Posts tagged ‘cerita sex ‘




Cerita 18sx – Maaf Bu…, Maaf! 02

Sambungan dari bagian 01

Pengalaman mimpiku yang kedua kalinya tidak kuceritakan kepada suamiku karena aku merasa malu mempunyai imajinasi seksual semacam itu. Akan tetapi selanjutnya mimpiku itu semakin sering muncul terutama apabila suamiku tidak berada di tempat dan aku tidur sendirian. Bahkan dalam pengalaman mimpiku belakangan ini aku merasa hal itu bukan lagi suatu mimpi, karena aku yakin dan sadar pada waktu itu aku belum tertidur mengingat waktu baru saja menunjukkan pukul sepuluh malam. Aku sedang bergolek di tempat tidur dan telah memakai baju tidurku tanpa BH. Dalam keadaan seperti itu, entah bagaimana mulanya tiba-tiba saja aku merasakan adanya suatu rangsangan birahi yang hebat dalam diriku kemudian disusul pada bagian liang kewanitaanku kurasakan berdenyut sedemikian rupa seperti ada sesuatu yang menerobos ke dalamnya. Rasanya persis sekali seperti rasa alat kejantanan seorang laki-laki ketika memasuki liang senggamaku.

Selanjutnya aku pun merasakan ada sesuatu yang bergerak dalam liang kenikmatanku membuat suatu gerakan mundur maju yang teratur sebagaimana lazim yang dilakukan oleh orang yang sedang bersanggama. Anehnya apabila sudah demikian, aku menjadi tidak sadarkan diri dan tenggelam dalam suatu keadaan histeris yang luar biasa. Kemudian di luar kesadaranku itu aku terus mengikuti gerakan tersebut sambil menggoyang-goyangkan pinggulku sampai akhirnya aku merasakan orgasme yang hebat dan hal itu dapat terjadi sampai berkali-kali. Anehnya pula ketika aku terbangun di pagi hari, kudapati juga diriku tertidur tidak tanpa BH saja namun juga aku tidak mengenakan celana dalam.

Setelah mengalami beberapa kali kejadian tersebut, aku bertambah heran bercampur dengan rasa khawatir. Oleh karena itu apabila suamiku tidak berada di tempat aku meminta salah seorang pembantuku untuk menemaniku tidur. Dia tidur di lantai dengan menggelar kasur sedangkan aku di tempatku seperti biasa. Pada mulanya keadaannya biasa-biasa saja, tidak pernah terjadi hal-hal yang aneh maupun lainnya, akan tetapi setelah beberapa malam pembantuku tidur bersamaku, pada suatu pagi pembantuku yang kebetulan telah berumur bercerita.

“Neng, semalam Bibi takut sekali”, katanya.

“Kenapa Bi?” kataku mulai curiga.

“Begini Neng, semalam itu Bibi rasanya tidak dapat tidur. Dada Bibi sesak sekali dan tidak bisa bernafas. Ketika Bibi bangun rupanya ada bayangan yang sedang menindih tubuh Bibi. Bayangan itu besar sekali dan rasanya dia ngomong kepada Bibi agar tidak tidur di situ lagi karena mengganggu hubungan suami istri. Terus Bibi tanya.. mengganggu suami-istri siapa, kan saya bukan istri di situ! Dia tidak menjawab Neng, tapi dada Bibi terus didudukinya sehingga rasanya tidak dapat bernafas. Mulanya Bibi kira Bibi mimpi, tapi kok rasanya tidak karena Bibi betul-betul tidak dapat bernafas, terus Bibi baca-baca ayat seadanya sampai bayangan itu pergi.”

“Ih ngeri sekali Bi”, kataku menutup-nutupi ketakutannya.

“Begini Neng, Bibi kira sebaiknya Neng tanya orang pinter saja, siapa tau ada yang mau mengganggu. Maklumlah Bapak kan orang penting di sini”, kata pembantuku selanjutnya.

“Saya pikir betul juga Bi, akan tetapi saya tidak tahu siapa yang bisa begitu”, kataku.

“Nanti Bibi coba tanya guru spiritual Bibi, siapa tahu dia bisa”, kata pembantuku yang memang telah agak berumur dan orang asli daerah itu.

Setelah beberapa waktu pembantuku membawa ibu guru spiritualnya yang kebetulan juga penduduk asli daerah itu. Setelah dia merenung dan mulutnya komat-kamit, dia berkata bahwa gangguan itu datang dari bangsa jin. Akan tetapi dia tidak tahu jin dari mana karena dia tidak kuat untuk berkomunikasi dengan jin tersebut. Dia menyarankan agar aku meminta tolong kepada seorang ahli kebatinan yang agak kuat. Dia kenal seorang ahli kebatinan yang biasa menolong orang sakit yang terkena gangguan mahluk halus, terutama para ibu rumah tangga yang mempunyai masalah dengan suaminya.

Demikianlah pada suatu sore ahli kebatinan yang bernama Pak Zein, datang ke rumahku. Kebetulan pada saat itu suamiku sedang tidak berada di tempat karena dinas ke Jakarta. Ketika aku menemui Pak Zein tersebut, aku agak kecele. Karena pada mulanya aku bayangkan akan bertemu dengan seorang tua yang keriput, berambut penuh uban dan mungkin berjenggot putih serta memakai sorban di kepalanya sebagaimana ahli-ahli kebatinan yang pernah kulihat di layar putih. Akan tetapi rupanya bayanganku amat berbeda sekali. Pak Zein orangnya masih muda berumur kira-kira tiga puluh tahun dan berpenampilan seperti pemuda masa kini.

Pada saat itu dia memakai celana jeans dengan kemeja kotak-kotak sehingga penampilannya jauh sekali dari penampilan seorang ahli kebatinan. Melihat penampilannya itu aku menjadi agak ragu-ragu walaupun dari wajahnya tercermin bahwa dia itu seorang yang terpelajar dan cerdas. Untuk tidak membuatnya tersinggung kuajak bicara juga dan berbasa-basi menceritakan soal bayangan yang dilihat oleh pembantuku. Aku tidak menceritakan masalah mimpiku itu sama sekali. Hal itu juga aku lakukan baik kepada pembantuku maupun kepada ibu guru spiritual pada waktu dia membantuku dahulu.

Setelah selesai kuceritakan pengalaman pembantuku, Pak Zein terpekur sejenak kemudian dia mulai berkata kepadaku.

“Bu, setelah saya kontrol secara batin akhirnya saya dapat juga berkomunikasi dengan bayangan itu. Bayangan itu sebenarnya memang sebangsa makhluk jin. Jin itu dahulu merupakan peliharaan seseorang akan tetapi sekarang sudah dilepas karena mempunyai kelakuan yang tidak senonoh sehingga kini dia berkeliaran tanpa tuan”, katanya.

“Jadi maksud Bapak bayangan itu memang benar-benar ada?” tanyaku agak ketir-ketir.

“Betul Bu, jin tersebut berada di sekitar sini dan sering melewati rumah Ibu setiap hari Rabu malam Kamis”, balasnya menerangkan.

Aku agak merenung sejenak. Aku ingat-ingat setiap kejadian mimpiku itu memang selalu bertepatan pada setiap hari Rabu malam Kamis. Kini aku mulai agak yakin akan kemampuan Pak Zein. Oleh karena itu dengan agak antusias aku mulai gencar bertanya.

“Persisnya dia ada di mana Pak?” aku bertanya.

“Dia sekarang tidak mempunyai tempat, karena diusir oleh tuannya yang dahulu memeliharanya.”

“Oo ya.. jadi jin juga bisa dipelihara..? Barangkali enak juga ya Pak! Mungkin bisa disuruh-suruh.. cuci piring atau apa saja”, kataku menyeletuk.

“Maaf Bu.. maaf, jin ini agak nakal, dia diusir berhubung suka berbuat hal yang tidak senonoh dengan istri tuannya dan sifat itu rupanya sudah merupakan pembawaan jin itu sejak kecil.”

“Perbuatan tidak senonoh yang bagaimana?” tanyaku.

“Maaf Bu.. kalau saya berkata terus terang. Jin itu suka menzinahi istri tuannya.”

Mendengar keterangan Pak Zein tersebut kini aku menjadi agak terkejut. Jadi selama ini aku telah dizinahi oleh jin sampai berkali-kali.

“Jadi hal yang dialami si Bibi itu sebenarnya bukan pokok masalahnya”, katanya selanjutnya, “Ketika saya tanya lagi masalah yang sebenarnya itu apa, jin itu menjawab bahwa dia merasa terganggu dengan adanya si Bibi di situ karena dia tidak bisa melepaskan hasratnya. Ketika saya tanya lebih jauh lagi hasrat apa dan kepada siapa, dia menjawab sebenarnya selama ini.. dan sekali lagi.. maaf ya Bu.. katanya sebenarnya selama itu dia telah sering melakukan hubungan suami-istri dengan Ibu sendiri.”

Aku benar-benar terkejut ketika mendengar pendapatnya. Aku kini menjadi lebih yakin bahwa Pak Zein itu memang seorang ahli kebatinan yang pandai dan dia dapat melihat hal yang tidak diketahuinya sebelumnya secara benar. Karena masalah mimpiku itu tidak pernah kuceritakan kepada siapa-siapa, kecuali kepada suamiku dan itu juga hanya sekali pada saat permulaan aku merasa bermimpi.

“Secara terus terang memang sebetulnya saya sudah beberapa kali bermimpi melakukan hubungan suami-istri dengan seseorang.. tapi hal yang saya alami itu saya kira bukan apa-apa melainkan hanya sebuah mimpi saja. Saya tidak tahu bahwa hal itu ada hubungannya dengan jin. Jadi kalau memang betul begitu, bagaimana bisa terjadi dan mengapa jin itu memilih saya”, kataku.

“Begini Bu, hal itu dapat terjadi karena jin adalah juga mahluk yang hidup bersama-sama dengan kita menghuni planet bumi ini. Bahkan kehadiran jin jauh lebih dulu daripada manusia, tetapi dia hidup di alam dua dimensi, tidak seperti kita manusia yang hidup dalam alam tiga dimensi. Oleh karena itu sifat zatnya dapat berubah bentuknya sebagai apa saja sesuai dengan ruang dan waktu. Jin itu juga mempunyai komunitas sosial, berkeluarga dan bermasyarakat. Dia juga mempunyai ukuran batas umur, hanya bedanya dengan manusia usia jin sangat panjang sekali. Apabila jin yang dikatakan sudah dewasa dia kira-kira berumur tiga ratusan tahun. Sebagai mahluk, jin juga terkena hukum dan kewajiban sebagaimana manusia, karena mereka memiliki akal, nafsu dan kehendak yang bebas. Jadi jin juga mempunyai sifat-sifat maupun selera seperti manusia demikian juga selera birahinya.”

“Maksud Bapak..?” kataku agak heran.

“Seperti yang saya katakan pada permulaan tadi, jin itu dari kecil memang sudah mempunyai sifat yang jelek. Dia suka sekali kepada perempuan. Akan tetapi dia tidak bisa melakukan hal itu semaunya terhadap kaumnya sendiri, karena di situ dia akan mendapat sanksi dari pimpinan komunitasnya. Kebetulan dia dipelihara oleh manusia sejak kecil, maka menjelang dewasa dia tidak dapat menahan diri lagi dan mulai keluar sifat jeleknya. Mula-mula dia berzinah dengan istri tuannya dan hal itu menjadikan dia ketagihan sehingga dia terus mencari wanita-wanita yang bersuami yang dapat diajak berzinah.”

“Tapi seperti saya tanya tadi.. mengapa hal itu terjadi pada diri saya?” kataku selanjutnya.

“Pertama-tama mungkin penampilan Ibu sesuai dengan seleranya. Seperti yang saya katakan tadi, jin itu juga mempunyai selera birahi seperti manusia. Dia suka juga kepada wanita yang cantik dan berpenampilan seksi.”

Mendengar kata-kata Pak Zein itu aku menjadi agak tersipu-sipu. Kukira kata-katanya itu benar sekali karena boleh dikatakan parasku memang cantik dan bentuk tubuhku juga agak seksi. Buah dadaku masih terlihat segar dan kecang dengan ukuran yang agak besar sehingga sering membuat laki-laki berselera untuk menjamahnya.

“Akan tetapi hasrat jin kepada wanita yang tergolong mahluk manusia, tidak akan begitu saja kesampaian secara gampang”, kata Pak Zein selanjutnya, “Karena jin itu juga terikat dengan kaidah-kaidah hukum alam, dimana dia tidak dapat melakukan sesuatu sekehendaknya saja. Oleh karena itu ada kondisi-kondisi yang harus dipenuhinya sehingga dia dapat mencapai hasratnya. Salah satunya adalah biasanya wanita yang dizinahi oleh jin tersebut adalah wanita yang emosinya agak labil sehingga dia tidak mempunyai kekuatan batin. Kondisi lainnya adalah.. dan ini biasanya yang paling dominan.. jin tertarik kepada para wanita yang telah melanggar kesuciannya, karena bagi wanita itu sudah tidak ada pagar lagi yang membatasi dirinya sehingga dengan mudah jin itu masuk ke dalam pikiran dan jasmaninya.”

Aku agak terhenyak ketika mendengar penjelasan Pak Zein itu. Tiba-tiba saja dalam diriku berkecamuk berbagai perasaan, yaitu antara perasaan malu, takut dan penyesalan.

“Sekali lagi maaf Bu..” katanya selanjutnya, “Kalau tidak salah penglihatan saya, barangkali Ibu dahulu pernah berhubungan dengan laki-laki lain selain suami Ibu? Kalau boleh.. hal ini yang pertama sekali saya harus tahu?” dia bertanya.

“Eh.. eh.. memangnya kenapa Pak?” kataku agak gugup ketika mendengar permintaan tersebut. Aku heran mengapa dia tahu akan penyelewenganku dan hal itu bukan terjadi di sini melainkan nun jauh di sana di kota Jakarta. Sangat sukar sekali aku menjawab pertanyaannya itu karena hal itu berarti suamiku akan mengetahui penyelewenganku dahulu.

“Hal ini penting saya pastikan untuk pengobatan Ibu nanti. Karena apabila memang hal itu pernah terjadi maka dapat dipastikan masih ada sisa-sisa air mani laki-laki lain yang tertanam dalam tubuh Ibu dan itu telah menjadi satu dengan darah daging Ibu. Sisa-sisa air mani dari laki-laki lain yang bukan suami Ibu itulah yang mengundang jin sehingga dia berhasrat untuk menzinahi Ibu karena sisa-sisa air mani itu memudahkan dia untuk melangsungkan hasratnya. Seperti juga istri dari orang yang memelihara jin itu. Dia pernah menyeleweng dengan lelaki lain sehingga jin itu berhasrat minta bagian. Karena dengan adanya sisa-sisa air mani lelaki lain di tubuhnya jin itu sudah mendapatkan kondisi untuk dengan mudah melakukan hajatnya sebagai suami-istri kepada wanita itu.”

“Ya Pak..” jawabku dengan suara yang tersendat, “Memang saya pernah khilaf dahulu, saya pernah tidur dengan laki-laki lain, tapi tolong Pak.. suami saya sampai kini tidak tahu.”

“Baik Bu, saya akan memegang amanat ini, karena sudah menjadi sumpah saya waktu menerima ilmu ini dari guru saya bahwa saya tidak boleh menceritakan apa-apa kepada siapa pun mengenai masalah orang yang saya obati. Selanjutnya hal yang kedua yang saya perlu tahu, apakah waktu jin tersebut menzinahi ibu dia telah mengeluarkan air mani?”

“Saya rasa tidak pernah Pak..?” jawabku.

“Bagus kalau begitu, karena hal itu memang jarang sekali terjadi. Itulah bedanya antara jin dengan manusia. Apabila manusia begitu bersenggama dia akan mengeluarkan air mani, akan tetapi jin tidak. Karena umur jin relatif lebih panjang dari manusia maka hanya pada waktu-waktu tertentu saja dia bisa mengeluarkan air mani. Apabila dia mengeluarkan air mani hari ini misalnya, maka biasanya tahun depan dia baru bisa mengeluarkan lagi. Apabila jin itu mengeluarkan air mani di rahim manusia dan membenihkan janin maka orang itu akan mengalami penderitaan yang hebat, karena rahim manusia sesungguhnya bukan untuk anak jin, jadi rahim manusia secara normal tidak akan tahan mengandung anak jin. Apabila tidak ditolong oleh jin itu sendiri atau dengan kata lain apabila jin itu tidak mau bertanggung jawab atas kehamilan yang dibuatnya, maka wanita yang mengandung anak jin tersebut akan menderita bahkan bisa-bisa dapat meninggal dunia. Dalam ilmu kedokteran kasus ini biasanya diduga sebagai penyakit kanker rahim atau sejenis dengan itu, akan tetapi menurut saya sebenarnya bukan disebabkan oleh hal itu melainkan dikarenakan wanita itu tidak tahan mengandung anak jin sehingga rahimnya pecah.”

Aku semakin terkejut ketika mendengar kata-kata Pak Zein itu. Pikiranku segera bekerja keras mengingat-ingat keseluruhan kejadian yang kualami dalam mimpiku itu. Aku mengingat-ingat apakah selama itu jin tersebut pernah mengeluarkan air mani di rahimku. Tetapi aku merasa yakin bahwa selama aku dizinahi jin itu aku tidak pernah merasakan adanya air mani yang masuk ke dalam rahimku. Hal ini benar-benar dapat kuyakini. Karena walaupun hubungan itu kurasakan seperti mimpi, akan tetapi selama itu aku tetap dapat merasakan secara nyata adanya rabaan-rabaan di bagian tubuhku yang menimbulkan gairah birahiku serta aku juga dapat merasakan bagaimana alat kejantanan jin tersebut memasuki liang kewanitaanku. Demikian juga aku dapat merasakan betapa hangat dan istimewanya ukuran alat kejantanannya ketika memasuki tubuhku sehingga aku benar-benar terhanyut dalam gairah birahi yang hebat sampai aku mengalami orgasme berkali-kali.

