Posts tagged ‘www.gadis bugil ‘




Cerita 18sx – Skandal Keluarga 4: PRT

Ketika anak saya berumur satu tahun saya pindah rumah. Rumah sendiri. Rasanya sudah cukup bekal mental kami untuk tinggal sendiri. Semua pelajaran tentang bagaimana berumah tangga yang kami terima dari ibu mertua tampaknya cukup. Juga soal seks tentunya:). Kami hanya sekali melakukannya, dan tak ada keinginan untuk menguanginya. Saya takut, seperti halnya kejadian saya dengan Mbak Maya dan Rosi. Tapi diam-diam saya geli sekaligus bangga terhadap diri saya. Benar-benar luar biasa. Empat perempuan dalam satu keluarga telah saya tiduri, dan rahasia itu terjaga dengan aman sampai kini, saat saya tuliskan kisah saya ini. Skandal yang menurut saya luar biasa.

Sesungguhnyalah petualangan seks saya sebenarnya belum berakhir. Skandal terus berlangsung di dalam rumah saya. Terus terang saya memang tidak punya cukup keberanian untuk melakukan perselingkuhan dengan perempuan lain di luar yang benar-benar saya kenal. Mungkin karena pada dasarnya saya suami yang “baik”. Kedua, saya tidak memiliki daya tarik seksual (sex appeal) yang menonjol. Tinggi badan saya cuma 162 cm. Terlalu pendek untuk laki-laki. Kulit sawo matang, dan wajah biasa mesti tidak jelek. Tidak ada yang luar biasa. Jadi sangat jarang perempuan tertarik secara fisik kepada saya. Saya juga tidak agresif dalam bergaul, meskipun saya cukup humoris. Saya tak punya banyak teman wanita kecuali teman sekantor, dan beberapa teman maya (e-pal). Saya merasa sangat nyaman berteman dengan perempuan-perempuan di dunia maya. Lebih bebas. Baiklah, yang saya ceritakan ini mengenai perempuan pembantu saya.

Kami sering berganti-ganti pembantu. Paling lama mereka hanya bertahan satu tahun. Entah kenapa. Mungkin mereka tidak cocok dengan istri saya yang cenderung tak banyak omong sehingga terkesan galak. Mungkin juga malas mengasuh anak kecil. Entahlah. Justru pergantian-pergantian inilah yang membuka pintu perselingkuhan seks bagi saya. Yang pertama dengan seorang gadis bernama Sri. Usianya saat itu 16 tahun. Dia kami peroleh di sebuah penampungan PRT, semacam sebuah yayasan. Saat itu istri saya sedang memilih-milih sejumlah PRT yang ditawarkan pengelola. Saya menunggu di ruang tamu dengan anak saya. Anak saya terus bergerak-gerak. Maklum baru beberapa minggu bisa berjalan. Saat dia melihat mamanya anak saya berlari ke arahnya. Mamanya akan menangkap, tetapi keburu didahului seorang gadis. Salah seorang PRT. Gadis itu mengangkat anak saya menimangnya. Anak saya kelihatan senang. Saya dan istri saya tertegun.

Lalu saya lihat istri saya berbicara dengan gadis itu. Beberapa saat kemudian istri saya menghampiri saya.

“Gimana kalau dia saja?” tanyanya.

Saya bingung. Kalau melihat bagaimana gadis itu bersikap terhadap anak saya, rasanya dialah yang kami cari. Kami memang butuh PRT yang pintar mengasuh anak. Maklum saya dan istri pekerja, sehingga tanggung jawab anak sepenuhnya kami serahkan ke pembantu. Tetapi melihat fisik gadis itu, saya ragu. Rupanya istri saya tahu apa yang ada dalam benak saya. Anak kami masih dalam gendongan gadis itu. Gadis yang benar-benar tak layak menjadi PRT. Percayalah. Dia terlampau cantik sebagai PRT. Kulitnya putih bersih. Tinggi semampai, ramah, periang. Dan, waduh. Teteknya sangat besar.

Tidak. Saat ini saya sedang mencari pengasuh anak. Itu yang penting.

“Dia saja ya?” Istri saya mendesak. Saya bigung.

“Si Nisa lengket banget tuh.”

Akhirnya gadis bernama Sri itu kami ambil. Inilah sebenarnya kekeliruan istri saya. Maaf, pembaca. Pembantu saya ini setingkat lebih cantik dibanding istri saya sendiri. Benar-benar membingungkan kan? Bahkan para tetangga kami tadinya tidak percaya kalau itu pembantu saya. Mereka mengira dia famili kami. Reaksi saudara-saudara istri saya negatif. Mereka keberatan dengan pembantu secantik itu. Apalagi Sri benar-benar ramah luar biasa. Dia juga cenderung cerdas meskipun hanya lulusan SMP. Ibu mertua saya bahkan marah-marah pada istri saya dan meminta saya mengganti pembantu. Istri saya memberi penjelasan tetang bagaimana Sri pintar merawat Nisa. Penjelasan ini tidak bisa diterima ibu. Saya menduga keberatan itu karena ibu khawatir akan terjadi sesuatu antara menatunya dengan Sri. Beliau kan contoh nyata. Istri saya bersikukuh, bahkan ketika ibu mengancam tidak akan berkunjung ke rumah kami sampai kami mengganti pembantu.

Apa yang dikhawatirkan ibu memang beralasan. Saya benar-benar tergoda oleh semua yang ada dalam diri Sri. Kecantikannya, kebersihan kulitnya, teteknya, keramahannya. Dua bulan sejak dia ikut kami, saya sudah mulai punya pikiran kotor. Saya mulai mencari cara untuk bisa meniduri Sri. Maukah dia? Istri saya sama sekali tidak mencurigai saya. Baginya saya adalah pria yang culun dan setia. Dunia saya hanya duania kantor dan rumah. Setiap kali dia menghubungi saya, ya saya hanya di kantor atau di rumah. Itulah yang membuatnya merasa tenteram, tidak menaruh curiga apa-apa. Bodoh.

Serangan terhadap Sri saya lakukan pada suatu malam ketika istri saya keluar kota. Birahi saya muncul sejak siang. Istri saya berpesan kepada Sri supaya kalau malam Nisa tidur dengan dia. Soalnya istri saya paham betul tabiat saya kalau tidur malam. Susah bangun sekalipun anak menangis keras di sisi saya. Sejak sore Nisa bersama saya, bercengkerama di depan TV, lalu tertidur sekitar jam 19.00. Saya tiduran di sebelahnya sambil nonton TV. Tapi sebenarnya pikiran saya sedang kacau oleh birahi dan keinginan untuk menikmati tubuh Sri. Tetek gadis itu benar-benar sangat menggoda saya. Seperti apa rupanya tetek besar seorang gadis? Saya ingin meremas-remasnya, ingin mengulum dan menjilatinya.

Saya telah memasang perangkap sejak sore. Tapi tidak ada reaksi apa-apa. Saya tiduran dengan berbalut sarung, tanpa baju. Hanya CD saja. Jam 20.00 Sri meminta Nisa untuk dibawa ke kamarnya. Saya pura-pura menolaknya.

“Sudah biar tidur sama saya saja,” kata saya.

“Nanti dimarahin Ibu. Katanya Bapak kalau tidur..”

“Ahh sudahlah,” saya memotongnya.

“Nanti saja, saya masih pingin di dekat Nisa,” sahut saya.

“Saya sudah mengantuk, Bapak.”

Saya diam saja. Gadis itu mengenakan kaos denga rok span di atas lutut. Dia duduk melipat lutut di sebelah Nisa. Rambutnya tergerai sebahu. Hmm. Sepasang pahanya yang putih tersembul dari roknya.

“Sudah kamu tiduran di situ dulu nanti kalau sudah waktunya aku bangunin terus kamu bawa Nisa ke kamarmu,” kata saya.

Perangkap saya pasang. Dia tampak ragu dan bingung.

“Sana ambil bantal kamu!” perintah saya.

