangkit lagi. Dengan posisi punyaku menunjuk aku berjalan ke kamar mandi menghampiri Mama.

“Ma, mau lagi dong kayak tadi, enak” kini aku yang meminta.

Mama memnandangku dan tersenyum manis, manis sekali. Kamuipun melanjutkan kejadian seperti dikamar.

Kali ini Mama berjongkok di kloset lalu punyaku yang sedari tadi mengacung aku masukkan ke vagina Mama yang memerah. Kudorong keluar masuk seperti tadi. Mama membantu dengan menarik pantatku dalam-dalam. Nggak berapa lama Mama mengajak berdiri dan dalam posisi berdiri kami saling memeluk dan punyaku menancap erat di vagina Mama. Aku menikmati ini, karena punyaku seperti dijepit. Mama menciumku erat. Baru kusadari kalau badanku ternyata sama tinggi dengan mamaku. Dlama posisi berdiri aku kemudian merasakan kenikmatan ketika cairan kental kembali muncrat dari punyaku sementara Mama mengerang dan mengejang sambil memelukku erat. Kami sama–sama lunglai.

Setelah kejadian hari itu, kami selalu melakukan persetubuhan dengan Mama tiriku. Hampir setiap hari sepluang sekolah, bahkan sebelum berangkat sekolah. Lebih gila lagi kadang kami melakukan walaupun Papa ada dirumah. Sudah tentu dengan curi-curi kesempatan kalo Papa lagi tidur. Kehadiran Papa dirumah seperti siksaan buatku karena aku nggak bisa melampiaskan nafsu terhadap Mama. Aku sangat menikmati. Aku senang kalo Papa keluar kota untuk waktu lama, Mama juga seneng. Mama terus melatih aku dalam beradegan sex. Banyak pelajaran yang dikasi Mama, mulai dari cara menjilat vagina yang bener, cara mengisap buah dada, cara mengenjot yang baik. Pokoknya aku diajarkan bagaimana memperlakukan wanita dengan enak. Aku sadar kalo aku menjadi hebat karena Mama tiriku.

Sekitar setahun lebih aku menjadi pemuas Mama tiriku menggantikan posisi ayah. Aku bahkan jatuh cinta dengan Mama tiriku ini. Nggak sedetikpun aku mau berpisah dengan mamaku, kecuali sekolah. Dikelaspun aku selalu memikirkan Mama dirumah, pengen cepet pulang. Aku jadi nggak pernah bergaul lagi sama temen-temen. Sebagai cowok yang ganteng, banyak temen cewek yang suka mengajak aku jalan tapi aku nggak tertarik. Aku selalu teringat Mama. Justru aku akan tertarik kalo melihat Bu guru Ratna yang umurnya setua Mama tiriku atau aku tertarik melihat Bu Henny tetanggaku dan temen Mama.

Tapi percintaan dengan Mama hanya bertahan setahun lebih karena kejadian tragis menimpa Mama. Mama meninggal dalam kecelakaan. Ketika itu seorang diri Mama tiriku mengajak aku nemenin tapi aku nggak bisa karena aku ada les. Mama akhirnya pergi sendiri ke mal. Dijalan mobil Mama tabrakan hebat dan Mama meminggal ditempat. Aku merasa sangat berdosa nggak bisa nemenin Mama tiriku tercinta. Aku shock. Aku ditenangkan Papa.

“Papa tau kamu deket sekali dengan Mama Nuna, tapi nggak usah sedih ya Ndy, Papa juga sedih tapi mau bilang apa” kata papaku.

Selama ini papaku tau kalo aku sangat deket dengan Mama. Papa senang karena Papa mengira aku senang dengan Mama Nuna dan menganggapnya sebagai Mama kandung. Padahal kalau Papa tau apa yang terjadi selama ini. Aku merasa berdosa terhadap Papa yang dibohongi selama ini.

Tapi semua apa yang diberikan Mama Nuna, kasih sayang, cinta dan pelajaran sex sangat membekas dipikiranku. Sampai saat ini, aku terobsesi dengan apa semua yang dimiliki Mama Nuna dulu. Aku mendambakan wanita seumur Mama, secantik Mama, sebaik Mama dan hebat di ranjang seperti Mama tiriku itu. Kusadari sekarang kalo aku sangat senang bercinta dengan wanita STW semuanya berawal dari sana.

*****

Demikianlah pembaca, kisah laluku yang indah sekaligus pahit dan penuh aib.

TAMAT

Tags : cerita sexs, cerita ghairah, melayboleh, gambar telanjang, cerita berahi, setengah baya,gadis cantik, telanjang gadis indonesia, gadis abg telanjang, cewek jakarta, artis bugil telanjang, artis sandra dewi bugil, artis bugil blogspot com, video bugil artis indonesia, kapanlagi

1 komentar 29 Juni 2010

Cerita 18sx – Pacarku Vita

Aku punya seorang pacar yang kuliah di salah satu universitas ternama yang berlokasi di daerah Grogol. Karena berasal dari daerah jawa Timur, maka pacarku tinggal di sebuah kost khusus mahasiswi. Saya sendiri sudah bekerja, dan juga berasal dari universitas yang sama. Secara keseluruhan, pacarku sangat baik, setia dan cantik, tetapi masih konvensional, alias tidak mau berhubungan sex sebelum menikah secara resmi. Sebaliknya, saya termasuk laki-laki yang mempunyai libido tinggi. Sementara ini saya hanya bisa memuaskan nafsu birahi saya dengan masturbasi, tetapi keadaan berubah 180 derajat setelah saya jadian dengan pacarku.

Setelah pulang kerja, saya langsung mengunjungi kost pacarku yang bernama Fransisca. Saya bagaikan masuk ke sebuah alam erotis ketika mengunjungi kostnya. Ada sekitar 8 penghuni yang terdiri dari mahasiswi tingkat 1 sampai tingkat 4 (Fransisca telah sampai pada tingkat 4), satu diantaranya yang tingkat 3 memiliki wajah yang cantik, namun badannya tidak selangsing Fransisca. Namanya Vita, kamarnya ada di lantai 3. Aku sering membayangkan bersetubuh dengan Vita, dan penisku memberikan reaksi yang sangat menyenangkan, yaitu orgasme. Aku sering bermasturbasi sambil membayangkan Vita, sampai akhirnya timbul sebuah ide nekat dan gila di benakku. Disinilah awal dari petualanganku yang nekat.

Aku memutuskan untuk mencuri celana dalam Vita. Telah beberapa kali aku naik ke lantai 3 bersama dengan Fransisca, di lantai 3 ada sebuah rak khusus yang digunakan oleh pembantu kost untuk menaruh pakaian yang telah dicuci. Bagusnya lagi, masing-masing rak telah diberi nama supaya memudahkan pengambilan oleh pemilik baju (dan tentunya memudahkanku juga untuk mengambil celana dalamnya).

Suatu sore ketika aku berkunjung, anak-anak kost yang lain bergerombol keluar untuk makan malam. Kebetulan juga, Fransisca sedang mandi, biasanya memakan waktu sekitar 15 sampai 25 menit. Aku mempunyai banyak waktu untuk melaksanakan rencanaku. Dengan jantung yang berdebar keras, keringat membasahi tubuhku, perasaan was-was dan tentunya penisku yang berdiri kegirangan. Terdapat 3 buah celana dalam yang berbahan licin dan halus di bawah 3 tumpuk BH nya. Langsung kuambil yang berwarna kulit (ada 2 warna; satu berwarna pink dan sisanya berwarna kulit) dan kutempelkan pada wajah horny ku dan kuhirup aromanya. Sayangnya yang tercium hanyalah wangi pelembut cucian, tetapi tetap tidak mengurangi rasa horny ku. Segera kumasukkan ke kantong celanaku dan meninggalkan TKP untuk menghindari resiko yang tertangkap yang memalukan. Aku kembali menunggu di lantai 2 dengan perasaan yang berdebar-debar takut ketahuan.

4 jam kemudian aku sudah sampai rumah. Langsung kumasuki kamar mandi, kulepas celana dan dan celana dalamku, kejantananku sudah basah dan siap untuk menerima hadiah yang telah ditunggu-tunggu. Dengan perasaan deg-deg-an ku keluarkan celana dalam Vita dan sekali lagi kutempelkan pada wajahku. Kuposisikan sisi dalam yang langsung bersentuhan dengan bibir vaginanya pada hidungku. Meskipun hanya tercium wangi dari pelembut, kubayangkan aku sedang menghirup aroma exotis dari vaginanya. Secara refleks, lidahku terjulur keluar dan kubayangkan sedang menjilati celah cintanya. Penisku makin bertambah keras dan panjang.

Kuposisikan bagian selangkangan celana dalamnya di kepala kejantananku, kemudian kubalutkan bagian lain dari celana dalamnya pada batang penisku. Tangan kiriku menggenggam penisku yang terbungkus oleh pengganti vagina Vita dan langsung mengocoknya dengan perlahan-lahan. Gesekan yang terjadi menimbulkan rasa sedikit perih pada penisku, tetapi hilang secara berangsur-angsur karena dilumasi oleh cairan pra ejakulasiku. Irama masturbasi kupercepat. Getaran-getaran listrik yang erotis terus membombardir syaraf-syaraf penis dan otakku. Akhirnya orgasme pun datang dengan indah. Tangan kananku menyingkap sebagian dari celana dalam Vita untuk mengeluarkan kepala penisku.

Sebetulnya aku ingin sekali mengeluarkan cairan kenikmatanku pada celana dalamnya, tetapi itu akan meninggalkan bukti yang jelas. Tiga semprotan panjang dan kuat mengawali arus orgasmeku yang indah. Setelah kenikmatan duniawiku berakhir, ku lepas celana dalamnya dari penisku dan mengamatinya. Terdapat bercak basah yang disebabkan oleh cairan pra orgasme ku. Di satu pihak aku ingin sekali meninggalkan jejak birahiku, tetapi di lain pihak aku takut ketahuan. Kalau ketahuan akan sangat memalukan dan menyusahkan. Kuputuskan untuk membiarkan apa adanya, kusimpan CD tersebut pada kantong celanaku dan kulanjutkan dengan mandi.

Malamnya aku bermasturbasi kembali dengan CD Vita. Benar-benar pengalaman yang menegangkan dan seksi.

Keesokan sorenya keadaan masih kondusif dan kukembalikan CD yang telah kunodai dan kuambil lagi yang lain, kali ini berwarna merah muda. Berbahan tipis licin dan halus dengan sedikit renda bermotif pada bagian depan. Hal ini terus berlanjut, terkadang hanya ada sebuah CD pada tumpukan bajunya, sehingga aku terpaksa harus melakukannya dengan cepat di wc kos. Minggu berikutnya aku dikejutkan dengan impianku. Ketika ku hirup aroma dari CD nya, aku mencium sesuatu yang sudah kukenal dengan baik, dan kejantananku pun membenarkannya. Aku mencium aroma exotis dari CD nya. Bagian CD yang bersentuhan langsung dengan surga duniawinya terasa agak lembab dan kaku. Tidak salah lagi, ini adalah aroma segar dari madu cintanya. Setelah sampai di rumah, ku tempelkan CD Vita pada mulut dan hidungku, dan kuhirup dalam-dalam. Jantungku berdebar kencang karena kegirangan tetapi ada juga rasa takut yang menyelimuti pikiranku.

Apa maksud dari semua ini? Tapi saat ini aku tidak peduli. Langsung kubalutkan penisku dengan CD nya dan masturbasiku terasa beda, lebih indah, lebih menggetarkan. Kali ini aku benar-benar hilang dalam kenikmatan yang dihasilkan oleh penisku. Sampai akhirnya madu murniku bertemu dengan madu cinta Vita. Entah berapa gelombang kenikmatan orgasmik yang kualami. Ketika tersadar, bagian selangkangan CD nya telah dipenuhi dengan madu kental berwarna putih kekuningan.

Keesokan harinya kukembalikan CD yang kuambil kemarin dan kutukar dengan yang baru. Celana dalamnya juga masih memiliki aroma exotis yang sama. Tidak terlihat perubahan pada sikap dan ekspresi wajah Vita ketika kami saling bertemu pandang. Hari berikutnya aku dikejutkan dengan celana dalam Vita yang benar-benar masih basah, aromanya benar-benar segar dan memabukkan. Sepertinya Vita baru saja selesai bermasturbasi dan sengaja membiarkanku menemukannya. Kesadaranku telah diambil alih oleh penisku, langsung aku masuk kamar mandi yang letaknya berseberangan dengan kamar Vita. Kepala kejantananku tidak henti-hentinya bergetar ketika bagian selangkangan yang basah itu menempel dengan lembut dan hangat. Baru saja kukocok beberapa kali, tiba-tiba terdengar ketukan pada pintu kamar mandi. Aku terkejut dan dengan cepat menyimpan kembali kejantananku dan mengantongi CD Vita, dan berpura-pura menyiram closet.

Ketika pintu kubuka, Vita berdiri tepat di hadapanku dan mendorongku kembali dalam kamar mandi. Kali ini Vita juga berada di dalamnya. Keringat dingin bercucuran dari tubuhku. Tangan-tangan Vita langsung merogoh-rogoh semua kantongku dan akhirnya ia mendapatkan celana dalamnya yang kusimpan di kantong belakang.

“Aku sudah tahu.. Ko Indra lah pelakunya..” ungkap Vita.

Tiba-tiba Vita langsung membuka celanaku dan mengeluarkan penisku yang sempat melemas karena shock. Dengan kedua tangan ia membelai dan meremas-remas dengan lembut penisku yang sudah basah. Rasa horny dan keringat dingin masih menyelimuti tubuh dan pikiranku. Namun, kejantananku kembali berereksi di dalam belaian Jari-jari Vita yang cekatan. Pandangan Vita terus terpana pada penisku. Ketika penisku sudah mencapai ketegangan maksimalnya, mulut Vita sedikit terbuka, nafasnya memburu sambil mengeluarkan desahan halus. Kedua tangannya dengan perlahan namun mantap bermain dengan kejantananku. Suara di dalam hatiku mengatakan inilah saatnya, lagipula aku yakin Vita bukan lagi seorang gadis perawan.

