Posts tagged ‘gambar bugil ‘




Cerita 18sx – Seks Romansa

Namaku Djony (pria Chinesse, 28 Tahun), aku termasuk baru dalam mempraktekkan kehidupan seks dan ini yang akan menjadi cerita petualangan kali ini.

Cerita ini berawal dari keingintahuanku mengenai hal yang berhubungan dengan seks, di mulai dari membaca buku-buku infotaiment mengenai kehidupan malam, majalah atau koran yang memuat gambar menggiurkan sampai dengan menggakses halaman internet yang memuat cerita-cerita seks. Karena keingintahuan itu, suatu hari aku menelepon salah satu iklan yang termuat dalam harian ibukota yang menyediakan gadis untuk di ajak kencan. Singkat cerita, pada waktu yang telah di rencanakan, kami melakukan kencan di sebuah hotel di sekitar pasar baru, dan terjadilah apa yang terjadi.

Setelah membayar dan masuk kamar, teman kencanku (sebut saja namanya Dik) menghidupkan TV yang ternyata memiliki saluran film Blue, dan sekejab kami larut dalam visualisasi yang tergambar dari TV tersebut, kemudian kami mulai berbincang-bincang.
"Bang, suka nggak ngeliat film beginian?"
"Ya suka aja, emang Dik nggak suka?", tanyaku balik tanpa memalingkan muka dari layar TV.
"Suka sih, tapi yang begini mah udah bosen, lebih baik yang langsung praktek aja", katanya menggoda.
Dan, ini dia yang kutunggu, sambil tersenyum kupalingkan muka menghadap dia dan segera kucerca dengan pertanyaan yang memang ingin kuketahui segera jawabannya.
"Kalo begitu, Dik udah pengalaman banget dong?"
"Gak juga, saya baru kok jadi beginian", katanya polos.
Nah lo, tadi bilang udah bosen, tapi baru katanya, namun aku tidak mempersoalkan hal itu lagi, karena sederet pertanyaan sudah berebutan keluar dari otakku.
"Dik, kalo kamu di bayar untuk di puasin, mau nggak?"
Dengan sedikit mengerutkan alis, dia bertanya apa yang baru saya katakan, dan setelah saya tegaskan kembali, dia menjawab tanpa mengatakan ya atau tidak.
"Emang ada yang mau begitu?"
Ini aku anggap tanpa penolakan, sehingga hatiku menjadi lega dan langsung menuju sasaran sebenarnya.
"(Dik, sebenarnya aku minta kamu ajarin cara puasin cewek, karena aku belum pengalaman)", namun hal itu tidak terucapkan, tetapi "Ya udah, kalo gitu kita harus melakukannya pelan-pelan dan aku harap kamu juga puas nantinya, OK?"
Dia kembali mengerutkan dahi, namun dia sepertinya menurut saja, sehingga kami melanjutkan ke tahap selanjutnya.

Setelah membasuh diri masing-masing, sekilas kulihat dia berpotongan mirip dengan Rachel Mariam, dan seperti yang ada di benakku, bahwa ini ada pembelajaran, jadi hayatilah dengan sebaik-baiknya. Sengaja kupeluk dia dan kucium mulutnya dengan pelan, dan kami mulai saling berciuman bibir, (memang bibir rasanya sangat lembut!) dan dalam hati timbul pertanyaan, gimana lagi nih lanjutannya? Berbekal dari sedikit pengetahuanku, kujulurkan lidahku ke dalam mulutnya, dan memang dia langsung membalasnya dengan menjulurkan lidahnya kedalam mulutku dan langsung menekan isi dalam mulutku, terasa sensasi yang selama ini hanya kubayangkan, namun sekarang dapat kurasakan dan kulanjutkan dengan juga mengulum lidah dan menyentuh isi mulutnya dan kuperhatikan tidak ada perubahan dalam wajah dan tatapannya (Dalam hati aku berpikir, dia nggak merasakan apa yang aku lakukan?)

Seterusnya aku melanjutkan dengan memegang kepalanya, mencium lehernya, terus ke telinganya, dan kurasakan dia bergeliat dan pelukannya semakin erat, (mungkin geli, dan dalam hati aku bersorak), dan terus ku jilat sampai akhirnya dia berontak dengan cara mengganti menjilati leherku dan tangannya mulai menyelinap dibalik kemejaku diantara kancingnya, aku merasakan getaran yang membuat bulu kudukku berdiri sejenak berganti dengan perasaan nikmat yang tidak terucapkan. Dibukanya kancing kemejaku satu persatu diiringi jilatan yang mengikuti terbukanya kancing bajuku, dan aku tidak tinggal diam juga, kurangkul pinggangnya dengan menyibakkan blus kain warna pink yang di kenakannya sambil mengelus punggungnya, terasa halus di tangan, dan bergetar tubuhku karena ciumannya terhadap kedua putingku.

Dan setelah kulepas baju kemejaku, aku langsung kembali memelukku sambil berusaha untuk mengangkat blus yang dipakainya ke atas dan seiring dengan itu, dia mengangkat kedua tangannya dengan maksud untuk memudahkanku melepas bajunya. Terus kuangkat blusnya hingga mencapai lengannya dan kudorong bandannya bersandar ke dinding, dengan posisi tangan terangkat itu, aku menikmati pemandangan didepanku, dan segera ku cium, mulai dari leher, antara dua payudaranya, terus hingga pusarnya. Dia sepertinya menikmati adegan tersebut sambil eh.. ehnm.. dan badannya bergeliat-geliat kecil mengiringi ciumanku (aku berpikir, mungkinkan rangsanganku berhasil?). Setelah blus itu dilepaskan dari tanggannya, kubalikkan badannya dan kuciumi kembali dari leher terus ke bawah hingga pinggang, namun tali BH sangat mengangguku, langsung kulepaskan pengaitnya tapi tidak terlepas dari payudaranya karena langsung di tahan oleh kedua tangannya. Hal itu kubiarkan, mungkin dia ingin menambah sensasi nya, begitu pikirku. Terus ku ciumi hingga pinggang dan tanganku mulai nakal menyusup sedikit demi sedikit ke arah kedua payudaranya. Dia mengembangkan ketiaknya perlahan untuk mempermudah penyusupan tanganku, dan akhirnya seluruh payudara tersebut telah berada dalam genggaman kedua tanganku, dan BH telah terlepas dengan begitu saja.

