Posts tagged ‘cerita seks ‘




Cerita 18sx – Bachelor Party

Di Batas Pelangi

Ketika aku memasuki halaman rumah itu, banyak mobil mewah sudah diparkir memenuhi area yang ada, seorang satpam mendekat.

“Kucarikan parkir Bos, langsung aja sudah ditungguin di dalam,” katanya pada GM yang mendampingiku.

Kulihat rumah itu begitu besar, seperti layaknya rumah di kawasan elit Galaxy, lebih tepat disebut istana barangkali, mungkin bisa dibandingkan besarnya dengan rumah di kawasan Pondok Indah.

Seorang anak muda chinese, namanya Indra menyambut kedatangan kami.

“Langsung masuk aja, mereka sudah nunggu” sambutnya

Ternyata sudah ada 6 anak muda seusia Indra di dalam, mereka bersiul riuh menyambut kedatanganku, berbagai celoteh terlontar memujiku.

“Wah bisa nggak jadi kawin tuh si Joseph,” salah satu yang kudengar.

“Oke friend, Ini Lily dan jangan ganggu dia karena milik Joseph,” Indra mengingatkan.

Kembali teman temannya teriak kecewa.

Berbagai macam minuman sudah tersedia di meja, dari soft drink hingga whiskey, kulihat beberapa dari mereka wajahnya sudah merah terbakar alkohol, tatapannya begitu liar seolah hendak menerkamku.

Secara sepintas si GM sudah memberi tahu bahwa ini adalah acara “Lepas Bujang” alias Bachelor Party, aku diminta sebagai bintang tamu melayani Joseph yang akan menikah 2 hari lagi, seperti pesta ‘Lepas Bujang’ lainnya, aku hanya melayani Joseph seorang tapi dihadapan teman temannya yang tak tahu berapa jumlahnya, biasanya antara 4-9 orang, tapi dia menjamin bahwa hanya Joseph yang harus aku layani untuk acara ini, setelah itu terserah aku sendiri bagaimana dengan lainnya, biasanya ada beberapa orang yang tertarik mem-booking setelah pesta, semua terserah ke aku karena diluar harga paket spesial yang kutawarkan.

Meskipun aku sudah menyiapkan diri secara mental untuk bercinta dihadapan lebih dari 2 orang, ternyata ada rasa nervous juga dikelilingi laki-laki yang haus dengan wajah menyeringai seakan hendak memperkosaku, meskipun sebenarnya wajah mereka nice looking tapi sorot mata yang menakutkanku.

Sepuluh menit kemudian, si Joseph datang, seorang chinese seusiaku, mungkin lebih muda dengan kaca mata minus bulat ala John Lennon.

“Sep, tuh sudah ditunggu,” kata Indra menyambut kedatangannya.

“Li, ini Joseph laki-laki yang beruntung itu dan Seph, she is yours,” Indra mengenalkanku, kusambut uluran tangannya tapi dia melanjutkan dengan ciuman di pipi, temannya mulai berteriak gaduh.

Irama House musik mulai keras menghentak, aku didaulat untuk menari dihadapan mereka, seperti biasa, menari streaptease hingga totally nude dan tugasku untuk membuat Joseph bertekuk lutut.

Dengan sedikit nervous diiringi tatapan mata liar laki-laki yang mengelilingiku, akupun mulai meliuk liukkan tubuhku dihadapan mereka, mengikuti dentuman iringan musik yang kian memanas.

Kuperagakan gerakan erotis seperti yang sering kulihat di night club, sebisanya kutiru gerakan gerakan sensualnya yang bisa membangkitkan syahwat para laki-laki.

Namun belum satu musik berlalu, Joseph berdiri menghampiriku, tanpa mempedulikan celoteh teman temannya, dia menarikku duduk di pangkuannya, sofa besar ditengah ruangan itu tampaknya sengaja dikosongkan untuk Joseph. Tak kulihat lagi GM yang mengantarku tadi, sepertinya dia sudah pulang setelah selesai tugasnya termasuk mengurus pembayarannya.

Joseph mulai menciumi leher sambil meremas remas buah dadaku dihadapan teman temannya, pada mulanya aku agak risih melakukannya dihadapan sekian banyak laki-laki yang hanya melihat dengan penuh perhatian.

Namun perasaan risih itu perlahan memudar berganti suatu sensasi yang aku sendiri tak tahu dari mana datangnya, semakin berani Joseph menggerayangiku semakin bergairah pula aku mendesah, seakan tak ada lagi orang lain di ruangan besar itu.

Tangan Joseph sudah menyelinap dibalik kaos ketatku, diremasnya dengan penuh gemas, tak lama kemudian terlepaslah bra hijau dan dilemparkan ke teman temannya, mereka bersorak riuh seperti melihat pertandingan bola. Sempat kudengar celoteh pujian dari “penonton” ketika kaosku disingkap memperlihatkan buah dadaku. Aku tak bisa menahan gairah lagi saat dia mulai mengulum putingku bergantian, kuremas remas rambutnya sambil mendesah nikmat. Dari gerakannya aku sangat yakin kalau ini bukan pertama kali baginya, dia sepertinya sudah berpengalaman dan tahu bagaimana memperlakukan wanita.

Hanya bertahan 5 menit kaosku menempel sebelum akhirnya meninggalkanku dan berpindah ke para “penonton” diiringi tepuk tangan nyaring, aku benar benar ditengah tengah srigala srigala lapar yang siap menerkam, meskipun tak mungkin terjadi, paling tidak untuk saat ini. Joseph semakin bergairah menggumuli bukit dan putingku, seperti ingin membuktikan sesuatu pada teman temannya.

Giliran selanjutnya adalah celana jeans yang masih kukenakan, Joseph sudah melepas kancing dan resliting hingga tampak celana dalam mini berwarna hijau tua.

“Lepas.. lepas.. lepas,” para penonton memberi dukungan, dan tak perlu lama lama mereka menahan napas untuk melihat kemolekan dan ke-sexy-an tubuhku. Kembali sorak kemenangan menggema mengiringi lepasnya celana jeans-ku, tinggallah aku sendirian hampir telanjang mengenakan celana dalam mini diantara srigala srigala lapar itu.

Mendengar sorakan yang riuh rendah, aku semakin bergairah, dengan gerakan yang demonstratif aku berlutut didepan kaki Joseph yang sudah berdiri bersiap menerima kenikmatan, kubuka dan kutarik turun celananya hingga menampakkan celana dalam HOM bermotif batik. Kuremas remas benjolan dibalik celana dalam itu, sambil menciumi perutnya yang agak buncit. Kembali terdengar teriakan ketika aku merosot turun penutup kejantanannya, tersembullah kejantanan yang sudah keras menegang mengenai wajahku.

Sambil tersenyum dan melirik ke arah penonton, kukocok dan kujilati sekujur penis itu tanpa sisa dari ujung hingga pangkal, Joseph mulai mendesah nikmat, para penonton terdiam, keadaan semakin sunyi saat kumasukkan penis itu ke mulutku, hanya desahan napas Joseph yang terdengar mengiringi kuluman permainan oralku. Aku sangat menikmati kesunyian yang berbalut birahi, mereka seakan terlongo melihat permainan oralku.

Penis Joseph yang tidak terlalu besar dengan mudahnya keluar masuk mulutku, semua bisa memasukinya hingga hidungku menyentuh rambut rambut halus di pangkal penisnya.

Kalaupun ada cicak lewat pasti terdengar karena keheningan ini, desahan Joseph benar benar menguasai ruangan, semua terdiam melihat penis temannya yang tidak disunat itu keluar masuk membelah bibir manisku. Aku semakin bersemangat saat tahu bahwa aku berhasil membetot perhatian para srigala lapar tanpa mereka bisa berbuat apa apa, semakin demonstratif pula kupermainkan bibir dan lidahku pada penisnya.

Entah karena sensasinya terlalu tinggi mendapatkan oral didepan teman temannya atau memang dia tidak bisa bertahan lama, tak lebih 5 menit setelah jilatan pertama, Joseph berteriak kencang sambil menyemprotkan spermanya ke mulut dan wajahku, sebagian tertelan dan sebagian lagi membasahi wajah dan rambutku.

Kusapukan penisnya pada wajah dan buah dadaku, sambil tersenyum aku menatap para penonton satu persatu seakan hendak melongok apa yang ada di benak mereka. Kebanyakan menghindar tatapanku, mungkin takut terbaca apa yang ada dalam pikirannya, sebagian lagi menatapku dengan penuh nafsu dan sorot mata kekaguman.

Sorak dan tepuk tangan bergema ketika Joseph duduk di sofa dan menarikku ke pangkuannya, tubuh telanjang kami saling berpelukan dihadapan teman temannya, seakan mereka baru tersadar kalau babak pertama sudah selesai.

Indra membawa 2 botol bir hitam dan menyerahkan ke kami, aku menolak dan minta Lippovitan atau air putih saja, sekedar mencuci mulutku yang terasa bergetah terkena sperma. Joseph mengusap wajah dan tubuhku yang terkena sperma dengan handuk kecil yang sepertinya sudah disiapkan.

“Beruntunglah kamu Joseph, belum tentu si Yeni nanti mau melakukan seperti itu,” kata Indra

“Aku mau kamu panggil dia lagi saat pestaku nanti,” celoteh salah seorang penonton.

“Tunggu saja giliranmu, dapat aja belum, makanya jangan terlalu sering ganti pacar,” sahut lainnya.

Aku tak memperhatikan lagi celoteh mereka, kupunguti pakaian yang berserakan di lantai sekaligus sengaja lebih memamerkan lekuk sexy tubuhku dihadapan mereka, aku ingin mereka mengetahui lebih jauh betapa sexy-nya tubuhku.

Hanya berselang 15 menit, Joseph sudah bersiap melanjutkan permainan, dia jongkok di antara kakiku yang dinaikkan tinggi, liang vagina yang bersih tanpa dihiasi bulu bulu halus begitu jelas terhampar dihadapannya, juga dihadapan teman temannya.

Dipandangi sejenak sebelum mendaratkan lidahnya, seperti dia baru tersadar kalau selangkanganku tidak berambut sehabis dicukur. Diawali dengan ciuman pada paha dan remasan di dada, lidahnya menjelajahi daerah selangkanganku, menari nari sebentar pada klitoris lalu mulai melakukan hisapan hisapan kuat di vagina, akupun mendesah lepas tanpa peduli penonton yang mulai menahan napas.

Beberapa menit kemudian kudorong kepalanya menjauh, aku berdiri menuntunnya menuju sofa panjang, kuusir mereka yang sedang mendudukinya untuk berpindah ke tempat lain. Dengan halus kurebahkan tubuh telanjang Joseph di sofa panjang, kamipun melakukan 69 di atasnya, saling menjilat, saling mendesah, saling berbagi kenikmatan.

Kulirik beberapa penonton mulai mendekat, melihat lebih dekat bagaimana aku mengulum dan menjilat, sebagian lagi melototi vaginaku yang sudah mendapat jilatan nikmat, mereka berdiri mengelilingi kami, aku tak peduli, justru semakin bergairah, namun tidak demikian dengan Joseph, dia merasa terganggu dengan jarak yang terlalu dekat, diberinya aba aba supaya temannya kembali menjauh.

Setelah kulihat semua sudah duduk pada tempatnya, aku berdiri mengatur posisiku diatas penisnya, sengaja kupilih posisi di atas supaya penonton bisa menikmati tubuhku sepenuhnya, berikut buah dadaku yang akan berguncang saat aku turun naik mengocok Joseph.

Dugaanku benar, mereka mulai menggeser sofa tempat duduknya ke arah depanku, sehingga terlihat dengan jelas bagaimana expresi wajahku saat menerima kenikmatan dan bagaimana temannya sedang merasakan kenikmatan tubuhku sambil meremas remas buah dadaku, aku mendesah makin bergairah seirama gerakan mengocokku di atasnya.

Berulang kali Joseph mengulum putingku disaat aku mengocoknya, penonton tercekat diam menikmati permainan kami, beberapa mulai meremas remas selangkangannya sendiri, bahkan salah seorang sudah mengeluarkan penis dari celananya sembari mengocok dan menonton kami, aku tertawa puas dalam hati bisa mempermainkan mereka, membuat mereka terbakar api birahinya sendiri.

Melihat kondisi birahi para penonton, aku semakin bergairah mengocoknya, justru membuat Joseph semakin mendesis melayang kenikmatan, diremasnya buah dadaku semakin gemas, akupun terbawa suasana panasnya nafsu disekelilingku.

Gerakanku semakin liar, berputar dan naik turun di atas Joseph, untung dia bisa tahan lebih lama sehingga aku semakin menikmati permainan ini, bukannya menikmati kocokan Joseph tapi menikmati sensasi yang terjadi.

Kami berganti posisi dogie, aku posisikan tubuhku tetap menghadap para penonton meskipun dengan posisi nungging, justru semakin menambah erotisme saat buah dadaku berayun ayun bebas ketika Joseph mengocok dari belakang.

Sodokan Joseph langsung keras menerjang segala rintangan yang ada, dikocoknya vaginaku dengan kerasnya, tentu saja buah dadaku bergoyang semakin hebat, beberapa penonton terlihat menelan ludah menahan napas tanpa bisa berbuat apa apa, terjebak permainannya sendiri. Aku semakin menikmati wajah wajah mereka yang menahan nafsu tinggi, 2 orang sudah orgasme tanpa bisa berbuat banyak, kecuali minta bantuan ketrampilan tangannya sendiri, mungkin lainnya menyusul tak lama lagi.

Tak ada yang bersuara kecuali kami berdua, semua menahan nafas dan gejolak nafsunya sendiri sendiri, kuimbangi gerakan Joseph dengan gerakan pantat yang berlawanan sambil memutar mutar pantat. Joseph semakin liar mengocokku, keringat mulai membawahi tubuhnya, dinginnya AC tak mampu meredam panasnya nafsu yang menggelora.

Aku merasa Joseph sudah dekat ke puncak kenikmatan, tapi aku tak mau secepat itu meski kami sudah bercinta lebih 15 menit. Kuminta berganti posisi, sekedar menurunkan tegangannya, tanpa minta persetujuan kucabut penis dari vaginaku dan aku langsung telentang di atas karpet di dekat kaki para penonton. Spontan mereka melongo sejenak melihat tubuh telanjangku telentang di kaki kaki mereka, tapi tak lama, Joseph sudah menutupi tubuhku dengan tubuh gendutnya. Aku kembali mendesah nikmat menerima kocokan Joseph, mereka melihat expresi desahanku dari celah pundak Joseph.

Kuangkat kakiku ke pundaknya, dengan posisi agak jongkok Joseph mengocokku, penisnya serasa semakin dalam mengisi liang vaginaku, para penonton semakin mendekat, bahkan Indra sudah dalam jarak jangkauan tanganku, kalau aku mau bisa saja kuraih dan kumainkan penisnya yang sudah keluar dari celananya, tapi itu diluar kesepakatan. Aku bisa menikmati wajah wajah yang terbakar birahi tinggi, wajah wajah putih terlihat kemerahan seperti udang rebus.

Joseph sudah tak mempedulikan lagi teman temannya yang bergerak semakin dekat, dia terlalu berkonsentrasi padaku, dan tak lama kemudian diapun menjerit seiring kurasakan denyutan kuat pada vaginaku, tubuhnya mengejang sambil meremas buah dadaku, akupun menjerit kaget dan nikmat, denyutan demi denyutan menghantam dinding dinding vagina dan akhirnya Joseph terkulai lemas di atas tubuhku dengan keringat yang deras membasahi tubuh kami berdua.

Riuh tepuk tangan kembali bergema di ruangan itu, aku masih memejamkan mata saat Joseph meninggalkan tubuh telanjangku yang masih telentang di atas karpet lantai, ketika kubuka mataku, ternyata aku tengah dikelilingi para penonton yang berdiri dengan penis yang teracung keluar, sungguh pemandangan unik.

Segera aku berdiri, tak bisa dihindari lagi ketika tubuh telanjangku bersinggungan dengan mereka, bahkan kurasakan beberapa menepuk atau meremas pantatku saat aku melewatinya, kubalas dengan senyum menggoda.

“Kamar mandi dimana?” tanyaku, serentak mereka menunjuk ke sudut ruangan seakan terlupa kalau penis mereka masih mengacung tegang.

Hanya dengan berbalut handuk yang ada di kamar mandi, aku kembali ke ruangan dan langsung duduk kembali di pangkuan Joseph. Mereka sudah merapikan pakaiannya kembali kecuali Joseph yang hanya mengenakan celana dalam.

“Masih bisa lanjut?” bisikku, meskipun aku belum orgasme, tapi aku puas melihat mata mata liar yang takluk dalam permainanku, seakan aku berhasil menaklukan mereka 8 orang sekaligus tanpa harus bersetubuh.

Entah berapa orang yang sudah orgasme hanya dengan melihat permainanku dengan Joseph.

“Sialan, dia sih jauh lebih hot dari yang kalian berikan ke aku tempo hari, rugi aku, kirain waktu itu dia yang terbaik tapi ternyata ini jauh melebihi,” protes salah seorang disambut tawa dari lainnya.

Sambil beristirahat, kami bersantai, mereka saling meledek, baik tentang pribadi, istri istri mereka ataupun pacar dan mantan pacarnya. Botol botol kosong bir hitam sudah berserakan di meja. Akupun berputar dari satu pangkuan ke pangkuan lainnya tanpa mereka boleh menyentuhku, itulah aturannya.

“Kita lanjutin di kamar” kata Indra mengingatkan.

Kamipun berame rame menuju kamar yang ditunjuk Indra, selaku tuan rumah. Sebelum aku mencapai pintu kamar, seseorang menarik lepas handukku hingga aku telanjang. Aku hanya tersenyum melihat kenakalan mereka, tanpa mempedulikan tubuhku yang tanpa selembar penutup, aku santai saja berjalan menuju kamar mengiringi para laki-laki itu.

Kamar itu begitu besar dengan ranjang King Size, designnya bagus seperti kamar hotel suite, namun aku tak bisa memperhatikan lebih lanjut karena Joseph sudah memelukku dari belakang sebelum aku mencapai ranjang. Dia menciumi tengkukku sambil tangannya meremas remas buah dada, tubuhku lalu disandarkan menghadap dinding kamar, kubuka lebar kakiku karena aku tahu dia ingin menyetubuhiku dari belakang dengan posisi berdiri.

Penisnya mulai disapukan ke daerah kewanitaanku, namun berulang kali dia mencoba berulang kali pula dia gagal melesakkan penisnya mungkin terganjal perut.

Aku mengambil inisiatif, kutuntun Joseph menuju sofa dimana teman temannya duduk bersiap melihat permainan berikutnya. Kuminta salah seorang yang duduk di sofa panjang itu untuk bergeser, akupun duduk diantara mereka, berhimpitan di sofa panjang itu. Kuraih penis Joseph yang sudah berdiri di depanku dan langsung kumasukkan ke mulutku, mereka mulai bersiul melihat aku mulai beraksi, begitu dekat jarak antara mereka dengan mulutku yang sedang mengulum penis Joseph, hingga kurasakan dengus napas berat menerpa wajahku.

Joseph berlutut didepanku, kubuka kakiku lebar dan menumpangkan ke paha disampingku, dengan sedikit sapuan pada bibir vagina, Joseph melesakkan ke dalam, mengisi liang kenikmatanku, desahan nikmatku menyambut sodokannya. Aku menggeliat sejenak, kuremas lengan lengan yang ada disampingku sementara mereka membalas dengan elusan elusan pada kakiku yang menumpang di pahanya.

Kocokan Joseph semakin keras dan cepat, desahanku pun semakin lepas, tanpa kusadari remasanku sudah beralih ke paha mereka, hanya beberapa centi dari selangkangan. Sejauh ini hanya Joseph yang telah menjamah tubuhku, tapi cengkeraman dan elusan tanganku pada paha membuat mereka semakin berani, seakan mendapat sinyal dariku.

Indra yang berdiri dibelakang sofa, tepat di atasku memasukkan jari tangannya ke mulutku, aku menyambut dengan kuluman seperti layaknya mengulum penis. Sementara mereka yang tepat berada disampingku menggeserkan tanganku ke selangkangannya, akupun menyambut dengan remasan pada penis mereka. Sebelah kanan mengambil inisiatif terlalu jauh, dikeluarkannya penisnya dari celana dan membimbing tanganku ke arahnya, seolah tak menyadari hal itu aku mulai meremas remas penis itu sambil menerima kocokan dari Joseph, mereka mulai mendesis bersamaan.

Ketika tangan Indra hendak menjamah buah dadaku, Joseph sepertinya tersadar, ditepisnya tangan tangan yang menggerayangi tubuhku, termasuk tanganku yang sedang mengocok penis orang lain.

“Boleh dilihat, tak boleh dipegang!!, tunggu giliran kalo mau,” hardik dia pada temannya, disambut senyum kecut dari mereka, aku hanya tersenyum saja melihat expresinya yang marah bercampur nafsu birahi.

Kini aku telentang di atas meja, menerima sodokan demi sodokan dari Joseph, sementara teman temannya mengocok penisnya sendiri tepat di atasku sambil melihat bagaimana sobatnya yang sebentar lagi kawin menyetubuhiku dengan penuh gairah nafsu. Tanganku yang bebas bergerak sebenarnya bisa menggapai penis penis itu, tapi sepertinya Joseph tak mengijinkan aku melakukannya. Aku sangat yakin mereka ingin menumpahkan spermanya di tubuhku saat aku sedang menerima kocokan, tapi entahlah apa hal itu diperbolehkan, toh mereka tidak menyentuhku.

Dan keyakinanku terbukti saat salah seorang dari mereka menyemprotkan spermanya tepat mengenai wajahku, Joseph sempat protes tapi tentu saja tak bisa dicegah, dia mengalah dan semakin mempercepat kocokannya. Sebelum Joseph menumpahkan spermanya di vaginaku, 2 orang temannya kembali menyirami tubuhku dengan sperma secara beruntun, kali ini dia diam saja. Bahkan Joseph semakin bergairah saat kusapukan sperma sperma yang ada di tubuh dan wajahku ke mulut, untunglah Joseph segera menyusul, diiringi teriakan keras dia kembali membasahi liang kewanitaanku dengan vaginanya.

