Posts tagged ‘nafsu seks ‘




Cerita 18sx – Maaf Bu…, Maaf! 02

Sambungan dari bagian 01

Pengalaman mimpiku yang kedua kalinya tidak kuceritakan kepada suamiku karena aku merasa malu mempunyai imajinasi seksual semacam itu. Akan tetapi selanjutnya mimpiku itu semakin sering muncul terutama apabila suamiku tidak berada di tempat dan aku tidur sendirian. Bahkan dalam pengalaman mimpiku belakangan ini aku merasa hal itu bukan lagi suatu mimpi, karena aku yakin dan sadar pada waktu itu aku belum tertidur mengingat waktu baru saja menunjukkan pukul sepuluh malam. Aku sedang bergolek di tempat tidur dan telah memakai baju tidurku tanpa BH. Dalam keadaan seperti itu, entah bagaimana mulanya tiba-tiba saja aku merasakan adanya suatu rangsangan birahi yang hebat dalam diriku kemudian disusul pada bagian liang kewanitaanku kurasakan berdenyut sedemikian rupa seperti ada sesuatu yang menerobos ke dalamnya. Rasanya persis sekali seperti rasa alat kejantanan seorang laki-laki ketika memasuki liang senggamaku.

Selanjutnya aku pun merasakan ada sesuatu yang bergerak dalam liang kenikmatanku membuat suatu gerakan mundur maju yang teratur sebagaimana lazim yang dilakukan oleh orang yang sedang bersanggama. Anehnya apabila sudah demikian, aku menjadi tidak sadarkan diri dan tenggelam dalam suatu keadaan histeris yang luar biasa. Kemudian di luar kesadaranku itu aku terus mengikuti gerakan tersebut sambil menggoyang-goyangkan pinggulku sampai akhirnya aku merasakan orgasme yang hebat dan hal itu dapat terjadi sampai berkali-kali. Anehnya pula ketika aku terbangun di pagi hari, kudapati juga diriku tertidur tidak tanpa BH saja namun juga aku tidak mengenakan celana dalam.

Setelah mengalami beberapa kali kejadian tersebut, aku bertambah heran bercampur dengan rasa khawatir. Oleh karena itu apabila suamiku tidak berada di tempat aku meminta salah seorang pembantuku untuk menemaniku tidur. Dia tidur di lantai dengan menggelar kasur sedangkan aku di tempatku seperti biasa. Pada mulanya keadaannya biasa-biasa saja, tidak pernah terjadi hal-hal yang aneh maupun lainnya, akan tetapi setelah beberapa malam pembantuku tidur bersamaku, pada suatu pagi pembantuku yang kebetulan telah berumur bercerita.

“Neng, semalam Bibi takut sekali”, katanya.

“Kenapa Bi?” kataku mulai curiga.

“Begini Neng, semalam itu Bibi rasanya tidak dapat tidur. Dada Bibi sesak sekali dan tidak bisa bernafas. Ketika Bibi bangun rupanya ada bayangan yang sedang menindih tubuh Bibi. Bayangan itu besar sekali dan rasanya dia ngomong kepada Bibi agar tidak tidur di situ lagi karena mengganggu hubungan suami istri. Terus Bibi tanya.. mengganggu suami-istri siapa, kan saya bukan istri di situ! Dia tidak menjawab Neng, tapi dada Bibi terus didudukinya sehingga rasanya tidak dapat bernafas. Mulanya Bibi kira Bibi mimpi, tapi kok rasanya tidak karena Bibi betul-betul tidak dapat bernafas, terus Bibi baca-baca ayat seadanya sampai bayangan itu pergi.”

“Ih ngeri sekali Bi”, kataku menutup-nutupi ketakutannya.

“Begini Neng, Bibi kira sebaiknya Neng tanya orang pinter saja, siapa tau ada yang mau mengganggu. Maklumlah Bapak kan orang penting di sini”, kata pembantuku selanjutnya.

“Saya pikir betul juga Bi, akan tetapi saya tidak tahu siapa yang bisa begitu”, kataku.

“Nanti Bibi coba tanya guru spiritual Bibi, siapa tahu dia bisa”, kata pembantuku yang memang telah agak berumur dan orang asli daerah itu.

Setelah beberapa waktu pembantuku membawa ibu guru spiritualnya yang kebetulan juga penduduk asli daerah itu. Setelah dia merenung dan mulutnya komat-kamit, dia berkata bahwa gangguan itu datang dari bangsa jin. Akan tetapi dia tidak tahu jin dari mana karena dia tidak kuat untuk berkomunikasi dengan jin tersebut. Dia menyarankan agar aku meminta tolong kepada seorang ahli kebatinan yang agak kuat. Dia kenal seorang ahli kebatinan yang biasa menolong orang sakit yang terkena gangguan mahluk halus, terutama para ibu rumah tangga yang mempunyai masalah dengan suaminya.

Demikianlah pada suatu sore ahli kebatinan yang bernama Pak Zein, datang ke rumahku. Kebetulan pada saat itu suamiku sedang tidak berada di tempat karena dinas ke Jakarta. Ketika aku menemui Pak Zein tersebut, aku agak kecele. Karena pada mulanya aku bayangkan akan bertemu dengan seorang tua yang keriput, berambut penuh uban dan mungkin berjenggot putih serta memakai sorban di kepalanya sebagaimana ahli-ahli kebatinan yang pernah kulihat di layar putih. Akan tetapi rupanya bayanganku amat berbeda sekali. Pak Zein orangnya masih muda berumur kira-kira tiga puluh tahun dan berpenampilan seperti pemuda masa kini.

Pada saat itu dia memakai celana jeans dengan kemeja kotak-kotak sehingga penampilannya jauh sekali dari penampilan seorang ahli kebatinan. Melihat penampilannya itu aku menjadi agak ragu-ragu walaupun dari wajahnya tercermin bahwa dia itu seorang yang terpelajar dan cerdas. Untuk tidak membuatnya tersinggung kuajak bicara juga dan berbasa-basi menceritakan soal bayangan yang dilihat oleh pembantuku. Aku tidak menceritakan masalah mimpiku itu sama sekali. Hal itu juga aku lakukan baik kepada pembantuku maupun kepada ibu guru spiritual pada waktu dia membantuku dahulu.

Setelah selesai kuceritakan pengalaman pembantuku, Pak Zein terpekur sejenak kemudian dia mulai berkata kepadaku.

“Bu, setelah saya kontrol secara batin akhirnya saya dapat juga berkomunikasi dengan bayangan itu. Bayangan itu sebenarnya memang sebangsa makhluk jin. Jin itu dahulu merupakan peliharaan seseorang akan tetapi sekarang sudah dilepas karena mempunyai kelakuan yang tidak senonoh sehingga kini dia berkeliaran tanpa tuan”, katanya.

“Jadi maksud Bapak bayangan itu memang benar-benar ada?” tanyaku agak ketir-ketir.

“Betul Bu, jin tersebut berada di sekitar sini dan sering melewati rumah Ibu setiap hari Rabu malam Kamis”, balasnya menerangkan.

Aku agak merenung sejenak. Aku ingat-ingat setiap kejadian mimpiku itu memang selalu bertepatan pada setiap hari Rabu malam Kamis. Kini aku mulai agak yakin akan kemampuan Pak Zein. Oleh karena itu dengan agak antusias aku mulai gencar bertanya.

“Persisnya dia ada di mana Pak?” aku bertanya.

“Dia sekarang tidak mempunyai tempat, karena diusir oleh tuannya yang dahulu memeliharanya.”

“Oo ya.. jadi jin juga bisa dipelihara..? Barangkali enak juga ya Pak! Mungkin bisa disuruh-suruh.. cuci piring atau apa saja”, kataku menyeletuk.

“Maaf Bu.. maaf, jin ini agak nakal, dia diusir berhubung suka berbuat hal yang tidak senonoh dengan istri tuannya dan sifat itu rupanya sudah merupakan pembawaan jin itu sejak kecil.”

“Perbuatan tidak senonoh yang bagaimana?” tanyaku.

“Maaf Bu.. kalau saya berkata terus terang. Jin itu suka menzinahi istri tuannya.”

Mendengar keterangan Pak Zein tersebut kini aku menjadi agak terkejut. Jadi selama ini aku telah dizinahi oleh jin sampai berkali-kali.

“Jadi hal yang dialami si Bibi itu sebenarnya bukan pokok masalahnya”, katanya selanjutnya, “Ketika saya tanya lagi masalah yang sebenarnya itu apa, jin itu menjawab bahwa dia merasa terganggu dengan adanya si Bibi di situ karena dia tidak bisa melepaskan hasratnya. Ketika saya tanya lebih jauh lagi hasrat apa dan kepada siapa, dia menjawab sebenarnya selama ini.. dan sekali lagi.. maaf ya Bu.. katanya sebenarnya selama itu dia telah sering melakukan hubungan suami-istri dengan Ibu sendiri.”

Aku benar-benar terkejut ketika mendengar pendapatnya. Aku kini menjadi lebih yakin bahwa Pak Zein itu memang seorang ahli kebatinan yang pandai dan dia dapat melihat hal yang tidak diketahuinya sebelumnya secara benar. Karena masalah mimpiku itu tidak pernah kuceritakan kepada siapa-siapa, kecuali kepada suamiku dan itu juga hanya sekali pada saat permulaan aku merasa bermimpi.

“Secara terus terang memang sebetulnya saya sudah beberapa kali bermimpi melakukan hubungan suami-istri dengan seseorang.. tapi hal yang saya alami itu saya kira bukan apa-apa melainkan hanya sebuah mimpi saja. Saya tidak tahu bahwa hal itu ada hubungannya dengan jin. Jadi kalau memang betul begitu, bagaimana bisa terjadi dan mengapa jin itu memilih saya”, kataku.

“Begini Bu, hal itu dapat terjadi karena jin adalah juga mahluk yang hidup bersama-sama dengan kita menghuni planet bumi ini. Bahkan kehadiran jin jauh lebih dulu daripada manusia, tetapi dia hidup di alam dua dimensi, tidak seperti kita manusia yang hidup dalam alam tiga dimensi. Oleh karena itu sifat zatnya dapat berubah bentuknya sebagai apa saja sesuai dengan ruang dan waktu. Jin itu juga mempunyai komunitas sosial, berkeluarga dan bermasyarakat. Dia juga mempunyai ukuran batas umur, hanya bedanya dengan manusia usia jin sangat panjang sekali. Apabila jin yang dikatakan sudah dewasa dia kira-kira berumur tiga ratusan tahun. Sebagai mahluk, jin juga terkena hukum dan kewajiban sebagaimana manusia, karena mereka memiliki akal, nafsu dan kehendak yang bebas. Jadi jin juga mempunyai sifat-sifat maupun selera seperti manusia demikian juga selera birahinya.”

“Maksud Bapak..?” kataku agak heran.

“Seperti yang saya katakan pada permulaan tadi, jin itu dari kecil memang sudah mempunyai sifat yang jelek. Dia suka sekali kepada perempuan. Akan tetapi dia tidak bisa melakukan hal itu semaunya terhadap kaumnya sendiri, karena di situ dia akan mendapat sanksi dari pimpinan komunitasnya. Kebetulan dia dipelihara oleh manusia sejak kecil, maka menjelang dewasa dia tidak dapat menahan diri lagi dan mulai keluar sifat jeleknya. Mula-mula dia berzinah dengan istri tuannya dan hal itu menjadikan dia ketagihan sehingga dia terus mencari wanita-wanita yang bersuami yang dapat diajak berzinah.”

“Tapi seperti saya tanya tadi.. mengapa hal itu terjadi pada diri saya?” kataku selanjutnya.

“Pertama-tama mungkin penampilan Ibu sesuai dengan seleranya. Seperti yang saya katakan tadi, jin itu juga mempunyai selera birahi seperti manusia. Dia suka juga kepada wanita yang cantik dan berpenampilan seksi.”

Mendengar kata-kata Pak Zein itu aku menjadi agak tersipu-sipu. Kukira kata-katanya itu benar sekali karena boleh dikatakan parasku memang cantik dan bentuk tubuhku juga agak seksi. Buah dadaku masih terlihat segar dan kecang dengan ukuran yang agak besar sehingga sering membuat laki-laki berselera untuk menjamahnya.

“Akan tetapi hasrat jin kepada wanita yang tergolong mahluk manusia, tidak akan begitu saja kesampaian secara gampang”, kata Pak Zein selanjutnya, “Karena jin itu juga terikat dengan kaidah-kaidah hukum alam, dimana dia tidak dapat melakukan sesuatu sekehendaknya saja. Oleh karena itu ada kondisi-kondisi yang harus dipenuhinya sehingga dia dapat mencapai hasratnya. Salah satunya adalah biasanya wanita yang dizinahi oleh jin tersebut adalah wanita yang emosinya agak labil sehingga dia tidak mempunyai kekuatan batin. Kondisi lainnya adalah.. dan ini biasanya yang paling dominan.. jin tertarik kepada para wanita yang telah melanggar kesuciannya, karena bagi wanita itu sudah tidak ada pagar lagi yang membatasi dirinya sehingga dengan mudah jin itu masuk ke dalam pikiran dan jasmaninya.”