“Hal yang ketiga yang perlu saya ketahui lagi..” katanya selanjutnya, “..adalah nama laki-laki yang pernah tidur dengan Ibu selain suami ibu sendiri. Ini sekali lagi maaf Bu.. bukan saya ingin mengada-ada, tapi memang perlu untuk pengobatan.”

Aku terdiam saja ketika mendengar permintaan ini. Hatiku ragu untuk menyebutkan nama karena aku khawatir dia akan kenal.

“Jangan takut Bu, percayalah saya tidak akan mencampuri urusan rumah tangga Ibu, sekali lagi saya katakan bahwa saya tidak boleh mengatakannya kepada siapa-siapa apalagi kepada suami Ibu mengenai hal dari orang yang saya tolong, karena apabila saya lakukan itu, maka ilmu saya akan luntur dan saya akan mendapatkan balasan sesuai sumpah saya pada saat saya menerima ilmu ini dari guru saya”, katanya seolah-olah membaca pikiranku.

Dengan suara yang agak perlahan aku menyebutkan nama temanku yang dahulu pernah mengajakku tidur bersama dan melakukan hubungan suami-istri.

“Begini Bu, saya harus menyiapkan bahan-bahannya dahulu dan baru kira-kira tiga hari lagi saya akan kemari. Ibu mesti saya sucikan dengan berlimau. Kemudian saya akan menaruh penangkal di badan ibu agar jin tersebut tidak lagi mendatangi Ibu”, katanya selanjutnya.

“Maksud Bapak saya harus berlimau, jadi saya harus mandi?” aku bertanya dengan agak ragu-ragu.

“Betul Bu, tapi tentu saja tidak telanjang bulat, Ibu nanti bisa pakai kain putih yang sudah saya persiapkan sebagai petilasan. Hanya saja yang penting seluruh badan Ibu harus tersiram air limau tersebut. Selanjutnya untuk memasang penangkal di badan ibu, saya mohon maaf dan keihlasan Ibu, karena saya harus masukkan sesuatu melalui aurat ibu, karena di situlah pangkal soalnya. Di samping itu saya harus mengambil sisa-sisa air mani dari lelaki itu yang kini sudah menyatu dengan darah daging Ibu”, katanya.

Aku tidak dapat berkomentar apa-apa lagi sehingga aku hanya mengiyakan saja apa yang dikatakan olehnya. Karena aku sungguh merasa sangat takut sekali akan akibat bersenggama dengan jin itu walaupun pada mulanya hal itu aku mau biarkan saja karena aku merasa telah mendapatkan suatu kenikmatan seksual yang sangat hebat sekali.

“Ada satu hal lagi Pak..”, kataku, “Apakah tidak bisa dilakukan segera, jadi tidak menunggu sampai tiga hari”, kataku selanjutnya, karena aku khawatir suamiku dua hari lagi akan pulang dan aku tidak mau dia mengetahui masalahku, apalagi dengan cara dimandikan segala.

“Tidak bisa Bu, karena itu termasuk hitungan hari untuk berpuasa”, jawabnya.

Bersambung ke bagian 03

Tags : cerita sex, foto ngentot, smu bugil, gadis indonesia, gambar bokep,cerita nafsu, nafsu seks, nafsu, nafsu liar, ya nafsu, dan nafsu, nafsu yang, nafsu gadis, dengan nafsu,gambar bogel, gambar bogel gadis melayu, gambar perempuan bogel

1 komentar 2 Juli 2010

Cerita 18sx – Tante Dewi

Kisah ini terjadi beberapa waktu yang lalu, saat saya masih kuliah, ini adalah awalnya kenapa saya lebih menyukai wanita yang lebih tua, mungkin karena mereka lebih matang dan berpengalaman dalam hal bermain sex, tetapi saya selalu berhati-hati dalam memilih wanita/Tante untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan. Nah! semoga para pembaca dapat menikmati cerita saya.

Saya bernama Andre (22 tahun) mahasiswa, sedang menyelesaikan mata kuliah terakhir dan bersiap untuk mengambil skripsi, karena hanya tinggal 2 mata kuliah yang masih harus kuperbaiki nilainya jadi aku sudah mulai jarang ke kampus, hanya seminggu 2 kali, sekarang aku akan mulai menceritakan kejadiannya.

*****

Matahari bersinar sangat terik hari ini aku ada kuliah, tetapi rasanya udara sangat panas, ruang kuliah yang biasanya sejuk menjadi terasa pengap.

“Wah enaknya selesai kuliah pergi ke Mall,” pikirku.

Setelah kuliah yang membosankan selesai, aku langsung berangkat ke Mall PondOk Indah,

“Seharian suntuk mendengarkan dosen berceloteh, tapi setelah berada disini, ahh.. rasanya segar sekali.”

Kunikmati berjalan-jalan di PIM dan tanpa terasa perutku sudah merasa lapar, aku berjalan menuju ke food court, setelah duduk dan memesan makanan, tiba-tiba mataku tertuju kepada 3 orang Tante yang berada diseberang mejaku.

“Sexy dan cantik juga,” pikirku.

Mataku tidak bisa lepas dari 3 Tante tersebut, terutama yang memakai baju ketat warna merah, kuperkirakan umurnya 35-40 th, tingginya kurang lebih 1.60, rambutnya dicat warna, dengan payudara yang besar serta pantat yang bulat ditunjang dengan tubuhnya sexy.

“Waduh jadi pusing kepala atas dan bawah, nih,” kataku.

Setelah selesai makan aku langsung menuju ke tOko buku karena takut tambah ‘pusing’, selesai membaca sebuah buku, aku ingin keluar dari tOko buku. Eh.. ternyata Tante-Tante yang tadi, mau masuk ke tOko buku juga, aku langsung mengurungkan niat untuk keluar dari tOko buku, kulihat Tante berbaju merah itu sedang mencari buku sedangkan teman-temannya sedang memilih buku tulis (mungkin untuk anak-anak mereka) kemudian kudekati Tante tersebut dengan sOk yakin.

“Halo Tante Mila apa khabar.”

Tante itu terkejut mendengar suaraku.

“Maaf ya, kayaknya kamu salah orang.”

Aku pura-pura terkejut, “Aduh maaf Tante, habis dari belakang persis kaya Tanteku sih.”

Kemudian Tante itu hanya tersenyum dan berkata,

“Tante atau Tante?”

Aku kemudian tersenyum dan langsung kualihkan pembicaraan,

“Lagi cari buku apa Tante? ee.. saya boleh tahu namanya enggakk?”

“Tante Dewi,” jawabnya.

Selanjutnya kami mulai berbincang-bincang, tetapi mataku tidak dapat lepas dari payudaranya yang sangat menantang, sampai tiba-tiba ada suara dibelakangku.

“Waduh, siapa nih?” ternyata teman-temannya Tante Dewi.

“Oo.. ini keponakanku, eh.. mau kemana kalian?”

Sambil tertawa mereka menjawab, “Kita enggak mau ganggu reuni keluarga ah, kamu pulang sendiri aja ya Dew”.

Tante Dewi hanya mengangguk saja tanda setuju, setelah teman-temannya pergi, Tante Dewi mengajakku ke sebuah restoran. Sambil menikmati minuman, Tante Dewi bercerita tentang dirinya, singkat cerita, Tante Dewi baru saja pulang dari kelas Aerobik bersama-sama temannya (pantas bodynya masih yahud) dan sekalian mampir mencari buku untuk anaknya, selain itu dia juga menceritakan kehidupan keluarganya. Tante Dewi mempunyai suami yang berada di Kalimantan, sedang membuka usaha perkayuan sejak 3 tahun yang lalu dan hanya pulang setahun sekali karena kesibukan yang tidak bisa ditinggalkan. Sedangkan di rumah Tante Dewi hanya ditemani oleh 2 anak laki-lakinya yang berumur 3 dan 5 tahun serta seorang pembantu dan 1 babysister. Mengetahui hal itu aku langsung berpikir,

“Wah jarang ML dong Tante, kesempatan nih”.

Tiba-tiba Tante Dewi berkata, “Tante kayaknya enggak bisa lama-lama, harus pulang karena nanti sore ada arisan, jadi Tante mau siapin semuanya dari sekarang biar ada waktu untuk istirahat.”

“Baik Tante, ini nomor saya kalau Tante mau ketemu lagi sama saya.”

“Ok, ini nomor HP Tante, tapi jangan telepon dulu ya, biar Tante yang telepon kamu.”

Akhirnya kami berpisah dan Tante Dewi berjanji akan menelepon aku.

Seminggu telah berlalu dan selama itu aku sebetulnya sangat ingin meneleponnya tetapi karena sudah berjanji untuk tidak menghubunginya jadi aku hanya menunggu sambil berharap, sore harinya HPku berbunyi, kulihat nomornya.

“Ternyata Tante Dewi!” dan langsung kujawab,

“Halo Tante”

“Halo juga ini Andre?”

“Iya, ini Tante Dewi kan?”

“Iya, kamu ada acara nanti sore?”

“Enggak ada tante, mau ketemu?”

“Kita ketemu di Mc Donald Thamrin jam 5 sore, bisa enggak?”

“Ok Tante, kalau gitu aku siap-siap deh, sekarang sudah jam 4.”

“Ok Andre, sampai ketemu disana ya.”

Aku sempat bingung, kok kayaknya Tante Dewi terburu-buru dan tiba-tiba langsung mengajak ketemu.

“Ah, nanti juga tahu kalau sudah ketemu.”

Tepat jam 5, kami bertemu dan langsung mencari tempat duduk. Tante Dewi yang memulai pembicaraan, “Kamu bingung ya? Kok tiba-tiba sekali Tante ajak kamu ketemu, sebetulnya enggak ada apa-apa. Cuma ingin ngobrol aja sama kamu, abis teman-teman Tante sedang keluar kota.”

“Untung pada keluar kota, kalau tidak Andre enggak akan ditelepon sama Tante” jawabku.

“Iya enggak dong say, nomor kamu sempat hilang, jadi Tante cari-cari dulu untung ketemu, jadi Tante bisa langsung hubungi kamu.”

Kami mengobrol kurang lebih selama 1/2 jam dan Tante Dewi bicara,

“Ndre, cari tempat istirahat yuk.”

Aku nyaris enggak percaya mendengar kalimat yang indah itu, dan langsung aku mengangguk mengiyakan, Tante Dewi hanya tertawa kecil,

“Kamu kaya anak kecil deh,” kata Tante Dewi. Kemudian kami menuju tempat parkir dan pergi dengan mobilnya mencari tempat yang bisa disewa untuk beberapa jam.

Setelah memesan dan masuk kamar, Tante Dewi langsung membuka bajunya.

“Ndre, Tante mandi dulu ya, kalau kamu mau mandi, nyusul aja.”

Mendengar itu aku langsung secepat kilat membuka baju dan berlari ke kamar mandi, disana aku melihat pemandangan yang sangat indah. Tante Dewi sedang membasuh badannya di bawah shower dan terlihat jelas tubuhnya benar-benar terawat. Walau sudah mempunyai 2 anak tetapi tubuh Tante Dewi sangat terjaga, payudara dengan ukuran kurang lebih 36B masih terlihat kencang, pantat yang bulat dan berisi benar-benar membuat penisku langsung bangun dengan cepat.

Sambil menyabuni tubuhnya Tante Dewi melirik ke arah selangkanganku dan berkata, “Ndre, lumayan besar juga penis kamu.”

Sebetulnya ukuran penisku biasa saja hanya 12,5 cm tetapi mungkin karena ngaceng berat jadi terlihat besar.

“Jadi mandi enggak? Kok bengong aja? Sabunin punggung Tante dong..”

Aku langsung mendekat dan memeluk Tante Dewi, kuciumi lehernya sambil tanganku menggesekkan klitorisnya.

“Wah besar nih klitoris Tante dan lebat juga jembutnya” kataku dalam hati, dan ini membuat birahiku semakin tinggi dan semakin ganas. Kujilati leher dan punggung Tante Dewi

“Ndree.. Tante minta disabunin, kok malah diciumi tapi.. ahh.. terus sayang, Ndre isep tetek Tantee..”

Aku langsung menuju ke teteknya dan dengan rakus kuhisap putingnya sambil lidahku menggelitik. Tante Dewi semakin menggelinjang dan dia menarik-menarik penisku dengan kuat, sempat kaget dan sakit, tetapi lama kelamaan terasa enak. Setelah puas menghisap payudaranya lalu aku pindah menjilati perutnya, pusarnya dan akhirnya tiba dibukit kecil yang lebat hutannya, mulai kujilati bukit itu dan kuhisap klitorisnya sambil sesekali kugigit pelan.

“Aah..! Gila kamu Ndre..! Diapakan Tante? Enakk.. sekali sayang,” sambil tangannya menjambak rambutku, Tante Dewi terus mendesah. Kuhisap terus klitoris itu, sambil tanganku meremas-remas payudaranya yang besar. Terus kulakukan ‘foreplay’ itu, sampai akhirnya aku berdiri dan kutarik tangannya untuk keluar dari kamar mandi dan menuju ke tempat tidur. Kulanjutkan mengisap klitorisnya dan kumasukkan jariku kedalam vaginanya.

“Aah.. yess.. Ndre terus say”

“Ughh.. yang kuat say, Tante rasanya mau keluar!”

Aku semakin semangat memainkan lidahku di klitorisnya dan tidak lama kemudian terdengar erangan yang panjang,

“Ahh.. Ndree..! Tante keluar..!”

Terasa di mulutku cairan yang terasa asin dan langsung kujilat sampai habis.

“Bagaimana Tante?”

“Thanks Andre kamu bisa buat Tante puas, rasanya sudah lama Tante tidak merasakan orgasme.”

Kemudian Tante Dewi berbaring dan aku peluk dengan erat, dia merebahkan kepalanya di dadaku, aku mencium keningnya dan dia membalas dengan menciumi bibirku. Lama kami berciuman dengan penuh gairah dan terasa birahinya mulai timbul kembali.

“Mana penismu say, Tante mau puasin kamu.”

Tanpa menunggu lagi kusodorkan ‘adikku’ yang dari tadi sudah lama menunggu untuk digarap, dengan tangan yang mungil, Tante Dewi mulai mengocok penisku dan dimasukkan ke mulutnya.

“Uh.. enak sekali Tante.”

“Nikmati ya say, ini baru mulai kokm” kata Tante Dewi.

Sambil mendesah manja, aku merasa ujung penisku dimainkan oleh lidahnya yang terus berputar dan sambil dihisap.

“Tante sudah.. nanti aku keluarr..!”

Tanpa memperdulikan kata-kataku dia terus memainkan penis dan bijiku sampai aku akhirnya tidak tahan dan..

“Tantee.. aku keluar!”

Tante Dewi melepaskan penisku dari mulutnya dan mengocoknya dengan kuat sambil mulutnya membuka

“Croot.. croott..!”

Keluarlah spermaku yang langsung mengenai muka dan masuk ke dalam mulut Tante Dewi yang langsung ditelan. Sambil membersihkan mukanya yang penuh dengan spermaku, mulutnya sesekali mengisap penisku yang mulai mengecil.

Kemudian kami beristirahat dalam keadaan bugil, 1/2 jam kemudian birahiku timbul kembali, kucumbui secara perlahan Tante Dewi yang masih tertidur, lama-lama terdengar desahan yang sangat menggairahkan,

“Mmhh.. uh.. Ndre kamu mau lagi?”

“Iya Tante, enggak pa-pa kan?” tanyaku

“it’s Ok honey, I’m ready to make love with u”,

Kami melakukan 69 style, Tante Dewi melepaskan kocokannya dan berdiri diatas selangkanganku. Lalu ia mulai jongkOk sambil mencari penisku untuk dimasukkan ke dalam lubang vaginanya yang telah basah, setelah posisi kami enak dan penisku telah didalam vaginanya dia mulai naik turun dan mendesah dengan hebat.

“Aah.. ahh.. Ndre enak sekali!”

Lalu kami berganti posisi menjadi ‘doggy style’, sambil maju mundur penisku di dalam vaginanya kumasukkan juga jempol tanganku kedalam lubang anusnya.

“Nghh.. Nddre.. terus masukin jarimu ke anus Tante say.”

Tidak lama kemudian kulepaskan penisku dan kucoba masukkan kedalam lubang anusnya, auw! sempit sekali pelan-pelan kutekan terus.

“Say.. terus masukin penismu..!”

Dan akhirnya masuk semua penisku dan kutarik lagi secara perlahan dan kumasukkan lagi dan terus menerus bergantian antara lubang anusnya dengan vaginanya sampai akhirnya.

“Tante, Andre mau keluar!”

“Keluarin dimulut Tante saja”

Kutarik penisku dan kumasukkan kedalam mulutnya sambil dihisap, tangannya memainkan bijiku dan

“Ahh! croot.. croot..”

Keluar semua spermaku ke dalam mulutnya dan dia terus mengisap penisku, ngilu rasanya tetapi nikmat sekali.

“Andre sayang, kamu enggak nyeselkan make love dengan Tante yang sudah tua ini?” tanya Tante Dewi.

“Ah tidak Tante, Andre malah bersyukur bisa bertemu dengan Tante karena andre mendapat pengalaman baru.”

Karena kelelahan kami akhirnya tertidur dan tidak lama kami pulang ke rumah masing-masing setelah sebelumnya membuat janji untuk bertemu kembali. Hingga saat ini, terkadang kami masih bertemu tetapi tidak selalu berhubungan intim karena waktu yang kurang tepat.

*****

Demikian kisah dari saya, mohon dimaafkan jika masih banyak kekurangan, untuk para pembaca wanita (khusus para Tante) dapat memberikan kritik atau saran dan jangan ragu untuk menghubungi saya.