Kuangkat dagunya sehingga aku dapat melihat wajahnya dengan dekat. Ia menginginkannya, itulah ekspresi yang tertulis jelas pada wajahnya. Langsung kucumbu bibirnya yang segar dan kedua tanganku langsung menyingkap bagian bawah daster berwarna putih yang dimulai dari pertengahan paha. Kejantananku bergetar dan menjadi lebih keras dan panjang. Vita tidak memakai celana dalam, pantatnya yang lembut dan kenyal ku remas-remas. Demi menghemat waktu, tangan kiriku langsung mendarat di lembah cintanya yang kebanjiran, dan tangan kananku menuju puncak buah dadanya (juga tanpa BH). Dadanya yang berukuran 36C ku remas-remas dan klitorisnya pun mendapatkan pelayanan istimewa dari jari-jariku.

Tubuh Vita tak henti-hentinya bergetar dan mempercepat irama kocokan tangannya pada penisku. Ku senderkan Vita pada dinding kamar mandi, kuangkat kaki kirinya, kemudian tangan kiriku menuntun kejantananku menuju lembah cinta duniawi. Vita hanya berdiri pasrah menunggu penisku. Ketika ujung kepala penisku bersentuhan dengan bibir vaginanya yang basah dan hangat, Aku pun sempat bergetar. Perlahan-lahan kudorong masuk kepala penisku. Tidak ada hambatan dan gesekan yang bearti, karena celah cintanya benar-benar basah dan licin. Mulut Vita terbuka lebar, matanya tertutup rapat.

Kudorong lagi sampai hampir setengah dari panjang penisku, kemudian kutarik keluar dan kudorong masuk lagi. Sedikit demi sedikit akhirnya seluruh penisku sudah tertanam di dalam vaginanya yang sempit dan basah. Untuk sesaat aku tidak bergerak dan merasakan dinding-dinging liang cintanya mendekap kejantananku. Kulihat jam tanganku, hanya tersisa 10 menit sebelum Sisca keluar dari kamar mandinya.

Vita memelukku dengan erat, aku langsung menyetubuhinya dengan perlahan-lahan. Setiap tarikan dan dorongan menciptakan sensasi erotis yang sangat indah. Irama kupercepat bagaikan piston mobil yang memompa dalam putaran mesin yang tinggi. Desahan dan erangan Vita makin membuatku bernafsu, apalagi tidak sampai 2 menit Vita sudah meluncur ke alam orgasme yang tiada batasnya. Aku jadi berpikir, siapa yang sebenarnya lebih horny dan menikmati permainan ini. Jawabannya sudah jelas.

“Penisnya besar dan kuat sekali..” Vita membisikkan kata-kata tersebut di telingaku sambil terus menikmati persetubuhan ini.

“Memangnya kamu belum pernah ketemu yang sebesar ini?”

Vita menggeleng, “Punya cowokku cuma 5 cm dan kurus..”

“Jadi lebih enak yang mana?” tanyaku.

“Tentu saja punya Ko Indra, rasanya benar-benar pas..”

Vita yang baru berumur 20 tahun benar-benar cocok dengan seleraku. Aku paling suka bercinta dengan daun-daun muda. Vita, daun mudaku yang cantik, akan kubuat dia tidak dapat melupakan persetubuhan ini. Setelah Vita selesai menikmati sisa-sisa orgasmenya, ia melepaskan diri dari dekapanku dan berlutut di hadapan kejantananku.

Lidahnya terjulur dan menyapu sepanjang batang penisku yang basah diselimuti oleh madu cintanya. Dengan cekatan Vita menjilati penisku, kemudian mengulum kepala penisku yang merah. Mulutnya yang hangat ditambah dengan tarian liar yang dilakukan oleh lidahnya membuat penisku berdenyut-denyut seperti orgasme. Untuk beberapa saat ia hanya mengulum kepala penisku, kudorong kepalanya dengan lembut.

Vita mengerti apa yang kuinginkan, ia mulai melahap seluruh batang penisku. Ia sedikit mengalami hambatan yang disebabkan oleh panjangnya kejantananku. Namun rongga mulutnya dengan cepat dapat beradaptasi, sehingga Vita pun bercinta dengan kejantananku menggunakan mulutnya. Guncangan kuat mengawali orgasmeku yang kencang dan hebat. Vita sempat tersedak dan mengeluarkan penisku dari dalam mulutnya. Kupegang penisku sambil mengocoknya, mulutnya yang terbuka menjadi sasaran tembak madu kejantananku. Beberapa tetes maduku mengenai hidung dan pipinya. Pemandangan yang erotis sekali. Vita menutup mulutnya dan langsung menelannya. Kemudian penisku kembali hilang di dalam mulutnya. Lidahnya sibuk menyapu sisa-sisa maduku dan dihabiskan semuanya.

Kusuruh Vita berdiri, ia menatapku dengan expresi puas dan nakal, senyumnya yang manja ditambah dengan noda madu putihku yang masih menempel di wajahnya membuat ku horny lagi. Jari telunjuk dan tengah tangan kanannya menyapu hidung dan pipinya, kemudian jarinya langsung dikulum di dalam mulutnya.

Sudah saatnya aku keluar dan menunggu di tempat biasa. Vita dengan cepat menyelipkan selembar kertas kecil ke kantong celanaku. Kertas itu berisikan no telepon Vita.

Vita membantuku merapikan baju dan celanaku.

“Besok, jangan ambil celana dalamku lagi..”

Timbul rasa kecewa di dalam hatiku.

“Langsung saja..” Vita menempelkan tanganku pada pintu kenikmatan duniawinya.

Aku yakin ia telah merasakan arti sebenarnya dari bercinta. Meskipun kilat, namun menimbulkan kesan yang dalam. Kuhapus keringatku dengan tissue dan menyambut Sisca yang baru selesai mandi.

Setelah hari ini hampir setiap hari kami bercinta kilat di kamar mandi lantai 3. Vita menjadi tempat pelampiasan nafsuku yang menggebu-gebu. Hubunganku dengan Vita hanyalah murni sebatas kenikmatan seksual, karena kami sangat menikmatinya.

TAMAT

Tags : Cerita panas, 19 tahun,cerita sexs, cerita ghairah, melayboleh, gambar telanjang, cerita berahi, setengah baya,maria ozawa facebook,maria ozawa uncensor,maria ozawa blogspot com,gambar bokep,gambar ngentot,gambar memek,gambar wanita telanjang

2 komentar 23 Juni 2010

Cerita 18sx – Akhirnya Kunikmati Pemerkosaan Itu – 6

Dari Bagian 5

Tiga lelaki dikursi ternyata sudah mengeluarkan penis mereka dari balik celana sambil mengocoknya dengan tangan sendiri. Sementara Mas Rudi kulihat pun terpana dengan adegan jangkung dan Ijah.

“Aaahh.. Ommhh ammpuhhnn omhh.. Engghh,” Ijah mendadak mengeluarkan desis kenikmatan waktu jangkung membetot lakban di mulutnya.

“Ha.. Ha tuh kan akhirnya ennaak, makanya jangan ngelawan yah..,” jangkung bangga terus nggenjot Ijah. Saat itu terus terang aku mulai membayangkan betapa sebentar lagi aku pun akan merasakan kenikmatan seperti Ijah, dientot lelaki asing.

“Iyaahh Oom terusinn.., aku sudah lama nggakk ginian,” Ijah menceracau.

“Ohh sayanghh, omhh nggak tahaann aahhggkk,” si jangkung rupanya over nafsu. Ijah belum apa-apa jangkung sudah kejang diatas tubuh ijah.

“Wah.. Payah lo kopral,” si botak menghardik.

“Ayo sana biar Om botak yang selesaikan sayang,” botak mendekat tubuh Ijah yang pasrah, jangkung lunglai disamping Ijah.

“Ohh.. Omhh botak.. Cepethhaann puasiinn Ijahh..,” Ijah rupanya sudah dilanda birahi yang sangat.

Matanya merem melek dan pinggulnya bergoyang erotis meminta penis si botak segera masuk. Botak segera menindih tubuh Ijah setelah ia melucuti pakaiannya sendiri. Penisnya yang gemuk pendek mendesak masuk ke vagina Ijah yang sudah becek kena sperma jangkung.

“Duhh omhh.. Ennakhh Ijhaah omhhpff..,” bibir Ijah langsung dikulum sambil tubuh botak menggenjotnya kuat. Mereka bermain imbang, desahan dan gerakan tubuh mereka mulai mempengaruhi dua lelaki lain dan Mas Rudi yang terus melotot ke arah Ijah dan botak.

“Mpfhh.. Huhh sayanghh.. Enak sekali vaginamu sayanghh..,”

“Iyaahh omhh.., Ijaahh keluuaarrhh.. Ouhhgg omnhh nnaakkhh omhh..,” tubuh Ijah kaku dengan tangan memeluk keras tubuh botak.

“Ahhggkk.. Ayoo saynggh.. Omhh jugaa nihh,” Botak pun orgasme. Botak berbaring diatas tubuh Ijah tanpa mencabut penisnya, Ijah malah senang dan memeluk botak sambil menciumi pipinya.

Lelaki berbadan gemuk bangkit dari kursi dan melucuti pakaiannya. Penisnya yang tegang mengacung acung, dan ia bergerak ke arahku.

“Hei brengsek.. Lihat ya sebentar lagi istrimu ini akan merengek juga seperti pembantumu itu.. Ha.. Ha,” ia menghardik Mas Rudi. Mas Rudi terlihat pasrah, sementara aku sendiri bingung harus bagaimana dalam posisi terikat, terlentang, dan telanjang seperti itu.

Tanpa dikomando si gemuk langsung saja menggerayangi tubuh telanjangku. Hisapan demi hisapan, jilatan lidahnya menyapu bersih lekuk tubuhku. Aku berusaha berontak tapi percuma, aku terikat. Kutatap Mas Rudi meneteskan airmata saat itu. Aku mau marah pada si gemuk, tapi posisiku sulit. Apalagi terus terang aku pun mulai dijalari birahiku. Kenyataan harus terjadi, aku istri yang sudah berbulan bulan ini tak pernah menikmati permainan seks suamiku, tentu tak bisa menahan rangsangan yang sedang terjadi pada tubuhku.

“Mhhppmm,” aku merintih saat lidah si gemuk mulai menjilati bibir vaginaku.

“Woowww.. Mulus sekali pelacur yang satu ini.., gimana sayanghh marah ya? tapi kok vaginanya sudah banjir,” si gemuk mengejekku, aku terpejam tak mampu memandang Mas Rudi.

“Hmmpp,” Mas Rudi bersuara, tetapi si tubuh besar langsung menggamparnya.

Situasi sudah sulit, lidah si gemuk semakin liar dan membuat kenikmatan tersendiri padaku.

“Ehmmhh,” aku merintih tak bisa menahan kenikmatan itu, pinggulku mulai bergerak teratur seirama jilatan lidah si gemuk divaginaku, aku pasrah dan menikmati permainan gemuk itu. Malah saat ini aku mulai bernafsu agar penis si gemuk mengoyak vaginaku yang sudah gatal.

Tapi rupanya si gemuk sengaja menyiksaku, jilatan lidahnya sudah masuk kemenit lima belas menerjang vaginaku. Aku sudah bergerak tak karuan menerima kenikmatan darinya, tapi tak juga gemuk menyetubuhiku.

“Mhhppff.. Engghh..,” aku tak tahan lagi, seluruh rasa nikmat berkumpul diklitorisku membuat pertahananku akhirnya jebol. Aku orgasme dengan belasan kedutan kecil divaginaku. Aku malu sekali pada Mas Rudi yang terus menatapku, tapi apa daya, maafkan aku Mas, aku tak berdaya.

“Haa.. Haa, keluar juga airmu sayanghh. Tapi biar yang puaskan kau lagi si jendral ya. Aku akan lanjutkan dengan Ijah,” gemuk meninggalkanku dan menuju Ijah.

Disingkirkan tubuh botak yang masih lemas diatas tubuh Ijah, lalu gemuk menyetubuhi Ijah. Astaga, Ijah rupanya birahi lagi saat aku dikerjai lidah gemuk tadi, sehingga saat gemuk membenamkan penisnya ke vagina Ijah, dia malah menggebu gebu menerima. Aku sungguh iri dengan Ijah yang sudah klimaks pakai penis tapi dikasih lagi sama si gemuk. Huh apa aku kurang sexy, pikirku.

Belum habis pikir, mendadak kurasa tubuhku ada yang meraba-raba lagi. Rupanya si tubuh besar yang dipanggil jenderal itu sudah telanjang dan sudah berada disisiku sambil menciumiku. Ciumannya sungguh lembut tak seperti gemuk yang agak kasar dan terburu-buru.

“Aku akan memberimu kepuasan sayanghh, kamu cantik bidadariku,” tak kusangka Jenderal membisikan kalimat itu ke telingaku, tentu Mas Rudi tak mendengar karena bisikannya sangat pelan. Entahlah apa yang terjadi, yang jelas mendapat bisikan penuh kasih begitu gairahku naik lagi. Jenderal lalu membuka lakban dibibirku dan ikatan ditanganku, sedangkan kakiku tetap terikat diujung dipan bawah.

Kini tanganku sebenarnya bebas tapi kenapa aku tak melawan? Aku sengaja memukul dada bidang Jenderal hanya untuk menjaga perasaan Mas Rudi, dan Jenderal yang tahu maksudku kembali menangkap tanganku dan disekapnya dengan posisi menindihku. Saat itu kelamin kami sudah bertemu walau penis Jenderal yang tegak belum dimasukan ke vaginaku.