Aku agak terhenyak ketika mendengar penjelasan Pak Zein itu. Tiba-tiba saja dalam diriku berkecamuk berbagai perasaan, yaitu antara perasaan malu, takut dan penyesalan.

“Sekali lagi maaf Bu..” katanya selanjutnya, “Kalau tidak salah penglihatan saya, barangkali Ibu dahulu pernah berhubungan dengan laki-laki lain selain suami Ibu? Kalau boleh.. hal ini yang pertama sekali saya harus tahu?” dia bertanya.

“Eh.. eh.. memangnya kenapa Pak?” kataku agak gugup ketika mendengar permintaan tersebut. Aku heran mengapa dia tahu akan penyelewenganku dan hal itu bukan terjadi di sini melainkan nun jauh di sana di kota Jakarta. Sangat sukar sekali aku menjawab pertanyaannya itu karena hal itu berarti suamiku akan mengetahui penyelewenganku dahulu.

“Hal ini penting saya pastikan untuk pengobatan Ibu nanti. Karena apabila memang hal itu pernah terjadi maka dapat dipastikan masih ada sisa-sisa air mani laki-laki lain yang tertanam dalam tubuh Ibu dan itu telah menjadi satu dengan darah daging Ibu. Sisa-sisa air mani dari laki-laki lain yang bukan suami Ibu itulah yang mengundang jin sehingga dia berhasrat untuk menzinahi Ibu karena sisa-sisa air mani itu memudahkan dia untuk melangsungkan hasratnya. Seperti juga istri dari orang yang memelihara jin itu. Dia pernah menyeleweng dengan lelaki lain sehingga jin itu berhasrat minta bagian. Karena dengan adanya sisa-sisa air mani lelaki lain di tubuhnya jin itu sudah mendapatkan kondisi untuk dengan mudah melakukan hajatnya sebagai suami-istri kepada wanita itu.”

“Ya Pak..” jawabku dengan suara yang tersendat, “Memang saya pernah khilaf dahulu, saya pernah tidur dengan laki-laki lain, tapi tolong Pak.. suami saya sampai kini tidak tahu.”

“Baik Bu, saya akan memegang amanat ini, karena sudah menjadi sumpah saya waktu menerima ilmu ini dari guru saya bahwa saya tidak boleh menceritakan apa-apa kepada siapa pun mengenai masalah orang yang saya obati. Selanjutnya hal yang kedua yang saya perlu tahu, apakah waktu jin tersebut menzinahi ibu dia telah mengeluarkan air mani?”

“Saya rasa tidak pernah Pak..?” jawabku.

“Bagus kalau begitu, karena hal itu memang jarang sekali terjadi. Itulah bedanya antara jin dengan manusia. Apabila manusia begitu bersenggama dia akan mengeluarkan air mani, akan tetapi jin tidak. Karena umur jin relatif lebih panjang dari manusia maka hanya pada waktu-waktu tertentu saja dia bisa mengeluarkan air mani. Apabila dia mengeluarkan air mani hari ini misalnya, maka biasanya tahun depan dia baru bisa mengeluarkan lagi. Apabila jin itu mengeluarkan air mani di rahim manusia dan membenihkan janin maka orang itu akan mengalami penderitaan yang hebat, karena rahim manusia sesungguhnya bukan untuk anak jin, jadi rahim manusia secara normal tidak akan tahan mengandung anak jin. Apabila tidak ditolong oleh jin itu sendiri atau dengan kata lain apabila jin itu tidak mau bertanggung jawab atas kehamilan yang dibuatnya, maka wanita yang mengandung anak jin tersebut akan menderita bahkan bisa-bisa dapat meninggal dunia. Dalam ilmu kedokteran kasus ini biasanya diduga sebagai penyakit kanker rahim atau sejenis dengan itu, akan tetapi menurut saya sebenarnya bukan disebabkan oleh hal itu melainkan dikarenakan wanita itu tidak tahan mengandung anak jin sehingga rahimnya pecah.”

Aku semakin terkejut ketika mendengar kata-kata Pak Zein itu. Pikiranku segera bekerja keras mengingat-ingat keseluruhan kejadian yang kualami dalam mimpiku itu. Aku mengingat-ingat apakah selama itu jin tersebut pernah mengeluarkan air mani di rahimku. Tetapi aku merasa yakin bahwa selama aku dizinahi jin itu aku tidak pernah merasakan adanya air mani yang masuk ke dalam rahimku. Hal ini benar-benar dapat kuyakini. Karena walaupun hubungan itu kurasakan seperti mimpi, akan tetapi selama itu aku tetap dapat merasakan secara nyata adanya rabaan-rabaan di bagian tubuhku yang menimbulkan gairah birahiku serta aku juga dapat merasakan bagaimana alat kejantanan jin tersebut memasuki liang kewanitaanku. Demikian juga aku dapat merasakan betapa hangat dan istimewanya ukuran alat kejantanannya ketika memasuki tubuhku sehingga aku benar-benar terhanyut dalam gairah birahi yang hebat sampai aku mengalami orgasme berkali-kali.

“Hal yang ketiga yang perlu saya ketahui lagi..” katanya selanjutnya, “..adalah nama laki-laki yang pernah tidur dengan Ibu selain suami ibu sendiri. Ini sekali lagi maaf Bu.. bukan saya ingin mengada-ada, tapi memang perlu untuk pengobatan.”

Aku terdiam saja ketika mendengar permintaan ini. Hatiku ragu untuk menyebutkan nama karena aku khawatir dia akan kenal.

“Jangan takut Bu, percayalah saya tidak akan mencampuri urusan rumah tangga Ibu, sekali lagi saya katakan bahwa saya tidak boleh mengatakannya kepada siapa-siapa apalagi kepada suami Ibu mengenai hal dari orang yang saya tolong, karena apabila saya lakukan itu, maka ilmu saya akan luntur dan saya akan mendapatkan balasan sesuai sumpah saya pada saat saya menerima ilmu ini dari guru saya”, katanya seolah-olah membaca pikiranku.

Dengan suara yang agak perlahan aku menyebutkan nama temanku yang dahulu pernah mengajakku tidur bersama dan melakukan hubungan suami-istri.

“Begini Bu, saya harus menyiapkan bahan-bahannya dahulu dan baru kira-kira tiga hari lagi saya akan kemari. Ibu mesti saya sucikan dengan berlimau. Kemudian saya akan menaruh penangkal di badan ibu agar jin tersebut tidak lagi mendatangi Ibu”, katanya selanjutnya.

“Maksud Bapak saya harus berlimau, jadi saya harus mandi?” aku bertanya dengan agak ragu-ragu.

“Betul Bu, tapi tentu saja tidak telanjang bulat, Ibu nanti bisa pakai kain putih yang sudah saya persiapkan sebagai petilasan. Hanya saja yang penting seluruh badan Ibu harus tersiram air limau tersebut. Selanjutnya untuk memasang penangkal di badan ibu, saya mohon maaf dan keihlasan Ibu, karena saya harus masukkan sesuatu melalui aurat ibu, karena di situlah pangkal soalnya. Di samping itu saya harus mengambil sisa-sisa air mani dari lelaki itu yang kini sudah menyatu dengan darah daging Ibu”, katanya.

Aku tidak dapat berkomentar apa-apa lagi sehingga aku hanya mengiyakan saja apa yang dikatakan olehnya. Karena aku sungguh merasa sangat takut sekali akan akibat bersenggama dengan jin itu walaupun pada mulanya hal itu aku mau biarkan saja karena aku merasa telah mendapatkan suatu kenikmatan seksual yang sangat hebat sekali.

“Ada satu hal lagi Pak..”, kataku, “Apakah tidak bisa dilakukan segera, jadi tidak menunggu sampai tiga hari”, kataku selanjutnya, karena aku khawatir suamiku dua hari lagi akan pulang dan aku tidak mau dia mengetahui masalahku, apalagi dengan cara dimandikan segala.

“Tidak bisa Bu, karena itu termasuk hitungan hari untuk berpuasa”, jawabnya.

Bersambung ke bagian 03

Tags : cerita sex, foto ngentot, smu bugil, gadis indonesia, gambar bokep,cerita nafsu, nafsu seks, nafsu, nafsu liar, ya nafsu, dan nafsu, nafsu yang, nafsu gadis, dengan nafsu,gambar bogel, gambar bogel gadis melayu, gambar perempuan bogel

1 komentar 2 Juli 2010

Cerita 18sx – Roti Bakar

Mungkin para pembaca sudah tahu sifatku dalam cerita sebelumnya yang berjudul ibu Rini adalah mengencani wanita yang lebih tua dariku.

Minggu kemarin aku ditugaskan oleh kantorku ke kantor cabang di Bandung. Memang aku sudah ada rumah yang sudah disiapkan oleh kantor pusat, jadi tidak perlu lagi untuk menginap di hotel, yang tentu akan lebih besar pengeluarannya.

Sudah tujuh hari ini aku selalu makan malam keluar rumah, karena rumah tempat tinggalku hanya ada pembantu pria yang hanya membersihkan rumah serta mencuci pakaian dan pulang pada sore hari setelah aku pulang dari kantor cabang di Bandung.

Memang sudah dua hari ini aku bila tidak ingin makan malam yang harus naik angkot, aku suka makan roti bakar dan bubur kacang ijo yang berada di depan kantor cabangku. Itupun tidak boleh lebih dari jam sembilan malam, karena lebih dari jam tersebut warung tersebut sudah tutup. Aku kaget juga saat makan diwarung tersebut yang biasa melayani Pak tua, kok tiba-tiba yang melayani seorang ibu yang berwajah lumayan manis, dengan tubuh sintal, umur kira-kira 45 tahun, dan berkulit kuning langsat seperti ciri-ciri khas orang Jawa Barat.

“Bu, bapak yang biasa melayani disini, kemana bu?” sapaku.

“Och Mang Didin, sedang sakit Mas.” jawabnya.

“Lalu ibu siapa?” tanyaku penasaran.

Dia hanya tersenyum manis saja.

“Wach ini ibu bikin penasaran aja nich” pikirku dalam hati.

Memang sich dia balik bertanya, aku ini siapa, dan setelah aku jelaskan, dia memang memperkenalkan diri bahwa dia ibu Lastri. Dia jelaskan bahwa dia tinggal persis dibelakang kantorku saat ini, tetapi masuk gang kecil. Aku duduk sambil makan roti tidak biasanya hingga sampai warung tersebut tutup. Cukup jelas bahwa Bu Lastri hanya tinggal bersama seorang anaknya laki-laki yang sudah berkeluarga. Lalu dari informasi pembantu di kantor cabangku, bahwa Bu Lastri tersebut ditinggal cerai oleh suaminya setahun yang lalu, dan dikatakan bahwa Bu Lastri sebelum cerai termasuk orang yang berada, meskipun tidak terlalu kaya sekali. Pastas pikirku, dari dandanannya, Bu Lastri tidak terlalu seperti ibu-ibu yang lain, dalam arti tidak memakai kebaya, melainkan memakai baju terusan hingga dengkulnya.

“Bapak kapan ngobrol dengan Bu Lastri? tanya pembatuku.

“Tadi malam.” jawabku singkat.

“Wach bapak pulang kantor suka malam sich, Bu Lastri kalau siang atau sore kira-kira jam lima suka ngobrol disini dengan saya lho.” jawab pembantuku lagi.

Och ternyata Bu Lastri suka ambil air ledeng dari kantorku, untuk air termos diwarungnya. Hm.. Kesempatan pikirku.

Singkat cerita, aku sengaja pulang agak sore, dan memang benar Bu Lastri sedang ngobrol dengan si Dadang pembantuku. Lalu aku ditegurnya sambil berkata.

“Maaf nich Mas, ketahuan dech, sering minta air nich.”

“Nach yach.. Ketahuan, kalau begitu harus bayar nich, dengan roti bakar.” candaku.

Tapi tiba-tiba si Dadang mau izin pulang cepat karena adiknya mau kedokter, kebetulan pikirku he he he.

“Iya dech nanti aku bilang sama Mang Didin menyiapkan roti bakar untuk Mas”

Lalu aku coba untuk menggodanya “Ech enggak bisa, yang ambil air khan ibu, yang membuatkan roti bakar juga harus Bu Lastri dong.”

Dia menatapku tajam sambil menggigit bibirnya yang sangat indah dilihat, aku sudah dapat membaca pikirannya, bahwa dia sudah mengerti maksudku. Lalu aku balas tersenyum kepadanya, diapun tersenyum kembali sambil permisi untuk ke warungnya.

Akhirnya aku paling sering pulang sore-sore hingga suatu waktu saat si Dadang hendak izin tidak bisa masuk, akupun izin ke kantor untuk istirahat dirumah, padahal ada niat untuk mengencani Bu Lastri, karena memang aku sudah ada sinyal dari pandangan matanya beberapa hari yang lalu.

Siang hari seperti biasa Bu Lastri datang untuk minta air, lalu aku pura-pura menjawab meringis sambil memegang pinggangku. Dan memang benar Bu Lastri datang menyambut.

“Kenapa Mas pinggangnya”

“Enggak tahu nich, tadi pagi bangun tidur langsung pinggang saya terasa mau patah.”