Ku peluk erat dia dari belakang, kurasakan sensasi yang luar biasa, tubuhku beradu dengan punggungnya, terasa sentuhan lembut dan tangganku terasa bergetar memegang kedua payudaranya. Setelah menikmati sensasi pelukan tersebut, tiba-tiba dia membalikkan badan yang membuatkan bingung harus berbuat apa, kecuali menatap bengong kedua payudaranya, dan tanpa kusangka, ditariknya kepalaku hingga terbenam di payudara kirinya. Aku langsung mengerti dan kuciumi payudara tersebut berputar hingga akhirnya mendarat pada kuluman di tengah putingnya. Langsung terdengar ach.., ach.. achh.. (sebenarnya aku ingin berteriak kegirangan karena aku menganggap berhasil merangsang dia dengan baik), dan tanpa menunggu lagi, kulanjutkan dengan yang sebelah kanan.

Memang kuakui, walaupun aku baru pertama kali bercumbu dengan perempuan, namun dari yang kuketahui, perempuan ini memiliki ransangan seks yang sangat baik terhadap pasangannya, seperti yang terlihat saat ini dimana dia mengangkat kedua tangannya ke atas yang menyebabkan ransangan ke payudaranya semakin terbuka dan membuat keIndahan visual yang ditampilkan sangat menggairahkan.

Setelah beberapa saat menikmati kecupan dan remasan pada payudaranya, tiba tiba dituntunnya tangannku untuk membuka kaitan celana kulotnya, karena kesulitan membuka, akhirnya kedua tanganku berhasil membuka sekaligus resleting celananya dan dengan sedikit goyangannya, celana tersebut telah terjatuh di lantai, dan terlihat celana dalam putih berenda yang dikenakannya. Diciumnya bibirku sambil memegang kepalaku dan kupeluk dia pada punggungnya, kemudian dituntun tangan kananku untuk meremasi pantatnya yang cukup berisi tersebut. Langsung kedua tanganku menyusup diantara celana dalamnya dan mulai meremas pantatnya dengan perlahan dan semakin lama semakin cepat, dan tanpa kusangka, dia memiringkan tubuhnya dan dalam sekejab celana dalam tersebut telah terlepas dari badannya, dan tampaklah olehku daerah kewanitaanya yang di tumbuhi rambut tipis.

Dan tanpa komando dariku, dia berbaring dengan kaki terbuka di sisi ranjang dan memintaku untuk menciuminya. Mulanya kulakukan dari bibir, turun ke leher, payudaranya, namun kepalaku terasa ditekan kebawah sehingga mencapai bawah pusarnya. Ku ikuti kemauannya, dan terus didorongnya kebawah sambil ku jilati dan ketika mencapai rambut halus di atas kemaluannya, dia bergeliat pelan, oh.. oh.. ochh. Terlintas dibenakku, apa yang harus kulakukan selanjutnya, namun dengan posisi kaki terbuka yang diangkat dengan kedua tangannya, kutahu bahwa dia menginginkanku untuk mencium bibir bawahnya. Langsung ku julurkan lidahku untuk menciumnya, namun ujung lidahku merasakan cairan dan hidungku mencium bau yang khas, ku urungkan niatku sebentar sambil mencium pahanya ke bawah sekaligus untuk menghirup udara segar. Mungkin dia merasakan rasa risiku, sehingga dia langsung bangkit dan memintaku untuk berdiri di tembok. Diciumnya aku mulai dari leher, terus kebawah dan tangannya bergerak di seluruh badanku, rasa geli dan enak bercampur jadi satu di otakku dan tubuhku bergeliat ketika tanganya menyentuh daerah dibawah pusarku, dengan menyelipkan tangannya dicelanaku, dibelainya daerah rambut tersebut, ah.. ach..

Dibukanya ikat pinggang dan kancing celana jeansku dengan perlahan, dan kini, aku hanya mengenakan celana dalam coklatku. Dengan oerlahan, dalam posisi jongkoknya, kurasakan ada tangan yang menyelinap dari bawah kanan celana dalamku, dan langsung mencari batang kemaluanku. Digenggamnya batang tersebut beserta bijinya dan langsung mengeraslah batang tersebut dan dikeluarkannya dari balik celana dalamku, terlihat batang beserta dengan buahnya tersebut mencuat dari bungkusannya dan di ciumnya dari buahnya kemudian ke arah batangnya. Aku sangat menikmati hal ini, melalui gerakan dan sentuhan tangan serta mulutnya, aku hanya mampu mengangkat kepalaku dan memejamkan mataku serta dengan reflek mengangkat kaki kiriku untuk memudahkan dia menciumnya.

Satu hal yang kupelajari dari dia adalah, dengan menggunakan ludahnya, dia mulai menciumi batangku, kurasakan kenikmatan yang belum pernah kurasakan, namun dia juga sangat menikmatinya tanpa ada kesan bau dan kotor dan sebagainya. Dan dibaringkannya tubuhku ke ranjang dengan posisi kaki menghadap ke sisi ranjang dan celana dalamku telah terlepas. Didorongnya kaki kiriku hingga terangkat ke atas dan ku pegang dengan tangan kiriku dan didudukinya sambil berjongkok kaki kanan yang terjulur, dan dia mulai mengulum kembali batangku yang telah bebas terlentang dan menghasilkan gesekkan antara kaki kananku dan belahan pantatnya. Dengan kenakalanku, kutarik sedikit kakiku sehingga posisinya mendekati belahan dibawah lubangnya, dan kurasakan gesekan yang semakin kencang dan intim dibawah lewat gerakannya, dan suara bercampur ludah di mulutnya.

