Posts tagged ‘gambar Toket ‘




Cerita 18sx – Akhirnya Kunikmati Pemerkosaan Itu – 2

Dari Bagian 1

Ijah yang sudah telanjang bulat berbaring diranjang dengan posisi kaki menjuntai kelantai, sedangkan Jaka mengambil posisi berdiri. Jaka kemudian mengangkat dua kaki Ijah sehingga posisi Ijah mengangkang, lalu perlahan Jaka memasukan penisnya ke dalam vagina Ijah.

“Nghhss Jak.. ohh,” Ijah mulai mendesis dan mengerang ketika Jaka memompa tubuhnya.

Keduanya lalu tenggelam dalam nafsu birahi, sementara aku yang sudah tak kuat lagi segera berlari ke kamarku dan memuaskan diri dengan penis karet sialan itu. Sampai akhirnya Mas Rudi pulang larut malam dan kembali memuaskanku dengan alat sialan itu lagi.

Sejak kejadian itu, aku semakin tak habis pikir dengan kelakuan para pembantuku itu. Tapi lama-lama aku pikir wajar saja, karena Maman memang duda dan Minah janda, lalu Jaka dan Ijah mungkin saja sudah menjalin cinta sejak di kampung dulu. Apalagi pengawasan terhadap mereka di rumahku tak terlalu ketat. Namun tak bisa kupungkiri juga, sejak melihat kejadian itu, aku semakin merasakan haus untuk melakukan seks. Apa boleh buat keinginan itu harus kuredam dengan penis karet lagi, dan lagi.

Hari itu Mas Rudi pamit akan liputan luar kota selama tiga hari, dan tiga hari itu pula aku harus kesepian di rumahku. Hari pertama berjalan seperti biasa meski tanpa Mas Rudi. Tapi hari kedua sejak pagi aku merasa kurang enak badan, sehingga kios hanya dijaga para pembantuku.

“Bu.., kalau mau biar saya pijatin supaya enak badannya,” suara Ijah menawariku usai makan malam.

Malam itu sengaja kuajak empat pembantuku itu makan malam bersama di rumahku dan mereka juga bebas nonton TV dirumah majikannya ini.

“Iya deh Jah, pijitin aku dikamar ya..,” ujarku sambil berjalan menuju kamar.

Sementara Minah, Maman, dan Jaka masih nonton TV diruang tengah. Sampai di kamarku, Ijah langsung memijiti seluruh badanku dari kaki sampai kepala. Pijitan Ijah memang enak sampai-sampai aku terlelap dan tidur.

Aku tak tahu berapa lama aku sempat tertidur, tetapi saat bangun tubuhku rasanya sudah segar kembali. Hanya saja, astaga, aku dalam keadaan terikat. Kedua tangan dan kakiku terikat pada tiap sudut ranjang, dan mulutku tertutup erat plester lakban. Hanya mataku yang terbuka dan melihat kamar dalam keadaan terang, dan aku sendiri dalam keadaan bugil tanpa sehelai benang pun.

“Selamat malam nyonya sayang,” suara Maman tiba-tiba mengejutkanku.

Lelaki bertubuh gempal itu sudah berdiri tepat di depanku di ranjang bagian kakiku. Matanya berbinar liar menatap kearah tubuhku yang terikat, terlentang, dan telanjang. Sialan, apa mau Maman ini, aku mau berteriak tapi mulutku tertutup lakban.

“Tenang saja nyonya, malam ini akulah yang akan memuaskanmu. Tuankan sedang tidak ada,” Maman masih berdiri di hadapanku sambil melepaskan pakaiannya sendiri.

Tubuh Maman masih terlihat atletis di usia 40 tahun, dengan bidang dada dan otot perut kotak-kotak menandakan tenaga yang kuat, apalagi kulitnya yang agak hitam membuat kesan kuat jelas terlihat.

Maman kini tinggal pakai CD saja, dan perlahan bergerak kearahku yang terlentang diranjang. Aku tahu apa yang sebentar lagi akan terjadi, Maman akan menyetubuhiku, memperkosaku, tapi juga memberi kepuasan yang selam ini aku cari.

“Eemphh.. mmffhh,” aku berusaha bergerak berontak ketika Maman mulai menyentuh tubuhku.

Tapi percuma, ikatan tali jemuran pada kaki dan tanganku sangat kuat, Maman akhirnya leluasa meraba-raba tubuhku.

“Tenang nyonya, sabar ya.., wah mulus sekali nyonya ini,” Maman terus meraba-raba dan mempermainkan jari kasarnya di sekujur tubuhku.

Aku hanya bisa pasrah ketika Maman mulai berani menciumi puting susuku dan menghisap-isapnya. Kumis tebal dan mulut monyongnya seperti hendak melahap habis susu ukuran 36B milikku. Aku pun tak kuasa berontak ketika jeri-jari kasar Maman menyentuh bibir-bibir vaginaku, dan kurasakan gelora birahiku mulai menjalar ketika jari-jari itu mulai menelusup pada celah bibir vaginaku dan memainkan, menekan-nekan klitorisku.