Tanpa menunggu habisnya denyutan, dia mencabut penisnya dan bergerak ke arah kepalaku, dimasukkannya penisnya ke mulutku, dan kusambut dengan kuluman dan permainan lidah. Satu lagi semprotan sperma kuterima di dada saat aku sedang mengulum Joseph.

“Real bitch,” kudengar salah seorang berguman melihat keliaranku.

Joseph melempar handuk ke arahku untuk membersihkan sperma yang belepotan di tubuhku, aku beranjak menuju kamar mandi di kamar itu. Kamar mandi itu begitu besar dengan bathtub berbentuk seperempat lingkaran dilengkapi dengan whirpool dan sauna apalagi accessories lainnya tak kalah dengan kamar mandi di suite hotel bintang lima, sungguh rumah yang benar benar mewah.

Kurendam tubuhku di bathtub, air hangat terasa begitu segar menyirami tubuhku setelah tadi disiram sperma hangat. Tubuhku semakin nyaman saat Indra menghidupkan whirpool hingga serasa dipijitin, satu persatu mereka melihatku mandi hingga tak kusadari mereka sudah berdiri disekeliling bathtub.

“Tolong handuknya dong,” pintaku pada salah seorang yang dekat denganku.

Mereka berbaris mengikutiku saat aku kembali ke kamar, aku duduk di tepi ranjang yang tidak pernah kupakai, mereka duduk teratur di depanku, hanya Joseph yang duduk disampingku, dia mengenakan piyama.

“So what next?” tanyaku menantang sambil merebahkan tubuhku yang masih berbalut handuk di ranjang.

“Terserah dia tuh, kalau sudah menyerah ya selesai tugasmu,” jawab Indra sambil memandang ke temannya

“Tidak ada kata menyerah untuk urusan beginian, tapi aku harus segera pulang sebelum calon istri mencari, maklum sedang sibuk sibuknya menyiapkan acara, ini aja sembunyi sembunyi, untung HP habis baterei,” jawabnya, berarti acara sudah selesai.

“Tapi kalau kalian mau melanjutkan ya silahkan, aku sampai disini saja,” lanjutnya seraya mencium pipiku lalu beranjak keluar kamar meninggalkan kami.

“Oke siapa yang mau melanjutkan dengan Lily, tentu saja urusannya atur sendiri, itu diluar acara,” kata Indra mengikuti Joseph.

Tak ada yang menjawab, entah karena sudah jenuh atau sudah tahu permainanku atau juga mungkin karena segan dengan teman lainnya, mereka hanya diam.

Bersama sama kami keluar kamar, Joseph yang sudah berpakaian rapi menyerahkan pakaianku.

“Aku tak menemukan celana dalammu,” katanya.

“Nggak apa, mungkin ada yang nyimpan untuk kenangan,” jawabku, didepan mereka kukenakan kembali pakaianku minus celana dalam.

“Bisa kita quickie sebentar?, Just to say goodbye,” tanya Joseph sambil menarikku kembali ke kamar, akupun menuruti kemauannya.

Sesampai di kamar aku langsung nungging di atas ranjang, tanpa melepas pakaian, hanya menurunkan celana hingga lutut, Joseph mengeluarkan penisnya dari lubang resliting. Tidak seperti sebelumnya, kali ini agak susah untuk memasukkan penis itu ke liang kewanitaanku, mungkin karena belum terlalu tegang, vaginaku pun masih kering. Setelah kulumasi dengan ludahku, barulah dia bisa melesakkan penisnya dan langsung mengocok cepat dan keras, desahan kembali terdengar. Rupanya desahanku mengundang teman temannya ke kamar, satu persatu mereka masuk kamar melihat babak terakhir persetubuhanku dengannya. Hanya berlangsung 3 menit akhirnya Joseph menggapai orgasmenya yang terakhir denganku, diiringi tepuk tangan teman temannya. Setelah saling merapikan pakaian kami keluar kamar.

Kuantar kepergian Joseph hingga pintu, diapun benar benar pergi setelah memberikan goodbye kiss seakan melepas kepergian pacarnya ke tempat yang jauh.

“The best sex yang pernah kudapat,” bisiknya sebelum pergi, aku hanya tersenyum melepas kepergiannya kembali ke calon istrinya.

TAMAT

Tags : Cerita 18sx,cerita seks, cerita daun muda, gadis bandung, video bugil, cerita sexs, tante,dewasa dvd vcd,khusus dewasa 17tahun,cersil dewasa,cerita dewasa 18 thn,cerita dewasa sedarah,dewasa chat malaysia,perkembangan dewasa,vcd porno dewasa,cerita dewasa 17 thn

Add a comment 17 Mei 2010

Cerita 18sx – Percaturan Birahi Istriku – 2

Dari bagian 1

Kemudian aku ambil kursi rias yang ada dikamarku secara perlahan dan kutaruh dekat pintu. Dengan harapan aku bisa melihat aktifitas istriku melalui ventilasi diatas pintu kamarku. Betapa terkejutnya aku, ternyata istriku sedang berpagutan mesra diatas kasur lipat dengan Usman. Badanku secara mendadak menggigil dan mengeluarkan keringat dingin. Aku bingung dan serba salah, apa yang harus aku lakukan, aku tak tahu. Sejenak aku ingin membuka pintu dan menghentikan tindakan pengkianatan yang dilakukan istriku dan Usman, tapi keberanian itu menjadi padam begitu aku teringat bahwa istriku sering mengeluh atas ketidak mampuanku untuk bertahan lama dalam senggama. Aku bingung dan kulihat lagi mereka yang ternyata tangan kanan Usman telah menyelinap didalam celana pendek istriku.. Och.. semakin aku tak mampu berbuat apa-apa. Sekilas sempat aku berpikir mungkin perbuatan mereka kali ini bukan yang pertama kali dan semakin aku yakin bahwa selama ini istriku telah sengaja memasukan obat tidur pada kopiku sehingga mereka leluasa untuk bermain catur birahi dan dengan demikian maka tetangga yang lain tak akan pernah curiga.

Usman dengan semangatnya melahap bergantian kedua puting susu dihadapannya dan tangannya telah berhasil memelorotkan celana pendek istriku. Aku hanya termangu menyaksikan aksi mereka berdua yang nampak saling semangat dan saling menyerang. Jantungku semakin berdebar. Sesaat kemudian mereka berdiri sambil melepaskan pakaian masing-masing, sesaat kemudian baik istriku dan Usman telah telanjang bulat. Kontol Usman telah berdiri kencang dan tegak, diameternya tidak beda jauh dengan punyaku tapi panjangnya mungkin sedikit lebih panjang punya Usman.

Istriku dipepetkan ditembok, mereka saling berciuman dengan ganas sekali, tangan kanan istriku meremas-remas kontol Usman dan tangan kanan Usman menggesek-nggesek memek istriku. Terlihat istriku tidak sabaran, kontolnya Usman diarahkan ke memeknya dengan sedikit kaki kiri istriku diangkat Usman maka masuklah senjata Usman pada memeknya, terlihat istriku memejamkan mata.

“Oooch.. kocok Dik Usman.. kocok..”

Dengan gerakan naik turun, Usman mengocok berulang-ulang dan badan mereka berdua semakin mengkilap karena keringat.

“Cek.. cek.. pleek.. plek.. ceck..”

Sesaat kemudian kocokan Usman berhenti

“Mbak Erna.. enak sekali memeknya.. terasa kenyuut-kenyuut..”

“Kontolmu juga Dik Usman.. gagah perkasa..”

Kemudian gantian kaki kanan istriku diangkat dengan tangan kiri Usman dan kocokan dilanjutkan lagi.

“Och.. ooch.. enak Dik.. teeruuss.. kocok teruuss..”

“Mbak.. aku mau keluar Mbak..”

“Jangan dulu Dik Usman.. jangaann.. akuu masih pingiinn lama-lama Dik”

“Nggak tahaann Mbaak.. aku nggaak tahan.. uenaakk Mbakk..”

Terlihat Usman menghentikan kocokannya dan semakin menekan dalam-dalam kontolnya dalam memek istriku..

“Ma’af Mbak.. aku nggak tahaann.. ma’aaf.. oocchh.. oocchh..”

Istriku memeluk erat-erat tubuh Usman seolah nggak mau dilepas seterusnya..

“Kenapa buru-buru dikeluarin Dik.., aku belum dapet lho..”

“Sabar Mbak.. betul-betul aku nggak tahaann.. wuennaakk buuanget.. memek Mbak hangett sekali dan waouw.. suereett Mbaak..”

Sesaat kemudian terlihat kontol Usman terlepas dari memek istriku dan dibarengi tetesan sperma dari dalam vagina istriku dan istriku mengambil handuk kecil untuk mengeringkan keringat serta membersihkan memeknya.

Oochh hanya segitu kemampuan si Usman (pikirku), aku agak lega ternyata kemampuannya tidak beda jauh dengan kemampuanku. Aku menghela nafas panjang, dan berharap mudah-mudahan istriku menjadi kapok karena tidak terpuaskan oleh Usman dengan begitu pasti tidak akan mengulanginya lagi. Tapi.. kenyataannya lain dari dugaanku..

Usman betul-betul dapat layanan spesial dari istriku, diambilkannya segelas air minum dingin dan diminum bergantian dengan istriku. Sambil bersandar di dinding, kaki Usman diselonjorkan dan istriku mendekati Usman dengan duduk berhadapan diatas pangkuannya

“Mbak.. susunya masih kenceng dan bulu-bulu memek Mbak yang lebat ini (sambil tangan kanan Usman mengelus mesra memek istriku), membuatku ingin tiap malam bertandang kerumah Mbak ini..”

“Sama Dik Usman.. aku sendiri tiap hari rindu sama kontolmu yang ini..”, (sambil tangan kanan istriku mengelus kontol Usman yang masih lunglai)..

Mereka saling kecup dan saling pagut kembali, tangan kiri Usman memeluk punggung istriku dan tangan kanannya mengelus-elus secara bergantian gumpalan bokong istriku yang mulus dan menggairahkan, sesekali jari tengah Usman mengusap memek dan permukaan anus istriku sehingga istriku melakukan gerakan-gerakan berkedut akibat geli-geli nikmat

“Ouuw.. ouucwww.. woouuwww.. geli Dik Usman..”

Tak kalah lihainya, tangan kanan istriku meremas-remas Kontol Usman yang sudah agak mulai mempunyai semangat baru.

Badan Usman bergeser kearah kasur lipat yang sedari tadi belum dimanfaatkan sambil istriku tetap dipangkuannya. Dan sekarang istriku dalam posisi diatas dan masih menunduk karena pagutan yang terlihat mulai panas kembali.

Kedua tangan Usman meremas-remas bongkahan bokong istriku yang semakin lama bergerak berputar-putar tak karuan. Istriku terlihat mulai bangkit lagi semangatnya yang terpendam akibat belum terpuaskan. Kecupan demi kecupan istriku menjalar dari bibir Usman, ke leher, ke dada dan puting Usman dan terakhir berhenti sejenak mengulum membasahi helm kontol Usman yang sudah berdiri tegak siap perang kembali. Istriku terlihat sudah nggak tahan begitu melihat kontol Usman tegak menantang, dan segera dituntun untuk dimasukkan kedalam memeknya. Diputar-putar kepala kontolnya di bibir memeknya yang sedikit berlendir dengan tangan kanannya dan sesaat kemudian, blless.., istriku sedikit menjerit histeris.

“Woouuwww.. heehhii.. heehhii..”

Badan istriku sedikit bergetar dan diam sejenak sambil kedua tangannya bertumpu pada dada Usman, sebaliknya kedua tangan Usman meremas-remas buah dada istriku.

Mulanya dengan gerakan sedikit memutar dan kemuadian istriku menaik turunkan pantatnya.

“Teruuss Mbak.. terruuss Mbak.. teerruuss..”

“Kocok Mbak Erna sayang.. kocokk.. putaarr.. dan.. teerruuss..”

“Woouwww.. woouwww.. enakk Dik.. woouwww..”

Sambil sedikit membungkuk, istriku melakukan gerakan tarik tekan berulang-ulang, semakin lama semakin cepat dan beberapa saat kemudian..

“Woouuwww.. woouuwww.. akuu mau keluar Dik Usman.. woouwww..”

Gerakan tarik tekan istriku semakin kenceng dan mendadak terdiam sambil pantatnya berdenyut-denyut menekan-nekan..

“Woouuwww.. woouwww.. aakkuu keluar Dik Usman saayyaanngg..”

Mereka saling berpelukann erat dan pantat istriku masih berdenyuutt kenyuutt menekan-nekan seolah-olah Kontol Usman akan dilahap dimasukkan kedalam memeknya sedalam-dalamnya tanpa sisa..

“Wwoouuwww..”

Napas istriku terlihat tersengal-sengal dan berangsur-angsur menjadi diam tanpa gerakan sedikitpun karena lunglai kenikmatan yang habis diraupnya. Bibir Usman dikecupnya berulang-ulang..

“Terimakasih Dik Usman.. terimaksih.. wuennaakk sekali..”

Usman mulai sedikit melakukan gerakan menaik turunkan kontolnya dimemek istriku perlahan-lahan dan gerakan itu rupanya disambut oleh istriku yang masih ingin mencari kenikmatan-kenikmatan yang sudah lama tidak didapatkan dari aku suaminya.

Dengan posisi sedikit dirubah, istriku bertumpuh dengan kedua lututnya disamping pinggul kiri kanan Usman, istriku mulai memompa dan menggosok-gosokan memeknya pada tiang kemerdekaan Usman. Perlahan tapi pasti dan semakin lama semakin cepat kocokan-kocokan yang dilakukan mereka berdua. Istriku dengan gerakan angkat tekan dan Usman gerakan tarik dorong keatas sekencang-kencangnya dan itu semua menimbulkan bunyi.

Istriku mulai terpancing lagi dan..

“Zzhh.. woouwww.. zzhh.. woouwww.. zzhh.. woouwww..”

“Terruuss.. yyaa.. teerruuss.. hmemmhh.. yaa..”

Gerakan mereka berdua semakin berpacu.. kencang.. dan keraass seolah mereka mau mengakhiri semuanya dan..

“Aku mau keluar lagi Dik Usman sayaangg.. teerruuss.. teerruuss..”

Mendadak istriku memeluk erat dada Usman, gerakan sama sekali berhenti dan kembali lagi bongkahan pantat istriku berdenyut-denyut menekan-nekan tanda kenikmatan yang tiada tara.

“Mbak Erna.. memeknya semakin licin dan kenyuutt-kennyuutt Mbak”

“Wuenakk Mbak.. kontolku terasa dipijit-pijit.. Mbak Erna sayaang..”

Setelah berhenti melakukan gerakan beberapa saat, istri langsung dibalik oleh Usman sehingga posisinya dibawah. Ternyata Usman belum sampai final. Dengan rakusnya Usman menghisap puting susu istriku yang semakin memerah dan kenceng.

Istriku menggelinjang-nggelinjang ke-enakan dan pantat Usman mulai memompa naik turun.

Gerakan Usman memompa naik turun lama sekali. Kemudian Usman menghentikan kocokannya dan akhirnya kaki kiri istriku diangkat tegak lurus dan ditekan-tekannya kontolnya sekencang-kencangnya.

“Teruuss.. teruuss.. Dik Usman.. teruuss.. dinding rahimku terasa tersundul-sundul.. wuennaakk Dik.. teruuss dikk..”

Usman mengganti kaki kanan istriku yang sekarang diangkat dan tekanan demi tekanan semakin membuat keringat mereka berdua bercucuran.

Dalam hatiku, edan tenan tetanggaku ini. Di satu sisi dia sebagai lawan seru caturku. dan disisi lain ternyata dia menjadi lawan tanding birahi sex istriku. Aku mangaku kalah dalam mengontrol daya tahan tetapi aku tak boleh menyerah.. aku harus bisa.. tapi.. apa mungkin aku bisa. Aku sedari tadi diam tertegun melihat keganasan mereka berdua dan aku hanya bisa meremas-remas kontolku yang basah karena lendir akibat terangsang hebat. Badanku terasa kelu dan kaku karena depresi, tegang dan amarah yang menjadi satu.

Kulihat lagi permainan mereka, dan ternyata kini kedua kaki istriku diangkat dengan cara tangan kiri Usman memegang pergelangan kaki kanan istriku dan sebaliknya tangan kanan Usman memegang pergelangan kaki kiri istriku. Yang menjadi iri dan aku tertegun, selain Usman masih mengocok kontolnya, kedua kaki istriku dimainkan dengan cara dirapatkan tegak lurus dan kemudian dikangkangkan, begitu terus berulang dan terlihat dari mimik wajah istriku, dia menikmati semua gerakan yang dilakukan oleh Usman.

“Ech.. ouw.. ouw.. yaou.. teruuss.. terruss.. oeii..”

Beberapa menit kemudian gerakan maju mundur Usman semakin kencang dan..

“Mbak.. aku nggak kuat lagi Mbak.. aku keluarin didalam yaa..”

“Nggak papa Dik.. semprotkan semuanya di dalam.. ayoo..”

Dan gerakan Usman mendadak berhenti sambil memeluk kedua kaki istriku, pantatnya semakin ditekankan kedepan dan berkedut-kedut.

“Oochh.. ouch.. creett.. creutt.. cruutt..”

Usman rebah dipelukan istriku..

*****

Pembaca.., Hingga kini aku belum bisa mengambil sikap, harus bagaimana? Disatu sisi, aku memang tidak bisa sejantan Usman, di sisi lain aku nggak mau kehilangan dan menyakiti istriku. Sampai saat ini juga, sikap istriku padaku sama seperti sebelumnya, seolah tidak ada kejadian yang luar biasa dan akupun berusaha seolah tidak mengetahui pengkianatannya.

Cerita diatas, secara teknis kejadiannya aku upayakan sesuai dengan realita yang ada agar bila ada yang ingin memberikan jalan keluar bisa tepat guna. Emailku rm4gedon@yahoo.com dan bila ada yang ingin langsung memberikan arahan pada istriku, akan kuberikan email addressnya setelah kirim email padaku lebih dulu.

TAMAT

Tags : cerita merangsang, cerita seks, cerita tante, video abg, amoy bugil, cewek cantik,blog cerita dewasa,kumpulan cerita dewasa,cerita seru,cerita dewasa 17tahun,17 tahun hot,cerita nafsu, nafsu seks, gairah nafsu, budak nafsu, cewek nafsu

Add a comment 12 Mei 2010

Cerita 18sx – Percaturan Birahi Istriku – 1

Seperti halnya umumnya orang lain, setelah selesai Kuliah kemudian cari kerja dan nikah. Demikian pula dengan kehidupan yang kujalani, sejak setamat dari SLTA di Kotaku di Jawa Tengah, aku melanjutkan Kuliah di Bandung di suatu Universitas ternama. Tahun 2000 adalah tahun kelulusanku dan di tahun itu pula aku diterima di suatu Perusahaan BUMN setelah melalui penyaringan beberapa kali dan sangat ketat. Kehidupan ini kujalani seolah tanpa hambatan, lancar-lancar saja, tidak seperti yang kebanyakan orang bilang bahwa kehidupan ini penuh perjuangan dan sulit untuk mencari kerja. Hal ini pernah aku syukuri bahwa ternyata aku diberikan banyak kemudahan-kemudahan oleh Tuhan didalam mengarungi kehidupan dijaman serba sulit ini.

Karena telah merasa cukup dan sedikit mempunyai kemampuan untuk membina Rumah Tangga maka pada tahun 2001 aku beranikan diri untuk melamar dan melakukan kesepakatan untuk menikah dengan seorang gadis Cantik idamanku yang sejak semester awal kuliah aku mengenalnya dan sejak saat itu pula aku bersepakat untuk pacaran. Sebut saja namanya Erna, gadis asal Jawa Barat dengan kulit putih mulus yang sangat terawat dengan rambut hitam kelam yang lebat. Hal ini sangatlah wajar karena ditunjang dengan kemampuan materi Orang Tuanya yang sebagai pengusaha. Perbedaan usia hanya satu tahun antara aku dan Erna yang sekarang sudah menjadi istriku, aku lebih tua dan kini usiaku 33 tahun.

Banyak teman-temanku bilang bahwa aku adalah laki-laki yang sangat beruntung bisa beristrikan seorang wanita seperti Erna istriku. Disamping orangnya baik, supel, cantik, padat berisi, kaya lagi. Bulu-bulu halus tumbuh agak lebat dilengannya yang sangat mulus. Pernah seorang teman bilang bahwa “dijalan raya saja banyak kendaraan apalagi diterminal”. Hal itu memang suatu kenyataan dan merupakan gaya tarik yang sangat luar biasa yang bisa menimbulkan birahi yang menggebu-gebu bila melihat istriku Erna telah melepaskan semua pakaian yang menutupinya, dengan kulit yang putih mulus dan bulu-bulu hitam lebat diantara pangkal kedua belah pahanya yang sangat kontras, sungguh hal ini yang membuat aku semakin tak tahan untuk berpisah lama-lama dengan istriku. Tinggi badan istriku 167 cm dan beratnya saat ini sekitar 53 kg.

Kehidupan rumah tanggaku telah kujalani dengan penuh kebahagiaan selama kurang lebih delapan tahun, apalagi pada tahun ketiga pernikahanku telah lahir seorang anak laki-laki yang tumbuh dengan sehat dan lucu yang kini telah berusia 5 tahun. Ditambah lagi pada tahun ke-enam pernikahan, kami pindah ke rumah yang kami beli dari hasil jerih payahku sendiri selama ini walau hanya merupakan rumah KPR bertype 45. Kalau dibandingkan dengan rumah mertua sangatlah tidak seimbang dan istriku sangat menyukainya karena segala sesuatunya dialah yang mengaturnya tanpa harus campur tangan orang lain seperti sebelumnya yaitu di rumah orang tuanya.