Setelah sekian lama menikmati kulumannya pada batangku, kurasakan tidak mungkin lagi menahan lava akan akan meledak, sengaja aku tidak memberitahukannya, hanya badanku sudah bergeliat hebat dan ehm..ehm berakhir dengan ow..wow.., tumpahlah lava tersebut di mulutnya dan diludahkannya kembali ke batangku sehingga basah meleleh hingga ke atas kasur. Selanjutnya dengan posisi yang masih terletang setelah menikmati keluarnya lava, aku istirahat dengan mata terpejam puas, namun merasakan ada yang naik ke atas ranjang, dan kakinya berhenti diantara kepalaku, apaan itu..?

Kubuka mataku, sambil berpegangan pada kepala rangjang, dia berjongkok di hadapanku dengan posisi bibir kemaluannya tepat di depan mukaku. Sebenarnya aku ingin segera beranjak untuk menghindarinya, namun tiba-tiba pantat tersebut bergoyang perlahan kekiri dan kekanan menghasilkan pemandangan yang lain dan menciptakan ransangan visual yang sangat menggoda. Beberapa saat kemudian, hilanglah semua perasaan risi yang pertama tadi menghantui, dengan berubahnya gerakan pantatnya ke depan dan ke belakang, sekali kali, bibir kemaluannya menyentuh hidungku, dan selanjutnya telah ku sapu dengan bibirku, aku juga merasakan kenikmatan melalui erangan yang keluar dari mulutnya. Gerakan itu tetap konstan dan perlahan, membuatku penasaran tapi tidak berlangsung lebih lama lagi, karena detik berikutnya, bibirku telah berciuman dengan bibir kemaluannya karena dimajukannya pantatnya dan bertumpu pada lututnya.

Aku bingung harus berbuat apa, namun kulakukan ciuman dengan memberikan ludah dan tidak kurasakan lagi bau khas dan cairan di situ semakin bertambah, bercampur dengan ludah yang keluar dari mulutku, dan kujulurkan lidahku dan kukeraskan dan kutekan ke dalamnya, eh hhe.. eh hhe. Dan gerakan berikutnya adalah maju mundur kembali pantat tersebut dengan hebatnya, dan ku julurkan lidahku dengan keras sehingga terasa lidahku menusuk kedalam dan bibirku berciuman dengan bibir kemaluannya. Gerakan tersebut berhenti seiring dengan lengkuhan keras dan ku hisap seluruh isi kemaluannya, dan kutahan dalam mulutku. Aku hampir kehabisan napas, untung dia segera rubuh ke atas ranjang dan aku langsung bangun untuk membasuh mukaku yang di penuhi dengan lendir dari kemaluannya.

Pada saat aku sedang membasuh diri, tiba tiba dia masuk dan memelukku erat dari belakang seoerti kekasih yang memendam rindu dengan amat sangat dan mengecup punggungku berkali-kali, aku bingung, namun kubiarkan perlakuannya hingga akhirnya kubalikkan badan dan memeluknya erat, lalu kami setuju untuk mandi bersama. Tak terasa, setelah berpakaian, kami telah menghabiskan dua jam bersama, dan setelah membayarkan, aku sepakat untuk mengantarnya pulang ke tempat kostnya tidak jauh dari hotel tersebut, dan dalam perjalanan pulang, dari hasil obrolan kami, diketahui bahwa dia menggaku belum pernah penetrasi dengan langganannya dan dia melakukan itu untuk membiayai hidupnya dan cita-citanya. Dan yang paling kuingat adalah perkataanya bahwa ‘Seks bukanlah text book, tapi perasaan melayani yang menyatu dengan pasangan’, sehingga seks itu tidak harus dipraktekkan dulu karena takut gagal, namun dihayati untuk saling melayani pasangan kita.

Setelah turun, dari jendela mobil yang buka dia berkata dengan sedikit berteriak "Abang hebat juga untuk seorang pemula", sambil tersenyum manis. Dalam hati aku juga menggakuinya (dari pancaran matanya), namun dari mana ‘keahlian’ ini, dan aku menggakui bahwa dialah yang sebenarnya membimbingku dalam setiap langkah pencumbuan tadi, sungguh hebat dia. (Rp. 750 ribu untuk dua jam, kalo nggak hebat pasti nggak ada yang mau beli lagi, ya nggak?).

E N D

 

Tags : cerita 18sx, cerita seks, cerita daun muda, gadis bandung, video bugil, cerita sexs, tante,gadis cantik, telanjang gadis indonesia,gadis telanjang,foto telanjang,artis bugil,cewek telanjang,indo bugil,cewek bugil,gambar telanjang,smu bugil,gambar bugil,wanita bugil

1 komentar 25 April 2010

Cerita 18sx – Liburan Plus

Pertama-tama perkenalkan saya Andy (bukan nama sebenarnya). Saat ini saya menginjak 17 tahun, dan kisah ini terjadi kira-kira 2 bulan yang lalu, saat aku liburan akhir semester. Waktu itu aku sedang libur sekolah. Aku berencana pergi ke villa tanteku di kota M. Tanteku ini namanya Sofi, orangnya cantik, tubuhnya-pun sangat padat berisi, dan sangat terawat walaupun usia nya memasuki 38 tahun. Aku ingat betul, pagi itu, hari sabtu, aku berangkat dari kota S menuju kota M.

Sesampainya di sana, aku pun disambut dengan ramah. Setelah saling tanya-menanya kabar, aku pun diantarkan ke kamar oleh pembantu tanteku, sebut saja Bi Sum, orangnya mirip penyanyi keroncong Sundari Soekotjo, tubuhnya yang indah tak kalah dengan tanteku, Bi Sum ini orangnya sangat polos, dan usianya hampir sama dengan tante Sofi, yang membuatku tak berkedip saat mengikutinya dari belakang adalah bongkahan pantat nya yang nampak sangat seksi bergerak Kiri-kanan, kiri-kanan, kiri-kanan saat ia berjalan, seeakan menantangku untuk meremas nya.

Setelah sampai dikamar aku tertegun sejenak, mengamati apa yang kulihat, kamar yang luas dengan interior yang ber-kelas di dalamnya. sedang asyik-asyik nya melamun aku dikagetkan oleh suara Bi sum.

“Den, ini kamarnya.”

“Eh iya Bi.” jawabku setengah tergagap.