“Jangann.. Kumohonn jangann..,” aku merintih antara penolakan karena ada suamiku, dan harapan agar Jenderal segera menyetubuhiku karena birahiku sudah tinggi dan menggebu.

“Tenang sayang. Aku sudah tahu semua file rumah tanggamu dan si brengsek itu. Aku tahu kalau Rudi suamimu tak lagi mampu melayani kebutuhan sexmu,”

Aku tersentak mendengar ucapan jenderal, lalu aku memandang Mas Rudi, Mas Rudi tampak pasrah memandang tubuh istrinya yang sesaat lagi akan menyatu dengan tubuh lelaki lain. Jenderal kemudian mencium dan mengulum bibirku beberapa lama, tanpa sadar aku membalas lumatan bibirnya dengan nafsu pula. Kurasakan dia berusaha menepatkan posisi ujung penisnya dibelahan bibir vaginaku.

“Mhhppff.., aahh.. Enghh..,” aku merintih nikmat tak peduli lagi Mas rudi menatap kami, saat penis besar Jenderal mendesak masuk keliang nikmatku.

“Ouhh.., sudah kusangka vaginamu masih rapat sayanghh.., nikmati permainan kita ya manis,” jenderal berbisik lagi membuatku semakin melayang dipuji-puji.

Penis Jenderal keluar masuk secara teratur di vaginaku dan aku mengimbanginya dengan gerakan pinggul memutar.

“Hmm.., puaasshhkan aku sayangghh..,” tak sadar aku membalas bisikan Jenderal itu sambil memeluk tubuhnya untuk lebih rapat menindihku.

“Chhaantikhh kamu sayanghh.., cantik sekali wajahmu saat nikmat ini,”

“Aohh.. Iyaahh sayanghh.. Akhuu milikmuh saat ini..,”

Kuakui permainan lelaki yang dipanggil rekannya sebagai jenderal memang luar biasa, romantis, lembut, tapi sungguh memacu birahiku secepat genjotannya di tubuhku. Gerakan tubuh jenderal semakin cepat dan teratur diatas tubuhku. Erangan dan rintihanku sudah tak bisa membohongi Mas rudi kalau aku memang birahi saat itu. Tapi saat aku hampir klimaks, mendadak jenderal menghentikan aktifitasnya dan mencabut penisnya dari vaginaku. Ia lalu membuka ikatan di kedua kakiku.

“Ayo sayang kita berdiri,” jenderal menarik tubuhku berdiri, lalu mendorong punggungku ke arah kursi Mas Rudi.

Posisiku jadi tepat berhadapan wajah dengan Mas Rudi suamiku, dan jenderal dibelakangku kembali menghujamkan penisnya ke vaginaku. Aku malu sekali saat itu, aku harus sekuat tenaga menyembunyikan wajah terangsangku dihadapan Mas Rudi, tapi dilain sisi kenikmatan yang sangat dari penis jenderal menghujam di vaginaku dari belakang.

“Ahh.. Ouhh.. Maaffkhaann akuhh mass..,” hanya itu yang terucap di bibirku saat sodokan penis jenderal masuk ke menit ke sepuluh dalam posisi nungging itu.

“Ayohh sayang.. Lepas lakban suamimu,” jenderal memerintahku, dan kubuka lakban dimulut Mas Rudi. Aneh Mas Rudi tak lagi marah, ia terlihat sangat pasrah.

“Masshh,” kulumat bibir Mas Rudi dan Mas Rudi mengangguk lalu membalas lumatan bibirku.

Jenderal semakin keras mengocokku dari belakang, aku semakin tak terkendali kurasakan kenikmatan sudah puncak dan menjalar diseluruh tubuhku mengumpul dibagain pantat, paha, vagina dan klitorisku.

“Ahh sayyanngghh.. Ohh.. Mmffhhpp..,” aku tak kuasa lagi membendung kenikmatan itu, dinding vaginaku berkedut berkali-kali disodok penis jenderal. Bibir Mas Rudi kembali kuhisap kuat.

Belum habis orgasme yang kurasakan, Jenderal menarik tubuhku dari belakang dan menggendongku. Posisiku seperti anak kecil yang dibopong bapaknya yang bertubuh besar dari belakang.

“Ayo maniss.. Ini lebih nikmat sayanngg.., sekarang merengeklah sepuasmu honneyy,” dalam posisi itu penis jenderal masih mengocokku tangannya mengangkat tubuhku naik turun dengan posisi berdiri.

“Akhhss.. Sahhyaangghh..,” aku tuntas sudah, orgasmeku sempurna ditangan jenderal.

“Oghhkk.. Terima maniku sayanghh,” jenderal orgasme dengan posisi berdiri menopang tubuhku yang lunglai. Kurasakan seburan spermanya menembus dinding rahimku. Lalu jenderal menjatuhkan tubuh kami diatas ranjang kembali, kami berpelukan seperti pasangan kekasih.

“Terima kasih sayang.., kalau saja kau istriku aku pasti bahagia,” jenderal kembali melumat bibirku. Aku membalasnya dan dalam hatiku pun menjawab seandainya juga kau suamiku jenderal.

Aku tak peduli lagi malam itu, aku pun lemas dibuai nikmat hingga akhirnya tertidur lelap.

*****

“Sayang.. Bangun sayang,” suara Mas Rudi membangunkanku.

Ternyata hari sudah pagi, dan empat lelaki itu sudah tak ada lagi. Aku masih telanjang dan hanya terbungkus selimut, Ijah masih tertidur telanjang juga dilantai. Sedangkan Mas Rudi terlihat lusuh.

“Oh.. Mas, maafkan aku semalam Mas.. Aku seharusnya melawan,” kupeluk suamiku, aku takut kehilangan Mas Rudi.

“Nggak sayang, aku yang salah.., Harusnya aku bisa melindungimu,” Mas Rudi memelukku erat.

Sejak kejadian itu, kami pindah rumah di wilayah yang agak jauh dari kota M, tempat Mas Rudi bekerja, tapi masih satu provinsi dengan kota M.

TAMAT

Tags : Cerita ngewe,gambar bugil, gambar, cerita berahi, cerita pemerkosaan, cerita ghairah, cerita sexs, Cerita Seks, cerita 17 tahun, Skodeng, cewek cantik, toket, cewek abg, cerita saru, Cerita Setengah Baya, Cerita Daun Muda

Add a comment 17 Juni 2010

Cerita 18sx – Akhirnya Kunikmati Pemerkosaan Itu – 3

Dari Bagian 2

Ya Tuhan, aku sudah menodai kepercayaan Mas Rudi. Aku menitikan air mata usai meraih kepuasanku dari Maman.

“Maafkan saya nyonya, saya khilaf waktu lihat nyonya tidur dan pintu tak ditutup,” Maman membuka bicara.

Dari situ aku tahu, sehabis dipijat Ijah, aku tertidur dan Ijah tak menutup pintu kamarku. Setelah larut saat Ijah, Minah dan Jaka tidur, Maman hendak menguncikan pintu rumah tetapi batal karena melihat posisi tidurku dengan daster tersingkap. Maman jadi khilaf dan berniat memperkosaku.

“Kalau saya mau dipecat, saya hanya minta uang saku untuk pulang kampung nyah, saya nggak minta apa-apa lagi,” tutur Maman mengiba.

“Kamu nggak salah Man, aku yang salah aku juga khilaf. Ya sudah kamu pindah kamar sana dan jangan bilang siapa-siapa ya, anggap saja tadi itu hadiah dariku buat kamu,” kataku sambil menyuruh Maman pergi dari kamarku.

Hari ketiga saat Mas Rudi liputan luar kota, aku jadi termenung sendiri dalam kamar sejak pagi. Urusan kios aku percayakan sepenuhnya pada pembantuku, sementara aku hanya memikirkan kejadian malam kemarin dengan Maman. Kupikir aku diperkosa dan diinjak-injak harga diriku, tapi kupikir lagi aku pun menikmatinya, malah harus berterima kasih pada Maman yang telah mengobati rinduku selama ini untuk bersenggama dengan lelaki sebenarnya.

Sejak kejadian dengan Maman itu, aku seperti menemukan kehidupan baru. Jika aku butuh kepuasan semacam itu aku akan memanggil Maman melayaniku. Tentu saja semua tanpa sepengetahuan Mas Rudi, suamiku tercinta.

Tiga bulan sejak kerap melakukan hubungan gelap dengan Maman, tukang kebunku, aku merasa irama hidupku menjadi normal. Walau aku sadar telah menodai kepercayaan Mas Rudi suamiku, tapi aku juga kan wanita normal yang butuh kepuasan yang tak mungkin kudapat dari Mas Rudi lagi.

Sore itu hujan turun di kota M, sementara aku, Ijah, dan Jaka masih melayani pelanggan kios serba ada milikku. Mas Rudi belum pulang, biasanya pulang larut malam, Minah sibuk masak di dapur, dan Maman terakhir tadi kulihat membersihkan taman dibelakang rumahku.

“Aduh.. Jah, lanjutin dulu ya kerjaannya, saya mau lihat Minah di dapur. Tadi lupa bapak minta buatin telur asin,” aku mendadak ingat Mas Rudi memesan telur asin kesukaannya untuk makan malam.

Kutinggalkan Ijah dan Jaka melayani pelanggan kiosku, dan aku berlari kecil melalui pintu pembatas kios-rumah menuju dapurku.

“Minn.. Minaahh..,” sampai di dapur Minah yang kucari sudah tak ada, hanya ada sayur lodeh yang mendidih diatas kompor nyala.

“Astaga Minah kok ceroboh sih.., kemana lagi si Minah uhh,” segera kuangkat panci berisi lodeh, kompor kupadamkan dan selanjutnya mencari Minah.

Tadinya kupikir Minah lagi pipis atau buang air besar di WC belakang, jadi aku melangkah kesana. Tapi belum sampai ke WC pembantu itu, aku dengar suara rintihan khas orang sedang bersenggama. Ups.., langkah kuhentikan di tepi letukan tembok, kusaksikan pemandangan yang membuat darahku berdesir.

Maman sedang asyik menggenjot pantatnya dengan penis besar yang tertancap di vagina Minah, Maman berdiri, sedangkan Minah nungging berpegang pada pagar kayu di taman belakang rumahku. Mereka tampak buru-buru dan tidak telanjang, daster Minah diangkat naik dan CDnya diturunkan sebatas lutut, dan celana Maman merosot sebatas lutut pula, tapi baju mereka tetap terpasang. Meski hujan cukup deras mereka tidak basah karena di taman belakang rumahku Mas Rudi sengaja membuat tempat duduk teduh untuk menghabiskan jika ada waktu santai kami.

“Ohh Kaang.. enak.. aahhsst,” Minah menjerit tertahan, orgasme sampai pinggulnya bergetar hebat.

“Ouhh iyaahh Minnhh.. ssiip,” tubuh Maman pun mengejang menyusul orgasme Minah, tentu sperma Maman banyak menyiram vagina Minah, pikirku.

Sialan, rupanya mereka curi kesempatan karena hujan deras. Ehm, mungkin enak juga ya bersenggama saat hujan deras. Sebelum mereka merapikan pakaiannya, aku langsung kembali ke dapur dan duduk di kursi dapur.

“Ehh, Ibu kok disini?, ehh anu Bu.., saya habis pipis.., tapi sayurnya nggak hangus kan Bu?,” Minah gugup melihatku ada di dapur.

“Iya.. iya, tapi lain kali jangan ceroboh dong, untung saya ke dapur. Kalau nggak kan bisa kebakaran rumah ini,” kataku pada Minah, Minah manggut-manggut.

Malamnya, hujan masih lebat. Tiba tiba telepon berdering.

“Halo sayang, maaf ya.. aku nggak bisa pulang. Nginep di kantor ada kerjaan tambahan yang harus kelar malam ini,” begitu inti bicara Mas Rudi saat telepon kuangkat.

Aneh, harusnya sebagai istri aku kecewa suami nggak pulang. Tapi kok aku malah senang ya? Malah pikiranku ingin segera menemui Maman dan melampiaskan kerinduanku pada penisnya yang hitam besar itu.

Jam 10 malam, aku sengaja mengenakan daster tipis tanpa CD dan bra, menikmati acara hiburan TV di ruang tengah rumahku, sejuk segar rasanya. Hujan masih lebat.

“Permisi Bu, mau ikutan nonton,” suara Jaka membuatku sedikit terkejut.

“Eh.. kamu Jak, si Ijah mana?,” aku duduk diatas sofa, Jaka ambil duduk di lantai semeter di depanku.

“Anu Bu, sudah tidur, kecapean mungkin. Semua sudah tidur, saya aja belum ngantuk Bu”

“Wah.., padahal saya mau dipijitin, cape juga nih, pegel,” aku memijit-mijit sendiri kakiku, tubuhku merunduk.

Jaka memperhatikanku tak berkedip, dasterku terkuak dalam posisi itu, buah dadaku pasti terlihat Jaka.

“Kamu bisa mijitin Jak?,” pertanyaanku membuat Jaka kaget, tapi tetap menatapku.

“Ah Ibu, saya nggak berani Bu, nanti dikira usil,” Jaka malu, pemuda itu memang selalu pemalu, tapi aku tahu selama ini dia sering curi pandang menikmati indah tubuhku.

“Kok gitu? kalau bisa tolong saya dipijitin ya Jak. Disini aja disofa biar kamu nggak dibilang usil,” aku rebah dengan posisi menelungkup.

Jaka ragu-ragu tapi kemudian mendekatiku. Sofa ruang tengah agak lebar ukurannya, jadi Jaka kusuruh duduk di tepi sofa dan memijitku.

“Permisi loh Bu,” Jaka mulai memijiti betisku, tangannya dingin membuat pijitannya terasa asyik di betisku.

