Posts tagged ‘cerita merangsang ‘




Cerita 18sx – Maaf Bu…, Maaf! 01

Naskah di bawah ini merupakan saduran dari kisah sebenarnya seorang ibu rumah tangga, yang merupakan pengalaman dari para ibu rumah tangga yang saya kumpulkan sejak tahun 1980 dalam satu buku berjudul “Benang Merah”.

Malam itu aku bertengkar lagi dengan suamiku. Persoalannya sepele saja, suamiku merasa tidak diperhatikan. Pasalnya ketika dia pulang dari kantor, sore itu aku tidak menyediakan paganan apa-apa untuk teman minum kopinya. Hal itu mulanya tidak begitu serius. Akan tetapi pada saat akan makan malam, aku juga tidak memasak makanan kesenangannya. Nah, itulah yang menjadi pemicu persoalan. Suamiku jadi agak uring-uringan. Dia merasa telah membanting tulang seharian mencari nafkah untuk keluarganya, akan tetapi untuk kepentingannya istrinya tidak memperhatikan.

Sebenarnya dalam hatiku, aku merasa bersalah. Tetapi perasaan egoku membuatku tidak mau mengakui kesalahan itu. Malahan aku melemparkan kesalahan itu kepada suamiku. Hal ini membuat suamiku menjadi tambah emosi dan akhirnya dia pindah tidur ke kamar lain. Aku juga tidak tahu mengapa akhir-akhir ini aku agak segan melayani suamiku. Bukan dalam masalah perut saja, akan tetapi juga dalam masalah yang terletak agak di bawah perut. Dalam hubungan suami istri belakangan ini aku agak malas untuk melakukan hubungan badan dengan suamiku. Hal ini kurasakan baru belakangan-belakangan ini saja. Kupikir apakah mungkin disebabkan belakangan ini suamiku selalu mengalami ejakulasi dini, sehingga begitu selesai dia terus melingkar membelakangiku dan tidur dengan nyenyak tanpa perduli apa-apa lagi, sedangkan aku masih belum merasakan apa-apa dan harus terbaring dengan mata melotot dalam perasaan yang tidak menentu.

Memang posisi suamiku sebenarnya cukup baik di tempat tugasnya. Suaminya bekerja pada sebuah perusahaan pertambangan dan sebagai orang kedua di perusahaan itu. Tugas suamiku juga tidak terbatas. Sebagai orang yang bertanggung jawab atas jalannya penambangan, maka suamiku praktis bersiaga selama 24 jam. Kadang-kadang apabila ada kesulitan pada malam hari, suamiku harus berangkat menyelesaikannya. Demikian juga karena sifat tugasnya itu suamiku sering berpergian ke luar daerah. Oleh karena itulah sebenarnya dapat dimaklumi apabila suaminya agak uring-uringan malam itu disebabkan dia merasa tidak diperhatikan olehku sebagai istrinya. Ditambah lagi kami tinggal dalam komplek perumahan pertambangan dengan lingkungan yang masih terpencil dan jauh dari keramaian apalagi pusat hiburan.

Rumah yang kami tempati memang sangat besar sekali, karena dibuat pada zaman Belanda. Demikian juga pekarangan rumah itu sangat luas sekali dengan pepohonan yang rimbun dan sangat tua umurnya. Karena di daerah itu sekolah hanya sampai pada tingkat SMP saja, maka tiga orang anak kami semuanya tinggal bersama neneknya di Jakarta, sehingga di rumah itu praktis hanya aku dan suami saja yang tinggal besama 2 orang pembantu. Aku dan suamiku menempati kamar di rumah induk dan para pembantu di belakang. Sedangkan kamar lainnya di rumah induk yang diperuntukkan anak-anakku terpaksa kosong dan terisi hanya apabila anak-anakku datang berlibur. Apabila suamiku tidak ada di rumah maka praktis tinggal aku dan kedua pembantu itu saja yang ada dalam rumah. Apalagi bila malam hari ketika kedua pembantuku sudah tidur semua, maka tinggal aku sendiri yang digelut sepi. Jadi tidak heran juga akhirnya kebosanan jualah yang melanda diriku sehingga terbawa dalam sikapku sehari-hari dalam melayani suami.

Pada saat suamiku pindah kamar sebenarnya aku ingin sekali meminta maaf kepadanya, akan tetapi egoku timbul kembali, sehingga kubiarkan saja suamiku keluar kamar. Kupikir tidak lama lagi suamiku akan berbaikan karena aku hafal benar akan sifatnya. Dia tidak pernah marah sampai berlarut-larut. Sebentar saja akan reda dan menemuiku kembali. Kalau sudah begitu maka suamiku biasanya terus mencumbuku dan kami akan terlibat dalam suatu hubungan suami-istri yang dahsyat. Oleh karena itu pada saat aku akan tidur kubiarkan saja lampu kamarku menyala dan tidak memasang lampu tidur. Selanjutnya aku mempersiapkan diri untuk menerima suamiku dengan mengenakan baju tidur yang tipis dan longgar yang biasa kukenakan apabila akan melakukan hubungan badan dengan suamiku. Selain itu aku juga sengaja tidak mengenakan BH maupun celana dalam sama sekali.

Kira-kira lewat tengah malam antara jam 12:30 ketika baru saja aku terlelap tidur, aku merasakan secara samar-samar ada sesosok bayangan yang masuk ke kamarku dan langsung mematikan lampu kamar tidurku sehingga keadaan menjadi gelap gulita. Dalam keadaan antara sadar dan tiada serta dalam suasana kamar yang telah menjadi gelap gulita aku berpikir suamiku kini sudah reda marahnya dan mengajak berbaikan seperti kebiasaannya dengan melakukan hubungan intim suami istri. Oleh karena itu secara refleks aku pun segera merenggangkan kedua belah pahaku lebar-lebar dan memasrahkan tubuhku untuk digauli sebagaimana lazimnya.

Saat kami mulai melakukan hubungan badan, kurasakan alat kejantanan suamiku agak lain dari biasanya. Aku merasa alat kejantanan suamiku agak besar dan keras sekali dari biasanya. Sehingga aku benar-benar terhanyut dalam kenikmatan birahi yang amat hebat malam itu. Selain itu selama kami melakukan hubungan badan, kudapati suamiku juga agak istimewa. Suamiku malam itu sangat perkasa dan hebat sekali sampai aku terpaksa mengalami orgasme berkali-kali. Dan yang terlebih hebat lagi sampai akhir hubungan itu suamiku tidak mengalami orgasme sama sekali. Akibat aku mengalami orgasme berkali-kali membuat tubuhku akhirnya kehilangan tenaga dan langsung tertidur dengan nyenyak dalam suatu kepuasan yang belum pernah kualami.

Aku terbangun keesokan harinya ketika matahari sudah mulai terang. Kudapati suamiku sudah bangun terlebih dahulu dan telah berada di kamar makan. Buru-buru aku keluar kamar untuk menemaninya makan pagi sebelum dia berangkat ke kantor.

“Wah Papah hebat benar semalam.. pakai obat ya?” kataku berbisik kepadanya sambil tersipu-sipu.

Mendengar bisikanku itu suamiku agak tersentak. Kemudian dia berbalik bertanya, “Hebat apa maksud Mamah!?”

“Itu.. tu.. semalam Papah benar-benar hebat sekali deh, sampai Mamah kewalahan dan tidak tahan lagi rasanya.. jadi pakai obat apa sih Pah? Karena selama ini belum pernah Mamah merasakan “itu” Papah sedemikian keras dan besar sekali, lagi pula.. tahan lama, Mamah sampai kewalahan semalam.. tapi jadi benar-benar puas!” kataku dengan tetap tersipu-sipu.

Mendengar ucapanku itu suamiku menjadi lebih terbengong dengan mulut yang agak ternganga dan alisnya pun berkerenyit.

“Ah, Mamah mimpi barangkali.. aku semalam ketiduran di kamar sebelah dan baru terbangun pagi subuh tadi. Memang mulanya aku bermaksud pindah lagi ke kamar kita, tapi entah mengapa tiba-tiba aku merasa sangat mengantuk sekali, mataku berat sehingga aku jadi ketiduran tanpa ampun”, jawab suamiku.

Mendengar jawaban suamiku itu kini aku yang berbalik menjadi terbengong. Aku berpikir apakah aku telah bermimpi? Tetapi mengapa mimpiku itu begitu sangat terasa seperti nyata? Mengapa aku merasakan kepuasan seksual yang begitu hebat apabila semua itu hanya mimpi? Kalau aku tidak bermimpi jadi siapakah yang telah menyetubuhi diriku semalam? Mudah-mudahan saja benar ucapan suamiku tadi, bahwa aku semalam memang bermimpi. Hal itu memang sangat boleh jadi, karena dalam mimpiku itu aku tidak merasakan suamiku mengalami orgasme dan pada alat kewanitaanku juga tidak terdapat bekas-bekas sperma laki-laki.