“Mmffhh..,” meski aku mulai menikmati sentuhan nakal Maman, tetapi aku harus tunjukan kalau aku tak suka diperlakukan begitu, setidaknya untuk mempertahankan martabatku sebagai majikannya.

Aku mulai berontak lagi, tapi percuma. Kini Maman bukan hanya bermain jari, bibirnya mulai turun kearah perut dan terus keselangkanganku yang sudah basah. Oh.., tidak, bibir Maman mulai menyentuh bibir vaginaku. Kumisnya yang tebal sengaja digesek pada klotorisku, membuat aku menggelinjang. Setiap gerakan perlawananku membuat Maman semakin bernafsu menjilati vaginaku, dan hal itu membuat kenikmatan yang tercipta semakin tak bisa kuelakan. Akhirnya gerakan pinggulku semakin seirama dengan jilatan kasan lidah dan kumis Maman.

“Gimana nyonya? Enak nggak?,” tanya Maman sambil menatapku.

Aku tentu saja melotot kepadanya. Tetapi Maman nampaknya sudah mengerti ciri wanita dilanda birahi, sebab meski mataku melotot marah, vaginaku yang sudah basah tak bisa menyembunyikan ciri nafsuku. Maman melanjutkan aktifitasnya menjilati vaginaku. Desakan-desakan bibir Maman dibagian vital milikku membuat rasa nikmat tersendiri menjalar dan mengumpul dibagian vagina, pinggul, pantat, hingga ujung kaki dan ujun rambutku. Mamang semakin teratur menjilati klitorisku, sampai akhirnya aku tak bisa membendung desakan dari dalam vaginaku.

“Mmmffhhpp..,” kali ini aku jebol, aku orgasme dengan perlakuan Maman itu.

Maman menghentikan jilatannya, dan menatap wajahku, ia tahu aku sudah sampai puncak pertama. Maman berdiri lagi dan menanggalkan CD kusam miliknya. Kini dihadapanku berdiri seorang lelaki dengan penis yang normal dan ereksi total, hal yang sudah setahun lebih tak pernah kulihat. Penis milik pembantuku itu siap menghujani vaginaku dengan kepuasan.

“Nyonya.., sudah kepalang basah. Saya tahu nyonya juga senang kok, buktinya sampai keluar airnya. Jangan berteriak ya nyah,” ujar Maman sambil melepas plester lakban dari mulut.

Kini plester sudah terlepas dan mulutku bebas bersuara, tapi aku tak berkata-kata apalagi berteriak. Tubuhku lemas dan tiap jengkalnya merasa rindu sentuhan Maman seperti tadi.

“Ohh.., uhh.. adduuhh..,” hanya itu yang keluar dari mulutku ketika Maman kembali menjilati vaginaku.

Tangan Maman yang cekatan meremas-remas susuku, pinggulku, dan belahan pantatku diremas gemas. Terus terang saat itu aku sudah tak sabar menunggu hujaman penis Maman yang tegar ke vaginaku, aku rindu disetubuhi lelaki, bukan sekedar vibrator sialan itu.

Maman beralih posisi mengambil posisi berlutut tepat di selangkanganku. Dipegangnya penisnya dan diarahkan ke vaginaku yang sudah benar-benar kuyup. Maman menggesek-gesekkan penisnya dipermukaan vaginaku, oh.., aku benar-benar tak sabar menunggu senjata Maman itu.

“Uhh Man.. ampunhh.. aku nyerah.. mmffhh,” aku akhirnya mengucapkan itu dengan mata terpejam.

Kupikir mau menolak pun percuma karena posisiku sulit, lagipula aku ingin agar dosa itu segera berlalu dan selesai. Ucapanku membuat angin segar bagi Maman, sebelum menyetubuhiku penuh, Maman membuka ikatan tali di kaki dan tanganku.

“Ayo sayang, sekarang aku puaskan kamu cantik,” celoteh Maman sambil kembali menindih tubuh bebasku.

Dalam posisi itu Maman masih terus memancing nafsuku yang sudah sangat puncak, penisnya hanya digesek ujungnya saja pada vaginaku membuat aku yang mengejar dengan pinggul naik turun. Setelah tak mampu menahan nafsu yang sama, Maman akhirnya menghujamkan utuh penisnya kedalam vaginaku.

“Ouhhggff.. ah Kang Maman..,” bibirku mulai menceracau saat Maman memompakan penisnya maju mundur dalam vaginaku.

Tangan dan kakiku yang sudah lepas dari ikatan bukannya mendorong tubuh Maman menjauh dariku, tetapi justru memeluk dan meremas remas dada kekar Maman. Penis Maman terasa memenuhi liang senggamaku dan menciptakan rasa nikmat yang selama ini tak lagi kurasakan dari Mas Rudi.