“Hmmh, enak juga tanganmu ya Jak, belajar mijit dimana sih,”

“Nggak kok Bu, cuma biasa mijitin Kang Maman aja kalau dia cape,”

“Agak naik dong Jak, pahanya agak pegel,” perintahku disambut Jaka semangat. Paha dan betisku dipijit naik turun, kanan kiri.

Hujan semakin lebat diluar, pijitan Jaka mulai asyik kurasakan. Kadang tangannya terasa mengelus dan membelai betis dan pahaku, bukan lagi memijit. Tapi kubiarkan saja aksinya itu, kunikmati saja tangan nakalnya itu.

“Badannya mau dipijit juga Bu?,”

“Iya dong Jak, sekarang punggungku pijitin gih,”

Jaka memijit punggungku masih terhalang daster, tapi Jaka tahu, aku tak pakai bra karena tali bra tak ada di punggungku.

“Sebentar Jak, biar gampang kamu mijit,” aku bangun dan menurunkan dasterku sebatas dada, menutupi susuku saja, lalu rebah lagi tengkurap. Kini tangan Jaka memijit punggungku dan menyentuh langsung kulit mulusku, kadang tangannya mengambil kesempatan ke sisi tubuh menyentuh samping pangkal susuku.

“Ohh di situ Jak, pegel tuh, ouhh asshh.. enak Jak,” suaraku sengaja mendesis, nampaknya Jaka sudah dibuai nafsu. Pijitannya sudah berubah elusan dan remasan dipunggungku, kini malah turun ke pinggang, menyentuh pantatku, aku yakin Jaka pun tahu aku tak pakai CD.

“Jak?,”

“Ehh.. saya Bu,” suara Jaka agak serak menahan nafsunya.

“Pijitin terus sampai saya tidur ya. Kalau saya ketiduran nanti kamu kunci pintu belakang kalau sudah nonton TV ya, biar saya tidur disini,” aku sengaja bicara sambil terpejam, Jaka mengiraku sudah ngantuk benar.

Beberapa menit setelah itu aku sengaja tak bersuara lagi dengan mata terpejam seperti tidur. Jaka masih mijitin aku, tapi sekarang sepenuhnya hanya meremas dan meraba-raba tubuhku. Sekejap aku balikkan badan dan masih pura-pura tertidur, posisiku jadi menghadap atas, daster bagian depanku turun sampai separuh susuku nampak jelas. Jaka kaget, kulihat dari sela mata pejamku, ia berhenti mijit tapi tetap duduk di sisi sofa dan memandangi tubuhku. Aku tahu Jaka tersangsang dengan posisi tubuhku yang menantang.

Sebentar saja Jaka mematung, setelah itu kurasakan tangannya mengelus-elus pangkal susuku yang tersibak. Pelan-pelan sekali, dia takut aku bangun tuh. Setelah yakin aku tidur Jaka lebih berani menyibak dasterku lebih terbuka sampai susuku bebas tak terhalang.

“Ohh.. cantik sekali kamu Bu..,” Jaka berbisik sendiri sambil mengelus-elus susuku.

“Ahhss Mas Rud..,” aku pura-pura ngigau.

“Iya sayang.. ini Mas Rudi,” Jaka konyol menjawab ngigauku, pasti ia mulai berpikir ini kesempatan emas.

Benar saja dugaanku, setelah igauan itu didengar, Jaka tak ragu lagi melancarkan serangannya. Tangannya yang kasar mulai meremas-remas susuku, bibirnya juga ikut terjun mencium dan menjilati puting susuku.

“Ouuhh Mass.., ngghh.. gelii Mas aahhff..,” masih pura pura tidur aku merangkul tubuh kurus Jaka, ia semakin semangat menciumi susuku. Kini tangan Jaka sudah merayap ke bawah, pahaku diusap-usapnya.

Ke Bagian 4

Tags : Cerita ngewe,cerita sex, ngentot, Bugil, Telanjang, Foto Bugil, ABG BUGIL, cewek bugil, gambar bugil, gambar, cerita berahi, cerita pemerkosaan, cerita ghairah, cerita sexs, Cerita Seks, cerita 17 tahun

Add a comment 16 Juni 2010

Cerita 18sx – Nikmatnya Tubuh Keluargaku

Hari ini entah mengapa aku merasa suntuk banget. Di rumah sendirian, ga ada yang menemani. Mama lagi pergi arisan, Mbak Ani kuliah, Bik Suti lagi pergi ke pasar. Bener-bener deh aku kesepian di rumah.

“Daripada BT sendiri, mending nonton BF aja di kamar,” pikirku.

TV mulai kunyalakan, adegan-adegan panas nampak di layar. Mendengar desahan-desahan artis BF yang cantik dan bahenol tersebut membuat aku terangasang. Dengan lincahnya tanganku melucuti celana beserta CD-ku sendiri. Burungku yang sedari tadi tegak mengacung kukocok perlahan.

Film yang kutonton itu cukup panas, sehingga aku menjadi semakin bergairah. Kutanggalkan pakaian yang masih melekat, akhirnya tubuhku tanpa ada penutup sekalipun.

Kocokan tanganku semakin cepat seiring dengan makin panasnya adegan yang kutonton. Kurasakan ada getaran dalam penisku yang ingin meyeruak keluar. Aku mau orgasme. Tiba-tiba..

“Anton.. apa yang kamu lakukan!!” teriak sebuah suara yang aku kenal.

“Mama..?!”

Aku kaget setengah mati. Aku bingung sekali saat itu. Tanpa sadar kudekati Mamaku yang cantik itu. Tiba-tiba saja aku mendekap tubuh Mamaku yang bahenol itu. Kucium dan kulumat bibir tipisnya yang seksi. Mama mencoba untuk berontak.

“Anton.. ingat, Ton. Aku ini Mamamu?!” teriak Mama mengingatkanku.

Aku tak lagi peduli. Salah Mama sendiri sih. Orang mau orgasme kok diganggu. Dengan buasnya aku jilat telinga dan tengkuknya, kedua payudaranya kuremas-remas sampai Mama menjerit kesakitan. 10 menit aku melakukan hal itu, kurasakan tidak ada lagi perlawanan dari Mama. Nampaknya Mama mulai terangsang juga. Diraihnya penisku yang menggelantung, tangan mungilnya mulai mengocok penisku yang kubanggakan. Dengan perlahan kubuka baju Mama. Satu demi satu kancingnya kulepaskan, dan perlahan mempertontonkan keindahan tubuh di balik kain itu.

Setelah berhasil membuka baju dan BH-nya, kuturunkan ciumanku menuju ke payudara Mama yang padat berisi. Kucium dan kulumat putingnya yang berwarna kecoklatan itu. Terkadang kugigit dan kupuntir putingnya, membuat gairah Mamaku semakin berkobar.

“Uuhh..aahh..Terus, Ton. Ya..terus..Oohh..” erang Mamaku demi menahan nikmat yang dirasa.

“Ma..capek nih berdiri. Pindah ke kasur aja yah..” pintaku.

“Ya deh..” suara Mama bergetar menahan gariah yang tertunda.

Kugendong tubuh Mama yang setengah telanjang itu menuju ke kasurku sambil tetap kuciumi kedua payudaranya. Kurebahkan tubuh mungilnya, dan segera kutindih tubuh Mamaku itu. Kuremas payudara sebelah kanan, sedangkan mulutku ini mengulum dan mencucup yang kiri. Dengan bantuan Mama, kubuka rok mini Mamaku. Ciumanku turun ke pusarnya. Usapan lidahku diperutnya membuat tubuh Mamaku semakin bergelinjang tak karuan.

Setelah kurasa cukup bermain lidah di perutnya, kugigit CD Mama, dan dengan gigiku kutarik CD-nya. Dengan susah payah akhirnya berhasil juga aku membukanya dengan cara tersebut. Terdiam ku sejenak, demi melihat keindahan vagina Mama yang terpampang jelas di depanku.

“Ton, kok malah melamun sih? Kenapa?”

“Ah..enggak, Ma. Anton kagum aja ama vagina Mama. Indah, Ma.”

“Ah..kamu bisa aja. Jangan cuma dipandangi aja dong.”

Vagina Mama sangat indah menurutku. Disana terdapat rambut yang lebat, dan bentuknya sungguh sangat menggairahlan. Kudekatkan wajahku keselangkangan Mama. Tercium bau khas seorang yang wanita yang dapat membangkitkan gairah lelaki. Kusapukan lidahku di garis vertikal itu. Tubuh Mama membusur menerima usapan lidahku di sana. Kutarik klitorisnya, kugigit kecil, kukulum dan terkadang kutarik-tarik. Nampak dari wajahnya, Mamaku menikmati permainanku di daerah kemaluannya.

Kumasukkan ketiga jariku sekaligus, kubiarkan sejenak, kurasakan lembab di sana. Dengan perlahan kumaju-mundurkan jemariku. Perlahan tapi pasti. Tanganku yang satunyapun tak tinggal diam. Kutarik klitorisnya, kupuntir dan kupilin, membuat tubuh Mama semakin bergoyang tak karuan.

Akupun semakin bergairah melihat tubuh Mamaku seperti itu. Semakin cepat aku mengocok vagina Mamaku, bahkan aku mencoba untuk memasukkan kelima jariku sekaligus. Tak lama kemudian kurasakan jepitan vagina Mama semakian kuat, kupercepat kocokanku. Mata Mama membeliak ke atas dan digigit bibir bawahnya yang seksi itu, kemudian.

“Ah..Mama mau sampai, Ton. Ah..ah..”

Dan akhirnya, Seerr.. cairan kewanitaan Mama membasahi jemariku. Kucopot jemariku dari liang kewanitaan Mama, kuturunkan wajahku dan kujilat habis air itu sampai tak tersisa.

“Ton, kamu hebat juga yah. Hanya dengan jemarimu saja Mama sudah bisa orgasme seperti tadi..” kata Mamaku terengah-engah.

Kami terdiam sejenak untuk memulihkan tenaga. Mamaku bersandar dibahuku dengan tersenyum puas. Jemari lentik Mama bermain-main manja mengelus dan mengusap penisku yang masih saja tegak mengacung.

“Ton, punya kamu gede juga ya. Punya Papamu dulu aja nggak sampai segede ini.”

“Ah, Mama. Anton kan malu.”

“Ngapain juga kamu malu, toh memang benarkan.”

Jemari lentik Mama masih saja memainkan penisku dengan manja. Seperti mendapat mainan baru, tangan Mama tak mau lepas dari situ.

“Ma, kok didiemin aja. Dikocok dong, Ma, biar enak.”

“Ton, Ton..kamu keburu nafsu aja.”

Perlahan Mama pindah ke selangkanganku. Digenggamnya penisku dengan kedua tangannya, dijilatnya kepala penisku dengan lidahnya. Bergetar seluruh tubuhku menerima rangsang dari mulut Mamaku. Dijilatnya selutuh batang kemaluanku, mulai dari pangkal sampai ujung. Tak ada bagian yang terlewat dari sapuan lidah Mama.

Dikocoknya penisku didalam mulut Mama, tapi tak semuanya dapat masuk. Mungkin hanya ¾ nya saja yang dapat masuk ke mulut Mama. Kurasakan dinding tenggorokan Mama menyentuh kepala penisku. Sungguh sensasi sangat luar biasa menjalar ke seluruh tubuhku. Cukup lama juga Mama mengulum penisku. Kurasakan batang penisku mulai membesar dan makin mengeras. Dari dalam kurasakan ada sesuatu yang memaksa untuk keluar. Merasa aku akan keluar, Mama semakin cepat mengocok batang kemaluanku.

“Ma.. ah.. aohh.. Ma, Anton mo keluar, Ma.”

Akhirnya..Croott..croott..croott..

Hampir sepuluh kali cairan itu menyembur dari ujung penisku. Diminumnya dengan rakus maniku itu. Dijilatnya semua, sampai tak ada lagi cairan yang tersisa. Meskipun sudah keluar tetapi penisku tetap saja tegar meski tak seberapa keras lagi. Melihat itu, Mamaku menggosok-gosokkan penisku di vaginanya. Merasakan gesekan-gesekan lembut vagina Mama, penisku mulai mengeras kembali. Digengamnya penisku dan diarahkan ke lubang peranakannya. Dengan sedikit gerakan menekan, penisku perlahan masuk setengahnya ke vagina Mama. Kurasa ini sudah mentok, karena beberapa kali Mama coba untuk menekan lebih keras lagi agar penisku dapat masuk semua, tapi keluar kembali setelah menatap ujung rahimnya.

Dengan bersemangat Mama mulai menaik-turunkan tubuhnya. Gerakan naik-turun yang terkadang diselingi dengan gerakan memutar, sungguh merupakan sensasi yang sangat luar biasa. Apalagi posisiku yang ada di bawah sungguh sangat menguntungkanku. Aku dapat melihat payudara Mamaku naik-turun seiring dengan goyangan pinggulnya.

Dengan gemas, kuraih payudara yang menari-nari di depanku itu. Kutarik payudara Mama mendekat ke wajahku. Kulihat wajah Mama meringis kesakitan karena payudaranya kutarik dengan paksa. Kugigit putingnya sampai berubah warnanya menjadi kemerahan. Kurasakan ada cairan putih susu menetes keluar dari putingnya saat kucucup payudaranya. Entah mengapa aku sangat suka sekali mempermaikan payudara Mamaku ini.

Kurasakan otot-otot vagina Mama dengan kuat menyedot penisku. Semakin lama kurasa semakin kuat saja vagina Mama menjepit penisku. Kulihat wajah Mama nampak makin memerah menahan orgasme kuduanya yang akan keluar sebentar lagi.

“Ton.. Ah.. Oougg.. hh.. Ton, Mama mau keluar lagi, Ton.”

Dan.. Seerr..