Dirumah kami inilah awal dari segala perubahan kehidupan yang aku rasakan sangat bahagia menjadi suatu siksaan dan tekanan bathin yang menimpa diriku hingga kini. Awalnya setelah hampir setahun tinggal dirumah sendiri, istriku berangsur-ansur sudah mempunyai kebebasan, keleluasaan termasuk untuk menyampaikan uneg-unegnya yang selama ini terpendam, yang aku sendiri sebagai suami telah disadarkan bahwa ternyata didalam kehidupan sexual istriku masih banyak ketidak puasan atas sikap dan kemampuanku sebagai seorang suami selama ini. Memang selama ini aku didalam melakukan hubungan senggama tidak bisa bertahan lama, paling lama mungkin hanya 20 menit itupun kalau aku dalam kondisi fit.

Walau sebelumnya sudah melakukan pemanasan dan aku sering melihat, merasakan bahwa memek istriku sudah basah pertanda adanya rangsangan. Tragisnya bila pemanasan dilakukan terlalu lama maka semakin aku tak tahan untuk berlama-lama. Aku telah berusaha berkali-kali untuk pengaturan waktu agar terjadi kelambatan dan penundaan dalam penyemprotan (ejakulasi), semua itu pasti mengalami kegagalan. Yang aku rasakan bila sedang berhadapan dengan istriku dalam melakukan senggama adalah gairahku yang menggebu dan kenikmatan-kenikmatan yang tiada tara bila penisku telah kumasukan dalam memeknya, dan berikutnya aku slalu tidak bisa mengendalikan diri lagi sehingga dalam tempo yang singkat pertahananku pasti tak terbendung lagi. Perlu diketahui bahwa sejak pernikahan hingga kini hampir tiada perubahan atas alat kewanitaan istriku, selalu terasa sempit dan nikmat. Hal ini dimungkinkan karena pada saat melahirkan anakku satu-satunya dengan cara Caesar sehingga secara phisik tidak banyak perubahan.

Aku telah berusaha untuk mengkonsumsi obat-obatan dan sering pula untuk konsultasi ke dokter tetapi hasilnya belum juga adanya hasil dan perubahan yang diharapkan atas daya tahanku. Pada awal-awal pernikahan dulu, aku bisa melakukan senggama berulang-ulang hingga 4 atau 5 ronde dalam semalam dan itupun umumnya yang ke 4 atau ke 5 yang mempunyai daya tahan dan dapat mengimbangi kemauan istriku. Tapi saat ini dua rondepun sangat sulit aku lakukan, biasanya bila telah mengeluarkan sperma, badanku terasa lunglai dan ngantuk yang amat sangat. Mungkin hal ini akibat berat badanku yang sudah tidak seimbang lagi dengan tinggi badanku dimana perutku sudah membuncit dan sama sekali tidak atletis. Tinggiku 170 cm dan beratku 83 kg.

Sejak masa SLTP aku mempunyai kegemaran atau hobby yang hingga kini masih sering aku lakukan.

Kegemaran tersebut adalah bermain Catur. Kegemaran ini sering aku lakukan dengan orang-orang atau teman pada saat-saat senggang dan sudah merupakan rutinitas hingga kini yaitu pada setiap Jumat malam aku bermain catur dengan seorang tetanggaku yang bernama Usman. Kadang Sabtu malampun bila sama-sama tidak mempunyai acara lain yang lebih penting kami asyik bermain Catur hingga kami betul-betul sudah capek dan suntuk. Sabtu dan minggu kebetulan sama-sama merupakan hari libur buat kami berdua. Dia kami kenal sejak pindah di perumahan yang kami tinggali saat ini dan Usman ini walau sudah bekerja, mempunyai rumah sendiri dan berusia mendekati angka 33 belum juga menikah. Orangnya tampan dan mempunyai tinggi tidak beda jauh dengan diriku, hanya saja badannya lebih atletis. Disamping mempunyai kegemaran bermain Catur, dia juga mempunyai jadwal rutin untuk bermain tennis. Usman inilah yang akhirnya semakin membuat bathinku menjadi tertekan dan tak berkutik untuk menghadapai gelombang percaturan cinta istriku hingga kini.

Dengan media papan catur ini, hubungan antara keluargaku dengan Usman menjadi akrab dan dekat. Kedekatan yang masih dalam batas wajar-wajar saja, begitupun hubungan antara istriku Erna dengan Usman, masih dalam etika kewajaran tanpa ada sesuatu yang perlu dicurigai. Sudah menjadi kebiasaan istriku, bila kami sedang bermain catur dan anakku sudah lelap tidur, istriku ikut juga menemani sambil memberikan dukungan untuk menyediakan secangkir kopi dan aneka camilan. Karena sudah terbiasa dan akrab, dalam menemani kami bermain catur, istrikupun dalam berpakaian juga biasa saja yaitu kadang pakai celana pendek ataupun baju tidur dan biasanya istriku hanya mampu menemani hingga jam 12 malam yang selanjutnya berpamitan untuk tidur lebih dulu. Permainan catur ini kami lakukan diruang keluarga dengan ber-alaskan karpet dan kadang dalam menemani kami, istriku menggelar kasur lipat sambil nonton TV.

Aku pernah beberapa kali melihat mata Usman mencuri-curi pandang pada bagian-bagian tubuh indah istriku pada saat menemani kami bermain catur ataupun pada saat istriku sedang tiduran dikasur lipat tapi semua itu aku abaikan. Dan pernah aku rasakan permainan catur Usman sangat tidak bagus dan kurang kosentrasi, dan setelah aku cari tahu penyebabnya ternyata aku melihat bahwa matanya sering terarah ke paha mulus istriku yang saat itu duduk disebelahku. Inipun aku abaikan bahkan aku merasa bangga mempunyai istri yang memang penuh dengan kekaguman. Tapi suatu Jum”at malam kira-kira enam bulan yang lalu, pada saat permainan catur baru beberapa babak, aku merasakan kantuk yang amat sangat setelah minum kopi yang disediakan istriku dan hal ini kusampaikan pada istriku yang saat itu menemani kami.

“Ma.. Papa kok ngantuk berat yaa..”

“Masak sih.. Papa khan udah minum kopi? Masak masih ngantuk juga..”

Dan berikutnya aku nggak bisa tahan lagi, aku terlelap dan tak ingat apa-apa lagi. Apakah Usman langsung pamitan pulang, akupun tak tahu. Yang aku tahu pagi-pagi aku bangun dalam posisi ditempat tidurku dalam kondisi badan yang sangat segar.

Jum”at malam berikutnya berjalan biasa saja, permainan caturku dengan Usman berakhir hingg jam 3 pagi dan Usman berpamitan untuk pulang. Begitu juga dengan Jum”at malam selanjutnya tanpa ada rasa kantuk tapi Sabtu malam kami bermain catur lagi karena sama-sama tidak mempunyai acara masing-masing dan rasa kantuk menyerang aku lagi sekitar jam masih menunjukan pkl 10.15 malam. Kali ini aku pamitan untuk tidur dan Usman kuanjurkan untuk pulang. Pada saat masih tersisa kesadaran sebelum terlelap, aku sempat istriku berbicara sama seseorang sesaat setelah mengantarku ke kamar tidur dan kejadian selanjutnya aku tak tahu apa-apa.

Timbul tanda-tanya dan curiga pada diriku, kenapa rasa kantuk begitu tiba-tiba, dan akhirnya aku sempat curiga telah terjadi sesuatu pada istriku apalagi akhir-akhir ini tampilannya tambah seksi dan merias diri. Aku tidak mau sembrono dengan semua ini dan aku tidak mau menyakiti istriku atas kekeliruan akibat kesalah dugaanku yang tanpa bukti. Maka pada saat menjelang tiba jadwal catur rutinku dengan Usman, aku mempersiapkan diri mengatur strategi agar semua apa yang ada dibalik kecurigaanku bisa terjawabkan. Sekitar jam 7 malam, aku telah mengkonsumsi (minum) obat anti kantuk. Hal ini aku lakukan karena aku telah curiga bahwa didalam minuman kopi yang disediakan istriku telah dicampuri obat tidur.

Permainan catur dimulai sekitar jam 19.30, semua berjalan seperti biasanya. Istriku menemani dengan tampilan terkesan sangat ceria. Kopipun aku minum seperti biasanya tapi hanya seperempat gelas saja. Sekitar jam 10.00 malam, aku merasa sedikit kantuk, dan sesuai strategi dan rencana, aku pura-pura ngantuk sekali dan selanjutnya aku pura-pura tak tahan lagi sehingga istriku memapahku ketempat tidur. Beberapa saat kemudian, sayup-sayup terdengar istriku melakukan dialog dengan seseorang dan dengan perlahan-lahan aku intip dari lubang kunci, ternyata istriku sedang duduk berhadap-hadapan diantara papan catur dengan Usman. Mereka seolah-olah lagi bermain catur.

Beberapa menit kemudian istriku beranjak menuju kekamar tidurku dan buru-buru aku segera memposisikan diri seolah tertidur lelap. Istriku menggoyang-goyangku seolah mau membangunkanku.

“Pa.. Pa.. gimana nih caturnya? Mau dilanjutin?”

Aku diam seolah pulas sekali dan istriku keluar kamar yang sebelumnya menyelimutiku dan menghidupkan lampu tidur dikamarku.

Sekitar dua menit kemudian, aku mencoba mengintip lagi dari lubang kunci, ternyata papan catur telah ditinggalkan begitu saja. Diantara kerasnya suara TV, aku masih sedikit mendengar bahwa istriku telah melakukan aktifitas, apa itu, akupun belum tahu.

Ke bagian 2

Tags : cerita merangsang,cerita sex, cerita sexs, cerita seks, foto bugil, mahasiswi bugil,cewek telanjang,cewek smu bugil,info tante girang,video tante girang,artis bugil telanjang,dewi persik bugil,artis bugil hot,poto artis bugil,artis bugil ngentot,toket artis bugil,foto artis bugil indonesia,artis cewek bugil

1 komentar 12 Mei 2010

Cerita 18sx – Rumah Sakit Nikmat

Peristiwa ini terjadi awal April 2008 yang lalu pada waktu penyakit Demam Berdarah Dengue (DBD) sedang mewabah. Nah, waktu itu aku juga terkena penyakit DBD tersebut.

Pagi itu, setelah bangun tidur, aku merasa pusing sekali, suhu tubuh tinggi dan pegal-pegal di sekujur tubuh. Padahal kemarin siangnya, aku masih bisa mengemudikan mobilku seperti biasa, tanpa ada gangguan apa-apa. Keesokan sorenya, karena kondisi tubuhku semakin memburuk, akhirnya aku pergi ke Unit Gawat Darurat (UGD) sebuah rumah sakit terkenal di Jakarta. Ketika aku periksa darah di laboratorium klinik di rumah sakit tersebut, ternyata hasilnya trombosit-ku turun jauh menjadi hampir separuh trombosit yang normal. Akhirnya karena aku tidak mau menanggung resiko, sore itu juga aku terpaksa harus rawat inap alias diopname di rumah sakit tersebut.

Aku memperoleh kamar di kelas satu. Itu pun satu-satunya kamar yang masih tersedia di rumah sakit tersebut. Kamar-kamar lainnya sudah penuh terisi pasien, yang sebagian besar di antaranya juga menderita DBD sepertiku. Di kamar itu, ada dua tempat tidur, satu milikku dan satunya lagi untuk seorang pasien lagi, tentu saja cowok juga dong. Kalau cewek sih bakal jadi huru-hara tuh! Dari hasil ngobrol-ngobrol aku dengannya, ketahuan bahwa dia sakit gejala tifus.

Akhirnya, aku menghabiskan malam itu berbaring di rumah sakit. Perasaanku bosan sekali. Padahal aku baru beberapa jam saja di situ. Tapi untung saja, teman sekamarku senang sekali mengobrol. Jadi tidak terasa, tahu-tahu jam sudah menunjukkan pukul sebelas malam. Di samping mata sudah mengantuk, juga kami berdua ditegur oleh seorang suster dan dinasehati supaya istirahat. Aku dan teman baruku itu tidur.

Saking nyenyaknya aku tidur, aku terkejut pada saat dibangunkan oleh seorang suster. Gila! Suster yang satu ini cantik sekali, sekalipun tubuhnya sedikit gempal tapi kencang. Aku tidak percaya kalau yang di depanku itu suster. Aku langsung mengucek-ngucek mataku. Ih, benar! aku tak bermimpi! aku sempat membaca name tag di dadanya yang sayangnya tidak begitu membusung, namanya Vika (bukan nama sebenarnya).

“Mas, sudah pagi. Sudah waktunya bangun”, kata Suster Vika.

“Ngg..” dengan sedikit rasa segan akhirnya aku bangun juga sekalipun mata masih terasa berat.

“Sekarang sudah tiba saatnya mandi, Mas”, kata Suster Vika lagi.

“Oh ya. Suster, saya pinjam handuknya deh. Saya mau mandi di kamar mandi.”

“Lho, kan Mas sementara belum boleh bangun dulu dari tempat tidur sama dokter.”

“Jadi?”

“Jadi Mas saya yang mandiin.”

Dimandiin? Wah, asyik juga kayaknya sih. Terakhir aku dimandikan waktu aku masih kecil oleh mamaku.

Setelah menutup tirai putih yang mengelilingi tempat tidurku, Suster Vika menyiapkan dua buah baskom plastik berisi air hangat. Kemudian ada lagi gelas plastik berisi air hangat pula untuk gosok gigi dan sebuah mangkok plastik kecil sebagai tempat pembuangannya. Pertama-tama kali, suster yang cantik itu memintaku gosok gigi terlebih dahulu. “Oke, sekarang Mas buka kaosnya dan berbaring deh”, kata Suster Vika lagi sambil membantuku melepaskan kaos yang kupakai tanpa mengganggu selang infus yang dihubungkan ke pergelangan tanganku. Lalu aku berbaring di tempat tidur. Suster Vika menggelar selembar handuk di atas pahaku.

Dengan semacam sarung tangan yang terbuat dari bahan handuk, Suster Vika mulai menyabuni tubuhku dengan sabun yang kubawa dari rumah. Ah, terasa suatu perasaan aneh menjalari tubuhku saat tangannya yang lembut tengah menyabuni dadaku. Ketika tangan Suster Vika mulai turun ke perutku, aku merasakan gerakan di selangkanganku. Astaga! Ternyata batang kemaluanku menegang! Aku sudah takut saja kalau-kalau Suster Vika melihat hal ini. Uh, untung saja, tampaknya dia tidak mengetahuinya. Rupanya aku mulai terangsang karena sapuan tangan Suster Vika yang masih menyabuni perutku. Kemudian aku dimintanya berbalik badan, lalu Suster Vika mulai menyabuni punggungku, membuat kemaluanku semakin mengeras. Akhirnya, siksaan (atau kenikmatan) itu pun usai sudah. Suster Vika mengeringkan tubuhku dengan handuk setelah sebelumnya membersihkan sabun yang menyelimuti tubuhku itu dengan air hangat.

“Nah, sekarang coba Mas buka celananya. Saya mau mandiin kaki Mas.”

“Tapi, Suster..” aku mencoba membantahnya.

“Celaka”, pikirku.

Kalau sampai celanaku dibuka terus Suster Vika melihat tegangnya batang kemaluanku, mau ditaruh di mana wajahku ini.

“Nggak apa-apa kok, Mas. Jangan malu-malu. Saya sudah biasa mandiin pasien. Nggak laki-laki, nggak perempuan, semuanya.”

Akhirnya dengan ditutupi hanya selembar handuk di selangkanganku, aku melepaskan celana pendek dan celana dalamku. Ini membuat batang kemaluanku tampak semakin menonjol di balik handuk tersebut. Kacau, aku melihat perubahan di wajah Suster Vika melihat tonjolan itu. Wajahku jadi memerah dibuatnya. Suster Vika kelihatannya sejenak tertegun menyaksikan ketegangan batang kemaluanku yang semakin lama semakin parah. Aku menjadi bertambah salah tingkah, sampai Suster Vika kembali akan menyabuni tubuhku bagian bawah.

Suster Vika menelusupkan tangannya yang memakai sarung tangan berlumuran sabun ke balik handuk yang menutupi selangkanganku. Mula-mula ia menyabuni bagian bawah perutku dan sekeliling kemaluanku. Tiba-tiba tangannya dengan tidak sengaja menyenggol batang kemaluanku yang langsung saja bertambah berdiri mengeras. Sekonyong-konyong tangan Suster Vika memegang kemaluanku cukup kencang. Kulihat senyum penuh arti di wajahnya.

Aku mulai menggerinjal-gerinjal saat Suster Vika mulai menggesek-gesekkan tangannya yang halus naik turun di sekujur batang kejantananku. Makin lama makin cepat. Sementara mataku membelalak seperti kerasukan setan. Batang kemaluanku yang memang berukuran cukup panjang dan cukup besar diameternya masih dipermainkan Suster Vika dengan tangannya.

Akibat nafsu yang mulai menggerayangiku, tanganku menggapai-gapai ke arah dada Suster Vika. Seperti mengetahui apa maksudku, Suster Vika mendekatkan dadanya ke tanganku. Ouh, terasa nikmatnya tanganku meremas-remas payudara Suster Vika yang lembut dan kenyal itu. Memang, payudaranya berukuran kecil, kutaksir hanya 32. Tapi memang yang namanya payudara wanita, bagaimanapun kecilnya, tetap membangkitkan nafsu birahi siapa saja yang menjamahnya. Sementara itu Suster Vika dengan tubuh yang sedikit bergetar karena remasan-remasan tanganku pada payudaranya, masih asyik mengocok-ngocok kemaluanku. Sampai akhirnya aku merasakan sudah hampir mencapai klimaks. Air maniku, kurasakan sudah hampir tersembur keluar dari dalam kemaluanku. Tapi dengan sengaja, Suster Vika menghentikan permainannya. Aku menarik nafas, sedikit jengkel akibat klimaksku yang menjadi tertunda. Namun Suster Vika malah tersenyum manis. Ini sedikit menghilangkan kedongkolanku itu.

Tahu-tahu, ditariknya handuk yang menutupi selangkanganku, membuat batang kemaluanku yang sudah tinggi menjulang itu terpampang dengan bebasnya tanpa ditutupi oleh selembar benang pun. Tak lama kemudian, batang kemaluanku mulai dilahap oleh Suster Vika. Mulutnya yang mungil itu seperti karet mampu mengulum hampir seluruh batang kemaluanku, membuatku seakan-akan terlempar ke langit ketujuh merasakan kenikmatan yang tiada taranya. Dengan ganasnya, mulut Suster Vika menyedoti kemaluanku, seakan-akan ingin menelan habis seluruh isi kemaluanku tersebut. Tubuhku terguncang-guncang dibuatnya. Dan suster nan rupawan itu masih menyedot dan menghisap alat vitalku tersebut.

Belum puas di situ, Suster Vika mulai menaik-turunkan kepalanya, membuat kemaluanku hampir keluar setengahnya dari dalam mulutnya, tetapi kemudian masuk lagi. Begitu terus berulang-ulang dan bertambah cepat. Gesekan-gesekan yang terjadi antara permukaan kemaluanku dengan dinding mulut Suster Vika membuatku hampir mencapai klimaks untuk kedua kalinya. Apalagi ditambah dengan permainan mulut Suster Vika yang semakin bertambah ganasnya. Beberapa kali aku mendesah-desah. Namun sekali lagi, Suster Vika berhenti lagi sambil tersenyum. Aku hanya keheranan, menduga-duga, apa yang akan dilakukannya.

Aku terkejut ketika melihat Suster Vika sepertinya akan berjalan menjauhi tempat tidurku. Tetapi seperti sedang menggoda, ia menoleh ke arahku. Ia menarik ujung rok perawatnya ke atas lalu melepaskan celana dalam krem yang dipakainya. Melihat kedua gumpalan pantatnya yang tidak begitu besar namun membulat mulut dan kencang, membuatku menelan air liur. Kemudian ia membalikkan tubuhnya menghadapku. Di bawah perutnya yang kencang, tanpa lipatan-lipatan lemak sedikitpun, walaupun tubuhnya agak gempal, kulihat liang kemaluannya yang masih sempit dikelilingi bulu-bulu halus yang cukup lebat dan tampak menyegarkan.

Tidak kusangka-sangka, tiba-tiba Suster Vika naik ke atas tempat tidur dan berjongkok mengangkangi selangkanganku. Lalu tangannya kembali memegang batang kemaluanku dan membimbingnya ke arah liang kemaluannya. Setelah merasa pas, ia menurunkan pantatnya, sehingga batang kemaluanku amblas sampai pangkal ke dalam liang kemaluannya. Mula-mula sedikit tersendat-sendat karena begitu sempitnya liang kenikmatan Suster Vika. Tapi seiring dengan cairan bening yang semakin banyak membasahi dinding lubang kemaluan tersebut, batang kemaluanku menjadi mudah masuk semua ke dalamnya.

Tanganku mulai membuka kancing baju Suster Vika. Setelah kutanggalkan bra yang dikenakannya, menyembullah keluar payudaranya yang kecil tapi membulat itu dengan puting susunya yang cukup tinggi dan mengeras. Dengan senangnya, aku meremas-remas payudaranya yang kenyal. Puting susunya pun tak ketinggalan kujamah. Suster Vika menggerinjal-gerinjal sebentar-sebentar ketika ibu jari dan jari telunjukku memuntir-muntir serta mencubit-cubit puting susunya yang begitu menggiurkan.

Dibarengi dengan gerakan memutar, Suster Vika menaik-turunkan pantatnya yang ramping itu di atas selangkanganku. Batang kemaluanku masuk keluar dengan nikmatnya di dalam lubang kemaluannya yang berdenyut-denyut dan bertambah basah itu. Batang kemaluanku dijepit oleh dinding kemaluan Suster Vika yang terus membiarkan batang kemaluanku dengan tempo yang semakin cepat menghujam ke dalamnya. Bertambah cepat bertambah nikmatnya gesekan-gesekan yang terjadi. Akhirnya untuk ketiga kalinya aku sudah menuju klimaks sebentar lagi. Aku sedikit khawatir kalau-kalau klimaksku itu tertunda lagi.