“Ohh nyonya, uennaakk sekali vaginamu nyahh.. oh,” Maman menggenjot tubuhku dengan irama yang cepat dan tetap, dan aku mengimbangi gerakan Maman. Kini aku total melayani kebutuhan seks Maman sekaligus meraih kebutuhan seksku.

Sampai menit kedua puluh permainan kami, aku merasakan seluruh sarafku mengumpul disatu titik antara bibir vagina dengan klitorisku. Lalu beberapa detik kemudian seluruh otot dibagian itu terasa mengejang.

“Auuhhff.. mmffhh, enghh.. ohh,” kurasakan kontraksi yang sangat sensasional pada vaginaku.

“Iyyaahh.. nyaahh.. ohh nyaahh,” Maman menggeram hebat dengan tubuh kejang diatas tubuhku, kurasakan semburan spermanya masuk hingga kedinding rahimku.

Maman rebah diatas tubuhku. Keringat kami bercampur baur dan kedutan-kedutan lembut kelamin kami masih terasa sesekali, sampai akhirnya Maman rebah disisi kananku.

Ke Bagian 3

Tags :Cerita 18sx,cerita dewasa,cerita sex,gadis seksi,cewek telanjang,cerita 17 tahun,cerita sexs,cerita seks,foto telanjang,tante girang,gambar Toket,gambar seks,gadis hangat,tante kesepian,gadis abg bugil, gadis bule bugil bugil abg bugil, abg bugil indo, bugil abg bispak

Add a comment 13 Juni 2010

Cerita 18sx – Akhirnya Kunikmati Pemerkosaan Itu – 1

Sebut saja namaku Ani, wanita berusia 30 tahun dengan wajah cantik dan kulit kuning langsat. Aku berani bilang aku cantik karena banyak lelaki tergila-gila padaku sewaktu masih kuliah dulu. Mereka bilang aku mirip artis sinetron Bella Saphira atau Jihan Fahira.

Tapi kini aku tak lagi lajang, sejak selesai kuliah 5 tahun lalu, aku menikah dengan Mas Rudi, kakak kuliahku yang aku cintai. Saat ini kami hidup di kota M, dan Mas Rudi bekerja sebagai wartawan pada sebuah media cetak lokal di kota itu.

Kehidupan kami berjalan mulus hingga tahun keempat pernikahan, walaupun kami belum juga dikaruniai buah hati hasil perkawinan kami. Aku sendiri lebih banyak menghabiskan waktu di rumah, sambil menjaga kios serba ada yang setiap waktu semakin berkembang pesat. Intinya, kami sama-sama bahagia walaupun kadang merasa sepi juga tanpa hadirnya buah hati.

Tapi, sesuatu ternyata terjadi diluar perkiraan kami berdua. Profesi Mas Rudi sebagai wartawan mengharuskannya berhadapan dengan resiko yang rumit. Aku ingat betul saat itu suamiku berseteru dengan seorang pejabat yang kasus KKN nya dibongkar suamiku. Seminggu setelah berseteru, suamiku dianiaya belasan orang tak dikenal, beberapa saat setelah meninggalkan rumah.

Tak parah memang, tapi luka disekujur tubuh Mas Rudi ternyata berpengaruh pada kemampuan seksualnya. Ya, sejak penganiayaan itu, Mas Rudi selalu gagal melakukan tugasnya sebagai suami. Tadinya kami pikir itu akibat shok yang dialami karena penganiayaan, dan dokter yang menangani Mas Rudi pun berpikiran seperti itu. Tapi sudah hampir setahun berlalu, kondisi Mas Rudi tetap tak berubah, malah bisa dibilang semakin parah. Bahkan sekarang, Mas Rudi sudah mulai enggan mencoba melakukan tugasnya memberikan kebutuhan biologis padaku.

“Aku takut kamu malah kecewa sayang,” katanya dengan tatap sedih suatu malam.

Sebagai istri, meskipun tersiksa, aku mencoba untuk tetap setia dan bertahan dengan keadaan itu. Walau terkadang timbul juga ketakutan kalau aku tak bakalan punya anak sampai tua nanti. Lambat tapi pasti, akhirnya aku dan Mas Rudi bisa menepis semua ketakutan itu, dan mulai tenggelam dengan kesibukan kami masing-masing.

Untuk menghilangkan rasa sepi kami, aku dan Mas Rudi mempekerjakan empat orang pembantu dirumah kami. Dua wanita, Ijah berusia 22 tahun, dan Minah berusia 34 tahun, kupekerjakan sebagai pembantu rumah tangga dan penjaga kios serba ada. Sedangkan dua lelaki, Maman berusia 40 tahun, dan Jaka berusia 19 tahun, kupekerjakan sebagai tukang kebun dan penjaga kios serba ada pula. Untuk mereka pula, kami membuat dua buah kamar lagi, dan suasana rumah tak lagi sepi sejak mereka berempat turut tinggal di rumah kami sejak lima bulan lalu.