Kurasakan cairan hangat membasahi penisku. Ada cairan yang menetes disela-sela pahaku saking banyaknya cairan yang keluar.

“Duh, Mama kok udah keluar sih, ga mau nungguin Anton.”

“Maaf deh. Kamu juga sih perkasa banget, Mamakan udah ga tahan lagi.”

Dengan sigap segera kubalik tubuhku, sehingga kini Mama berada dibawah. Tanpa banyak bicara, segera saja kupompa pantatku dengan cepat. Mendapat serangan yang tiba-tiba itu Mamaku menjerit-jerit kesakitan. Meskipun vagina Mama udah becek banget, tapi tetap saja terasa seret untuk penisku.

Tak kuhiraukan suara Mama yang menjerit-jerit kesakitan, yang ada dipikiranku saat itu adalah aku ingin segera mengakhiri permainan ini dan merasakan nikmat yang akan datang padaku.

Kurasakan otot-otot penisku mulai berdenyut-denyut dengan kerasnya. Ada sesuatu yang berusaha untuk keluar dari batang penisku. Kucoba untuk menahannya selama mungkin agar tidak segera keluar. Tapi jepitan vagina Mama akhirnya meruntuhkan pertahananku.

Croott.. croott..

Maniku keluar juga, menambah becek vagina Mama. Kubiarkan penisku tetap didalam vagina Mama untuk merasakan sisa-sisa orgasmeku. Kurasakan vagina Mama tetap saja berdenyur-denyut, meski tak sekuat tadi.

“Ma, terima kasih ya, udah mau temenin Anton main.” kataku dengan manja.

“Kamu, tuh, Ton, kalau mau main jangan maksa dong. Masak Mamamu sendiri kamu perkosa.”

“Tapi Mama senangkan?”

“Iya sih!” Kata Mama malu-malu.

Sejak saat itu aku dan Mama sering berhubungan sex bersama kalau dirumah lagi sepi. Kami pernah melakukannya sehari-semalam karena aku berhasil masuk ke PTN favorit.

“Itu hadiah buat kamu.” Kata Mamaku sambil mengerlingkan sebelah matanya dengan manja.

*****

Siang itu panas sekali terasa. Tidak seperti biasanya panas matahari makin menyengat saja. Segera kutancap motorku agar aku cepat sampai di rumah. Begitu sampai di rumah, segera saja kulepaskan seluruh seragam sekolahku dan langsung saja aku meloncat ke kolam renang.

Byuurr.. terasa segar badanku ketika tubuhku berada di dalam air. Rasa gerah yang sedari tadi kurasakan hilang sudah. Setelah puas berenang segera kupanggil Bik Suti.

“Bik, cepetan kesini!”

“Ya, Den. Ada apa, Den?”

“Bik, tolong buatin makanan dan minuman ya, sekalian tolong cuciin baju seragamku ya.”

“Ya, Den.” Jawab Bik Suti sopan.

Perlu kalian ketahui kalau pembantuku yang satu ini sungguh berbeda dari yang lain. Meskipun berasal dari desa, ia mempunyai wajah yang manis. Ia seumuran dengan Mbak Ani. Tubuhnya sintal, apalagi payudaranya, sungguh membuat hati berdebar-debar setiap kali melihatnya. Aku ingin sekali tahu bagaimana rasanya berhubungan sex dengannya. Mungkin sangat berbeda rasanya.

Begitu makanan dan minumanku sudah diantar, segera saja kuhabiskan dengan cepat. Udah lapar banget sih. Tak berapa lama kemudian datang Mbak Ani menghampiriku.

“Lagi berenang ya, Ton?”

“Iya nih, Mbak. Abis gerah banget sih. Mbak mau ga temenin Anton berenang?”

“Iya deh, tapi tunggu Mbak selesai makan dulu ya.”

Setelah selesai makan, Mbak Ani menuju ke kolam renang. Aku terpesona melihat kemolekan tubuh kakakku ini. Dengan hanya mengenakan bikini, lekukan tubuhnya sungguh sangat menggugah gairahku. Kurasakan penisku mulai menegang. Kami berenang sambil bermain lempar bola. Kadang dengan kusengaja, seringkali aku menyentuh belahan vagina maupun payudara kakakku. Tapi kakakku hanya diam saja. Tidak telalu memperdulikan dengan tindakanku.

Pikiran-pikiran kotor mulai merasuk ke dalam otakku. Aku berfikir bagaimana caranya untuk dapat menikmati tubuh kakakku saat itu juga. Habis sudah hampir seminggu aku tidak pernah main lagi sama Mama. Tanpa sepengetahuan kakakku, kupelorot CD-ku sendiri. Penisku yang sudah tegang dari tadi tampak melayang-layang terkena ombak. Kudekati kakakku dari belakang, dengan tiba-tiba kuraba-raba dan kuremas payudaranya.

“Eh, Anton. Ngapain sih kamu pegang-pegang payudara Mbak?”

“Nggak pa-pa kan? Abis Anton terangsang banget melihat kemolekan tubuh Mbak.”

Mbak Ani hanya diam saja. Aku semakin berani meremas-remas payudara kakakku. Kucopot BH-nya, dan sambil menyelam aku melumat payudara kakakku di bawah air. Sambil menyelam minum susu, pikirku.

Kulumat-lumat payudaranya, terkadang kutarik dan kuremas dengan keras, sehingga membuat kakakku makin bergairah. Aku muncul ke permukaan air, kucari bibir kakakku dan kucium dengan buasnya. Tangan kakakku meraba-raba selakanganku, mencari benda tumpul yang mulai tegang.

“Anton, kamu tadi berenang ga pake CD ya? Dasar, jorok kamu.”

Dielusnya dengan lembut benda kesayanganku itu. Dikocoknya perlahan dan menjadi semakin cepat. Kurasakan ada dorongan dari dalam penisku yang mencoba keluar. Kucoba untuk menahan, tapi kocokan kakakku yang semakin cepat membuat aku mengeluarkan maniku di dalam air. Kulihat maniku yang berenang keluar melayang-layang di air. Dibiarkannya aku beristirahat sebentar, sambil menunggu aku pulih kakakku mencumbu mulutku dengan buasnya. Kumasukkan jemariku ke dalam vagina kakakku. Kukocok terus hingga akhirnya kakakku mencapai orgasmenya yang pertama.

Seiring berjalannya waktu, penisku mulai tegang kembali. Tanpa memberitahu kakakku, kodorong dengan paksa penisku untuk dapat masuk kedalam vagina kakakku. Mbak Ani berusaha untuk menjerit, tetapi jeritannya tertahan karena mulutnya sedang beradu dengan mulutku.

Kumaju-mundurkan pinggulku mengocok vagina kakakku. Sungguh sensasi yang luar biasa berhungan sex di kolam renang. Otot-otot vagina kakakku semakin lama semakin berdenyut dengan cepat seiring dengan makin cepatnya goyanganku. Kurasakan penisku mulai basah dengan cairan kewanitaan kakakku. Karena aku belum sampai makin kupercepat saja goyanganku. Tetapi karena berada di dalam air tubuhku menjadi berat. Dengan penisku masih berada dalam vagina kakakku, kuangkat tubuhnya keluar dari kolam, dan kurebahkan tubuhnya di atas rumput taman. Karena punggungnya bergesekan dengan rumput, kakakku menjadi bergairah kembali. Melihat hal itu aku semakin bersemangat. Dan akhirnya.

Crott.. croott.. croott..

Akhirnya aku keluar juga, dibarengi dengan orgasme kakakku untuk yang ketiga kalinya. Tak kusadari ada seseorang yang berdiri disampingku. Ternyata itu Mama, entah sejak kapan Mama berada di situ, yang jelas Mama kini dalam keadaan telanjang bulat.

“Begitu ya ternyata kalian. Kalo maen ga mau ajak-ajak Mama. Awas ya nanti kupotong uang jajan kalian.” kata Mamaku bercanda.

Kucopot penisku keluar dari vagina Mbak Ani. Kulihat penisku mulai mengecil. Melihat hal itu Mama segera jongkok tepat di penisku. Diraihnya penisku dan mulai dikocok penisku di dalam mulutnya. Kuakui Mamaku ini sangat pandai dalam permainan oral sex. Tak berapa lama penisku mulai tegang kembali. Diarahkannya penisku ke arah kemaluannya. Dengan sekali dorong penisku masuk semua ke dalam vagina Mama yang sudah basah. Perlahan-lahan digoyangkannya pinggulnya. Semakin lama semakin menggila. Mamaku berteriak-teriak sambil terus mengocok penisku.

“Aahh.. sakit.. apa yang kamu lakukan Ani?”

Ternyata tanpa sepengatauan Mama, Mbak Ani memasukkan jemari tangannya ke dalam lubang anusnya. Mendapat perlakuan seperti itu Mama akhirnya sampai juga.

“Ton.. Ani.. Mama mau sampai nih.. ahh..”

Seerr.. kurasakan vagina Mama banjir seketika. Banyak juga cairan yang keluar. Seperti tidak mau kehilangan air mani Mama, Mbak Ani menjilat-jilat vagina Mama dengan penisku yang masih tertancap di dalamnya. Karena posisi Mbak Anis berlawanan denganku, vaginanya tepat di wajahku. Tak kusia-siakan keadaan ini. Ku oral vagina kakakku, kugigit dan kutarik-tarik klitorisnya yang sebesar kacang itu.

Mendapat perlakuan seperti itu Mbak Ani semakin menggila menjilati vagina Mama dan penisku. Bahkan dengan gemasnya, klitoris Mamapun digigit oleh Mbak Ani. Mamakupun menjerit menjadi-jadi. Gairah Mamapun bangkit kembali. Penisku yang masih tertanam di vagina Mama dikocok lagi. Mbak Ani juga ikut mengocok penisku yang tidak semuanya dapat masuk ke dalam vagina Mama, dengan tetap menjilat-jilat vagina Mama dan penisku. Akhirnya kami bertiga orgasme bersamaan.

Dengan sisa-sisa tenaga yang ada, mereka bersandar di bahuku. Sambil menikmati panasnya sinar matahari, kami berbaring di taman. Setelah puas menikmati teriknya sinar matahari, Mamapun berdiri dan masuk ke dalam rumah dengan keadaan tubuh masih telanjang bulat, disusul kemudian dengan Mbak Ani. Merasa ditinggal sendirian akupun juga ikut masuk ke dalam rumah setelah memakai CD-ku kembali yang ada di kolam.

Hari itu badanku terasa pegal-pegal semua. Aku semalam tadi habis lembur mengerjai Mama dan Mbak Ani. Kucoba kurebahkan diriku di kasur mencoba untuk tidur. Tapi karena kecapekan badanku terasa makin sakit. Akhirnya kuputuskan untuk memenggil Bik Suti untuk memijat diriku.

“Bik, bisa minta tolong ga?” kataku di balik pintu kamar Bi Suti.

“Oh, Den Anton. Ada perlu apa, Den?”

“Bik, tolong pijitin aku yah, badanku pegal semua nih.”

“Iya, Den.”

Tanpa banyak bicara, segera saja kutarik tangan Bik Suti menuju ke kamarku. Begitu sampai di kamar, pintu segera kukunci rapat-rapat tanpa sepengetahuannya. Segera kurebahkan tubuhku di atas kasurku yang empuk itu.

“Bik, kok bengong aja. Cepetan dipijitin dong, udah capek banget nih.”

Bik Sutipun memposisikan dirinya disampingku. Diarahkan tangannya ke leherku. Dengan lembut dia memijit leherku dan juga bahuku. Akupun akhirnya terangsang juga dengan pijatan-pijatan Bik Suti. Kurasakan penisku terjepit, karena saat itu aku sedang tengkurap.

Pijatan-pijatan Bik Suti kemudian turun ke punggungku dan ke pantatku. Ku merasa keenakan karena pantatku dipijat seperti itu. Peniskupun menjadi semakin sakit karena terjepit. Kusuruh Bik Suti untuk berhenti dan kemudian kulepas semua pakaian yang melekat hingga akhirnya aku telanjang bulat. Kulihat wajah Bik Suti memerah melihat penisku yang sudah dalam ukuran sempurna itu.

Kubaringkan tubuhku lagi, dengan posisi terlentang penisku terlihat jelas di mata Bik Suti. Dengan malu-malu mata Bik Suti melirik kemaluanku.

“Den, penisnya biar Bibik pijat juga yah. Pasti penis Den Anton kecapekan, kan tiap hari dipake terus.”

“Lho, kok Bik Suti bisa tahu?”

“Iya, Den. Habis tiap malam Bibik ga bisa tidur mendengar suara Nyonya sama Mbak Ani yang lagi maen ama Den Anton. Rame banget sih suaranya.”

“Bik Suti mau ga maen sama Anton?” tanyaku mencoba untuk merangsangnya.

“Ah, Aden..” jawab Bik Suti malu.

Digenggamnya penisku itu, lalu perlahan dipijit. Mulai dari ujung sampai pangkal penisku dipijit oleh Bik Suti. Tak ketinggalan juga dengan dua buah pelir yang menggantung di bawahnya. Pijatan pada penisku sungguh sangat enak sekali. Kuberanikan tanganku mengelus paha Bik Suti yang mulus itu. Dia diam saja. Kuraba pahanya dan terus naik hingga masuk ke dalam roknya. Kuusap-usap vaginanya yang masih terbungkus dengan CD. Kucoba memasukkan jariku disela-sela CD-nya.

“Ouugghh.. tangan Aden nakal..” Bik Suti mengerang menahan rangsangan yang kuberikan.

Tanpa kuduga, wajah Bik Suti mendekat ke kemaluanku. Dikulumnya penisku hingga basah semua. Bik Suti sungguh pandai mengulum penisku. Karena kurasakan aku hampir sampai kusuruh Bik Suti untuk berhenti. Kutindih tubuhnya dan segera kubuka CDnya yang masih melekat. Segera saja kuarahkan penisku itu ke lubang vaginanya.