Pada mula aku tidak begitu peduli akan kejadian itu dan telah melupakan mimpiku itu. Akan tetapi setelah beberapa minggu kemudian dan kebetulan pula harinya bertepatan dengan hari dimana aku bermimpi untuk pertama kalinya, yaitu pada hari Rabu, malam Kamis, aku kembali bermimpi melakukan hubungan persetubuhan dengan seseorang. Pada saat itu kebetulan suamiku tidak ada di rumah karena sedang berpergian ke luar daerah. Oleh karena itu aku tidur sendirian saja di kamarku. Setelah beberapa saat aku tertidur, tiba-tiba aku kembali merasa ada sesosok tubuh berada di dekatku. Ketika aku akan bangun tiba-tiba aku seperti mendapat semacam bisikan bahwa sosok tubuh itu tidak lain adalah suamiku yang sekarang yang ingin melepaskan hasratnya kepadaku sebagai istrinya. Bagaikan terkena oleh suatu kekuatan hipnotis yang besar aku tidak jadi terbangun dan menuruti bisikan untuk melayaninya dalam suatu hubungan suami-istri yang sempurna. Aku merasakan kembali suamiku begitu hebat. Terutama alat kejantanannya terasa begitu nikmat dan menggairahkan sekali ketika berada dalam liang senggamaku. Aku merasakan alat kejantanan suamiku itu begitu besar dan keras sekali.

Dalam hubungan tersebut aku benar-benar merasakan suatu kenikmatan seksual yang sangat besar sebagaimana yang pernah kualami dalam mimpiku yang pertama beberapa waktu yang lalu, sehingga aku rasanya seperti kuda binal meronta-ronta ke sana ke mari dan berteriak-teriak kecil merasakan kenikmatan birahi yang sangat hebat. Dalam keadaan seperti itu tiba-tiba sekilas terlintas kesadaranku dalam diriku.

Tiba-tiba aku teringat bahwa suamiku sedang tidak berada di tempat, sehingga siapakah yang sedang menyetubuhi diriku ini. Dengan suatu kekuatan dalam diriku, kupaksakan mataku membuka untuk meyakinkan apakah aku bermimpi atau bukan. Kali ini lampu tidurku kebetulan tidak dipadamkan sehingga ketika aku membuka mata aku dapat melihat secara samar-samar dalam cahaya lampu tidur yang temaram sesosok tubuh seperti bayang-bayang berada di atas perutku dalam posisi duduk sedang asyik menyetubuhi diriku. Mulanya memang aku merasa terkejut dan agak heran sekali. Aku berpikir apakah semua ini juga merupakan bagian dari mimpi lainnya. Akan tetapi anehnya kesadaranku tiba-tiba hilang begitu saja, kemudian aku kembali terhanyut oleh perasaan birahi yang meluap-luap sehingga aku pun dengan sangat bernafsu sekali terus melayani sosok bayangan tersebut dalam suatu hubungan suami-istri yang sangat hebat. Malam itu kembali aku merasakan suatu kepuasan yang sangat luar biasa pada akhir hubungan suami-istri tersebut. Aku kembali mengalami orgasme berkali-kali yang membuat diriku menjadi lelah sekali dan akhirnya aku terlelap tidur dengan sangat nyenyak sekali.

Keesokan harinya ketika aku terbangun aku jadi kembali berpikir-pikir, mengapa aku mengalami mimpi seperti itu lagi? Apakah hal itu merupakan bayang-bayang imajinasiku karena pada saat itu kebetulan aku baru saja beberapa hari selesai haid dimana dalam periode tersebut biasanya aku mengalami masa birahi yang memuncak? Akan tetapi mengapa aku mempunyai bayangan imajinasi semacam itu? Atau apakah karena aku selama ini aku kurang mendapat kepuasan dari suamiku sehingga hal itu merupakan refleksi dari alam bawah sadarku terhadap ketidakpuasan seksualku terhadap suamiku itu sehingga muncul sebagai suatu mimpi? Atau pula mungkin disebabkan oleh faktor lain.

Untuk alasan yang pertama aku kurang yakin karena periode haidku secara rutin datang setiap bulan, jadi mengapa baru sekarang tercipta dalam mimpi. Untuk alasan yang kedua kemungkinannya bisa saja terjadi, karena terus terang aku pernah menyeleweng sekali bersama temanku yang sebenarnya juga adalah teman suamiku. Peristiwa itu terjadi sudah agak lama sekali dan aku juga telah melupakannya. Penyelewenganku itu terjadi ketika aku sedang berada di Jakarta sendirian menengok anak-anakku. Pada saat itu memang hatiku sedang kacau dan perasaanku tidak menentu. Keberangkatanku ke Jakarta sebenarnya juga atas saran suamiku karena beberapa waktu sebelumnya kami sering bertengkar yang disebabkan hanya karena persoalan kecil saja. Suamiku rupanya menyadari bahwa perilakuku yang kadang-kadang suka keras kepala dan marah-marah kepadanya sebagai suatu akibat dari kehidupan di lingkungan kami yang sangat datar dan jauh dari keramaian. Oleh karena itulah suamiku menyarankan kepadaku agar menukar suasana sebentar dan pergi ke Jakarta sambil menengok anak-anak.

Di Jakarta aku bertemu dengan temanku. Dia memang sering datang ke rumah menemui suamiku pada saat aku masih tinggal di Jakarta. Kebetulan istrinya juga adalah teman kuliah suamiku dan dia sendiri memang teman baik suamiku. Sehingga kami mengenal dengan baik seluruh keluarganya.

Pada saat itu dia mengantarkan aku belanja ke sebuah Toserba. Selesai kami berbelanja, dia mengajakku makan malam di kawasan pantai Ancol. Karena memang kami sudah berkenalan lama dan suamiku juga mengizinkan bila aku pergi bersamanya, maka kupenuhi ajakan temanku itu. Ketika kami makan, temanku banyak bercerita tentang dirinya. Dia bercerita bahwa dia seorang yang perkasa dan menyukai serta disukai banyak wanita. Akan tetapi wanitanya itu katanya bukan sembarang wanita. Dia tertarik kalau wanita itu benar-benar istimewa, baik dalam penampilan maupun bentuk tubuhnya. Dia mengatakan bahwa aku juga merupakan salah satu wanita yang dianggap sangat istimewa olehnya. Aku jadi terlambung dan terkesan sekali akan ceritanya. Malahan aku sempat bertanya bagaimana caranya agar seorang laki-laki itu menjadi seorang yang perkasa. Akan tetapi masalahnya rupanya tidak sampai disitu saja. Ketika kami selesai makan malam dalam perjalanan pulang, entah bagaimana mulainya, dia tiba-tiba membelokkan mobilnya masuk ke dalam sebuah motel yang ada di sekitar situ dan membisikkan kepadaku bahwa sebentar lagi aku akan mengetahui jawaban akan keperkasaan seorang laki-laki.

Selanjutnya aku juga tidak tahu mengapa aku tidak menolak diajak ke situ. Kupikir hal itu mungkin disebabkan pikiranku sedang kacau dan aku tergoda untuk mendapatkan kenikmatan badani bersamanya yang mana jarang kuperoleh dari suamiku. Sehingga ketika kami sudah dalam kamar kubiarkan saja tubuhku ditelanjangi habis-habisan dan kami pun bersama-sama berpolos bugil menikmati keindahan tubuh masing-masing. Kelanjutan dari adegan itu sudah dapat dimaklumi kiranya, akhirnya aku dan dia bercumbu habis-habisan di tempat tidur bagaikan sepasang suami istri yang sedang berbulan madu. Semua tehnik dan gaya permainan persetubuhan di tempat tidur kami lakukan bagaikan dalam adegan sebuah film biru. Bahkan dengan tidak segan-segannya kami juga melakukan oral seks dalam menggali kenikmatan tubuh masing-masing. Sehingga seluruh tubuhku sudah tidak ada lagi yang tersisa yang tidak pernah dinikmatinya.

Namun hubungan kami hanya untuk sekali itu saja karena setelah itu aku merasa sangat malu sekali apabila bertemu dengannya. Di samping itu memang kesempatan aku bertemu berduaan seperti itu tidak pernah ada lagi. Selain itu aku juga berpikir kenikmatan yang kuperoleh dengannya sebenarnya biasa-biasa saja. Dia juga tidak lebih hebat dari suamiku. Dia juga tidak dapat tahan terlalu lama ketika tubuh kami bersatu dan telah menumpahkan spermanya dalam rahimku secara bertubi-tubi ketika aku masih dalam birahi. Demikian pula ukuran dan bentuk alat kejantanannya, kurasakan juga tidak lebih istimewa bahkan tidak jauh berbeda dengan alat kejantanan suamiku, yang membedakannya hanyalah alat kejantanannya itu merupakan alat kejantanan kepunyaan laki-laki lain dan suami wanita lain. Semenjak hubungan itu aku menghindarkan diri darinya dan aku merasa kapok berzina dengan dia, akan tetapi yang paling utama sebenarnya adalah aku takut berdosa.