Malam itu entah apa yang ada dipikiran Mas Rudi. Yang pasti suamiku itu membawa belasan keping VCD porno dan mengajakku menikmati tontonan erotis itu bersama-sama. Waktu itu jam menunjuk angka 11.30 malam, dan kami berdua sudah berbaring di ranjang kamar, sementara adegan porno dilayar TV sudah mulai tayang.

Terlihat jelas bagaimana gadis Cina dalam VCD itu merintih dan mengerang ketika lidah lelaki cina pasangan mainnya menjilati bibir-bibir vaginanya, terlihat jelas juga bagaimana rintih kenikmatan keduanya ketika kelamin mereka bersatu dalam senggama. Tak bisa kupungkiri, aliran darahku cepat terpacu dan kehausanku akan kebutuhan itu semakin menjadi-jadi.

Mas Rudi masih terdiam di sampingku, namun mendadak tangannya mulai merayap dan meraba bagian tubuh sensitifku.

“Sayang, mungkin aku nggak bisa memberimu kepuasan seperti itu. Tapi aku akan berusaha membahagiakanmu,” katanya sambil mulai menciumi sekujur tubuhku. Satu persatu pakaian kami terbuka hingga akhirnya kami benar-benar bugil.

Astaga, penis suamiku tetap saja layu meski adegan di TV sudah membakar nafsu kami berdua. Sebagai istri aku berinisiatif mengulum dan menjilati penis Mas Rudi yang layu, tapi tak juga ada perubahan sampai aku lelah sendiri.

Akhirnya Mas Rudi bangkit dan mengambil sesuatu dari balik lemari kami, penis karet dengan vibrator elektrik. Alat itu baru dibelinya, karena selama ini aku selalu menolak menggunakan alat bantu semacam itu. Aku selalu berpikir jika pakai alat itu sama saja aku melakukannya dengan orang lain, bukan dengan suamiku.

Tapi entahlah, malam itu aku benar-benar tak kuasa menahan birahiku. Mungkin akibat tontonan porno yang kami nikmati bersama itu.

“Ohh Mass ngghhss,” aku mulai mendesis ketika Mas Rudi menyibak bibir vaginaku yang sudah banjir dengan penis buatan itu.

Aku tak lagi memperhatikan suamiku, dan mataku tertuju pada layar TV, sambil membayangkan akulah yang sedang disetubuhi pria di TV itu. Vibrator penis karet yang sudah sepenuhnya masuk keliang vaginaku dihidupkan Mas Rudi, getarannya mulai membuat menikmatan tersendiri di daerah klitorisku. Aku mengelinjang sambil merintih nikmat hingga akhirnya tiba pada puncak kenikmatan. Aku orgasme, orgasme semu oleh alat buatan pabrik. Malam itu aku bahagia, tetapi batinku menangis.

“Maafkan aku sayang,” hanya itu yang terucap dari bibir Mas Rudi.

“Nggak apa Mas, aku sudah sangat puas kok,” balasku sambil mengecupnya.

Sejak menikmati getaran asyik dari vibrator penis karet malam itu, sepertinya ada yang berubah pada diriku. Aku menjadi sangat agresif dan selalu ingin melakukan hubungan seksual dengan alat itu. Kadang kala, saat Mas Rudi sedang tak dirumah, aku melakukannya sendiri hingga mencapai puncak kenikmatanku. Aku tahu itu salah, tetapi aku tak bisa menolak keinginanku yang selalu menggebu untuk terpenuhi, sementara aku juga ingin tetap setia pada suamiku.

Siang itu pelanggan kios serba ada kami cukup banyak yang datang. Maklum tanggal muda biasanya pelanggan kios yang rata-rata pegawai negeri membeli kebutuhan sehari-hari di kios kami. Aku dan Ijah sibuk melayani pembeli, malah Minah yang seharusnya bekerja didapur ikut membantu kami. Jarak kios dan rumah kami hanya berselat tembok, tembok itu pun ada pintu khususnya yang menghubungkan kios dan rumah, jadi tidak sulit mondar-mandir kios-rumah atau sebaliknya rumah-kios.

“Si Jaka kemana Jah? kok nggak kelihatan dari tadi?,” tanyaku pada Ijah sambil menghitung bayaran pelanggan.

“Nggak tahu tuh bu, tadi sih katanya mules, dia lagi mencret bu, sakit perut,” jawab Ijah.

“Sakit kok nggak bilang?, ya sudah kamu jaga dulu kiosnya sama Minah ya, Ibu mau lihat Jaka,” setelah kios sepi, aku pun meninggalkan Ijah dan Minah untuk melihat Jaka.