Dia beranjak. Sebentar kemudian datang lagi dengan membawa bantal dan selimut. Dia rebahkan tubuhnya di sisi Nisa. Dia balut tubuhnya dengan selimut. Tenggorokan saya seperti tersekat. Kering. Haus rasanya. Saya tidur dengan Sri hanya dibatasi si kecil Nisa. Sri mencoba memejamkan mata. Sesekali melirik ke arah TV. Lalu saya tidur menghadap ke arahnya. Memandanginya. Rupanya dia tahu saya memandangi. Sekilas dia memandang saya, lalu memejamkan mata. Saya memandangi terus. Semakin kagum, dan semakin panas dingin tubuh saya. Penis saya sudah tegang sejak tadi. Saya bingung bagaimana mengawali. Maukah Sri menerima saya? Kalau dia melawan? Kalau berteriak-teriak? Kalau besok minta keluar? Pikiran saya mulai kacau. Antara berani dan tidak. Saya mencoba tersenyum kepadanya ketika dia melirik saya. Dia tak bereaksi. Tampaknya dia tahu apa yang berkecamuk dalam benak saya.

Saya memanggil namanya pelan. Dia membuka matanya.

“Kamu cantik sekali.” Dia terbelalak dan merapatkan selimutnya.

Saya terus memandanginya. Lalu saya lihat dia tersenyum tipis.

“Kamu cantik sekali,” kata saya lagi.

Wajahnya merah. Timbul keberanian saya. Saya mencoba meraih jemarinya yang tersembul dari selimut. Dia kaget dan menariknya. Saya hentikan serangan saya. Sesaat kemudian saya coba raih helai-helai rambutnya. Saya elus kepalanya. Dia diam. Saya makin berani.

“Kamu pernah punya pacar?”

“Sudah ahh Bapak. Nggak boleh gitu,” katanya.

Nisa bergerak-erak seperti mau bangun. Sri mencoba menengkan dengan menepuk-nepuk punggungnya. Kesempatan itu saya gunakan untuk meraih tangannya. Saya gengam. Dia diam, hanya matanya yang lurus ke arah mata saya. Saya cium tangan itu. Penis saya makin tegang. Saya ciumi punggung tangan itu, lalu telapak tangannya. Tak ada rekasi. Saya makin berani. Secepat kilat saya bergeser tempat. Kali ini di belakanganya.

“Bapak jangan gitu, ahh,” dia menepis tangan saya yang mencoba memeluknya.

“Kenapa?”

“Nggak boleh. Nanti dimarahin Ibu.”

“Kan Ibu nggak ada?”

“Nanti dibilangin sama Adik. Dik Nisa, besok bilangin ke mama, Papa nakal ya?” Sri berbicara pelan kepada Nisa.

Saya tersenyum dan kembali memeluknya. Kali ini dia diam. Saya merapatkan badan kepadanya.

Saya gesek-gesekkan penis saya ke tubuhnya. Dia menggelinjang sebentar, dan berusaha menjauh, tapi tubuhnya terantuk tubuh kecil Nisa. Saya makin beringas. Saya buka selimutnya. Saya usap kakinya. Ke atas, di paha. Dia mendesis dan berusaha menghindar.

“Saya tidur di kamar saja ahh.”

Dia mencoba bangkit tapi saya menahannya.

“Jangan.”

“Bapak nakal sih.”

Saya menghentikan aksi. Sesaat kemudian hanya tangan saya yang saya taruh di pingangnya. Dia diam saja. Lalu saya kembali memeluknya. Ahh tepatnya mendekap dia. Saya gesek-gesek pelan tangan saya di bagian perutnya. Dia tak bereaksi. Saya terus berusaha memberi rangsangan dengan menyusupkan jari saya ke kulit perutnya. Tampaknya berhasil. Dia mendesis. Tak ada perlawanan. Tangan saya merayap pelan ke atas sampai terentuh dinding yang sangat tebal. Tetek yang luar biasa besarnya. Benar-benar baru kali ini saya liat tetek sebesar ini. Saya sentuh pelan-pelan. Saya takut dia menolaknya. Tapi tidak ada reaksi.

Baru ketika saya pelan-pelan meremas, tubuhnya terlihat bergerak-gerak. Dia melenguh. Saya makin kalap. Remasan makin keras, dan menyelusuplah tangan saya ke dalam BH-nya. Tersentuh dagihg kenyal. Saya raba, saya remas. Sri menggelinjang. “Hh..” Tangannya mencengkeram tangan saya. Saya mulai menaiki tubuhnya. Sarung saya lepas. Saya hanya bercelana dalam. Sri memejamkan mata. Saya cium bibirnya dengan tangan saya tetap meremas-remas payudara besarnya. Tanpa saya duga, dia membalas ciuman saya. Bakan menghisap lidah saya dengan rakus. Bibir saya bergerak turun ke leher. Selimut telah lepas dari tubuhnya. Saya singkap kaosnya, dan akhirnya, saya lihat kutang itu terlalu kecil untuk teteknya yang super besar. Hanya dengan sekali geser. Putingnya telah tersembul. Saya cium puting itu. Saya hisap, dan saya gelitik. Dia meronta-ronta. Tangannya memeluk saya erat-erat. Lalu saya cium lagi bibirnya.

“Kamu pernah melakukan dengan cowok?” bisik saya sambil memainkan lidah di telinganya.

“Belum.”

Tangan saya bergerak ke bawah, ke celah CD-nya, mengelus-elus semak-semak lembut, dan menggelitik sebuah celah yang telah basah. Sri mencengkeram kepala saya, lalu menariknya. Dia mencium bibir saya. Melumatnya. Lidah saya disedot dengan hebatnya. Saya permainkan tangan di bawah, menyusuri sepasang bibir vagina. Kadang memutar-mutar di ujung bibir. Ketika mencoba masuk ke sebuah lubang, saya tahu, gadis ini masih perawan.

Tangan Sri telah mengcook penis saya. Mengocok dan meremas-remas dengan sangat kuatnya. Sakit. Persis seperti yang dilakukan Rosi, ipar saya di Taman KB malam itu. Saya buka CD Sri, hingga pangkal kakinya, lalu dia menendang sendiri CD itu, melayang ke dekat TV. Dia juga menarik CD saya.

“Kamu masih perawan Sri?” taya saya.

Dia mengangguk sambil terus mengocok penis sya. Kocokan yang kasar.

“Kamu mau saya masukkan ini saya?” saya memegang tangannya yang sedang mengocok penis.

Dia mengangguk. Tapi saya takut. Saya tak berani megambil keperawanannya. Biar bagaimana saya masih punya rasa kasihan. Tak tega saya. Benar-tbenar tak tega. Tapi nafsu telah menguasai kami.

“Saya ciumin saja ya?” Dia mengangguk-angguk.

Saya membalikkan tubuh saya, mengangkat kedua pahanya yang padat. Memeknya disinari cahaya TV. Saya mulai menjilati. Meskipun tercium aroma yang tidak enak, saya tidak mempedulikan. Saya terus menjilatinya. Sri mengerang-erang. Saya coba menaruh penis saya di depan mulutnya. Tapi dia hanya meremas dan mengocoknya. Ketika lidah saya makin beringas menjilati memeknya, barulah dia memasukkan penis saya di mulutnya. Saya sibakkan bibir memeknya. Saya jilat-jilat isinya, jari tengah saya mencoba menusuk pelan. Sri mengangkat pantatnya. Mulutnya menghisap-hisap penis saya. Terdengar bunyi sangat keras.

Si Nisa masih pulas tanpa terganggu perang di sebelahnya. Ketika saya merasa hendak ejakulasi, saya tarik penis saya. Saya ingin sperma saya jatuh di luar mulutnya. Serentak dengan itu saya mengulum kelentit. Sri menarik pinggul saya dan menghisap kuat penis saya. Srtt srrtt Sperma saya pu terpancar. Sri berusaha mendorong keluar tubuh saya. Tapi kali ini saya justru menekannya. Saya tidak ingin penis saya lepas dari mulutnya. Seluruh mani saya telah keluar. Sebagian telah masuk ke dalam kerongkongan Sri. Dia tampak muntah-muntah. Suaranya sangat keras. Saya jadi ketakutan. Dia menampung muntahan dengan selimutnya. Saya menjadi iba. Saya pijat-pijat tengkuknya. Beberapa saat kemudian dia mulai tenang. Saya ambilkan air, dan di meminumnya.

Dia memukuli dada saya. “Bapak nakal. Bapak nakal.” Saya lega.

“Tapi kamu masih utuh kan? Kamu tidak kehilangan mahkotamu, kamu tidak akan hamil.”

Dia tersenyum lalu beranjak menuju kamar mandi. Saya puas. Benar-benar puas.