TAMAT

Tags : cerita sex, cerita sexs, cerita seks, foto bugil, mahasiswi bugil, ngentot, memek, cewek telanjang,cewek 17 tahun,17 tahun forum,gadis 17 tahun,tante girang bugil,gadis telanjang bugil,gadis bugil abg,julia perez bugil,cewek montok bugil,dewi persik bugil,gadis bugil 3gp

1 komentar 29 Juni 2010

Cerita 18sx – Roti Bakar

Mungkin para pembaca sudah tahu sifatku dalam cerita sebelumnya yang berjudul ibu Rini adalah mengencani wanita yang lebih tua dariku.

Minggu kemarin aku ditugaskan oleh kantorku ke kantor cabang di Bandung. Memang aku sudah ada rumah yang sudah disiapkan oleh kantor pusat, jadi tidak perlu lagi untuk menginap di hotel, yang tentu akan lebih besar pengeluarannya.

Sudah tujuh hari ini aku selalu makan malam keluar rumah, karena rumah tempat tinggalku hanya ada pembantu pria yang hanya membersihkan rumah serta mencuci pakaian dan pulang pada sore hari setelah aku pulang dari kantor cabang di Bandung.

Memang sudah dua hari ini aku bila tidak ingin makan malam yang harus naik angkot, aku suka makan roti bakar dan bubur kacang ijo yang berada di depan kantor cabangku. Itupun tidak boleh lebih dari jam sembilan malam, karena lebih dari jam tersebut warung tersebut sudah tutup. Aku kaget juga saat makan diwarung tersebut yang biasa melayani Pak tua, kok tiba-tiba yang melayani seorang ibu yang berwajah lumayan manis, dengan tubuh sintal, umur kira-kira 45 tahun, dan berkulit kuning langsat seperti ciri-ciri khas orang Jawa Barat.

“Bu, bapak yang biasa melayani disini, kemana bu?” sapaku.

“Och Mang Didin, sedang sakit Mas.” jawabnya.

“Lalu ibu siapa?” tanyaku penasaran.

Dia hanya tersenyum manis saja.

“Wach ini ibu bikin penasaran aja nich” pikirku dalam hati.

Memang sich dia balik bertanya, aku ini siapa, dan setelah aku jelaskan, dia memang memperkenalkan diri bahwa dia ibu Lastri. Dia jelaskan bahwa dia tinggal persis dibelakang kantorku saat ini, tetapi masuk gang kecil. Aku duduk sambil makan roti tidak biasanya hingga sampai warung tersebut tutup. Cukup jelas bahwa Bu Lastri hanya tinggal bersama seorang anaknya laki-laki yang sudah berkeluarga. Lalu dari informasi pembantu di kantor cabangku, bahwa Bu Lastri tersebut ditinggal cerai oleh suaminya setahun yang lalu, dan dikatakan bahwa Bu Lastri sebelum cerai termasuk orang yang berada, meskipun tidak terlalu kaya sekali. Pastas pikirku, dari dandanannya, Bu Lastri tidak terlalu seperti ibu-ibu yang lain, dalam arti tidak memakai kebaya, melainkan memakai baju terusan hingga dengkulnya.

“Bapak kapan ngobrol dengan Bu Lastri? tanya pembatuku.

“Tadi malam.” jawabku singkat.

“Wach bapak pulang kantor suka malam sich, Bu Lastri kalau siang atau sore kira-kira jam lima suka ngobrol disini dengan saya lho.” jawab pembantuku lagi.

Och ternyata Bu Lastri suka ambil air ledeng dari kantorku, untuk air termos diwarungnya. Hm.. Kesempatan pikirku.

Singkat cerita, aku sengaja pulang agak sore, dan memang benar Bu Lastri sedang ngobrol dengan si Dadang pembantuku. Lalu aku ditegurnya sambil berkata.

“Maaf nich Mas, ketahuan dech, sering minta air nich.”

“Nach yach.. Ketahuan, kalau begitu harus bayar nich, dengan roti bakar.” candaku.

Tapi tiba-tiba si Dadang mau izin pulang cepat karena adiknya mau kedokter, kebetulan pikirku he he he.

“Iya dech nanti aku bilang sama Mang Didin menyiapkan roti bakar untuk Mas”

Lalu aku coba untuk menggodanya “Ech enggak bisa, yang ambil air khan ibu, yang membuatkan roti bakar juga harus Bu Lastri dong.”

Dia menatapku tajam sambil menggigit bibirnya yang sangat indah dilihat, aku sudah dapat membaca pikirannya, bahwa dia sudah mengerti maksudku. Lalu aku balas tersenyum kepadanya, diapun tersenyum kembali sambil permisi untuk ke warungnya.

Akhirnya aku paling sering pulang sore-sore hingga suatu waktu saat si Dadang hendak izin tidak bisa masuk, akupun izin ke kantor untuk istirahat dirumah, padahal ada niat untuk mengencani Bu Lastri, karena memang aku sudah ada sinyal dari pandangan matanya beberapa hari yang lalu.

Siang hari seperti biasa Bu Lastri datang untuk minta air, lalu aku pura-pura menjawab meringis sambil memegang pinggangku. Dan memang benar Bu Lastri datang menyambut.

“Kenapa Mas pinggangnya”

“Enggak tahu nich, tadi pagi bangun tidur langsung pinggang saya terasa mau patah.”

“Mau ibu pijitin” tantangnya. Wach kebetulan nich pikirku.

Singkat cerita aku sudah tiduran dibangku panjang diruang tamuku tanpa baju, lalu Bu Lastri memijit pinggangku. Setelah lima menit aku bangkit berdiri, lalu aku tawarkan ide gilaku untuk memijitnya.

“Ach memang Mas bisa mijit, kalau bisa kebetulan nich betis ibu suka pegal-pegal”

Aku tidak banyak bicara aku suruh Bu Lastri tiduran untuk memijit betis bagian belakang. Memang seperti kebiasaan Bu Lastri hanya memakai baju daster bercorak kembang hingga batas dengkulnya. Lalu aku mengambil body oil dari kamarku. Aku urut betis Bu Lastri lalu pelan-pelan pijitanku aku naikkan hingga pahanya. Dia ternyata hanya diam saja. Karena sudah ada sinyal pikirku, aku singkapkan dasternya hingga kedua belah pantatnya yang sangat menantang terlihat jelas di depan mataku. Aku pijat pahanya sambil kedua jempolku aku masukan ke dalam celana dalamnya. Dia hanya mendesah.

“Och..”

Hm.. Kesempatan nich, aku tidak buang-buang waktu lagi, aku turunkan celana dalam Bu Lastri hingga batas dengkulnya, lalu aku masukan tangan kananku ke dalam celah kedua belah pahanya, sambil memasukan jari tengahku ke dalam lubang kemaluan Bu Lastri.

“Och.. Och..” desah Bu Lastri sambil mengangkat pantatnya agak ke atas, hingga makin jelas terlihat kemaluan Bu Lastri yang sudah berwarna coklat tua. Lalu aku lumurkan body oil persis dilubang anus Bu Lastri, hingga meleleh hingga ke lubang kemaluannya. Aku gosok-gosok lubang kemaluan Bu Lastri bagian luarnya, sedangkan jempolku aku gesek-gesek secara perlahan dilubang anusnya. Rupanya Bu Lastri tidak kuat lagi menahan gejolak napsu birahinya. Langsung dia berdiri sambil menarik celana dalamnya ke atas kembali, dan mencium bibirku lalu berkata pelan.

“Mas masih siang enggak enak nanti ada yang datang lagi, nanti sore pasti saya akan ambil air lagi dech” Bu Lastri seakan mengisyaratkan aku bahwa nanti sore saja setelah hari agak gelap.

Benar saja masih seperti tadi Bu Lastri berpakaian, dia datang berpura-pura untuk minta air, kulihat mang Didin sedang sibuk melayani tamu yang memesan roti bakar diwarung Bu Lastri. Aku menyuruh Bu Lastri masuk kembali, tapi sekarang aku ajak dia kekamar tengah tempat aku nonton TV, aku langsung mendekapnya, dia menyambut dengan ciuman sambil melumat lidahku. Lalu aku suruh Bu Lastri membuka dasternya. Hingga dia telanjang bulat, lalu aku suruh dia nungging diatas bangku, secara pelan-pelan aku selusuri pahanya dengan lidahku, hingga sampai ke lubang kemaluannya. Tampak memang Bu Lastri rajin merawat tubuhnya.

Tanpa buang waktu aku buka celanaku lalu aku masukan penisku ke dalam lubang kemaluannya dari belakang, aku genjot Bu Lastri dari belakang hingga cairan putih menetes dari lubang kemaluannya. Sedangkan dia hanya menunduk sambil mendekap senderan bangku tamuku, sambil memejamkan matanya menahan rasa nikmat.

Aku balikkan tubuh Bu Lastri lalu aku jilat teteknya yang sudah mulai mengendor, aku buat beberapa sedotan keras dari bibirku dibagian pinggir teteknya hingga membekas berwarna merah kehitam-hitaman. Dia hanya mendesah terus menerus. Aku bisikan perlahan.

“Ibu isep saya punya yach”

Tanpa disuruh lagi Bu Lastri langsung duduk di bangku sambil mengulum penisku, dan tampaknya beliau tahu persis cara mengulum yang benar. Diputar-putarnya penisku dengan lidah serta air liurnya, hingga penisku makin tegang dan keras. Lalu aku pegang kepalanya dengan kedua tanganku dan langsung kugoyangkan penisku keluar masuk ke dalam mulutnya. Lalu dijilatnya pinggiran penisku hingga bagian paling bawah mendekati lubang anusku. Wow memang ibu yang satu ini sangat lihai cara memberikan kenikmatan pada pria.

Lalu aku tarik bangku tamuku, aku sandarkan tubuh Bu Lastri di sandaran bangku hingga kepalanya menyentuh tempat duduk, sedangkan pinggangnya terganjal disandaran bangku, lalu aku renggangkan kedua belah paha Bu Lastri dan kumasukan penisku ke lubang kemaluannya mulai dari perlahan hingga kugenjot kencang.

Tampak Bu Lastri hendak berteriak, tapi karena takut terdengar tetangga, ia hanya mendesah.

“Och.. Och.. Och.. Teruskan Mas, teruskan..”

Kami berdua hingga berkeringat, karena memang sengaja aku menahan pejuku untuk tidak muncrat dahulu. Karena aku memang benar-benar terangsang dengan putihnya body Bu Lastri, buah dadanya yang masih bulat menantang, meskipun agak turun sedikit, serta pinggulnya sangat menantang bila dia memakai rok maupun celana ketat.

Aku cabut penisku sambil membersihkan lubang kemaluan Bu Lastri dengan tissue, karena tampaknya Bu Lastri telah mencapai puncak kenikmatannya, sehingga tampak cairan pejunya meleleh. Akhirnya aku angkat Bu Lastri ke dalam kamar tidurku, aku rebahkan dia, aku kecup bibirnya sambil tanganku memelintir puting susunya, kadang-kadang aku ramas buah dadanya. Lalu ciumanku dibibirnya aku pindahkan kekedua buah dadanya, aku jilat secara bergantian puting susu Bu Lastri. Dia tampak gelisah karena mulai terangsang kembali sambil kadang-kadang mengangkat pinggulnya supaya vaginanya bergesekan dengan penisku, mulai dari buah dadanya jilatanku turun ke arah pusar serta perut bagian sisi kanan dan kirinya.

“Och..!!” tampak Bu Lastri tak kuat lagi menahan rangsangan yang aku berikan lewat jilatan lidahku. Ia pun langsung membalikkan badanku hingga terlentang lalu diapun mulai membalas dengan menjilat kedua puting tetekku, lalu mengangkat kedua pahaku hingga ke atas, hingga pinggangku agak terangkat, lalu ia mulai menjilat kedua bijiku lalu lebih turun kembali disekitar pinggiran lubang anusku, kadang-kadang ujung lidah Bu Lastri menyentuh pas ditengah lubang anusku, dan memang kenikmatan yang luar biasa yang saya dapatkan pada sore hari ini. Karena memang service dari Bu Lastri secara bertubi-tubi tanpa henti, langsung membuat aku tidak dapat lagi menahan pejuku untuk keluar.

Lalu aku angkat Bu Lastri untuk posisi menduduki penisku, secara perlahan dia masukan penisku ke dalam lubang kemaluannya. Langsung tanpa diberi komando Bu Lastri memacu diriku seperti kuda liar, terus dia menggoyangkan pinggulnya maju mundur. Kejadian ini berlangsung selama duapuluh menit dan tampak keringat mulai menetes dari tubuh Bu Lastri, langsung dia mendekap diriku, sambil berbisik.

“Keluarkan yach Mas.. aku sudah tak kuat lagi..”

Sambil mengangguk aku cium bibirnya yang mungil. Lalu Bu Lastri kembali pada posisi menduduki aku sambil memacu goyangan pinggulnya lebih kencang lagi, terus.. Dia memacu, akupun tak dapat menahan kenikmatan yang sudah memuncak diubun-ubun kepalaku. Lalu aku lepaskan pejuku didalam lubang kemaluan Bu Lastri, dan tampaknya ini juga diimbangi dengan goyangan Bu Lastri yang makin lama makin melemah sambil kadang-kadang dia menghentakkan pinggulnya, yang rupanya dia mengeluarkan pejunya untuk yang kedua kalinya. Lalu dia tersungkur merebahkan badannya diatas tubuhku, sambil memeluk erat tubuhku.

Setelah sepuluh menit, aku bisikan ditelinga Bu Lastri.

“Bu yuck pake baju, nanti mang Didin nyariin lho..”

Lalu Bu Lastri bangun dan membersihkan dirinya didalam kamar mandiku, demikian juga aku. Setelah rapih Bu Lastri berkata.

“Mas aku kedepan yach” Lalu aku menjawab.

“Terima kasih, ‘roti bakarnya’ yach bu”

Lalu dia berbalik memandangku tajam sambil tersenyum dan berkata, “Awas kamu yach..”

TAMAT

Tags : cerita sex,cerita seks, foto bugil, mahasiswi bugil, ngentot, memek, cewek telanjang,rahma azhari bugil,video rahma azhari terbaru,nafsu seks, nafsu, nafsu liar,nafsu pembantu,nafsu ngentot,nafsu perawan

Add a comment 27 Juni 2010

Cerita 18sx – Kenapa Aku Jadi Begini, Roy?

Di salah satu sudut Jakarta Utara, di pojokan jalan sekitar Pasar Ular, di satu rumah yang agak lumayan besar, Reni sedang asyik tiduran di kursi sambil membaca majalah. Ibu rumah tangga tanpa anak ini sengaja memakai pakaian minim untuk mengurangi gerahnya Tanjung Priuk saat itu. Perempuan 34 tahun itu hanya mengenakan BH dan celana hawaii saja sebagai pembungkus tubuh sintal putih mulusnya.

“Yanti! Bawakan minuman dingin kesini!” teriak Reni kepada pembantu rumah tangganya.

“Iya, nyonya!” terdengar jawaban Yanti.

Tak lama Yanti datang dengan membawa minuman dingin di atas baki.

“Ini, nyonya,” katanya sambil meletakkan minuman tersebut di atas meja sambil berjongkok di lantai.

“Ya, terima kasih,” ujar Reni sambil melirik Yanti.

Pembantu rumah tangga berusia 41 tahun itu berpenampilan biasa saja. Dengan status janda, wajahnya bisa dibilang standar wajah orang kebanyakan, tidak jelek tidak cantik. Hanya saja tubuhnya yang berperawakan sedang dihiasi oleh sepasang buah dada yang sedang mekar ranum, serta pantat yang bulat padat.

“Ada yang lainnya lagi, nyonya?” tanya Yanti sambil matanya melirik pada tubuh mulus majikannya.

“Tidak ada..” jawab Reni pendek.

“Mungkin nyonya pegal-pegal.. Bisa saya pijitin,” kata Yanti menawarkan jasanya.

“Apa pekerjaan dapur sudah kamu selesaikan?” tanya Reni sambil menatap Yanti.

“Sudah dari tadi, nyonya..” jawab Yanti.

“Ya baiklah.. Pijitin aku deh,” kata Reni.

“Di tengah rumah saja deh, sambil lihat TV..” kata Reni sambil bangkit lalu menuju tengah rumah.

Lalu Reni berbaring di atas karpet di depan TV.

“Saya bawakan bantal dan hand body dulu, nyonya,” kata Yanti.

Tak lama Yanti sudah datang membawa bantal dan hand body.

“Pakai bantal, nyonya.. Biar nyaman..” kata Yanti sambil menyerahkan bantal kepada reni.

“Boleh saya buka tali BH-nya, nyonya?” tanya Yanti.

“Ya bukalah kalau mengganggu,” kata Reni sambil tengkurap dan memejamkan matanya.

Dengan segera Yanti melepas pengait BH Reni. Setelah diolesi hand body, tangan Yanti mulai memijat dan menelusuri punggung mulus Reni.

“Mm.. Enak sekali.. Pinter juga mijat ya?” kata Reni sambil terpejam.

“Tidak juga, nyonya..” kata Yanti.

“Boleh saya naik ke atas tubuh nyonya? Biar saya gampang mijitnya..” tanya Yanti.

“Terserah kamulah..” kata Reni ringan.

Yanti segera menaiki tubuh Reni. Selangkangannya tepat agak menduduki pantat Reni yang bulat padat. Sementara tangannya memijat punggung Reni, Yanti dengan hati-hati sering menyentuh dan mendesakkan selangkangannya ke pantat Reni. Ada kenikmatan tersendiri yang dirasakan Yanti saat itu. Dengan sengaja, sambil memijat, jari-jari tangan Yanti disentuhkan dan diusapkan ke buah dada Reni dari samping badannya. Yanti semakin bergairah karenanya. Apalagi Reni diam saja diperlakukan demikian karena Reni pikir itu adalah bagian dari cara pemijatan.

“Maaf nyonya..” kata Yanti sambil turun dari pantat Reni.

“Apa..?” kata Reni sambil tetap memejamkan matanya.