“Mau ibu pijitin” tantangnya. Wach kebetulan nich pikirku.

Singkat cerita aku sudah tiduran dibangku panjang diruang tamuku tanpa baju, lalu Bu Lastri memijit pinggangku. Setelah lima menit aku bangkit berdiri, lalu aku tawarkan ide gilaku untuk memijitnya.

“Ach memang Mas bisa mijit, kalau bisa kebetulan nich betis ibu suka pegal-pegal”

Aku tidak banyak bicara aku suruh Bu Lastri tiduran untuk memijit betis bagian belakang. Memang seperti kebiasaan Bu Lastri hanya memakai baju daster bercorak kembang hingga batas dengkulnya. Lalu aku mengambil body oil dari kamarku. Aku urut betis Bu Lastri lalu pelan-pelan pijitanku aku naikkan hingga pahanya. Dia ternyata hanya diam saja. Karena sudah ada sinyal pikirku, aku singkapkan dasternya hingga kedua belah pantatnya yang sangat menantang terlihat jelas di depan mataku. Aku pijat pahanya sambil kedua jempolku aku masukan ke dalam celana dalamnya. Dia hanya mendesah.

“Och..”

Hm.. Kesempatan nich, aku tidak buang-buang waktu lagi, aku turunkan celana dalam Bu Lastri hingga batas dengkulnya, lalu aku masukan tangan kananku ke dalam celah kedua belah pahanya, sambil memasukan jari tengahku ke dalam lubang kemaluan Bu Lastri.

“Och.. Och..” desah Bu Lastri sambil mengangkat pantatnya agak ke atas, hingga makin jelas terlihat kemaluan Bu Lastri yang sudah berwarna coklat tua. Lalu aku lumurkan body oil persis dilubang anus Bu Lastri, hingga meleleh hingga ke lubang kemaluannya. Aku gosok-gosok lubang kemaluan Bu Lastri bagian luarnya, sedangkan jempolku aku gesek-gesek secara perlahan dilubang anusnya. Rupanya Bu Lastri tidak kuat lagi menahan gejolak napsu birahinya. Langsung dia berdiri sambil menarik celana dalamnya ke atas kembali, dan mencium bibirku lalu berkata pelan.

“Mas masih siang enggak enak nanti ada yang datang lagi, nanti sore pasti saya akan ambil air lagi dech” Bu Lastri seakan mengisyaratkan aku bahwa nanti sore saja setelah hari agak gelap.

Benar saja masih seperti tadi Bu Lastri berpakaian, dia datang berpura-pura untuk minta air, kulihat mang Didin sedang sibuk melayani tamu yang memesan roti bakar diwarung Bu Lastri. Aku menyuruh Bu Lastri masuk kembali, tapi sekarang aku ajak dia kekamar tengah tempat aku nonton TV, aku langsung mendekapnya, dia menyambut dengan ciuman sambil melumat lidahku. Lalu aku suruh Bu Lastri membuka dasternya. Hingga dia telanjang bulat, lalu aku suruh dia nungging diatas bangku, secara pelan-pelan aku selusuri pahanya dengan lidahku, hingga sampai ke lubang kemaluannya. Tampak memang Bu Lastri rajin merawat tubuhnya.

Tanpa buang waktu aku buka celanaku lalu aku masukan penisku ke dalam lubang kemaluannya dari belakang, aku genjot Bu Lastri dari belakang hingga cairan putih menetes dari lubang kemaluannya. Sedangkan dia hanya menunduk sambil mendekap senderan bangku tamuku, sambil memejamkan matanya menahan rasa nikmat.

Aku balikkan tubuh Bu Lastri lalu aku jilat teteknya yang sudah mulai mengendor, aku buat beberapa sedotan keras dari bibirku dibagian pinggir teteknya hingga membekas berwarna merah kehitam-hitaman. Dia hanya mendesah terus menerus. Aku bisikan perlahan.

“Ibu isep saya punya yach”

Tanpa disuruh lagi Bu Lastri langsung duduk di bangku sambil mengulum penisku, dan tampaknya beliau tahu persis cara mengulum yang benar. Diputar-putarnya penisku dengan lidah serta air liurnya, hingga penisku makin tegang dan keras. Lalu aku pegang kepalanya dengan kedua tanganku dan langsung kugoyangkan penisku keluar masuk ke dalam mulutnya. Lalu dijilatnya pinggiran penisku hingga bagian paling bawah mendekati lubang anusku. Wow memang ibu yang satu ini sangat lihai cara memberikan kenikmatan pada pria.

Lalu aku tarik bangku tamuku, aku sandarkan tubuh Bu Lastri di sandaran bangku hingga kepalanya menyentuh tempat duduk, sedangkan pinggangnya terganjal disandaran bangku, lalu aku renggangkan kedua belah paha Bu Lastri dan kumasukan penisku ke lubang kemaluannya mulai dari perlahan hingga kugenjot kencang.

Tampak Bu Lastri hendak berteriak, tapi karena takut terdengar tetangga, ia hanya mendesah.

“Och.. Och.. Och.. Teruskan Mas, teruskan..”

Kami berdua hingga berkeringat, karena memang sengaja aku menahan pejuku untuk tidak muncrat dahulu. Karena aku memang benar-benar terangsang dengan putihnya body Bu Lastri, buah dadanya yang masih bulat menantang, meskipun agak turun sedikit, serta pinggulnya sangat menantang bila dia memakai rok maupun celana ketat.

Aku cabut penisku sambil membersihkan lubang kemaluan Bu Lastri dengan tissue, karena tampaknya Bu Lastri telah mencapai puncak kenikmatannya, sehingga tampak cairan pejunya meleleh. Akhirnya aku angkat Bu Lastri ke dalam kamar tidurku, aku rebahkan dia, aku kecup bibirnya sambil tanganku memelintir puting susunya, kadang-kadang aku ramas buah dadanya. Lalu ciumanku dibibirnya aku pindahkan kekedua buah dadanya, aku jilat secara bergantian puting susu Bu Lastri. Dia tampak gelisah karena mulai terangsang kembali sambil kadang-kadang mengangkat pinggulnya supaya vaginanya bergesekan dengan penisku, mulai dari buah dadanya jilatanku turun ke arah pusar serta perut bagian sisi kanan dan kirinya.

“Och..!!” tampak Bu Lastri tak kuat lagi menahan rangsangan yang aku berikan lewat jilatan lidahku. Ia pun langsung membalikkan badanku hingga terlentang lalu diapun mulai membalas dengan menjilat kedua puting tetekku, lalu mengangkat kedua pahaku hingga ke atas, hingga pinggangku agak terangkat, lalu ia mulai menjilat kedua bijiku lalu lebih turun kembali disekitar pinggiran lubang anusku, kadang-kadang ujung lidah Bu Lastri menyentuh pas ditengah lubang anusku, dan memang kenikmatan yang luar biasa yang saya dapatkan pada sore hari ini. Karena memang service dari Bu Lastri secara bertubi-tubi tanpa henti, langsung membuat aku tidak dapat lagi menahan pejuku untuk keluar.

Lalu aku angkat Bu Lastri untuk posisi menduduki penisku, secara perlahan dia masukan penisku ke dalam lubang kemaluannya. Langsung tanpa diberi komando Bu Lastri memacu diriku seperti kuda liar, terus dia menggoyangkan pinggulnya maju mundur. Kejadian ini berlangsung selama duapuluh menit dan tampak keringat mulai menetes dari tubuh Bu Lastri, langsung dia mendekap diriku, sambil berbisik.

“Keluarkan yach Mas.. aku sudah tak kuat lagi..”

Sambil mengangguk aku cium bibirnya yang mungil. Lalu Bu Lastri kembali pada posisi menduduki aku sambil memacu goyangan pinggulnya lebih kencang lagi, terus.. Dia memacu, akupun tak dapat menahan kenikmatan yang sudah memuncak diubun-ubun kepalaku. Lalu aku lepaskan pejuku didalam lubang kemaluan Bu Lastri, dan tampaknya ini juga diimbangi dengan goyangan Bu Lastri yang makin lama makin melemah sambil kadang-kadang dia menghentakkan pinggulnya, yang rupanya dia mengeluarkan pejunya untuk yang kedua kalinya. Lalu dia tersungkur merebahkan badannya diatas tubuhku, sambil memeluk erat tubuhku.

Setelah sepuluh menit, aku bisikan ditelinga Bu Lastri.

“Bu yuck pake baju, nanti mang Didin nyariin lho..”

Lalu Bu Lastri bangun dan membersihkan dirinya didalam kamar mandiku, demikian juga aku. Setelah rapih Bu Lastri berkata.

“Mas aku kedepan yach” Lalu aku menjawab.

“Terima kasih, ‘roti bakarnya’ yach bu”

Lalu dia berbalik memandangku tajam sambil tersenyum dan berkata, “Awas kamu yach..”

TAMAT

Tags : cerita sex,cerita seks, foto bugil, mahasiswi bugil, ngentot, memek, cewek telanjang,rahma azhari bugil,video rahma azhari terbaru,nafsu seks, nafsu, nafsu liar,nafsu pembantu,nafsu ngentot,nafsu perawan

Add a comment 27 Juni 2010

Cerita 18sx – Keluarga Yang Kesepian

Kejadian ini berawal dipertengahan bulan Mei yang lalu, kurang lebih setelah peristiwa yang tidak aku sangka-sangka. Cobalah baca “Tahun Baru yang Indah”. Dan sekarang terjadi lagi yang aku sangat tidak diduga sama sekali.

*****

Pada bulan Mei tersebut aku pergi ke Jakarta untuk mencari pekerjaan, tapi memang kata orang bahwa mencari pekerjaan itu tidak semudah yang kita duga, apalagi di kota metropolis. Pada suatu malam minggu aku tersesat pulang dan tiba-tiba saja ada mobil sedan mewah menghampiriku. Terus dia berkata,

“Hey.. kok.. melamun?” katanya.

Aku sangat kaget sekali ternyata yang menyapaku itu adalah seorang wanita cantik dan aku sempat terdiam beberapa detik.

“Eee.. Ditanya kko masih diam sih?” wanita itu bertanya lagi. Lalu aku jawab,

“Ii.. nii.. Tante aku tersesat pulang nih?”

“Ooohh.. Mendingan kamu ikut Tante saja yah?”

“Kemana Tante?” tanyaku.

“Gimana kalau ke rumah Tante aja yah?” karena aku dalam keadaan bingung sekali dan tanpa berpikir apa-apa aku langsung mengiyakannya.

Singkat cerita aku sudah berada di rumahnya, di perumahan yang super elit. Kemudian aku diperkenalkan sama anak-anaknya yang memang pada cantik dan sexynya seperti Mamanya. Oh yah, setelah aku dan mereka ngobrol panjang lebar ternyata Tante yang nolong aku itu namanya adalah Tante Mey Lin yang dipanggil akrab Tante Mey, anak pertamanya Mbak Hanny, dia masih kuliah di Universitas terkenal di Jakarta, anak yang kedua namanya Sherly kelas 1 SMU dan yang ketiga namanya Poppy kelas 1 SMP, mereka berdua di sekolahkan di sekolah yang terkenal dan favorit di Jakarta.

Walaupun aku baru pertama kenal, tapi aku sama bidadari-bidadari yang pada cantik ini rasanya sudah seperti seseorang yang telah lama berpisah. Lalu kami berlima menonton acara TV yang pas pada waktu itu ada adegan panasnya, dan aku curi pandang sama Tante Mey, rasanya Tante ini enggak tenang dan merasa gelisah sepertinya dia sudah terangsang akan adegan itu, ditambah ada aku disampingnya, namun Tante rupanya malu sama anak-anaknya. Tiba-tiba Tante berkata,

“Hanny, Sherly, Poppy cepat tidur sudah malam?” yang memang pada waktu itu menunjukkan jam 10.30.

“Memangnya kenapa Mami, filmnya kan belum selesai”, kata Mbak Hanny.

Memang dia kelihatannya sudah matang betul dan apa yang akan dilakukan Maminya terhadap aku? Lalu mereka bertiga masuk ke kamarnya masing tapi Sherly dan Poppy tidur satu kamar. Dan kejadian kurang lebih tiga bulan yang lalu terulang lagi dan sungguh diluar dugaan aku.

“Nah dewa sekarang tinggal kita berdua”, katanya.

“Mrmangnya ada apa tuh Tante?” kataku heran.

“Dewa sayang, Tante enggak bisa berbuat bebas terhadap kamu karena Tante malu sama anak-anak,” begitu timbalnya.

“Dewa mendingan kita ke kamar Tante aja yah, please.. temanin Tante malam ini sayang, Tante sudah lama sekali enggak dijamah sama laki-laki”, sambil memeluk aku dan memohon,

“Yah sayang? Mau kan?” katanya lagi

“Ii.. Yaa, mau.. Tante?” jawabku gugup. Karena Tante sudah mau menolongku.