Akan tetapi kali ini, kelihatannya Suster Vika tidak mau membuatku kecewa. Begitu merasakan kemaluanku mulai berdenyut-denyut kencang, secepat kilat ia melepaskan batang kemaluanku dari dalam lubang kemaluannya dan pindah ke dalam mulutnya. Klimaksku bertambah cepat datangnya karena kuluman-kuluman mulut sang suster cantik yang begitu buasnya. Dan.. “Crot.. crot.. crot..” beberapa kali air maniku muncrat di dalam mulut Suster Vika dan sebagian melelehi buah zakarku. Seperti orang kehausan, Suster Vika menelan hampir semua cairan kenikmatanku, lalu menjilati sisanya yang belepotan di sekitar kemaluanku sampai bersih.

Tiba-tiba tirai tersibak. Aku dan Suster Vika menoleh kaget. Suster Mimi yang tadi memandikan teman sekamarku masuk ke dalam. Ia sejenak melongo melihat apa yang kami lakukan berdua. Namun sebentar kemudian tampaknya ia menjadi maklum atas apa yang terjadi dan malah menghampiri tempat tidurku. Dengan raut wajah memohon, ia memandangi Suster Vika. Suster Vika paham apa niat Suster Mimi. Ia langsung meloncat turun dari atas tempat tidur dan menutup tirai kembali.

Suster Mimi yang berwajah manis, meskipun tidak secantik Suster Vika, sekarang gantian menjilati seluruh permukaan batang kemaluanku. Kemudian, batang kemaluanku yang sudah mulai tegang kembali disergap mulutnya. Untuk kedua kalinya, batang kemaluanku yang kelihatan menantang setiap wanita yang melihatnya, menjadi korban lumatan. Kali ini mulut Suster Mimi yang tak kalah ganasnya dengan Suster Vika, mulai menyedot-nyedot kemaluanku. Sementara jari telunjuknya disodokkan satu ruas ke dalam lubang anusku. Sedikit sakit memang, tapi aduhai nikmatnya.

Merasa puas dengan lahapannya pada kemaluanku. Suster Mimi kembali berdiri. Tangannya membukai satu-persatu kancing baju perawat yang dikenakannya, sehingga ia tinggal memakai bra dan celana dalamnya. Aku tidak menyangka, Suster Mimi yang bertubuh ramping itu memiliki payudara yang jauh lebih besar daripada milik Suster Vika, sekitar 36 ukurannya. Payudara yang sedemikian montoknya itu seakan-akan mau melompat keluar dari dalam bra-nya yang bermodel konvensional itu. Sekalipun bukan termasuk payudara terbesar yang pernah kulihat, tapi payudara Suster Mimi itu menurutku termasuk payudara yang paling indah. Menyadari aku yang terus melotot memandangi payudaranya, Suster Mimi membuka tali pengikat bra-nya. Benar, payudaranya yang besar menjuntai montok di dadanya yang putih dan mulus. Rasa-rasanya ingin aku menikmati payudara itu.

Tetapi tampaknya keinginan itu tidak terkabul. Setelah melepas celana dalamnya, seperti yang telah dilakukan oleh Suster Vika, Suster Mimi, dengan telanjang bulat naik ke atas tempat tidurku lalu mengarahkan batang kemaluanku ke liang kemaluannya yang sedikit lebih lebar dari Suster Vika namun memiliki bulu-bulu yang tidak begitu lebat. Akhirnya untuk kedua kalinya batang kemaluanku tenggelam ke dalam kemaluan wanita. Memang, batang kemaluanku lebih leluasa memasuki liang kemaluan Suster Mimi daripada kemaluan Suster Vika tadi. Seperti Suster Vika, Suster Mimi juga mulai menaik-turunkan pantatnya dan membuat kemaluanku sempat mencelat keluar dari dalam liang kemaluannya namun langsung dimasukkannya lagi.

Tak tahan menganggur, mulut Suster Vika mulai merambah payudara rekan kerjanya. Lidahnya yang menjulur-julur bagai lidah ular menjilati kedua puting susu Suster Mimi yang walaupun tinggi mengeras tapi tidak setinggi puting susunya sendiri. Aku melihat, Suster Mimi memejamkan matanya, menikmati senggama yang serasa membawanya terbang ke awang-awang. Ia sedang meresapi kenikmatan yang datang dari dua arah. Dari bawah, dari kemaluannya yang terus-menerus masih dihujam batang kemaluanku, dan dari bagian atas, dari payudaranya yang juga masih asyik dilumat mulut temannya.

Tiba-tiba tirai tersibak lagi. Namun ketiga makhluk hidup yang sedang terbawa nafsu birahi yang amat membulak-bulak tidak mengindahkannya. Ternyata yang masuk adalah teman sekamarku dengan keadaan bugil. Karena ia merasa terangsang juga, ia sepertinya melupakan gejala tifus yang dideritanya. Setelah menutup tirai, ia menghampiri Suster Vika dari belakang. Suster Vika sedikit terhenyak ke depan sewaktu kemaluannya yang dari tadi terbuka lebar ditusuk batang kejantanan teman sekamarku dari belakang, dan ia melepaskan mulutnya dari payudara Suster Mimi. Kemudian dengan entengnya, sambil terus menyetubuhi Suster Vika, teman sekamarku itu mengangkat tubuh suster bahenol itu ke luar tirai dan pergi ke tempat tidurnya sendiri. Sejak saat itu aku tidak mengetahui lagi apa yang terjadi antara dia dengan Suster Vika. Yang kudengar hanyalah desahan-desahan dan suara nafas yang terengah-engah dari dua insan berlainan jenis dari balik tirai, di sampingku sendiri masih tenggelam dalam kenikmatan permainan seks-ku dengan Suster Mimi.

Batang kemaluanku masih menjelajahi dengan bebasnya di dalam lubang kemaluan Suster Mimi yang semakin cepat memutar-mutar dan menggerak-gerakan pantatnya ke atas dan ke bawah. Tak lama kemudian, kami berdua mengejang.

“Suster.. Saya mau keluar..” kataku terengah-engah.

“Ah.. Keluarin di dalam.. saja.. Mas..” jawab Suster Mimi.

Akhirnya dengan gerinjalan keras, air maniku berpadu dengan cairan kenikmatan Suster Mimi di dalam lubang kemaluannya. Saking lelahnya, Suster Mimi jatuh terduduk di atas selangkanganku dengan batang kemaluanku masih menancap di dalam lubang kemaluannya. Kami sama-sama tertawa puas.

Sementara dari balik tirai masih terdengar suara kenikmatan sepasang makhluk yang tengah asyik-asyiknya memadu kasih tanpa mempedulikan sekelilingnya.

Tepat seminggu kemudian, aku sudah dinyatakan sembuh dari DBD yang kuderita dan diperbolehkan pulang. Ini membuatku menyesal, merasa akan kehilangan dua orang suster yang telah memberikan kenikmatan tiada tandingannya kepadaku beberapa kali.

Hari ini aku sedang sendirian di rumah dan sedang asyik membaca majalah Gatra yang baru aku beli di tukang majalah dekat rumah.

“Ting tong..” Bel pintu rumahku dipencet orang.

Aku membuka pintu. Astaga! Ternyata yang ada di balik pintu adalah dua orang gadis rupawan yang selama ini aku idam-idamkan, Suster Vika dan Suster Mimi. Kedua makhluk cantik ini sama-sama mengenakan kaos oblong, membuat lekuk-lekuk tubuh mereka berdua yang memang indah menjadi bertambah molek lagi dengan payudara mereka yang meskipun beda ukurannya, namun sama-sama membulat dan kencang. Sementara Suster Vika dengan celana jeansnya yang ketat, membuat pantatnya yang montok semakin menggairahkan, di samping Suster Mimi yang mengenakan rok mini beberapa sentimeter di atas lutut sehingga memamerkan pahanya yang putih dan mulus tanpa noda. Kedua-duanya menjadi pemandangan sedap yang tentu saja menjadi pelepas kerinduanku. Tanpa mau membuang waktu, kuajak mereka berdua ke kamar tidurku. Dan seperti sudah kuduga, tanpa basa basi mereka mau dan mengikutiku. Dan tentu saja, para pembaca semua pasti sudah tahu, apa yang akan terjadi kemudian dengan kami bertiga.

TAMAT

Tags : Cerita 18sx,cewek bugil, gambar bugil, gambar, cerita berahi, cerita pemerkosaan, cerita ghairah, cerita sexs, Cerita Seks, cerita 17 tahun, Skodeng, cewek cantik, toket, cewek abg, cerita saru

1 komentar 3 Mei 2010

Cerita 18sx – Gairah Tante Vivi 04

Sambungan dari bagian 03

Tante Vivi menjerit dan mengerang-erang dengan keras, pinggulnya menggeliat semakin hebat menahan kenikmatan yang kuberikan pada alat kelaminnya. Aku benar-benar puas bisa membuatnya seperti itu. Kuremas dan kucengkeram kuat bulatan bokongnya yang kenyal agar jangan bergerak terlalu liar, seolah tak ingin melepaskan pagutannya, mukaku sedikit kuangkat kembali sembari menghirup udara segar lalu lidahku kujulurkan sepanjang mungkin sambil menyusuri dan menjilati permukaan bukit kemaluan lunaknya yang putih merangsang. Mulutku tak henti-hentinya mengecup gemas bukit terlarang milik Tante Vivi itu.

“oouuhh.., nngghhnngghh.., ngghh..”, mulut Tante Vivi merintih dan mengerang tak karuan menahan geli dan nikmat. Pinggulnya digoyang-goyang kiri kanan, sesekali kurasakan kedua pahanya yang kini menjepit kepalaku sambil mengejan kuat ke bawah seolah ingin memuntahkan cairan kenikmatan tubuhnya. Memang kenyataannya demikian, lidahku yang sesekali menelusup masuk ke dalam liang vaginanya sambil menyentil gemas daging clitorisnya seolah menemukan sumber air kecil yang mengalir deras. Sementara tangan kiriku masih mencengkeram bokongnya, dengan gemas lalu kusibakkan dengan jemari tangan kananku bibir kemaluannya yang tebal, jemariku itu sampai gemetar seolah masih tak percaya dengan segala keindahan ini, terasa begitu lunak, hangat dan basah ketika jemari tanganku secara perlahan menyibakkan bibir kemaluannya mengintip keindahan celah dan liang vagina sempitnya yang ternyata berwarna kemerahan.

oohh.., kulihat.., liang vaginanya yang terletak sedikit di atas lubang duburnya, begitu kecil dan terlihat sempit sembari mengalirkan keluar cairan lendir kemaluannya yang berwarna bening. Agak di sebelah atas liang kewanitaannya itu kulihat bulatan daging kecil clitorisnya yang besarnya mirip seperti biji kacang ijo. Aku sedikit heran, karena liang vagina milik Tante Vivi ini kecilnya hampir sama dengan liang vagina milik Dina. Aahh.., batang penisku yang sudah berdiri tegak menunggu giliran untuk take over jadi makin cenat-cenut.., teng-teng tidak karuan.., tidak tahan nih kalau sempitnya seperti ini.., bisa-bisa tidak sampai digenjot 5 menit air maniku sudah muncrat keluar.., seperti yang aku rasakan bersama Dina akhir-akhir ini. Aku sendiri tidak habis pikir kenapa sewaktu aku dulu memperawani Dina bisa menahan gesekan dan jepitan liang vaginanya sampai 20 menit, tapi akhir-akhir ini bisa tahan tidak muncrat sampai 10 menit saja itu sudah lumayan. Mungkin saja aku terlalu terangsang saat menggagahi Dina. Entahlah.

“A.. Aarr.., Lagi sayangghh..”, Tante Vivi berbisik sedikit serak. Aku sejenak tersadar dari lamunan.., He.. He.., aku jadi geli juga.., di saat lagi asyik masyuk seperti itu masih bisa juga aku ngelamun.., ngeres lagi.., he.., he..”.

Kudongakkan kepala ke atas sambil kupandang wajah cantik Tante Vivi yang berkeringat agak kusut sekilas, lalu kutundukkan muka, lidahku dengan liar penuh rasa gemas kembali menjilati kedua belah permukaan labia mayoranya, kepalaku sedikit kuputar sekitar 40 derajat kekiri lalu dengan nikmat mulut dan lidahku mulai mencumbu, mengulum, memilin dan menghisap bibir-bibir kemaluan Tante Vivi secara bergantian atas dan bawah, seperti kalau kami berdua berciuman mulut.

mm.., rasanya yang jelas tidak selezat daging hamburger McDonald atau Wendys tapi yang pasti ada semacam feel great dan sensasi keindahan bercampur kenikmatan tersendiri yang tak bisa diungkapkan kata-kata begitu indah rasanya mengulum dan mengecup bibir kemaluan wanita sambil menikmati aroma khas bau alat kelaminnya dan juga suara erangan nikmatnya.

mm.., aku benar-benar bangga membuat Tante Vivi sampai berulang kali mengejan ke bawah menghentakkan kedua belah pahanya yang putih seksi, sambil tak henti-hentinya mulutnya memekik kecil dan merintih panjang menahan geli bercampur sejuta kenikmatan.

“Aahh.., nnggngghghh.., ngghghnhgghh..”, rintih Tante Vivi berulang kali.

Kurang lebih 2 menitan aku mengenyot kedua belah bibir labia mayoranya dengan mulutku lalu dengan nakal kembali kusibakkan sedikit lebih lebar bibir vaginanya dan dengan cepat kujulurkan lidahku mengusap lembut celah merah diantara bibir kemaluannya.., menyentil mulut liang vaginanya yang sempit dan mungil beberapa puluh detik lalu kembali menggelitik daging clitorisnya. Tante Vivi sampai menaik-turunkan pinggulnya menahan rasa nikmat. Saat bibir dan lidahku secara bersamaan menghisap dan memilin daging kecil clitorisnya sampai pipiku sedikit kempot, tiba-tiba Tante Vivi memekik keras dan akhirnya mendesah panjang.., pinggulnya sontak diangkat ke atas seolah tak kuat menahan rasa nikmat dan mengejan pelan. Kedua pahanya menjepit ketat kepalaku dari samping kiri dan kanan. Jemari tangan kiriku yang kini terasa bebas, mengusap mesra kedua belah bulatan bokong Tante Vivi dan meremas-remas lembut.

“Aagghh.., aoohh.., sshhghffhhghh..”

Desah Tante Vivi panjang. Aku tahu ia pasti sedang meregang menuju puncak kenikmatan.., Sedetik.., 2 detik.., 3 detik.., aku merasakan kedua belah pahanya yang begitu halus dan padat menekan kepalaku mulai bergetar lembut dan mengejan semakin kuat menandakan cairan lendir kenikmatannya segera tumpah keluar.., orgasmee.

Tetapi aku berpikir lain, seketika cepat kulepaskan hisapan mulutku pada daging clitorisnya dan dengan kuat kedua tanganku membuka kedua belah pahanya yang masih menjepit kepalaku. Begitu lepas, dengan sigap aku merangkak keatas dan rebah di samping tubuh bugil Tante Vivi. Kulihat Tante Vivi masih memejamkan kedua matanya seolah sedang menikmati sesuatu, sejenak begitu tersadar kenikmatan yang ia inginkan tak tercapai.., kedua matanya terbuka dan jelalatan setengah melotot memandang selangkangannya yang kosong.., dan Tante Vivi mendapati diriku telah berada di sebelahnya sambil kutersenyum penuh kemenangan.

Wajah cantiknya yang berkeringat kelihatan memerah seolah menahan sesuatu, bibir bawahnya digigit keras seperti geram, kedua matanya yang sedikit merah memandangku seolah mau marah. Aku semakin tersenyum lebar, namun tidak demikian dengan Tante Vivi.., rupanya ia jengkel karena hampir saja aku membuatnya orgasme namun justru aku malah menghentikannya ditengah jalan.

“K.., kkamu.., benar-benar nakal sekali Arr.., hh.., teganya kamu Sayang..”, bisiknya dengan bibir gemetar. Lalu dengan cepat tanpa kuduga sama sekali, Tante Vivi menggulingkan tubuh montok seksinya yang putih mulus ke atas menaiki tubuhku, Kedua pahanya dibuka lebar dan kedua belah bokongnya yang bulat padat terasa begitu kenyal dan tanpa ampun menduduki buah zakarku sementara bukit kemaluannya yang besar terasa begitu empuk menekan batang penisku yang sudah sangat tegang.., ooh.., nikmatnya.

Sambil menyunggingkan senyuman sadis Tante Vivi memandangku seolah ingin menelanku.

“Tante mau lihat sehebat apa kamu Arr..”, bisiknya pelan. Aku yang masih terkaget menyaksikan ulahnya tadi hanya bisa melongo sambil menikmati sentuhan tubuh montoknya pada alat kejantananku sambil memandangi kedua buah payudara besarnya yang mengacung kencang ke depan memamerkan kedua buah puting susunya yang kelihatan sedikit membesar keras dan berwarna coklat kemerahan.

Aku masih terpana memandang keindahan tubuhnya, ketika dengan cepat Tante Vivi mengangkat pinggulnya yang ramping ke atas, kedua belah pahanya yang putih mulus kelihatan begitu seksi dan padat. Begitu gemas saat jemari tangan kanan Tante Vivi menggenggam dan meremas batang penisku.., lalu di arahkan ke bukit kemaluannya sebelah bawah.., ke depan mulut liang vaginanya.., oohh.., aku mendesah pelan menyaksikan semua itu. Aku tidak menyangka Tante Vivi melakukan semua itu tanpa perasaan risih sedikitpun, mungkin ia sudah begitu ngebet dan liang vaginanya sudah gatal kepingin disetubuhi. Sejenak aku mengira ia pasti sukar sekali memasukkan batang penisku yang sudah berdiri tegak dan besar mirip punya Rocco Siffredi. Kuluruskan kedua pahaku ke bawah agar Tante Vivi tidak terlalu kesulitan menyetubuhiku nantinya. Tetapi kali ini aku kecele.., sambil menundukkan wajah yang membuat rambut panjangnya terurai indah, kulihat Tante Vivi sejenak berkutat masih mengarahkan batang penisku ke pintu liang vaginanya lalu dengan perlahan pinggulnya diturunkan.

Oogghh.., Aahh.., aku mendelik dan mengerang nikmat saat dengan mata kepalaku sendiri kulihat bibir kemaluannya yang tebal itu vaginaar lebar menerima tusukan kepala penisku dan liang vaginanya yang merah dan sempit mulai tersibak dan menjepit ujung kepala penisku yang secara perlahan-lahan mili demi mili mulut daging liang vaginanya semakin melebar sesuai ukuran kepala penisku dan mulai menenggelamkannya ke dalam liang vagina Tante Vivi.

“Oougghhghh.., nngngnghhaahh..”, pekikku keras menahan rasa nikmat yang luar biasa saat kepala penisku dalam 5 detik telah berhasil memasuki liang vaginanya yang ketat. aahh.., di dalam situ kurasakan daging vaginanya seolah sudah menjepit sedemikian kuat seolah diremas-remas membuat kepala penisku berdenyut-denyut keenakan.

Tante Vivi melepaskan jemari tangan kanannya dari batang penisku, kini kedua tangannya diletakkan di atas dadaku sambil setengah membungkuk untuk menyangga tubuhnya bagian bawah yang masih melakukan penetrasi. Ia kini memandangku dengan senyuman manisnya kembali, bibirnya yang ranum merekah indah. Kedua buah dadanya yang besar dan kencang kini setengah menggantung bak buah pepaya.

“Enaak.., Arr..”, bisik Tante Vivi tanpa malu-malu padaku.

“I.., iiyaa tantee..”, sahutku gemetar menahan rasa nikmat.

“Mm.., milikmu besar juga sayangg..”, bisiknya lagi. Lalu dengan perlahan-lahan Tante Vivi mulai menurunkan pinggulnya kebawah lagi sambil memejamkan mata. Namun mulutnya yang indah itu malah tersenyum seolah ikut menikmati apa yang sedang kurasakan sekarang.

“Aahhgghh..”, erangku keenakan saat daging liang vaginanya yang luar biasa sempit itu mili demi mili secara perlahan terus menjepit kuat dan menenggelamkan batang penisku yang masih tersisa sekitar 11 centi lagi. Dengan sekuat tenaga sambil menahan rasa nikmat kusaksikan terus proses penetrasi itu, urat-urat di seluruh batang penisku sampai menonjol keluar membentuk guratan-guratan kasar di sekeliling permukaan penis menahan jepitan daging liang vagina Tante Vivi yang terus berusaha menenggelamkan seluruh alat kejantananku itu. Mili demi mili kini berganti centi demi centi.., dengan tanpa hambatan berarti walau terasa begitu sesak dan sempit batang penisku melungsur masuk dengan ritme semakin cepat kedalam liang vaginanya.

“Mm.., aahh.., mm”, Tante Vivi hanya mendesah dan merintih kecil saat batang penisku yang besar dengan perlahan telah hampir seluruhnya tenggelam ke dalam bagian tubuhnya yang paling sangat terlarang. Hanya tinggal 2 centi saja kulihat batang penisku yang masih tersisa di luar liang vaginanya. Kedua mataku sudah merem melek keenakan, kedua pahaku sampai gemetaran saking hebatnya rasa nikmat itu.

“oowww..”

“Aaghghghh..”

Kami berdua mengerang nikmat hampir bersamaan, saat penetrasi yang terakhir berlangsung. Kulihat sekilas bukit kemaluan milik Tante Vivi itu sedikit menggembung lebih besar karena seluruh batang penisku yang tebal sepanjangnya 14 centi itu telah terbenam kandas di dalam liang vaginanya. Betapa indah menyaksikan dua alat kemaluan milik kami berdua yang telah menyatu padu. Selain jepitannya yang luar biasa ketat, kurasakan daging vagina Tante Vivi yang terasa hangat dan licin itu seolah memijat-mijat mesra dan menghisap lembut. Woowww..’ ujung jemari kakiku sampai gemetaran keenakkan.