Kamar pembantuku tepat di belakang kios, satu kamar Ijah dan Minah, satu lagi kamar Jaka dan Maman. Aku langsung menuju kamar Jaka, dan saat aku buka pintunya terlihat Jaka sedang terbaring dengan wajah pucat dan meringis-ringis sambil memegangi perutnya seperti menahan sakit.

“Kamu sakit Jaka?, ke Puskesmas saja ya mumpung masih buka,” kataku terus masuk kedalam kamar pembantuku.

“Eh.. ibu.., nggak apa kok bu, cuma sakit perut biasa. Tadi juga sudah minum obat diberi Ijah,” Jaka berkata sambil bangkit dan duduk diranjangnya.

Jaka adalah pemuda sopan dari kampung yang sama dengan tiga pembantuku lainnya. Mereka kuambil dari kampungku juga, kebetulan keluarga kami sudah saling mengenal dikampung. Aku juga sebenarnya sama seperti mereka, orang kampung. Hanya saja aku agak beruntung kawin dengan Mas Rudi, anak orang kaya yang juga berprofesi matang.

Aku lalu duduk ditepi ranjang Jaka sambil mengusap dahinya.

“Mana yang sakit Jak?” tanyaku seraya mengusap perutnya.

“Sudah baikan kok bu, cuma masih lemas,” jawabnya.

Rasa peduliku pada Jaka mungkin suatu kesalahan, soalnya begitu mengusap perut Jaka, aku justru menatap suatu bagian di bawah perut Jaka. Sebuah benda yang tersembul dibalik celana karet komprangnya, astaga milik Jaka yang kusadari tentu tak bermasalah seperti milik suamiku. Aku jadi jengah dan menarik tanganku, lalu meninggalkan Jaka sendirian di kamarnya.

Malamnya, sekitar jam 09.00 setelah makan malam, aku kembali ke kamar para pembantu untuk melihat keadaan Jaka. Terus terang aku sangat takut kalau pembantuku ada yang sakit, apalagi bagiku mereka sudah seperti kerabat sendiri.

Tapi malam itu aku jadi kaget dan tersentak. Aku mendapati bukan Minah dan Ijah atau Jaka dan Maman yang sekamar. Tetapi Jaka sekamar dengan Ijah dan Maman dengan Minah. Rupanya, mereka keblinger dan melanggar aturan yang kutetapkan.

Hal itu aku tahu ketika dekat kamar Minah, aku mendengar suara rintih dan desah khas orang yang sedang bersetubuh. Ketika kuintip ternyata Maman yang duda sedang menindih Minah yang janda.

Aku lalu beralih menintip kamar Jaka lewat celah jendela. Astaga, di kamar itu aku melihat Ijah sudah setengah telanjang dan Jaka sedang mengulum buah dada Ijah. Aku hendak marah dan menghardik mereka, tetapi tak tahu kenapa aku malah seperti terpaku dengan adegan yang kusaksikan itu.

“Iiihh gelii Jak.., nakal kamu ya,” ucapan genit Ijah terdengar jelas olehku saat Jaka mulai menjilati bagian perutnya.

“Geli dikit nggak apa kan, Kang Maman dan Bi Minah juga begitu kok caranya,” balas Jaka.

Keduanya pun mulai melepas pakaiannya hingga bugil. Sementara aku semakin terpaku melihat adegan mereka dari balik celah jendela. Jaka yang bertubuh kurus dan agak pendek rupanya memiliki penis yang lumayan besar, setidaknya lebih besar dari milik suamiku yang layu itu.

Ke Bagian 2

Tags : Cerita 18sx,cerita dewasa,cerita sex,gadis seksi,cewek telanjang,cerita 17 tahun,cerita sexs,cerita seks,foto telanjang,tante girang,gambar Toket,gambar seks,gadis hangat,tante kesepian, artis indonesia bugil, foto telanjang, cewek telanjang, gambar cewek telanjang, gambar telanjang, gadisbandung, melayu bugil, telanjang, pondok putri, situs indonesia, selebriti indonesia, gadis mandi, cewek abg, seks abg

Add a comment 13 Juni 2010

Cerita 18sx – Dewi, Sepupuku yang Nakal

Udara panas di dalam kereta membuat seluruh keringatku mengucur sebesar-besar jagung. Memang beginilah keadaannya kalau naik kereta siang-siang, apalagi perjalanan jauh. Kalau pergi ke rumah nenek memang paling praktis kalau naik kereta walaupun panasnya tidak ketulungan, soalnya tinggal turun, jalan sedikit, sampai deh.

Sekitar jam empat lewat sedikit, kereta yang kutumpangi tiba di stasiun kecil di ibukota kecamatan di bilangan utara Jawa Tengah. Keadaan stasiun di sini tidak sekacau di Jakarta. Aku pun berjalan menyusuri rel berbalik kea arah Jakarta. Melewati gang-gang kecil, tak lama aku tiba di rumah nenek.