Tiba di kamar Tante rupanya enggak bisa nahan lagi nafsunya dia langsung mencium seluruh tubuhku, lalu kami berdua tanpa terasa sudah seperti sepasang kekasih yang sudah lama pisah. Hingga kami berdua sudah setengah bugil, aku tinggal CD saja dan tante Mey tinggal BH dan CDnya. Tante sempat menari-nari di depanku untuk membangkitkan gairahku supaya semakin nafsu. “Wahh..!! Gile benar nih Tante, kok kayak masih umur 23 tahun saja yah?” gumamku dalam hati. Itu tuh.. Kayak Mbak Hanny anaknya yang pertama. Sungguh indah tubuhnya, payudara yang besar, kencang dan sekel sekali, pinggulnya yang sexy dengan pantat yang runcing ke atas, enak kalau dientot dari belakang? Terus yang paling menggiurkan lagi vaginanya masih bagus dan bersih. Itu gerutuku dalam hati sambil melihat Tante menari-nari.

Tante langsung menindihku lalu mencium bibirku dengan ganasnya lalu aku juga membalasnya, Tante menggesek-gesekkan vaginanya ke penisku yang mulai tegang, juga kedua payudaranya ke dadaku. “Ooohh.. terus.. Tante, gesek.. dan.. Goyang.. yang kerass.. aahh.. oohh..” desahku.

“Dewa sayang itu penismu sudah bangun yah, rasanya ada yang menganjal di vaginaku cinta,” kata Tante Mey.

Lalu kami berdua tanpa ba.. bi.. bu.. langsung melakukan 69, dengan jelas terlihat vagina Tante Mey yang merah merekah dan sudah sangat basah sekali, mungkin sudah terangsang banget karena tadi habis menggesek-gesekkan vaginanya ke penisku. Lalu aku menjilat, mencium dan menghisapnya habis-habisan, kupermainan kritorisnya. Tante mengerang.

“Ooohh.. Eennaakk.. Dewaa.. sayang.. terus.. makan vagina Tante yahh..?”

Begitu juga dengan aku, penis rasanya sudah enggak tahan banget ingin masuk ke lobang vagina kenikmatannya.

“Ooohh.. yahh.. eenaakk terus.. Tante.. yang cepet kocokkannya..?”

Cclluup.. Ccluupp.. Suara penisku didalam mulutnya.

“Dewa, vagina Tante sudah enggak tahan lagi sudah cepet lepasin, cepet masukin saja penis kamu cinta?” Tante Mey meringis memohon.

Kemudian aku mengambil posisi diatas dengan membuka pahanya lebar lalu aku angkat ke atas dan aku mulai memasukan penisku ke dalam vaginanya. Bblless.. Bleess.. Bblleess..

“Awww.. Yeeahh.. Ssaakiitt.. De.. Waa?”

“Kenapa Tante?”

“Pelan-pelan sayang, vaginaku kan sudah lama enggak dientot?”

“Ooohh..?” jawabku.

“Tahan sebentar yah cinta, biar vagina Tante terbiasa lagi dimasukin penis,” katanya.

Selang beberapa menit,

“Nah Dewa, sekarang kamu boleh masukin dan entot vagina Tante sampai puas yah?”

“Ssiipp.. Siap..!! Tante Mey?”

Memang benar vagina Tante rupanya sudah lama enggak dimasukin penis lagi, terbukti aku sampai 3 kali hentakan. Bleess.. Bless.. Bblleess.. Akhir aku masukin semuanya penisku ke vaginanya. Tiga kali juga tente Mey menjerit.

“Dewa genjot dan kocok vaginaku sayang?” lalu aku mulai memasuk keluarkan penisku dari lambat sampai keras dan cepat sekali. Tante Mey mengerang dan mendesah.

“Ooohh.. ahh.. enak.. sekalii.. penis kamu Dewaa.., akhirnya vagina Tante ngerasain lagi penis.. terus.. Entot vagina Taann.. tee.. Dewaa.. Sayaanngg..?” ceracaunya.

“Uuuhh.. Oohh.. Aaahh.. Yeess.. Ennaakk.. vagina Tante seret sekalii.. Kaya vaginanya perawan?” timbalku.

Tiba-tiba, “Dewaa.. Aku mau keluar nih? penis kamu hebatt..?”

“Tunggu Tante sayang, aku juga mau keluar nih..?”

Akhirnya Tante Mey orgasme duluan. Crott.. Ccroott.. Crroott.. Banyak sekali cairan yang ada dalam vaginanya, rasanya penisku hangat sekali.

“Tante aku mau keluar nih..?” kataku, “Dimana nih keluarinnya..?”

“Didalam vagina Tante saja Dewaa.. Please.. ingin air mani kamu yang hangat..?”

Ccrett.. Ccroott.. Ccrroott..

“Aaarrgghh.. Aarrgghh.. Oohh.. Mmhh.. Nikmat vagina Tantee..?” erangku.

Lalu aku dan tente tidur pulas, karena kecapaian akibat pertempuran yang sengit tadi. Sekitar jam 12 malam rasanya penisku ada yang mengulum dan mengocoknya. Ternyata Mbak Hanny,

“Ada apa Mbak?” tanyaku.

Wah gila dia, sambil mengocok penisku didalam mulutnya, tangan kirinya menusuk-nusuk vaginanya sendiri. Dia berkata,

“Dewa aku ingin dong dientot kaya mami tadi, yah.. please..”

Dia mempertegas, “Dewa tolong Mbak yah sayang, vagina Mbak juga sudah kangen enggak ngentot lagi, Mbak baru putus sama pacar habis enggak muasin vagina Mbak,” sambil membimbing tangan kananku untuk mengelus-elus vaginanya.

“Iyah deh Mbak, aku akan berusaha dengan berbagai cara untuk dapat membuat vagina Mbak jadi ketagihan sama penis aku,” jawabku vulgar.

“Kita entotannya dilantai karpet aja yah?” kata Mbak Hanny. Tapi masih di kamar tersebut, “Aku takut mengganggu Mami yang habis kamu entotin vaginanya, entar Mami bangun lagi kalau ngentotnya diranjang,” dia mempertegas.

Mbak Hanny langsung telanjang bulat. Kami pun bercumbu, saling menjilat, mencium, menghisap seperti biasa, dengan gairah yang sangat menggelora sekali. Dan sekarang aku mulai memasukkan penisku ke lubang vaginanya, karena dia sudah gatel banget lihat tadi aku ngentotin Maminya. Maka aku langsung aja, masukkan penisku. Bleess.. Bless.. Bleess..

“Aw.. Oohh.. Aahh.. Yyeess..?” erangnya.

“Sakit Mbak?” tanyaku.

“Enggak cinta, terusin saja enak banget kok?”

Aku langsung mengkocoknya, plak.. plakk.. plokk.. plookk..? suara paha kami berdua beradu..?

“Vagina Mbak enaakk.. Sekali sih..?” sambil aku menggoyangkan pinggulku, terus dia juga mengimbangi goyanganku dengan arah yang berlawanan sehigga benar-benar tenggelam seluruh penisku ke dalam vagina surga kenikmatannya.

“Oohh.. ennak.. Dee.. waa.. terus.. entot.. mee.. meekk.. Mmbaakk.. sayyaanngg..?”

Akhirnya akupun ngentot lagi sama vaginanya Mbak Hanny, tapi Maminya enggak sedikitpun bangun mungkin capek main sama aku, habis aku bikin tubuhnya dan vaginanya melayang-layang. Lagi asyik-asyiknya ngentotin vaginanya Kak Hanny, tiba-tiba terdengar suara.

“Iiihh.. Kakak lagi ngapain?” mendengar suara tersebut, aku terkejut. Rupanya Shelly dan Poppy sedang asyik dan santainya melihat aku ngentot sama kakaknya.

Aku langsung aja berhenti dan seketika itu juga Mbak Hanny berkata,

“Dewa kenapa, kok berhenti sayang, terus dong entot vagina Mbak, sampai enak dan nikmat sekalii..?”

“Ii.. ittuu.. ada..?”

“Ada apa?” katanya lagi penasaran. Pas dia menggerakkan wajahnya kekanan, terlihatlah adik-adiknya yang sama-sama sudah bugil tanpa sehelai benang pun. Lalu Mbak Hanny bicara,

“Eehh.. adik-adikku ini bandel sekali yah..!!”

Setelah dia tahu bahwa aku berhenti karena ada adik-adiknya yang sama sudah telanjang bulat. “Heyy.. kenapa kalian ikut-ikutan telanjang?” kata Mbak Hanny.

“Kak aku ingin ngerasain dientot yah?” tanya Shelly sama kakaknya.

“Iyah nih Kakak kok pelit sih.. aku juga sama Kak Shelly ingin juga ngerasain penisnya Mas Dewa,” timbal poppy.

“Iyah kan Kak?” tanya poppy pada Shelly.

“Iyah nih.. Gimana sih..?” timbal Shelly.

“Please dong Kak? Rengek kedua anak tersebut?” terus mungkin sudah terlanjur mereka berdua melihat kakaknya ngentot dan sudah pada bugil semuanya, maka Kak Hanny membolehkannya.

“Iyah deh kamu berdua sudah telanjur bugil dan lihat kakak lagi dientot vaginanya sama penis Dewa?”

“Sini jangan ribut..” kata Kakaknya lagi, “Tunggu kakak keluar, yah.. entar kamu juga bakal kebagian adikku manis” Tanya kakaknya.

“Dewa cepetan kocokannya yang lebih keras lagi.. Kasihan vagina kedua adikku ini sudah pada basah.. tuhh..”

Akhirnya aku dan Mbak Hanny pun mempercepat ngentotnya kayak dikejar-kejar hantu. Dan akhirnya orgasme secara bersamaan.

“Aaarrgh.. Oohh.. Mmhh.. Aarrgghh.. Enak.. Sekalii.. cintaa? Aku sudah keluar Dewa..?” erangan Mbak Hanny.

“Aku juga sama Mbakk.. Rasanya penisku hangat sekali”

Setelah berhenti beberapa menit, lalu kedua anak abg ini mulai membangkitkan lagi gairahku, Shelly kakaknya lagi asyik mengocok penisku dalam mulut dan bibirnya yang sexy sedangkan Poppy mencium bibirku habis-habisan sampai kedua lidah kami saling bertautan dan aku pun tak tinggal diam, aku mulai meremas-remas toketnya yang sedang seger-segernya seperti buah yang baru matang.

Akhirnya kembali lagi aku ngentotin vagina adiknya yang masih perawan. Yang pertama kuentot vaginanya sherly yang kelas 1 SMU. Aku sangat kesulitan memasukan penisku karena vaginanya masih sempit dan perawan lagi.

“Benar nih, vagina kamu mau aku masukin?” tanyaku dengan penuh kelembutan, perhatian dan kasih sayang.

“Mau sekali Kak..?” jawabnya.

“Aku dari tadi sudah kepengen banget, ingin ngerasain gimana sih kalau vagina aku dimasukin penis Mas dewa? Kelihatannya Kak Hanny enak dan nikmat banget, waktu Kakak lagi ngentotin dia?” jawab polosnya.

Lalu aku suruh dia diatas aku dibawah dan akhirnya dia memasukan juga. Bles.. Bless.. Bbleess..

“Aw.. Aahh.. Ohh.. Kak.. sudah.. Masuk belumm..?” sambil dia mengedangah ke atas, bibir bawahnya digigit lalu kedua payudaranya dia remas-remas sendiri sambil dia menekan pantatnya kebawah.

“Tekan lagi cinta masih kepalanya yang masuk?”

Akhirnya dengan dibantu aku memegang pantatnya kebawah, akhirnya masuklah semuanya.

“Aahh.. oohh.. yeeahh.. masuk semuanya yah kak?” katanya.

“Iyah Shelly sayang, gimana enak kan?” tanyaku sambil aku mencoba menggenjotnya.

“Enak.. sekali.. Kak Dewa..”

“Ini belum seberapa Selly. Ntar kamu akan lebih nikmat lagi?” lalu aku kocok vaginanya dan akhirnya dia orgasme duluan. Creett.. Creett.. Ccroott..

“Aakk.. saayyaanngg.. aa.. kuu.. mau.. keluar nihh..” eranganya.

Sambil memelukku erat-erat dan pantatnya ditahan ke belakang karena dia ada diatas, lalu aku pun sama menghentakkan pantatku ke depan, arah yang berlawanan supaya dia benar-benar menikmatinya, penisku tertekan lebih dalam lagi ke lubang vaginanya. Dia langsung lemes sementara aku belum orgasme dan kulihat Poppy sedang dioral vaginanya sama kakaknya, Mbak Hanny.

“Sudah dong kak..?” kataku pada Mbak Hanny.

“Kasihan tuhh.. vagina Poppy sudah ingin banget ngerasain di tusuk sama penisku ini?” kataku lagi

“Iyah Kak Hanny, sudah dong kak?” kata Poppy.

“Aku sudah enggak tahan sekali dari tadi lihat Kak Shelly dientot sama penisnya Dewa, sepertinya nikmat dan enak sekali?” katanya memohon agar Kak Hanny melepaskan oralnya di dalam vaginanya.

Akhirnya kami berempat mulai perang lagi, aku mau masukin penisku ke vaginanya Poppy sambil nungging (doggy style) kemudian Poppy menjilat vaginanya Mbak Hanny dan Mbak Hanny menjilat vaginanya Shelly yang sudah seger lagi.