Perseligkuhan dengan Sri saya ulangi beberapa kali. Banyak sekali kesempatan terbuka. Segalanya berjalan sangat lancar. Kami melakukannya tidak hanya ketika istri saya serang keluar kota. Tetapi juga siang hari saat istri kerja dan aku pulang diam-diam. Bedanya, Sri tak lagi mau membuka CD-nya. Dia bersedia mengulum penis saya. Jadi aku hanya berhak atas bibir dan tetek. Bagi saya itu lebih dari cukup. Saya memang tidak menginginkan memek Sri. Biarlah itu menjadi milik suaminya kelak.

Suatu saat, entah karena apa, istri saya meminta Sri keluar. Sri sangat terpukul. Dia menangis sesenggukan. Saya juga kaget dan takut. Ada apa sebenarnya? Apakah istri saya tahu yang terjadi antara saya dan Sri? Akhirnya istri saya berterus terang, sebenarnya dia tak ingin Sri keluar.

“Semua ini karena ibu,” kata istri saya kepada Sri.

Sebagai gantinya ibu telah menyediakan pembantu. Seorang perempuan yang buruk rupa. Hitam, dekil, dan udik. Hmm.

Kepada Sri istri saya mencarikan kerja di sebuah toserba yang cuku besar. Ini berkat bantuan relasi istri saya. Sri gembira bukan main meskipun sedih harus berpisah dengan Nisa. Sejak itu saya tak pernah bertemu dia lagi. Tapi berharap suatu saat bisa bertemu ketika dia telah bersuami, dan mengulang apa yang pernah kami lakukan. (Sri, jika kamu tahu, saya menunggumu)

Pembantu berikutnya yang menjadi pelampiasan narfsu saya bernama Mumun. Usianya sama dengan Sri. Meskipun tak secantik Sri, namun dia cukup menarik untuk ukuran pembantu. Pendekatan dengannya bahkan lebih lama dibandingkan yang saya lakukan terhadap Sri. Yang saya lakukan pertama adalah saya mencubit lengannya sambil lalu. Beberapa kali itu saya lakukan. Lama-lama dia berani membalas. Tentu tanpa sepengetahuan istri dan anak-anak saya. Waktu itu si sulung kelas 3 SD sedangkan si bungsu masih kecil.

Dari mencubit lengan meningkat menjadi meremas tangan. Bahkan kemudian ketika dia menunggui si kecil tidur di depan TV saya berani mencuri-curi mencium pipinya. Saya bahkan mulai merayu dan mencoba mencium bibirnya, tapi dia menolak. Saya tak menyerah, dan akhirnya berhasil. Rupanya itu ciuman pertama bagi dia, sekaligus pergumulan pertama. Saya tak berhasil menyentuh payudaranya. Apalagi memeknya. Hanya meremas kutangnya. Dia juga tidak mau memegang penis saya. Tetapi saya sempat ejakulasi.

Sejak pergumulan itu secara sembunyi-sembunyi dia memanggil saya “sayang”. Lucu. Terutama ketika saya pulang kerja. Dia ambilkan minuman dan bilang, “Minumnya sayang.” Pernah suatu ketika, saat di dapur dan saya menggodanya, dia melontarkan panggilan itu. Bersamaan dengan itu istri saya muncul. Hampir kiamat rasanya. Tapi saya lihat istri saya tidak menunjukkan kecurigaan apa-apa. Sikapnya tak berubah.

Mungkin nalurinya saja yang membuatnya mencium aroma skandal saya dengan Mumun. Akhirnya Mumun dikeluarkan dengan alasan “Tidak beres dalam bekerja.” Sejak itu saya tidak tahu kabar tentang Mumun. Pembantu-pembantu penggantinya tak ada lagi yang berwajah “layak” untuk digauli. Pernah sih ada perempuan berkulit bersih. Meski tidak cantik tapi cukup menggiurkan. Sayangnya dia telah bersuami. Suaminya seorang tukang bangunan. Saya tak berani menyentuh perempuan itu. Takut. Lagi pula perempuan itu amat santun, lemah lembut, dan sangat menyayangi kedua anak saya, sehingga saya berusaha menjaga agar perempuan itu betah bersama kami.

TAMAT

Tags : cerita panasku, cerita sexs, tante, gadis 17 tahun,memek 17 tahun,film dewasa,cerita lucu,cerita humor, ngentot foto artis bugil, bugil abg, www.gadis bugil, gadis bugil indonesia, indonesia bugil

1 komentar 23 Juni 2010

Cerita 18sx – Original Sin

Namaku Aldino, warga keturunan WNI Cina, aku mempunyai orang tua yang kaya raya, sehingga selepas kuliah aku langsung mendapat warisan salah satu perusahaan ayahku, apalagi aku anak tunggal. Pada umur 25 tahun, aku menikah dengan Nunik, adik kelasku di SMA yang sangat cantik. Waktu itu umur Nunik baru 22 tahun. Sebenarnya orang tuaku menentang pernikahan kami, karena dia anak orang miskin. Tetapi karena aku mencintainya, akhirnya mereka terpaksa menerima. Selama 5 tahun, keluargaku hidup bahagia tetapi kami belum juga dikaruniai anak. Hingga suatu saat, ayahku sakit dan aku dipanggilnya.

“Aldi, ayah sudah tua tapi ada satu hal yang membuat ayah merasa kalau hidup ini belum lengkap. Ayah mengharapkan punya cucu dari kamu, kapan kamu punya anak? Cobalah periksa ke dokter, kalau memang isteri kamu mandul, ceraikan saja, kamu menikah lagi, toh kamu masih muda.” kata ayahku.

Setelah hari itu, aku bersama isteriku ke dokter. Hasilnya bukan isteriku yang mandul, tetapi mungkin justru aku yang mandul. Hari-hari kulalui dengan merenung, tekanan dari orang tua terus kuterima. Mereka masih beranggapan isteriku pembawa sial dan mandul, padahal aku sangat mencintai isteriku.

Pada suatu hari, aku bertemu Joni Hasan, teman akrabku sewaktu di SMA yang keturunan Arab. Penampilannya masih belum berubah, rambut keriting, kulit hitam dan selalu memakai kaca mata. Pertemuan itu sedikit menghiburku, karena aku bisa curhat dan konsultasi kepadanya.

“Wah, nasibmu memang Kurang beruntung, walau kamu kaya tapi kurang bahagia, aku saja sudah punya 3 anak, dan yang besar sudah kelas 2 SD.” katanya.

Setelah pertemuan dengan temanku itu, aku kembali bertemu ayah.

“Al, aku sudah punya pilihan buat calon isterimu. Watik, anaknya mang Husni, akan kukawinkan dengan kamu kalau sampai 6 bulan ini kamu ngga ada tanda-tanda punya anak.” ancam ayahku.

Malamnya pikiranku sangat kacau, isteriku hanya pasrah kalau memang dia harus dicerai, saat lagi stres aku dan isteriku nonton VCD porno. Siapa tahu ada teknik yang baru, pikirku. Ceritanya tentang orang yang punya hutang dibayar dengan tubuh isterinya. Tiba-tiba aku punya ide, aku ingin bantuan orang lain menghamili isteriku. Yang ada dalam benakku saat itu adalah Joni. Lalu kuutarakan pada isteriku.

“Gila, kamu mas, mending ceraikan aku saja.” kata isteriku.

Aku tetap berusaha, hingga akhirnya aku mendapatkan akal dan kurundingkan dengan Joni. Kesannya memang setengah perkosaan. Hari itu aku menelpon Joni agar datang jam 8 malam ke rumahku saat aku tidak ada. Joni kuminta menggantikan peranku sebagai suami dari isteriku. Jam 7 malam, setelah makan, aku memberi minum kepada isteriku yang sudah kuberi obat perangsang. Setelah itu, biasanya aku mencumbunya dan kami siap untuk bermain cinta. Akhirnya, setelah setengah jam pemanasan, isteriku nampak terangsang berat dan tidak dapat mengendalikan birahinya. Dari bawah dasternya, kumasukkan tanganku ke dalam celana dalamnya yang sudah sangat basah.

“Ouuhh, teruus mas.” isteriku terus mengerang.

Buah dadanya yang tanpa BH terasa semakin membulat di dadaku. Tanganku yang satu meremas buah dadanya.