Bersambung ke bagian 02

Tags : cerita merangsang, bugil, artis telanjang, koleksi foto bugil, abg bugil,tante girang bugil, bugil aura kasih, gambar bugil cewek hamil, model bugil tabloid, artis indonesia bugil, indonesia bugil memek, model bugil indonesia

1 komentar 2 Juli 2010

Cerita 18sx – Percaturan Birahi Istriku – 2

Dari bagian 1

Kemudian aku ambil kursi rias yang ada dikamarku secara perlahan dan kutaruh dekat pintu. Dengan harapan aku bisa melihat aktifitas istriku melalui ventilasi diatas pintu kamarku. Betapa terkejutnya aku, ternyata istriku sedang berpagutan mesra diatas kasur lipat dengan Usman. Badanku secara mendadak menggigil dan mengeluarkan keringat dingin. Aku bingung dan serba salah, apa yang harus aku lakukan, aku tak tahu. Sejenak aku ingin membuka pintu dan menghentikan tindakan pengkianatan yang dilakukan istriku dan Usman, tapi keberanian itu menjadi padam begitu aku teringat bahwa istriku sering mengeluh atas ketidak mampuanku untuk bertahan lama dalam senggama. Aku bingung dan kulihat lagi mereka yang ternyata tangan kanan Usman telah menyelinap didalam celana pendek istriku.. Och.. semakin aku tak mampu berbuat apa-apa. Sekilas sempat aku berpikir mungkin perbuatan mereka kali ini bukan yang pertama kali dan semakin aku yakin bahwa selama ini istriku telah sengaja memasukan obat tidur pada kopiku sehingga mereka leluasa untuk bermain catur birahi dan dengan demikian maka tetangga yang lain tak akan pernah curiga.

Usman dengan semangatnya melahap bergantian kedua puting susu dihadapannya dan tangannya telah berhasil memelorotkan celana pendek istriku. Aku hanya termangu menyaksikan aksi mereka berdua yang nampak saling semangat dan saling menyerang. Jantungku semakin berdebar. Sesaat kemudian mereka berdiri sambil melepaskan pakaian masing-masing, sesaat kemudian baik istriku dan Usman telah telanjang bulat. Kontol Usman telah berdiri kencang dan tegak, diameternya tidak beda jauh dengan punyaku tapi panjangnya mungkin sedikit lebih panjang punya Usman.

Istriku dipepetkan ditembok, mereka saling berciuman dengan ganas sekali, tangan kanan istriku meremas-remas kontol Usman dan tangan kanan Usman menggesek-nggesek memek istriku. Terlihat istriku tidak sabaran, kontolnya Usman diarahkan ke memeknya dengan sedikit kaki kiri istriku diangkat Usman maka masuklah senjata Usman pada memeknya, terlihat istriku memejamkan mata.

“Oooch.. kocok Dik Usman.. kocok..”

Dengan gerakan naik turun, Usman mengocok berulang-ulang dan badan mereka berdua semakin mengkilap karena keringat.

“Cek.. cek.. pleek.. plek.. ceck..”

Sesaat kemudian kocokan Usman berhenti

“Mbak Erna.. enak sekali memeknya.. terasa kenyuut-kenyuut..”

“Kontolmu juga Dik Usman.. gagah perkasa..”

Kemudian gantian kaki kanan istriku diangkat dengan tangan kiri Usman dan kocokan dilanjutkan lagi.

“Och.. ooch.. enak Dik.. teeruuss.. kocok teruuss..”

“Mbak.. aku mau keluar Mbak..”

“Jangan dulu Dik Usman.. jangaann.. akuu masih pingiinn lama-lama Dik”

“Nggak tahaann Mbaak.. aku nggaak tahan.. uenaakk Mbakk..”

Terlihat Usman menghentikan kocokannya dan semakin menekan dalam-dalam kontolnya dalam memek istriku..

“Ma’af Mbak.. aku nggak tahaann.. ma’aaf.. oocchh.. oocchh..”

Istriku memeluk erat-erat tubuh Usman seolah nggak mau dilepas seterusnya..

“Kenapa buru-buru dikeluarin Dik.., aku belum dapet lho..”

“Sabar Mbak.. betul-betul aku nggak tahaann.. wuennaakk buuanget.. memek Mbak hangett sekali dan waouw.. suereett Mbaak..”

Sesaat kemudian terlihat kontol Usman terlepas dari memek istriku dan dibarengi tetesan sperma dari dalam vagina istriku dan istriku mengambil handuk kecil untuk mengeringkan keringat serta membersihkan memeknya.

Oochh hanya segitu kemampuan si Usman (pikirku), aku agak lega ternyata kemampuannya tidak beda jauh dengan kemampuanku. Aku menghela nafas panjang, dan berharap mudah-mudahan istriku menjadi kapok karena tidak terpuaskan oleh Usman dengan begitu pasti tidak akan mengulanginya lagi. Tapi.. kenyataannya lain dari dugaanku..

Usman betul-betul dapat layanan spesial dari istriku, diambilkannya segelas air minum dingin dan diminum bergantian dengan istriku. Sambil bersandar di dinding, kaki Usman diselonjorkan dan istriku mendekati Usman dengan duduk berhadapan diatas pangkuannya

“Mbak.. susunya masih kenceng dan bulu-bulu memek Mbak yang lebat ini (sambil tangan kanan Usman mengelus mesra memek istriku), membuatku ingin tiap malam bertandang kerumah Mbak ini..”

“Sama Dik Usman.. aku sendiri tiap hari rindu sama kontolmu yang ini..”, (sambil tangan kanan istriku mengelus kontol Usman yang masih lunglai)..

Mereka saling kecup dan saling pagut kembali, tangan kiri Usman memeluk punggung istriku dan tangan kanannya mengelus-elus secara bergantian gumpalan bokong istriku yang mulus dan menggairahkan, sesekali jari tengah Usman mengusap memek dan permukaan anus istriku sehingga istriku melakukan gerakan-gerakan berkedut akibat geli-geli nikmat

“Ouuw.. ouucwww.. woouuwww.. geli Dik Usman..”

Tak kalah lihainya, tangan kanan istriku meremas-remas Kontol Usman yang sudah agak mulai mempunyai semangat baru.

Badan Usman bergeser kearah kasur lipat yang sedari tadi belum dimanfaatkan sambil istriku tetap dipangkuannya. Dan sekarang istriku dalam posisi diatas dan masih menunduk karena pagutan yang terlihat mulai panas kembali.

Kedua tangan Usman meremas-remas bongkahan bokong istriku yang semakin lama bergerak berputar-putar tak karuan. Istriku terlihat mulai bangkit lagi semangatnya yang terpendam akibat belum terpuaskan. Kecupan demi kecupan istriku menjalar dari bibir Usman, ke leher, ke dada dan puting Usman dan terakhir berhenti sejenak mengulum membasahi helm kontol Usman yang sudah berdiri tegak siap perang kembali. Istriku terlihat sudah nggak tahan begitu melihat kontol Usman tegak menantang, dan segera dituntun untuk dimasukkan kedalam memeknya. Diputar-putar kepala kontolnya di bibir memeknya yang sedikit berlendir dengan tangan kanannya dan sesaat kemudian, blless.., istriku sedikit menjerit histeris.

“Woouuwww.. heehhii.. heehhii..”

Badan istriku sedikit bergetar dan diam sejenak sambil kedua tangannya bertumpu pada dada Usman, sebaliknya kedua tangan Usman meremas-remas buah dada istriku.

Mulanya dengan gerakan sedikit memutar dan kemuadian istriku menaik turunkan pantatnya.

“Teruuss Mbak.. terruuss Mbak.. teerruuss..”

“Kocok Mbak Erna sayang.. kocokk.. putaarr.. dan.. teerruuss..”

“Woouwww.. woouwww.. enakk Dik.. woouwww..”

Sambil sedikit membungkuk, istriku melakukan gerakan tarik tekan berulang-ulang, semakin lama semakin cepat dan beberapa saat kemudian..

“Woouuwww.. woouuwww.. akuu mau keluar Dik Usman.. woouwww..”

Gerakan tarik tekan istriku semakin kenceng dan mendadak terdiam sambil pantatnya berdenyut-denyut menekan-nekan..

“Woouuwww.. woouwww.. aakkuu keluar Dik Usman saayyaanngg..”

Mereka saling berpelukann erat dan pantat istriku masih berdenyuutt kenyuutt menekan-nekan seolah-olah Kontol Usman akan dilahap dimasukkan kedalam memeknya sedalam-dalamnya tanpa sisa..

“Wwoouuwww..”