Aku segera menghempaskan ranselku begitu saja di tempat tidur.

“Den, nanti kalau ada perlu apa-apa panggil Bibi aja ya?” ucapnya sambil berlalu.

“Eh, tunggu Bi, Bibi bisa mijit kan? badanku pegel nih.” Kataku setengah memelas.

“Kalau sekedar mijit sih bisa den, tapi Bibi ambil balsem dulu ya den?”

“Cepetan ya Bi, jangan lama-lama lo?”

“Wah kesempatan nih, aku bisa merasakan tangan lembut Bi Sum memijit badanku.” ucapku dalam hati.

Tak lama kemudian Bi Sum datang dengan balsem di tangan.

“Den, coba Aden tiduran gih.” suruh Bi Sum.

“Eh, iya Bi.” lalu aku telungkup di kasur yang empuk itu, sambil mencopot bajuku. Bi Sum pun mulai memijit punggungku, sangat terasa olehku tangan lembut Bi Sum memijit-mijit.

“Eh, Bi, tangan Bibi kok lembut sih?” tanyaku memecah keheningan.

Bi Sum diam saja sambil meneruskan pijatannya, aku hanya bisa diam, sambil menikmati pijitan tangan Bi Sum, otak kotorku mulai berangan-angan yang tidak-tidak.

“Seandainya, tangan lembut ini mengocok-ngocok penisku, pasti enak sekali.” kataku dalam hati, diikuti oleh mulai bangunnya “Adik” kecilku.

Aku mencoba memecah keheningan di dalam kamar yang luas itu.

“Bi, dari tadi aku nggak melihat om susilo dan Dik rico sih.”

“Lho, apa aden belum dibilangin nyonya, Pak Susilo kan sekarang pindah ke kota B, sedang den Rico ikut neneknya di kota L.” tuturnya.

“Oo.., jadi tante sendirian dong Bi?” tanyaku

“Iya den, kadang Bibi juga kasihan melihat nyonya, nggak ada yang nemenin.” kata Bi Sum, sambil pijatannya diturunkan ke paha kiriku. Lalu spontan aku menggelinjang keenakan.

“Ada apa den?” tanyanya polos.

“Anu Bi, itu yang pegel.” jawabku sekenanya.

“Mm.. Bibi udah punya suami?” kataku lagi.

“Anu den, suami Bibi sudah meninggal 6bulan yang lalu.” jawabnya. Seolah berlagak prihatin aku berkata.

“Maaf Bi, aku tidak tahu, trus anak Bibi bagaimana?”

“Bibi titipkan pada adik Bibi” katanya, sambil pijitannya beralih ke paha kananku.

“Mm.. Bibi nggak pingin menikah lagi?” tanyaku lagi.

“Buat apa den, orang Bibi udah tua kok, lagian mana ada yang mau den?” ucapnya.

“Lho, itu kan kata Bibi, menurutku Bibi masih keliatan cantik kok.” pujiku, sambil mengamati wajahnya yang bersemu merah.

“Ah.., den andy ini bisa saja” katanya, sambil tersipu malu.

“Eh bener loh Bi, Bibi masih cantik, udah gitu seksi lagi, pasti Bibi rajin merawat tubuh.” Godaku lagi.

“Udah ah, den ini bikin Bibi malu aja, dari tadi dipuji terus.”

Lalu aku bangkit, dan duduk berhadapan dengan dia.

“Bi.., siapa sih yang nggak mau sama Bibi, sudah cantik, seksi lagi, tuh lihat tubuh Bibi indahkan?, apalagi ini masih indah loh..” kataku, sambil memberanikan menunjuk kearah gundukan yang sekal di dadanya itu. Secara reflek dia langsung menutupinya, dan menundukkan wajahnya.

“Aden ini bisa saja, orang ini sudah kendur kok dibilang bagus.” katanya polos.

Seperti mendapat angin aku mulai memancingnya lagi.

“Bibi ini aneh, orang payudara Bibi masih inah kok bilangnya kendur, tuh lihat aja sendiri” kataku, sambil menyingkapkan kedua tangannya yang menutupi payudaranya.

“Jangan ah den, Bibi malu.”

“Bi.. kalau nggak percaya, tuh ada cermin, coba Bibi buka baju Bibi, dan ngaca.” Lalu aku mulai membantu membuka baju kebaya yang dikenakannya, sepertinya ia pasrah saja. Setelah baju kebaya nya lepas, dan ia hanya memakai Bh yang nampak sangat kecil, seakan payudaranya hendak mencuat keluar. Aku pun mulai menuntunnya ke depan cermin besar yang ada di ujung ruangan.

“Jangan den, Bibi malu nanti nyonya tahu bagaimana?” tanyanya polos.

“Tenang aja Bi, tante Sofi nggak bakal tahu kok” Aku yang ada dibelakang nya mulai mencopot tali BH nya, dan wow.. tampak olehku didepan cermin, sepasang bukit kembar yang sangat sekal dan padat berisi, melihat itu “Adik” kecilku langsung mengacung keras sekali.

Aku pun tak menyia-nyiakan kesempatan emas ini. Aku langsung meremas nya dari belakang, sambil ciumanku kudaratkan ke lehernya yang jenjang tersebut. Bi Sum yang telah setengah telanjang itu, hanya bisa mendesah dan matanya “Merem-melek”.

“Oh.. den jangan den, uhh.. den, Bibi diapain, den”

Aku tak menggubris pertanyaannya malahan aku meningkatkan seranganku. Kini ia kubopong ke ranjang, sambil menciumi putingnya yang merah mencuat itu, ia pun kelihatan mulai menikmati permainanku, dan Bi Sum telah kurebahkan diranjang, lalu aku mulai lagi menciumi putingnya, sambil menarik jarik yang dipakainya.

“Uhh.. den shh.. Bibi enak den uh.. shh.. teruus den”

Aku pun mulai membuka seluruh pakaianku dan ciumanku terus turun keperutnya, dan dengan ganasnya ku pelorotkan CD yang dipakainya, aku terdiam sesaat seraya mengamati gundukan yang ada dibawah perutnya itu.