“mm.., Bagaimana sayang..”, bisik Tante Vivi pelan sambil memandangku mesra sekali.

“Aahhghghg.., Nikmat sek.., kali Vii..”, sahutku gemetar.

Kedua pahanya yang mulus kini menjepit pinggangku mesra, sementara pinggulnya menempel selangkanganku dengan ketat. Bokongnya yang kenyal menduduki kedua buah bola zakarku.

“Air maniku.., mau keluar Tante..”, bisikku menahan nikmat sambil setengah menggodanya.

“Iihh.., Awas yaa kamu Ar..”, sahutnya sambil tersenyum. Ia seolah mengerti batang penisku tidak bakalan lama bertahan dijepit liang vagina miliknya seketat itu.

“Ar.., Tante sudah lama sekali tidak melakukan ini.., mm.., tahan ya sayang.., tunggu Tante yaa..”, bisiknya begitu genit sekali.

Lalu dengan perlahan Tante Vivi mulai menggoyangkan pinggulnya naik turun secara perlahan menggesekkan daging liang vagina sempitnya dengan batang penisku yang sudah tegak tak terkira. Seolah tidak ada hambatan walaupun terasa begitu sesak saking sempitnya ketika kedua alat kelamin kami saling beradu dan bergesekan.

“Uuhh.., uhh.., uhh..”, Tante Vivi merintih kecil saat setiap kali pinggulnya bergerak turun memasukkan kembali batang penisku yang besar dan keras ke dalam liang vaginanya. Wajahnya yang cantik bergoyang lembut seiring dengan goyangan pinggulnya yang menggemaskan di atas selangkanganku. Kedua matanya dipejamkan rapat seolah sedang meresapi dan menikmati persenggamaan yang benar-benar luar biasa indah ini. Kedua buah dadanya yang besar terguncang-guncang begitu indah bak buah kelapa tertiup angin. Kedua jemari tangannya yang menyangga dan menekan lembut dadaku menghentak-hentak pelan setiap kali pinggul Tante Vivi bergoyang pelan naik turun secara teratur.

Aku tak sanggup lagi menikmati semua sensasi indah ini sendirian. Aku masih seakan tak percaya melihat sesosok tubuh cantik bak bidadari yang begitu montok dan seksi, begitu putih dan mulus dan kini malah sedang asyik menggoyangkan pinggulnya yang aduhai di atas selangkanganku menikmati alat kejantananku.

“Oohhaahh.., hahahhgghh..”, erangku saking nikmatnya. Batang penisku seakan dikocok, dibelit, disedot dan dikenyot habis-habisan oleh daging liang vaginanya yang luarbiasa sempit dan licin. Kedua mataku merem-melek secara bergantian menikmati gesekan itu, setiap kali pinggul Tante Vivi bergerak ke atas aku merasa batang penisku seakan disedot kuat daging liang vaginanya namun begitu pinggulnya bergerak turun ke bawah batang penisku seakan diremas dan dilumat hebat oleh liang vaginanya.

Sukar diungkapkan dengan kata-kata rasa nikmatnya.

“Vivi.., aagghh.., aahahhgghh..”, erangku berulangkali keenakan. Kedua tanganku berusaha menahan laju naik turun pinggulnya yang kurang ajar itu. Namun jemari kedua tanganku seolah tiada bertenaga mengangkat bokongnya yang berat, dan tanpa ampun secara terus-menerus liang vagina Tante Vivi dengan jepitannya yang luar biasa meluluh lantakkan seluruh batang penisku seperti pisang kepok yang tak berdaya diremas dan dipilin-pilin sampai lumat. Aku tak sanggup bertahan meredam rasa nikmat seks yang luar biasa itu, air maniku sontak langsung mengalir mendesak-desak hendak muncrat keluar. Tante Vivi seolah tak mau tahu terus bergerak naik turun menggoyang pinggul mengeluar masukkan batang penisku ke dalam liang vagina sempitnya.

“Uuhh.., uuhh.., uu.., hh.., uuhh..”, erangnya berulangkali menikmati alat kejantananku yang sedang berada di dalam liang vaginanya.

“aahahh..”, aku mengerang panjang sambil sejenak menahan napas untuk menghambat agar air maniku tidak sampai muncrat keluar.

“uuh.., kamu mau keluar sayang..”, bisik Tante Vivi genit.

“Iyyaa.., Vi..”, sahutku gemas tanpa memanggilnya dengan sebutan Tante lagi

“ooh.., Aku bener-bener tidak tahan lagi.”

“Hik.., hik.., oke Sayang.., kamu keluar duluan Ar.., Tante jepit lebih keras yaa Sayang..”, bisiknya semakin genit tanpa malu-malu. Aku jadi makin gemas dibuatnya.

Tante Vivi memang benar-benar luar biasa sambil menggoyang pinggul semakin cepat naik turun, kurasakan daging liang vaginanya seolah menjepit 2 kali lebih hebat, batang penisku seolah diremas dan dikenyot-kenyot hebat sambil digesekkan keluar masuk meski hanya sekitar 4 centi saja.

oohh.., bak tanggul jebol akhirnya aku menyerah kalah.., aku tak mampu menahan desakan air maniku yang sudah sampai di leher batang penisku. Kuremas gemas kedua belah payudara Tante Vivi yang besar terguncang dengan kedua belah jemari tanganku. Aku menggeram keras dan melepas puncak kenikmatan seks.

“aagghhghghhgaahh..”, Teriakku nikmat.., saat dengan hebatnya air maniku muncrat keluar dengan tembakan-tembakannya yang keras dan kuat.

“Craatt.., craatt.., Crraatt.., craatt..” ke dalam liang vagina Tante Vivi yang sempit licin dan hangat.

“uu.., mm.., uu.., mm.., oowww.., banyak sekali manimu sayangghh.., uu..”, desahnya lembut saat air maniku kutembakkan berulang kali dengan sepenuh rasa nikmat ke dalam liang vaginanya.

Jiwaku seakan terbang melayang jauh keatas awan.., begitu tinggi.., terasa begitu nikmatnya, “Oohh..”. Tubuhku seakan menggelepar dirajam kenikmatan yang tak terkira, begitu indah dan enaknya saat daging liang vagina Tante Vivi yang menyempit hebat menggesek semakin cepat pula batang penisku yang sedang collapse.., ejakulasi, seakan milikku diurut-urut mesra sembari memuntahkan air mani yang sangat banyak dan kental.

Crraat.., crraatt.., crraatt.., creett..

Kira-kira 8 semburan nikmat yang memabukkan. Aku masih terlena diawan kenikmatan menikmati sisa-sisa semprotan air maniku yang masih tersembur keluar di dalam liang vaginanya. Tante Vivi dengan masih bersemangat menggenjot pinggulnya naik turun dengan cepat meluluh lantakkan alat kejantananku yang benar-benar sudah lumat terkuras. Jiwaku seakan kembali terhempas keatas tanah.., seolah terlempar dari pusaran awan kenikmatan yang terasa begitu singkat.

Bersambung ke bagian 05

Tags : cerita 18sx, cerita seks, cerita tante, video abg, amoy bugil, cewek cantik,gadis telanjang bugil, abg telanjang bugil, sandra dewi telanjang bugil, telanjang bugil blogspot com, telanjang gadis indonesia, telanjang artis indonesia, gambar telanjang mahasiswi, bokep mahasiswi, mahasiswi jogja, mahasiswi toket gede

1 komentar 27 April 2010

Cerita 18sx – Gairah Tante Vivi 01

Tante Vivi menyuruhku datang malam ini ke rumahnya. Sebenarnya agak malas juga dan khawatir, bagaimanapun saya lebih senang mengajak Selva, pacarku untuk menemani, ini membuatku ragu-ragu untuk berangkat.

9.15 malam: Aku masih ragu-ragu.., berangkat.., tidak.., berangkat.., tidak.

9.25 malam: Akhirnya Tante Vivi tanpa kuduga benar-benar menelepon, kebetulan aku sendiri yang menerima.

“Lho.., Ar.., kok kamu belum berangkat, bisa dateng tidak Ar?”, tanyanya kendengaran agak kecewa.

“Mm.., gimana ya Tante.., agak gerimis nih di sini..”, sahutku beralasan.

“Masa iya Ar.., yaah.., kalo gitu Tante jemput aja yaa..”, balasnya seolah tak mau kalah. Aku jadi blingsatan dibuatnya.

“Waah.., tidak usah deh Tante.., okelah saya ke sana sekarang Tante.., mm Selva saya ajak ya Tante..”, sahutku kemudian. Aku pikir ke sana malm-malam mau tidak mau akhirnya pasti harus nginap. Kalau ada Selva kan aku tidak begitu risih, masa aku bawa Selva pulang malam-malam. Tapi..

“iih.., jangan Ar.., Selva jangan diajak.., mm pokoknya ke sini aja dulu Ar.., yaa.., Tante tunggu.., Klik”, sekali lagi seolah disengaja Tante Vivi langsung memutuskan hubungan. Sialan pikirku, dia mengerjaiku, ngapain malam-malam ke sana kaya tidak ada waktu siang atau pagi kek. Aku jadi kesal, ngapain Selva kemarin cerita kalau aku banyak ngerti masalah Komputer. Wuueek.., kaya pakar wae.., sekarang baru kena getahnya.

Akhirnya dengan perasaan malas, malam itu benar-benar agak gerimis, badanku sampai kedinginan terkena rintik air gerimis malam yang dingin

.Sekitar pukul 10.00 malam: Aku sampai juga di tempat Tante Vivi, suasana di komplek perumahan itu sudah sepi sekali, aku membuka pintu pagar yang sengaja belum dikunci dan kumasukkan sepeda motor ke dalam.

Belum sempat aku mengetuk pintu, ternyata Tante Vivi rupanya sudah mengetahui kedatanganku. Mungkin ia mendengar deru suara motorku ketika datang tadi.

“aahh.., akhirnya dateng juga kamu Ar..”, katanya ramah dari balik pintu depan.

“Iya.., Tante..”, sahutku berusaha ramah, bagaimanapun aku masih setengah kesal, sudah datang malam-malam kehujanan lagi.

“Agak gerimis ya Ar..”, tanyanya seolah tak mau tau.

“Hsii..”, Tanpa sadar aku terbersin.

“Eehh.., kamu Flu Ar..”, tanyanya kemudian.

Aku mengusap wajah dan hidungku yang setengah lembab terkena air gerimis. Tante Vivi menarik tanganku masuk ke dalam dan menutup pintu. “Klik..”, sekaligus menguncinya. Aku tak begitu memperhatikannya karena aku sendiri kuatir dengan kondisiku yang terasa agak meriang. Kuusap berulang kali wajahku yang dingin. Lalu tiba-tiba kurasakan sebuah telapak tangan yang hangat dan lembut membantu ikut mengusap pipi kananku.

“Pipimu dingin sekali Ar.., kamu pasti masuk angin yaa.., Tante bikinin susu jahe anget yaa..”, sahutnya lembut. Aku menoleh dan astaga wajahnya itu begitu dekat sekali dengan mukaku. “Duh.., cantiknya”. Kulitnya yang putih mulus dan halus, matanya yang hitam bulat sedikit sipit dengan bentuk alisnya yang hitam memanjang tanpa celak, hidungnya yang kecil bangir, dan bentuk bibirnya yang menawan tanpa lipstik. Terlihat sedikit tebal dan begitu ranum. Sexy sekali bibirnya. Tante Vivi tersenyum kecil melihatku setengah melongo.

“Kamu duduk dulu Ar.., Tante ke belakang dulu..”, sahutnya pelan.

Tanpa menunggu jawabanku, ia membalikkan tubuh dan bergegas berjalan melintasi ruang tengah menuju ke belakang. Tubuhnya yang tingginya mungkin sekitar 160 cm kelihatan begitu seksi ramping dan padat. Sempat kulihat langkah kakinya yang berjalan sangat elok, saat itu kuingat jelas ia memakai celana Jeans putih ketat serta memakai baju kemeja halus berwarna merah muda dan dibiarkan berada di luar celana. Baju yang dikenakannya seperti umumnya baju kemeja sekarang yang relatif panjang, membuat celana jeans yang dikenakannya tertutup sampai ke atas paha. Namun karena sifatnya yang lemas, membuat bajunya itu seolah menempel ketat pada bentuk tubuhnya yang memang sangat seksi dan montok. Pinggulnya yang bulat padat bergoyang indah kekiri dan kanan. Begitu gemulai bagai penari Jaipong.

Kuhempaskan pantatku dengan perasaan lelah di atas sofa empuk ruang tamunya. Aku memandang ke sekeliling ruangan tamunya yang cukup mewah. Lukisan besar pemandangan alam bergaya naturalis tergantung di atas tembok persis di belakang tempat dudukku. Selebihnya berupa lukisan-lukisan naturalis sederhana yang berbingkai kecil dan sedang tentang suasana kehidupan pulau Bali. Aku tak begitu tertarik dengan lukisan, sehingga aku tak sampai mengamati lama-lama.

Sepuluh menit kemudian, Tante Vivi muncul dengan segelas besar susu jahe yang masih kelihatan panas, karena asapnya masih terlihat mengepul. Dengan wajah cerah dan senyum manis bibirnya yang menggemaskan, mau tak mau aku jadi ikutan senang.

“Waah.., asiik nih kelihatannya.., wangi lagi baunya.., mm..”, kataku spontan.

“Pelan-pelan Ar.., masih panas..”, sahutnya pendek, sambil memberikan minuman jahe itu kepadaku. Lalu tanpa risih ia duduk di sebelahku. Aku jadi deg-degan juga.

“Gimana kuliah Selva Ar.., kapan nih rencana mau majunya..”, tanya Tante Vivi kemudian.

“Entah Tante.., setahu saya sih bulan depan ini dia harus menyelesaikan seluruh asistensi skripsinya. Soal maju ujian skripsi saya kurang tau Tante..”, sahutku polos.

“iih.., kamu ini gimana sih Ar.., pacarnya sendiri kok tidak tahu, asyiik pacaran aja yaa rupanya..”, ujar Tante Vivi setengah bercanda.

“aah.., Tau aja Tante.., tidak salah..”, sahutku sambil ketawa nyaring.

“Kamu menyukai dia Ar..”, tanya Tante Vivi kemudian, seolah setengah malas menanggapi candaku.

” Waah.., Tante ini gimana sih.., ya jelas dong Tante.., lagipula sekarang kami sudah sangat serius menjalin hubungan ini.., saya mencintainya Tante..”, sahutku sedikit serius.

Tante Vivi tersenyum kepadaku, giginya yang putih bersih terawat kelihatan indah, serasi dengan bentuk bibirnya yang tak terlalu lebar.

“Tidak Ar.., Tante khan cuman nanya.., soalnya Tante lihat Selva sayang sekali sama kamu..”, ujarnya kemudian.

“Jangan kuatir deh Tante..”, sahutku pelan sambil mulutku mulai menyeruput wedang susu jahe bikinannya itu. Terasa sedikit pedas di bibir namun hangat manis di lidah dan kerongkonganku.

“Komputernya di taruh mana Tante..”, tanyaku tanpa memandangnya sambil terus seteguk demi seteguk menghabiskan minumanku.

“Tuh.., di kamar kerja Tante..”, sahutnya pendek. Sejenak aku meletakkan minuman dan memandang Tante Vivi yang berada di sebelahku.

“Lalu tunggu apalagi nih..”, ujarku setengah bercanda.

“Apanya..?”, tanya Tante Vivi seakan tak mengerti. Pandangan matanya kelihatan sedikit bingung.

“Lhoh.., katanya pengen diker.., eeh diajarin..”, lanjutku. Hampir aja aku kelepasan ngomong ngeres, jantungku sampai kaget sendiri dag-dig-dug tidak karuan. Untung tidak kebablasan ngomomg.

“ooh.., iya.., aduuh Tante sampai kaget.., Yuk ke kamar Ar..”, sahutnya sambil mencolek lenganku. Kami berdiri dan berjalan beriringan ke tempat yang ia maksud. Kami melintasi ruangan tengah yang lebih lapang dan mewah. Kulihat sebuah meja pendek tempat dudukan pesawat Televisi ukuran besar mungkin sekitar 51 inchi lengkap dengan satu set sound systemnya sekaligus berada di sebelah kiri ruang itu. Sedangkan kami menuju ke sebuah ruangan di sebelah kanan yang pintunya sudah setengah terbuka. Tante Vivi menyilahkanku masuk duluan.

“Masuk Ar.., sorry ruangannya agak berantakan..”, ujarnya sambil memberi jalan. Aku masuk dulu kedalam ruangan diikuti Tante Vivi. Ruangan atau kamar itu cukup besar berukuran 5 x 7 meter dan pada umumnya tampak rapi walau masih ada sedikit acak-cakan karena di atas lantai persis di depan tempatku berdiri yang terhampar sebuah karpet berukuran sedang tampak berserakan beberapa majalah wanita yang halamannya masih terbuka disana-sini. Di depannya ada sebuah meja kerja yang cukup besar, dan di atas meja terdapat beberapa buah buku kecil dan agenda kerja, selain itu terlihat 2 kardus besar dan beberapa kardus kecil yang aku sudah hapal bentuk dan cirinya, apalagi pada kardus besar yang berbentuk kotak itu terdapat tulisan besar GoldStar Monitor. Ketika aku menengok ke sebelah kiri, waah.., ternyata di situ terdapat sebuah ranjang berukuran sedang. Kasurnya jelas Spring Bed yang terlihat dari ukurannya yang tebal, tertutup dengan sprei berwarna merah jambu. Bantalnya bertumpuk rapi di sisi kiri dan kanan tempat tidur. Di sebelah kiri tempat tidur terdapat sebuah meja kecil dan seperangkat mini stereo.

“Waduuh.., ini tempat kerja apa kamar Tante..?”, tanyaku heran dan kagum. Bagiku ruangan selapang ini terlalu besar untuk kamar tidur. Kamarku sendiri yang berukuran 3×4 meter aja menurutku sudah gede, apalagi sebesar ini.

“Dua-duanya Ar.., ya kamar kerja ya.., tempat tidur.., mm.., Tante khan cuman sendirian di rumah ini Ar..”, sahut Tante Vivi yang berada di sebelah kananku.

“Sendirian.., maksud Tante?”, tanyaku kepadanya tak mengerti.

“Lhoh.., apa Selva tidak pernah bilang sama kamu.., Tante khan.., sudah bercerai Ar..”, sahutnya kemudian. Kedengaran sekali kalimat terakhir yang diucapkannya sedikit terpatah-patah.

Astaga.., seruku dalam hati. Pantas, seolah baru menyadari. Selama ini aku tak pernah ingat apalagi menanyakan tentang suami Tante Vivi ini. Jadi selama ini Tante Vivi itu seorang Janda. Ya ampuun.., kenapa aku tak menyadari sejak semula. Semenjak pertama kali aku datang ke sini bersama Selva, memang aku tak melihat orang lain lagi selain Inem pembantunya. Waktu itu kupikir suaminya sedang bekerja. Pantas ketika aku datang tadi hanya Tante Vivi sendirian yang menyambutku. Jadii.., hatiku jadi setengah grogi juga. Aku jadi teringat tentang beberapa kisah nyata di majalah yang pernah kubaca tentang kehidupan seorang janda muda, terutama sekali mengenai soal seks. Pada umumnya katanya mereka sangat mudah dirayu dan tak jarang juga pintar merayu. Jangan-jangan.., pikirku mulai ngeres lagi.

“ooh.., maaf Tante saya baru tahu sekarang..”, ujarku lirih sejenak kemudian. Tante Vivi tersenyum kecil.

” Udahlah Ar.., itu masa lalu.., tidak usah diungkit lagi..”, ujarnya setengah menghindar. Terlihat ada setetes air menggenang di pelupuk kedua matanya yang indah.

Sedetik kemudian ia sengaja memalingkan mukanya dari tatapanku, mungkin ia tak ingin terlihat sedih di depanku. Kemudian ia berjalan ke depan dan setengah berjongkok memunguti semua majalah yang masih berserakan di atas karpet, spontan aku segera menyusul hendak membantunya.

“Sini Ari bantu Tante..”, kataku pendek. Tanpa menoleh ke arahnya aku langsung nimbrung mengumpulkan majalah yang masih tersisa.

“iih sudah Ar.., tidak usah.., kok kamu ikutan repot..”, sahutnya. Kali ini wajahnya kulihat sudah cerah kembali. Bibirnya yang ranum setengah terbuka menyunggingkan sebuah senyuman manis. Manis sekali. Aku sempat terpana selama 2 detik.

” Tante tidak menikah lagi..?”, tanyaku padanya tanpa sadar. Sedikit kaget juga aku dengan pertanyaanku, jangan-janga ia marah atau sedih kembali. Namun ternyata tidak, sambil tetap tersenyum ia balik bertanya.

“Siapa yang mau sama aku Ar..?”

“aah.., Ari kira banyak Tante..”

“Siapaa..?”

“Ari juga mau Tante..”, kataku cuek, karena maksudku memang bercanda. Ia mendelik lalu sambil setengah ketawa tangannya mencubit lenganku sekaligus mendorongku ke samping.

“Hik.., hik.., kamu ini ada-ada aja Ar.., jangan nyindir gitu dong Ar, memangnya gampang cari laki-laki jaman sekarang..”, ujarnya. Lalu kulihat ia terduduk diam seribu bahasa. Aku jadi heran sekaligus geli melihatnya melamun sambil memegangi majalah.

“Kenapa Tante.. “, tanyaku padanya. Tante Vivi sedikit kaget mendengar pertanyaanku. Namun sambil tersenyum kecut ia hanya menjawab pendek.

“Sudahlah Ar.., jangan bicara masalah itu..”. Akupun tak mengubernya walau sebenarnya masih penasaran apa yang sebenarnya terjadi dulu dengan perceraiannya.

Singkat cerita, malam itu aku hanya menghabiskan waktu sekitar 20 menit untuk merakit komputer barunya. Untung saja Tante Vivi membeli komputer jenis Build Up sehingga aku tak perlu untuk memeriksa 2 kali, cuman periksa tegangan input, tinggal sambung kabel ke monitor dan CPU, pasang external modem, pasang speaker aktifnya ke output soundcard, sambung ke stavolt.., sudah beres.