“Aaah.. enghh.. yaahh.. masukkan saja kontolmu mas, aku ngga tahan..”

Lalu kubuka dasternya. Tubuh isteriku memang indah sekali, tinggi 165 cm, kulit putih mulus dan wajahnya mirip Dina Lorenza. Penampilannya sangat menggairahkan, siapa pun pasti tidak menolak saat disuguhi tubuh yang montok ini.

Saat kupelorotkan celana dalamnya, tiba-tiba ada telpon yang memang sudah masuk dalam skenarioku, karena Joni kusuruh menelpon kalau sudah sampai di depan rumahku. Kepada isteriku aku membuat alasan seolah-olah ayahku menelpon dan aku disuruh ke rumahnya malam ini. Tampak sekali wajah yang kecewa pada wajah manis isteriku. Sebelum kutinggalkan isteriku, aku sempat melihat isteriku bermain sendiri dengan tangannya, lalu aku keluar dan bertemu Joni di luar.

“Kamu masuk saja, nanti alasan nyari aku, udah ya, aku nunggu di luar dulu.” pesanku pada Joni.

Lalu Joni mengetuk pintu. Setelah itu tampak isteriku membukakan pintu. Isteriku keluar dengan memakai daster tipis yang dari luar terlihat belum sempat memakai pakain dalamnya.

“Aku mau ada janjian dengan suamimu malam ini.” kata Joni.

“Dia pergi ke rumah bapak. Ngga tahu pulang jam berapa, biasanya cuman satu jam, rumahnya dekat kok.” kata isteriku.

“Kalau gitu, aku nunggu di sini saja, ya?”

“Yahh.. silakan duduk! Mau minum?”

“Boleh,” kata Joni dengan matanya terus mengawasi buah dada isteriku yang naik turun dan memperlihatkan dua titik hitam menerawang di balik daster putih tipisnya.

Setelah membuat minum, isteriku keluar lagi dan menemani Joni mengobrol.

“Wajah Kamu kelihatan memerah dan berkeringat, kamu sakit ya?” tanya Joni basa-basi, padahal isteriku baru saja horny.

“Ahh, ngga, tadi baru saja olah raga.” kata isteriku berbohong.

“Nunik, kamu kelihatan cantik lho, kalau penampilan kamu gini.”

“Kamu, bisa aja, isteri teman di rayu.”

“Benar lho, bahkan ngga cuman cantik, tapi juga seksi dan jujur saja saat ini aku terangsang sama kamu.” kata Joni to the point (langsung pada inti permasalahan).

“Kamu jangan macem-macem yah, nanti suamiku datang bisa berabe!”

Lalu Joni duduk di sebelah Nunik. Nunik agak menggeser duduknya. Dari balik jendela luar, aku terus mengintip dan mengawasi gerak-gerik mereka.

“Nik kita ada waktu satu jam, ngga ada siapa-siapa di rumah ini selain kita berdua, boleh dong aku menikmati tubuhmu?” Joni terus merayu.

“Ingat Jon, aku isteri sahabatmu, kalau kamu lancang, aku teriak lho!” tapi Nunik kelihatan berdebar saat Joni meremas tangannya.

“Santai saja sayang, kamu kan belum pernah merasakan kontol Arab. Kau lihat punyaku ini!”

Memang Joni sudah membuka restlutingnya dan kepala kejantanannya berusaha keluar. Isteriku sempat tertegun. Dalam hati pasti dia mengukur. Wah, paling tidak panjangnya 18 cm. Dengan tidak sabar, Joni memagut bibir isteriku dan tangannya terus meremas buah dada isteriku. Isteriku berusaha meronta tetapi tenaga Joni lebih kuat.

“Jangan Jon, aku isteri yang setia.” kata isteriku.

Lalu saat tangannya berhasil lepas, dia menampar muka Joni. Joni semakin beringas, dia lalu menarik tubuh isteriku dan dimasukkannya ke dalam kamar. Kemudian pintu kamar ditutup dan dikunci. Aku pun kemudian pindah mengintip dari lubang ventiasi jendela kamar. Dari luar kulihat Joni menanggalkan semua pakainnya dan batang kemaluan hitam yang panjang dan besar itu mulai berdiri dan memang lebih panjang dari punyaku.

“Sekarang kamu boleh teriak karena ngga ada yang dengar.”

“Kumohon, jangan Jon, pergilah!”

Lalu dengan kasar, Joni merobek kancing daster istriku dan terbukalah buah dadanya yang kuning ranum dengan rakus diremas dan putingnya dipilin. Tampak istriku memejamkan mata, dia berusaha menolak tetapi rangsangan obat yang kuberikan masih mempengaruhinya, karena dosisnya memang kuberikan dobel.

“Ouuhh, jangan Jon, lepaskan aku..” erangan isteriku kelihatan berubah, “Aaah, tidak..”

Lalu Joni menarik daster istriku ke bawah, maka kelihatan isteriku dan Joni sama-sama bugil.Tangan Joni segera merayap ke selangkangan Nunik. Ditusuknya kemaluan isteriku dengan jarinya yang sekali-kali diremas dan ditusuk-tusukkan.

“Aaahh, ouu, Jon,” tampak mulut isteriku terus mendesah dan merintih menikmati rangsangan yang diberikan Joni.

Sekarang tidak ada perlawanan lagi, bahkan justru tangan isteriku segera menangkap batang kemaluan Joni dan diremasnya.

Tanpa sadar isteriku membisik, “Ouuh, Jon, puaskan aku..”

Lalu Joni menghentikan aksi tangannya. Isteriku dibaringkannya di kasur, kakinya yang berjuntai di lantai dibuka lebar, nampak liang kemaluan isteriku yang merah kecoklatan berkilat karena banyaknya cairan yang keluar.

Dengan tanggap, Joni menjilati kemaluan isteriku di daerah clirotisnya. Dijilatinya terus dengan penuh nafsu.

“Enghh, yaakk terus sayaang, ouh, ahh, puaskan aku,” isteriku terus merintih semakin lama rintihannya semakin keras, aku sampai jelas mendengarnya dari luar.

“Aaahh, Joon, cukup, tusuk aku dengan punyamu sayang, pinta Nunik.”

Aku sendiri sudah mengocok kemaluanku. Lalu Joni segera berdiri dan meletakkan rudalnya yang hitam dan panjang itu di depan liang kemaluan isteriku, lalu ditusukkan ke bawah.

“Ouugh.. pelan aja sayang, punya kamu besar sekali!”

Lalu dimasukkannya lagi lebih dalam, isteriku seperti kesakitan, Joni tidak menyerah lalu ditusuknya lebih dalam dan akhirnya masuk semua.

Isteriku terus merintih, “Aaauuh.. aahh, ouuhh.”

Pantat isteriku ditariknya ke atas dengan tanganya di bawah pinggul isteriku. Lalu dipompanya liang surga istriku dengan batang kejantanannya. Gerakan naik turun itu berlangsung lama sekali. Aku melihat isteriku mengelinjang hebat, sebelumnya belum pernah seperti itu denganku.

“Aaah.. enghh.. aah.. aku mau keluar, uuh sayang,” didekapnya pinggul Joni ke bawah.

Kakinya mengejang, ternyata isteriku mengalami orgasme terlebih dulu, padahal Joni belum apa-apa.

“Gimana, kamu puas, Nik?” tanya Joni, dan isteriku hanya tersenyum.

“Mau kan kamu ganti memuaskan aku? Aku pingin kamu nungging.”

Joni segera mencabut burungnya yang panjang. Lalu dengan gaya nungging mereka melakukannya lagi.

“Clop.. clop..” bunyi dari liang nikmat Nunik yang digenjot rudal Joni.

Terlihat benda panjang hitam itu keluar masuk di tengah bongkahan pantat isteriku yang putih, aku semakin terangsang melihat pemandangan itu. Saat rudal Joni ditarik keluar, bibir liang vagina isteriku ikut merekah keluar. Dan kebalikannya, saat ditusuk ke dalam, bibir liang nikmat Nunik ikut merejut ke dalam. Irama kenikmatan tersebut diiringi oleh tangan Joni dengan terus meremas buah dada isteriku yang bergoyang-goyang. Sungguh pemandangan yang merangsang sekali.

“Ahh, ahh, ahh, ouuhh, oughh, ahh..” isteriku terus merintih penuh rangsangan, hingga akhirnya terdengar jeritan kecilnya sambil menahan pantat Joni ke depan dengan tangannya, “Auuhh..”