“Den, punya aden besar sekali” katanya sambil meremas penisku, lalu kusodorkan penisku kemulutnya.

“Bi, jilatin ya.. punya Andy.” Bibir mungil Bi Sum mulai menjilati penisku. uuhh.., sungguh nikmat sekali rasanya.

“Mmhh.. ohh.. Bi terus, kulum penisku Bi.., tak lama kemudian Bi Sum mulai menyedot-nyedot penisku, dan rasanya ada yang akan keluar di ujung penisku.

“Bi.. teruuss, Bi.. aku mmaauu keeluuar, oohh” jeritku panjang dan tiba-tiba, serr maniku muncrat dalam mulut Bi Sum, Bi Sum pun langsung menelannya.

Aku pun mulai pindah posisi, kini aku mulai menjilati memek Bi Sum, tampak didepan mataku, memek Bi Sum yang bersih, dengan seikit rambut. Rupanya Bi Sum sudah tidak sabar, ia menekan kepalaku agar mulai menjilati memeknya dan sluurpp.. memek Bi Sum kujilati sampai kutenukan sesuatu yang mencuat kecil, lalu kuhisap, dan gigit kecil, gerakan tubuh Bi Sum mulai tak karuan, tanganku pun tidak tinggal diam, ku pilin-pilin putingnya dengan tangan kiriku sedangkan, tangan kananku ku gunakan menusuk memeknya sambil lidahku kumasukkan sedalam-dalamnya.

“Ohh.. den.. teruuss den jilat teruss.. memek Bibi den.. mmhh” katanya sambil menggeliat seperti cacing kepanasan.

“Ouhh den.. Bibi mau.. keluarr.. den ohh, ahh, den, Bibi keeluuaarr, akhh.” Bi Sum menggelinjang hebat dan serr cairan kewanitaannya kutelan tanpa sisa. Tampak Bi Sum masih menikmati sisa-sisa orgasme nya. Lalu aku mencium bibirnya lidahku kumasukkan kedalam mulutnya, ia pun sangat agresif lalu membalas ciumanku dengan hot.

Aku pun mulai menciumi telinganya, dan dadanya yang besar menempel ketat di dadaku, aku yang sudah sangat horny langsung berkata, “Bi aku masukkan sekarang ya..”. ia hanya bisa mengangguk pelan.

aku pun mengambil posisi, kukangkangkan pahanya lebar-lebar, kutusukkan penisku ke memek nya yang sudah sangat becek. Bless.. separuh penisku amblas kedalam memeknya, terasa olehku memeknya menyedo-nyedot kepala penisku. kusodokkan kembali penisku, bless.. peniskupun amblas kedalam memeknya, aku pun mulai memaju-mundurkan pantatku, memeknya terasa sangat sempit.

“Den.. ouhh.. teruuss.. denn.. mmhh..sshh.” desahan erotis itu keluar dari mulut Bi Sum, aku pun tambah horny dan kupercepat sodokkanku di memeknya.

“Oh.. Bii memek kamu sempit banget, ohh enak Bii, goyang teruuss Bii.. ouhh..”

“Den.. cepatt.. den.. goyang yang cepat.. Bibi.. mauu.. keluar.. den..”

aku mulai mengocok penisku dengan kecepatan penuh, tampak Bi Sum menggelinjang hebat.

“Den.. Bibi.. mau keluuaarr.. ouhh.. shhshshshh..”

“Tahan Bii.. aku.. juga mau keluuarr..”

Lalu beberapa detik kemudian terasa penisku di guyur cairan yang sangat deras.. serr.. penisku pun berdenyut hebat dan, serr.. terasa sangat nikmat sekali, rasanya tulang-tulang ku copot semua. aku pun rubuh diatas wanita setengah baya yang tengah menikmati orgasmenya.

“Bi.. terima kasih ya.. memek Bibi enak” kataku sambil mencupang buah dadanya.

“Den kapan-kapan Bibi dikasih lagi yaa.”

akhirnya kami tertidur dengan penisku menancap di memek Bi Sum, tanpa aku sadari permainan ku tadi dilihat semua oleh tanteku, sambil dia mempermainkan memeknya dengan jarinya. sekian pengalaman saya dengan Bi Sum, pembantu tante saya yang sangat menggiurkan. lain kali akan saya ceritakan pengalaman saya dengan tante saya yang mengintip permainan saya dengan Bi Sum, yang tentunya lebih menghebohkan, karena tante saya ini orang yang hipersex, jadi nafsunya sangat besar, dan meledak-ledak.

E N D

Tags : cerita 18sx,cerita dewasa, cerita panas, 17 tahun, setengah baya, julia perez telanjang, gambar bugil,gadis cantik, telanjang gadis indonesia, gadis abg telanjang, cewek jakarta, artis bugil telanjang,nafsu wanita, cerita nafsu, nafsu seks, nafsu, nafsu liar

Add a comment 19 April 2010

Cerita 18sx – asmara ditengah rimba

Ada suatu liburan sekolah yang panjang, kami dari sebuah SLTA mengadakan pendakian gunung di Jawa Timur. Rombongan terdiri dari 5 laki-laki dan 5 wanita. Diantara rombongan itu satu guru wanita ( guru biologi) dan satu guru pria ( guru olah raga ). Acara liburan ini sebenarnya amat tidak didukung oleh cuaca. Soalnya, acara kami itu diadakan pada awal musim hujan. Tapi kami tidak sedikitpun gentar menghadapi ancaman cuaca itu. Ada yang sedikit mengganjal hati saya, yakni Ibu Guru Anisa ( saya memanggilnya Anisa ) yang terkenal galak dan judes itu dan anti cowok ! denger-denger dia itu lesbi. Ada yang bilang dia patah hati dari pacarnya dan kini sok anti cowok. Bu Anis usianya belum 30 tahun, sarjana, cantik, tinggi, kulit kuning langsat, full press body. Sedangkan teman – teman cewek lainnya terdiri dari cewek-cewek bawel tapi cantik-cantik dan periang, cowoknya, terus terang saja, semuanya bandit asmara ! termasuk pak Martin guru olah raga kami itu.