“Apakah nyonya ingin dipijat seluruh badan atau hanya punggung dan kaki saja?” tanya Yanti sambil menatap sebagian buah dada Reni yang menyembul dari samping badannya.

“Kalau kamu tidak merasa capek, ya seluruh badanlah..” kata Reni sambil membuka matanya dan melirik ke Yanti.

“Kalau begitu, maaf nyonya..” kata Yanti seperti ragu.

“Sebaiknya nyonya melepas celana pendeknya agar saya mudah memijat seluruh badan nyonya..” lanjut Yanti.

“Maaf nyonya..” kata Yanti lagi.

“Ya terserah apa kata kamu deh.. Lagian kita sama-sama wanita, kenapa harus malu..” kata Reni sambil bangkit lalu melepas celana hawaiinya.

Saat itulah darah Yanti berdesir hebat ketika melihat buah dada Reni yang padat menantang. Apalagi ketika reni sudah melepas celana hawaiinya, celana dalama mini yang dipakai Reni tidak bisa menutupi semua bulu kemaluan yang agak lebat. Jantung Yanti berdebar disertai gairah sex yang makin meninggi. Reni lalu tengkurap lagi tanpa berpikir macam-macam.. Tangan Yanti mulai menyusuri dan memijat betis Reni. Lama-lama naik ke paha. Yanti sangat menikmati rabaan dan pijatannya pada kaki Reni tersebut. Nafasnya menjadi agak memburu dan berat karena desakan gairahnya melihat tubuh mulus majikannya terbaring hanya memakai celana dalam mini saja. Mendekati pangkal paha, tangan Yanti dengan pura-pura tidak disengaja disentuhkan ke selangkangan dan memek Reni yang agak menggembung.

“Geli, ihh..” kata Reni sambil menggerakkan pantatnya.

Yanti tersenyum. Melihat Reni tidak marah, tangannya mulai memijat pantat Reni. Sebetulnya tidak cocok kalau disebut memijat, labih pantas kalau disebut meremas. Melihat Reni masih diam, secara perlahan tangannya disusupkan ke celana dalam Reni, lalu dengan perlahan diremasnya pantat Reni. Reni sebenarnya tahu kalau tangan Yanti masuk ke celana dalam dan meremas pantatnya. Tapi rasa berdesirnya nikmat yang dirasakan ketika tangan Yanti meremas pantatnya membuat Reni diam menikmatinya.

“Mmhh.. Geli.. Mmhh,” kata Reni dengan mata tetap terpejam sambil menggoyangkan pantatnya ketika jari tangan Yanti mengusap belahan pantatnya berulang kali. Melihat Reni tetap tidak bereaksi, Yanti makin berani. Jarinya dengan sengaja turun agak di tekan sedikit ke lubang pantat Reni lalu turun ke lubang memek Reni bergantian.

“Mmhh.. Kamu ngapain? Mmhh..” kata Reni sambil membuka matanya lalu melirik ke Yanti.

“Setelah dipijat, paling enak dibeginikan, nyonya..” kata Yanti dengan nafas memburu sambil jarinya sekarang mulai menggosok-gosok belahan memek Reni yang mulai basah.

“Mmhh..” hanya itu suara yang keluar dari mulut Reni sambil merasakan sensasi kenikmatan yang luar biasa.

Tampak Reni agak menggoyangkan pantatnya seiring rasa nikmat yang dirasakannya.

“Kamu ngapainnhh.. Mmhh..” desah Reni sambil membalikkan badannya.

Ada rasa berontak di dalam hati Reni, tapi rasa nikmat dan gairah aneh telah menguasai badannya. Yanti yang melihat Reni membalikkan badannya dengan segera mengelus dan meremas buah dada Reni, sementara lidahnya segera menjilati puting susunya yang satu.

“Mmhh.. Mmhh..” desah Reni sambil mengusap punggung Yanti yang berada diatas tubuhnya.

Setelah beberapa lama lidah dan tangannya memainkan buah dada Reni, Yanti berhenti sesaat. Diperosotkannya celana dalam mini Reni. Reni dengan diam saja diperlakukan demikian oleh pembantunya itu. Yanti bangkit lalu melepas semua pakaiannya. Sementara Reni menatap Yanti dengan mata penuh nafsu.

“Sudah lama saya memimpikan hal seperti ini, nyonya,” bisik Yanti sambil melumat bibir Reni.

“Mmhh..” desah Reni menikamti lumatan bibir Yanti, sementara tangan Yanti mengusap-ngusap bulu kemaluan Reni yang lebat lalu dengan segera jarinya keluar masuk lubang memek Reni yang sudah sangat licin.

“Mmhh..” desah Reni.

Ciuman Yanti lalu turun ke pipi kemudian ke leher Reni. Ciuman dan jilatan lidah Yanti benar-benar membuat Reni merasakan darahnya berdesir disertai rasa nikmat karena jari Yanti keluar masuk memeknya.

“Ohh.. Yantiihh.. Enakk..” bisik Reni sambil terpejam, sementara pinggulnya bergoyang karena nikmat. Tak lama lidah Yanti turun ke buah dada. Kembali lidah Yanti dengan ganas melalap habis buah dada dan puting susu Reni.

“Yantiihh..” desah Reni sambil terpejam.

Lidah Yanti makin turun ke perut lalu turun lagi ke bulu-bulu kemaluan Reni. Sementara jari tangannya tetap keluar masuk memek Reni, lidah Yanti mulai merayapi selangkangan Reni. Reni makin menggeliat tubuhnya karena sensasi kenikmatan yang tiada tara.

“Oww.. Ohh.. Ohh..” jerit lirih Reni sambil meremas rambut Yanti ketika lidah Yanti menjilati klitorisnya.

Tubuh Reni mengeliat-geliat disertai desahan-desahan kenikmatan.. Sementara Yanti terus menijlati memek Reni sambil tangan yang satunya mengusap-ngusap memeknya sendiri sambil sesekali jarinya keluar masuk lubangnya.

“Yantiihh!! Ohh!!” jerit tertahan Reni agak keras keluar dari mulut Reni ketika ada semburan hangat terasa di dalam memeknya seiring dengan rasa nikmat luar biasa yang mengiringinya. Serr.. Serr.. Kembali memek Reni menyemburkan air mani ketika dengan ganas Yanti menjilati memeknya. Tubuh Reni menggeliat dan melengkung merasakan nikmat.. Yanti menghentikan jilatannya setelah tubuh Reni lemas. Dinaiki tubuh majikannya lalu mulut yang masih basah oleh cairan memek mengecup bibir Reni. Reni membalas kecupan Yanti.

“Bagaimana rasanya, nyonya?” tanya Yanti sambil meraih tangan Reni dan menyentuhkan ke buah dadanya.

“Mm.. Belum pernah aku merasakan seperti ini..” kata Reni tersenyum sambil mengelus buah dada Yanti.

“Kenapa kamu melakukan ini?” tanya Reni.

Tangannya mulai meremas buah dada Yanti sambil jarinya memainkan puting susunya.

“Karena saya suka nyonya.. Mmhh,” kata Yanti sambil mendesah.

Yanti menggesek-gesekan memeknya ke paha Reni.

“Sudah lama saya ingin bisa seperti ini, tapi selalu takut..” kata Yanti sambil meraih tangan Reni yang sedang meremas buah dadanya lalu mengarahkan memeknya.

Reni yang sudah mulai mengerti dan menyukai hal ini langsung menggosok memek Yanti. Belahan memek Yanti ditelusuri dengan jarinya.

“Ohh..” desah Yanti sambil terpejam.

“Saya mau, nyonya..” bisik Yanti meremas tangan Reni yang sedang memainkan memeknya.

“Mau diapain?” tanya Reni sambil menatap Yanti.

Yanti tidak menjawab. Yanti segera bangkit dari atas tubuh Reni, lalu dikangkanginya wajah Reni. Didekatkan memeknya ke mulut Reni. Reni yang belum terbisa menjilat sesama memek wanita kelihatan agak rikuh. Tercium oleh Reni aroma khas memek. Bau asem merangsang.. Dengan ragu Reni menjulurkan lidahnya menyentuh belahan memek Yanti. Mata Yanti terpejam. Lama kelamaan setelah beberapa jilatan, Reni mulai merasakan ada semacam perasaan tersendiri ketika menjilati memek Yanti. Apalagi ketika terdengar desahan i disertai gerakan memek Yanti ketika lidah Reni menjilati kelentitnya.

“Ohh.. Mmhh,” desah Yanti sambil agak mendesakkan memeknya ke mulut Reni.

“Enakk.. Nyonyaa..” desah Yanti sambil jarinya mengusap lubang anusnya berkali-kali.

Setelah menjilat jarinya, sambil memknya dijilat Reni, Yanti mengusap lubang anusnya agak tekan sampai ujung jarinya sebatas kuku masuk ke anus. Sambil menggoyang memeknya, Yanti semakin menekan jarinya dalam-dalam ke anusnya.

“Nikmaatt,” jerit lirih Yanti sambil menusuk-nusukan jari ke anusnya sementara pinggulnya terus bergoyang.

Sampai akhirnya Yanti menghentikan gerakan pinggulnya. Didesakan memeknya agak lebih keras ke mulut Reni.. Serr.. Serr.. Yanti orgasme sambil jarinya tetap menusuk-nusuk anusnya.

“Ohh.. Ohh,” jerit lirih Yanti. Kemudian tubuhnya lemas berbaring disamping Reni.

“Enak sekali nyonya..” bisik Yanti sambil tersenyum menatap reni.

“Aku baru tahu kalau bercinta sesama wanita ternyata sangat nikmat,” kata Reni sambil memakai pakaiannya.

Yanti juga demikian.

“Nyonya marah tidak?” tanya Yanti sambil menatap Reni.

“Aku tidak marah kok. Malah aku jadi suka..” kata Reni sambil tersenyum.

“Aku mau tahu sejak kapan kamu begini?” kata Reni sambil duduk di karpet.

Tangannya menggenggam tangan Yanti mesra.

“Sejak saya bercerai dengan suami saya, nyonya..” jawab Yanti sambil menatap mata Reni.

“Pertama kali saya diperlakukan sama seperti sekarang oleh majikan perempuan saya dulu, nyonya..” kata Yanti lagi.

“Saya terus berhubungan dengan majikan saya sampai saya pindah ke sini karena majikan laki-laki mulai curiga, nyonya..” kata Yanti sambil tertunduk.

“Sejak itulah saya menahan hasrat saya,” kata Yanti lagi.

“Mulai sekarang ada aku..” kata Reni sambil tersenyum lalu mengecup bibir Yanti.

Sejak itulah selama beberapa bulan sampai sekarang Reni dan Yanti, majikan dan pembantu, melakukan hubungan sesama jenis tanpa diketahui suaminya. Pada suatu hari Reni dengan niat tertentu mencoba menghubungi salah satu sahabat baik yang sangat dipercayainya.

“Hallo,” kata Reni setelah tersambung dengan telepon sahabatnya itu.

“Ya, hallo.. Dengan siapa ya?” tanya suara di telepon.

“Aku Reni, Roy..” kata Reni.

“Oh, kamu.. Ada apa nih telepon aku di kantor gini hari? Tumben..” kata Roy Takeshi, sahabatnya.

“Iya nih, Roy.. Aku tak sabar ingin menceritakan sesuatu tentang aku,” kata Reni sambil tersenyum.

“Apa? “Tanya Roy Takeshi.

“Begini Roy..” kata Reni sambil menceritakan kisah hubungan sesama jenisnya agak panjang lebar kepada sahabatnya itu.

“Aku heran.. Kenapa aku jadi begini, Roy?” ujar Reni.

“Aku minta kamu buat cerita tentang aku, Roy..” kata Reni.

“Baru cerita begini saja aku sudah horny, nih.. Apalagi kalau sudah jadi cerita,” kata Reni sambil tertawa.

Roy Takeshipun ikut tertawa.

“Ya sudah, kamu email aku saja tentang cerita kamu garis besarnya,” kata Roy.

“Nanti aku buat jadi cerita,” sambung Roy Takeshi lagi.

“Baiklah.. Sampai nanti ya, Roy. Bye..” kata Reni sambil menutup telepon.

TAMAT

Tags : Cerita panas,cerita sex, cerita sexs, cerita seks, foto bugil, mahasiswi bugil, ngentot, memek, cewek telanjang,cewek smu bugil,hp tante girang,info tante girang,telepon tante girang,video tante girang,cynthiara alona bugil,artis bugil telanjang

1 komentar 22 Juni 2010

Cerita 18sx – Sang Pramugariku

Aku adalah mahasiswi disebuah universitas swasta di kota “S”, nama initialku Rus, dan aku pernah mengirimkan cerita “Rahasiaku” kepada situs ini.

*****

Awal mula aku mengalami Making Love dengan seorang wanita yang mengubah orientasi seksualku menjadi seorang biseksual, aku mengalami percintaan sesama jenis ketika usiaku 20 tahun dengan seorang wanita berusia 45 tahun, entah mengapa semuanya terjadi begitu saja terjadi mungkin ada dorongan libidoku yang ikut menunjang semua itu dan semua ini telah kuceritakan dalam “Rahasiaku.”

Wanita itu adalah Ibu Kos-ku, ia bernama Tante Maria, suaminya seorang pedagang yang sering keluar kota. Dan akibat dari pengalaman bercinta dengannya aku mendapat pelayanan istimewa dari Ibu Kos-ku, tetapi aku tak ingin menjadi lesbian sejati, sehingga aku sering menolak bila diajak bercinta dengannya, walaupun Tante Maria sering merayuku tetapi aku dapat menolaknya dengan cara yang halus, dengan alasan ada laporan yang harus kukumpulkan besok, atau ada test esok hari sehingga aku harus konsentrasi belajar, semula aku ada niat untuk pindah kos tetapi Tante Maria memohon agar aku tidak pindah kos dengan syarat aku tidak diganggu lagi olehnya, dan ia pun setuju. Sehingga walaupun aku pernah bercinta dengannya seperti seorang suami istri tetapi aku tak ingin jatuh cinta kepadanya, kadang aku kasihan kepadanya bila ia sangat memerlukanku tetapi aku harus seolah tidak memperdulikannya. Kadang aku heran juga dengan sikapnya ketika suaminya pulang kerumah mereka seakan tidak akur, sehingga mereka berada pada kamar yang terpisah.

Hingga suatu hari ketika aku pulang malam hari setelah menonton bioskop dengan teman priaku, waktu itu jam sudah menunjukkan pukul setengah sebelas malam, karena aku mempunyai kunci sendiri maka aku membuka pintu depan, suasana amat sepi lampu depan sudah padam, kulihat lampu menyala dari balik pintu kamar kos pramugari itu,

“Hmm.. ia sudah datang,” gumamku, aku langsung menuju kamarku yang letaknya bersebelahan dengan kamar pramugari itu. aku bersihkan wajahku dan berganti pakaian dengan baju piyamaku, lalu aku menuju ke pembaringan, tiba-tiba terdengar rintihan-rintihan yang aneh dari kamar sebelah. Aku jadi penasaran karena suara itu sempat membuatku takut, kucoba memberanikan diri untuk mengintip kamar sebelah karena kebetulan ada celah udara antara kamarku dengan kamar pramugari itu, walaupun ditutup triplek aku mencoba untuk melobanginya, kuambil meja agar aku dapat menjangkau lubang udara yang tertutup triplek itu.

Lalu pelan pelan kutusukan gunting tajam agar triplek itu berlobang, betapa terkejutnya aku ketika kulihat pemandangan di kamar sebelahku. Aku melihat Tante Maria menindih seorang wanita yang kelihatan lebih tinggi, berkulit putih, dan berambut panjang, mereka berdua dalam keadaan bugil, lampu kamarnya tidak dipadamkan sehingga aku dapat melihat jelas Tante Maria sedang berciuman bibir dengan wanita itu yang mungkin pramugari itu. Ketika Tante Maria menciumi lehernya, aku dapat melihat wajah pramugari itu, dan ia sangat cantik wajahnya bersih dan mempunyai ciri khas seorang keturunan ningrat. Ternyata pramugari itu juga terkena rayuan Tante Maria, ia memang sangat mahir membuat wanita takluk kepadanya, dengan sangat hati-hati Tante Maria menjilati leher dan turun terus ke bawah. Bibir pramugari itu menganga dan mengeluarkan desahan-desahan birahi yang khas, wajahnya memerah dan matanya tertutup sayu menikmati kebuasan Tante Maria menikmati tubuhnya itu. Tangan Tante Maria mulai memilin puting payudara pramugari itu, sementara bibirnya menggigit kecil puting payudara sebelahnya. Jantungku berdetak sangat kencang sekali menikmati adegan itu, belum pernah aku melihat adegan lesbianisme secara langsung, walaupun aku pernah merasakannya. Dan ini membuat libidiku naik tinggi sekali, aku tak tahan berdiri lama, kakiku gemetaran, lalu aku turun dari meja tempat aku berpijak, walau aku masih ingin menyaksikan adegan mereka berdua.

Dadaku masih bergemuru. Entah mengapa aku juga ingin mengalami seperti yang mereka lakukan. Kupegangi liang vaginaku, dan kuraba klitorisku, seiring erangan-erangan dari kamar sebelah aku bermasturbasi sendiri. Tangan kananku menjentik-jentikan klitorisku dan tangan kiriku memilin-milin payudaraku sendiri, kubayangkan Tante Maria mencumbuiku dan aku membayangkan juga wajah cantik pramugari itu menciumiku, dan tak terasa cairan membasahi tanganku, walaupun aku belum orgasme tapi tiba-tiba semua gelap dan ketika kubuka mataku, matahari pagi sudah bersinar sangat terang.

Aku mandi membersihkan diriku, karena tadi malam aku tidak sempat membersihkan diriku. Aku keluar kamar dan kulihat mereka berdua sedang bercanda di sofa. Ketika aku datang mereka berdua diam seolah kaget dengan kehadiranku. Tante Maria memperkenalkan pramugari itu kepadaku,

“Rus, kenalkan ini pramugari kamar sebelahmu.”