“Sudah beres Tante.., mm.., mau sambung ke internet..?”, tanyaku puas. Agak keringetan juga rasanya mukaku, walau cuman sekedar sambung sana-sini.

“aah masa..?, secepat itu Ar..?”, tanya Tante Vivi yang sejak tadi juga tak pernah beranjak dari sebelah kananku, asyik melihatku bekerja.

“Lha.., iya.., gampang khan..”, sahutku pendek. Kupandangi wajah cantiknya yang setengah melongo seolah tak yakin.

“Makanya dicoba dulu dong Tante.., biar tidak nanya-nanya lagi.., mana nih stop kontaknya”, tanyaku kemudian.

“iih.., hik.., hik.., gitu aja sewot.., jahat kamu Ar.., hik.., hik.., ehem.., itu ada di belakang meja sebelah bawah Ar..”, jawabnya sambil setengah tertawa kecil.

Aku melongok ke bawah meja.., astaga di bawah situ berarti mestinya aku harus merangkak di situ.., sejenak aku melongo.

“Kenapa Ar..?”

“Ooh tidak Papa Tante..”.

Akhirnya mau tak mau akhirnya aku harus merangkak masuk ke bawah meja kerjanya yang cukup besar itu sambil tangan kananku menarik kabel power CPU-nya ke bawah. Pengap juga di bawah situ karena memang agak remang, maklum penerangan di kamar ini hanya cuma menggunakan sebuah lampu bohlam sekitar 100 Watt, sinarnya kurang kuat di bawah sini. Sedang lampu meja kerja terpaksa dimatikan untuk stroom komputer. Setelah terpasang ke stop kontak, sambil setengah merangkak mundur aku langsung membalikkan tubuh dan astaga.., aku terhenyak kaget karena melihat Tante Vivi ikut juga melongok membungkuk ke bawah meja, tanpa disengaja kedua mataku menyaksikan pemandangan vulgar yang luar biasa indah.

Woow, Tante Vivi dengan posisi tubuh seperti itu membuat baju kemejanya yang sedikit gombrong dan karena jenis kainnya yang sangat lemas membuatnya jadi merosot ke bawah pas dibagian dada, apalagi kancing kemejanya yang sedikit rendah, membuat kedua bulatan payudaranya yang sangat besar dan berwarna putih terlihat menggantung bak buah semangka, diantara keremangan aku masih dapat melihat dengan sangat jelas betapa indah kedua bongkah susunya yang kelihatan begitu sangat montok dan kencang. Samar kulihat kedua puting mungilnya yang berwarna merah kecoklatan. “Yaa aammpuunn..”, bisikku lirih tanpa sadar, “Ia tidak pake Behaa..”

Tante Vivi semula tak menyadari apa yang terjadi dan apa yang sedang kupelototi, 5 detik saja.., bagiku itu sudah cukup lama, Tante Vivi seolah baru menyadari ia menjerit lirih.

“iih..”, serunya lirih. Masih dalam posisi membungkuk, tangan kanannya reflek menarik bajunya sampai ke atas leher, setengah pucat ia memandangku lalu berdiri dan mundur 1 langkah. Sudah telanjur, percuma kalau malu, akhirnya dengan cuek aku merangkak ke luar dan berdiri di hadapannya, sambil senyam-senyum seolah tidak salah, akhirnya aku minta maaf juga kepadanya.

“Maaf Tante.., sa.., Ari tidak sengaja..”, ujarku cuek. Tante Vivi masih dengan sedikit pucat, akhirnya hanya bisa tersenyum kecil. Wajahnya kelihatan memerah.

“Sudahlah.., Ar..”, sahutnya pendek. Dalam hati aku berbisik, lumayan dapat tontonan susu gede gratiss.

Bersambung ke bagian 02

Tags : cerita 18sx, cerita seks, cerita daun muda, gadis bandung, video bugil, cerita sexs, tante,gadis 17 tahun,tante girang bugil,gadis bugil abg,gadis bugil 3gp,jepang bugil, artis ngentot, memek bugil, mahasiswa bugil, indonesia bugil

1 komentar 26 April 2010

Cerita 18sx – Seks Romansa

Namaku Djony (pria Chinesse, 28 Tahun), aku termasuk baru dalam mempraktekkan kehidupan seks dan ini yang akan menjadi cerita petualangan kali ini.

Cerita ini berawal dari keingintahuanku mengenai hal yang berhubungan dengan seks, di mulai dari membaca buku-buku infotaiment mengenai kehidupan malam, majalah atau koran yang memuat gambar menggiurkan sampai dengan menggakses halaman internet yang memuat cerita-cerita seks. Karena keingintahuan itu, suatu hari aku menelepon salah satu iklan yang termuat dalam harian ibukota yang menyediakan gadis untuk di ajak kencan. Singkat cerita, pada waktu yang telah di rencanakan, kami melakukan kencan di sebuah hotel di sekitar pasar baru, dan terjadilah apa yang terjadi.

Setelah membayar dan masuk kamar, teman kencanku (sebut saja namanya Dik) menghidupkan TV yang ternyata memiliki saluran film Blue, dan sekejab kami larut dalam visualisasi yang tergambar dari TV tersebut, kemudian kami mulai berbincang-bincang.
"Bang, suka nggak ngeliat film beginian?"
"Ya suka aja, emang Dik nggak suka?", tanyaku balik tanpa memalingkan muka dari layar TV.
"Suka sih, tapi yang begini mah udah bosen, lebih baik yang langsung praktek aja", katanya menggoda.
Dan, ini dia yang kutunggu, sambil tersenyum kupalingkan muka menghadap dia dan segera kucerca dengan pertanyaan yang memang ingin kuketahui segera jawabannya.
"Kalo begitu, Dik udah pengalaman banget dong?"
"Gak juga, saya baru kok jadi beginian", katanya polos.
Nah lo, tadi bilang udah bosen, tapi baru katanya, namun aku tidak mempersoalkan hal itu lagi, karena sederet pertanyaan sudah berebutan keluar dari otakku.
"Dik, kalo kamu di bayar untuk di puasin, mau nggak?"
Dengan sedikit mengerutkan alis, dia bertanya apa yang baru saya katakan, dan setelah saya tegaskan kembali, dia menjawab tanpa mengatakan ya atau tidak.
"Emang ada yang mau begitu?"
Ini aku anggap tanpa penolakan, sehingga hatiku menjadi lega dan langsung menuju sasaran sebenarnya.
"(Dik, sebenarnya aku minta kamu ajarin cara puasin cewek, karena aku belum pengalaman)", namun hal itu tidak terucapkan, tetapi "Ya udah, kalo gitu kita harus melakukannya pelan-pelan dan aku harap kamu juga puas nantinya, OK?"
Dia kembali mengerutkan dahi, namun dia sepertinya menurut saja, sehingga kami melanjutkan ke tahap selanjutnya.

Setelah membasuh diri masing-masing, sekilas kulihat dia berpotongan mirip dengan Rachel Mariam, dan seperti yang ada di benakku, bahwa ini ada pembelajaran, jadi hayatilah dengan sebaik-baiknya. Sengaja kupeluk dia dan kucium mulutnya dengan pelan, dan kami mulai saling berciuman bibir, (memang bibir rasanya sangat lembut!) dan dalam hati timbul pertanyaan, gimana lagi nih lanjutannya? Berbekal dari sedikit pengetahuanku, kujulurkan lidahku ke dalam mulutnya, dan memang dia langsung membalasnya dengan menjulurkan lidahnya kedalam mulutku dan langsung menekan isi dalam mulutku, terasa sensasi yang selama ini hanya kubayangkan, namun sekarang dapat kurasakan dan kulanjutkan dengan juga mengulum lidah dan menyentuh isi mulutnya dan kuperhatikan tidak ada perubahan dalam wajah dan tatapannya (Dalam hati aku berpikir, dia nggak merasakan apa yang aku lakukan?)

Seterusnya aku melanjutkan dengan memegang kepalanya, mencium lehernya, terus ke telinganya, dan kurasakan dia bergeliat dan pelukannya semakin erat, (mungkin geli, dan dalam hati aku bersorak), dan terus ku jilat sampai akhirnya dia berontak dengan cara mengganti menjilati leherku dan tangannya mulai menyelinap dibalik kemejaku diantara kancingnya, aku merasakan getaran yang membuat bulu kudukku berdiri sejenak berganti dengan perasaan nikmat yang tidak terucapkan. Dibukanya kancing kemejaku satu persatu diiringi jilatan yang mengikuti terbukanya kancing bajuku, dan aku tidak tinggal diam juga, kurangkul pinggangnya dengan menyibakkan blus kain warna pink yang di kenakannya sambil mengelus punggungnya, terasa halus di tangan, dan bergetar tubuhku karena ciumannya terhadap kedua putingku.

Dan setelah kulepas baju kemejaku, aku langsung kembali memelukku sambil berusaha untuk mengangkat blus yang dipakainya ke atas dan seiring dengan itu, dia mengangkat kedua tangannya dengan maksud untuk memudahkanku melepas bajunya. Terus kuangkat blusnya hingga mencapai lengannya dan kudorong bandannya bersandar ke dinding, dengan posisi tangan terangkat itu, aku menikmati pemandangan didepanku, dan segera ku cium, mulai dari leher, antara dua payudaranya, terus hingga pusarnya. Dia sepertinya menikmati adegan tersebut sambil eh.. ehnm.. dan badannya bergeliat-geliat kecil mengiringi ciumanku (aku berpikir, mungkinkan rangsanganku berhasil?). Setelah blus itu dilepaskan dari tanggannya, kubalikkan badannya dan kuciumi kembali dari leher terus ke bawah hingga pinggang, namun tali BH sangat mengangguku, langsung kulepaskan pengaitnya tapi tidak terlepas dari payudaranya karena langsung di tahan oleh kedua tangannya. Hal itu kubiarkan, mungkin dia ingin menambah sensasi nya, begitu pikirku. Terus ku ciumi hingga pinggang dan tanganku mulai nakal menyusup sedikit demi sedikit ke arah kedua payudaranya. Dia mengembangkan ketiaknya perlahan untuk mempermudah penyusupan tanganku, dan akhirnya seluruh payudara tersebut telah berada dalam genggaman kedua tanganku, dan BH telah terlepas dengan begitu saja.

Ku peluk erat dia dari belakang, kurasakan sensasi yang luar biasa, tubuhku beradu dengan punggungnya, terasa sentuhan lembut dan tangganku terasa bergetar memegang kedua payudaranya. Setelah menikmati sensasi pelukan tersebut, tiba-tiba dia membalikkan badan yang membuatkan bingung harus berbuat apa, kecuali menatap bengong kedua payudaranya, dan tanpa kusangka, ditariknya kepalaku hingga terbenam di payudara kirinya. Aku langsung mengerti dan kuciumi payudara tersebut berputar hingga akhirnya mendarat pada kuluman di tengah putingnya. Langsung terdengar ach.., ach.. achh.. (sebenarnya aku ingin berteriak kegirangan karena aku menganggap berhasil merangsang dia dengan baik), dan tanpa menunggu lagi, kulanjutkan dengan yang sebelah kanan.

Memang kuakui, walaupun aku baru pertama kali bercumbu dengan perempuan, namun dari yang kuketahui, perempuan ini memiliki ransangan seks yang sangat baik terhadap pasangannya, seperti yang terlihat saat ini dimana dia mengangkat kedua tangannya ke atas yang menyebabkan ransangan ke payudaranya semakin terbuka dan membuat keIndahan visual yang ditampilkan sangat menggairahkan.

Setelah beberapa saat menikmati kecupan dan remasan pada payudaranya, tiba tiba dituntunnya tangannku untuk membuka kaitan celana kulotnya, karena kesulitan membuka, akhirnya kedua tanganku berhasil membuka sekaligus resleting celananya dan dengan sedikit goyangannya, celana tersebut telah terjatuh di lantai, dan terlihat celana dalam putih berenda yang dikenakannya. Diciumnya bibirku sambil memegang kepalaku dan kupeluk dia pada punggungnya, kemudian dituntun tangan kananku untuk meremasi pantatnya yang cukup berisi tersebut. Langsung kedua tanganku menyusup diantara celana dalamnya dan mulai meremas pantatnya dengan perlahan dan semakin lama semakin cepat, dan tanpa kusangka, dia memiringkan tubuhnya dan dalam sekejab celana dalam tersebut telah terlepas dari badannya, dan tampaklah olehku daerah kewanitaanya yang di tumbuhi rambut tipis.

Dan tanpa komando dariku, dia berbaring dengan kaki terbuka di sisi ranjang dan memintaku untuk menciuminya. Mulanya kulakukan dari bibir, turun ke leher, payudaranya, namun kepalaku terasa ditekan kebawah sehingga mencapai bawah pusarnya. Ku ikuti kemauannya, dan terus didorongnya kebawah sambil ku jilati dan ketika mencapai rambut halus di atas kemaluannya, dia bergeliat pelan, oh.. oh.. ochh. Terlintas dibenakku, apa yang harus kulakukan selanjutnya, namun dengan posisi kaki terbuka yang diangkat dengan kedua tangannya, kutahu bahwa dia menginginkanku untuk mencium bibir bawahnya. Langsung ku julurkan lidahku untuk menciumnya, namun ujung lidahku merasakan cairan dan hidungku mencium bau yang khas, ku urungkan niatku sebentar sambil mencium pahanya ke bawah sekaligus untuk menghirup udara segar. Mungkin dia merasakan rasa risiku, sehingga dia langsung bangkit dan memintaku untuk berdiri di tembok. Diciumnya aku mulai dari leher, terus kebawah dan tangannya bergerak di seluruh badanku, rasa geli dan enak bercampur jadi satu di otakku dan tubuhku bergeliat ketika tanganya menyentuh daerah dibawah pusarku, dengan menyelipkan tangannya dicelanaku, dibelainya daerah rambut tersebut, ah.. ach..

Dibukanya ikat pinggang dan kancing celana jeansku dengan perlahan, dan kini, aku hanya mengenakan celana dalam coklatku. Dengan oerlahan, dalam posisi jongkoknya, kurasakan ada tangan yang menyelinap dari bawah kanan celana dalamku, dan langsung mencari batang kemaluanku. Digenggamnya batang tersebut beserta bijinya dan langsung mengeraslah batang tersebut dan dikeluarkannya dari balik celana dalamku, terlihat batang beserta dengan buahnya tersebut mencuat dari bungkusannya dan di ciumnya dari buahnya kemudian ke arah batangnya. Aku sangat menikmati hal ini, melalui gerakan dan sentuhan tangan serta mulutnya, aku hanya mampu mengangkat kepalaku dan memejamkan mataku serta dengan reflek mengangkat kaki kiriku untuk memudahkan dia menciumnya.

Satu hal yang kupelajari dari dia adalah, dengan menggunakan ludahnya, dia mulai menciumi batangku, kurasakan kenikmatan yang belum pernah kurasakan, namun dia juga sangat menikmatinya tanpa ada kesan bau dan kotor dan sebagainya. Dan dibaringkannya tubuhku ke ranjang dengan posisi kaki menghadap ke sisi ranjang dan celana dalamku telah terlepas. Didorongnya kaki kiriku hingga terangkat ke atas dan ku pegang dengan tangan kiriku dan didudukinya sambil berjongkok kaki kanan yang terjulur, dan dia mulai mengulum kembali batangku yang telah bebas terlentang dan menghasilkan gesekkan antara kaki kananku dan belahan pantatnya. Dengan kenakalanku, kutarik sedikit kakiku sehingga posisinya mendekati belahan dibawah lubangnya, dan kurasakan gesekan yang semakin kencang dan intim dibawah lewat gerakannya, dan suara bercampur ludah di mulutnya.

Setelah sekian lama menikmati kulumannya pada batangku, kurasakan tidak mungkin lagi menahan lava akan akan meledak, sengaja aku tidak memberitahukannya, hanya badanku sudah bergeliat hebat dan ehm..ehm berakhir dengan ow..wow.., tumpahlah lava tersebut di mulutnya dan diludahkannya kembali ke batangku sehingga basah meleleh hingga ke atas kasur. Selanjutnya dengan posisi yang masih terletang setelah menikmati keluarnya lava, aku istirahat dengan mata terpejam puas, namun merasakan ada yang naik ke atas ranjang, dan kakinya berhenti diantara kepalaku, apaan itu..?

Kubuka mataku, sambil berpegangan pada kepala rangjang, dia berjongkok di hadapanku dengan posisi bibir kemaluannya tepat di depan mukaku. Sebenarnya aku ingin segera beranjak untuk menghindarinya, namun tiba-tiba pantat tersebut bergoyang perlahan kekiri dan kekanan menghasilkan pemandangan yang lain dan menciptakan ransangan visual yang sangat menggoda. Beberapa saat kemudian, hilanglah semua perasaan risi yang pertama tadi menghantui, dengan berubahnya gerakan pantatnya ke depan dan ke belakang, sekali kali, bibir kemaluannya menyentuh hidungku, dan selanjutnya telah ku sapu dengan bibirku, aku juga merasakan kenikmatan melalui erangan yang keluar dari mulutnya. Gerakan itu tetap konstan dan perlahan, membuatku penasaran tapi tidak berlangsung lebih lama lagi, karena detik berikutnya, bibirku telah berciuman dengan bibir kemaluannya karena dimajukannya pantatnya dan bertumpu pada lututnya.

Aku bingung harus berbuat apa, namun kulakukan ciuman dengan memberikan ludah dan tidak kurasakan lagi bau khas dan cairan di situ semakin bertambah, bercampur dengan ludah yang keluar dari mulutku, dan kujulurkan lidahku dan kukeraskan dan kutekan ke dalamnya, eh hhe.. eh hhe. Dan gerakan berikutnya adalah maju mundur kembali pantat tersebut dengan hebatnya, dan ku julurkan lidahku dengan keras sehingga terasa lidahku menusuk kedalam dan bibirku berciuman dengan bibir kemaluannya. Gerakan tersebut berhenti seiring dengan lengkuhan keras dan ku hisap seluruh isi kemaluannya, dan kutahan dalam mulutku. Aku hampir kehabisan napas, untung dia segera rubuh ke atas ranjang dan aku langsung bangun untuk membasuh mukaku yang di penuhi dengan lendir dari kemaluannya.

Pada saat aku sedang membasuh diri, tiba tiba dia masuk dan memelukku erat dari belakang seoerti kekasih yang memendam rindu dengan amat sangat dan mengecup punggungku berkali-kali, aku bingung, namun kubiarkan perlakuannya hingga akhirnya kubalikkan badan dan memeluknya erat, lalu kami setuju untuk mandi bersama. Tak terasa, setelah berpakaian, kami telah menghabiskan dua jam bersama, dan setelah membayarkan, aku sepakat untuk mengantarnya pulang ke tempat kostnya tidak jauh dari hotel tersebut, dan dalam perjalanan pulang, dari hasil obrolan kami, diketahui bahwa dia menggaku belum pernah penetrasi dengan langganannya dan dia melakukan itu untuk membiayai hidupnya dan cita-citanya. Dan yang paling kuingat adalah perkataanya bahwa ‘Seks bukanlah text book, tapi perasaan melayani yang menyatu dengan pasangan’, sehingga seks itu tidak harus dipraktekkan dulu karena takut gagal, namun dihayati untuk saling melayani pasangan kita.

Setelah turun, dari jendela mobil yang buka dia berkata dengan sedikit berteriak "Abang hebat juga untuk seorang pemula", sambil tersenyum manis. Dalam hati aku juga menggakuinya (dari pancaran matanya), namun dari mana ‘keahlian’ ini, dan aku menggakui bahwa dialah yang sebenarnya membimbingku dalam setiap langkah pencumbuan tadi, sungguh hebat dia. (Rp. 750 ribu untuk dua jam, kalo nggak hebat pasti nggak ada yang mau beli lagi, ya nggak?).

E N D

 

Tags : cerita 18sx, cerita seks, cerita daun muda, gadis bandung, video bugil, cerita sexs, tante,gadis cantik, telanjang gadis indonesia,gadis telanjang,foto telanjang,artis bugil,cewek telanjang,indo bugil,cewek bugil,gambar telanjang,smu bugil,gambar bugil,wanita bugil

1 komentar 25 April 2010

Cerita 18sx – Kisah dengan Tetangga 1: Hesti – 2

Dari Bagian 1
Kudorong lidahku masuk ke dalam rongga mulutnya. Kujelajahi seluruh bagian di mulutnya dan kemudian lidahku menari di langit-langit mulutnya. Hesti kemudian menggelitik lidahku dan menyedotnya kuat-kuat.

Kemudian ia yang mendorong lidahnya ke dalam rongga mulutku. Bibirnya tipis dan sangat lemas. Ia sangat mahir dalam berciuman. Lidah kami saling bergantian memilin dan menjelajahi mulut. Tangan kananku memijat dan memilin putingnya kemudian meremas gundukan daging payudaranya.

Kuangkat bahunya agar badannya agak ke atas. Segera kuterkam payudaranya dengan mulutku. Putingnya kuisap pelan dan kugigit kecil. Ia melenguh dan mengerang. Kepalanya terangkat-angkat dan tangannya meremas-remas bantal di bawah kepalaku.

“Ouhh.. Aacchh, Ayo Anto lagi.. Teruskan lagi.. Teruskan”.

Kejantananku yang masih di dalam celana dalam mulai menggeliat. Puting dan payudaranya semakin keras. Kukulum semua gundukan daging payudara kirinya sehingga masuk ke dalam mulutku kemudian putingnya kumainkan dengan lidahku, kemudian mulutku beralih ke payudara kanannya. Napasnya terengah-engah menahan kenikmatan.

Kulepaskan hisapanku pada dadanya. Tangannya mengusap dada, menyusuri perut dan pinggang, kemudian menyusup di balik celana dalamku, kemudian mengelus dan mengocok kejantananku. Mulutnya kemudian ikut bermain di dadaku, menjilati dan mengecup putingku. Kepalanya semakin ke bawah dan menjilati perut dan pahaku. Ditariknya celana dalamku ke bawah. Kini aku sudah dalam keadaan telanjang.