Dengan susah payah kucoba untuk menembus pertahanannya. Tapi selalu saja gagal. Akhirnya dengan bantuan Bik Suti, peniskupun berhasil masuk juga. Kodorong pelan-pelan agar tidak terlepas dari jalurnya. Perlahan kokocok penisku. Bik Suti cuma bisa merem-melek menerima serangan dariku. Tangannya meremas-remas payudaranya sendiri yang masih terbungkus bajunya.

Kutarik dengan paksa baju yang masih melekat itu hingga sobek. BH-nya yang juga menghalangi kutarik dan kubuang jauh-jauh dari tempat tidurku. Segera saja kulumat payudara Bik Suti yang sudah tegang. Kurasakan lubang Bik Suti sudah basah oleh cairannya sendiri. Kocokanku semakin lama semakin kupercepat, dan akhirnya.

“Bik, Anton mau keluar nih..”

“Iya, Den. Keluarin aja di dalam..Biar enak..Aahh..Oouugghh..Bibik juga mau keluar, Den.”

Crroott..crroott..

Akhirnya kami berduapun orgasme bersamaan. Segera kutarik penisku dan kuarahkan ke wajah Bik Suti. Mengerti dengan maksudku penisku langsung dikulumnya.

“Bik, udah larut nih. Mending Bibik tidur aja sekarang, ntar kecapekan lo.”

“Iya, Den. Makasih banyak lo tadi.”

“Sama-sama, Bik.”

Kurebahkan tubuhku. Dengan badan masih telanjang bulat tanganku mulai memainkan penisku. Karena kecapekan aku hampir saja tertidur, tapi mengetahui pintu yang terbuka aku segera terbangun.

“Anton, kamu tadi maen yang sama Bik Suti.”

“Eh, Mama. Iya, Ma. Tadi sih niatnya cuma mo minta dipijitin doang, tapi keterusan..”

“Dasar kamu tuh ya yang kegatelan. Tapi kamu masih kuat kan?”

“Sebenernya sih Anton udah capek banget sih, Ma. Tapi kalo Mama mau maen, ayo!” kataku dengan semangat.

Akhirnya malam itupun aku tidak tidur. Semalaman aku berhubungan sex dengan Mama hingga pagi menjelang.

TAMAT

Tags : Cerita 18sx,cerita dewasa,cerita sex,gadis seksi,cewek telanjang,cerita 17 tahun,cerita sexs,cerita seks,foto telanjang,tante girang,mahasiswi hot, mahasiswi di, mahasiswi cantik, gadis mahasiswi, mahasiswi seksi,ABG BUGIL, cewek bugil, gambar bugil, gambar, cerita berahi, cerita pemerkosaan, cerita ghairah

1 komentar 9 Juni 2010

Cerita 18sx – Rumah Sakit Nikmat

Peristiwa ini terjadi awal April 2008 yang lalu pada waktu penyakit Demam Berdarah Dengue (DBD) sedang mewabah. Nah, waktu itu aku juga terkena penyakit DBD tersebut.

Pagi itu, setelah bangun tidur, aku merasa pusing sekali, suhu tubuh tinggi dan pegal-pegal di sekujur tubuh. Padahal kemarin siangnya, aku masih bisa mengemudikan mobilku seperti biasa, tanpa ada gangguan apa-apa. Keesokan sorenya, karena kondisi tubuhku semakin memburuk, akhirnya aku pergi ke Unit Gawat Darurat (UGD) sebuah rumah sakit terkenal di Jakarta. Ketika aku periksa darah di laboratorium klinik di rumah sakit tersebut, ternyata hasilnya trombosit-ku turun jauh menjadi hampir separuh trombosit yang normal. Akhirnya karena aku tidak mau menanggung resiko, sore itu juga aku terpaksa harus rawat inap alias diopname di rumah sakit tersebut.

Aku memperoleh kamar di kelas satu. Itu pun satu-satunya kamar yang masih tersedia di rumah sakit tersebut. Kamar-kamar lainnya sudah penuh terisi pasien, yang sebagian besar di antaranya juga menderita DBD sepertiku. Di kamar itu, ada dua tempat tidur, satu milikku dan satunya lagi untuk seorang pasien lagi, tentu saja cowok juga dong. Kalau cewek sih bakal jadi huru-hara tuh! Dari hasil ngobrol-ngobrol aku dengannya, ketahuan bahwa dia sakit gejala tifus.

Akhirnya, aku menghabiskan malam itu berbaring di rumah sakit. Perasaanku bosan sekali. Padahal aku baru beberapa jam saja di situ. Tapi untung saja, teman sekamarku senang sekali mengobrol. Jadi tidak terasa, tahu-tahu jam sudah menunjukkan pukul sebelas malam. Di samping mata sudah mengantuk, juga kami berdua ditegur oleh seorang suster dan dinasehati supaya istirahat. Aku dan teman baruku itu tidur.

Saking nyenyaknya aku tidur, aku terkejut pada saat dibangunkan oleh seorang suster. Gila! Suster yang satu ini cantik sekali, sekalipun tubuhnya sedikit gempal tapi kencang. Aku tidak percaya kalau yang di depanku itu suster. Aku langsung mengucek-ngucek mataku. Ih, benar! aku tak bermimpi! aku sempat membaca name tag di dadanya yang sayangnya tidak begitu membusung, namanya Vika (bukan nama sebenarnya).

“Mas, sudah pagi. Sudah waktunya bangun”, kata Suster Vika.

“Ngg..” dengan sedikit rasa segan akhirnya aku bangun juga sekalipun mata masih terasa berat.

“Sekarang sudah tiba saatnya mandi, Mas”, kata Suster Vika lagi.

“Oh ya. Suster, saya pinjam handuknya deh. Saya mau mandi di kamar mandi.”

“Lho, kan Mas sementara belum boleh bangun dulu dari tempat tidur sama dokter.”

“Jadi?”

“Jadi Mas saya yang mandiin.”

Dimandiin? Wah, asyik juga kayaknya sih. Terakhir aku dimandikan waktu aku masih kecil oleh mamaku.

Setelah menutup tirai putih yang mengelilingi tempat tidurku, Suster Vika menyiapkan dua buah baskom plastik berisi air hangat. Kemudian ada lagi gelas plastik berisi air hangat pula untuk gosok gigi dan sebuah mangkok plastik kecil sebagai tempat pembuangannya. Pertama-tama kali, suster yang cantik itu memintaku gosok gigi terlebih dahulu. “Oke, sekarang Mas buka kaosnya dan berbaring deh”, kata Suster Vika lagi sambil membantuku melepaskan kaos yang kupakai tanpa mengganggu selang infus yang dihubungkan ke pergelangan tanganku. Lalu aku berbaring di tempat tidur. Suster Vika menggelar selembar handuk di atas pahaku.

Dengan semacam sarung tangan yang terbuat dari bahan handuk, Suster Vika mulai menyabuni tubuhku dengan sabun yang kubawa dari rumah. Ah, terasa suatu perasaan aneh menjalari tubuhku saat tangannya yang lembut tengah menyabuni dadaku. Ketika tangan Suster Vika mulai turun ke perutku, aku merasakan gerakan di selangkanganku. Astaga! Ternyata batang kemaluanku menegang! Aku sudah takut saja kalau-kalau Suster Vika melihat hal ini. Uh, untung saja, tampaknya dia tidak mengetahuinya. Rupanya aku mulai terangsang karena sapuan tangan Suster Vika yang masih menyabuni perutku. Kemudian aku dimintanya berbalik badan, lalu Suster Vika mulai menyabuni punggungku, membuat kemaluanku semakin mengeras. Akhirnya, siksaan (atau kenikmatan) itu pun usai sudah. Suster Vika mengeringkan tubuhku dengan handuk setelah sebelumnya membersihkan sabun yang menyelimuti tubuhku itu dengan air hangat.

“Nah, sekarang coba Mas buka celananya. Saya mau mandiin kaki Mas.”

“Tapi, Suster..” aku mencoba membantahnya.

“Celaka”, pikirku.

Kalau sampai celanaku dibuka terus Suster Vika melihat tegangnya batang kemaluanku, mau ditaruh di mana wajahku ini.

“Nggak apa-apa kok, Mas. Jangan malu-malu. Saya sudah biasa mandiin pasien. Nggak laki-laki, nggak perempuan, semuanya.”

Akhirnya dengan ditutupi hanya selembar handuk di selangkanganku, aku melepaskan celana pendek dan celana dalamku. Ini membuat batang kemaluanku tampak semakin menonjol di balik handuk tersebut. Kacau, aku melihat perubahan di wajah Suster Vika melihat tonjolan itu. Wajahku jadi memerah dibuatnya. Suster Vika kelihatannya sejenak tertegun menyaksikan ketegangan batang kemaluanku yang semakin lama semakin parah. Aku menjadi bertambah salah tingkah, sampai Suster Vika kembali akan menyabuni tubuhku bagian bawah.

Suster Vika menelusupkan tangannya yang memakai sarung tangan berlumuran sabun ke balik handuk yang menutupi selangkanganku. Mula-mula ia menyabuni bagian bawah perutku dan sekeliling kemaluanku. Tiba-tiba tangannya dengan tidak sengaja menyenggol batang kemaluanku yang langsung saja bertambah berdiri mengeras. Sekonyong-konyong tangan Suster Vika memegang kemaluanku cukup kencang. Kulihat senyum penuh arti di wajahnya.

Aku mulai menggerinjal-gerinjal saat Suster Vika mulai menggesek-gesekkan tangannya yang halus naik turun di sekujur batang kejantananku. Makin lama makin cepat. Sementara mataku membelalak seperti kerasukan setan. Batang kemaluanku yang memang berukuran cukup panjang dan cukup besar diameternya masih dipermainkan Suster Vika dengan tangannya.

Akibat nafsu yang mulai menggerayangiku, tanganku menggapai-gapai ke arah dada Suster Vika. Seperti mengetahui apa maksudku, Suster Vika mendekatkan dadanya ke tanganku. Ouh, terasa nikmatnya tanganku meremas-remas payudara Suster Vika yang lembut dan kenyal itu. Memang, payudaranya berukuran kecil, kutaksir hanya 32. Tapi memang yang namanya payudara wanita, bagaimanapun kecilnya, tetap membangkitkan nafsu birahi siapa saja yang menjamahnya. Sementara itu Suster Vika dengan tubuh yang sedikit bergetar karena remasan-remasan tanganku pada payudaranya, masih asyik mengocok-ngocok kemaluanku. Sampai akhirnya aku merasakan sudah hampir mencapai klimaks. Air maniku, kurasakan sudah hampir tersembur keluar dari dalam kemaluanku. Tapi dengan sengaja, Suster Vika menghentikan permainannya. Aku menarik nafas, sedikit jengkel akibat klimaksku yang menjadi tertunda. Namun Suster Vika malah tersenyum manis. Ini sedikit menghilangkan kedongkolanku itu.

Tahu-tahu, ditariknya handuk yang menutupi selangkanganku, membuat batang kemaluanku yang sudah tinggi menjulang itu terpampang dengan bebasnya tanpa ditutupi oleh selembar benang pun. Tak lama kemudian, batang kemaluanku mulai dilahap oleh Suster Vika. Mulutnya yang mungil itu seperti karet mampu mengulum hampir seluruh batang kemaluanku, membuatku seakan-akan terlempar ke langit ketujuh merasakan kenikmatan yang tiada taranya. Dengan ganasnya, mulut Suster Vika menyedoti kemaluanku, seakan-akan ingin menelan habis seluruh isi kemaluanku tersebut. Tubuhku terguncang-guncang dibuatnya. Dan suster nan rupawan itu masih menyedot dan menghisap alat vitalku tersebut.

Belum puas di situ, Suster Vika mulai menaik-turunkan kepalanya, membuat kemaluanku hampir keluar setengahnya dari dalam mulutnya, tetapi kemudian masuk lagi. Begitu terus berulang-ulang dan bertambah cepat. Gesekan-gesekan yang terjadi antara permukaan kemaluanku dengan dinding mulut Suster Vika membuatku hampir mencapai klimaks untuk kedua kalinya. Apalagi ditambah dengan permainan mulut Suster Vika yang semakin bertambah ganasnya. Beberapa kali aku mendesah-desah. Namun sekali lagi, Suster Vika berhenti lagi sambil tersenyum. Aku hanya keheranan, menduga-duga, apa yang akan dilakukannya.

Aku terkejut ketika melihat Suster Vika sepertinya akan berjalan menjauhi tempat tidurku. Tetapi seperti sedang menggoda, ia menoleh ke arahku. Ia menarik ujung rok perawatnya ke atas lalu melepaskan celana dalam krem yang dipakainya. Melihat kedua gumpalan pantatnya yang tidak begitu besar namun membulat mulut dan kencang, membuatku menelan air liur. Kemudian ia membalikkan tubuhnya menghadapku. Di bawah perutnya yang kencang, tanpa lipatan-lipatan lemak sedikitpun, walaupun tubuhnya agak gempal, kulihat liang kemaluannya yang masih sempit dikelilingi bulu-bulu halus yang cukup lebat dan tampak menyegarkan.

Tidak kusangka-sangka, tiba-tiba Suster Vika naik ke atas tempat tidur dan berjongkok mengangkangi selangkanganku. Lalu tangannya kembali memegang batang kemaluanku dan membimbingnya ke arah liang kemaluannya. Setelah merasa pas, ia menurunkan pantatnya, sehingga batang kemaluanku amblas sampai pangkal ke dalam liang kemaluannya. Mula-mula sedikit tersendat-sendat karena begitu sempitnya liang kenikmatan Suster Vika. Tapi seiring dengan cairan bening yang semakin banyak membasahi dinding lubang kemaluan tersebut, batang kemaluanku menjadi mudah masuk semua ke dalamnya.