“Wah.. seretnya bukan main nih vaginanya Poppy, dia masih kelas 1 SMP jadi lebih sempit dibanding kakak-kakaknya dan cengkramannya pun sangat kuat sekali.”

“Bleess.. Bless.. Bleess..”

“Awww.. Awww.. Ooohh.. Ooohh..” Poppy menjerit lagi setiap aku mau memasukkan lagi penisku.

“Sakit yah?” tanyaku sambil aku meremas-remas payudaranya.

“Ii.. Iyah.. kak.., Tapi kok enak banget sih? terusin aja Kak Dewa.. Vagina poppy rasanya ada yang mengganjal dan rasanya hangat dan berdenyut-denyut,” katanya.

Sambil merem melek karena aku mulai menggenjot vaginanya.

“Oohh.. terruuss.. aakk.. saayyaang.. p.. vaginanya Poppy yah..” ceracaunya.

Dan rasanya dia mulai juga menggoyangkan pinggulnya.

“Tenang cinta.. aku.. akan.. berusaha.. muasin vaginanya dik.. Poppy.. Yah..”

Dan akhirnya aku ngentot vagina keempatnya. Lalu aku dengar dia berkata,

“Aku mau keluar nih?”

“Sabar taahann.. duu.. Luu.. Yah..”

Namun baru sekali ini vaginanya dientot dia tak bisa nahan dan..

Crott.. Croott..

“Aarhhgg, eemmhh.. oohh.. yeeaass..nikmat banget aakh..?” eranganya.

“Makasih.. Yah kak..?” sambil dia tersenyum.

“Aku.. pipisnya kok.. enggak biasanya, tapi enak banget sih.”

“Aku mau keluar nih, dimana sayang?” tanyaku.

“Aakkh.. didalam vaginaku aja yah.. Aku ingin ngerasain.. Gimana di siram air mani penis..”

Ccrroott.. Crroott.. Crott..

Akhirnya aku tumpahkan ke dalam lobang vaginanya dan sebagian lagi kuberikan sama Kak Hanny dan Shelly.

Gile.. Benerr.. sekali ngentot dapat empat vagina, yaitu vaginanya anak SMP, anak SMU, mahasiswi dan Tante-Tante.

TAMAT

Tags : Cerita 18sx,cerita sex, foto ngentot, smu bugil, gadis indonesia, gambar bokep,julia perez telanjang, gambar bugil,gadis cantik, telanjang gadis indonesia, gadis abg telanjang, cewek jakarta, artis bugil telanjang,nafsu wanita, cerita nafsu, nafsu seks, nafsu, nafsu liar

1 komentar 8 Juni 2010

Cerita 18sx – Percaturan Birahi Istriku – 2

Dari bagian 1

Kemudian aku ambil kursi rias yang ada dikamarku secara perlahan dan kutaruh dekat pintu. Dengan harapan aku bisa melihat aktifitas istriku melalui ventilasi diatas pintu kamarku. Betapa terkejutnya aku, ternyata istriku sedang berpagutan mesra diatas kasur lipat dengan Usman. Badanku secara mendadak menggigil dan mengeluarkan keringat dingin. Aku bingung dan serba salah, apa yang harus aku lakukan, aku tak tahu. Sejenak aku ingin membuka pintu dan menghentikan tindakan pengkianatan yang dilakukan istriku dan Usman, tapi keberanian itu menjadi padam begitu aku teringat bahwa istriku sering mengeluh atas ketidak mampuanku untuk bertahan lama dalam senggama. Aku bingung dan kulihat lagi mereka yang ternyata tangan kanan Usman telah menyelinap didalam celana pendek istriku.. Och.. semakin aku tak mampu berbuat apa-apa. Sekilas sempat aku berpikir mungkin perbuatan mereka kali ini bukan yang pertama kali dan semakin aku yakin bahwa selama ini istriku telah sengaja memasukan obat tidur pada kopiku sehingga mereka leluasa untuk bermain catur birahi dan dengan demikian maka tetangga yang lain tak akan pernah curiga.

Usman dengan semangatnya melahap bergantian kedua puting susu dihadapannya dan tangannya telah berhasil memelorotkan celana pendek istriku. Aku hanya termangu menyaksikan aksi mereka berdua yang nampak saling semangat dan saling menyerang. Jantungku semakin berdebar. Sesaat kemudian mereka berdiri sambil melepaskan pakaian masing-masing, sesaat kemudian baik istriku dan Usman telah telanjang bulat. Kontol Usman telah berdiri kencang dan tegak, diameternya tidak beda jauh dengan punyaku tapi panjangnya mungkin sedikit lebih panjang punya Usman.

Istriku dipepetkan ditembok, mereka saling berciuman dengan ganas sekali, tangan kanan istriku meremas-remas kontol Usman dan tangan kanan Usman menggesek-nggesek memek istriku. Terlihat istriku tidak sabaran, kontolnya Usman diarahkan ke memeknya dengan sedikit kaki kiri istriku diangkat Usman maka masuklah senjata Usman pada memeknya, terlihat istriku memejamkan mata.

“Oooch.. kocok Dik Usman.. kocok..”

Dengan gerakan naik turun, Usman mengocok berulang-ulang dan badan mereka berdua semakin mengkilap karena keringat.

“Cek.. cek.. pleek.. plek.. ceck..”

Sesaat kemudian kocokan Usman berhenti

“Mbak Erna.. enak sekali memeknya.. terasa kenyuut-kenyuut..”

“Kontolmu juga Dik Usman.. gagah perkasa..”

Kemudian gantian kaki kanan istriku diangkat dengan tangan kiri Usman dan kocokan dilanjutkan lagi.

“Och.. ooch.. enak Dik.. teeruuss.. kocok teruuss..”

“Mbak.. aku mau keluar Mbak..”

“Jangan dulu Dik Usman.. jangaann.. akuu masih pingiinn lama-lama Dik”

“Nggak tahaann Mbaak.. aku nggaak tahan.. uenaakk Mbakk..”

Terlihat Usman menghentikan kocokannya dan semakin menekan dalam-dalam kontolnya dalam memek istriku..

“Ma’af Mbak.. aku nggak tahaann.. ma’aaf.. oocchh.. oocchh..”

Istriku memeluk erat-erat tubuh Usman seolah nggak mau dilepas seterusnya..

“Kenapa buru-buru dikeluarin Dik.., aku belum dapet lho..”

“Sabar Mbak.. betul-betul aku nggak tahaann.. wuennaakk buuanget.. memek Mbak hangett sekali dan waouw.. suereett Mbaak..”

Sesaat kemudian terlihat kontol Usman terlepas dari memek istriku dan dibarengi tetesan sperma dari dalam vagina istriku dan istriku mengambil handuk kecil untuk mengeringkan keringat serta membersihkan memeknya.

Oochh hanya segitu kemampuan si Usman (pikirku), aku agak lega ternyata kemampuannya tidak beda jauh dengan kemampuanku. Aku menghela nafas panjang, dan berharap mudah-mudahan istriku menjadi kapok karena tidak terpuaskan oleh Usman dengan begitu pasti tidak akan mengulanginya lagi. Tapi.. kenyataannya lain dari dugaanku..

Usman betul-betul dapat layanan spesial dari istriku, diambilkannya segelas air minum dingin dan diminum bergantian dengan istriku. Sambil bersandar di dinding, kaki Usman diselonjorkan dan istriku mendekati Usman dengan duduk berhadapan diatas pangkuannya

“Mbak.. susunya masih kenceng dan bulu-bulu memek Mbak yang lebat ini (sambil tangan kanan Usman mengelus mesra memek istriku), membuatku ingin tiap malam bertandang kerumah Mbak ini..”

“Sama Dik Usman.. aku sendiri tiap hari rindu sama kontolmu yang ini..”, (sambil tangan kanan istriku mengelus kontol Usman yang masih lunglai)..

Mereka saling kecup dan saling pagut kembali, tangan kiri Usman memeluk punggung istriku dan tangan kanannya mengelus-elus secara bergantian gumpalan bokong istriku yang mulus dan menggairahkan, sesekali jari tengah Usman mengusap memek dan permukaan anus istriku sehingga istriku melakukan gerakan-gerakan berkedut akibat geli-geli nikmat

“Ouuw.. ouucwww.. woouuwww.. geli Dik Usman..”

Tak kalah lihainya, tangan kanan istriku meremas-remas Kontol Usman yang sudah agak mulai mempunyai semangat baru.

Badan Usman bergeser kearah kasur lipat yang sedari tadi belum dimanfaatkan sambil istriku tetap dipangkuannya. Dan sekarang istriku dalam posisi diatas dan masih menunduk karena pagutan yang terlihat mulai panas kembali.

Kedua tangan Usman meremas-remas bongkahan bokong istriku yang semakin lama bergerak berputar-putar tak karuan. Istriku terlihat mulai bangkit lagi semangatnya yang terpendam akibat belum terpuaskan. Kecupan demi kecupan istriku menjalar dari bibir Usman, ke leher, ke dada dan puting Usman dan terakhir berhenti sejenak mengulum membasahi helm kontol Usman yang sudah berdiri tegak siap perang kembali. Istriku terlihat sudah nggak tahan begitu melihat kontol Usman tegak menantang, dan segera dituntun untuk dimasukkan kedalam memeknya. Diputar-putar kepala kontolnya di bibir memeknya yang sedikit berlendir dengan tangan kanannya dan sesaat kemudian, blless.., istriku sedikit menjerit histeris.

“Woouuwww.. heehhii.. heehhii..”

Badan istriku sedikit bergetar dan diam sejenak sambil kedua tangannya bertumpu pada dada Usman, sebaliknya kedua tangan Usman meremas-remas buah dada istriku.

Mulanya dengan gerakan sedikit memutar dan kemuadian istriku menaik turunkan pantatnya.

“Teruuss Mbak.. terruuss Mbak.. teerruuss..”

“Kocok Mbak Erna sayang.. kocokk.. putaarr.. dan.. teerruuss..”

“Woouwww.. woouwww.. enakk Dik.. woouwww..”

Sambil sedikit membungkuk, istriku melakukan gerakan tarik tekan berulang-ulang, semakin lama semakin cepat dan beberapa saat kemudian..

“Woouuwww.. woouuwww.. akuu mau keluar Dik Usman.. woouwww..”

Gerakan tarik tekan istriku semakin kenceng dan mendadak terdiam sambil pantatnya berdenyut-denyut menekan-nekan..

“Woouuwww.. woouwww.. aakkuu keluar Dik Usman saayyaanngg..”

Mereka saling berpelukann erat dan pantat istriku masih berdenyuutt kenyuutt menekan-nekan seolah-olah Kontol Usman akan dilahap dimasukkan kedalam memeknya sedalam-dalamnya tanpa sisa..

“Wwoouuwww..”

Napas istriku terlihat tersengal-sengal dan berangsur-angsur menjadi diam tanpa gerakan sedikitpun karena lunglai kenikmatan yang habis diraupnya. Bibir Usman dikecupnya berulang-ulang..

“Terimakasih Dik Usman.. terimaksih.. wuennaakk sekali..”

Usman mulai sedikit melakukan gerakan menaik turunkan kontolnya dimemek istriku perlahan-lahan dan gerakan itu rupanya disambut oleh istriku yang masih ingin mencari kenikmatan-kenikmatan yang sudah lama tidak didapatkan dari aku suaminya.

Dengan posisi sedikit dirubah, istriku bertumpuh dengan kedua lututnya disamping pinggul kiri kanan Usman, istriku mulai memompa dan menggosok-gosokan memeknya pada tiang kemerdekaan Usman. Perlahan tapi pasti dan semakin lama semakin cepat kocokan-kocokan yang dilakukan mereka berdua. Istriku dengan gerakan angkat tekan dan Usman gerakan tarik dorong keatas sekencang-kencangnya dan itu semua menimbulkan bunyi.

Istriku mulai terpancing lagi dan..

“Zzhh.. woouwww.. zzhh.. woouwww.. zzhh.. woouwww..”

“Terruuss.. yyaa.. teerruuss.. hmemmhh.. yaa..”

Gerakan mereka berdua semakin berpacu.. kencang.. dan keraass seolah mereka mau mengakhiri semuanya dan..

“Aku mau keluar lagi Dik Usman sayaangg.. teerruuss.. teerruuss..”

Mendadak istriku memeluk erat dada Usman, gerakan sama sekali berhenti dan kembali lagi bongkahan pantat istriku berdenyut-denyut menekan-nekan tanda kenikmatan yang tiada tara.

“Mbak Erna.. memeknya semakin licin dan kenyuutt-kennyuutt Mbak”

“Wuenakk Mbak.. kontolku terasa dipijit-pijit.. Mbak Erna sayaang..”

Setelah berhenti melakukan gerakan beberapa saat, istri langsung dibalik oleh Usman sehingga posisinya dibawah. Ternyata Usman belum sampai final. Dengan rakusnya Usman menghisap puting susu istriku yang semakin memerah dan kenceng.

Istriku menggelinjang-nggelinjang ke-enakan dan pantat Usman mulai memompa naik turun.