Hesti kembali menggerakkan kepalanya ke atas, bibirnya mengecup, menjilati leher dan menggigit kecil daun telingaku. Ia mendesis tepat di lubang telingaku sehingga badankupun jadi merinding. Napasnya dihembuskan dengan kuat. Dia mulai menjilati lubang telingaku. Aku merasakan geli dan sekaligus rangsangan yang kuat. Kugigit bibir bawahku untuk menahan rangsangan ini. Kupeluk dan kuusap pinggangnya kuat-kuat.

Tanganku menarik celana dalamnya dan dengan bantuan pahanya yang bergerak naik maka dengan mudah kulepaskan celana dalamnya. Telunjuk tangan kiriku bermain di selangkangannya. Rambut kemaluannya jarang dan pendek. Kubuka bibir vaginanya dengan jari tengah dan ibu jari. Kubuat gerakan menggaruk di atas permukaannya. Setiap aku menggaruknya Hesti mengerang.

“Oouuhh.. Aauhh.. Ngngnggnghhk”

Kulepaskan tanganku dari selangkangannya. Mulutnya kembali ke bawah, menjilati bulu dada, puting dan perutku. Kini tangannya yang bermain-main di kejantananku. Bibirnya terus menyusuri perut dan pinggangku. Tangan kirinya memegang dan mengusap kejantananku yang telah berdiri tegak.

Hesti memutar tubuhnya dan meminta untuk posisi 69. Aku berada di bawah tubuhnya, sementara mulut kami sudah sibuk dengan pekerjaannya. Mulutku menjilati pangkal pahanya yang mengangkang lebar di atasku. Kujilat clitnya dan kujepit dengan bibirku. Sementara itu dengan penuh gairah Hesti menjilat, mengulum dan mengisap penisku.

Setelah mulut kami puas bermain di selangkangan, maka tubuhnya berputar sehingga kami berhadapan muka. Aku berguling sehingga kini Hesti mengangkang di bawahku. Tangannya bermain di bawah perutku. Tanganku meremas payudaranya dan memilin putingnya. Dengan bantuan tangannya kucoba memasukkan penisku ke dalam vaginanya. Ia menggerak-gerakkan pantatnya untuk membantu usahaku. Digesekkan kepala penisku pada bibir vaginanya. Setelah cukup banyak lendirnya ia berbisik “Masukkan To.. Dorong”. Kudorong pantatku dengan pelan dan akhirnya batang meriamku bisa masuk dengan lancar ke dalam guanya.

Hesti memelukku dan menciumi daun telingaku. Aku merinding. Dadanya yang padat menekan dadaku. Kucium bibirnya dan kuremas buah dadanya.

“Ouhh ayo To.. Aku.. Dorong leebih kuat.. Ayo dorong..”

Aku menurunkan pantatku dan segera penisku sudah tengelam penuh dalam lubangnya.

“To.. Enak sekali, aku.. Oukhh”

Ia memekik kecil, lalu kutekan kemaluanku sampai amblas. Tangannya mencengkeram punggungku. Tidak terdengar suara apapun dalam kamar selain deritan ranjang dan lenguhan kami. Kucabut kemaluanku, kutahan dan kukeraskan ototnya. Pelan-pelan kumasukkan kepalanya saja ke bibir gua yang lembab dan merah. Hesti terpejam menikmati permainanku pada bibir kemaluannya.

“Hggk..”. Dia menjerit tertahan ketika tiba-tiba kusodokkan kemaluanku sampai mentok ke rahimnya.

Kumaju mundurkan dengan pelan setengah batang beberapa kali kemudian kumasukkan dengan kuat sampai semua batangku amblas. Hesti menggerakkan pinggulnya memutar dan mengimbangi irama naik turunku sehingga kami bisa sama-sama merasakan kenikmatan yang luar biasa. Kejantananku seperti dipelintir rasanya. Kusedot payudaranya dan kumainkan putingnya dengan lidahku. Hesti seperti menahan sesuatu. Ia memukul-mukul punggungku dan menggigit dadaku dengan liar.

“Auuhkhh.. Terus.. Teruskan.. Anto.. Enak sekali.. Ooh”

Kini kakiku menjepit kakinya. Ternyata vaginanya nikmatnya memang luar biasa, meskipun agak becek namun gerakan memutarnya seperti menyedot penisku. Aku mulai menggenjot lagi. Hesti seperti seekor kuda liar yang tidak terkendali. Keringat membanjiri tubuh kami. Kupacu tubuh kuda betinaku untuk mendaki lereng kenikmatan. Kami saling meremas, memagut, dan mencium. Kubuka lagi kedua kakinya, kini betisnya melilit di betisku. Matanya merem melek. Aku siap untuk memuntahkan peluruku.

“Hesti, aku mau keluar.. Sebentar lagi Hesti.. Aku mau..”.

“Kita sama-sama To, Ouououhh..”. Hesti melenguh panjang.

Sesaat kemudian..

“Sekarang Hesti. Ayo sekarang.. Ouuhh..” Aku mengerang ketika peluruku muntah dari ujung rudalku.

“Anto.. Agghh” kakinya menjepit kakiku dan menarik kakiku sehingga kejantananku tertarik mau keluar.

Aku menahan agar posisi kemaluanku tetap dalam vaginanya. Matanya terbuka lebar, tangannya mencakar punggungku, mulutnya menggigit dadaku sampai merah. Kemaluan kami saling membalas berdenyut sampai beberapa detik. Setelah beberapa saat kemudian keadaan menjadi sunyi dan tenang.

Setelah membersihkan badan tanpa mandi, kami tidur berpelukan tanpa busana, Menjelang jam delapan pagi aku terbangun. Setengah terkejut aku membuka mata di tempat yang masih asing, namun tak lama kemudian aku sudah sepenuhnya sadar di mana aku sekarang berada. Hesti masih terpejam di pelukanku. Karena gerakan tubuhku, ia membuka matanya dan menggeliat dan menguap.

“Hmmh. Oouuahh.. Jam berapa sekarang?” bisiknya.

“Jam delapan kurang dikit. Mau pulang sekarang?” tanyaku.

“Tanggung, entar aja sekalian kalau udah puas. Sampai di rumah langsung tidur lagi. Sarapan apa kita pagi ini?”

“Coba kutanya ke resepsionis, biar nanti diantar ke kamar saja sarapannya,” kataku sambil meraih telepon untuk menghubungi resepsionis.

Hesti merapatkan tubuhnya ke tubuhku. Dadanya menekan lenganku. Bibirnya mulai menciumi leherku dan mencari-cari bibirku.

“Sabar say.. Kita..” Kataku.

Belum habis kalimatku terdengar pintu kamar diketuk.

“Room service, sarapannya Pak!”

Aku bangkit dan berlilitkan selimut dan membuka pintu, room boy masuk dan meletakkan sarapan di atas meja. Aku masuk ke kamar mandi dan mengisi bathtub dengan air hangat. Sambil menunggu bathtub terisi penuh, maka kami makan bersama-sama hanya berlilitkan selimut saja. Menunya sederhana saja, nasi goreng dengan daging ayam dan telur mata sapi. Rasanya nikmat sekali, karena perut memang sudah terasa lapar sejak tadi pagi.

Selesai makan kami berendam air hangat di dalam bathtub. Di dalam bathtub kami berciuman dan perlahan-lahan gairah kami berdua mulai bangkit lagi. Sambil bermain busa sabun kami saling meremas dan mengusap tubuh. Meskipun terendam air, penisku perlahan berdiri tegak. Napas kami mulai berkejaran di dalam dada.

Kusabuni payudaranya dan kuremas-remas, sementara ia menyabuni kejantananku dan mengocoknya. Setelah membilas dengan air, maka payudaranya kuisap-isap dan kupermainkan dengan lidahku. Hesti mendesah dan memelukku erat. Ia menciumi leherku. Kulepaskan isapan pada payudaranya dan Hesti pun ganti menyerang dadaku. Mencium dan menjilati putingku bergantian kiri dan kanan.

Mulutnya terus bergerak ke bawah, mengitari pusarku dan semakin ke bawah. Penisku yang kedinginan segera dikulum dan diisapnya. Kepala penisku dijilatinya dan kemudian kembali mengulumnya sampai habis. Buah zakarkupun tak luput dari serangan mulutnya. Sementara mulutnya mengisap buah zakar, maka tangannya memijit dan mengocok batang penisku. Aku meremas rambutnya sambil menahan kenikmatan yang diberikannya pada penisku.

Hesti menindih tubuhku. Dengan tetap berpelukan tanpa sepengetahuan Hesti kucabut sumbat bathtub. Permukaan air mulai menurun dan setelah tinggal sedikit Hesti baru sadar. Ia menatapku dan mengangguk. Aku menangkap kodenya untuk bercinta di dalam bath tub saja.

Perlahan lahan ia menurunkan pantatnya. Kepala penisku dijepit dengan jarinya, dan digesek-gesekkan di mulut vaginanya. Terasa lembab, hangat dan berair. Dia mengarahkan kejantananku agar masuk ke dalam vaginanya. Hesti merenggangkan kedua pahanya dan sedikit mengangkat pantatnya. Kepala penisku sudah mulai menyusup di bibir vaginanya. Kugesek-gesekkan di bibir dalamnya sampai penisku terasa keras sekali. Keadaan lubang vaginanya semakin basah. Hesti menurunkan lagi pantatnya dan penisku segera masuk ke dalam vaginanya.

“Ayolah Hesti, tekan lagi.. Masukin..” Hesti menggoyangkan pantatnya dan kubalas dengan mengencangkan otot perutku.

“Ouhh.. Anto nikmatnya.. Ouhh!” erangnya setengah berteriak.

Hesti bergerak naik turun. Aku mengimbanginya dengan gerakan pinggulku. Pantatnya dinaikkan hingga hanya kepala penisku saja yang menyusup di bibir vaginanya dan dengan cepat pantatnya diturunkan kembali sampai penisku menyentuh dinding rahimnya. Ia menciumku dengan liar kemudian dikecupnya leherku dan bibirnya terus ke bawah menggigit puting dan menarik bulu dadaku.
Ke Bagian 3

Tags : cerita 18sx, cerita seks, cerita tante, video abg, amoy bugil, cewek cantik, video bugil artis indonesia, kapanlagi, cerita 17tahun

1 komentar 23 April 2010

Cerita 18sx – Dewa, Si Penakluk Wanita 01

“Jadilah diri sendiri, sudah hilang masa dimana manusia hidup dalam ketakutan akan pandangan orang lain. Bagiku orang seperti itu adalah kera, sedang aku sudah berevolusi menjadi manusia yang sebenarnya. Tidak ada manusia yang selalu benar di muka bumi ini, maka kenapa takut berbuat salah. Yang penting memang itulah aku apa adanya.”

Itu mottoku selama ini. Tak ada yang salah dengan motto itu, karena aku dapat apa yang aku ingin dan aku bahagia. Jika ada yang tidak suka, tuntut saja aku! Aku tidak takut! Bakat..! Aku yakin semua orang memilikinya. Hanya saja ada mereka yang tidak mengetahui atau lingkungan tidak menerima bakat itu sehingga kini mereka harus menjalani hidup yang membosankan. Hari demi hari dilalui begitu saja tanpa peningkatan dan kegembiraan saat mereka menjalaninya.

Sedangkan mereka yang lain lebih beruntung, karena kemampuan terbaik mereka tersalurkan. Ronaldo dengan sepakbolanya, Michael Jordan dengan basketnya, Jendral Arthur dengan taktik perangnya, Bon Jovi dengan suaranya, Leonardo Da Vinci dengan lukisannya, Einstien dengan penelitiannya, Al Capone dengan perampokan bank dan gank mafianya, Jack De Riper dengan pembunuhan berantainya, Hitler dengan NAZI-nya, Madam Omiko dengan rumah bordilnya, bahkan Dorce mampu mengasuh 1500 anak yatim piatu setelah menjadi wanita, serta masih banyak lagi nama-nama yang menjalani hidup bahagia sesuai dengan kata hatinya.

Resiko dalam hidup adalah hal yang pasti, jika kita memilih jadi pengecut maka jadilah pengecut sampai kita mati. Aku sempat merasakan hal itu, sampai mataku terbuka dan kini aku hidup bahagia dari hari ke hari.

Tiap orang dilahirkan dengan kelebihan dan kekurangan. Tulisan ini akan menceritakan 26 tahun kisah hidupku yang membuatku sadar bahwa aku harus menjadi diriku sendiri dan mengembangkan bakatku yang dilahirkan sebagai penakluk kemaluan wanita sejati.

Aku anak satu-satunya, di tengah keluarga berada. Ayahku seorang pengusaha dan ibuku manager sebuah perusahaan. Sampai SMP kelas 3 semua yang aku alami biasa saja. Ya, makan, minum, belajar, bimbel, les musik, dan rekreasi bersama keluarga tiap liburan, hal-hal yang sebenarnya membosankan. Tapi waktu itu aku tidak menyadari bahwa itu membosankan karena aku tidak berpikir sejauh itu.

Semua itu berubah ketika aku sakit di sekolah dan pulang lebih dulu. Sampai di rumah kulihat di garasi ada mobil ibuku, ternyata dia sudah pulang. Aku ingin segera menemuinya untuk melaporkan sakitku. Tapi ketika aku akan mencapai pintu kamarnya yang sedikit terbuka aku dengar erangan ibuku merintih kesakitan. Kulihat dari sela pintu yang terbuka seorang lelaki berada di atas ibuku. Dia memaju-mundurkan pantatnya. Aku segera bersembunyi takut ketahuan. Oh Tuhan! Itu adik ayahku. Dia dan ibuku sedang bersetubuh. Dorongan yang ada dalam hati adalah melihat persetubuhan mereka.

Aku menahan keinginan untuk mengintip, tapi dorongan untuk kembali melihat lebih besar. Akhirnya kuintip mereka dari sela-sela pintu. Sebenarnya tidak ada yang bisa dilihat. Yang kulihat hanya mata ibuku terpejam dan digelengkan ke kiri dan kanan, serta pantat om-ku yang naik-turun, itu saja. Sampai suatu ketika om-ku berteriak keras dan menekan pantatnya lama ke bawah.

Lalu dia merebahkan badannya di atas ibuku dan mencium bibir ibuku dengan batang kemaluan masih di dalam kemaluan ibuku. Tak lama lalu ibuku memegang batang kemaluan om-ku dan mencabut dari lubang kemaluannya. Setelah itu dia merebahkan lagi badannya. Om-ku pun berbaring di samping ibuku dan kembali mencium bibir ibuku. Saat itulah bisa kulihat dengan jelas batang kemaluan om-ku yang masih tegak berdiri, dan lubang kemaluan ibuku yang mengeluarkan cairan di sela-sela bibirnya. Warnanya merah dan masih tebuka. Itu pertama kali aku melihat kemaluan seorang wanita. Indah sekali..!

Sebelum mereka bangun aku sembunyi lagi, secara perlahan-lahan meninggalkan tempat itu dan pergi dari rumah. Aku tak mau mereka memergokiku. Aku baru kembali tepat saat jam anak-anak sekolah pulang ke rumah.

Kejadian itu selalu terbayang dalam benakku. Dorongan di hati untuk mempraktekkan apa yang kulihat selalu tumbuh. Tapi aku tidak berani melakukannya, selain itu mau sama siapa. Mau sama pelacur? dimana dan kapan waktunya? Aku juga malu mendatangi tempat seperti itu. Aku sadar aku masih anak-anak. Mau melakukan sama teman sekolah? Waduh kalau ketahuan sama keluarga besar dan teman-teman sekolah aku jadi lebih malu lagi. Rasa malulah yang membatasi terpenuhinya keinginanku bersetubuh dengan wanita.

Akhirnya aku tahan terus perasaan itu sampai pada suatu saat saudara sepupuku yang berusia sama dengan diriku akan melanjutkan SMA-nya di kotaku. Namanya Rosa, waktu itu kami berdua sudah lulus SMP. Dia anak tanteku dari Malang, dan akan tinggal bersama kami selama SMA. Dia SMA di sini agar bisa ikut bimbel dan lebih mudah masuk ke Unpad. Wajahnya cantik dan tubuhnya langsing sama seperti semua wanita dalam keluarga ibuku.

Tiap melihat wajahnya aku selalu teringat adegan pesetubuhan ibuku dan ingin sekali memasukkan batang kemaluanku ke dalam lubang kemaluan adik sepupuku itu. Aku sering membayangkan wajahnya berkeringat dan merintih-rintih kenikmatan saat berada di atasku sambil pantatnya naik-turun di atas batang kemaluanku. Hal ini tidak pernah aku katakan padanya karena aku takut dia akan marah, dan melaporkanku ke keluarga besar. Tentu saja aku akan malu setengah mati.

Aku tetap saja hidup dalam rasa takut untuk memenuhi keinginanku, hal itu sangat menyiksaku. Hingga pada suatu sore saat aku dan sepupuku belajar bersama di kamarku. Kami baru saja mandi dan sama-sama memakai piyama. Perbedaan piyama kami adalah celanaku panjang sedangkan dia pendek. Ketika kami mulai belajar, tiba-tiba dia berkata,

“Wa, kamu katanya pacaran ya? Kok enggak dikenalin?” candanya sesaat setelah kami mulai membuka buku.

“Yee.. Isu tuh?” jawabku.

Aku bilang itu karena aku memang belum punya pacar.

“Gimana mau punya pacar. Bokap nyokap aja udah wanti-wanti untuk nggak pacaran sampai aku lulus SMA,” tambahku sambil terus belajar.

“Alaahh..! Kamu kan pacaran sama Yenni,” candanya lagi.

Yeni adalah cewek terjelek di kelasku. Badannya gemuk, hitam, dan giginya tonggos. Tapi walaupun begitu gayanya tetap sok gaul. Rambut di bikin punk dan ngomongnya dimesra-mesrain. Wiihh..! Siapa yang bakal mau sama dia.

“Enaakk aja lo!” jawabku dengan tawa berderai.

Dia pun ikut tertawa.

“Alah ngaku aja Wa, jangan malu!” katanya tetap menggodaku sambil tertawa terbahak-bahak.

“Lu tega amat sih? Suer kagak. Busyeett deh! Kayak nggak ada cewek lain aja.”

Mungkin dia lagi ingin becanda, dia tetap menggodaku pacaran dengan Yeni. Aku pun tetap saja mengelaknya. Sampai akhirnya dia bilang,

“Atau kamu pacaran sama Reka?” tawanya berderai saat bilang Reka.

Reka sama parahnya dengan Yeni.

“Eh Sa..! Kamu kalau godain lagi dicium nih!” kataku sambil menunjukkan mimik serius.

“Siapa yang takut..! Weekkss,” katanya sambil menjulurkan lidahnya.

Langsung kucium pipinya sekilas dan aku kembali lagi ke tempatku. Oh Tuhan apa yang aku lakukan! Bagaimana kalau dia melaporkan ke orangtuanya. Aku terdiam, dia pun terdiam sambil mata kami saling bertatapan. Kami terus diam sampai sekitar semenit.

Tiba-tiba dia bilang, “Cantik mana Wa, Reka atau Yeni? Hihihihihiihi..!” dia berkata sambil terkekeh-kekeh. Ternyata dia menggodaku lagi. Aku langsung meloncat ke arahnya. Aku gelitik pinggangnya dan kami berguling-guling di atas tempat tidurku. Aku terus menggelitiknya, dia pun menggeliat-geliat menahan gelinya. Kami terus tertawa terbahak-bahak sampai tiba-tiba kami terdiam dengan nafas terengah-engah. Ketika kami sadari, badanku ternyata sedang menindih badannya. Pahanya terbuka dan pinggulku berada di antara selangkangannya. Tangan kananku masih memegang pinggangnya, sedang tangan kiriku bertumpu pada kasur. Kami terdiam ketika menyadari posisi kami. Nafas dia yang lembut terasa di wajahku.

Kuberanikan diri memajukan wajahku dan kukecup sekali. Kulihat dia memejamkan matanya. Lalu kucium lagi kali ini disertai dengan lumatan pada bibirnya. Dia awalnya diam saja, tak lama dia membalas lumatan bibirku. Kami berpagutan cukup lama. Rasanya nikmat sekali. Kucoba menurunkan tangan kananku untuk meraba susunya. Terasa kenyal di telapak tangan. Kuremas-remas dan kuputar. Dia mendesah sambil terus mencium bibirku. Lalu tangannya dilingkarkan ke leherku. Sambil masih terus berciuman tangan kananku kuturunkan lagi untuk membuka ikat celana piyamaku. Celana piyamaku turun sampai sepaha. Tentu saja mudah melakukannya, tapi untuk melepaskan celana dalam, aku tak mau karena berarti aku harus melepaskan posisi kami sekarang. Rasanya terlalu indah untuk dihentikan. Akhirnya kukeluarkan kemaluanku melalui bagian pinggir celana dalamku. Kutarik-tarik sedikit agar lebih longgar.

Kami terus berpagutan, bibir kami tetap saling melumat. Tangan kananku kuusapkan ke pahanya, kunaikkan celana piyamanya ke atas, terus ke atas hingga kurasan tanganku menyentuh gundukan di antara selangkangannya. Oh Tuhan! Itu pasti kemaluannya. Terasa tebal dan basah. Dia melenguh lagi. Lalu kusingkapkan sisi celana dalamnya. Kutarik paksa ke sisi yang lain, hal ini agar bibir kemaluannya terbuka dan tidak terhalang. Setelah pasti tidak akan terhalang lagi dengan celana dalamnya, aku memegang pangkal batang kemaluanku. Kudekatkan batang kemaluanku ke arah lubang kemaluannya. Saat melakukan itu semua kami masih berciuman.