“Kulo nuwun.., Mbah.. Mbah..?” sapaku sambil mengetuk-ngetuk pintu.

“Lah, koe toh Lik. Masuk.. masuk, Mbah kirain siapa. Numpak bus opo sepur..?”

“Kereta, Mbah.”

“Gimana kabar Bapak sama Ibumu..?”

“Baik, Mbah. Ini ada titipan dari Ibu,” jawabku sambil meberikan sebuah bungkusan titipan ibu.

“Yo wis, mandi dulu sana.”

Aku pun langsung mandi, kalau udaranya panas seperti ini memang paling enak mandi. Jebur-jebur..!

Selesai mandi aku pun ke dapur, kalau bisa sih ingin langsung makan. Waktu di dapur, yang kutemui bukannya nenekku, tapi seorang gadis, memakai daster hijau sedang berjongkok dekat sumur. Mencuci piring kali yah..? Terlihat dari sini badannya gemuk, tapi pantatnya.. waahh.. Asoy geboy.. gedebuk enjoy.. weleh-weleh.. Aku pun terkesima sesaat, namun..

“Ngeliatin opo toh, Lik..?” tanya nenek mengagetkanku dan membuyarkan fantasi meraih..

“Eh.., Embah. Itu siapa toh, Mbah..?” tanyaku.

“Itu Dewi, anaknya Om Sabar, adiknya Bude-mu As, sekarang dia ikut Bude-mu.”

“Jadi ya masih sepupuku..?”

“Iya toh..?” jawab nenek.

Dewi pun berbalik melihatku, manis juga. Apalagi disambung sama senyuman yang manis itu. Sepetinya sih dia pemalu. Lalu aku dikenalkan sama dia. Saat aku makan, sepertinya dia beberapa kali memandangku dari seberang sana sambil memotongi sayur. Ketika aku membalasnya dia langsung memalingkan pandangannya. Manis juga sepupuku yang satu ini, walaupun gemuk dan terlalu besar untuk anak kelas dua SMP.

Lalu sebuah cerita terjadi, semuanya bermula ketika keesokan harinya aku ke rumah Bude As. Aku pingin pipis, duh.. kebelet banget. Aku langsung lari ke kamar mandi. Kamar mandi memang agak aneh, karena tidak berpintu namun seperti masuk ke dalam ruangan yang disekat-sekat, hanya WC yang ada pintunya. Karena sudah kebelet banget aku langsung masuk ke dalam ruangan yang ruang antaranya cukup gelap. Ternyata Dewi ada di sebelah dalam dekat bak dan membelakangiku. Jarak kami sekitar dua sampai tiga meter. Dengan bengong aku memandangi dari atas ke bawah tubuhnya yang polos tanpa sehelai kain pun alias telanjang bulat.

Melihat pantatnya yang membujur besar padat membuat ‘anu’-ku menegang. Bahenol sekali pantatnya. Belum lagi ketika dia menyamping dan buah dadanya yang ranum terlihat. Aku hanya dapat menelan ludah melihatnya jebar-jebur sambil memegangi adik kembarnya. Jadi pengen megang juga. Tapi karena sudah tidak tahan, aku langsung masuk ke dalam WC dan melepas bebanku.. aahh legaa..

Entah apa yang ada di pikiranku, padahal kalau mau ngintip terus aku bisa saja, tapi aku menunggu di dalam WC sampai Dewi selesai mandi baru aku keluar. Gendut-gendut sexy juga tuh cewek. Kalo bukan sepupu kali sudah kutembak. Selesai makan siang, Bude As menyuruh Dewi mengajakku jalan-jalan ke ladang tebu. Walaupun panas tapi rasa tetap segar dapat jalan berdua bersama Dewi.

“Kamu baru setahun ini di sini ya, Dew..?”

“Iya, Mas. Bapak sama Ibu di Jakarta, jadi aku ikut Bude.”

“Di sini sama Jakarta enak mana..?”

“Ya enak di Jakarta, kalo mo jalan-jalan banyak tujuannya.”

“Kamu sudah punya pacar belum..? Nanti pacarmu marah lagi liat kamu jalan sama aku..” pancingku.

“Engga toh, Mas. Aku belom punya pacar. Lagian siapa yang mau..?”

“Masak cantik kayak kamu nggak ada yang mau..?”

Dewi hanya tersenyum saja.

Menyusuri pematang, kami berdua sepertinya bahagia sekali, tak jarang kami tertawa dan bergandengan tangan. Dua jam kami berjalan, sampailah kami di sebuah stasiun tua tempat pengangkutan tebu, tapi sepertinya sudah lama tidak digunakan lagi. Dewi mengajakku masuk melihat-lihat ke dalam.