Kusorongkan tangan kepadanya untuk berjabat tangan dan ia membalasnya,

“Hai, cantik namaku Vera, namamu aku sudah tahu dari Ibu Kos, semoga kita dapat menjadi teman yang baik.”

Kulihat sinar matanya sangat agresif kepadaku, wajahnya memang sangat cantik, membuatku terpesona sekaligus iri kepadanya, ia memang sempurna. Aku menjawab dengan antusias juga,

“Hai, Kak, kamu juga cantik sekali, baru pulang tadi malam.”

Dan ia mengangguk kepala saja, aku tak tahu apa lagi yang diceritakan Tante Maria kepadanya tentang diriku, tapi aku tak peduli kami beranjak ke meja makan. Di meja makan sudah tersedia semua masakan yang dihidangkan oleh Tante Maria, kami bertiga makan bersama. Kurasakan ia sering melirikku walaupun aku juga sesekali meliriknya, entah mengapa dadaku bergetar ketika tatapanku beradu dengan tatapannya.

Tiba-tiba Tante Maria memecahkan kesunyian,

“Hari ini Tante harus menjenguk saudara Tante yang sakit, dan bila ada telpon untuk Tante atau dari suami Tante, tolong katakan Tante ke rumah Tante Diana.”

Kami berdua mengangguk tanda mengerti, dan selang beberapa menit kemudian Tante Maria pergi menuju rumah saudaranya. Dan tinggallah aku dan Vera sang pramugari itu, untuk memulai pembicaraan aku mengajukan pertanyaan kepadanya,

“Kak Vera, rupanya sudah kos lama disini.”

Dan Vera pun menjawab, “Yah, belum terlalu lama, baru setahun, tapi aku sering bepergian, asalku sendiri dari kota “Y”, aku kos disini hanya untuk beristirahat bila perusahaan mengharuskan aku untuk menunggu shift disini.”

Aku mengamati gaya bicaranya yang lemah lembut menunjukan ciri khas daerahnya, tubuhnya tinggi semampai. Dari percakapan kami, kutahu ia baru berumur 26 tahun. Tiba-tiba ia menanyakan hubunganku dengan Tante Maria. Aku sempat kaget tetapi kucoba menenangkan diriku bahwa Tante Maria sangat baik kepadaku. Tetapi rasa kagetku tidak berhenti disitu saja, karena Vera mengakui hubungannya dengan Tante Maria sudah merupakan hubungan percintaan.

Aku pura-pura kaget,

“Bagaimana mungkin kakak bercinta dengannya, apakah kakak seorang lesbian,” kataku.

Vera menjawab, “Entahlah, aku tak pernah berhasil dengan beberapa pria, aku sering dikhianati pria, untung aku berusaha kuat, dan ketika kos disini aku dapat merasakan kenyamanan dengan Tante Maria, walaupun Tante Maria bukan yang pertama bagiku, karena aku pertama kali bercinta dengan wanita yaitu dengan seniorku.”

Kini aku baru mengerti rahasianya, tetapi mengapa ia mau membocorkan rahasianya kepadaku aku masih belum mengerti, sehingga aku mencoba bertanya kepadanya,

“Mengapa kakak membocorkan rahasia kakak kepadaku.”

Dan Vera menjawab, “Karena aku mempercayaimu, aku ingin kau lebih dari seorang sahabat.”

Aku sedikit kaget walaupun aku tahu isyarat itu, aku tahu ia ingin tidur denganku, tetapi dengan Vera sangat berbeda karena aku juga ingin tidur dengannya. Aku tertunduk dan berpikir untuk menjawabnya, tetapi tiba-tiba tangan kanannya sudah menyentuh daguku.

Ia tersenyum sangat manis sekali, aku membalas senyumannya. Lalu bibirnya mendekat ke bibirku dan aku menunggu saat bibirnya menyentuhku, begitu bibirnya menyentuh bibirku aku rasakan hangat dan basah, aku membalasnya. Lidahnya menyapu bibirku yang sedkit kering, sementara bibirku juga merasakan hangatnya bibirnya. Lidahnya memasuki rongga mulutku dan kami seperti saling memakan satu sama lain. Sementara aku fokus kepada pagutan bibirku, kurasakan tangannya membuka paksa baju kaosku, bahkan ia merobek baju kaosku. Walau terkejut tapi kubiarkan ia melakukan semuanya, dan aku membalasnya kubuka baju dasternya. Ciuman bibir kami tertahan sebentar karena dasternya yang kubuka harus dibuka melewati wajahnya.

Kulihat Bra hitamnya menopang payudaranya yang lumayan besar, hampir seukuran denganku tetapi payudaranya lebih besar. Ketika ia mendongakkan kepalanya tanpa menunggu, aku cium leher jenjangnya yang sexy, sementara tanggannya melepas bra-ku seraya meremas-remas payudaraku. Aku sangat bernafsu saat itu aku ingin juga merasakan kedua puting payudaranya. Kulucuti Bra hitamnya dan tersembul putingnya merah muda tampak menegang, dengan cepat kukulum putingnya yang segar itu. Kudengar ia melenguh kencang seperti seekor sapi, tapi lenguhan itu sangat indah kudengar. Kunikmati lekuk-lekuk tubuhnya, baru kurasakan saat ini seperti seorang pria, dan aku mulai tak dapat menahan diriku lalu kurebahkan Vera di sofa itu. Kujilati semua bagian tubuhnya, kulepas celana dalamnya dan lidahku mulai memainkan perannya seperti yang diajarkan Tante Maria kepadaku. Entah karena nafsuku yang menggebu sehingga aku tidak jijik untuk menjilati semua bagian analnya. Sementara tubuh Vera menegang dan Vera menjambak rambutku, ia seperti menahan kekuatan dasyat yang melingkupinya.

Ketika sedang asyik kurasakan tubuh Vera, tiba-tiba pintu depan berderit terbuka. Spontan kami berdua mengalihkan pandangan ke kamar tamu, dan Tante Maria sudah berdiri di depan pintu. Aku agak kaget tetapi matanya terbelalak melihat kami berdua berbugil. Dijatuhkannya barang bawaannya dan tanpa basa-basi ia membuka semua baju yang dikenakannya, lalu menghampiri Vera yang terbaring disofa. Diciuminya bibirnya, lalu dijilatinya leher Vera secara membabi buta, dan tanggannya yang satu mencoba meraihku. Aku tahu maksud Tante Maria, kudekatkan wajahku kepadanya, tiba-tiba wajahnya beralih ke wajahku dan bibirnya menciumi bibirku. aku membalasnya, dan Vera mencoba berdiri kurasakan payudaraku dikulum oleh lidah Vera. Aku benar-benar merasakan sensasi yang luar biasa kami bercinta bertiga. Untung waktu itu hujan mulai datang sehingga lingkungan mulai berubah menjadi dingin, dan keadaan mulai temaram. Vera kini melampiaskan nafsunya menjarah dan menikmati tubuhku, sementara aku berciuman dengan Tante Maria. Vera menghisap klitorisku, aku tak tahu perasaan apa pada saat itu. Setelah mulut Tante Maria meluncur ke leherku aku berteriak keras seakan tak peduli ada yang mendengar suaraku. Aku sangat tergetar secara jiwa dan raga oleh kenikmatan sensasi saat itu.

Kini giliranku yang dibaringkan di sofa, dan Vera masih meng-oral klitorisku, sementara Tante Maria memutar-mutarkan lidahnya di payudaraku. Akupun menjilati payudara Tante Maria yang sedikit kusut di makan usia, kurasakan lidah-lidah mereka mulai menuruni tubuhku. Lidah Vera menjelejah pahaku dan lidah Tante Maria mulai menjelajah bagian sensitifku. Pahaku dibuka lebar oleh Vera, sementara Tante Maria mengulangi apa yang telah dilakukan Vera tadi, dan kini Vera berdiri dan kulihat ia menikmati tubuh Tante Maria. Dijilatinya punggung Tante Maria yang menindihku dengan posisi 69, dan Vera menelusuri tubuh Tante Maria. Tetapi kemudian ia menatapku dan dalam keadaan setengah terbuai oleh kenikmatan lidah Tante Maria. Vera menciumi bibirku dan aku membalasnya juga, hingga tak terasa kami berjatuhan dilantai yang dingin. Aku sangat lelah sekali dikeroyok oleh mereka berdua, sehingga aku mulai pasif. Tetapi mereka masih sangat agresif sekali, seperti tidak kehabisan akal Vera mengangkatku dan mendudukan tubuhku di kedua pahanya, aku hanya pasrah. Sementara dari belakang Tante Maria menciumi leherku yang berkeringat, dan Vera dalam posisi berhadapan denganku, ia menikmatiku, menjilati leherku, dan mengulum payudaraku. Sementara tangan mereka berdua menggerayangi seluruh tubuhku, sedangkan tanganku kulingkarkan kebelakang untuk menjangkau rambut Tante Maria yang menciumi tengkuk dan seluruh punggungku.

Entah berapa banyak rintihan dan erangan yang keluar dari mulutku, tetapi seakan mereka makin buas melahap diriku. Akhirnya aku menyerah kalah aku tak kuat lagi menahan segalanya aku jatuh tertidur, tetapi sebelum aku jatuh tertidur kudengar lirih mereka masih saling menghamburkan gairahnya. Saat aku terbangun adalah ketika kudengar dentang bel jam berbunyi dua kali, ternyata sudah jam dua malam hari. Masih kurasakan dinginnya lantai dan hangatnya kedua tubuh wanita yang tertidur disampingku. Aku mencoba untuk duduk, kulihat sekelilingku sangat gelap karena tidak ada yang menyalakan lampu, dan kucoba berdiri untuk menyalakan semua lampu. Kulihat baju berserakan dimana-mana, dan tubuh telanjang dua wanita masih terbuai lemas dan tak berdaya. Kuambilkan selimut untuk mereka berdua dan aku sendiri melanjutkan tidurku di lantai bersama mereka. Kulihat wajah cantik Vera, dan wajah anggun Tante Maria, dan aku peluk mereka berdua hingga sinar matahari datang menyelinap di kamar itu.

Pagi datang dan aku harus kembali pergi kuliah, tetapi ketika mandi seseorang mengetuk pintu kamar mandi dan ketika kubuka ternyata Vera dan Tante Maria. Mereka masuk dan di dalam kamar mandi kami melakukan lagi pesta seks ala lesbi. Kini Vera yang dijadikan pusat eksplotasi, seperti biasanya Tante Maria menggarap dari belakang dan aku menggarap Vera dari depan. Semua dilakukan dalam posisi berdiri. Tubuh Vera yang tinggi semampai membuat aku tak lama-lama untuk berciuman dengannya aku lebih memfokuskan untuk melahap buah dadanya yang besar itu. Sementara tangan Tante Maria membelai-belai daerah sensitif Vera. Dan tanganku menikmati lekuk tubuh Vera yang memang sangat aduhai. Percintaan kami dikamar mandi dilanjutkan di ranjang suami Tante Maria yang memang berukuran besar, sehingga kami bertiga bebas untuk berguling, dan melakukan semua kepuasan yang ingin kami rengkuh. Hingga pada hari itu aku benar-benar membolos masuk kuliah.

Hari-hari berlalu dan kami bertiga melakukan secara berganti-ganti. Ketika Vera belum bertugas aku lebih banyak bercinta dengan Vera, tetapi setelah seminggu Vera kembali bertugas ada ketakutan kehilangan akan dia. Mungkin aku sudah jatuh cinta dengan Vera, dan ia pun merasa begitu. Malam sebelum Vera bertugas aku dan Vera menyewa kamar hotel berbintang dan kami melampiaskan perasaan kami dan benar-benar tanpa nafsu. Aku dan Vera telah menjadi kekasih sesama jenis. Malam itu seperti malam pertama bagiku dan bagi Vera, tanpa ada gangguan dari Tante Maria. Kami bercinta seperti perkelahian macan yang lapar akan kasih sayang, dan setelah malam itu Vera bertugas di perusahaan maskapai penerbangannya ke bangkok.

Entah mengapa kepergiannya ke bandara sempat membuatku menitikan air mata, dan mungkin aku telah menjadi lesbian. Karena Vera membuat hatiku dipenuhi kerinduan akan dirinya, dan aku masih menunggu Vera di kos Tante Maria. Walaupun aku selalu menolak untuk bercinta dengan Tante Maria, tetapi saat pembayaran kos, Tante Maria tak ingin dibayar dengan uang tetapi dengan kehangatan tubuhku di ranjang. Sehingga setiap satu bulan sekali aku melayaninya dengan senang hati walaupun kini aku mulai melirik wanita lainnya, dan untuk pengalamanku selanjutnya kuceritakan dalam kesempatan yang lain.

TAMAT

Tags : Cerita panas,cerita sex, cerita sexs, cerita seks, foto bugil, mahasiswi bugil, ngentot, memek, cewek telanjang,cewek smu bugil,hp tante girang,info tante girang,telepon tante girang,video tante girang,cynthiara alona bugil,artis bugil telanjang

1 komentar 22 Juni 2010

Cerita 18sx – Akhirnya Kunikmati Pemerkosaan Itu – 5

Dari Bagian 4

Sentuhan dan isapan Mas Rudi benar-benar lain malam ini, membuat birahiku seketika melonjak naik. Apalagi ketika bibirnya mulai turun dan menciumi bagian vitalku, aku sampai basah kuyup dibuat kenikmatan. Tiba-tiba Mas Rudi mengubah posisiku, dibuatnya aku menghadap kekanan dengan posisi membelakangi tubuhnya. Ia kemudian menjilati sekujur punggungku setelah menarik turun daster yang kupakai. Tangannya kemudian menyibak daster bawahku sehingga dasterku terkumpul diperut. Dari belakang, kurasakan tangan Mas Rudi menyerang vaginaku, bibir mungil bawahku dibelai dengan jari-jarinya, kadang jari tengah disisip dan digesekkan tepat dibelahan vaginaku.

“Ouhh..,” aku merintih kenikmatan saat jari tengah Mas Rudi mulai mengocok vaginaku dari belakang.

Sepuluh menit kocokan jari itu kurasakan, aku sudah melayang dan nyaris sampai puncak. Tapi mendadak jari itu berhenti dan dicabut dari liang senggamaku yang sudah monyong-monyong kenikmatan.

“Kok berhenti mas..,” aku tetap terpejam dan membelakangi Mas Rudi.

Mas Rudi diam dan kembali mencumbuiku, tapi tetap tak bersuara. Masih dengan tubuh mebelakangi Mas Rudi, aku mencoba meraih bagian celana suamiku. Tapi, astaga, punya Mas Rudi ternyata bangun malam ini, tegak dan terasa keras.

Karena bingung campur penasaran, kupicingkan mata dan segera berbalik kebelakang.

“Haahh, Bruuccee.., apa-apaan ini?” aku sangat terkejut karena ternyata yang sedang mencumbuiku ternyata Bruce, bukan Mas Rudi. Bruce juga terkejut, mungkin tak mengira kalau aku akan bangun. Tiba-tiba tangan kekar Bruce membekap mulutku dan ia pun segera menindih tubuhku.

“Ayo Anni, please.. Tolong aku, ini sudah tanggung.., jangan melawan kalau tak mau kukasari,” Bruce sedikit mengancamku.

Keadaan memang sudah tanggung, aku dan Bruce sudah sama bernafsunya. Tapi aku harus melawan, aku tak boleh begitu saja pasrah, aku gengsi dan malu dong. Namun aku tak berkutik ditindih berat tubuh Bruce.

“Jangan Bruce.., aku takut Rudi tahu,” pintaku, walau sebenarnya aku pun ingin menikmati cumbuan itu lagi.

“Hsstt.., Ani.. Tolong aku. Oke aku tak akan masukan penisku ke vaginamu, tapi tolong bantu aku sampai aku puas ya..,” Bruce merengek.

Bruce aktif lagi mencumbuiku. Sudah kepalang tanggung pikirku, sehingga akupun pasrah terbawa cumbuan Bruce. Dengan posisi menindihku, Bruce membuka celananya dan menempelkan penis panjangnya yang sudah tegap di vaginaku. Menepati janjinya, penis itu tidak dimasukan dalam liang vaginaku, tetapi hanya digesekkan saja dipermukaan vaginaku. Lima menit berlalu rupanya pertahananku hampir bobol. Meski tak masuk keliang nikmatku, namun gesekan penis Bruce ditambah bobot tubuhnya diatas tubuhku membuat vaginaku menerima rangsangan yang cukup dibagian klitorisnya.

“Emmhh.. Bruuccee..,” akhirnya erangan nikmatku keluar juga. Saat itu kurasakan klitorisku mulai membesar dan denyutan kecil mulai terasa mengitarinya, aku hampir orgasme.

“Ani..,” Bruce memanggilku dan menghentikan aktifitasnya. Setelah itu kurasa Bruce memindahkan posisi penisnya sehingga ujung penisnya tepat berada dibelahan bibir vaginaku yang sudah basah kuyup.

Bruce kini lebih berani, penis itu ditekan masuk ke vaginaku yang memang sudah resah menunggu. Akhirnya aku dan Bruce bersenggama, ya Bruce jadi pejantanku malam itu. Kuakui mungkin Bruce adalah pria pertama yang memberi kepuasan begitu dasyat padaku. Sore hingga malam itu, kami lakukan aktifitas seks sampai empat kali. Empat kali itu pula aku merasa puncak yang sangat fantastis.

Namun kenangan bersama Bruce tinggal kenangan saat esok paginya Bruce harus kembali ke Jakarta. Aku Ani, kembali kesepian. Terima kasih Bruce, untuk kenangan satu malam yang sangat berkesan.

*****

Seminggu ini rumahku sering dapat telepon gelap yang intinya mengancam Mas Rudi suamiku, lantaran berita yang dibuat Mas Rudi menohok salah satu kepentingan pejabat di kota M. Malah belakangan yang ikut mengancam mengaku-ngaku dari aparat keamanan juga.