Napas istriku terlihat tersengal-sengal dan berangsur-angsur menjadi diam tanpa gerakan sedikitpun karena lunglai kenikmatan yang habis diraupnya. Bibir Usman dikecupnya berulang-ulang..

“Terimakasih Dik Usman.. terimaksih.. wuennaakk sekali..”

Usman mulai sedikit melakukan gerakan menaik turunkan kontolnya dimemek istriku perlahan-lahan dan gerakan itu rupanya disambut oleh istriku yang masih ingin mencari kenikmatan-kenikmatan yang sudah lama tidak didapatkan dari aku suaminya.

Dengan posisi sedikit dirubah, istriku bertumpuh dengan kedua lututnya disamping pinggul kiri kanan Usman, istriku mulai memompa dan menggosok-gosokan memeknya pada tiang kemerdekaan Usman. Perlahan tapi pasti dan semakin lama semakin cepat kocokan-kocokan yang dilakukan mereka berdua. Istriku dengan gerakan angkat tekan dan Usman gerakan tarik dorong keatas sekencang-kencangnya dan itu semua menimbulkan bunyi.

Istriku mulai terpancing lagi dan..

“Zzhh.. woouwww.. zzhh.. woouwww.. zzhh.. woouwww..”

“Terruuss.. yyaa.. teerruuss.. hmemmhh.. yaa..”

Gerakan mereka berdua semakin berpacu.. kencang.. dan keraass seolah mereka mau mengakhiri semuanya dan..

“Aku mau keluar lagi Dik Usman sayaangg.. teerruuss.. teerruuss..”

Mendadak istriku memeluk erat dada Usman, gerakan sama sekali berhenti dan kembali lagi bongkahan pantat istriku berdenyut-denyut menekan-nekan tanda kenikmatan yang tiada tara.

“Mbak Erna.. memeknya semakin licin dan kenyuutt-kennyuutt Mbak”

“Wuenakk Mbak.. kontolku terasa dipijit-pijit.. Mbak Erna sayaang..”

Setelah berhenti melakukan gerakan beberapa saat, istri langsung dibalik oleh Usman sehingga posisinya dibawah. Ternyata Usman belum sampai final. Dengan rakusnya Usman menghisap puting susu istriku yang semakin memerah dan kenceng.

Istriku menggelinjang-nggelinjang ke-enakan dan pantat Usman mulai memompa naik turun.

Gerakan Usman memompa naik turun lama sekali. Kemudian Usman menghentikan kocokannya dan akhirnya kaki kiri istriku diangkat tegak lurus dan ditekan-tekannya kontolnya sekencang-kencangnya.

“Teruuss.. teruuss.. Dik Usman.. teruuss.. dinding rahimku terasa tersundul-sundul.. wuennaakk Dik.. teruuss dikk..”

Usman mengganti kaki kanan istriku yang sekarang diangkat dan tekanan demi tekanan semakin membuat keringat mereka berdua bercucuran.

Dalam hatiku, edan tenan tetanggaku ini. Di satu sisi dia sebagai lawan seru caturku. dan disisi lain ternyata dia menjadi lawan tanding birahi sex istriku. Aku mangaku kalah dalam mengontrol daya tahan tetapi aku tak boleh menyerah.. aku harus bisa.. tapi.. apa mungkin aku bisa. Aku sedari tadi diam tertegun melihat keganasan mereka berdua dan aku hanya bisa meremas-remas kontolku yang basah karena lendir akibat terangsang hebat. Badanku terasa kelu dan kaku karena depresi, tegang dan amarah yang menjadi satu.

Kulihat lagi permainan mereka, dan ternyata kini kedua kaki istriku diangkat dengan cara tangan kiri Usman memegang pergelangan kaki kanan istriku dan sebaliknya tangan kanan Usman memegang pergelangan kaki kiri istriku. Yang menjadi iri dan aku tertegun, selain Usman masih mengocok kontolnya, kedua kaki istriku dimainkan dengan cara dirapatkan tegak lurus dan kemudian dikangkangkan, begitu terus berulang dan terlihat dari mimik wajah istriku, dia menikmati semua gerakan yang dilakukan oleh Usman.

“Ech.. ouw.. ouw.. yaou.. teruuss.. terruss.. oeii..”

Beberapa menit kemudian gerakan maju mundur Usman semakin kencang dan..

“Mbak.. aku nggak kuat lagi Mbak.. aku keluarin didalam yaa..”

“Nggak papa Dik.. semprotkan semuanya di dalam.. ayoo..”

Dan gerakan Usman mendadak berhenti sambil memeluk kedua kaki istriku, pantatnya semakin ditekankan kedepan dan berkedut-kedut.

“Oochh.. ouch.. creett.. creutt.. cruutt..”

Usman rebah dipelukan istriku..

*****

Pembaca.., Hingga kini aku belum bisa mengambil sikap, harus bagaimana? Disatu sisi, aku memang tidak bisa sejantan Usman, di sisi lain aku nggak mau kehilangan dan menyakiti istriku. Sampai saat ini juga, sikap istriku padaku sama seperti sebelumnya, seolah tidak ada kejadian yang luar biasa dan akupun berusaha seolah tidak mengetahui pengkianatannya.

Cerita diatas, secara teknis kejadiannya aku upayakan sesuai dengan realita yang ada agar bila ada yang ingin memberikan jalan keluar bisa tepat guna. Emailku rm4gedon@yahoo.com dan bila ada yang ingin langsung memberikan arahan pada istriku, akan kuberikan email addressnya setelah kirim email padaku lebih dulu.

TAMAT

Tags : cerita merangsang, cerita seks, cerita tante, video abg, amoy bugil, cewek cantik,blog cerita dewasa,kumpulan cerita dewasa,cerita seru,cerita dewasa 17tahun,17 tahun hot,cerita nafsu, nafsu seks, gairah nafsu, budak nafsu, cewek nafsu

Add a comment 12 Mei 2010

Cerita 18sx – Percaturan Birahi Istriku – 1

Seperti halnya umumnya orang lain, setelah selesai Kuliah kemudian cari kerja dan nikah. Demikian pula dengan kehidupan yang kujalani, sejak setamat dari SLTA di Kotaku di Jawa Tengah, aku melanjutkan Kuliah di Bandung di suatu Universitas ternama. Tahun 2000 adalah tahun kelulusanku dan di tahun itu pula aku diterima di suatu Perusahaan BUMN setelah melalui penyaringan beberapa kali dan sangat ketat. Kehidupan ini kujalani seolah tanpa hambatan, lancar-lancar saja, tidak seperti yang kebanyakan orang bilang bahwa kehidupan ini penuh perjuangan dan sulit untuk mencari kerja. Hal ini pernah aku syukuri bahwa ternyata aku diberikan banyak kemudahan-kemudahan oleh Tuhan didalam mengarungi kehidupan dijaman serba sulit ini.

Karena telah merasa cukup dan sedikit mempunyai kemampuan untuk membina Rumah Tangga maka pada tahun 2001 aku beranikan diri untuk melamar dan melakukan kesepakatan untuk menikah dengan seorang gadis Cantik idamanku yang sejak semester awal kuliah aku mengenalnya dan sejak saat itu pula aku bersepakat untuk pacaran. Sebut saja namanya Erna, gadis asal Jawa Barat dengan kulit putih mulus yang sangat terawat dengan rambut hitam kelam yang lebat. Hal ini sangatlah wajar karena ditunjang dengan kemampuan materi Orang Tuanya yang sebagai pengusaha. Perbedaan usia hanya satu tahun antara aku dan Erna yang sekarang sudah menjadi istriku, aku lebih tua dan kini usiaku 33 tahun.

Banyak teman-temanku bilang bahwa aku adalah laki-laki yang sangat beruntung bisa beristrikan seorang wanita seperti Erna istriku. Disamping orangnya baik, supel, cantik, padat berisi, kaya lagi. Bulu-bulu halus tumbuh agak lebat dilengannya yang sangat mulus. Pernah seorang teman bilang bahwa “dijalan raya saja banyak kendaraan apalagi diterminal”. Hal itu memang suatu kenyataan dan merupakan gaya tarik yang sangat luar biasa yang bisa menimbulkan birahi yang menggebu-gebu bila melihat istriku Erna telah melepaskan semua pakaian yang menutupinya, dengan kulit yang putih mulus dan bulu-bulu hitam lebat diantara pangkal kedua belah pahanya yang sangat kontras, sungguh hal ini yang membuat aku semakin tak tahan untuk berpisah lama-lama dengan istriku. Tinggi badan istriku 167 cm dan beratnya saat ini sekitar 53 kg.