Tanganku mulai membuka kancing baju Suster Vika. Setelah kutanggalkan bra yang dikenakannya, menyembullah keluar payudaranya yang kecil tapi membulat itu dengan puting susunya yang cukup tinggi dan mengeras. Dengan senangnya, aku meremas-remas payudaranya yang kenyal. Puting susunya pun tak ketinggalan kujamah. Suster Vika menggerinjal-gerinjal sebentar-sebentar ketika ibu jari dan jari telunjukku memuntir-muntir serta mencubit-cubit puting susunya yang begitu menggiurkan.

Dibarengi dengan gerakan memutar, Suster Vika menaik-turunkan pantatnya yang ramping itu di atas selangkanganku. Batang kemaluanku masuk keluar dengan nikmatnya di dalam lubang kemaluannya yang berdenyut-denyut dan bertambah basah itu. Batang kemaluanku dijepit oleh dinding kemaluan Suster Vika yang terus membiarkan batang kemaluanku dengan tempo yang semakin cepat menghujam ke dalamnya. Bertambah cepat bertambah nikmatnya gesekan-gesekan yang terjadi. Akhirnya untuk ketiga kalinya aku sudah menuju klimaks sebentar lagi. Aku sedikit khawatir kalau-kalau klimaksku itu tertunda lagi.

Akan tetapi kali ini, kelihatannya Suster Vika tidak mau membuatku kecewa. Begitu merasakan kemaluanku mulai berdenyut-denyut kencang, secepat kilat ia melepaskan batang kemaluanku dari dalam lubang kemaluannya dan pindah ke dalam mulutnya. Klimaksku bertambah cepat datangnya karena kuluman-kuluman mulut sang suster cantik yang begitu buasnya. Dan.. “Crot.. crot.. crot..” beberapa kali air maniku muncrat di dalam mulut Suster Vika dan sebagian melelehi buah zakarku. Seperti orang kehausan, Suster Vika menelan hampir semua cairan kenikmatanku, lalu menjilati sisanya yang belepotan di sekitar kemaluanku sampai bersih.

Tiba-tiba tirai tersibak. Aku dan Suster Vika menoleh kaget. Suster Mimi yang tadi memandikan teman sekamarku masuk ke dalam. Ia sejenak melongo melihat apa yang kami lakukan berdua. Namun sebentar kemudian tampaknya ia menjadi maklum atas apa yang terjadi dan malah menghampiri tempat tidurku. Dengan raut wajah memohon, ia memandangi Suster Vika. Suster Vika paham apa niat Suster Mimi. Ia langsung meloncat turun dari atas tempat tidur dan menutup tirai kembali.

Suster Mimi yang berwajah manis, meskipun tidak secantik Suster Vika, sekarang gantian menjilati seluruh permukaan batang kemaluanku. Kemudian, batang kemaluanku yang sudah mulai tegang kembali disergap mulutnya. Untuk kedua kalinya, batang kemaluanku yang kelihatan menantang setiap wanita yang melihatnya, menjadi korban lumatan. Kali ini mulut Suster Mimi yang tak kalah ganasnya dengan Suster Vika, mulai menyedot-nyedot kemaluanku. Sementara jari telunjuknya disodokkan satu ruas ke dalam lubang anusku. Sedikit sakit memang, tapi aduhai nikmatnya.

Merasa puas dengan lahapannya pada kemaluanku. Suster Mimi kembali berdiri. Tangannya membukai satu-persatu kancing baju perawat yang dikenakannya, sehingga ia tinggal memakai bra dan celana dalamnya. Aku tidak menyangka, Suster Mimi yang bertubuh ramping itu memiliki payudara yang jauh lebih besar daripada milik Suster Vika, sekitar 36 ukurannya. Payudara yang sedemikian montoknya itu seakan-akan mau melompat keluar dari dalam bra-nya yang bermodel konvensional itu. Sekalipun bukan termasuk payudara terbesar yang pernah kulihat, tapi payudara Suster Mimi itu menurutku termasuk payudara yang paling indah. Menyadari aku yang terus melotot memandangi payudaranya, Suster Mimi membuka tali pengikat bra-nya. Benar, payudaranya yang besar menjuntai montok di dadanya yang putih dan mulus. Rasa-rasanya ingin aku menikmati payudara itu.

Tetapi tampaknya keinginan itu tidak terkabul. Setelah melepas celana dalamnya, seperti yang telah dilakukan oleh Suster Vika, Suster Mimi, dengan telanjang bulat naik ke atas tempat tidurku lalu mengarahkan batang kemaluanku ke liang kemaluannya yang sedikit lebih lebar dari Suster Vika namun memiliki bulu-bulu yang tidak begitu lebat. Akhirnya untuk kedua kalinya batang kemaluanku tenggelam ke dalam kemaluan wanita. Memang, batang kemaluanku lebih leluasa memasuki liang kemaluan Suster Mimi daripada kemaluan Suster Vika tadi. Seperti Suster Vika, Suster Mimi juga mulai menaik-turunkan pantatnya dan membuat kemaluanku sempat mencelat keluar dari dalam liang kemaluannya namun langsung dimasukkannya lagi.

Tak tahan menganggur, mulut Suster Vika mulai merambah payudara rekan kerjanya. Lidahnya yang menjulur-julur bagai lidah ular menjilati kedua puting susu Suster Mimi yang walaupun tinggi mengeras tapi tidak setinggi puting susunya sendiri. Aku melihat, Suster Mimi memejamkan matanya, menikmati senggama yang serasa membawanya terbang ke awang-awang. Ia sedang meresapi kenikmatan yang datang dari dua arah. Dari bawah, dari kemaluannya yang terus-menerus masih dihujam batang kemaluanku, dan dari bagian atas, dari payudaranya yang juga masih asyik dilumat mulut temannya.

Tiba-tiba tirai tersibak lagi. Namun ketiga makhluk hidup yang sedang terbawa nafsu birahi yang amat membulak-bulak tidak mengindahkannya. Ternyata yang masuk adalah teman sekamarku dengan keadaan bugil. Karena ia merasa terangsang juga, ia sepertinya melupakan gejala tifus yang dideritanya. Setelah menutup tirai, ia menghampiri Suster Vika dari belakang. Suster Vika sedikit terhenyak ke depan sewaktu kemaluannya yang dari tadi terbuka lebar ditusuk batang kejantanan teman sekamarku dari belakang, dan ia melepaskan mulutnya dari payudara Suster Mimi. Kemudian dengan entengnya, sambil terus menyetubuhi Suster Vika, teman sekamarku itu mengangkat tubuh suster bahenol itu ke luar tirai dan pergi ke tempat tidurnya sendiri. Sejak saat itu aku tidak mengetahui lagi apa yang terjadi antara dia dengan Suster Vika. Yang kudengar hanyalah desahan-desahan dan suara nafas yang terengah-engah dari dua insan berlainan jenis dari balik tirai, di sampingku sendiri masih tenggelam dalam kenikmatan permainan seks-ku dengan Suster Mimi.

Batang kemaluanku masih menjelajahi dengan bebasnya di dalam lubang kemaluan Suster Mimi yang semakin cepat memutar-mutar dan menggerak-gerakan pantatnya ke atas dan ke bawah. Tak lama kemudian, kami berdua mengejang.

“Suster.. Saya mau keluar..” kataku terengah-engah.

“Ah.. Keluarin di dalam.. saja.. Mas..” jawab Suster Mimi.

Akhirnya dengan gerinjalan keras, air maniku berpadu dengan cairan kenikmatan Suster Mimi di dalam lubang kemaluannya. Saking lelahnya, Suster Mimi jatuh terduduk di atas selangkanganku dengan batang kemaluanku masih menancap di dalam lubang kemaluannya. Kami sama-sama tertawa puas.

Sementara dari balik tirai masih terdengar suara kenikmatan sepasang makhluk yang tengah asyik-asyiknya memadu kasih tanpa mempedulikan sekelilingnya.

Tepat seminggu kemudian, aku sudah dinyatakan sembuh dari DBD yang kuderita dan diperbolehkan pulang. Ini membuatku menyesal, merasa akan kehilangan dua orang suster yang telah memberikan kenikmatan tiada tandingannya kepadaku beberapa kali.

Hari ini aku sedang sendirian di rumah dan sedang asyik membaca majalah Gatra yang baru aku beli di tukang majalah dekat rumah.

“Ting tong..” Bel pintu rumahku dipencet orang.

Aku membuka pintu. Astaga! Ternyata yang ada di balik pintu adalah dua orang gadis rupawan yang selama ini aku idam-idamkan, Suster Vika dan Suster Mimi. Kedua makhluk cantik ini sama-sama mengenakan kaos oblong, membuat lekuk-lekuk tubuh mereka berdua yang memang indah menjadi bertambah molek lagi dengan payudara mereka yang meskipun beda ukurannya, namun sama-sama membulat dan kencang. Sementara Suster Vika dengan celana jeansnya yang ketat, membuat pantatnya yang montok semakin menggairahkan, di samping Suster Mimi yang mengenakan rok mini beberapa sentimeter di atas lutut sehingga memamerkan pahanya yang putih dan mulus tanpa noda. Kedua-duanya menjadi pemandangan sedap yang tentu saja menjadi pelepas kerinduanku. Tanpa mau membuang waktu, kuajak mereka berdua ke kamar tidurku. Dan seperti sudah kuduga, tanpa basa basi mereka mau dan mengikutiku. Dan tentu saja, para pembaca semua pasti sudah tahu, apa yang akan terjadi kemudian dengan kami bertiga.

TAMAT

Tags : Cerita 18sx,cewek bugil, gambar bugil, gambar, cerita berahi, cerita pemerkosaan, cerita ghairah, cerita sexs, Cerita Seks, cerita 17 tahun, Skodeng, cewek cantik, toket, cewek abg, cerita saru

1 komentar 3 Mei 2010

Cerita 18sx – Bercumbu Dengan Pemuda Idaman – 2

Dari Bagian 1

Ketika kenikmatan birahi benar-benar menguasaiku, dengan tiba-tiba, Indra melepaskanku dan berdiri di tepi tempat tidur. Ia mengocok-ngok batang penisnya yang berukuran luar biasa tersebut.

” Udah hampir setengah jam, dari tadi aku terus yang aktif, capek nih. Sekaran ganti Bu Atika dong yang aktif..! ” Kata Indra denagn manja.

” Ibu nggak bisa Ndra, lagian Ibu masih takut..! ” Jawabku dengan malu-malu.

” oke kalo gitu pegang aja iniku, please, kumohon sayang..” Ujarnya sambil menyodorkan batang penis besar itu kehadapanku.

Dengan malu-malu kupegang batang yang besar dan berotot itu. Lagi-lagi berdebar-debar dan darahku berdesir ketika tanganku mulai memegang penis Indra. Sejenak aku sempat membayangkan bagaimana nikmatnya jiak penis yang besar dan keras itu dimasukkan kelubang vagina perempuan, apalagi jika perempuan itu aku.

” Besaran mana sama milik suami Ibu..? ” Goda Indra.

Aku tidak menjawab walau dalam hati aku mengakui, penis Indra jauh lebih panjang dan lebih besar dibandingkan milik suamiku. Padahal usia Indra jauh lebih muda.

” Diapakan nih Ndra..? Sumpah Ibu gak bisa apa-apa ” Kataku berbohong sambil memegang penis Indra.

” Oke, biar gampang, dikocok aja sayang. Bisakan..? ” Jawab Indra dengan lembut.

Dengan dada berdegub kencang, kukocok perlahan-lahan penis yang besar milik Indra. Ada sensasi tersendiri ketika aku mulai mengocok buah zakar Indra yang sangat besar tersebut. Gila, tanganku hampir tidak cukup memegangnya. Aku berharap dengan kukocok penisnya, sperma Indra cepat muncrat, sehingga ia tidak berbuat lebih jauh kepada diriku. Indra yang kini telentang disampingku memejamkan matanya ketika tanganku mulai naik turun mengocok batang zakarnya.

Napasnya mendengus-dengus, tanda kalau nafsunya sudah meningkat lagi. Aku sendiri juga terangsang melihat tubuh tinggi besar dihadapanku seperti tidak berdaya dikuasai rasa nikmat. Tiba-tiba ia memutar tubuhnya, sehingga kepalanya kini etapt berada diselangkanganku sebaliknya kepalaku juga tepat menghadap selangkangannya. Indra kembali melumat lubang kemaluanku. Lidahnya menjilat-jilat tanpa henti di rongga vaginaku. Sementara aku masih terus mengocok batang zakar Indra dengan tanganku.

Kini kami berdua berkelejotan, sementara napas kami juga saling memburu. Setelah itu Indra beranjak dan dengan cepat ia menindihku. Dari kaca lemari yang terletak disebelah samping tempat tidur, aku bisa melihat tubuh rampingku seperti tenggelam dikasur busa ketika tubuh Indra yang tinggi besar mulai menindihku. Dadaku deg-degan melihat adegan kami melalui kaca lemari itu. Gila batinku, kini aku yang telanjang digumuli oleh lelaki yang juga sedang telanjang, dan laki-laki itu bikan suamiku.

Indra kembali melumat bibirku. kali ini teramat lembut. Gilanya lagi, aku tanpa malu lagi membalas ciumannya. Lidahku kujulurkan untuk menggelitik rongga mulut Indra. Indra terpejam merasakan seranganku, sementara tanganku kekarnya masih erat memelukku, seperti tidak akan dilepas lagi.

Bermenit-menit kami terus berpagutan saling memompa birahi masing-masing. Peluh kami mengucur deras dan berbaur ditubuhku dan tubuh Indra. Dalam posisi itu tiba-tiba kurasakan ada benda yang kenyal mengganjal diatas perutku. Ohh, aku semakin terangsang luar biasa ketika kusadari benda yang mengganjal itu adalah batang kemaluan Indra. Tiba-tiba kurasakan batang zakar itu mengganjal tepat dibibir lubang kemaluanku. Rupanya Indra nekat berusaha memasukkan batang penisnya kevaginaku. Tentu saja aku tersentak.