“Mas.., kita pindah rumah sementara yuk. Aku kok jadi takut diteror terus,” pintaku pada Mas Rudi malam itu. Kami sudah berbaring di kamar karena memang jam sudah menunjuk angka 10 malam.

“Heemm, kenapa sayang? Aku janji nggak akan ada apa-apa,” Mas Rudi menjawab sambil memeluk tubuhku.

Mas Rudi kemudian menjelaskan padaku tentang berita yang dibuatnya itu. Katanya masalah dengan pejabat itu sudah selesai dua hari lalu, damai. Tapi aku masih saja trauma dengan kejadian pertama yang berakibat fatal hingga penganiayaan yang membuat penis Mas Rudi mati total itu.

“Tapi Mas..,”

“Sudah sayang.., kamu nggak usah takut. Itu resiko kerja namanya,” katanya lagi.

Pembicaraan kami akhirnya berhenti, dan kami berdua terlelap tidur. Seharian tadi memang aku sangat capek mengurus kios hanya dibantu Ijah, dan Mas Rudi pun kelihatan letih seharian bekerja.

“Sayang.., bangun sayang..,” suara Mas Rudi membangunkan aku tengah malam.

“Tuh dengar.. Sepertinya ada yang masuk ke rumah,” kata Mas Rudi saat aku membuka mataku. Benar saja, di ruang tamu rumah kami terdengar banyak langkah kaki dan suara berisik. Mas Rudi segera bangkit dan membuka pintu kamar.

Braakk!! pintu kamar terbuka sebelum dibuka Mas Rudi, daun pintu yang terdorong kencang malah membentur wajah Mas Rudi hingga ia terpental ke lantai.

“Jangan berteriak..!!,” empat lelaki bersenjata api dan senjata tajam mendesak masuk ke kamar tidur kami sambil mengancam dan menodongkan senjata mereka. Aku sungguh takut malam itu, apalagi kulihat Mas Rudi pingsan akibat benturan pintu.

“Ha.. Ha.. Ha, sekarang kalian akan rasakan pembalasan bos kami ya..! Hei kamu pelacur, ayo kesini,” lelaki yang bertubuh paling besar memanggilku kasar dan menarik tubuhku turun dari kasur.

“Sssiapa kalian.., apa salah kami?” aku mengiba.

Muka mereka tertutup stoking mirip perampok, kupikir kami memang sedang dirampok. Tapi setelah mereka menjelaskan bahwa kedatangannya adalah untuk menghajar Mas Rudi karena berita pejabat itu, aku baru sadar, kami sedang dalam bahaya. Astaga, mereka juga rupanya sudah meringkus Ijah, dan dibawa serta kekamar kami.

“Nyaahh, toloong Nyah..” Ijah dipegang erat dua lelaki lainnya, sementara yang dua mulai mengikat tubuh Mas Rudi ke sebuah kursi di kamar. Singkatnya malam itu kami bertiga diikat kaki dan tangan, tapi aku dan Ijah dibiarkan terikat di kasur sedangkan Mas Rudi diikat dalam posisi duduk menghadap kami di kursi.

“Hai kopral.. Ambil air, biar nih wartawan sok jago sadar,” kata lelaki yang paling besar kepada yang lain.

“Oke komandan, segera laksanakan,” dua lelaki langsung mengambil air, begitu kembali seember air langsung diguyur ke Mas Rudi.

“Hhhaahh.. Siapa kalian bangsaat..,” Mas Rudi menghardik mereka ketika sadar. Tapi posisi yang terikat membuat Mas Rudi tak bisa berbuat banyak, apalagi setelah itu mulut Mas Rudi ditutup lakban. Mereka juga menutup mulutku dan Ijah dengan lakban pula.

“Heii sombong, kamu pikir bos kami begitu saja memaafkanmu dengan damai dua hari lalu? Tadinya kami ditugaskan gorok lehermu. Tapi.. (Lelaki itu memandang aku dan Ijah) Tidak. Kami akan lebih kejam dari itu.. Lihat saja bagaimana sebentar lagi kontol-kontol kami mengoyak-koyak pembantu dan istrimu yang cantik dan mulus itu,” tangannya menuju arahku dan Ijah.

Setelah mengatakan akan memperkosa aku dan Ijah, keempat orang itu lalu saling bagi. Yang paling besar dan satu lagi yang agak tambun meraihku dan mengikatku kembali dalam posisi terlentang. Tangan dan kakiku diikat diujung-ujung ranjang. Sedangkan dua lelaki lain, yang jangkung dan yang botak meraih Ijah dan mengikatnya seperti posisiku dilantai kamar.

“Hmmpp..,” Mas Rudi hanya bisa bersuara tersumbat dengan mata melotot ketika keempat lelaki itu membugili aku dan Ijah. Mata keempat lelaki itu memandangi tubuh polos kami berdua.

Aku sangat takut malam itu, sungguh aku takut. Kupikir aku dan Ijah akan jadi korban perkosaan brutal, terus terang aku jijik sekali melihat tampang mereka malam itu. Tapi dugaanku meleset. Si jangkung mendekat ke arah Ijah, sedangkan tiga lelaki lainnya duduk menonton dikursi dekat Mas Rudi berada.

“Tenang sayang.. Kamu pasti asyiik kubuat,” jangkung mulai meraba-raba Ijah. Aku bisa melihat semuanya karena posisi Ijah tak terlalu jauh dari dipan tempat aku diikat.

Bibir si jangkung langsung mengisap isap susu Ijah.

“Ehgghh.. Mmmppffhh,” ijah bersuara keras tersumbat, tapi nadanya protes.

Jangkung terus beraksi, malah hisapan dan rabaannya mulai turun dan akhirnya bermuara di vagina Ijah yang jelas terlihat karena diikat mengangkang. Awalnya Ijah terus mengeluarkan suara keras bernada protes. Tapi beberapa menit kemudian Ijah sepi, yang ada justru Ijah mendesis-desis menahan birahi.

“Mmmpphhff.. Eengghh..,” tubuh ijah mengelinjang menahan geli saat lidah jangkung menyapu klitorisnya.

“Ha.. Ha.. Kenapa sayang.. Hah? Mulai enak ya,” jangkung mengejek Ijah sambil melucuti pakaiannya sendiri sampai bugil juga.

Kini jangkung siap menyetubuhi pembantu kami itu. Penisnya yang lumayan besar sudah diletakkan persis dipintu masuk vagina Ijah. Ijah sudah birahi dengan mata sayu memandang jangkung, nafasnya pun terlihat memburu dari dadanya yang turun naik. Bleess.. Pleess.. Jlebb.. penis jangkung amblas total di vagina Ijah.

“Ngghh..,” Ijah menggelinjang menerima penis jangkung.

“Ouhh eennakk sekali tempikmu sayang,” jangkung nyerocos sambil menggenjot Ijah.

Ke Bagian 6

Tags : Cerita ngewe,cerita seks,cerita 17tahun,cerita sex,ceritasexs,toket montok, Foto Toket Gadis Abg, pentil tete, pentil toket, toket gede banget, cewek cantik, bugil, gambar bugil, tante girang, chika bandung, cewek telanjang, telanjang bugil, model bugil, telanjang bulat

1 komentar 17 Juni 2010

Cerita 18sx – Akhirnya Kunikmati Pemerkosaan Itu – 4

Dari Bagian 3

Vaginaku mulai membasah, sentuhan jemari Jaka sudah berani nakal membelai-belai bibir vaginaku. Udara dingin dan suara hujan membuat nafsuku melambung, Jaka pun kian girang menikmati tubuh mulus majikannya ini. Tiba-tiba Jaka menghentikan aktifitasnya, kulirik dari sela mataku, Jaka mempreteli pakaiannya sendiri sampai bugil. Wah walau bertubuh pendek dan kurus, tapi penis Jaka lumayan juga, lebih panjang dari punya Maman walau pun lebih langsing.

Aku masih pura-pura tidur, Jaka mengangkat dasterku dan bebas melototi vaginaku yang memang tak ber CD. Dielus lagi vaginaku dengan jemarinya, sambil dia naik ke sofa tempatku berbaring.

“Duhhss, Mass.. Rud, cepeetaan dong.. Annii nggak tahaan.. aahhmmpp,” belum selesai ceracauku, Jaka sudah menyumpal bibirku dengan mulutnya. Disedotnya seluruh bibirku dengan nafsu, dan penisnya yang tegang mulai amblas dalam vaginaku. Bleess.. jleepp.., Jaka mulai menggoyangku dengan sangat nafsunya.

“Eiihh.. huuss.. eenaakk sekallii Ani memekmu enaak..,” Jaka terus menggenjotku.

“Aahh.. ohh..,” aku mulai merasa nikmat yang sama menjalari tubuhku, pinggulku kubuat seirama kocokan penis Jaka.

Tapi rupanya gerakanku itu salah, karena membuat nafsu Jaka tak terkendali. Baru lima menit gerakan pinggul kulakukan, tubuh Jaka sudah mengejang kaku diatas tubuhku.

“Ahh.. uueennaakk.. sayaang,” crot.. crot.. Jaka orgasme karena nafsu yang sangat tinggi akibat goyangan dan suara erotisku. Terang saja aku kecewa, aku belum lagi apa-apa, lantas aku bangkit dan membuka mata melotot.

“Jaka.., apa-apaan kamu ini hah..,” sergahku pura-pura marah.

Belum sempat aku lanjutkan kata-kataku, Jaka mengeluarkan sebilah pisau dari bajunya di lantai.

“Jangan berteriak Bu,” pisau tajam itu ditodongkan ke arahku, aku takut.

“Sekarang diam, dan Ibu harus nungging.. ayo nungging. Disini Bu ceppaat,” teriak Jaka sambil menunjuk sisi sofa.

Hujan masih lebat, aku terpaksa nungging dengan dua tangan menekan pinggir Sofa, Jaka berdiri tepat dibelakangku.

“Nah.., akan kubuat Ibu lebih enak dari yang tadi. Anggap saja aku suamimu Bu,” Jaka membelai-belai bokongku, lalu jongkok tepat di belahan bokongku. Tangannya menyibak bongkahan bokongku sehingga vaginaku jelas terlihat olehnya, setelah itu, astaga, Jaka mulai menjilati vaginaku.

“Ahh.. sstt Jakk.. aouhh gelii Jak,” aku tak bisa lagi berpura-pura, jilatan Jaka dalam posisiku nungging begitu terasa nikmat sekali.

Mendengar desahku Jaka makin berani, kini pisau ditangannya sudah dilepas dan ia kembali menjilati vitalku itu. Cukup lama Jaka menciumi dan menjilati vaginaku, sampai kurasa sesuatu mulai mengumpul di paha, pantat dan bibir vaginaku itu. Aku hampir orgasme ketika Jaka menghentikan jilatannya. Tadinya aku mau marah lagi karena orgasmeku batal, tapi setelah jilatan itu lepas, ternyata penis Jaka sudah kembali tegang dan langsung menusuk ke liang nikmatku.

“Ahh, enaak ya Buu,” Jaka menggenjot tubuhku dari belakang, maju mundur.

Aku terbuai, posisiku hampir kalah, kedutan kecil mulai tercipta di dinding vaginaku. Jaka mempercepat goyangnya, hingga sepuluh menit kemudian aku semakin merasa mau jebol. Posisi nunggingku sudah utuh, tangan tak lagi menyangga tubuh. Kini aku seperti tiarap di Sofa dengan kaki berlutut di lantai, Jaka ikut jongkok, aku mirip betina yang sedang di setubuhi jantannya.

“Ouughh.. Jakk.., akuu.. ammpuun..,” pertahananku jebol, kurasakan semua sendiku ngilu, dan kedutan di dinding vaginaku menjepit-jepit penis Jaka yang masih aktif.

Tapi tak lama berselang, Jaka pun sampai puncaknya, dan tegang kaku di atas punggungku.

“Ahh Nyah.. ohh,” Jaka masih menidihku, dan posisi kami masih seperti pasangan jantan dan betina yang sedang senggama.

Kurasakan kedutan kelamin kami berpadu sampai akhirnya hilang perlahan, aku ngantuk dan terpejam, aku tertidur pulas dibuai kenikmatan dari penis pembantuku.

Paginya aku terbangun saat Minah menggoyang-goyang bahuku.

“Nyah bangun Nyah.., kok Nyonya telanjang di luar begini sih?,” suara Minah bercampur heran melihatku dalam kondisi bugil tertidur di sofa tengah.

“Ehh Min, oh.. aku ketiduran semalam nih,” aku segera bangkit dan beranjak ke kamarku sambil pakai daster kembali, Jaka sudah tak ada entah di mana dia.

Siangnya aku baru tahu dari Ijah kalau Jaka kabur. Dia cuma bilang ke Ijah kalau dia punya masalah sama preman di pasar tempat aku membeli barang dagangan untuk kios milikku. Aku tahu Jaka takut kejadian malam tadi sampai terdengar Mas Rudi, ia pikir ia telah memperkosaku. Kasihan juga Jaka, seharusnya aku jujur kalau aku pun ingin begituan, lagipula aku juga yang memancing birahinya. Tapi begitulah, aku juga gengsi sebagai majikan relah disetubuhi pembantu. Belum lagi selesai memikirkan Jaka yang kabur, sorenya Maman dan Minah menemuiku. Mas Rudi pulang cepat sore itu, dan mereka berdua, Maman dan Minah berbicara dengan kami di ruang tamu.

“Anu Pak Rudi, kami salah pak.., anu pak,” Maman gagap.

“Ada apa Pak Maman bicara saja,” dorong Mas Rudi.

Tadinya aku yang gugup jangan-jangan Maman mau bongkar rahasia seks kami selama ini, tapi setelah itu aku lega.

“Kami mau pulang kampung pak, si Minah hamil, kami harus nikah,” pengakuan Maman membuatku agak terkejut sekaligus kecewa, apalagi Jaka sudah pergi juga. Terbayang olehku hari-hari yang bakalan sepi di saat gairah seksku sedang tinggi-tingginya akhir-akhir ini.

Singkatnya sore itu Mas Rudi mengijinkan mereka pulang kampung sekaligus membayar pesangon kerja mereka. Sejak saat itu di rumah hanya ada aku, Ijah dan Mas Rudi yang selalu pulang larut malam. Meski dua pembantu lelaki itu sudah tiada tapi kenangan bersama mereka selalu kukenang, terutama saat aku birahi sendiri dalam sepi, bersama penis Mas Rudi yang tak bisa berdiri lagi.

Sejak kepergian Jaka, Maman serta Minah, tiga pembantuku, aku jadi kesepian dan hanya Ijah satu-satunya teman setiaku dirumah. Tapi kulalui saja kehidupan itu dengan sibukan diri mengurus kios kami, tentu saja dibantu Ijah.

Siang itu tak seperti biasanya Mas Rudi pulang ke rumah, tapi ia tidak sendiri. Bersama Mas Rudi turun dari mobil seorang lelaki bertampang bule.

“Ani.., kenalkan ini Bruce, teman kameraman TV Australia,” kata Mas Rudi menunjuk lelaki di sampingnya, kami pun bersalaman.

Setelah kubuatkan minuman dingin dan duduk bertiga diruang tamu, Mas Rudi mulai menceritakan siapa Bruce. Bruce adalah pria asal Australia berusia 28 tahun yang sudah tiga tahun ini tinggal di Jakarta. Bruce bekerja di sebuah stasiun TV Australia sebagai kameramen untuk reporter yang ada di Jakarta. Kebetulan Bruce sudah seminggu ini ada di kota M untuk meliput sebuah event internasional yang diselenggarakan di kota M.

“Bruce akan menginap disini beberapa hari, pingin lihat-lihat kota M, kasihan kalau harus nginap di hotel. Toh aku juga pernah liputan bareng dia di Jakarta,” Mas Rudi menjelaskan. Singkatnya untuk beberapa hari Bruce menginap di rumah kami di Kota M.

Sore itu, hari ketiga Bruce menginap di rumah kami. Ijah masih sibuk ngurus pelanggan kios, sedangkan Mas Rudi baru saja pergi ke redaksinya. Bruce bertubuh sangat atletis, tingginya mencapai 187 cm dengan postur yang ideal. Apalagi wajahnya yang mirip Antonio Banderas itu pasti membuat semua wanita tergila-gila padanya.

Bruce berolahraga ringan di taman belakang rumahku. Menggunakan kaos ketat dan celana pendek ketat pula, lekuk tubuh atletis Bruce makin mempesona dihiasi titik titik keringat yang membasahi.

“Istirahat dulu Bruce.., ini kubuatkan es limon untukmu,” aku meletakkan segelas es limon dimeja dan mengambil duduk di kursi taman. Bruce menatapku dan tersenyum, lalu menghampiriku duduk bersama.

“Kamu baik sekali Ani.., pasti Rudi bahagia punya istri sepertimu,” Bruce memujiku tulus.

“Makasih Bruce, kamu ini ada saja,”

“Aku juga punya istri, dan rindu juga karena dia di Australia,” Bruce bercerita.

Rupanya selama tiga tahun di Jakarta, Bruce hanya sesekali pulang ke Australia, atau istrinya yang ke Jakarta.

“Kamu bisa tahan ya Bruce,” aku keceplosan menanyakan itu, kesalahanku memang.

“Tahan apa Ani?,”

“Eh.. Maksudku tahan nggak ketemu istri,” aku tertunduk malu.

“Kalau maksudmu itu aku sih tahan, tapi kalau masalah seks.. Aku menghabiskan waktu olahraga saja,” katanya.

Kami pun terlibat obrolan seputar rumah tangga kami. Entah kenapa akhirnya kisahku bersama Mas Rudi kuceritakan pula, bagaimana kecelakaan itu, bagaimana Mas Rudi sudah tak mampu menjalani tugasnya sebagai suami, dan bagaimana sampai kini kami tak kunjung punya anak.