Bersamaan dengan itu, Joni juga mendesakkan kemaluannya ke depan dan ditahan, keduanya mengejang.

“Seerr..” cairan mani Nunik mengalir dengan derasnya, terasa oleh Joni bersamaan itu, “Crott, crott, crott..” mani Joni juga muncrat ke dalam vagina isteriku.

Nampak keduanya orgasme bersamaan. Lalu Joni melepas kejantanannya dan istirahat di samping isteriku.

“Jon, makasih yaa, aku puas sekali, tapi tolong rahasiakan ini yahh!” pinta isteriku.

“Boleh aja, asal aku boleh minta lagi nanti.”

“Terserah kamu, asal kamu bisa mengatur waktu dan merahasiakan pada suamiku dan keluarganya,” kata isteriku.

Aku yang mendengar hanya tersenyum karena sandiwara yang kubuat ternyata berhasil.

Sejak kejadian malam itu, hubunganku dengan isteriku semakin bergairah, aku malah terobsebsi saat isteriku disetubuhi laki-laki lain. Dan memang akhirnya, Nunik mengaku malam itu Joni datang memperkosa dirinya.

Lalu kutanya, “Apa kamu sampai orgasme?”

Dengan malu-malu dia mengangguk.

“Ya udah, dulu kan aku udah minta, tapi kamu menolak, kalau memang dengan Joni kamu bisa memuaskan hasratmu, sekarang juga kamu boleh telpon Joni agar malam ini bisa ngentot sama kamu.” kataku.

“Tapi mas, kamu ngga cemburu nanti?” tanya Nunik.

“Nunik sayang, aku cinta kamu, kalau memang itu membuat kamu bahagia, aku akan ikut bahagia.” aku terus meyakinkan isteriku.

Lalu dia menelpon Joni.

“Boleh, aja Nik, tapi boleh ngga aku bawa teman? Karena setelah mendengar ceritaku, dia penasaran, mau ikut menikmati tubuhmu yang montok.” tanya Joni.

“Mas, kata Joni dia akan bawa teman satu, mau ngentot bertiga, boleh ngga?” tanya Nunik.

“Terserah kamu Nik, yang penting kamu puas.” kataku.

“Halo Jon, suamiku setuju kamu bawa teman, ya udah sampai nanti malaam ya..!”

Lalu telpon ditutup isteriku. Dan Malam itu jam 19:15, Joni datang membawa teman yang kurus dan tinggi seperti orang Ambon.

“Kenalkan, ini temanku Alex dari Ambon. Dia baru saja diceraikan sama isterinya gara-gara maen sama mertuanya sendiri.” kata Joni.

“Wah, kamu jangan buka rahasia teman dong,” sergah Alex.

Lalu kami berempat tertawa. Setelah berbasa-basi, lalu aku mempersilakan kedua tamuku langsung masuk ke kamar, dan diikuti isteriku yang dari tadi sudah salah tingkah. Dengan sengaja pintu tidak ditutup, jadi aku leluasa melihat dari ruang tamu. Tampak Joni dan Alex berebutan menelanjangi isteriku. Nunik hanya diam saja, pasrah dengan apa yang diperbuat mereka, tampak tubuhnya berkeringat karena gugup. Kemudian, Joni dan Alex juga menanggalkan pakaian mereka sendiri. Setelah isteriku telanjang bulat, Joni meremasi kedua buah dada Nunik, terkadang dikenyot puting susunya. Sedangkan Alex berjongkok, tangannya beraksi di lubang surga isteriku, dirojohnya lubang itu dengan jari-jarinya, dan berlanjut terus hingga clitnya digosok-gosok sampai memerah, lalu bergantian dijilati dengan lidahnya.

“Ougghh, ahh..” isteriku terus merintih menahan nafsunya yang dari tadi ditahannya.

Sungguh pemandangan yang mempesona, saat melihat isteriku disetubuhi dua pejantan yang ukuran batang kemaluannya lebih panjang dari aku. Memang Alex mempunyai ukuran panjang batang kemaluannya 16 cm tetapi diameternya lebih besar dari pada batang kemaluannya Joni yang panjangnya 18 cm, sedang punyaku hanya 13 cm.

Tampak kemaluan isteriku semakin basah akibat rangsangan yang diterimanya. Akhirnya pertahanannya bobol juga, isteriku mengejang tidak kuat berdiri. Dia mencengkeram punggung Joni, setelah itu ambruk di kasur. Banyak sekali cairan mani yang keluar dari liang kenikmatannya. Aksi berikutnya, isteriku yang sudah telentang di kasur, tampak pasrah menerima rangsangan dari kedua laki-laki itu. Pelan-pelan Alex membentangkan kedua kaki isteriku, lalu rudalnya ditempelkan di permukaan lubang nikmat isteriku. Setelah tepat, lalu diterobosnya halangan menuju kenikmatan tersebut. Dan memang agak sulit sedikit. Sedikit demi sedikit, benda panjang hitam itu mulai membenam dan masuk ke dalam kemaluan isteriku.

“Ouughh..” isteriku melenguh panjang, tubuhnya menggelinjang hebat, mulutnya terus mendesis, “Ssshh.. uhh.. oouuhh..”

Lalu Alex bergerak maju mundur memompakan rudal besarnya ke dalam liang senggama Nunik yang sudah pasrah. Sementara itu, Joni menyodorkan kemaluannya di depan muka Nunik. Dengan gemas tangan Nunik menyambutnya dan pelan-pelan dijilatinya seperti permen Loli.

“Ouugghh..” Joni melenguh.

Tanpa disuruh, Nunik memasukkan batang kejantanan Joni ke dalam mulutnya dan Joni menggerakkannya maju mundur, terlihat kontras sekali mulut atas dan mulut bawah isteriku dimasuki batang kemaluan Joni dan Alex. Suara Ranjangku berdecit-decit saat ketiga makhluk yang sudah dipenuhi nafsu tersebut memperagakan aksinya.

“Ciitt, kreekk..”

Alex semakin lama semakin mempercepat gerakannya.

“Aahh, Uhhgg..” lalu dia mengejang, akhirnya dia orgasme duluan.

“Creett.. creett.. crett..” air maninya segera memenuhi rahim isteriku.

Setelah itu batang kejantanannya dicabut, dia ambruk di samping istriku.

“Jon.. aku belum.. puaas..” rintih isteriku.

Lalu Joni mengambil bantal dan diganjalkan di bawah pantat isteriku, maka clirotis isteriku nampak merekah keluar. Sementara banyak sekali cairan yang sudah menetes dari kemaluannya. Tidak lama benda ajaib Arab itu segera menusuk liangnya Nunik. Kemaluan yang sudah basah dan lembab itu segera dipenuhi rudal Joni. Lalu gerakan naik turun Joni membuat isteriku menggelinjang-gelinjang. Dia mengimbanginya dengan menggoyangkan pinggulnya ke kiri dan ke kanan, kadang diputarnya. Sungguh mereka mengejar kenikmatan masing-masing.

“Ouhh, sshh, aagghh, kau hebaat.. Joon..” desah isteriku, “terus.. oohh.. emhh..” isteriku terus merancu.

Kakinya digapitkan di pinggang Joni, dan akhirnya isteriku mengejang.

“Joon, aku mauu, ouuhh..” tembus juga akhirnya pertahanannya dan, “seerr.. seerr..” maninya banyak yang keluar, dia mendekap erat tubuh Joni.

Kemudian disusul Joni yang mendekap erat tubuh isteriku, dia mencapai klimaksnya.

“Aaahh..” maninya muncrat ke dalam rahim isteriku.

Malam itu mereka bermain lama sekali secara bergantian keduanya menyetubuhi isteriku hingga jam 08.00 pagi, dan lalu mereka pulang. Semenjak itu, kalau isteriku lagi mood, kubiarkan dia menelpon Joni atau alex. Pembaca, 4 bulan kemudian, oleh dokter, isteriku dinyatakan positif hamil dan orang tuaku mendengarnya dengan gembira. Kabar baik tersebut mengubah rencana, tidak jadi menikahkan aku dengan Watik.

Di dalam hati, saya hanya berpikir, “Mungkin inilah yang disebut dengan original sin.”