Perjalanan menuju puncak gunung, mulai dari kumpul di sekolah hingga tiba di kaki gunung di pos penjagaan I kami lalui dengan riang gembira dan mulus-mulus saja. Seperti biasanya rombongan berangkat menuju ke sasaran melalui jalan setapak. Sampai tengah hari, kami mulai memasuki kawasan yang berhutan lebat dengan satwa liarnya, yang sebagian besar terdiri dari monyet-monyet liar dan galak. Menjelang sore, setelah rombongan istirahat sebentar untuk makan dan minum, kami berangkat lagi. Kata pak Martin sebentar lagi sampai ke tujuan. Saking lelahnya, rombongan mulai berkelompok dua-dua. Kebetulan aku berjalan paling belakang menemani si bawel Anisa dan disuruh membawa bawaannya lagi, berat juga sih, sebel pula! Sebentar-sebentar minta istirahat, bahkan sampai 10 menit, lima belas menit, dan dia benar-benar kecapean dan betisnya yang putih itu mulai membengkak.

Kami berangkat lagi, tapi celaka, rombongan di depan tidak nampak lagi, nah lo ?! Kami kebingungan sekali, bahkan berteriak memanggil-manggil mereka yang berjalan duluan. Tak ada sahutan sedikitpun, yang terdengar hanya raungan monyet-monyet liar, suara burung, bahkan sesekali auman harimau. Anisa sangat ketakutan dengan auman harimau itu. Akhirnya kami terus berjalan menuruti naluri saja. Rasa-rasanya jalan yang kami lalui itu benar, soalnya hanya ada satu jalan setapak yang biasa dilalui orang.

Sial bagi kami, kabut dengan tiba-tiba turun, udara dingin dan lembab, hari mulai gelap, hujan turun rintik-rintik. Anisa minta istirahat dan berteduh di sebuah pohon sangat besar. Hingga hari gelap kami tersasar dan belum bertemu dengan rombongan di depan. Akhirnya kami memutuskan untuk bermalam di sebuah tepian batu cadas yang sedikit seperti goa.

Hujan semakin lebat dan kabut tebal sekali, udara menyengat ketulang sumsum dinginnya. Bajuku basah kuyup, demikian juga baju Anisa. Dia menggigil kedinginan. Sekejap saja hari menjadi gelap gulita, dengan tiupan angin kencang yang dingin. Kami tersesat di tengah hutan lebat.

Tanpa sadar Anisa saking kedinginan dia memeluk aku. “Maaf” katanya. Aku diam saja, bahkan dia minta aku memeluknya erat-erat agar hangat tubuhnya. Pelukan kami semakin erat, seiring dengan kencangnya deras hujan yang dingin. Jika aku tak salah, hampir tiga jam lamanya hujan turun, dan hampir tiga jam kami berpelukan menahan dingin.

Setelah hujan reda, kami membuka ransel masing-masing. Tujuan utamanya adalah mencari pakaian tebal, sebab jaket kami sudah basah kuyup. Seluruh pakaian bawaan Anisa basah kuyup, aku hanya punya satu jaket parasut di ransel. Anisa minta aku meminjamkan jakaetku. Aku setuju. Tapi apa yag terjadi ? wow…Anisa dalam suasana dingin itu membuka seluruh pakaiannya guna diganti dengan yang agak kering. Mulai dari jaket, T. Shirt nya, BH nya, wah aku melihat seluruh tubuh Anisa. Dia cuek saja, payudaranya nampak samar-samar dalam gelap itu. Tiba-tiba dia memelukku lagi.

“Dingin banget” katanya. “Terang dingin , habis kamu bugil begini” jawabku.

“Habis bagaimana? basah semua, tolong pakein aku jeketmu dong ?” pinta Anisa.

Aku memakaikan jaket parasut itu ketubuh Anisa. Tanganku bersentuhan dengan payudaranya, dan aku berguman

” Maaf Nisa ?”

“Enggak apa-apa ?!”: sahutnya.

Hatiku jadi enggak karuan, udara yang aku rasakan dingin mendadak jadi hangat, entah apa penyebabnya. Anisa merangkulku, “Dingin” katanya, aku peluk saja dia erat-erat. ” Hangat bu ?” tanyaku ” iya, hangat sekali, yang kenceng dong meluknya ” pintanya. Otomatis aku peluk erat-erat dan semakin erat.

Aneh bin ajaib, Anisa tampak sudah berkurang merasakan kedinginan malam itu, seperti aku juga. Dia meraba bibirku, aku reflex mencium bibir Anisa. Lalu aku menghindar. “Kenapa?” tanya Anisa

” Maaf Nisa ? ” Jawabku.

” Tidak apa-apa Rangga, kita dalam suasana seperti ini saling membutuhkan, dengan begini kita saling bernafsu, dengan nafsu itu membangkitkan panas dalam darah kita, dan bisa mengurangi rasa dingin yang menyengat.

Kembali kami berpelukan, berciuman, hingga tanpa sadar aku memegang payudaranya Anisa yang montok itu, dia diam saja, bahkan seperti meningkat nafsu birahinya. Tangannya secara reflek merogoh celanaku kedalam hingga masuk dan memegang penisku. Kami masih berciuman, tangan Anisa melakukan gerakan seperti mengocok-ngocok ‘Mr. Penny’ku. Tanganku mulai merogoh ‘Ms. Veggy’nya Anisa, astaga ! dia rupanya sudah melepas celana dalamnya sedari tadi. Karena remang-remang aku sampai tak melihatnya. ‘Ms. Veggy’nya hangat sekali bagian dalamnya, bulunya lebat.

Anisa sepontan melepas seluruh pakaiannya, dan meminta aku melepas pula . Aku tanpa basa basi lagi langsung bugil. Kami bergumul diatas semak-semak, kami melakukan hubungan badan ditengah gelap gulita itu. Kami saling ganti posisi, Anisa meminta aku dibawah, dia diatas. Astaga, goyangnya!! Pengalaman banget dia ? kan belum kawin ?

” Kamu kuat ya?” bisiknya mesra.

” Lumayan sayang ?!” sahutku setengah berbisik.

” Biasa main dimana ?” tanyanya

“Ada apa sayang?” tanyaku kembali.