Malam mulai merayap, kami sudah selesai makan malam tapi Mas Rudi belum juga pulang. Sampai akhirnya jam 9 malam Mas Rudi mengirim SMS yang intinya ia nggak bisa pulang karena ada berita yang harus dikejar dan ditunggu sampai malam. Bruce sudah masuk ke kamar tidur yang kami siapkan untuknya, sedangkan aku sudah berbaring di kamar tidurku, dan siap untuk tidur.

Malam itu akhirnya Mas Rudi pulang juga, dan langsung berbaring disampingku. Seperti biasa kalau mau melampiaskan nafsunya, Mas Rudi mulai menciumiku. Aku membiarkan saja ketika suamiku melepaskan CD yang kupakai, Bra yang kukenakan pun ditanggalkan menyisakan daster merah muda yang masih melekat ditubuhku.

“Ahhmm.. Mas,” aku bersuara manja tetap terpejam.

Mas Rudi semakin aktif menciumiku. Dasterku dibuka bagian atas dan susuku mulai diisap-isap putingnya, sementara tangannya mulai aktif menjelajahi bagian bawahku.

Ke Bagian 5

Tags : Cerita ngewe,cewek cantik, toket, cewek abg, cerita saru, Cerita Setengah Baya, Cerita Daun Muda, toket montok, Foto Toket Gadis Abg, pentil tete, pentil toket, toket gede banget, cewek cantik, bugil, gambar bugil, tante girang, chika bandung, cewek telanjang, telanjang bugil, model bugil,cerita sex,cerita seks,cerita sexs

1 komentar 16 Juni 2010

Cerita 18sx – Akhirnya Kunikmati Pemerkosaan Itu – 3

Dari Bagian 2

Ya Tuhan, aku sudah menodai kepercayaan Mas Rudi. Aku menitikan air mata usai meraih kepuasanku dari Maman.

“Maafkan saya nyonya, saya khilaf waktu lihat nyonya tidur dan pintu tak ditutup,” Maman membuka bicara.

Dari situ aku tahu, sehabis dipijat Ijah, aku tertidur dan Ijah tak menutup pintu kamarku. Setelah larut saat Ijah, Minah dan Jaka tidur, Maman hendak menguncikan pintu rumah tetapi batal karena melihat posisi tidurku dengan daster tersingkap. Maman jadi khilaf dan berniat memperkosaku.

“Kalau saya mau dipecat, saya hanya minta uang saku untuk pulang kampung nyah, saya nggak minta apa-apa lagi,” tutur Maman mengiba.

“Kamu nggak salah Man, aku yang salah aku juga khilaf. Ya sudah kamu pindah kamar sana dan jangan bilang siapa-siapa ya, anggap saja tadi itu hadiah dariku buat kamu,” kataku sambil menyuruh Maman pergi dari kamarku.

Hari ketiga saat Mas Rudi liputan luar kota, aku jadi termenung sendiri dalam kamar sejak pagi. Urusan kios aku percayakan sepenuhnya pada pembantuku, sementara aku hanya memikirkan kejadian malam kemarin dengan Maman. Kupikir aku diperkosa dan diinjak-injak harga diriku, tapi kupikir lagi aku pun menikmatinya, malah harus berterima kasih pada Maman yang telah mengobati rinduku selama ini untuk bersenggama dengan lelaki sebenarnya.

Sejak kejadian dengan Maman itu, aku seperti menemukan kehidupan baru. Jika aku butuh kepuasan semacam itu aku akan memanggil Maman melayaniku. Tentu saja semua tanpa sepengetahuan Mas Rudi, suamiku tercinta.

Tiga bulan sejak kerap melakukan hubungan gelap dengan Maman, tukang kebunku, aku merasa irama hidupku menjadi normal. Walau aku sadar telah menodai kepercayaan Mas Rudi suamiku, tapi aku juga kan wanita normal yang butuh kepuasan yang tak mungkin kudapat dari Mas Rudi lagi.

Sore itu hujan turun di kota M, sementara aku, Ijah, dan Jaka masih melayani pelanggan kios serba ada milikku. Mas Rudi belum pulang, biasanya pulang larut malam, Minah sibuk masak di dapur, dan Maman terakhir tadi kulihat membersihkan taman dibelakang rumahku.

“Aduh.. Jah, lanjutin dulu ya kerjaannya, saya mau lihat Minah di dapur. Tadi lupa bapak minta buatin telur asin,” aku mendadak ingat Mas Rudi memesan telur asin kesukaannya untuk makan malam.

Kutinggalkan Ijah dan Jaka melayani pelanggan kiosku, dan aku berlari kecil melalui pintu pembatas kios-rumah menuju dapurku.

“Minn.. Minaahh..,” sampai di dapur Minah yang kucari sudah tak ada, hanya ada sayur lodeh yang mendidih diatas kompor nyala.

“Astaga Minah kok ceroboh sih.., kemana lagi si Minah uhh,” segera kuangkat panci berisi lodeh, kompor kupadamkan dan selanjutnya mencari Minah.

Tadinya kupikir Minah lagi pipis atau buang air besar di WC belakang, jadi aku melangkah kesana. Tapi belum sampai ke WC pembantu itu, aku dengar suara rintihan khas orang sedang bersenggama. Ups.., langkah kuhentikan di tepi letukan tembok, kusaksikan pemandangan yang membuat darahku berdesir.

Maman sedang asyik menggenjot pantatnya dengan penis besar yang tertancap di vagina Minah, Maman berdiri, sedangkan Minah nungging berpegang pada pagar kayu di taman belakang rumahku. Mereka tampak buru-buru dan tidak telanjang, daster Minah diangkat naik dan CDnya diturunkan sebatas lutut, dan celana Maman merosot sebatas lutut pula, tapi baju mereka tetap terpasang. Meski hujan cukup deras mereka tidak basah karena di taman belakang rumahku Mas Rudi sengaja membuat tempat duduk teduh untuk menghabiskan jika ada waktu santai kami.

“Ohh Kaang.. enak.. aahhsst,” Minah menjerit tertahan, orgasme sampai pinggulnya bergetar hebat.

“Ouhh iyaahh Minnhh.. ssiip,” tubuh Maman pun mengejang menyusul orgasme Minah, tentu sperma Maman banyak menyiram vagina Minah, pikirku.

Sialan, rupanya mereka curi kesempatan karena hujan deras. Ehm, mungkin enak juga ya bersenggama saat hujan deras. Sebelum mereka merapikan pakaiannya, aku langsung kembali ke dapur dan duduk di kursi dapur.

“Ehh, Ibu kok disini?, ehh anu Bu.., saya habis pipis.., tapi sayurnya nggak hangus kan Bu?,” Minah gugup melihatku ada di dapur.

“Iya.. iya, tapi lain kali jangan ceroboh dong, untung saya ke dapur. Kalau nggak kan bisa kebakaran rumah ini,” kataku pada Minah, Minah manggut-manggut.

Malamnya, hujan masih lebat. Tiba tiba telepon berdering.

“Halo sayang, maaf ya.. aku nggak bisa pulang. Nginep di kantor ada kerjaan tambahan yang harus kelar malam ini,” begitu inti bicara Mas Rudi saat telepon kuangkat.

Aneh, harusnya sebagai istri aku kecewa suami nggak pulang. Tapi kok aku malah senang ya? Malah pikiranku ingin segera menemui Maman dan melampiaskan kerinduanku pada penisnya yang hitam besar itu.

Jam 10 malam, aku sengaja mengenakan daster tipis tanpa CD dan bra, menikmati acara hiburan TV di ruang tengah rumahku, sejuk segar rasanya. Hujan masih lebat.

“Permisi Bu, mau ikutan nonton,” suara Jaka membuatku sedikit terkejut.

“Eh.. kamu Jak, si Ijah mana?,” aku duduk diatas sofa, Jaka ambil duduk di lantai semeter di depanku.

“Anu Bu, sudah tidur, kecapean mungkin. Semua sudah tidur, saya aja belum ngantuk Bu”

“Wah.., padahal saya mau dipijitin, cape juga nih, pegel,” aku memijit-mijit sendiri kakiku, tubuhku merunduk.

Jaka memperhatikanku tak berkedip, dasterku terkuak dalam posisi itu, buah dadaku pasti terlihat Jaka.

“Kamu bisa mijitin Jak?,” pertanyaanku membuat Jaka kaget, tapi tetap menatapku.

“Ah Ibu, saya nggak berani Bu, nanti dikira usil,” Jaka malu, pemuda itu memang selalu pemalu, tapi aku tahu selama ini dia sering curi pandang menikmati indah tubuhku.

“Kok gitu? kalau bisa tolong saya dipijitin ya Jak. Disini aja disofa biar kamu nggak dibilang usil,” aku rebah dengan posisi menelungkup.

Jaka ragu-ragu tapi kemudian mendekatiku. Sofa ruang tengah agak lebar ukurannya, jadi Jaka kusuruh duduk di tepi sofa dan memijitku.

“Permisi loh Bu,” Jaka mulai memijiti betisku, tangannya dingin membuat pijitannya terasa asyik di betisku.

“Hmmh, enak juga tanganmu ya Jak, belajar mijit dimana sih,”

“Nggak kok Bu, cuma biasa mijitin Kang Maman aja kalau dia cape,”

“Agak naik dong Jak, pahanya agak pegel,” perintahku disambut Jaka semangat. Paha dan betisku dipijit naik turun, kanan kiri.

Hujan semakin lebat diluar, pijitan Jaka mulai asyik kurasakan. Kadang tangannya terasa mengelus dan membelai betis dan pahaku, bukan lagi memijit. Tapi kubiarkan saja aksinya itu, kunikmati saja tangan nakalnya itu.

“Badannya mau dipijit juga Bu?,”

“Iya dong Jak, sekarang punggungku pijitin gih,”

Jaka memijit punggungku masih terhalang daster, tapi Jaka tahu, aku tak pakai bra karena tali bra tak ada di punggungku.

“Sebentar Jak, biar gampang kamu mijit,” aku bangun dan menurunkan dasterku sebatas dada, menutupi susuku saja, lalu rebah lagi tengkurap. Kini tangan Jaka memijit punggungku dan menyentuh langsung kulit mulusku, kadang tangannya mengambil kesempatan ke sisi tubuh menyentuh samping pangkal susuku.

“Ohh di situ Jak, pegel tuh, ouhh asshh.. enak Jak,” suaraku sengaja mendesis, nampaknya Jaka sudah dibuai nafsu. Pijitannya sudah berubah elusan dan remasan dipunggungku, kini malah turun ke pinggang, menyentuh pantatku, aku yakin Jaka pun tahu aku tak pakai CD.

“Jak?,”

“Ehh.. saya Bu,” suara Jaka agak serak menahan nafsunya.

“Pijitin terus sampai saya tidur ya. Kalau saya ketiduran nanti kamu kunci pintu belakang kalau sudah nonton TV ya, biar saya tidur disini,” aku sengaja bicara sambil terpejam, Jaka mengiraku sudah ngantuk benar.

Beberapa menit setelah itu aku sengaja tak bersuara lagi dengan mata terpejam seperti tidur. Jaka masih mijitin aku, tapi sekarang sepenuhnya hanya meremas dan meraba-raba tubuhku. Sekejap aku balikkan badan dan masih pura-pura tertidur, posisiku jadi menghadap atas, daster bagian depanku turun sampai separuh susuku nampak jelas. Jaka kaget, kulihat dari sela mata pejamku, ia berhenti mijit tapi tetap duduk di sisi sofa dan memandangi tubuhku. Aku tahu Jaka tersangsang dengan posisi tubuhku yang menantang.

Sebentar saja Jaka mematung, setelah itu kurasakan tangannya mengelus-elus pangkal susuku yang tersibak. Pelan-pelan sekali, dia takut aku bangun tuh. Setelah yakin aku tidur Jaka lebih berani menyibak dasterku lebih terbuka sampai susuku bebas tak terhalang.

“Ohh.. cantik sekali kamu Bu..,” Jaka berbisik sendiri sambil mengelus-elus susuku.

“Ahhss Mas Rud..,” aku pura-pura ngigau.

“Iya sayang.. ini Mas Rudi,” Jaka konyol menjawab ngigauku, pasti ia mulai berpikir ini kesempatan emas.

Benar saja dugaanku, setelah igauan itu didengar, Jaka tak ragu lagi melancarkan serangannya. Tangannya yang kasar mulai meremas-remas susuku, bibirnya juga ikut terjun mencium dan menjilati puting susuku.

“Ouuhh Mass.., ngghh.. gelii Mas aahhff..,” masih pura pura tidur aku merangkul tubuh kurus Jaka, ia semakin semangat menciumi susuku. Kini tangan Jaka sudah merayap ke bawah, pahaku diusap-usapnya.

Ke Bagian 4

Tags : Cerita ngewe,cerita sex, ngentot, Bugil, Telanjang, Foto Bugil, ABG BUGIL, cewek bugil, gambar bugil, gambar, cerita berahi, cerita pemerkosaan, cerita ghairah, cerita sexs, Cerita Seks, cerita 17 tahun

Add a comment 16 Juni 2010

Cerita 18sx – Akhirnya Kunikmati Pemerkosaan Itu – 2

Dari Bagian 1

Ijah yang sudah telanjang bulat berbaring diranjang dengan posisi kaki menjuntai kelantai, sedangkan Jaka mengambil posisi berdiri. Jaka kemudian mengangkat dua kaki Ijah sehingga posisi Ijah mengangkang, lalu perlahan Jaka memasukan penisnya ke dalam vagina Ijah.

“Nghhss Jak.. ohh,” Ijah mulai mendesis dan mengerang ketika Jaka memompa tubuhnya.

Keduanya lalu tenggelam dalam nafsu birahi, sementara aku yang sudah tak kuat lagi segera berlari ke kamarku dan memuaskan diri dengan penis karet sialan itu. Sampai akhirnya Mas Rudi pulang larut malam dan kembali memuaskanku dengan alat sialan itu lagi.

Sejak kejadian itu, aku semakin tak habis pikir dengan kelakuan para pembantuku itu. Tapi lama-lama aku pikir wajar saja, karena Maman memang duda dan Minah janda, lalu Jaka dan Ijah mungkin saja sudah menjalin cinta sejak di kampung dulu. Apalagi pengawasan terhadap mereka di rumahku tak terlalu ketat. Namun tak bisa kupungkiri juga, sejak melihat kejadian itu, aku semakin merasakan haus untuk melakukan seks. Apa boleh buat keinginan itu harus kuredam dengan penis karet lagi, dan lagi.

Hari itu Mas Rudi pamit akan liputan luar kota selama tiga hari, dan tiga hari itu pula aku harus kesepian di rumahku. Hari pertama berjalan seperti biasa meski tanpa Mas Rudi. Tapi hari kedua sejak pagi aku merasa kurang enak badan, sehingga kios hanya dijaga para pembantuku.

“Bu.., kalau mau biar saya pijatin supaya enak badannya,” suara Ijah menawariku usai makan malam.

Malam itu sengaja kuajak empat pembantuku itu makan malam bersama di rumahku dan mereka juga bebas nonton TV dirumah majikannya ini.

“Iya deh Jah, pijitin aku dikamar ya..,” ujarku sambil berjalan menuju kamar.

Sementara Minah, Maman, dan Jaka masih nonton TV diruang tengah. Sampai di kamarku, Ijah langsung memijiti seluruh badanku dari kaki sampai kepala. Pijitan Ijah memang enak sampai-sampai aku terlelap dan tidur.

Aku tak tahu berapa lama aku sempat tertidur, tetapi saat bangun tubuhku rasanya sudah segar kembali. Hanya saja, astaga, aku dalam keadaan terikat. Kedua tangan dan kakiku terikat pada tiap sudut ranjang, dan mulutku tertutup erat plester lakban. Hanya mataku yang terbuka dan melihat kamar dalam keadaan terang, dan aku sendiri dalam keadaan bugil tanpa sehelai benang pun.

“Selamat malam nyonya sayang,” suara Maman tiba-tiba mengejutkanku.

Lelaki bertubuh gempal itu sudah berdiri tepat di depanku di ranjang bagian kakiku. Matanya berbinar liar menatap kearah tubuhku yang terikat, terlentang, dan telanjang. Sialan, apa mau Maman ini, aku mau berteriak tapi mulutku tertutup lakban.

“Tenang saja nyonya, malam ini akulah yang akan memuaskanmu. Tuankan sedang tidak ada,” Maman masih berdiri di hadapanku sambil melepaskan pakaiannya sendiri.

Tubuh Maman masih terlihat atletis di usia 40 tahun, dengan bidang dada dan otot perut kotak-kotak menandakan tenaga yang kuat, apalagi kulitnya yang agak hitam membuat kesan kuat jelas terlihat.

Maman kini tinggal pakai CD saja, dan perlahan bergerak kearahku yang terlentang diranjang. Aku tahu apa yang sebentar lagi akan terjadi, Maman akan menyetubuhiku, memperkosaku, tapi juga memberi kepuasan yang selam ini aku cari.

“Eemphh.. mmffhh,” aku berusaha bergerak berontak ketika Maman mulai menyentuh tubuhku.

Tapi percuma, ikatan tali jemuran pada kaki dan tanganku sangat kuat, Maman akhirnya leluasa meraba-raba tubuhku.

“Tenang nyonya, sabar ya.., wah mulus sekali nyonya ini,” Maman terus meraba-raba dan mempermainkan jari kasarnya di sekujur tubuhku.

Aku hanya bisa pasrah ketika Maman mulai berani menciumi puting susuku dan menghisap-isapnya. Kumis tebal dan mulut monyongnya seperti hendak melahap habis susu ukuran 36B milikku. Aku pun tak kuasa berontak ketika jeri-jari kasar Maman menyentuh bibir-bibir vaginaku, dan kurasakan gelora birahiku mulai menjalar ketika jari-jari itu mulai menelusup pada celah bibir vaginaku dan memainkan, menekan-nekan klitorisku.

“Mmffhh..,” meski aku mulai menikmati sentuhan nakal Maman, tetapi aku harus tunjukan kalau aku tak suka diperlakukan begitu, setidaknya untuk mempertahankan martabatku sebagai majikannya.