Gerakan Usman memompa naik turun lama sekali. Kemudian Usman menghentikan kocokannya dan akhirnya kaki kiri istriku diangkat tegak lurus dan ditekan-tekannya kontolnya sekencang-kencangnya.

“Teruuss.. teruuss.. Dik Usman.. teruuss.. dinding rahimku terasa tersundul-sundul.. wuennaakk Dik.. teruuss dikk..”

Usman mengganti kaki kanan istriku yang sekarang diangkat dan tekanan demi tekanan semakin membuat keringat mereka berdua bercucuran.

Dalam hatiku, edan tenan tetanggaku ini. Di satu sisi dia sebagai lawan seru caturku. dan disisi lain ternyata dia menjadi lawan tanding birahi sex istriku. Aku mangaku kalah dalam mengontrol daya tahan tetapi aku tak boleh menyerah.. aku harus bisa.. tapi.. apa mungkin aku bisa. Aku sedari tadi diam tertegun melihat keganasan mereka berdua dan aku hanya bisa meremas-remas kontolku yang basah karena lendir akibat terangsang hebat. Badanku terasa kelu dan kaku karena depresi, tegang dan amarah yang menjadi satu.

Kulihat lagi permainan mereka, dan ternyata kini kedua kaki istriku diangkat dengan cara tangan kiri Usman memegang pergelangan kaki kanan istriku dan sebaliknya tangan kanan Usman memegang pergelangan kaki kiri istriku. Yang menjadi iri dan aku tertegun, selain Usman masih mengocok kontolnya, kedua kaki istriku dimainkan dengan cara dirapatkan tegak lurus dan kemudian dikangkangkan, begitu terus berulang dan terlihat dari mimik wajah istriku, dia menikmati semua gerakan yang dilakukan oleh Usman.

“Ech.. ouw.. ouw.. yaou.. teruuss.. terruss.. oeii..”

Beberapa menit kemudian gerakan maju mundur Usman semakin kencang dan..

“Mbak.. aku nggak kuat lagi Mbak.. aku keluarin didalam yaa..”

“Nggak papa Dik.. semprotkan semuanya di dalam.. ayoo..”

Dan gerakan Usman mendadak berhenti sambil memeluk kedua kaki istriku, pantatnya semakin ditekankan kedepan dan berkedut-kedut.

“Oochh.. ouch.. creett.. creutt.. cruutt..”

Usman rebah dipelukan istriku..

*****

Pembaca.., Hingga kini aku belum bisa mengambil sikap, harus bagaimana? Disatu sisi, aku memang tidak bisa sejantan Usman, di sisi lain aku nggak mau kehilangan dan menyakiti istriku. Sampai saat ini juga, sikap istriku padaku sama seperti sebelumnya, seolah tidak ada kejadian yang luar biasa dan akupun berusaha seolah tidak mengetahui pengkianatannya.

Cerita diatas, secara teknis kejadiannya aku upayakan sesuai dengan realita yang ada agar bila ada yang ingin memberikan jalan keluar bisa tepat guna. Emailku rm4gedon@yahoo.com dan bila ada yang ingin langsung memberikan arahan pada istriku, akan kuberikan email addressnya setelah kirim email padaku lebih dulu.

TAMAT

Tags : cerita merangsang, cerita seks, cerita tante, video abg, amoy bugil, cewek cantik,blog cerita dewasa,kumpulan cerita dewasa,cerita seru,cerita dewasa 17tahun,17 tahun hot,cerita nafsu, nafsu seks, gairah nafsu, budak nafsu, cewek nafsu

Add a comment 12 Mei 2010

Cerita 18sx – Gairah Tante Vivi 03

Sambungan dari bagian 02

Tante Vivi sambil tersenyum manis ke arahku rebah telentang dengan posisi setengah mengangkang mempertontonkan seluruh anggota tubuhnya yang paling terlarang. Kedua buah dadanya yang ternyata memang sangat besar terlihat masih begitu kencang, sama sekali tidak kendor, membentuk bulatan indah bak buah semangka. Kedua puting payudaranya yang kecil berwarna coklat kemerahan mengacung ke atas seolah menantangku untuk segera kujamah. Begitu pula perutnya masih terlihat ramping dan seksi tanpa lipatan lemak, menandakan Tante Vivi belum pernah melahirkan seorang anak. Aku menelan ludah melihat bagian bawah tubuhnya yang kini ternyata tak memiliki sehelai rambutpun. Rupanya Tante Vivi telah mencukur habis bulu kemaluannya yang kemarin sempat kulihat begitu sangar dan vulgar.

oohh.., tanpa terasa mulutku mendesah takjub menyaksikan keindahan bukit kemaluannya yang besar. Seumur hidup baru kali ini aku menyaksikan alat kemaluan wanita dari keturunan Tionghoa. Belahan bibir kemaluannya yang sangat putih mulus walau sedikit kecoklatan terlihat sangat tebal membentuk sebuah bukit kecil mulai sekitar 6-8 centi di bawah pusar yang terbelah di bagian tengahnya sampai ke selangkangan bagian bawah di atas lubang duburnya yang hitaman kecoklatan. Labia Mayoranya yang sangat merangsang itu terlihat masih saling menutup rapat satu sama lain meskipun Tante Vivi sudah setengah mengangkangkan kedua pahanya, seolah menyembunyikan liang vaginanya yang memang sangat terlarang. Ini berarti liang vaginanya pasti masih sangat sempit walaupun ia sudah tak perawan lagi. Dari lekukan sempit dan panjang yang terbentuk dari kedua belah labia mayoranya itu aku sedikit dapat melihat dan menduga betapa merahnya liang kenikmatan miliknya.

Batang penisku yang semula agak lemas kini langsung kembali perkasa. Dengan cepat kurasakan kepala penisku kembali mendesak ke atas melongok keluar dari celana dalam seolah ingin mengintip apa yang sedang terjadi dihadapanku dan membuatku takjub.

oohh.., Vivi..”, bisikku lemah. Batinku seolah menyerah kalah., “Maafkan aku Selva.., aku sangat mencintaimu.., tapi ini hanyalah seks.., bukan cinta..”

Lalu kreekk.., Dengan gemas kurobek celana dalamku yang terasa kecil bagi alat kelelakianku. Aku sudah tak peduli lagi dengan segala sesuatunya. Batang penisku yang tegang itu langsung mengacung keluar setengah mengarah ke atas sambil manggut-manggut naik turun menyetujui pikiranku yang ngeres. Aku sedikit heran juga menyaksikan batang penisku yang kelihatan sedikit lebih besar dari biasanya, begitu pula dengan kepala penisku yang terlihat begitu nanar dan mekal berwarna kemerahan saking tegangnya. Urat-urat diseluruh permukaan batang penisku sampai menonjol keluar semua membentuk guratan-guratan kasar setengah melingkar.

Dengan lutut setengah gemetar seakan tak percaya menyaksikan semua itu, perlahan-lahan aku mulai naik ke atas pembaringan menyusul Tante Vivi yang sudah menungguku sejak tadi. Dengan rambut setengah terurai di pipi Tante Vivi tersenyum manis memamerkan keindahan bibir dan gigi-giginya yang putih menawan. Matanya seolah meredup dan pasrah. Namun nafasnya sedikit terdengar kurang teratur menandakan ia sedikit tegang atau mungkin juga ia sedang dilanda nafsu birahinya.

“Vivii..”, bisikku penuh nafsu. Setengah dag-dig-dug kubaringkan tubuhku persis di sebelah kanan tubuhnya yang bugil. Kupandangi wajahnya yang cantik mempesona, lalu dengan jemari gemetar kuelus mesra kedua belah pipinya yang halus. Tante Vivi tersenyum manja padaku.

“Ar.., beri aku kenikmatan..”, bisiknya tanpa malu-malu. Sorot matanya terlihat lemah seolah memohon. Aku tersenyum penuh gairah.

“Aahh Vivi.., aku akan memberimu kepuasan.., aahh.., kau lihat penisku Vi.., dia yang akan memberimu kenikmatan..”, bisikku nakal. Tante Vivi mau tak mau melirik ke bawah menyaksikan alat vitalku yang besar dan keras saking kuat ereksinya.

“Iihh.., hik.., hik.., kau nakal Ar.., oohh.., sshh.., lakukanlah sekarang Ar..”, tiba-tiba ia berbisik sedikit keras. Aku terkaget heran.

“Sekarang Tante..?”, tanyaku heran, sedikit kurang sambung.

“Yaa.., sekarang Ar.., naiki aku.., masuki tubuhku sekarang.., sshh..”, bisiknya semakin keras. Sembari jemari tangan kirinya memegang lenganku mengajak untuk..

Astagaa.., Tante Vivi begitu bernafsunya sampai tanpa sungkan-sungkan lagi memintaku untuk segera menyetubuhinya. Namun sebenarnya aku masih ingin mencumbunya terlebih dulu, menikmati kehalusan kulit tubuhnya, meremas-remas dan menghisap kedua puting susunya sampai puas dan yang paling aku gemari adalah pasti mencumbu alat kelaminnya sampai ia orgasme seperti yang sering aku lakukan terhadap Dina. Terus terang aku sudah tergila-gila pada alat kelamin wanita. Setiap akan bersenggama dengan Dina tak pernah sekalipun aku mengawali persetubuhan tanpa terlebih dahulu aku mencumbu alat kewanitaannya sampai Dina orgasme berulang-ulang. Baru setelah Dina lemas kehabisan tenaga setelah melepas kenikmatan, aku baru memasukkan batang penisku ke dalam liang vaginanya yang sempit dan licin terkena muntahan cairan orgasmenya, mengocoknya di dalam situ sampai air maniku muncrat ejakulasi.

“Kita bercumbu dulu Tante..”, bisikku merasa diatas angin. Aku bisa menduga mungkin Tante Vivi terlalu lama menahan keinginan seksualnya sampai begitu kesempatan untuk itu ada ia sudah tak mampu menahan gejolak birahinya yang sekian lama tertahan.

“aahh.., kita lakukan sekarang saja Ar..”, bisiknya seolah setengah memaksa. Tanpa rasa malu sedikitpun. Kuperhatikan jemari tangan kirinya kini telah berada di atas selangkangan mengusap-usap bukit kemaluannya yang montok merangsang.

Astaga.., rupanya Tante Vivi sudah tak tahan lagi. Aku tersenyum penuh gairah, aku tahu liang vaginanya pasti sudah gatal karena sekian lama tidak dipakai. Beruntung sekali suami Tante Vivi dulu yang pertama kali mencicipi dan menikmati keperawanannya.., pasti luar biasa nikmat saat pertama kali menembus liang vaginanya yang sempit. mm.., aku jadi tak tahan karena teringat saat pertama kali batang penisku memasuki liang vagina Dina dan merobek selaput keperawanannya. Adalah saat terindah bagi seorang laki-laki ketika memuntahkan air maninya dengan sepenuh rasa nikmat ke dalam liang vagina seorang wanita yang masih perawan. Saya telah mengalami hal itu dan memang luar biasa nikmat. Dan kini mungkin saatnya bagi saya untuk menikmati liang vagina seorang janda.., mm.., pikirku ngeres.

“Kau yakin Vi.., kita tidak bercumbu dulu sayang..”, bisikku gemas.

“Ar.., kamu nakal..”, sahut Tante Vivi padaku, wajah cantiknya kelihatan memelas. Aku jadi geli baru pertama kali ini aku melihat seorang wanita dengan nafsu seks sebesar Tante Vivi, sampai memelas-melas seperti ini. Tapi aku maklum karena mungkin Tante Vivi telah ngempet tidak berhubungan seks bertahun-tahun. Tapi bagaimanapun aku berpantangan untuk tidak langsung menyetubuhinya. Tante Vivi bukanlah ayam betina yang langsung saja bisa digagahi. Aku ingin memberinya terlebih dahulu sensasi-sensasi seks terindah pada seluruh sekujur tubuhnya sampai ia benar-benar merasakan puncak sekaligus akhir dari pendakian indah sebelum memasuki tahap persetubuhan untuk mencapai kenikmatan sesungguhnya. Walaupun sebenarnya aku mau saja langsung menggagahinya dan memuasinya dengan cepat, tapi bagiku itu tiada berkesan selain merasakan kenikmatan sesaat. Dan seolah bagai mimpi saja ketika akhirnya dengan sigap aku telah berada diatas tubuh Tante Vivi yang telanjang bulat dan menindihnya gemas.

Kami berdua secara bersamaan melenguh nikmat saat kulit tubuh kami saling bersentuhan dan akhirnya merapat dalam kemesraan. Aku tak pernah menyangka bisa meniduri bidadari secantik Tante Vivi. Batang penisku yang berdiri tegak seakan kena setrum saat menyentuh bukit kemaluan Tante Vivi yang halus dan sangat empuk. Maklum bukit kemaluannya memang relatif sangat besar dan montok. Jauh lebih montok dibanding milik Dina.