” Ndra.. jangan dimasukkan..! ” Kataku sambil tersengal-sengal menahan nikmat.

Aku tidak tahu apakah permintaan aku itu tulus, sebab disisi hatiku yang lain sejujurnya aku juga ingin merasakan betapa nikmatnya ketika batang kemaluan yang besar itu masuk kelubang vaginaku.

” Oke.. kalau nggak boleh diamasukkan, kugesek-gesekkan dibibirnya saja ya..? ” Jawab Indra juga dengan napas yang terengah-engah.

Kemudian Indra kembali memasang ujung penisnya tepat dicelah vaginaku. Sungguh aku deg-degan luar biasa ketika merasakn kepala batang penis itu menyentuh bibir vaginaku. Namun karna batang zakar Indra memang berukuran super besar, Indra sangat sulit memasukkannya kedalam celah bibir vaginaku. Padahal jika aku bersetubuh denagn suamiku penis suamiku masih terlalu kekecilan untuk ukuran lubang senggamaku.

Setelah sedikit dipaksa, akhirnya ujung kemaluan Indra berhasil menerobos bibir vaginaku. Ya ampun, aku menggeliat hebat ketika ujung penis yang besra itu mulai menerobos masuk. Walau

pun mulanya sedikit perih, tetapi selanjutnya rasa nikmatnya sungguh tada tiara. Seperti janji Indra, penisnya berukuran jumbo itu hanya hanya digesek-gesekan dibibir vagina saja. Meskipun hanya begitu, kenikamatan yang kurasa betul-betul membuatku hampir teriak histeris. Sungguh batang zakar Indra itu luar biasa nikmatnya.

Indra terus menerus mamaju-mundurkan batang penis sebatas dibibir vagina. keringat kami berdua semakin deras mengalir, semenatara mulut kami masih terus berpagutan.

” Ayoohh.. ngoommoong saayang, giimaanna raasaanyaa..? ” Kata Indra tersengal-sengal.

” Oohh.. teeruuss.. Ndraa.. teeruss..! ujarku sama-sama tersengal.

Entah bagaimana awal mulanya, tiba-tiba kurasakan batang kemaluan yang besar itu telah amblas semua kevaginaku. Bless, perlahan tapi pasti abtang kemaluan yang besar itu melesak kedalam libang kemaluanku. Vaginaku terasa penuh sesak oleh batang penis Indra yang sangat-sangat besar itu.

“Lohh..? Ndraa..! Dimaassuukiin seemmua yah..? ” Tanyaku.

” Taanguung, saayang. Aku nggak tahhan..! ” Ujarnya dengan terus memompa vaginaku secara perlahan.

Entahlah, kali ini aku tidak protes. Ketika batang penis itu amblas semua divaginaku, aku hanya dapat terengah-engah dan merasakan kenikmatan yang kini semakin tertahankan. Begitu besarnya penis si Indra, sehingga lubang vaginaku terasa sangat sempit. Sementara karna tubuhnya yang berat, batang penis Indra semakin tertekan kedalam vaginaku dan melesak hingga kedasar rongga vaginaku. Sangat terasa sekali bagaimana rasanya batang zakar menggesek-gesek dinding vaginaku.

Tanpa sadar aku pun mengimbangi genjotan Indra dengan menggoyang pantatku. Kini tubuh rampingku seperti timbul tenggelam diatas kasur busa ditindih oleh tubuh besar dan kekearnya Indra. Semakin lama, genjotan Indra semakin cepat dan keras, sehingga badanku tersentak-sentak dengan hebat. Clep.., clep.., clep.., cleep.., begitulah bunyi batang zakar Indra yang terus memompa selangkanganku.

” Teerruss Nndraa..! Aakuu.. nggaak.. kuuaatt..! ” Erangku berulang-ulang.

Sungguh ini permainan seks yang paling nikmat yang pernah kurasakan dalam sepuluh tahun ini.

Aku sudah tidak berpikir lagi tentang kesetiaan kepada suamiku. Indra benar-benar telah menenggelamkan aku dalam gelombang kenikmatan. Persetan, toh suamiku sendiri sudah tak bisa lagi memberikan aku kepuasan sedahsyat dan kenikmatan seperti ini.

Tidak berapa lama kemudian, aku merasakan nikmat yang luar biasa disekujur tubuhku. Badanku mengelepar-gelepar dibawah genjcetan tubuh Indra. Seketika itu seperti tidak sadar, kuciumi lebih berani bibir Indra dan kupeluk erat-erat.

” Nndraa.. aakkuu.. haampiir.. oorrgaassmmee..! ” desahku ketika hampir mencapai puncak kenikamatan. Tahu aku hampir orgasme, Indra semakin kencang menghunjam-hunjamkan batang kejantanannya keselangkanganku.

Saat itu tubuhku semakin meronta-ronta dibawah dekapan Indra yang kuat. Akibatnya, tidak lama kemudian aku benar-benar mencapai klimaks.

” Kaalauu.. uudahh.. orrgassme.. ngoommoong.. saayaang.. biaarr.. aakuu.. ikuut.. puuaas.! “

Desah indra.

” ooh.. aauuhh.. aakkuu.. klimaks.. Nndraa..! ” Jawabku.

Seketika dengan refleks tangan kananku menjambak rambut Indra, sedangkan tangan kiriku memeluknya erat-erat. Pantatku kunaikkan keatas agar batang kemaluan si Indra dapat menancap sedalam-dalamnya.

Setelah kenikmatan puncak itu, tubuhku melemas denagn sendirinya. Indra juga menghentikan genjotannya.

” Aku belum keluar sayang.. Tahan sebentar ya.. Aku terusin dulu..! ” Ujarnya lembut sambil mengecup pipiku.

Gila aku bisa orgasme walaupun posisiku dibawah. Padahal jika dengan suamiku, untuk orgasme aku harus berposisi diatas dulu. Tentu saja ini semua karna Indra yang ajuh lebih perkasa diabandingkan suamiku. Walau pun usia mereka trerpaut jauh dan Indra jauh lebih muda. Selain itu batan kejantanannya memang sangat luar biasa besar dan nikmat luar biasa buat vagina perempuan.

Meskipun kurasakan sedikit ngilu, kubiarkan Indra memompa terus lubang vaginaku. Karena lelah, aku pasif saja saat Indra terus menggumuliku. Tanpa perlawanan, kini badanku yang kecil dan ramping benar-benar tenggelam ditindih tubuh atletis Indra. Clep.. clep.. clep.. clep. Kulirik kebawah untuk melihat vaginaku yang dihajar batang kejantanan Indra. Gila, vaginaku dimasuki penis sebesar itu. Dan yang lebih gila lagi, batang zakar besar seperti itu nikmatnya tiada terkira.

Indra semakin lama semakin kencang memompanya penisnya. Sementara mulutnya tidak henti-hentinya menciumi pipi, bibir dan buah dadaku. Mendapat rangsangan tanpa henti seperti itu tiba-tiba nafsuku bangkit kembali. Kurasakan kenikmatan mulai merambat lagi dari selangkanganku yang dengan kencang dipompa si Indra. Maka aku balik membalas ciuman Indra, semantara pantatku kembali berputar-putar mengimbangi penis Indra yang masih perkasa menusuk-nusuk lubang vaginaku.

” Iibuu ingiin.. lagii..? ” Tanya Indra.

” Eehh..” Hanya itu jawabku.

Kini kami kembali mengelapar-gelepar bersama.

Tiba-tiba Indra bergulung, sehingga posisinya kini berbalik, aku diatas, Indra dibawah.

” Ayoohh gaantii..! Iibu seekaarang di ataass..” Kata Indra.

Dengan posisi tubuh diatas Indra, pantatku kuputar-putar, maju-mundur, kiri-kanan, untuk mengocok batang penis Indra yang masih mengacung dilubang vaginaku. Dengan masih malu-malu aku juga ganti menjilati leher dan puting Indra. Indra yang telentang dibawahku hanya dapat merem-melek karna kenikmatan yang kuberikan.

” Tuuh.. biisaa kaan..! Kaatanya taa.. dii.. nggak.. bisa.., ” Kata si Indra sambil membalas menciumku dan meremas-remas buah dadaku.

Hanya selang lima menit saat aku diatas tubuh Indra, lagi-lagi kenimatan tak terkira menderaku. Aku semakin kuat menghunjam-hunjamkan vaginaku kebatang penis Indra. Tubuhku yang ramping makin erat mendekap Indra. Aku juga semakin liart membalas ciuman Indra.

” Nddraa.. aakuu.. haampiir.. orgasme.. laaggii.. ssaayaang..! ” Kataku terengah-engah.

Tahu kalau aku akan orgasme untuk yang kedua kalinya, Indra langsung bergulung membalikku, sehingga aku kembali dibawah. Dengan napas yang terengah-engah, Indra yang telah berada diatas tubuhku semakin cepat memompa selangkanganku. Tak ayal lagi, rasa nikmat tiada tara terasa disekujur tubuhku. Lalu rasa nikmat itu seperti mengalir dan berkumpul ke selangkanganku. Indra kupeluk sekuat tenaga, sementara napasku semakin tak menentu.

” Kalau mau 0rgasmee ngomong sayang, biaar lepaass..! ” Desah indra.

Karna tidak kuat lagi menahan nikmat, aku pun mengerang keras.

” Teruss.., teruss.., akuu.. orgasmee Ndraa..! ” Desahku, sementara tubuhku masih terus menggelepar-gelepar dalam tindihan tubuh Indra.

Belum reda kenikmatan klimaks yang kurasakan, tiba-tiba Indra mendengus-dengus semakin cepat. Tangan kekarnya mendekapku erat-erat seperti ingin meremukkan tulang-tulangku. Ia benar-benar membuatku tak bisa bergerak, dan napasnya terus memburu. Genjotannya di vaginaku semakin cepat dan keras. Kemudian tubuhnya bergetar hebat.

” Buu.., akuu.., maauu.., keluuarr sayang..! ” Erangnya tidak tertahankan lagi.

Melihat Indra yang hampir keluar, pantatku kuputar-putar semakin cepat. Aku juga semakin erat memeluknya. Crot.. crot.. crot..! Sperma Indra terasa sangat deras muncrat dilubang vaginaku. Indra memajukan pantatnya sekuat tenaga, sehingga batang kejantanannya benar-benar menancap sedalam-dalamnya di lubang kemaluanku. Aku merasa lubang vaginaku terasa sangat hangat oleh cairan sperma yang mengucur dari kemaluan si Indra.

Gila, sperma Indra luar biasa banyaknya, sehingga seluruh lubang vaginaku terasa basah kuyup. Bahkan karna sangking banyaknya, sperma Indra belepotan hingga ke bibir vagina dan pahaku. Berangsur-angsur gelora kenikmatan itu mulai menurun.

Untuk beberapa saat Indra masih menindihku, keringat kami pun masih bercucuran. setelah itu ia berguling kesampingku. Aku termenung menatap langit-langit kamar. Begitu pun dengan Indra. Ada sesal yang mengendap dihatiku. Kenapa aku harus menodai kesetiaan terhadap perkawinanku, itulah pertanyaan yang bertalu-talu mengetuk perasaanku.

” Maafkan aku Bu Tika. Aku telah khilaf dan memaksa Ibu melakukan perbuatan ini ” Ujar Indra denagn lirih.

Aku tidak menjawab, kami berdua kembali termenung dalam alm pikiran masing-masing. Bermenit-menit kemudian tak ada sepatah kata pun yang keluar dari mulut kami berdua.

” Heei suadah siang lho.. ayo pulang..! ” Teriak kawan Indra disertai ketoak pada pintu.

Denagn masih tetap diam, aku dan Indra segera beranjak, berbenah lalu berjalan keluar kamar. Tanpa kata-kata pula Indra mengecup bibirku saat pintu kamar akan dibuka.

” Hayo Ndra, kamu apain Bu Atika sampai pintunya ditutup segala ” Kelakar kawan Indra.

” Ah nggak apa-apa kok, kami cuma ketiduran tadi ” Jawabku degan perasaan malu. Sementara Indra cuma tersenyum.

Seminggu sejak kejadian itu rasa sesal masih menderaku. Tetapi menginjak minggu kedua muncul rasa rindu pada Indra. Dadaku sering berdebar-debar kalau mengingat kenikamatan luar biasa yang telah diberikan Indra. Aku selalu terbayang keperkasaan Indra diatas ranjang, yang itu semua tidak dimiliki oleh suamiku yang dimakan usia. Sementara aku yang rajin merawat tubuh malah makin ingin merasakan kenikmatan yang lebih.

Maka sejak itu aku sering jalan-jalan dengan Indra. Bahkan hampir rutin sebulan 2 sampai 4 kali aku melepas hasrat pada Indra yang selalu melayaniku. Dan dtiap kencan selalu saja ada hal-hal baru yang membuatku semakin terikat oleh keperkasaannya. Saat menulis cerita ini pun beberapa kali harus terhenti karena Indra dan aku sudah sangat terangsang.

E N D

Tags : cerita 18sx, artis bugil, video bokep, tante bugil,gadis telanjang bugil,sandra dewi telanjang bugil,telanjang gadis indonesia, telanjang artis indonesia, telanjang abg,spg telanjang,cerita berahi,cerita seks,cerita daun muda,tante girang,tetek julia perez,bugil gadis berjilbab,gadis seksi,gadis smu,gadis cantik

1 komentar 20 April 2010

Halaman

Kategori

Tautan

Meta

Kalender

Oktober 2014
S S R K J S M
« Jul    
 12345
6789101112
13141516171819
20212223242526
2728293031  

Posts by Month

Posts by Category

 
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.