Kehidupan rumah tanggaku telah kujalani dengan penuh kebahagiaan selama kurang lebih delapan tahun, apalagi pada tahun ketiga pernikahanku telah lahir seorang anak laki-laki yang tumbuh dengan sehat dan lucu yang kini telah berusia 5 tahun. Ditambah lagi pada tahun ke-enam pernikahan, kami pindah ke rumah yang kami beli dari hasil jerih payahku sendiri selama ini walau hanya merupakan rumah KPR bertype 45. Kalau dibandingkan dengan rumah mertua sangatlah tidak seimbang dan istriku sangat menyukainya karena segala sesuatunya dialah yang mengaturnya tanpa harus campur tangan orang lain seperti sebelumnya yaitu di rumah orang tuanya.

Dirumah kami inilah awal dari segala perubahan kehidupan yang aku rasakan sangat bahagia menjadi suatu siksaan dan tekanan bathin yang menimpa diriku hingga kini. Awalnya setelah hampir setahun tinggal dirumah sendiri, istriku berangsur-ansur sudah mempunyai kebebasan, keleluasaan termasuk untuk menyampaikan uneg-unegnya yang selama ini terpendam, yang aku sendiri sebagai suami telah disadarkan bahwa ternyata didalam kehidupan sexual istriku masih banyak ketidak puasan atas sikap dan kemampuanku sebagai seorang suami selama ini. Memang selama ini aku didalam melakukan hubungan senggama tidak bisa bertahan lama, paling lama mungkin hanya 20 menit itupun kalau aku dalam kondisi fit.

Walau sebelumnya sudah melakukan pemanasan dan aku sering melihat, merasakan bahwa memek istriku sudah basah pertanda adanya rangsangan. Tragisnya bila pemanasan dilakukan terlalu lama maka semakin aku tak tahan untuk berlama-lama. Aku telah berusaha berkali-kali untuk pengaturan waktu agar terjadi kelambatan dan penundaan dalam penyemprotan (ejakulasi), semua itu pasti mengalami kegagalan. Yang aku rasakan bila sedang berhadapan dengan istriku dalam melakukan senggama adalah gairahku yang menggebu dan kenikmatan-kenikmatan yang tiada tara bila penisku telah kumasukan dalam memeknya, dan berikutnya aku slalu tidak bisa mengendalikan diri lagi sehingga dalam tempo yang singkat pertahananku pasti tak terbendung lagi. Perlu diketahui bahwa sejak pernikahan hingga kini hampir tiada perubahan atas alat kewanitaan istriku, selalu terasa sempit dan nikmat. Hal ini dimungkinkan karena pada saat melahirkan anakku satu-satunya dengan cara Caesar sehingga secara phisik tidak banyak perubahan.

Aku telah berusaha untuk mengkonsumsi obat-obatan dan sering pula untuk konsultasi ke dokter tetapi hasilnya belum juga adanya hasil dan perubahan yang diharapkan atas daya tahanku. Pada awal-awal pernikahan dulu, aku bisa melakukan senggama berulang-ulang hingga 4 atau 5 ronde dalam semalam dan itupun umumnya yang ke 4 atau ke 5 yang mempunyai daya tahan dan dapat mengimbangi kemauan istriku. Tapi saat ini dua rondepun sangat sulit aku lakukan, biasanya bila telah mengeluarkan sperma, badanku terasa lunglai dan ngantuk yang amat sangat. Mungkin hal ini akibat berat badanku yang sudah tidak seimbang lagi dengan tinggi badanku dimana perutku sudah membuncit dan sama sekali tidak atletis. Tinggiku 170 cm dan beratku 83 kg.

Sejak masa SLTP aku mempunyai kegemaran atau hobby yang hingga kini masih sering aku lakukan.

Kegemaran tersebut adalah bermain Catur. Kegemaran ini sering aku lakukan dengan orang-orang atau teman pada saat-saat senggang dan sudah merupakan rutinitas hingga kini yaitu pada setiap Jumat malam aku bermain catur dengan seorang tetanggaku yang bernama Usman. Kadang Sabtu malampun bila sama-sama tidak mempunyai acara lain yang lebih penting kami asyik bermain Catur hingga kami betul-betul sudah capek dan suntuk. Sabtu dan minggu kebetulan sama-sama merupakan hari libur buat kami berdua. Dia kami kenal sejak pindah di perumahan yang kami tinggali saat ini dan Usman ini walau sudah bekerja, mempunyai rumah sendiri dan berusia mendekati angka 33 belum juga menikah. Orangnya tampan dan mempunyai tinggi tidak beda jauh dengan diriku, hanya saja badannya lebih atletis. Disamping mempunyai kegemaran bermain Catur, dia juga mempunyai jadwal rutin untuk bermain tennis. Usman inilah yang akhirnya semakin membuat bathinku menjadi tertekan dan tak berkutik untuk menghadapai gelombang percaturan cinta istriku hingga kini.

Dengan media papan catur ini, hubungan antara keluargaku dengan Usman menjadi akrab dan dekat. Kedekatan yang masih dalam batas wajar-wajar saja, begitupun hubungan antara istriku Erna dengan Usman, masih dalam etika kewajaran tanpa ada sesuatu yang perlu dicurigai. Sudah menjadi kebiasaan istriku, bila kami sedang bermain catur dan anakku sudah lelap tidur, istriku ikut juga menemani sambil memberikan dukungan untuk menyediakan secangkir kopi dan aneka camilan. Karena sudah terbiasa dan akrab, dalam menemani kami bermain catur, istrikupun dalam berpakaian juga biasa saja yaitu kadang pakai celana pendek ataupun baju tidur dan biasanya istriku hanya mampu menemani hingga jam 12 malam yang selanjutnya berpamitan untuk tidur lebih dulu. Permainan catur ini kami lakukan diruang keluarga dengan ber-alaskan karpet dan kadang dalam menemani kami, istriku menggelar kasur lipat sambil nonton TV.

Aku pernah beberapa kali melihat mata Usman mencuri-curi pandang pada bagian-bagian tubuh indah istriku pada saat menemani kami bermain catur ataupun pada saat istriku sedang tiduran dikasur lipat tapi semua itu aku abaikan. Dan pernah aku rasakan permainan catur Usman sangat tidak bagus dan kurang kosentrasi, dan setelah aku cari tahu penyebabnya ternyata aku melihat bahwa matanya sering terarah ke paha mulus istriku yang saat itu duduk disebelahku. Inipun aku abaikan bahkan aku merasa bangga mempunyai istri yang memang penuh dengan kekaguman. Tapi suatu Jum”at malam kira-kira enam bulan yang lalu, pada saat permainan catur baru beberapa babak, aku merasakan kantuk yang amat sangat setelah minum kopi yang disediakan istriku dan hal ini kusampaikan pada istriku yang saat itu menemani kami.

“Ma.. Papa kok ngantuk berat yaa..”

“Masak sih.. Papa khan udah minum kopi? Masak masih ngantuk juga..”

Dan berikutnya aku nggak bisa tahan lagi, aku terlelap dan tak ingat apa-apa lagi. Apakah Usman langsung pamitan pulang, akupun tak tahu. Yang aku tahu pagi-pagi aku bangun dalam posisi ditempat tidurku dalam kondisi badan yang sangat segar.

Jum”at malam berikutnya berjalan biasa saja, permainan caturku dengan Usman berakhir hingg jam 3 pagi dan Usman berpamitan untuk pulang. Begitu juga dengan Jum”at malam selanjutnya tanpa ada rasa kantuk tapi Sabtu malam kami bermain catur lagi karena sama-sama tidak mempunyai acara masing-masing dan rasa kantuk menyerang aku lagi sekitar jam masih menunjukan pkl 10.15 malam. Kali ini aku pamitan untuk tidur dan Usman kuanjurkan untuk pulang. Pada saat masih tersisa kesadaran sebelum terlelap, aku sempat istriku berbicara sama seseorang sesaat setelah mengantarku ke kamar tidur dan kejadian selanjutnya aku tak tahu apa-apa.

Timbul tanda-tanya dan curiga pada diriku, kenapa rasa kantuk begitu tiba-tiba, dan akhirnya aku sempat curiga telah terjadi sesuatu pada istriku apalagi akhir-akhir ini tampilannya tambah seksi dan merias diri. Aku tidak mau sembrono dengan semua ini dan aku tidak mau menyakiti istriku atas kekeliruan akibat kesalah dugaanku yang tanpa bukti. Maka pada saat menjelang tiba jadwal catur rutinku dengan Usman, aku mempersiapkan diri mengatur strategi agar semua apa yang ada dibalik kecurigaanku bisa terjawabkan. Sekitar jam 7 malam, aku telah mengkonsumsi (minum) obat anti kantuk. Hal ini aku lakukan karena aku telah curiga bahwa didalam minuman kopi yang disediakan istriku telah dicampuri obat tidur.