Kugesek-gesekkan kepala kemaluanku ke bibir kemaluannya. Rasanya nikmat sekali. Badan Rosa agak naik ketika aku melakukannya. Saat itu kami masih terus berciuman. Ciuman kami makin ganas. Lidah kami saling bertemu. Karena tidak tahan untuk bersetubuh, kuletakkan kepala kemaluanku di tengah bibir kemaluannya. Kutekan sedikit pantatku ke depan. Merasa batang kemaluanku akan masuk ke lubang kemaluannya, Rosa berkata pelan seperti berguman, “Wa..! Jangan Wa..!” katanya sangat pelan sambil terus berciuman. Sepertinya dia tidak sungguh-sungguh menyuruhku berhenti.

Aku pura-pura tak mendengarnya. Kutekan pantatku ke depan. Susah sekali memasukkan batang kemaluan ini, kugeser letak kemaluanku agak ke bawah bibir kemaluannya. Pelan-pelan kutekan lagi pantatku, kali ini tiba-tiba terasa ada sesuatu yang mengulum kepala kemaluanku. Oh Tuhan! Rasanya luar biasa nikmat. Batang kemaluanku seperti diremas-remas. Dada Rosa terangkat ke atas dan kepalanya didongakkan ke atas. Hal ini membuat kami berhenti berciuman. Maka kuarahkan bibirku pada lehernya. Kucium lehernya yang putih dan harum.

Kutekan lagi pantatku, perlahan-lahan batang kemaluanku masuk semuanya. Aku hanya bisa memejamkan mataku menahan pijatan rongga kemaluan Rosa di seluruh batang kemaluanku. Lalu kumaju-mundurkan pantatku berulang-ulang. Batang kemaluanku keluar-masuk melewati bibir kemaluan Rosa. Kuperhatikan reaksi yang dilakukan Rosa dan Ibuku agak berbeda. Rosa hanya mendongakkan kepalanya dan menggigit bibirnya sendiri dengan mata terpejam. Sedangkan Ibuku menggeleng-gelengkan kepalanya kiri kanan, dengan pantat ikut naik turun dan mulut yang tak henti merintih.

Bersambung ke bagian 02

Tags : cerita 18sx, cerita sex, cerita sexs, cerita seks, foto bugil, mahasiswi bugil, ngentot, memek, cewek telanjang, cewek 17 tahun,17 tahun forum,gadis 17 tahun,tante girang bugil,gadis bugil abg, galeri gambar cewek bugil, cewek bugil, galeri artis bugil

Add a comment 22 April 2010

Cerita 18sx – Rena Gadis SMU yang Mengairahkan

Pembaca sekalian perkenalkan nama ku Roy sampai sekarang aku masih melanjutkan kuliah di sebuah universitas di Magelang.

Umur ku masih 20 tahun. Cerita ini berawal ketika aku dan teman ku Ronald, Jefry dan rudi yg senang bermain game online ataupun sekedar bermain internet, membuka sebuah game centre dan warnet yg terletak di daerah Magelang utara. Pada dasarnya sih kami membuka usaha itu cuman iseng-iseng aja. Yah dari pada nga ada kerjaan ataupun malah menghabiskan uang untuk main game atau main internet di tempat lain, mendingan buat sendiri toh bias nambah nambah uang buat jajan dan beli rokok.

Belum lama usaha kami buka, kami seperti setengah kaget dan senang.

Bagaimana kami tidak senang, kebanyakan user kami adalah cewek-cewek SMU dengan postur tubuh yg sangat mempesona, bahkan bisa di ibarat kan buah apple yg siap di petik. Dan juga masih banyak gadis-gadis muda yg main ke tempat kami. Dengan keramahan teman-teman yg selalu sopan dan romantis dalam melayani pelangan, yah kami memang cukup professional. Bahkan postur tubuh kami dah wajah kami juga cukup lumayan mungkin itu juga salah satu factor yg membuat mereka tertarik untuk selalu datang berkunjung.

Di antara gadis-gadis yg masih segar itu ada satu yg sangat istimewa di mataku dan teman-temanku. Nama nya Rena dia cukup cantik, bukan hanya cantik, luar biasa mungkin dan istimewa tentu nya. Terkadang dia datang dengan Karina, Monica dan Cindy teman-teman rena yg juga tidak kalah cantik, tapi lebih istimewa Rena tentu nya.dan akhir nya suatu kesempatan, dia datang sendiri ke tempat kami. Ketika dia baru duduk aku sapa,

”loh temen nya mana Rena”,

dia hanya menjawab,

“dah pada balik, pada mau les katanya”.

Lalu aku berbalik ke mejaku dan berusaha mencuri-curi untuk sekedar melihat lekuk tubuh nya dari balik monitor computerku.

15 menit sudah aku memandang nya, eh dia membalas pandangan ku,

aku kaget juga jangan-jangan dia marah, eh dia malah tersenyum.

Karena penasaran dia sedang apa aku mencoba melakukan remote anything ke computernya, yah kami biasanya menyebutnya dengan kata-kata SPY, gitu deh bahasa gaulnya.aku kaget juga setelah tau bahwa dia membuka situs-situs yg berhubungan dengan sex dan pornografi. Mukaku memerah, entah suka atau benci, tp yg jelas kaget sekali. Dengan nekat kucoba mendekati computernya, lalu kutanya dia,

“hayooooo Rena lagi buka apa”,

Karena tanpa persiapan dia langsung kelabakan seperti di anak ayam kehilangan induk nya dan dengan cepat dia menutup kolom situs-situs tersebut. Tapi dengan cepat aku menjawab,

”nga papa lah ama gue ini, nyantai aja lagi”.

Langsung saja muka dia memerah, entah malu atau takut.

lalu dia menjawab,

“emang nya tadi Roy liat Rena lagi buka apa?”, tanyanya.

“liatlah, nga perlu ke sini juga Roy bias liat dari computer roy “,

jawab ku sambil mengedipkan mata, lalu dia tertawa kecil dan tersenyum manis seperti gadis yg masih polos. Lalu dengan cepat aku tidak menyia nyiakan kesempatan ini aku langsung berkata,

“mau di temenin nga Rena biar Roy cariin situs2 yg lebih bermutu”.

Dia diam sejenak lalu menjawab,

“ya udah Roy duduk di sebelah Rena aja”,

katanya lembut penuh arti.

Waduh bakalan seru nih batin ku, untung aja temen-temen ku yg lain pada bermain basket di dekat situ, jadi semuanya lancar tanpa hambatan. Kami sempet ngobrol sejenak, dan dari situ ku ketahui bahwa dia anak pejabat di kota ini, dalam batin ku aku berkata wah ternyata anak pejabat neh.

Lalu mulai kucarikan dia situs situ porno yg belum pernah dia lihat,

kulihat raut muka nya berubah seperti cacing kepanasan tangannya tak bisa diam, aku lihat dia sangat terangsang dengan gambar-gambar dan video yg aku carikan lewat internet. Wah cepet honey dia batinku,

lalu tak kubiarkan dia hanya melihat saja, lalu aku berbisik,

“Ren dari pada liat, punya ku nganggur neh, kan sayang klo di diemin”, ia kaget kukira dia marah.

Eh ternyata dia malah lansung memegang senjataku yg dari tadi sudah on ketika aku duduk di sebelah nya, kontan saja aku kaget dan senang. Lalu dengan cepat aku juga merangsang dia dengan memegang payudara yg sangat indah itu dari belakang.

Untung warnet lagi sepi batinku dalam hati, aneh nya saat itu tak ada satupun pelanggan yg datang, yah mungkin di karenakan hujan yg cukup deras. Kulihat dia kurang puas memegang senjataku jika terhalang oleh celana pendek ku, lalu dia mencoba memelorotkan celana ku hingga batang kemaluan ku bisa dalam posisi enak untuk di kocok oleh tangan nya yg lembut itu.dan dia berkata,

“Roy punya kamu gede juga ya”,

Aku hanya terdiam.

Tanpa sadar aku sangat menikmatinya,

hingga aku hampir berteriak “ah uchhhh ahhh terus Ren” lalu Rena dengan cepat menutup mulutku dengan ciuman bibir nya yg lembut dan sangat sensual itu. Wah untung sepi coba klo banyak orang tadi di sini bakalan berabe batin ku. Setelah dia puas dia mencium bibirku,

dia melanjut kan dengan menciumi kemaluan ku, sungguh luar biasa gadis anak pejabat yg masih polos ini melakukan hal-hal dalam sex yg sangat mengairahkan.

Aku di buat sangat puas oleh nya bahkan aku dibuat tak berdaya,

10 menit kemudian aku mengangkat kepalanya dan aku bisikan mesra di telinga nya, Ren gantian masak kamu terus yg muasin aku kamu kan belom puas, dia tersemyum pertanda iya. Langsung saja aku puaskan dia di antara sekat-sekat yg menjadi pembatas di antara computer computer di warnet ini. Dia kulihat sangat menikmati permainan ku,

aku mencoba sedikit membuka baju nya untuk melepas Bh nya.

Karena kami melakukan nya di tempat umum aku mencoba untuk menahan diriku untuk tidak mencoba menelanjanginya, sehingga aku tetap merangsang payudaranya di balik seragam sekolah nya, tanpa bisa melihat payudaranya yg berukuran 34 b itu. Dia terdengar mendesah lembut dan sangat sexy,

“ah ah..u ah..hhhhhh.ahhhhh” terdengar dari mulut nya.

Berkali kali ku pilin putting nya dia mengelinjang hebat sekali,dan merancau tidak karuan.

”ah uh. roy terus sayanggggg…royyy…ahhhhhh”.

Setelah merangsang buah dada nya aku langsung mencoba mengelus vagina nya dengan jari ku, karena dia memakai rok SMUsehingga tidak sulit untuk melakukan nya.Kurasakan vagina nya sudah sangat basah di karenakan rangsangan ku di buah dada nya tadi, bulu-bulu kemaluanya juga kuraba, wow sangat rapi batin ku. Aku berusaha tidak memasukan jari ku ke vagina nya karena dia masih perawan.

Kucoba merangsang dia lewat gesekan-gesekan lembut di tangan ku,

kurasakan badannya kejang dan keringat keluar dari seragam sekolah nya yg tanpa memakai Bh itu.

Dia berulang kali mendesah,

“Roy ampunnNn Roy sayang YUyy nikmatttTTttt………”.

Padahal itu Baru kugesek dengan tangan bagaimana klo kumasukan senjataku ke dalam vagina nya batin ku.

Setelah 10 menit melakukan itu dia berteriak.

“ahhhhHH..hhhhh SSSshhhhhh”,

dan seketika itu juga dia mengalami orgasme pertamanya.

Kemudian dia terkulai lemas di pelukanku, sambil membelai dia aku membenarkan posisi celanaku dan dia juga mencoba membenarkan letak posisi seragam dan rok nya itu.

Lalu aku mengambilkan air minum untuk dia lalu berkata,

“yah gitu aja dah jebol gimana klo ML bisa-bisa Rena nga bisa bangun 2 hari gara-gara kehabisan stamina dong”. Candaku.

Lalu dia menjawab,

”eh enak aja kan tadi baru training, jadi ya butuh pelatihan dolo kayak tadi”.

Aku hanya tertawa kecil, eh malah dia langsung bilang Roy mau njarain Rena yang lebih expert lagi nga, klo mau abis ini aja kita pergi mau nga tanya nya. Sejenak aku berpikir tapi langkah langkah kaki datang menuju tempat itu dan kulihat wajah wajah teman-teman ku muncul, diantaranya Ronald, Jefry dan Rudi.

Langsung saja kusapa,

“abis basket kalian”,

dengan tersenyum Jefry hanya menjawab,

”dari pada ngurusin basket mendingan ngurusin Rena”.

Mereka pun semua tertawa dan kulihat Rena juga tersenyum nakal dan berusaha menunggu jawabanku. Lalu setelah teman-teman ke belakang aku bisikan ke telinga Rena ya udah tar gue ajarain yg lebih hot lagi ya, Rena tersenyum dan aku pergi berkemas untuk pergi bersama dengan rena.

Setelah itu kami pergi dengan meminjam mobil milik Ronald.

Dalam perjalanan aku bertanya,

“mau kemana ini Ren”,

dia menjawab.

”di rumah Rena aja kan Papa Mama sedang pergi ke Jakarta kak Adi sedang ke Jogja”,

aku kaget dan berkata,

”bener nih di rumah mu”,

“iya bener” katanya.

Setelah kami sampai di rumah nya aku kaget juga dengan rumah nya yg besar seperti istana itu wah gede banget rumah nya dan juga indah.

Setelah memarkir mobil ku aku di bimbing Rena untuk masuk ke rumah nya.Wah tampak nya dia terlihat tidak sabar.

Lalu aku menunggunya mandi sambil nonton tv dan menikmati hidangan yg sangat enak, kayak Raja nih batin ku.

Setelah dia selesai mandi, ia menghampiri ku hanya dengan memakai handuk yg dia balutkan di tubuh nya, ketika melihat nya,

tenggorokanku seperti tidak dapat menelan kue-kue yg tadi aku makan, dan dengan segera Rena mengambil jus jeruk yg ada di meja kamar nya lalu meminumnya, setelah itu mencium bibir ku dan mengalirkan jus jeruk yg telah dia minum tadi seolah-olah induk yg memberikan makan anak-anak nya.

Setelah itu dia membuka handuk nya yg tadi membungkus tubuh nya yg putih mulus dan sexy itu. wah payudara nya benar-benar luar biasa kencang dan besar, tak kusangka anak SMU kelas tiga sudah sematang, bulu-bulu halus yg ketika di warnet tadi aku pegang, aku bisa melihatnya dengan jelas. Sungguh pemandangan yg luar biasa.

Tanpa segan-segan lagi dia memintaku untuk men servicenya.

Dia berkata,

”ayo kok malah diem katanya mau ngajarin”,

ucapnya,

aku berkata kamu

“kamu cantik banget Ren tubuh mu juga sexy”.

Tanpa menunggu dia bicara langsung saja kubenamkan kepalaku di payudaranya itu dan mencoba untuk merangsang salah satu bagian sensitife itu, lalu dia mulai mendesah seperti tadi,

“ah OuchHhh uhhhhhh Ahhhhhh……..”,

dia sangat menikmatinya bahkan sesekali dia menjambak rambut ku,

kulihat payudaranya sangat kencang dan kenyal sekali sesekali aku meremas-remas nya dan aku pun juga sangat menikmatinya, payudara yg indah. Lalu kuteruskan dengan menciumi bagian kewanitaan nya,

dia terlihat memejamkan mata sangat menikmatinya, dan dia meremas remas payudaranya sendiri mencoba merangsang tubuh nya sebaik mungkin. ketika clitoris nya ku hisap-hisap dia sangat kewalahan dan berteriak-teriak,

“roy aduhh Enak ah ouchhhh ahhhHh uhh”.

5 menit kemudian, giliran dia merangsang diriku.kulihat dia mengocok penisku dengan lembut dan menghisapnya bagaikan permen lollipop yg sangat manis,

“ohh ahhhhhhh hahhhh”,

aku sangat menikmatinya, dia menjilati batang kemaluan dan tidak ketinggalan buah zakar ku juga ikut dia hisap.

Aku sudah tak bias berkata apa apa lagi selain menikmati permainanya. Ketika aku hampir memuntahkan laharku aku mencoba melepaskan senjataku dari hisapan nya dan gengamannya, lalu kubaringkan dia diranjangnya dan aku berbicara mesra,

”tahan ya sayang, pertama-tama sakit tp nanti juga enak kok”,

kataku. Dia mengangguk pertanda iya. Kucoba membobol vagina nya ternyata sangat sulit, pada usaha pertama melesat dan setelah ku

oleskan kream di vaginanya, pada usaha ketiga aku berhasil memasukan separo penis ku ke dalam kemaluannya.

Dia menjerit kesakitan,

“Royy sakitT Royyyyyy ampunnNnNnnnnn”,

jerit nya, tapi aku tetap melakukannya dan bless seluruh batang kemaluan ku sekarang berada di dalam nya bersamaan dengan percak-percak darah keperawanannya.

Kubiarkan diam sejenak supaya vaginanya terbiasa menerima kehadiran benda asing itu, setelah kurasakan vaginanya bisa menerima penisku, kucoba menarik maju mundur.

Jeritan sakit yg tadi dia ucapkan berganti dengan desahan-desahan wanita yg sedang mengalami persetubuhan yg sangat nikmat.dan tidak henti-henti nya dia selalu mendesah dan setengah berteriak.

“ah terus Roy Sayang kocok terus bikin Rena puas ah ouchhhhh shhhhh terus kocok jangan berhenti sayangggg… “,

rancau nya, aku juga sangat menikmati denyutan-denyutan di dalam vaginanya itu, gerakan menghisap yg sangat nikmat sekali di alami oleh penis ku kemudian aku membalikan posisinya supaya kami bisa melakukan doggy style.

Lalu ku suruh dia berdiri dan bersandar di depan kaca meja rias nya dan kumasukan senjataku dari belakang sehingga aku bisa menikmati keindahan tubuh nya dan payudaranya serta paras cantik wajahnya dari kaca tersebut.

15 menit kejadian itu berlangsung ku dengar dia berteriak,

“ahhhh roy aku keluarrrrrrrrrrr…….”,

oh tampak nya dia baru saja mendapatkan orgasme pertamanya.

Kucabut penisku dari dalam vaginanya dan membiarkan Rena istirahat sebentar.

Setelah cukup istirahat.dia mengajakku untuk melanjutkan nya di kamar mandinya yg seperti kolam renang itu karena sangat luas.

Kontan saja Karena terburu nafsu aku langsung tancap gas dan segera memasukan penis ku ke dalam vagina nya yg merah merekah itu.

aku sangat menikmati guyuran shower yg membasahi tubuh kami,seolah-olah membasahi jiwa yg kekeringan akan kehausan sex.

Rena terus merancau dan akhirnya aku sangat merasakan kenikmatan yg luar biasa, penis ku yg dari tadi di sedot kurasakan sangat membengkak dan mencapai klimaks sampai ubun-ubun rasanya,

aku berteriak,

“Rena aku mauuuuuuu keeee luuu arrrrrrrrrrrrrrrrrr mauuu diii kelluariinnn dii mannna.jeritku menahan nikmat”,

dia sambil ngos-ngosan bilang

“di dalam ajjjaaaaa”,

lalu aku berkata,

“ nga papa rennn”,

rena menjawab,

“laggiii masaaaaaa tiiiidakkk suburrrrrr”,

dan rena juga tampak merancau lagi dan berteriak,

“yaaaa uuu daaa hhhhh kii taaa ssssaaammaa saaammaaaaaaaaaaaaaaaa”.

Aku tak dapat menahan lagi dan jebolah pertahananku kusemburkan maniku di dalam vaginanya dia juga tampak mencapai orgasme keduanya.

Setelah itu dia masih menjilati kemaluanku dan membersihkan sisa-sisa

maniku, lalu kami mandi bersama.

Setelah selesai aku pamit pulang, aku pamit dengan mengecup kening Rena dan berkata pelajaran nya udah cukup kan, dia hanya tersenyum dengan lembut sungguh seperti gadis yg sangat polos dan berkata ,

“Roy besok kesini ya ajak Ronald, Jefry ama Rudi, jangan lupa loh “.

Aku cukup bingung kok ngajak yg lain segala ya batin ku.

Lalu selepas jam 6 malam esok nya kami ber 4 berkunjung ke rumah rena. Betapa kaget nya kami ketika di sana kami di sambut dengan mesra oleh keempat gadis yg sangat cantik di antaranya Karina,

Monica, Cindy dan Rena tentunya, lalu tanpa basa-basi lagi mereka berkata.

“wah wah kak roy jahat kok kita kita kemaren nga di ajak sech yg di ajak cumin Rena aja,nga suka ya ma kita kita “,

kontan saja aku sendiri kaget.

Dan teman temanku juga ikutan binggung,

lalu tanpa rasa malu rena

“menjawab roy kemaren ma aku ML loh”.

Aku kaget kenapa dia membuka rahasiaku tapi sebelum aku sempat bicara rena menjawab

“jadi hari ini Ronald, Jefry ama Rudi ngajarin Karina , Monica and Cindy, terus Rena tentunya ama roy dong”,

katanya.

Tentu saja teman- teman ku nga jadi marah malah jadi senang, alu aku berkata dalam hati wah rejeki mereka juga neh. Lalu kami pergi ke daerah Kaliurang dah menyewa sebuah villa di sana dan melewati hari dan malam penuh akan nafsu, gairah dan kehausan akan sex.

Dan sampai sekarang jika ada waktu kami masih melakukan nya baik di kamar mandi warnetku, di rumah Rena, di hotel atau villa.

Bahkan sekarang banyak pelanggan wanita ku menjadi kekasih ku hanya untuk semalam/one night stand.begitu juga dengan teman-teman ku Ronald, Jefry dan Rudi mereka juga kalang kabut menerima order dari para wanita yg kesepian. Tapi atas dasar suka sama suka, maaf kami bukan Gigolo.

Sekian kisah ku lain kali aku lanjut kan dengan kisah ku dengan para pelanggan net ku , wilda, ima, susy dan masih banyak lagi, baik itu pengalaman sex party ataupun one on one

END

Tags : cerita 18sx, cerita sexs, cerita seks, foto bugil, mahasiswi bugil, ngentot, memek, cewek telanjang,telanjang gadis indonesia, bunga citra lestari telanjang, telanjang bulat, cynthiara alona telanjang, tante girang telanjang, ayu anjani telanjang, dewi persik telanjang, telanjang artis indonesia, artis bugil telanjang, youtube artis bugil,dewa dewi bugil telanjang ngewe, foto cowok telanjang, inul telanjang, telanjang centil, 4 penyanyi dangdut telanjang, cewek cantik telanjang, cewek smu telanjang, cewek telanjang cantik, chika telanjang, foto dewi telanjang, foto telanjang neng kartika, gadis bandung telanjang,gadis indonesia bugil telanjang abg bugil,gadis pontianak telanjang,gambar telanjang cewek cantik

Add a comment 21 April 2010

Halaman

Kategori

Tautan

Meta

Kalender

September 2014
S S R K J S M
« Jul    
1234567
891011121314
15161718192021
22232425262728
2930  

Posts by Month

Posts by Category

 
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.