Dengan nakal kepala penisku menyelip diantara bibir kemaluannya yang rapat. mm.., terasa begitu nikmat saat kulit kepala penisku menggesek daging celah labia mayoranya dan menyelip ke dalam. Tante Vivi mungkin mengira batang penisku ingin memasuki liang vaginanya, karena begitu kepala penisku menyelip di antara labia mayoranya kurasakan ia membuka kedua pahanya lebar-lebar. Aku merasa betapa begitu halus kulit kedua belah pahanya yang langsung mengapit pinggangku lembut. Sengaja aku tidak menekan pinggulku terlalu ke bawah untuk berjaga-jaga agar jangan sampai kepala penisku sampai terdorong kebawah memasuki liang vaginanya, walau aku sebenarnya juga bisa menduga pasti tidak mudah bagiku nanti memasukkan alat kejantananku ke dalam liang vaginanya. Kalau benar Tante Vivi sudah lama tidak berhubungan seks.., mm.., liang vaginanya pasti sempit luar biasa.

Sambil mengusap mesra rambut Tante Vivi yang panjang, mulutku dengan gemas kembali mengecup dan mengulum bibir Tante Vivi yang basah dan hangat. mm.., cupp.., cupp.., mulutku secara bergantian mengulum bibirnya yang atas dan yang bawah. Dengan tak kalah mesra Tante Vivi membalas cumbuanku pada bibirnya. Sesekali lidahnya dijulurkan keluar untuk dengan segera kuhisap dan kukulum mesra. Terasa begitu gurih manis lidah dan bibirnya. Sementara bibir kami bercumbu, kurasakan dua sensasi indah di dua tempat yang paling terlarang pada tubuh Tante Vivi. Pertama di selangkangannya, kedua di bagian dadanya.

mm.., kedua payudaranya yang luar biasa besar itu terasa begitu kenyal dan padat menekan nikmat dadaku, kedua puting payudaranya yang lancip seakan menggelitik kulit dadaku. Kedua jemari tangan Tante Vivi yang halus mengusap-usap gemas daging bokongku, berulang kali ia mencoba untuk menekan pantatku ke bawah agar batang penisku segera memasuki liang vaginanya, namun aku bertahan agar pinggulku tetap setengah terangkat, hanya kepala penisku saja yang sedikit terjepit diantara labia mayoranya. Butuh suatu kesabaran agar rasa nikmat pada kepala penisku yang sudah setengah terjepit di bibir kemaluannya itu tidak membuatku berbuat lebih jauh lagi menuruti keinginan Tante Vivi yang sudah ngebet.

Sesekali Tante Vivi dengan tak sabar menyelipkan jemari tangan kanannya diantara selangkangan kami, lalu dengan gemas ia meremas batang penisku dan mengarahkan kepala penisku yang sudah setengah terjepit di situ ke mulut liang vaginanya yang terasa licin dan buntu, menandakan liang vaginanya itu sangat jarang dipakai. Mungkin hanya mantan suaminya saja dulu. Aku segera menarik pinggulku agak ke atas karena terasa geli-geli nikmat pada batang penisku yang diremasnya. Aku melepaskan ciumanku pada bibir Tante Vivi.

“Aaoohh.., Tante geli ahh..”, erangku setengah keenakan.

“Uuhh.., kamu nakal Ar..”, bisik Tante Vivi lirih. Bibirnya yang ranum kemerahan sangat basah penuh air liurku. Kulihat wajah cantiknya tampak berkeringat basah. Kelihatan ia sudah sangat ngebet kepingin senggama. Kedua matanya yang semakin sipit memandangku lemah seolah memelas. Aku kasihan juga melihatnya.

“Tante sudah kepingin sekali yaachh..”, bisikku gemas melihatnya.

Tante Vivi tidak menjawab namun jemari tangannya mencubit pinggangku keras-keras. Aku memekik kesakitan. “Aaoowww..”.

Lalu dengan gemas, mulutku kembali melumat bibir ranumnya yang basah.., hanya lima detik mulutku melepas bibirnya dan bergerak ke atas dan, “Oouuhh..”, Tante Vivi merintih manja saat bibir dan lidahku dengan gemas mulai menggelitiki telinga kirinya. Sesekali gigiku setengah menggigit membuat Tante Vivi menggelinjang geli keenakan.

“Nngghh.., eenngghh.., Ar..”, pekiknya lirih. Ia sangat terangsang sekali dengan ulahku.

30 detik kemudian dengan cepat aku menggeser tubuh ke bawah. Kini saatnya bagiku untuk bermain-main dengan kedua buah payudaranya sepuas mungkin. Kali kurebahkan perutku merapat ke tubuh Tante Vivi, dan mm.., perutku terasa menekan nikmat bukit kemaluannya yang besar.., sedikit kurasakan kalau bukit kemaluannya itu sedikit agak kasar, seperti bekas kalo ada rambut yang dicukur.

Dari dekat aku dapat menyaksikan betapa luar biasa besarnya payudara Tante Vivi, warnanya begitu putih bersih dan mulus. Kedua puting payudaranya yang kecil lucu seakan tidak sebanding dengan besar susunya, berwarna coklat kemerahan. Baru kali ini aku melihat seorang wanita memiliki susu yang sangat besar, selama ini aku hanya melihatnya di dalam film BF, itupun milik cewek bule. Bahkan jemari tanganku yang kubuka selebar mungkin masih belum bisa melingkari bulatan kedua buah dada Tante Vivi yang extra large. Dalam hati.., susu sebesar ini berapa ukuran BH-nya yaah.., aku jadi makin tegang sendiri memikirkannya. Dengan gemas kedua jemari tanganku yang sudah melingkari kedua buah dadanya bergerak meremas-remas pelan.., woowww.., begitu kenyal, kencang dan hangat.

“Nngnngghh.., oouuhh”, Tante Vivi memejamkan kedua matanya dan mulutnya yang basah mengerang keenakan. Aku tersenyum. “Kuperkosa habis-habisan kau nanti Tante..” bisikku dalam hati penuh nafsu. Aku menunduk dan mulutku mulai menghisap nikmat susunya yang sebelah kiri secara perlahan. Lidahku dengan gemas menyentil putingnya dan menggigit pelan.

“Aawww.., nngghh..”, Tante Vivi merintih semakin keras. Aku jadi ikutan terangsang. Mulutku mulai menghisap putingnya sedikit lebih keras dan semakin keras. Kubuka mulutku selebar mungkin, seolah ingin menelan susunya. Kuhisap sekuatnya susu kirinya sampai pipiku terasa kempot, lidahku dengan ganas memilin-milin putingnya dengan perasaan geregetan.

mm.., nikmatnya.., Pop.., pop.., berulang kali aku menghisap dan melepaskan hisapanku dengan kuat sampai berbunyi nyaring. Puas dengan hisapan, lidahku yang basah kujalarkan menjilati seluruh permukaan payudaranya sampai penuh dan basah oleh air liur.

Tante Vivi bergerak semakin liar. Mulutnya berulang kali memekik dan mengerang keenakan menikmati sedotan mulutku pada susunya.

“Aawww.., ngghh.., awww..”. Jemari tangannya tak tahan mengerumasi rambut kepalaku dengan gemas. Mulutku kini berpindah untuk menghisap, mengulum dan menjilati susunya yang sebelah kanan, sementara susunya yang kiri gantian kuremas-remas dengan lembut. Seperti juga yang kiri, aku mengenyot-ngenyot payudara kanannya membuat Tante Vivi semakin menggeliat hebat keenakan.

“aawww.., Ar.., hu.., hu.., sudah Ar.., ngghh.., sudah sayang..”, erangnya tak kuat menahan rasa nikmat. Aku semakin bersemangat. Kuhisap, kukulum, kupilin, kukenyot dan kujilati payudaranya yang kanan berulang-ulang kali tanpa ampun, membuat Tante Vivi berulangkali pula memintaku untuk segera menyudahi.

“aawww.., sudah sayang.., aduuh.., hu.., huu.., ngghh.., k.., kau nakal Ar..”, erang Tante Vivi sambil tetap mengerumasi rambut kepalaku. Aku tak peduli, cukup lama sekali aku mengenyot dan menyusu kedua belah payudaranya yang besar. Mungkin sekitar 10 menitan lebih.

Setelah puas barulah aku dapat melihat kedua buah dadanya yang tadinya begitu putih mulus dan bersih itu kini sampai basah penuh liur, dan di sana sini tampak kemerahan bekas hisapan mulutku. Terutama disekitar kedua putingnya yang kini tampak semakin merah saja, kulihat ada sedikit guratan merah di situ mungkin bekas gigitanku tadi.., gemass sih.

Tante Vivi memandangku sayu, kedua matanya sedikit berair dan memerah, bibirnya gemetar. Wajah cantiknya itu kelihatan sedikit geregetan.

“Kamu benar-benar nakal sekali Ar.., Awas kamu yaa..”, bisiknya lirih padaku seakan ingin membalas dendam. Aku tersenyum padanya, lalu tiba-tiba kedua jemari tangannya tadi mendorong kepalaku ke bawah.

mm.., rupanya Tante Vivi ingin aku mencumbu alat kemaluannya. Woowww.., ini favoritku malah.., dengan sigap aku menggeser ke bawah.., mm terasa enaak saat perutku menggesek bukit kemaluannya. Lidahku kujulurkan menjilati permukaan perutnya yang halus dan sejenak sempat kugelitik lubang pusarnya dengan lidah dan bibirku. Dan ketika mukaku sampai di atas selangkangannya.., woowww.., ini dia ee.., alamak indahnya alat kemaluan milik Tante Vivi ini. Begitu putih dan mulus sesuai dengan warna kulit tubuhnya, disana-sini masih bisa terlihat secara samar kehitaman bekas cukuran bulu jembut kemaluannya. Alat kemaluannya itu kelihatan besar dan tebal, membentuk sebuah bukit kecil di atas selangkangannya.

Kini dengan jelas aku dapat melihat dari jarak kurang dari 15 centi bibir labia mayoranya yang tebal saling menutup sangat rapat satu sama lain membentuk lekukan celah sempit memanjang vertikal sampai diatas lubang duburnya yang kecil berwarna hitam kecoklatan. Liang vaginanya seolah tertutup rapat tersembunyi oleh ketebalan labia mayoranya itu. Aroma khas bau alat kemaluannya benar-benar memabukkanku. Hidungku kembang-kempis menarik napas panjang menghirup aroma nikmat bau alat kelaminnya.

Mm.., memang aku begitu menyukai bau alat kelamin wanita. Baunya seharum milik Dina. Namun berbeda dengan milik Dina yang sedikit lebih kecil bentuknya, alat kemaluan Tante Vivi yang besar ini dapat kuduga memiliki liang senggama yang lebih panjang dan dalam. mm.., pasti daya tampung air maninya pasti banyak sekali. Seolah mengerti pikiranku, batang penisku yang sudah ereksi bak pisang raja itu manggut-manggut pelan mengiyakan walau sudah terjepit di atas kasur.

Tiba-tiba tanpa kuduga tangan Tante Vivi menekan kepalaku ke bawah, sehingga tanpa dapat kucegah lagi mukaku langsung nyosor terbenam ke dalam selangkangannya yang putih merangsang. Hidungku sampai amblas masuk terjepit diantara labia mayoranya yang tebal. Aku tidak bisa bernapas bebas, yang kurasakan hidungku hanya bisa menghisap udara bercampur aroma khas bau alat kewanitaannya yang menyengat dan memabokkan dari sela-sela bibir kemaluannya. Sementara mulutku yang menekan bukit kemaluannya agak sebelah bawah terasa pas berada dimulut liang vaginanya. Aku tak menyia-nyiakan. Lidahku langsung kujulurkan ke bawah sepanjang mungkin menyelip dan menembus bibir kemaluannya dan secara perlahan mulai memasuki liang vaginanya yang terasa sempit dan licin. Aku kira cairan lendir vaginanya mulai mengalir keluar cukup banyak, terbukti ketika lidahku yang masuk sekitar 1 centi ke dalam, liang vaginanya terasa penuh dengan cairan lendir yang sedikit amis namun nikmat dirasakan. Mulutku sampai mengecap nikmat berulangkali menyedot cairan vaginanya itu.

Tante Vivi menggeliat hebat dan mulutnya mengerang panjang keenakan.., pinggulnya terkadang digoyangkan lembut kekiri-kanan dan juga keatas menikmati cumbuanku.

“aagghghh.., nggnnhhff.., sshh.., aarr..”, pekiknya nikmat. Jemari tangannya semakin menekan kepalaku ke bawah, membenamkan mukaku seluruhnya ke bukit kemaluannya.

Dalam posisi seperti ini, mau tak mau membuat hidungku semakin tak bisa bernafas, hidungku seolah tenggelam terjepit diantara bibir kemaluannya yang tebal. Bau khas alat kemaluannya terasa makin menyengat. Meski membuatku semakin terlena, namun aku bisa-bisa mati kehabisan napas juga. Kususupkan kedua jemari tanganku menyusuri ke bawah ke balik bulatan pantatnya yang kenyal dan padat, tanganku mulai meremas gemas lalu dengan buas kugoyang-goyangkan mukaku mengusap ke seluruh permukaan bukit kemaluan Tante Vivi yang hangat dan empuk. Hidungku mengambil napas sebentar lalu dengan gairah tinggi kembali kuselipkan diantara bibir kemaluannya menyentil-nyentil bulatan mungil clitorisnya dengan ujung hidungku, sementara bibir dan lidahku yang kembali kutelusupkan sekitar 1 centi memasuki liang vagina sempitnya, menggelitik-gelitik lembut mulut liang vagina merahnya sembari terus menyedot cairan lendir miliknya yang masih tersisa.