Permainan catur dimulai sekitar jam 19.30, semua berjalan seperti biasanya. Istriku menemani dengan tampilan terkesan sangat ceria. Kopipun aku minum seperti biasanya tapi hanya seperempat gelas saja. Sekitar jam 10.00 malam, aku merasa sedikit kantuk, dan sesuai strategi dan rencana, aku pura-pura ngantuk sekali dan selanjutnya aku pura-pura tak tahan lagi sehingga istriku memapahku ketempat tidur. Beberapa saat kemudian, sayup-sayup terdengar istriku melakukan dialog dengan seseorang dan dengan perlahan-lahan aku intip dari lubang kunci, ternyata istriku sedang duduk berhadap-hadapan diantara papan catur dengan Usman. Mereka seolah-olah lagi bermain catur.

Beberapa menit kemudian istriku beranjak menuju kekamar tidurku dan buru-buru aku segera memposisikan diri seolah tertidur lelap. Istriku menggoyang-goyangku seolah mau membangunkanku.

“Pa.. Pa.. gimana nih caturnya? Mau dilanjutin?”

Aku diam seolah pulas sekali dan istriku keluar kamar yang sebelumnya menyelimutiku dan menghidupkan lampu tidur dikamarku.

Sekitar dua menit kemudian, aku mencoba mengintip lagi dari lubang kunci, ternyata papan catur telah ditinggalkan begitu saja. Diantara kerasnya suara TV, aku masih sedikit mendengar bahwa istriku telah melakukan aktifitas, apa itu, akupun belum tahu.

Ke bagian 2

Tags : cerita merangsang,cerita sex, cerita sexs, cerita seks, foto bugil, mahasiswi bugil,cewek telanjang,cewek smu bugil,info tante girang,video tante girang,artis bugil telanjang,dewi persik bugil,artis bugil hot,poto artis bugil,artis bugil ngentot,toket artis bugil,foto artis bugil indonesia,artis cewek bugil

1 komentar 12 Mei 2010

Cerita 18sx – Kisah dengan Tetangga 1: Hesti – 4

Dari Bagian 3
Hesti menggeserkan tubuhnya ke arah bagian atas tubuhku sehingga payudaranya tepat berada di depan mukaku. Segera kulumat payudaranya dengan mulutku. Putingnya kuisap pelan dan kujilati.

“Aacchh, Ayo Anto.. Lagi.. Teruskan Anto.. Teruskan”. Ia mulai menaikkan volume suaranya..

Kemaluanku semakin mengeras. Kusedot payudaranya sehingga semuanya masuk ke dalam mulutku kuhisap pelan namun dalam, putingnya kujilat dan kumainkan dengan lidahku. Dadanya bergerak kembang kempis dengan cepat, detak jantungnya juga meningkat, pertanda nafsunya mulai naik. Napasnya berat dan terputus-putus.

Tangannya menyusup di balik celana dalamku, kemudian mengelus, meremas dan mengocoknya dengan lembut. Pantatku kunaikkan dan dengan sekali tarikan, maka celana dalamku sudah terlepas. Kini aku sudah dalam keadaan polos tanpa selembar benang pun.

Bibirnya mengarah ke leherku, mengecup, menjilatinya kemudian menggigit daun telingaku. Napasnya dihembuskannya ke dalam lubang telingaku. Kini dia mulai menjilati putingku dan tangannya mengusap bulu dadaku sampai ke pinggangku. Aku semakin terbuai. Kugigit bibir bawahku untuk menahan rangsangan ini. Kupegang pinggangnya erat-erat.

Tangannya kemudian bergerak membuka celana dalamnya sendiri dan melemparkannya begitu saja. Tangan kiriku kubawa ke celah antara dua pahanya. Kulihat ke bawah rambut kemaluannya tidaklah lebat dan dipotong pendek. Sementara ibu jariku mengusap dan membuka bibir vaginanya, maka jari tengahku masuk sekitar satu ruas ke dalam lubang guanya. Kuusap dan kutekan bagian depan dinding vaginanya dan jariku sudah menemukan sebuah tonjolan daging seperti kacang. Setiap kali aku memberikan tekanan dan kemudian mengusapnya dia mendesis.

Ia melepaskan tanganku dari selangkangannya. Mulut bergerak ke bawah, menjilati perutku. Tangannya masih mempermainkan penisku, bibirnya terus menyusuri perut dan pinggangku, semakin ke bawah. Ia memandang sebentar kepala penisku yang lebih besar dari batangnya dan kemudian mengecup batang penisku. Namun ia tidak mengulumnya, hanya mengecup dan menggesekkan hidungnya pada batang penis dan dua buah bola yang menggantung di bawahnya. Aku hanya menahan napasku setiap ia mengecupnya.

Hesti kembali bergerak ke atas, tangannya masih memegang dan mengusap kejantananku yang telah berdiri tegak. Kugulingkan badannya sehingga aku berada di atasnya. Kembali kami berciuman. Buah dadanya kuremas dan putingnya kupilin dengan jariku sehingga dia mendesis perlahan dengan suara di dalam hidungnya..

“Sshh.. Sshh.. Ngghh..”

Perlahan-lahan kuturunkan pantatku sambil memutar-mutarkannya. Kepala penisku dipegang dengan jemarinya, kemudian digesek-gesekkan di mulut vaginanya. Terasa masih kering, tidak lembab seperti tadi. Dia mengarahkan kejantananku untuk masuk ke dalam vaginanya. Ketika sudah menyentuh lubang guanya, maka kutekan pantatku perlahan. Kurasakan penisku seperti membentur tembok lunak.

Hesti merenggangkan kedua pahanya dan pantatnya diangkat sedikit. Kepala penisku sudah mulai menyusup di bibir vaginanya. Kugesek-gesekkan di bibir luarnya sampai terasa keras sekali dan kutekan lagi, namun masih belum bisa menembusnya. Aku juga heran kenapa sekarang justru setelah kusetubuhi dua kali vaginanya menjadi kering dan peret. Hesti merintih dan memohon agar aku segera memasukkannya sampai amblas.

“Ayolah Anto tekan.. Dorong sekarang. Ayo.. Please.. Pleasse..!!”

Kucoba sekali lagi. Kembali tangannya mengarahkan ke lubang guanya dan kutekan, meleset dan hampir batang penisku tertekuk. Ia menggumam dan menarik napas dan melepaskannya dengan kuat, gemas. Didorongnya tubuhku ke samping. Dikocoknya sebentar untuk menambah ketegangan penisku. Kepalanya yang sudah kemerahan nampak semakin merah dan berkilat.

Ia merebahkan diri lagi dan kutindih sambil berciuman. Kucoba untuk memasukkannya lagi, masih dengan bantuan tangannya, tetapi ternyata masih agak sulit. Akhirnya kukencangkan otot diantara buah zakar dan anus, dan kali ini.. Blleessh. Usahaku berhasil, setengah batang penisku sudah tertelan dalam vaginanya.

“Ouhh.. Hesti,” desahku setengah berteriak.

Aku bergerak naik turun. Perlahan-lahan kugerakkan pinggulku karena vaginanya sangat kering dan sempit. Kadang gerakan pantatku kubuat naik turun dan memutar sambil menunggu posisi dan waktu yang tepat. Hesti mengimbangiku dengan gerakan memutar pada pinggulnya. Ketika kurasakan gerakanku sudah lancar dan mulai ada sedikit lendir yang membasahi vaginanya maka kupercepat gerakanku. Namun Hesti menahan pantatku, kemudian mengatur gerakan pantatku dalam tempo sangat pelan. Untuk meningkatkan kenikmatan maka meskipun pelan namun setiap gerakan pantatku selalu penuh dan bertenaga. Akibatnya maka keringatpun mulai menitik di kulitku.

“Anto.., Ouhh.. Nikmat.. Oouuhh. Kamu memang betul-betul perkasa” desisnya sambil menciumi leherku.

Kuputar kaki kirinya hampir melewati kepalaku. Tetapi ia menahan tanganku.

“Aku mau nungging!” bisikku.

Dilepaskannya tanganku dan kini aku sudah dalam posisi menindih tubuhnya yang tengkurap. Perlahan kugerakkan pantatku naik turun. Beberapa saat kemudian kupeluk perut dan pinggulnya dan kuangkat naik. Tubuhnya dalam posisi nungging dan akupun segera menggenjot dari belakang. Hesti menggerakkan pantatnya maju mundur mengimbangi ayunan pantatku. Kupegang bongkahan pantatnya untuk menjaga irama dan kecepatan ayunanku.

“Antoo oohh.. Uuhh. Lebih cepat lagi saayy” ia setengah menjerit.

Kupercepat ayunan pantatku. Kutarik rambutnya ke belakang sampai kepalanya menengadah. Kurapatkan badanku dan dari belakang kucium leher kemudian bibirnya. Kepalanya miring menyambut ciumanku. Tanganku meremas dan mengusap buah dadan dan putingnya.

Kucabut penisku dan kugulingkan badannya, dan segera kumasukkan penisku kembali ke dalam vaginanya. Kami kembali dalam posisi konvensional. Beberapa saat kemudian kedua kakinya kurapatkan dan kujepit dengan kedua kakiku. Penisku hampir-hampir tidak bisa bergerak dalam posisi ini. Dalam posisi ini vaginanya terasa sangat sempit menjepit penisku.