TAMAT

Tags : Cerita 18sx,indo bugil, bugil, ngentot foto artis bugil, bugil abg, www.gadis bugil, indonesia bugil, bugil indonesia, telanjang bugil ayu azhari, ngentot foto artis bugil ngentot, bugil anak-anak, dewadewi bugil telanjang ngewe, indonesia cewek bugil, melayu bogel gadis bugil

Add a comment 15 Mei 2010

Cerita 18sx – Profesi dan Kehormatan – 2

Dari Bagian 1

Tidak mau menyia-nyiakan kesempatan itu, aku langsung berlari secepatnya ke arah pintu, tapi lagi-lagi aku kalah cepat, Pak Burhan sudah menghadang di depanku dan langsung menghunjamkan pukulannya ke arah perutku.

“Arghh..!! Sshh.. Ouhh..” aku mengeluh kesakitan.

Kupegangi perutku, seketika itu juga, aku langsung jatuh terduduk, nafasku tersengal-sengal menahan sakit yang tak terkira. Belum hilang rasa sakitku, mereka berdua langsung menyerbu ke arahku.

“Pegangi tangannya Han..!!” seru Pak Bobby sambil mendorong tubuhku sehingga aku jatuh terjengkang di atas lantai.

Seketika itu juga Pak Burhan sudah berada di atas kepalaku dan mencengkeram kedua tanganku, sementara Pak Bobby berada di bawah tubuhku, mendekap kedua kakiku yang berusaha menendangnya. Dia sudah seperti kemasukan setan, melepasi sepatu hak tinggiku, merobek stockingku dan mencabik cabik rok yang kukenakan dan akhirnya dia merenggut dengan paksa celana dalamku, melolosinya dari kedua kakiku dan melemparkannya ke lantai.

“Lepasskann..! Lepasskan..! Tolongg.. Jangan perkosa sayaa..!” jeritanku makin keras di sela-sela keputusasaan.

Aku sudah tidak sanggup lagi menahan mereka yang sepertinya semakin bernafsu untuk memperkosaku, air mataku makin deras mengalir membasahi kedua pipiku, kupejamkan mataku, bulu kudukku langsung bergidik, aku tidak sanggup membayangkan kalau hari ini aku akan diperkosa oleh mereka.

“Jangann.. Ahh.. Tolongg..!” aku menjerit histeris saat Pak Bobby melepaskan pegangannya pada kedua kakiku.

Dia berdiri sambil melepaskan pakaiannya sendiri dengan sangat terburu-buru. Aku sadar, laki-laki ini sebentar lagi akan menggagahiku. Seketika itu juga kurapatkan kedua kakiku dan kutarik ke atas hingga menutupi sebagian dadaku, sementara kedua tanganku masih tetap di dekap erat oleh Pak Burhan. Tiba tiba Pak Bobby berjongkok, dia langsung menarik kedua kakiku, merenggangkannya dan kemudian memposisikan tubuhnya di antara kedua pangkal pahaku.

“Jangann..!!” keluhku lemah dan putus asa, sambil bertahan untuk tetap merapatkan kedua kakiku, tapi tenaga Pak Bobby jauh lebih kuat di bandingkan dengan tenagaku.

Aku terhenyak saat Pak Bobby mulai menindihku, membuatku jadi sesak dan sulit untuk bernafas, buah dadaku tertekan oleh dadanya, sementara perutnya menempel di atas perutku.

“Arghh..!! Jangann..! Sakiitt..!!” rintihku sambil berusaha menggeser pinggulku ke kiri dan ke kanan, saat kurasakan kemaluannya bergesekan dengan bibir kemaluanku.

“Sakiitt..!” aku kembali mengerang saat kepala penisnya mulai masuk ke dalam liang vaginaku.

Bersamaan dengan itu, tangan Pak Bobby bergerak, menjambak rambutku dan menariknya sehingga kepalaku terdongak, kemudian Pak Bobby dengan kasar melumat bibirku sambil terus menekankan tubuhnya ke arah selangkanganku. Kurasakan kesakitan yang luar biasa di dalam liang vaginaku saat batang penisnya terus melesak masuk menghunjam ke dalam lubang kemaluanku.

“Ahh..! Jangann..! Sakiitt..!” aku kembali menjerit dengan keras saat batang penisnya menembus dan merobek selaput daraku.

Tubuhku melenting ke atas menahan sakit yang amat sangat. Kuangkat kakiku dan kutendang-tendangkan, aku berusaha menutup kedua kakiku, tapi tetap saja batang penis itu terbenam di dalam vaginaku. Aku sungguh tersiksa dengan kesakitan yang mendera vaginaku. Kuhempaskan wajahku ke kiri dan ke kanan, membuat sebagian wajahku tertutup oleh rambutku sendiri, mataku membeliak dan seluruh tubuhku mengejang hebat. Kukatupkan mulutku, gigiku bergemeretak menahan sakit dan ngilu, nafasku seperti tercekat di tenggorokan dan tanpa sadar kucengkeram keras tangan Pak Burhan yang sedang memegang kedua tanganku.

Aku masih terus merintih dan menangis, aku terus berusaha menendang-nendangkan kedua kakiku saat Pak Bobby menarik batang penisnya sampai tinggal kepala penisnya saja yang berada di dalam liang vaginaku, lalu menghunjamkannya kembali ke dalam liang rahimku. Pak Bobby sudah benar-benar kesetanan, dia tidak peduli melihatku yang begitu kesakitan, dia terus bergerak dengan keras di dalam tubuhku, memompaku dengan kasar hingga membuat tubuhku ikut terguncang turun naik mengikuti gerakan tubuhnya.

“Ahh.. Sshh.. Lepaskann..!” jeritanku melemah saat kurasakan gerakannya makin cepat dan kasar di dalam liang kemaluanku, membuat tubuhku makin terguncang dengan keras, buah dadaku pun ikut mengeletar.

Kemudian Pak Bobby mendaratkan mulutnya di buah dadaku, menciumi dan mengulum puting payudaraku, sesekali dia menggigit puting buah dadaku dengan giginya, membuat aku kembali terpekik dan melenguh kesakitan. Kemudian mulutnya bergerak menjilati belahan dadaku dan kembali melumat bibirku, aku hanya bisa diam dan pasrah saat lidahnya masuk dan menari-nari di dalam mulutku, sepertinya dia sangat puas karena telah berhasil menggagahi dan merenggut keperawananku.

Perlahan-lahan dia menghentikan gerakannya memompa tubuhku, melesakkan kemaluannya di dalam liang vaginaku dan menahannya di sana sambil tetap memelukku dengan erat. Setelah itu dia menurunkan mulutnya ke sekitar leher dan pundakku, menjilatinya dan kemudian menyedot leherku dengan keras, membuat aku melenguh kesakitan. Cukup lama Pak Bobby menahan penisnya di dalam liang kemaluanku, dan aku dapat merasakan kemaluannya berdenyut dengan keras, denyutannya menggetarkan seluruh dinding liang vaginaku, lalu dia kembali bergerak memompa diriku, memperkosaku pelan pelan, lalu cepat dan kasar, begitu berulang ulang. Sepertinya Pak Bobby sangat menikmati pemerkosaannya terhadap diriku.

Aku meringis sambil tetap memejamkan kedua mataku, setiap gerakan dan hunjaman penisnya terasa sangat menyiksa dan menyakiti seluruh tubuhku, sampai akhirnya kurasakan mulutnya makin keras menyedot leherku dan mulai menggigitnya, aku menjerit kesakitan, tapi tangannya malah menjambak dan meremas rambutku. Tubuhnya makin rapat menyatu dengan tubuhku, dadanya makin keras menghimpit buah dadaku, membuatku makin sulit bernafas, lalu dia mengatupkan kedua kakiku dan menahannya dengan kakinya sambil terus memompa tubuhku, kemaluannya bergerak makin cepat di dalam vaginaku, kemudian dia merengkuh tubuhku dengan kuat sampai benar-benar menyatu dengan tubuhnya.

Aku sadar Pak Bobby akan berejakulasi di dalam tubuhku, mendadak aku jadi begitu panik dan ketakutan, aku tidak mau hamil karena pemerkosaan ini, pikiranku jadi begitu kalut saat kurasakan batang kemaluannya makin berdenyut-denyut tak terkendali di dalam liang rahimku.