“Serem ya, Mas..?”

“Ah, siang-siang kok serem. Emang kamu takut, Dew..?”

“Engga, asal ada Mas Lolik..” jawabnya sambil menggandeng tanganku.

Lalu dia menarikku lebih masuk ke dalam, tibalah kami di satu sudut ruangan.

“Mas.., Mas Lolik sudah punya pacar belum..?”

“Wah, ngga sempet Dew..,” jawabku yang sebenarnya berbohong.

“Dewi boleh ngga jadi pacar Mas Lolik..?”

“Tapi Dew..,” tak sempat menyelesaikannya Dewi sudah memotongnya dengan menutup mulutku dan menaruh tanganku di dadanya.

Besar, empuk tapi padat. Awalnya aku tidak ingin sampai.. oh.., namun birahiku pun bergejolak, ‘anu’-ku menegang ketika Dewi mulai meremas-remaskan tanganku di payudaranya.

“Dewi ngga cantik toh, Mas..?” tanyanya sambil merangsang manja.

“Bukan.. bukan itu Dew..,” namun Dewi terus meremas-remaskan tanganku, benar-benar empuk, padat dan sensasinya begitu nikmat.

Tak kuasa menahan, aku mulai mencium bibirnya sambil meremas-remas sendiri payudara Dewi.

Kunikmati ciumannya yang hot sambil menutup mataku. Dewi lalu menarik tangan kiriku dan memasukkannya ke bawah roknya. Pertama aku berpikir akan menyentuh halusnya celana dalam Dewi. Ternyata kasar dan itu adalah rambut..! Dewi sudah menurunkan celana dalamnya ketika kami berciuman. Sempat kaget aku dibuatnya, namun tanpa basa-basi aku langsung memainkan jariku di sepanjang kemaluannya dan menjelajahi hampir tiap helai rambutnya yang lebat. Kemaluannya pun kian membasah, mengalir cairan kental dari dalam vaginanya. Jari semakin tangguh bermain di tengah beceknya kemaluan Dewi.

Tangan Dewi tidak mau kalah dan masuk ke dalam celanaku sambil memainkan batangku yang sudah membesar. Dia menurunkan resleting celanaku dan mengeluarkan batangku itu. Dia berjongkok di depanku dan mulai menjilati batangku. Dewi mengulum-ngulumnya dan memutar-mutarnya di dalam mulut dengan permainan lidah yang menawan. Hebat sekali sih dia.. sering nonton ‘bokep’ kali yah..?

Aku pun gantian jongkok dan mengangkat rok Dewi dan mulai melakukan oral sex pada kemaluan Dewi. Lezatnya Juice Cinta yang keluar dari vagina, Juicer alami milik Dewi. Aroma kemaluannya yang merangsang membuatku kesetanan menjilati ‘garis’ dari depan sampai belakang itu. Kugigit-gigit klitoris Dewi, lalu kujilat kelentitnya yang seperti jengger keluar. Dewi hanya mengerang dan mendesah menahan rasa sakit yang pasti nikmat itu. Naik aku menjilati perutnya yang gemuk berisi itu. Namun nafsuku tidak memperdulikan bentuk tubuhnya itu, bagiku dia tetap gehoy.. geboy.., S E X Y..

Kujelajahi tiap lekuk dan gunung-gunung di tubuhnya, lalu ke pantatnya yang besar bahenol dan lubang di tengah garis belakangnya tak luput dari incaranku. Lebih naik lagi aku mulai melahap kedua payudaranya yang sepertinya 36B apa C itu, kukulum-kulum puting-putingnya di dalam mulutku dan memainkan lidahku di atas kedua adik kembarnya itu. Tak diam tanganku terus mengorek-ngorek kemaluannya agar terus basah dan menarik klitorisnya, lalu mencoba memasukkan jariku ke dalam vagina Dewi.

“Kamu suka, Dew..?”

“Ah.., Mas.. masukin donk.. aah.., masukin aja.. Dewi ngga tahan nih..!” jawabnya sambil tak henti-hentinya mendesah.

“Apa yang dimasukin, Dew..? Jarinya..?” tanyaku lagi.

“Jangan.. ah.. aduh enak banget sih.. itu.. itu.. aja.. aduh.. ini lho..” jawabnya sambil mendesah terus dan memegang batangku, “Anunya Mas Lolik, memek Dewi udah ngga tahan pengen dicolok-colok aah.. aduh.. ayo dong, Mas..!”

Aku langsung merebahkan Dewi di lantai beralas koran dan menjilati memeknya dulu sekali lagi.

“Udah dong, Mas. Masukin aja..!” serunya sambil meremas-remas sendiri payudaranya.

Tanpa basa-basi aku langsung memasukkan batangku ke dalam vaginanya.

“Aaaghh.., yes..!” Dewi mengerang, entah kesakitan atau saking enaknya.