Kugulingkan tubuhnya lagi sampai ia menindihku. Akan kubiarkan ia mencapai puncak dalam posisi di atasku. Kakinya keluar dari jepitan kakiku dan kembali dia yang menjepit pahaku. Dalam posisi ini gerakan naik turunnya menjadi bebas. Kembali aku dalam posisi pasif, hanya mengimbangi dengan gerakan melawan gerakan pinggul dan pantatnya. Tangannya menekan dadaku. Kucium dan kuremas buah dadanya yang menggantung. Kepalanya terangkat dan tanganku menarik rambutnya kebelakang sehingga kepalanya semakin terangkat. Setelah kujilat dan kukecup lehernya, maka kepalanya turun kembali dan bibirnya mencari-cari bibirku. Kusambut mulutnya dengan satu ciuman yang dalam dan lama.

Ia mengatur gerakannya dengan tempo pelan namun sangat terasa. Pantatnya diturunkan sampai menekan pahaku sehingga penisku terbenam dalam-dalam sampai kurasakan menyentuh dinding rahimnya. Ketika penisku menyentuh rahimnya Hesti semakin menekan pantatnya sehingga tubuh kamipun semakin merapat.

Ia menegakkan tubuhnya sehingga ia dalam posisi duduk setengah jongkok di atas selangkanganku. Ia kemudian menggerakkan pantatnya maju mundur sambil menekan ke bawah sehingga penisku tertelan dan bergerak ke arah perutku. Rasanya seperti diurut dan dijepit sesuatu kuat namun lunak. Semakin lama-semakin cepat ia mengerakkan pantatnya, namun tidak kasar atau menghentak-hentak. Darah yang mengalir ke penisku kurasakan semakin cepat dan mulai ada aliran yang mendesir-desir.

“Ouhh.. Sshh.. Akhh!”

Desisannya pun semakin sering. Aku tahu sekarang bahwa iapun akan segera mengakhiri permainan. Aku menghentikan gerakanku untuk mengurangi rangsangan yang ada karena desiran-desiran di mulut penisku makin kencang. Aku tidak mau kalah.

Aku sebenarnya ingin menyelesaikannya dengan posisiku di atas sehingga aku bisa menghunjamkan kemaluanku dalam-dalam. Namun kali ini aku mengalah, biarlah ia yang mengejang dan menekankan pantatnya kuat-kuat.

Setelah beberapa saat kurasakan rangsangan itu menurun. Kini penisku kukeraskan dengan menahan napas dan mengencangkan otot antara buah zakar dan anusku seolah-olah menahan kencing. Kulihat reaksinya. Ia kembali merebahkan tubuhnya ke atas tubuhku, matanya berkejap-kejap dan bola matanya memutih. Giginya menggigit bibir bawahnya kuat-kuat. Akupun merasa tak tahan lagi dan rasanya akan segera menembakkan peluru terakhirku untuk menyelesaikan pertempuran. Akhirnya beberapa detik kemudian..

“Anto.. Sekarang say.. Sekarang.. Aakkhh.. Hhuuhh!” Hesti memekik kecil.

Pantatnya menekan kuat sekali di atas pahaku. Dinding vaginanya berdenyut kuat menghisap penisku. Aku menahan tekanan pantatnya dengan menaikkan pinggulku. Bibirnya menciumiku dengan pagutan-pagutan ganas dan diakhiri dengan gigitan pada dadaku. Desiran yang sangat kuat mengalir lewat lubang penisku. Kupeluk tubuhnya erat-erat dan kutekankan kepalanya di dadaku. Napasnya bergemuruh kemudian disusul napas putus-putus dan setelah tarikan napas panjang ia terkulai lemas di atas tubuhku.

Denyutan demi denyutan dari kemaluan kami masing-masing kemudian melemah. Spermaku yang masuk dalam vaginanya sebagian tertumpah keluar lagi di atas pahaku. Ia berguling ke sampingku sambil tangan dan mukanya tetap berada di leherku. Kuberikan kecupan ringan pada bibir, dan usapan pada pipinya.

“Terima kasih To. Kamu sungguh luar biasa, begitu nikmat dan indah. Perkasa dan sekaligus romantis. Thanks”. Katanya lembut.

Kami masih berpelukan sampai keringat kami mengering. Kembali kami tertidur beberapa saat. Begitu terbangun kulihat jam tanganku sudah menunjukkan pukul empat sore. Aku bangkit, masuk ke kamar mandi dan mandi di bawah guyuran shower. Setelah mandi dan hendak mengenakan pakaian, Hesti menahan tanganku yang sudah memegang celana dalam.

“Kita tidur disini lagi malam ini, please. Besok siang kita check out dan kamu bisa berangkat ke kantor dari sini saja. Aku.. Masih ingin lagi..” katanya dengan tersipu-sipu.

Kuikuti saja kemauannya, toh cutiku belum lagi habis. Malam itu setelah makan malam sampai besok siangnya kami tidak keluar kamar dan tidak sempat mengenakan pakaian lagi. Kuikuti permainannya sampai ia merasa tidak mampu lagi mengangkat tubuhnya.

Keesokan siangnya kuantar ia sampai Blok M dan ia naik taksi ke Sawangan.

When will we meet again, Hesti?
E N D

Tags : cerita 18sx, cerita merangsang, bugil, 17 tahun keatas,indocerita 17 tahun,cerita seru 17 tahun, telanjang,bugil,artis,gadis,cerita

1 komentar 24 April 2010

Cerita 18sx – Dewa, Si Penakluk Wanita 02

Sambungan dari bagian 01

Setelah sekian menit, tiba-tiba Rosa mencengkeram bahuku dan badannya terhentak-hentak ke depan, sedangkan perutnya tertarik ke dalam. Rupanya dia mencapai orgasme. Terasa jepitan di dalam lubang kemaluannya. Rongga kemaluannya terasa menggigit lembut batang kemaluanku. Aku pun mempercepat kocokanku. Ouughh! Nikmat terasa di seluruh syarafku. Tak lama, kenikmatan yang kurasa dari tadi menjadi berlipat-lipat. Seiring gesekan batang kemaluanku dengan lubang kemaluannya, kurasa seperti ada sesuatu yang tersumbat dalam batang kemaluanku yang ingin keluar.

“Ouughh!” kataku ketika aku mencapai orgasme. Aku muntahkan spermaku dalam rongga lubang kemaluannya. Badanku mengejang dan terhentak-hentak. Rasanya seluruh batang kemaluanku seperti disedot-sedot. Badanku terasa lemas dan aku lalu terkulai menindih badan Rosa. Karena merasa keberatan, lalu Rosa mendorong bahu kananku sehingga kini kami saling berhadapan dengan posisi menyamping. Batang kemaluanku masih berada dalam lubang kemaluannya. Masih terasa kedut-kedut dan remasan yang membuat batang kemaluanku tetap tegang. Dalam posisi ini kami lalu berciuman dan berpagutan.

Setelah sekian lama berpagutan dengan batang kemaluan masih berada di dalam, lalu Rosa memegang batang kemaluanku dan mencabutnya keluar dari lubang kemaluannya. “Wa..! Kita buka baju aja yuk..!” katanya. Demi hujan badai, aku terkejut. Ternyata wanita jika sudah terangsang jadi lebih berani. Mereka tidak malu lagi untuk memulai. Aku mengangguk. Dia lalu mencium bibirku, dan sambil berciuman kami membuka pakaian pasangannya masing-masing. Setelah itu kami melakukan seks sekali lagi dan kali ini terasa lebih nikmat karena kami sudah bertelanjang bulat. Gesekan antara kulit kami dan gigitan pada puting baik yang saya lakukan maupun yang dia lakukan menghasilkan kenikmatan yang luar biasa.

Kami selesai melakukan seks untuk yang kedua kali, tepat saat terdengar teriakan ayahku dari lantai bawah yang menyuruh kami untuk turun makan malam. Pada waktu itu aku sedang membasuh lubang kemaluannya di kamar mandiku. Dia duduk di dudukan closet, badan di senderkan ke belakang dan kakinya di kakangkan. Terlihat gundukan lubang kemaluannya dikelilingi bulu-bulu tipis. Lubang kemaluannya sangat tebal dan bibir kemaluannya masih terbuka. Permukaan rongga lubang kemaluannya masih berdenyut-denyut. Indah sekali. Lalu kusiramkan air ke atasnya.

“Hii dingin Wa..!” katanya sambil merapatkan tangannya di dada. Lalu kuambil sabun dan kugosok perlahan bibir lubang kemaluannya. Ketika tanganku menyentuh bibir lubang kemaluannya kulihat dia memejamkan mata dan menggigit bibirnya. Sangat sensual! Melihat itu batang kemaluanku menjadi tegang lagi, saat itulah kudengar teriakan dari ayahku. Lalu buru-buru kubilas lubang kemaluannya. Dia membantu menghapus sabun pada lubang kemaluannya.