” Akh enggak” jawabnya sambil melepas ‘Ms. Veggy’nya dari ‘Mr. Penny’ku, dan dengan cekatan dia mengisap dan menjilati ‘Mr. Penny’ku tanpa rasa jijik sedikitpun. Anisa meminta agar aku mengisap payudaranya, lalu menekan kepalaku dan menuntunnya ke arah ‘Ms. Veggy’nya. Aku jilati ‘Ms. Veggy’ itu tanpa rasa jijik pula. Tiba-tiba saja dia minta senggama lagi, lagi dan lagi, hingga aku ejakulasi.

Aku sempat bertanya, “Bagaimana jika kamu hamil ?”

” Don’t worry !” katanya. Dan setelah dia memebersihkan ‘Ms. Veggy’nya dari spermaku, dia merangkul aku lagi. Malam semakin larut, hujan sudah reda, bintang-bintang di langit mulai bersinar. Pada jam 12 tengah malam, bulan nampak bersinar terang benderang. Paras Anisa tampak anggun dan cantik sekali. Kami ngobrol ngalor-ngidul, soal kondom, soal sekolah, soal nasib guru, dsb. Setelah ngobrol sekian jam, tepat pukul 3 malam, Anisa minta bersetubuh denganku lagi, katanya nikmat sekali ‘Mr. Penny’ku. Aku semakin bingung, dari mana dia tahu macam-macam rasa ‘Mr. Penny’, dia kan belum nikah ? tidak punya pacar ? kata orang dia lesbi.

Aku menuruti permintaan Anisa. Dia menggagahi aku, lalu meminta aku melakukan pemanasan sex (foreplay). Mainan Anisa bukan main hebatnya, segala gaya dia lakukan. Kami tak peduli lagi dengan dinginnya malam, gatalnya semak-semak. Kami bergumul dan bergumul lagi. Anisa meraih tanganku dan menempelkan ke payudaranya. Dia minta agar aku meremas-remas payudaranya, lalu memainkan lubang ‘Ms. Veggy’nya dengan jariku, menjilati sekujur bagian dagu. Tak kalah pula dia mengocok-ngocok ‘Mr. Penny’ku yang sudah sangat tegang itu, lalu dijilatinya, dan dimasukkannya kelubang vaginanya, dan kami saling goyang menggoyang dan hingga kami saling mencapai klimaks kenikmatan, dan terkulai lemas.

Anisa minta agar aku tak usah lagi menyusul kelompok yang terpisah. Esoknya kami memutuskan untuk berkemah sendiri dan mencari lokasi yang tak akan mungkin dijangkau mereka. Kami mendapatkan tempat ditepi jurang terjal dan ada goa kecilnya, serta ada sungai yang bening, tapi rimbun dan nyaman. Romantis sekali tempat kami itu. Aku dan Anisa layaknya seperti Tarzan dan pacarnya di tengah hutan. Sebab seluruh baju yang kami bawa basah kuyup oleh hujan. Anisa hanya memakai selembar selayer yang dililitkan diseputar perut untuk menutupi kemaluannya. Aku telanjang bulat, karena baju kami sedang kami jemur ditepi sungai. Anisa dengan busana yang sangat minim itu membuat aku terangsang terus, demikian pula dia. Dalam hari-hari yang kami lalui kami hanya makan mi instant dan makanan kaleng.

Tepat sudah tiga hari kami ada ditempat terpencil itu. Hari terakhir, sepanjang hari kami hanya ngobrol dan bermesraan saja. Kami memutuskan esok pagi kami harus pulang. Di hari terakhir itu, kesmpatan kami pakai semaksimal mungkin. Di hari yang cerah itu, Anisa minta aku mandi bersama di sungai yang rimbun tertutup pohon-pohon besar. Kami mandi berendam, berpelukan, lalu bersenggama lagi. Anisa menuntun ‘Mr. Penny’ku masuk ke ‘Ms. Veggy’nya. Dan di menggoyangkan pinggulnya agar aku merasa nikmat. Aku demikian pula, semakin menekan ‘Mr. Penny’ku masuk kedalam ‘Ms. Veggy’nya.

Di atas batu yang ceper nan besar, Anisa membaringkan diri dengan posisi menantang, dia menguakkan selangkangngannya, ‘Ms. Veggy’nya terbuka lebar, disuruhnya aku menjilati bibir ‘Ms. Veggy’nya hingga klitoris bagian dalam yang ngjendol itu. Dia merasakan nikmat yang luar biasa, lalu disuruhnya aku memasukkan jari tengahku ke dalam lubang ‘Ms. Veggy’nya, dan menekannya dalam-dalam. Mata Anisa merem melek kenikmatan. Tak lama kemudian dia minta aku yang berbaring, ‘Mr. Penny’ku di elus-elus, diciumi, dijilati, lalu diisapnya dengan memainkan lidahnya, Anisa minta agar aku jangan ejakulasi dulu,

“Tahan ya ?” pintanya. ” Jangan dikeluarin lho ?!” pintanya lagi.

Lalu dia menghisap ‘Mr. Penny’ku dalam-dalam. Setelah dia enggak tahan, lalu dia naik diatasku dan memasukkan ‘Mr. Penny’ku di ‘Ms. Veggy’nya, wah, goyangnya hebat sekali, akhirnya dia yang kalah duluan. Anisa mencubiti aku, menjambak rambutku, rupanya dia ” keluar”, dan menjerit kenikmatan, lalu aku menyusul yang “keluar” dan oh,,,,oh…oh….muncratlah air maniku dilubang ‘Ms. Veggy’ Anisa.

“Jahat kamu ?!” kata Anisa seraya menatapku manja dan memukuli aku pelan dan mesra. Aku tersenyum saja. ” Jahat kamu Rangga, aku kalah terus sama kamu ” Ujarnya lagi. Kami sama-sama terkulai lemas diatas batu itu.