“Jangann..! Jangan.. Di dalam..! Lepasskan..!!” jeritku histeris saat Pak Bobby menghentakkan penisnya beberapa kali sebelum akhirnya dia membenamkanya di dalam liang kemaluanku.

Seluruh tubuhnya menegang dan dia mendengus keras, bersamaan dengan itu aku meraskan cairan hangat menyemprot dan membasahi liang rahimku, Pak Bobby telah orgasme, menyemburkan sperma demi sperma ke dalam vaginaku, membuat dinding vaginaku yang lecet makin terasa perih. Aku meraung keras, tangisanku kembali meledak, kutahan nafasku dan kukejangkan seluruh otot-otot perutku, berusaha mendorong cairan spermanya agar keluar dari liang vaginaku, sampai akhirnya aku menyerah. Bersamaan dengan itu tubuh Pak Bobby jatuh terbaring lemas di atas tubuhku setelah seluruh cairan spermanya mengisi dan membanjiri liang rahimku.

Mataku menatap kosong dan hampa, menerawang langit-langit ruangan tersebut. Air mataku masih mengalir, pikiranku kacau, aku tidak tahu lagi apa yang harus kuperbuat setelah kejadian ini, kesucianku telah terenggut, kedua bajingan ini telah merenggut kegadisan dan masa depanku, tapi yang lebih menakutkanku, bagaimana jika nanti aku hamil..! Aku kembali terisak meratapi penderitaanku.

Tapi rupanya penderitaanku belum berakhir. Pak Bobby bergerak bangun, melepaskan himpitannya dari tubuhku, aku kembali merintih, menahan perih saat batang kemaluannya tertarik keluar dari liang kemaluanku. Kuangkat kepalaku, kulihat ada bercak darah bercampur dengan cairan putih di sekitar pangkal pahaku. Aku menangis, pandanganku nanar, kutatap Pak Bobby yang sedang berjalan menjauhiku dengan pandangan penuh dendam dan amarah.

Seluruh tubuhku terasa sangat lemah, kucoba untuk bangun, tapi Pak Burhan sudah berada di sampingku, dia menggerakan tangannya, menggulingkan tubuhku dan mulai menggumuli tubuhku yang menelungkup, aku diam tak bergerak saat Pak Burhan menciumi seluruh punggungku, sesaat kemudian dia bergerak ke arah belakang tubuhku, merengkuh pinggangku dan menariknya ke belakang. Aku terhenyak, tubuhku terseret ke belakang, lalu Pak Burhan mengangkat pinggulku ke atas, membuat posisiku jadi setengah merangkak, kutopang tubuhku dengan kedua tangan dan lututku, kepalaku menunduk lemas, rambut panjangku tergerai menutupi seluruh wajahku, kepanikan kembali melandaku saat kurasakan batang penisnya menempel dan bergesekan dengan bibir vaginaku.

“Linda..! Kamu memang benar-benar cantik dan seksi..” gumam Pak Burhan sambil tangannya meremasi pantatku, sementara batang penisnya terus menggesek-gesek di bibir vaginaku.

“Ahh.! Sakiitt..! Sudahh.. Sudah..! Hentikann..!! jeritku menahan sakit saat kemaluannya mulai melesak masuk ke dalam liang vaginaku.

Kuangkat punggung dan kedua lututku, menghindari hunjaman batang penisnya, tapi Pak Burhan terus menahan tubuhku, memaksaku untuk tetap membungkuk. Seluruh otot di punggungku menegang, tanganku mengepal keras, aku benar-benar tak kuasa menahan perih saat penisnya terus melesak masuk, menggesek dinding vaginaku yang masih luka dan lecet akibat pemerkosaan pertama tadi, kugigit bibirku sendiri saat Pak Burhan mulai bergerak memompa tubuhku.

“Lepasskan..! Sudah..! Hentikaann..!!” jeritku putus asa.

Nafasku kembali tersengal sengal, tapi Pak Burhan terus memompaku dengan kasar sambil tangannya meremasi pantatku, sesekali tangannya merengkuh pinggulku, menahan tubuhku yang berusaha merangkak menjauhi tubuhnya, seluruh tubuhku kembali terguncang, terombang ambing oleh gerakannya yang sedang memompaku.

Tiba tiba kurasakan wajahku terangkat, kubuka mataku dan kulihat Pak Bobby berjongkok di depanku, meraih daguku dan mengangkatnya, Pak Bobby tersenyum menatapku dengan wajah penuh kemenangan, menatap buah dadaku yang menggantung dan menggeletar, meremasnya dengan kasar, lalu Pak Bobby mendekatkan wajahnya, menyibakkan rambutku yang tergerai, sesaat kemudian, mulutnya kembali melumat bibirku, mataku terpejam, air mataku kembali meleleh saat mulutnya dengan rakus menciumi bibirku.

“Ahh..!!” aku terpekik pelan saat Pak Burhan menyentakkan tubuhnya dan menekanku dengan kuat.

Batang penisnya terasa berdenyut keras di dalam lubang kemaluanku, lalu kurasakan cairan hangat kembali menyembur di dalam liang rahimku, aku menyerah, aku sudah tidak punya kekuatan lagi untuk melawan, kubiarkan saja Pak Burhan menyemburkan dan mengisi liang kemaluanku dengan cairan spermanya.

“Periihh..!!” rintihku pelan.

Pak burhan masih sempat menghunjamkan kemaluannya beberapa kali lagi ke dalam liang vaginaku, menghabiskan sisa sisa ejakulasinya di dalam liang rahimku sebelum akhirnya dia menariknya keluar melewati bibir vaginaku yang semakin terasa perih.

Sedetik kemudian satu kepalan tangan mendarat di wajahku. Aku terlempar ke samping, pandanganku berkunang kunang, lalu gelap. Aku jatuh pingsan. Saat siuman aku temukan foto-foto telanjangku berserakan di samping tubuhku dengan sebuah pesan..

“Pastikan..! Hanya Kita Bertiga yang Tahu..!!”

Hari itu juga aku kembali pulang ke Jakarta dengan membawa penderitaan yang amat berat, sesuatu yang paling berharga telah hilang dari diriku dirampas oleh kebiadaban mereka.

TAMAT

Tags : Cerita 18sx,galeri artis bugil, koleksi cowok bugil, foto bugil, artis bugil indonesia majalah popular, dian sastro bugil, gadis indonesia bugil, cewek indonesia bugil, artis bugil, indo bugil, bugil, ngentot foto artis bugil, bugil abg, www.gadis bugil, gadis bugil indonesia, indonesia bugil

2 komentar 13 Mei 2010

Cerita 18sx – Kisah dengan Tetangga 1: Hesti – 1

Sejak remaja, mungkin sejak aku duduk di kelas 3 SMP, aku punya keinginan yang sangat kuat untuk menikmati tubuh wanita. Namun waktu itu aku tidak punya keberanian untuk melakukan atau bahkan sekedar memulai pembicaraan, maklum pengalaman masih nol besar.

Ada beberapa tetanggaku yang sering menjadi fantasiku untuk melepaskan hasrat seksualku. Statusnya tidak menjadi masalah, tapi yang jelas seleraku memang perempuan yang usianya di atasku. Salah satunya adalah Hesti, seorang gadis yang usianya enam tahun di atasku. Rumahnya berselang lima rumah dari rumahku.

Kabar angin yang beredar mengatakan bahwa ia sudah tidak perawan lagi. Kupikir mungkin saja, karena ia sangat sering keluar malam dengan temannya yang berdandan menor. Mungkin kalau istilah sekarang ia boleh disebut penggemar dugem.

Pada waktu itu di kampungku masih ada beberapa keluarga yang menggunakan kayu bakar untuk memasak. Kadang Hesti membantu tetangga sebelah untuk membelah kayu bakar. Ia paling sering mengenakan daster longgar, sehingga kalau sedang membungkuk membelah kayu bakar buah dadanya kelihatan menggantung seakan mau jatuh. Kalau sudah begitu aku mulai mendekat dan berlagak seolah ikut membantu merapikan kayu bakar. Namun begitu aku hanya berbicara dengannya seperlunya saja, tidak berani atau tidak kepikiran untuk menggoda lebih jauh.

Ketika aku duduk di SMA, Hesti pergi ke Jakarta dan akupun segera melupakannya. Sampai aku lulus kuliahpun boleh dibilang kami tidak pernah bertemu lagi. Paling kalau lebaran hanya ketemu di jalan sambil bersalaman.