“Sakit, Dew..?”

“Engga kok, Mas. Enak.. enak banget. Bener kok. Terusin dong, Mas.. terusin..!” jawab Dewi sambil memegang pundakku.

Aku mulai menggerakkan batangku keluar masuk goa di tengah hutan lebatnya Dewi. Aaahh.. benar-benar enak banget. Kupikir akan sulit menembus kedalaman vagina Dewi, mungkin gara-gara basah banget kali yah jadi gampang. Saking basahnya vagina Dewi yang dipenuhi ‘Juice Cinta’, aku dengan cepat dapat ‘mengasah’ batangku di dalam kemaluannya. Kaki yang mengangkang diangkat ke atas benar-benar membuatku terangsang.

“Terus, Mas.. terus.. yes..! Yang dalem.. iya gitu.. terus.. aahh.., iya.. ya..” ujarnya sambil membuka selangkangannya lebih lebar dan menggelepar keasyikan.

Melihat tingkahnya yang begitu, membuatku semakin bersemangat bermain dengannya.

“Enak, Mas..?”

“Enak banget, Dew.. aahh. Kamu suka khan..?”

Dewi hanya mengangguk keenakan.

Lelah dengan satu posisi, kami mengganti posisi. Dewi berdiri sambil menungging memegang meja tua. Aku langsung ‘menusuk’-nya dari belakang.

“Pegang susuku dong, Mas..!” pinta Dewi memelas.

Tanpa berpikir panjang aku meladeninya, tangan kiriku memegang satu susu Dewi, memilin-milin putingnya, dan yang kanan memainkan kelentit tempat pipisnya keluar.

Dewi terus mendesah keasyikan, “Yang dalem.. terus.. aduh.. enak banget sih..! Jangan berhenti ya, Yank..?”

“Aku nggak kuat lagi, Dew. Keluarin yah..? Kamu sexy banget sih..”

“Cium aku dong, Yank. Terus keluarinnya di dalem aja.”

Aku pun mencium dan menggigit lidah dan bibirnya yang manis.

“Bener boleh di dalem nih..?”

“Iyah, cuman jangan lepasin tangan yang di memek, yah..? Abis enak banget..!”

“Kecek.. kecek..” terdengar kocokan pada vagina yang basah.

“Mas.. kentotin terus memek Dewi, Mas..! Iya..! Gitu..! Aduh..! Aahh..! Dewi Orgasme Mas..!”

“Aduh.. aahh.. kamu sexy banget sih Dew..!”

“Creett.. creett.. creett.. creett..!” air maniku pun membanjiri Dewi yang sepertinya ingin mengelepar menikmati orgasmenya.

“Jangan dicabut dulu, terus jangan lepas tanganmu, yah..?” pintanya lagi sambil memegang tanganku yang memainkan klitorisnya, “Abis enak banget, mainin terus dong..!”

Aku tak berhenti memainkannya sampai Dewi puas. Lalu kucabut batangku yang mulai menyusut lagi.

Setelah melepas lelah, kami berdua pulang ke rumah nenek. Selama liburan kami terus melakukan hubungan sex hampir setiap hari di stasiun tua itu sampai aku pulang ke Bandung. Bila tak sempat pergi, kami melakukannya di kamar mandi.

Setelah aku pulang, aku baru tahu kalau ternyata Dewi itu anak nakal. Makanya dia diungsikan dari Jakarta ke Jawa Tengah. Dua kali tidak naik kelas. Pantesan badannya terlalu besar untuk anak kelas dua SMP. Dulu dia suka membolos, jalan-jalan sama pacarnya yang supir dan punya anak istri. Pokoknya dulu dia terkenal nakal. Pantesan dia jago sekali dalam hal bermain sex. Jangan-jangan aku bukan pria pertama yang ‘bermain’ dengannya di stasiun tua itu.

Tetapi itu tidak mengganggu pikiranku. Lagi pula sejak pindah ke Jawa Tengah, sifatnya berangsur-angsur berubah baik. Hubungan kami berdua pun terus berlanjut. Dewi akhirnya menjadi pacar gelapku. Setiap dia pulang ke Jakarta, aku pasti ke rumahnya dan melepaskan rindu dengan terus bermain sex.

TAMAT

Tags : Cerita 18sx,cerita dewasa,cerita sex,gadis seksi,cewek telanjang,cerita 17 tahun,cerita sexs,cerita seks,foto telanjang,tante girang,gambar Toket,cerita bugil,cerita nafsu,cerita daun muda,Foto toket gede abg,Cerita setengah baya,memek basah,memek abg,memek gadis,memek tante girang

3 komentar 11 Juni 2010

Halaman

Kategori

Tautan

Meta

Kalender

Agustus 2014
S S R K J S M
« Jul    
 123
45678910
11121314151617
18192021222324
25262728293031

Posts by Month

Posts by Category

 
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.