“Wa..!! Kamu juga pengen lagi ya?” katanya saat sadar bahwa batang kemaluanku sedang tegang.

“Juga? Berarti kamu juga pengen dong?” aku tersenyum mendengar sepupuku keceplosan.

“Hihihihihi, iya ih Wa. Pengen lagi,” katanya sambil tersipu.

“Entar aja deh,” kataku.

Aku tidak ingin terlambat makan malam.

Lalu aku membersihkan batang kemaluanku. Dia membantu membersihkan. Gosokan tangannya sama persis seperti saat aku onani. Walah! Jadi pengen lagi. Bisa tidak ikut makan malam nih, nanti mereka curiga lagi. Kalau sampai ketahuan berabe. Malunya itu loh! Masih kecil sudah gituan, sama saudara lagi. “Udah ah, udah bersih nih,” kataku menjauhkan tangannya. Lalu kami pun mengambil piyama yang baru, dan memakainya.

“Wa, entar lagi ya!” katanya saat kami menuruni tangga.

“Huss, jangan kenceng-kenceng,” kataku sambil berusaha tidak mengingat-ingat persetubuhan kami.

Aku takut batang kemaluanku besar lagi.

Makan malam waktu itu terasa lama sekali. Aku ingin cepat-cepat selesai. Tapi sudah tradisi di keluarga kami, makan malam pasti diisi dengan obrolan. Karena saat itulah seluruh anggota keluarga bisa berkumpul. Setelah beberapa lama, tiba-tiba saudara sepupuku berbicara,

“Ayo Wa! Yang tadi belum selesai..!” katanya sambil tersenyum ke arahku.

Aku tentu saja membelalakkan mataku menyuruh dia diam.

“Wah, kalian rajin belajar ya!” kata ayahku mendengar ucapan Rosa.

“Pelajaran apa sih?” sambung ibuku.

Aku melihat ke arah Rosa, aku takut dia akan menceritakan persetubuhan kami.

“Pelajaran baru Tante, dia ini jagonya,” jawab Rosa menunjuk ke arahku.

Walaahh! Mampus gua! Bokap nyokap curiga tidak ya? Aku benar-benar tegang takut mereka curiga. “Oh ya! Kok bisa sih? Padahal kamu kan bego banget,” canda ibuku melihat ke arahku. Tentu saja dia becanda, karena aku memang tidak “bego”. Aku coba tersenyum, padahal di dalam hatiku berdebar-debar takut salah jawab.

“Siapa dulu dong Ibunya..!” kataku senang menemukan jawaban yang cocok.

Berderai tawa orangtuaku, aku yakin tidak ada dari mereka yang mengerti maksud sebenarnya dari kata-kataku.

“Sudah kalian belajar lagi aja. Lagian ini Papa minta dikerokin, katanya masuk angin,” kata ibuku sambil berdiri dan melap bibirnya dengan serbet.

“Alaahh pake bilang dikerokin segala,” kataku dalam hati.

Aku merasa sebenarnya mereka akan bersetubuh. Aku lalu berdiri dan melangkah menuju tangga.

Rosa yang masih duduk sempat-sempatnya bicara, “Wa lanjutin yang tadi Wa! Belajar sama elo emang enak Wa, nggak ada bosen-bosennya.” Gila ini anak, kalau mereka tahu bagaimana. Buru-buru kutarik tangannya dan kami berlari menuju kamarku. Sesampainya di kamar, kami segera mengunci pintu dan melakukannya sekali lagi. Kami hanya bisa melakukan sekali, karena ketika aku minta tambah, dia tidak mau. Dia bilang lubang kemaluannya terasa ngilu.

Setelah kejadian itu, sampai kini, kami jadi sering melakukannya, tiap belajar bersama (karena itulah kami rajin belajar), kami melakukan seks sedikitnya sekali. Kami juga sering mandi bersama. Saling menggosok kemaluan lalu dilanjutkan dengan main seks. Kami juga mencoba berbagai macam gaya. Aku membeli sebuah buku seks yang berisi gaya-gaya main seks, lalu kami mempraktekannya bersama.

Dengan Rosalah pengetahuanku tentang seks bertambah pesat. Bagian-bagian yang disuka oleh wanita, bagaimana mengatur nafas, dan hal-hal lain. Aku juga diberitahu kalau rata-rata wanita susah terangsang, ada malah yang tidak merasakan apa-apa padahal sebuah batang kemaluan sedang maju-mundur mengisi lubang kemaluannya. Tentu tidak semua wanita mau disetubuhi seperti itu. Susah untuk membuat seorang wanita mau begitu saja menyerahkan lubang kemaluannya. Kata Rosa itu semua tergantung bagaimana keahlian pria membawa sang wanita. Tiap wanita keinginannya berbeda, sang pria harus bisa melihatnya. Kalau hati sang wanita sudah kena, mau disetubuhi tiap hari juga enggak apa-apa. Mereka malah senang lubang kemaluannya dipermainkan oleh pria itu.

Tidak semua pria diberi kemampuan seperti itu. Ada pria yang sudah sangat beruntung jika ada seorang wanita yang mau dengan dia. Itu juga mungkin karena wanitanya sangat jelek atau perawan tua. “Perlu bakat Wa, untuk bisa mengentot banyak wanita,” kata Rosa. Rosa memang bicaranya vulgar dan ceplas-ceplos. Aku sendiri lebih memilih kata menyetubuhi dibanding “ngentot”.

“Percaya nggak Wa. Menurutku kamu punya bakat jadi tukang entot lo Wa,” katanya sambil tertawa terbahak-bahak. Aku tentu saja tertawa mendengar perkataannya. Saat itu aku tidak percaya kalau aku memang berbakat. Aku merasa hanya sedang beruntung bisa melakukannya dengan saudara sepupuku itu. Aku juga tetap hanya merasa beruntung ketika batang kemaluanku dikulum oleh teman sekelasku. Tapi ketika aku bisa menyelipkan batang kemaluanku di lubang kemaluan tanteku, guru SMA-ku, guru les privatku, Rani (saudara sepupuku satu lagi), dan Tuti (wanita yang kukenal di pesawat). Aku mulai percaya aku memang ditakdirkan sebagai “tukang entot”. Itu semua kulakukan selama aku masih di SMA. Tidak ada di antara mereka yang kupaksa atau di bawah pengaruh minuman keras. Semua memberikan lubang-lubang kemaluannya untuk meremas batang kemaluanku dengan sukarela.

Jangan kira mudah bagiku untuk menerima kelebihanku ini. Ada norma-norma di masyarakat yang membuatku takut jika perbuatanku nanti terbongkar oleh orang lain. Setiap kondisi ini datang aku selalu terbayang akan makian dan cemoohan orang lain, tapi aku tak bisa menolaknya, aku pasti meladeni mereka semua. Lama aku hidup dalam ketakutan yang sangat menyiksa itu.

Kembali Rosa jugalah yang berjasa dalam hidupku. Dia bilang rasa takut berlebihanlah yang membuat orang tidak bisa maju. Semua orang terkenal yang ada pasti memiliki rasa takut. Tapi mereka bisa mengatasinya. Jika memang dirimu seperti itu mengapa harus merubahnya menjadi orang lain. Merubah diri menjadi orang yang disukai oleh mereka, padahal orang itu bukan kamu yang sebenarnya.

Kini setelah 10 tahun sejak aku pertama kali mengenal lubang kemaluan. Sudah puluhan wanita yang merasakan desakan batang kemaluanku dalam rongga lubang kemaluannya. Tidak semua wanita yang kukenal mau bermain seks denganku. Ada yang menolak, ada yang setelah beberapa tahun baru bersedia, ada yang beberapa bulan, dan ada juga yang baru seminggu sudah mau.

Dan saat ini aku sangat bahagia mendapati diriku seperti itu, menyetubuhi banyak wanita, merasakan remasan alat kemaluan mereka dan menumpahkan spermaku di dalam rahim yang berbeda-beda. Kurasa itulah intinya, “BAHAGIA!” Peduli dengan orang lain. Kalau mereka tidak suka, mereka bisa menuntut kita.
TAMAT

Tags : cerita 18sx, cerita merangsang, bugil, artis telanjang, koleksi foto bugil, abg bugil, cewek jakarta, artis bugil telanjang, artis bugil blogspot com, video bugil artis indonesia, bugil bandung,abg bandung,mahasiswi bandung,perek bandung, bokep bandung

Add a comment 22 April 2010

Halaman

Kategori

Tautan

Meta

Kalender

Oktober 2014
S S R K J S M
« Jul    
 12345
6789101112
13141516171819
20212223242526
2728293031  

Posts by Month

Posts by Category

 
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.