Aku mulai berontak lagi, tapi percuma. Kini Maman bukan hanya bermain jari, bibirnya mulai turun kearah perut dan terus keselangkanganku yang sudah basah. Oh.., tidak, bibir Maman mulai menyentuh bibir vaginaku. Kumisnya yang tebal sengaja digesek pada klotorisku, membuat aku menggelinjang. Setiap gerakan perlawananku membuat Maman semakin bernafsu menjilati vaginaku, dan hal itu membuat kenikmatan yang tercipta semakin tak bisa kuelakan. Akhirnya gerakan pinggulku semakin seirama dengan jilatan kasan lidah dan kumis Maman.

“Gimana nyonya? Enak nggak?,” tanya Maman sambil menatapku.

Aku tentu saja melotot kepadanya. Tetapi Maman nampaknya sudah mengerti ciri wanita dilanda birahi, sebab meski mataku melotot marah, vaginaku yang sudah basah tak bisa menyembunyikan ciri nafsuku. Maman melanjutkan aktifitasnya menjilati vaginaku. Desakan-desakan bibir Maman dibagian vital milikku membuat rasa nikmat tersendiri menjalar dan mengumpul dibagian vagina, pinggul, pantat, hingga ujung kaki dan ujun rambutku. Mamang semakin teratur menjilati klitorisku, sampai akhirnya aku tak bisa membendung desakan dari dalam vaginaku.

“Mmmffhhpp..,” kali ini aku jebol, aku orgasme dengan perlakuan Maman itu.

Maman menghentikan jilatannya, dan menatap wajahku, ia tahu aku sudah sampai puncak pertama. Maman berdiri lagi dan menanggalkan CD kusam miliknya. Kini dihadapanku berdiri seorang lelaki dengan penis yang normal dan ereksi total, hal yang sudah setahun lebih tak pernah kulihat. Penis milik pembantuku itu siap menghujani vaginaku dengan kepuasan.

“Nyonya.., sudah kepalang basah. Saya tahu nyonya juga senang kok, buktinya sampai keluar airnya. Jangan berteriak ya nyah,” ujar Maman sambil melepas plester lakban dari mulut.

Kini plester sudah terlepas dan mulutku bebas bersuara, tapi aku tak berkata-kata apalagi berteriak. Tubuhku lemas dan tiap jengkalnya merasa rindu sentuhan Maman seperti tadi.

“Ohh.., uhh.. adduuhh..,” hanya itu yang keluar dari mulutku ketika Maman kembali menjilati vaginaku.

Tangan Maman yang cekatan meremas-remas susuku, pinggulku, dan belahan pantatku diremas gemas. Terus terang saat itu aku sudah tak sabar menunggu hujaman penis Maman yang tegar ke vaginaku, aku rindu disetubuhi lelaki, bukan sekedar vibrator sialan itu.

Maman beralih posisi mengambil posisi berlutut tepat di selangkanganku. Dipegangnya penisnya dan diarahkan ke vaginaku yang sudah benar-benar kuyup. Maman menggesek-gesekkan penisnya dipermukaan vaginaku, oh.., aku benar-benar tak sabar menunggu senjata Maman itu.

“Uhh Man.. ampunhh.. aku nyerah.. mmffhh,” aku akhirnya mengucapkan itu dengan mata terpejam.

Kupikir mau menolak pun percuma karena posisiku sulit, lagipula aku ingin agar dosa itu segera berlalu dan selesai. Ucapanku membuat angin segar bagi Maman, sebelum menyetubuhiku penuh, Maman membuka ikatan tali di kaki dan tanganku.

“Ayo sayang, sekarang aku puaskan kamu cantik,” celoteh Maman sambil kembali menindih tubuh bebasku.

Dalam posisi itu Maman masih terus memancing nafsuku yang sudah sangat puncak, penisnya hanya digesek ujungnya saja pada vaginaku membuat aku yang mengejar dengan pinggul naik turun. Setelah tak mampu menahan nafsu yang sama, Maman akhirnya menghujamkan utuh penisnya kedalam vaginaku.

“Ouhhggff.. ah Kang Maman..,” bibirku mulai menceracau saat Maman memompakan penisnya maju mundur dalam vaginaku.

Tangan dan kakiku yang sudah lepas dari ikatan bukannya mendorong tubuh Maman menjauh dariku, tetapi justru memeluk dan meremas remas dada kekar Maman. Penis Maman terasa memenuhi liang senggamaku dan menciptakan rasa nikmat yang selama ini tak lagi kurasakan dari Mas Rudi.

“Ohh nyonya, uennaakk sekali vaginamu nyahh.. oh,” Maman menggenjot tubuhku dengan irama yang cepat dan tetap, dan aku mengimbangi gerakan Maman. Kini aku total melayani kebutuhan seks Maman sekaligus meraih kebutuhan seksku.

Sampai menit kedua puluh permainan kami, aku merasakan seluruh sarafku mengumpul disatu titik antara bibir vagina dengan klitorisku. Lalu beberapa detik kemudian seluruh otot dibagian itu terasa mengejang.

“Auuhhff.. mmffhh, enghh.. ohh,” kurasakan kontraksi yang sangat sensasional pada vaginaku.

“Iyyaahh.. nyaahh.. ohh nyaahh,” Maman menggeram hebat dengan tubuh kejang diatas tubuhku, kurasakan semburan spermanya masuk hingga kedinding rahimku.

Maman rebah diatas tubuhku. Keringat kami bercampur baur dan kedutan-kedutan lembut kelamin kami masih terasa sesekali, sampai akhirnya Maman rebah disisi kananku.

Ke Bagian 3

Tags :Cerita 18sx,cerita dewasa,cerita sex,gadis seksi,cewek telanjang,cerita 17 tahun,cerita sexs,cerita seks,foto telanjang,tante girang,gambar Toket,gambar seks,gadis hangat,tante kesepian,gadis abg bugil, gadis bule bugil bugil abg bugil, abg bugil indo, bugil abg bispak

Add a comment 13 Juni 2010

Cerita 18sx – Akhirnya Kunikmati Pemerkosaan Itu – 1

Sebut saja namaku Ani, wanita berusia 30 tahun dengan wajah cantik dan kulit kuning langsat. Aku berani bilang aku cantik karena banyak lelaki tergila-gila padaku sewaktu masih kuliah dulu. Mereka bilang aku mirip artis sinetron Bella Saphira atau Jihan Fahira.

Tapi kini aku tak lagi lajang, sejak selesai kuliah 5 tahun lalu, aku menikah dengan Mas Rudi, kakak kuliahku yang aku cintai. Saat ini kami hidup di kota M, dan Mas Rudi bekerja sebagai wartawan pada sebuah media cetak lokal di kota itu.

Kehidupan kami berjalan mulus hingga tahun keempat pernikahan, walaupun kami belum juga dikaruniai buah hati hasil perkawinan kami. Aku sendiri lebih banyak menghabiskan waktu di rumah, sambil menjaga kios serba ada yang setiap waktu semakin berkembang pesat. Intinya, kami sama-sama bahagia walaupun kadang merasa sepi juga tanpa hadirnya buah hati.

Tapi, sesuatu ternyata terjadi diluar perkiraan kami berdua. Profesi Mas Rudi sebagai wartawan mengharuskannya berhadapan dengan resiko yang rumit. Aku ingat betul saat itu suamiku berseteru dengan seorang pejabat yang kasus KKN nya dibongkar suamiku. Seminggu setelah berseteru, suamiku dianiaya belasan orang tak dikenal, beberapa saat setelah meninggalkan rumah.

Tak parah memang, tapi luka disekujur tubuh Mas Rudi ternyata berpengaruh pada kemampuan seksualnya. Ya, sejak penganiayaan itu, Mas Rudi selalu gagal melakukan tugasnya sebagai suami. Tadinya kami pikir itu akibat shok yang dialami karena penganiayaan, dan dokter yang menangani Mas Rudi pun berpikiran seperti itu. Tapi sudah hampir setahun berlalu, kondisi Mas Rudi tetap tak berubah, malah bisa dibilang semakin parah. Bahkan sekarang, Mas Rudi sudah mulai enggan mencoba melakukan tugasnya memberikan kebutuhan biologis padaku.

“Aku takut kamu malah kecewa sayang,” katanya dengan tatap sedih suatu malam.

Sebagai istri, meskipun tersiksa, aku mencoba untuk tetap setia dan bertahan dengan keadaan itu. Walau terkadang timbul juga ketakutan kalau aku tak bakalan punya anak sampai tua nanti. Lambat tapi pasti, akhirnya aku dan Mas Rudi bisa menepis semua ketakutan itu, dan mulai tenggelam dengan kesibukan kami masing-masing.

Untuk menghilangkan rasa sepi kami, aku dan Mas Rudi mempekerjakan empat orang pembantu dirumah kami. Dua wanita, Ijah berusia 22 tahun, dan Minah berusia 34 tahun, kupekerjakan sebagai pembantu rumah tangga dan penjaga kios serba ada. Sedangkan dua lelaki, Maman berusia 40 tahun, dan Jaka berusia 19 tahun, kupekerjakan sebagai tukang kebun dan penjaga kios serba ada pula. Untuk mereka pula, kami membuat dua buah kamar lagi, dan suasana rumah tak lagi sepi sejak mereka berempat turut tinggal di rumah kami sejak lima bulan lalu.

Malam itu entah apa yang ada dipikiran Mas Rudi. Yang pasti suamiku itu membawa belasan keping VCD porno dan mengajakku menikmati tontonan erotis itu bersama-sama. Waktu itu jam menunjuk angka 11.30 malam, dan kami berdua sudah berbaring di ranjang kamar, sementara adegan porno dilayar TV sudah mulai tayang.

Terlihat jelas bagaimana gadis Cina dalam VCD itu merintih dan mengerang ketika lidah lelaki cina pasangan mainnya menjilati bibir-bibir vaginanya, terlihat jelas juga bagaimana rintih kenikmatan keduanya ketika kelamin mereka bersatu dalam senggama. Tak bisa kupungkiri, aliran darahku cepat terpacu dan kehausanku akan kebutuhan itu semakin menjadi-jadi.

Mas Rudi masih terdiam di sampingku, namun mendadak tangannya mulai merayap dan meraba bagian tubuh sensitifku.

“Sayang, mungkin aku nggak bisa memberimu kepuasan seperti itu. Tapi aku akan berusaha membahagiakanmu,” katanya sambil mulai menciumi sekujur tubuhku. Satu persatu pakaian kami terbuka hingga akhirnya kami benar-benar bugil.

Astaga, penis suamiku tetap saja layu meski adegan di TV sudah membakar nafsu kami berdua. Sebagai istri aku berinisiatif mengulum dan menjilati penis Mas Rudi yang layu, tapi tak juga ada perubahan sampai aku lelah sendiri.

Akhirnya Mas Rudi bangkit dan mengambil sesuatu dari balik lemari kami, penis karet dengan vibrator elektrik. Alat itu baru dibelinya, karena selama ini aku selalu menolak menggunakan alat bantu semacam itu. Aku selalu berpikir jika pakai alat itu sama saja aku melakukannya dengan orang lain, bukan dengan suamiku.

Tapi entahlah, malam itu aku benar-benar tak kuasa menahan birahiku. Mungkin akibat tontonan porno yang kami nikmati bersama itu.

“Ohh Mass ngghhss,” aku mulai mendesis ketika Mas Rudi menyibak bibir vaginaku yang sudah banjir dengan penis buatan itu.

Aku tak lagi memperhatikan suamiku, dan mataku tertuju pada layar TV, sambil membayangkan akulah yang sedang disetubuhi pria di TV itu. Vibrator penis karet yang sudah sepenuhnya masuk keliang vaginaku dihidupkan Mas Rudi, getarannya mulai membuat menikmatan tersendiri di daerah klitorisku. Aku mengelinjang sambil merintih nikmat hingga akhirnya tiba pada puncak kenikmatan. Aku orgasme, orgasme semu oleh alat buatan pabrik. Malam itu aku bahagia, tetapi batinku menangis.

“Maafkan aku sayang,” hanya itu yang terucap dari bibir Mas Rudi.

“Nggak apa Mas, aku sudah sangat puas kok,” balasku sambil mengecupnya.

Sejak menikmati getaran asyik dari vibrator penis karet malam itu, sepertinya ada yang berubah pada diriku. Aku menjadi sangat agresif dan selalu ingin melakukan hubungan seksual dengan alat itu. Kadang kala, saat Mas Rudi sedang tak dirumah, aku melakukannya sendiri hingga mencapai puncak kenikmatanku. Aku tahu itu salah, tetapi aku tak bisa menolak keinginanku yang selalu menggebu untuk terpenuhi, sementara aku juga ingin tetap setia pada suamiku.

Siang itu pelanggan kios serba ada kami cukup banyak yang datang. Maklum tanggal muda biasanya pelanggan kios yang rata-rata pegawai negeri membeli kebutuhan sehari-hari di kios kami. Aku dan Ijah sibuk melayani pembeli, malah Minah yang seharusnya bekerja didapur ikut membantu kami. Jarak kios dan rumah kami hanya berselat tembok, tembok itu pun ada pintu khususnya yang menghubungkan kios dan rumah, jadi tidak sulit mondar-mandir kios-rumah atau sebaliknya rumah-kios.

“Si Jaka kemana Jah? kok nggak kelihatan dari tadi?,” tanyaku pada Ijah sambil menghitung bayaran pelanggan.

“Nggak tahu tuh bu, tadi sih katanya mules, dia lagi mencret bu, sakit perut,” jawab Ijah.

“Sakit kok nggak bilang?, ya sudah kamu jaga dulu kiosnya sama Minah ya, Ibu mau lihat Jaka,” setelah kios sepi, aku pun meninggalkan Ijah dan Minah untuk melihat Jaka.

Kamar pembantuku tepat di belakang kios, satu kamar Ijah dan Minah, satu lagi kamar Jaka dan Maman. Aku langsung menuju kamar Jaka, dan saat aku buka pintunya terlihat Jaka sedang terbaring dengan wajah pucat dan meringis-ringis sambil memegangi perutnya seperti menahan sakit.

“Kamu sakit Jaka?, ke Puskesmas saja ya mumpung masih buka,” kataku terus masuk kedalam kamar pembantuku.

“Eh.. ibu.., nggak apa kok bu, cuma sakit perut biasa. Tadi juga sudah minum obat diberi Ijah,” Jaka berkata sambil bangkit dan duduk diranjangnya.

Jaka adalah pemuda sopan dari kampung yang sama dengan tiga pembantuku lainnya. Mereka kuambil dari kampungku juga, kebetulan keluarga kami sudah saling mengenal dikampung. Aku juga sebenarnya sama seperti mereka, orang kampung. Hanya saja aku agak beruntung kawin dengan Mas Rudi, anak orang kaya yang juga berprofesi matang.

Aku lalu duduk ditepi ranjang Jaka sambil mengusap dahinya.

“Mana yang sakit Jak?” tanyaku seraya mengusap perutnya.

“Sudah baikan kok bu, cuma masih lemas,” jawabnya.

Rasa peduliku pada Jaka mungkin suatu kesalahan, soalnya begitu mengusap perut Jaka, aku justru menatap suatu bagian di bawah perut Jaka. Sebuah benda yang tersembul dibalik celana karet komprangnya, astaga milik Jaka yang kusadari tentu tak bermasalah seperti milik suamiku. Aku jadi jengah dan menarik tanganku, lalu meninggalkan Jaka sendirian di kamarnya.

Malamnya, sekitar jam 09.00 setelah makan malam, aku kembali ke kamar para pembantu untuk melihat keadaan Jaka. Terus terang aku sangat takut kalau pembantuku ada yang sakit, apalagi bagiku mereka sudah seperti kerabat sendiri.

Tapi malam itu aku jadi kaget dan tersentak. Aku mendapati bukan Minah dan Ijah atau Jaka dan Maman yang sekamar. Tetapi Jaka sekamar dengan Ijah dan Maman dengan Minah. Rupanya, mereka keblinger dan melanggar aturan yang kutetapkan.

Hal itu aku tahu ketika dekat kamar Minah, aku mendengar suara rintih dan desah khas orang yang sedang bersetubuh. Ketika kuintip ternyata Maman yang duda sedang menindih Minah yang janda.

Aku lalu beralih menintip kamar Jaka lewat celah jendela. Astaga, di kamar itu aku melihat Ijah sudah setengah telanjang dan Jaka sedang mengulum buah dada Ijah. Aku hendak marah dan menghardik mereka, tetapi tak tahu kenapa aku malah seperti terpaku dengan adegan yang kusaksikan itu.

“Iiihh gelii Jak.., nakal kamu ya,” ucapan genit Ijah terdengar jelas olehku saat Jaka mulai menjilati bagian perutnya.

“Geli dikit nggak apa kan, Kang Maman dan Bi Minah juga begitu kok caranya,” balas Jaka.

Keduanya pun mulai melepas pakaiannya hingga bugil. Sementara aku semakin terpaku melihat adegan mereka dari balik celah jendela. Jaka yang bertubuh kurus dan agak pendek rupanya memiliki penis yang lumayan besar, setidaknya lebih besar dari milik suamiku yang layu itu.

Ke Bagian 2

Tags : Cerita 18sx,cerita dewasa,cerita sex,gadis seksi,cewek telanjang,cerita 17 tahun,cerita sexs,cerita seks,foto telanjang,tante girang,gambar Toket,gambar seks,gadis hangat,tante kesepian, artis indonesia bugil, foto telanjang, cewek telanjang, gambar cewek telanjang, gambar telanjang, gadisbandung, melayu bugil, telanjang, pondok putri, situs indonesia, selebriti indonesia, gadis mandi, cewek abg, seks abg

Add a comment 13 Juni 2010

Halaman

Kategori

Tautan

Meta

Kalender

Agustus 2014
S S R K J S M
« Jul    
 123
45678910
11121314151617
18192021222324
25262728293031

Posts by Month

Posts by Category

 
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.