Bersambung ke bagian 04

Tags : cerita 18sx, cerita ngentot, artis bugil, video bokep, tante bugil, cerita sexs, cerita nafsu, nafsu seks, nikmat nafsu, birahi nafsu, nafsu pembantu, nafsu kontol, nafsu mama, memek nafsu, nafsu ngentot, nafsu perawan

Add a comment 26 April 2010

Cerita 18sx – Liburan Plus

Pertama-tama perkenalkan saya Andy (bukan nama sebenarnya). Saat ini saya menginjak 17 tahun, dan kisah ini terjadi kira-kira 2 bulan yang lalu, saat aku liburan akhir semester. Waktu itu aku sedang libur sekolah. Aku berencana pergi ke villa tanteku di kota M. Tanteku ini namanya Sofi, orangnya cantik, tubuhnya-pun sangat padat berisi, dan sangat terawat walaupun usia nya memasuki 38 tahun. Aku ingat betul, pagi itu, hari sabtu, aku berangkat dari kota S menuju kota M.

Sesampainya di sana, aku pun disambut dengan ramah. Setelah saling tanya-menanya kabar, aku pun diantarkan ke kamar oleh pembantu tanteku, sebut saja Bi Sum, orangnya mirip penyanyi keroncong Sundari Soekotjo, tubuhnya yang indah tak kalah dengan tanteku, Bi Sum ini orangnya sangat polos, dan usianya hampir sama dengan tante Sofi, yang membuatku tak berkedip saat mengikutinya dari belakang adalah bongkahan pantat nya yang nampak sangat seksi bergerak Kiri-kanan, kiri-kanan, kiri-kanan saat ia berjalan, seeakan menantangku untuk meremas nya.

Setelah sampai dikamar aku tertegun sejenak, mengamati apa yang kulihat, kamar yang luas dengan interior yang ber-kelas di dalamnya. sedang asyik-asyik nya melamun aku dikagetkan oleh suara Bi sum.

“Den, ini kamarnya.”

“Eh iya Bi.” jawabku setengah tergagap.

Aku segera menghempaskan ranselku begitu saja di tempat tidur.

“Den, nanti kalau ada perlu apa-apa panggil Bibi aja ya?” ucapnya sambil berlalu.

“Eh, tunggu Bi, Bibi bisa mijit kan? badanku pegel nih.” Kataku setengah memelas.

“Kalau sekedar mijit sih bisa den, tapi Bibi ambil balsem dulu ya den?”

“Cepetan ya Bi, jangan lama-lama lo?”

“Wah kesempatan nih, aku bisa merasakan tangan lembut Bi Sum memijit badanku.” ucapku dalam hati.

Tak lama kemudian Bi Sum datang dengan balsem di tangan.

“Den, coba Aden tiduran gih.” suruh Bi Sum.

“Eh, iya Bi.” lalu aku telungkup di kasur yang empuk itu, sambil mencopot bajuku. Bi Sum pun mulai memijit punggungku, sangat terasa olehku tangan lembut Bi Sum memijit-mijit.

“Eh, Bi, tangan Bibi kok lembut sih?” tanyaku memecah keheningan.

Bi Sum diam saja sambil meneruskan pijatannya, aku hanya bisa diam, sambil menikmati pijitan tangan Bi Sum, otak kotorku mulai berangan-angan yang tidak-tidak.

“Seandainya, tangan lembut ini mengocok-ngocok penisku, pasti enak sekali.” kataku dalam hati, diikuti oleh mulai bangunnya “Adik” kecilku.

Aku mencoba memecah keheningan di dalam kamar yang luas itu.

“Bi, dari tadi aku nggak melihat om susilo dan Dik rico sih.”

“Lho, apa aden belum dibilangin nyonya, Pak Susilo kan sekarang pindah ke kota B, sedang den Rico ikut neneknya di kota L.” tuturnya.

“Oo.., jadi tante sendirian dong Bi?” tanyaku

“Iya den, kadang Bibi juga kasihan melihat nyonya, nggak ada yang nemenin.” kata Bi Sum, sambil pijatannya diturunkan ke paha kiriku. Lalu spontan aku menggelinjang keenakan.

“Ada apa den?” tanyanya polos.

“Anu Bi, itu yang pegel.” jawabku sekenanya.

“Mm.. Bibi udah punya suami?” kataku lagi.

“Anu den, suami Bibi sudah meninggal 6bulan yang lalu.” jawabnya. Seolah berlagak prihatin aku berkata.

“Maaf Bi, aku tidak tahu, trus anak Bibi bagaimana?”

“Bibi titipkan pada adik Bibi” katanya, sambil pijitannya beralih ke paha kananku.

“Mm.. Bibi nggak pingin menikah lagi?” tanyaku lagi.

“Buat apa den, orang Bibi udah tua kok, lagian mana ada yang mau den?” ucapnya.

“Lho, itu kan kata Bibi, menurutku Bibi masih keliatan cantik kok.” pujiku, sambil mengamati wajahnya yang bersemu merah.

“Ah.., den andy ini bisa saja” katanya, sambil tersipu malu.

“Eh bener loh Bi, Bibi masih cantik, udah gitu seksi lagi, pasti Bibi rajin merawat tubuh.” Godaku lagi.

“Udah ah, den ini bikin Bibi malu aja, dari tadi dipuji terus.”

Lalu aku bangkit, dan duduk berhadapan dengan dia.

“Bi.., siapa sih yang nggak mau sama Bibi, sudah cantik, seksi lagi, tuh lihat tubuh Bibi indahkan?, apalagi ini masih indah loh..” kataku, sambil memberanikan menunjuk kearah gundukan yang sekal di dadanya itu. Secara reflek dia langsung menutupinya, dan menundukkan wajahnya.

“Aden ini bisa saja, orang ini sudah kendur kok dibilang bagus.” katanya polos.

Seperti mendapat angin aku mulai memancingnya lagi.

“Bibi ini aneh, orang payudara Bibi masih inah kok bilangnya kendur, tuh lihat aja sendiri” kataku, sambil menyingkapkan kedua tangannya yang menutupi payudaranya.

“Jangan ah den, Bibi malu.”

“Bi.. kalau nggak percaya, tuh ada cermin, coba Bibi buka baju Bibi, dan ngaca.” Lalu aku mulai membantu membuka baju kebaya yang dikenakannya, sepertinya ia pasrah saja. Setelah baju kebaya nya lepas, dan ia hanya memakai Bh yang nampak sangat kecil, seakan payudaranya hendak mencuat keluar. Aku pun mulai menuntunnya ke depan cermin besar yang ada di ujung ruangan.

“Jangan den, Bibi malu nanti nyonya tahu bagaimana?” tanyanya polos.

“Tenang aja Bi, tante Sofi nggak bakal tahu kok” Aku yang ada dibelakang nya mulai mencopot tali BH nya, dan wow.. tampak olehku didepan cermin, sepasang bukit kembar yang sangat sekal dan padat berisi, melihat itu “Adik” kecilku langsung mengacung keras sekali.

Aku pun tak menyia-nyiakan kesempatan emas ini. Aku langsung meremas nya dari belakang, sambil ciumanku kudaratkan ke lehernya yang jenjang tersebut. Bi Sum yang telah setengah telanjang itu, hanya bisa mendesah dan matanya “Merem-melek”.

“Oh.. den jangan den, uhh.. den, Bibi diapain, den”

Aku tak menggubris pertanyaannya malahan aku meningkatkan seranganku. Kini ia kubopong ke ranjang, sambil menciumi putingnya yang merah mencuat itu, ia pun kelihatan mulai menikmati permainanku, dan Bi Sum telah kurebahkan diranjang, lalu aku mulai lagi menciumi putingnya, sambil menarik jarik yang dipakainya.

“Uhh.. den shh.. Bibi enak den uh.. shh.. teruus den”

Aku pun mulai membuka seluruh pakaianku dan ciumanku terus turun keperutnya, dan dengan ganasnya ku pelorotkan CD yang dipakainya, aku terdiam sesaat seraya mengamati gundukan yang ada dibawah perutnya itu.

“Den, punya aden besar sekali” katanya sambil meremas penisku, lalu kusodorkan penisku kemulutnya.

“Bi, jilatin ya.. punya Andy.” Bibir mungil Bi Sum mulai menjilati penisku. uuhh.., sungguh nikmat sekali rasanya.

“Mmhh.. ohh.. Bi terus, kulum penisku Bi.., tak lama kemudian Bi Sum mulai menyedot-nyedot penisku, dan rasanya ada yang akan keluar di ujung penisku.

“Bi.. teruuss, Bi.. aku mmaauu keeluuar, oohh” jeritku panjang dan tiba-tiba, serr maniku muncrat dalam mulut Bi Sum, Bi Sum pun langsung menelannya.

Aku pun mulai pindah posisi, kini aku mulai menjilati memek Bi Sum, tampak didepan mataku, memek Bi Sum yang bersih, dengan seikit rambut. Rupanya Bi Sum sudah tidak sabar, ia menekan kepalaku agar mulai menjilati memeknya dan sluurpp.. memek Bi Sum kujilati sampai kutenukan sesuatu yang mencuat kecil, lalu kuhisap, dan gigit kecil, gerakan tubuh Bi Sum mulai tak karuan, tanganku pun tidak tinggal diam, ku pilin-pilin putingnya dengan tangan kiriku sedangkan, tangan kananku ku gunakan menusuk memeknya sambil lidahku kumasukkan sedalam-dalamnya.

“Ohh.. den.. teruuss den jilat teruss.. memek Bibi den.. mmhh” katanya sambil menggeliat seperti cacing kepanasan.

“Ouhh den.. Bibi mau.. keluarr.. den ohh, ahh, den, Bibi keeluuaarr, akhh.” Bi Sum menggelinjang hebat dan serr cairan kewanitaannya kutelan tanpa sisa. Tampak Bi Sum masih menikmati sisa-sisa orgasme nya. Lalu aku mencium bibirnya lidahku kumasukkan kedalam mulutnya, ia pun sangat agresif lalu membalas ciumanku dengan hot.

Aku pun mulai menciumi telinganya, dan dadanya yang besar menempel ketat di dadaku, aku yang sudah sangat horny langsung berkata, “Bi aku masukkan sekarang ya..”. ia hanya bisa mengangguk pelan.

aku pun mengambil posisi, kukangkangkan pahanya lebar-lebar, kutusukkan penisku ke memek nya yang sudah sangat becek. Bless.. separuh penisku amblas kedalam memeknya, terasa olehku memeknya menyedo-nyedot kepala penisku. kusodokkan kembali penisku, bless.. peniskupun amblas kedalam memeknya, aku pun mulai memaju-mundurkan pantatku, memeknya terasa sangat sempit.

“Den.. ouhh.. teruuss.. denn.. mmhh..sshh.” desahan erotis itu keluar dari mulut Bi Sum, aku pun tambah horny dan kupercepat sodokkanku di memeknya.

“Oh.. Bii memek kamu sempit banget, ohh enak Bii, goyang teruuss Bii.. ouhh..”

“Den.. cepatt.. den.. goyang yang cepat.. Bibi.. mauu.. keluar.. den..”

aku mulai mengocok penisku dengan kecepatan penuh, tampak Bi Sum menggelinjang hebat.

“Den.. Bibi.. mau keluuaarr.. ouhh.. shhshshshh..”

“Tahan Bii.. aku.. juga mau keluuarr..”

Lalu beberapa detik kemudian terasa penisku di guyur cairan yang sangat deras.. serr.. penisku pun berdenyut hebat dan, serr.. terasa sangat nikmat sekali, rasanya tulang-tulang ku copot semua. aku pun rubuh diatas wanita setengah baya yang tengah menikmati orgasmenya.

“Bi.. terima kasih ya.. memek Bibi enak” kataku sambil mencupang buah dadanya.

“Den kapan-kapan Bibi dikasih lagi yaa.”

akhirnya kami tertidur dengan penisku menancap di memek Bi Sum, tanpa aku sadari permainan ku tadi dilihat semua oleh tanteku, sambil dia mempermainkan memeknya dengan jarinya. sekian pengalaman saya dengan Bi Sum, pembantu tante saya yang sangat menggiurkan. lain kali akan saya ceritakan pengalaman saya dengan tante saya yang mengintip permainan saya dengan Bi Sum, yang tentunya lebih menghebohkan, karena tante saya ini orang yang hipersex, jadi nafsunya sangat besar, dan meledak-ledak.

E N D

Tags : cerita 18sx,cerita dewasa, cerita panas, 17 tahun, setengah baya, julia perez telanjang, gambar bugil,gadis cantik, telanjang gadis indonesia, gadis abg telanjang, cewek jakarta, artis bugil telanjang,nafsu wanita, cerita nafsu, nafsu seks, nafsu, nafsu liar

Add a comment 19 April 2010

Halaman

Kategori

Tautan

Meta

Kalender

April 2014
S S R K J S M
« Jul    
 123456
78910111213
14151617181920
21222324252627
282930  

Posts by Month

Posts by Category

 
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.