Esoknya kami sudah berangkat dari tempat yang tak akan terlupakan itu. Kami memadu janji, bahwa suatu saat nanti kami akan kembali ke tempat itu. Kami pulang dengan mengambil jalan ke desa terdekat dan pergi ke kota terdekat agar tidak bertemu dengan rombongan yang terpisah itu. Dari kota kecil itu kami pulang ke kota kami dengan menyewa Taxi, sepanjang jalan kami berpelukan terus di dalam Taxi. Tak sedikitpun waktu yang kami sia-siakan. Anisa menciumi pipiku, bibirku, lalu membisikkan kata

” Aku suka kamu ” Aku juga membalasnya dengan kalimat mesra yang tak kalah indahnya. Dalam dua jam perjalanan itu, tangan dan jari-jari Anisa tak henti-hentinya merogoh celana dalamku, dan memegangi ‘Mr. Penny’ku. Dia tahu aku ejakulasi di dalam celana, bahkan Anisa tetap mengocok-ngocoknya. Aku terus memeluk dia, pak Supir tak ku ijinkan menoleh kami kebelakang, dia setuju saja. Sudah tiga kali aku ” keluar” karena tangan Anisa selalu memainkan ‘Mr. Penny’ku sepanjang perjalanan di Taxi itu.

” Aku lemas sayang ?!” bisikku mesra

” Biarin !” Bisiknya mesra sekali. ” Aku suka kok !” Bisiknya lagi.

Tidak mau ketinggalan aku merogoh celana olah raga yang dipakai Anisa. Astaga, dia tidak pakai celana dalam. Ketika jari-jari tanganku menyolok ‘Ms. Veggy’nya, dia tersenyum, bulunya ku tarik-tarik, dia meringis, dan apa yang terjadi ? astaga lagi, Anisa sudah ‘keluar’ banyak, ‘Ms. Veggy’nya basah oleh semacam lendir, rupanya nafsunya tinggi sekali, becek banget. Tangan kami sama-sama basah oleh cairan kemaluan. Ketika sampai di rumah Anisa, aku disuruhnya langsung pulang, enggak enak sama tetangga katanya. Dia menyodorkan uang dua lembar lima puluh ribuan, aku menolaknya, biar aku saja yang membayar Taxi itu. Lalu aku pulang.

Hari-hari berikutnya di sekolah, hubunganku dengan Anisa guru biologiku, nampak wajar-wajar saja dari luar. Tapi ada satu temanku yang curiga, demikian para guru. Hari-hari selanjutnya selalu bertemu ditempat-tempat khusus seperti hotel diluar kota, di pantai, bahkan pernah dalam suatu liburan kami ke Bali selama 12 hari.

Ketika aku sudah menyelesaikan studiku di SLTA, Anisa minta agar aku tak melupakan kenangan yang pernah kami ukir. Aku diajaknya ke sebuah Hotel disebuah kota, yah seperti perpisahan. Karena aku harus melanjutkan kuliah di Australia, menyusul kakakku. Alangkah sedihnya Anisa malam itu, dia nampak cantik, lembut dan mesra. Tak rela rasanya aku kehilangan Anisa. Kujelaskan semuanya, walau kita beda usia yang cukup mencolok, tapi aku mau menikah dengannya. Anisa memberikan cincin bermata berlian yang dipakainya kepada aku. Aku memberikan kalung emas bermata zamrud kepada Anisa. Cincin Anisa hanya mampu melingkar di kelingkingku, kalungku langsung dipakainya, setelah dikecupinya. Anisa berencana berhenti menjadi guru, “sakit rasanya” ujarnya kalau terus menjadi guru, karena kehilangan aku. Anisa akan melanjutkan S2 nya di USA, karena keluarganya ada disana. Setelah itu kami berpisah hingga sekian tahun, tanpa kontak lagi.

Pada suatu saat, ada surat undangan pernikahan datang ke Apartemenku, datangnya dari Dra. Anisa Maharani, MSC. Rupanya benar dia menyelesaikan S2 nya.Aku terbang ke Jakarta, karena resepsi itu diadakan di Jakarta disebuah hotel bintang lima. Aku datang bersama kakakku Rina dan Papa. Di pesta itu, ketika aku datang, Anisa tak tahan menahan emosinya, dia menghampiriku ditengah kerumunan orang banya itu dan memelukku erat-erat, lalu menangis sejadi-jadinya.

“Aku rindu kamu Rangga kekasihku, aku sayang kamu, sekian tahun aku kehilangan kamu, andai saja laki-laki disampingku dipelaminan itu adalah kamu, alangkah bahagianya aku ” Kata Anisa lirih dan pelan sambil memelukku.

Kamu jadi perhatian para hadirin, Rina dan Papa saling tatap kebingungan. Ku usap airmata tulus Anisa. Kujelaskan aku sudah selesai S1 dan akan melanjutkan S2 di USA, dan aku berjanji akan membangun laboratorium yang kuberi nama Laboratorium “Anisa”. Dia setuju dan masih menenteskan air mata.

Setelah aku diperkenalkan dengan suaminya, aku minta pamit untuk pulang, akupun tak tahan dengan suasana yang mengharukan ini. Setelah lima tahun tak ada khabar lagi dari dia, aku sudah menikah dan punya anak wanita yang kuberi nama Anisa Maharani, persis nama Anisa. Ku kabari Anisa dan dia datang kerumahku di Bandung, dia juga membawa putranya yang diberi nama Rangga, cuma Rangga berbeda usia tiga tahun dengan Anisa putriku. Aku masih merasakan getaran-getaran aneh di hatiku, tatapan Anisa masih menantang dan panas, senyumnya masih menggoda. Kami sepakat untuk menjodohkan anak kami kelak, jika Tuhan mengijinkannya.

TAMAT

Tags : cerita 18sx, setengah baya, cerita sex, foto ngentot, smu bugil, gadis indonesia, gambar bokep,indocerita 17 tahun,cerita seru 17 tahun,memek 17 tahun, foto cewek bugil indonesia, artis indonesia bugil, gambar bugil, video indonesia bugil, memek bugil

1 komentar 18 April 2010

Halaman

Kategori

Tautan

Meta

Kalender

Agustus 2014
S S R K J S M
« Jul    
 123
45678910
11121314151617
18192021222324
25262728293031

Posts by Month

Posts by Category

 
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.