*****

Aku mengambil cuti dan pulang kampung untuk menyelesaikan beberapa urusan. Tiga hari aku di kampung dan urusanpun selesai. Rasanya jadi asing juga di kampung. Teman sebaya sudah tidak ada lagi, semua pergi merantau. Anak-anak remaja yang ada sekarang aku tidak banyak mengenalnya karena dulu mereka masih kecil-kecil.

Aku naik bus AC yang akan berangkat ke Jakarta. Penumpang masih terlihat sepi, bus hanya terisi dua pertiganya saja. Mungkin karena bukan musim liburan. Aku duduk menyandar di jendela dan memperhatikan ke luar.

Tiba-tiba ada seorang perempuan yang meletakkan tas ke bagasi di atasku dibantu oleh kernet bus. Kuperhatikan sekilas tidak ada yang istimewa. Perempuan itu mengenakan celana hitam dengan kaus pink longgar. Jaketnya diikatkan di pinggangnya. Namun ketika ia mengatur tasnya di bagasi, otomatis dadanya kelihatan lebih membusung. Hmmh, mata nakalku mulai menikmati pemandangan ini.

“Maaf Pak, boleh saya yang duduk di dekat jendela?” tanya perempuan itu ramah.

“Oh.. Silakan saja. Saya nggak masalah duduk di mana saja kok,” sahutku cepat sambil berdiri dan mempersilakannya duduk di dekat jendela.

Lima belas menit kemudian bus diberangkatkan.

“Kemana Mbak?” tanyaku mengawali pembicaraan.

“Ke Jakarta, Mas sendiri ke mana?”

“Sama, ke Jakarta juga. Jakartanya di mana Mbak?”.

“Di Sawangan, Depok”.

Lumayan jauh juga dari Pulogadung. Bus yang kami naiki hanya sampai di Pulogadung. Kuhitung-hitung kalau perjalanan lancar kami bisa sampai di Jakarta jam 02.00. Terlalu malam untuk seorang perempuan.

“Emang di sini tinggal di mana, Mbak?”

Ia menyebutkan nama kampungnya. Aku tercekat, lho itu kan kampungku juga. Dengan mencuri-curi kuperhatikan perempuan ini lebih teliti. Mukanya sih mirip Hesti, tetanggaku.

“Mas tinggal di mana?”

Kusebutkan sebuah nama kampung, asal saja. Aku belum ingin dikenalnya.

“Oh ya, saya Anto,” kataku sambil mengulurkan tangan. Aku tidak menyembunyikan namaku, karena toh banyak orang lain yang namanya Anto.

“Hestini, boleh panggil Tini saja”.

Akhirnya kupastikan bahwa perempuan di sampingku ini adalah Hesti tetanggaku.

“Mbak Hesti, eh sorry Tini. Kok sendirian aja?”

Ia mengamatiku sekilas, mungkin terkejut juga dipangil dengan nama Hesti.

“Iya, suami lagi sibuk, nggak bisa ambil cuti. Ini tadi habis nengok anak yang dititip sama neneknya”.

Sekitar jam tujuh malam bus sampai di daerah perbatasan Tegal-Cirebon dan berhenti di sebuah rumah makan. Aku turun dan tujuan pertamaku ke toilet untuk buang air kecil. Kulihat Hesti juga sedang antre di toilet wanita. Kutunggu dia dan kuajak untuk makan. Kami makan sedikit saja untuk sekedar mengisi perut agar tidak masuk angin.

Tak lama kemudian bus pun segera berangkat kembali menuju ke Jakarta. Lampu di dalam bus dimatikan, tinggal lampu kecil di dekat toilet saja yang menyala redup. Hesti menggeliat, menggoyangkan badan dan mengenakan jaketnya.

“Dingin ya Mbak Hes.. Eh sorry, bagaimana kalau kupanggil Hesti saja”.

“Terserah Mas saja..”

Kami berdiam diri beberapa saat.

“Sampai Pulogadung jam berapa ya Mas?”

“Kalau lancar jam satu atau jam dua dinihari sudah masuk”.

“Aduhh, gimana ya. Terlalu malam kalau harus nyambung lagi ke Sawangan”.

“Tunggu saja di terminal sampai agak terang barulah berangkat. Kalau masih gelap resiko lho Mbak,” kataku menenangkan.

Penumpang yang lain sudah tertidur. Hesti menguap lebar dan menutup mulut dengan tangannya.

“Ngantuk?” tanyaku.

“He.. Eh,” jawabnya singkat.

“Silakan tidur saja,” kataku sambil menggeser tubuhku agar ia memperoleh tempat yang lebih lebar.

Ia pun kemudian tidur dengan kepala menempel di jendela. Karena guncangan-guncangan di kendaraan, maka kepalanya bergeser dan menyender di bahuku. Aku mulai berpikir dan mengingat masa lalu ketika kuintip buah dadanya dari balik dasternya yang longgar. Kelihatan tidurnya lelap sekali, mungkin kecapekan.

Tangannya yang tadinya disilangkan di depan dadanya mulai lepas dan telapak tangannya menyentuh pahaku. Aliran listrik di tubuhku yang tadinya lemah mulai menguat. Tangannya kuangkat pelan sehingga akhirnya kubuat menggayut di lenganku. Ia masih diam saja dan aku pura-pura juga tidur. Namun pikiran-pikiran lain terus menggangguku.

Hesti menggeliat dan membuka matanya.

“Hh.. Sampai di mana kita?”

“Baru masuk Sukamandi, tidur saja lagi”.

Ia menggerakkan tangannya dan kemudian baru tersadar kalau tangannya dalam posisi memeluk lenganku.

“Sorry.. Nggak sengaja, habis tadi ketiduran. Tapi enak juga tidur sambil memeluk lengan”.

Ia menarik lengannya. Aku hanya tersenyum saja.

“Boleh kok memeluk lenganku lagi kalau mau,” kataku.

“Ihh maunya deh,” katanya sambil mencubit pahaku. Namun kemudian tangannya disusupkan ke bawah lenganku dan kembali ia memeluk lenganku.

“Sebentar.. Sebentar, gini saja supaya lebih nyaman,” kataku. Kulepaskan lengan kiriku dari pelukannya dan kulingkarkan ke belakang bahunya. Ia tersenyum dan mengusap pipiku dengan jarinya. Jaketnya dilepas dan diletakkan di pangkuannya.

Kini kepalanya menyandar di dadaku. Kuusap-usap bahunya dengan lembut. Ia mendesah lirih dan napasnya terdengar mulai berat dan tertahan. Aku tahu Hesti sudah merasa aman dan nyaman di pelukanku. Tangan kiriku mulai menyusup dari bawah lengan kirinya dan ujung jariku sudah menyentuh pangkal buah dadanya. Ia sedikit mengangkat tangan kirinya memberikan kesempatan kepadaku untuk berbuat lebih jauh lagi. Kepalanya agak mendongak sehingga napasnya hangat menyapu leherku.

Tangan kiriku mulai membuat gerakan berputar di pangkal buah dada kirinya dan terus menuju ke arah putingnya. Jaketnya digeser ke atas pahaku dan tangannya mulai mengusap-usap bagian dalam pahaku, kadang penisku juga diusap dan diremas dari luar celanaku. Dari Ciasem sampai masuk ke terminal Pulogadung kami terus melakukan rabaan dan usapan. Dinginnya AC di dalam bus sudah tidak terasa lagi.

Sebelum masuk ke Pulogadung aku sudah melepaskan pelukanku dan merapikan pakaian. Tak lama lampu dinyalakan dan bus segera masuk ke terminal. Turun dari bus kami disambut dengan hujan rintik-rintik. Kami berteduh di bawah shelter. Kupeluk lagi tubuh Hesti.

“Gimana Hes, kita mau tunggu di sini atau..”

“Ngapain hujan-hujanan di sini. Kita tuntaskan saja apa yang tadi sudah kita mulai sampai besok agak siangan,” ia menukasku dan kemudian mencubit pinggangku. Kutatap matanya untuk meyakinkan diriku.

“Tidak usah malu, aku tahu kamu juga menginginkannya kan?” ia berbisik di telingaku.

Kami segera naik ke sebuah taksi dan meluncur ke bilangan Kampung Melayu untuk menyelesaikan urusan kami.

Tak lama kemudian kami sudah berada di kamar hotel. Mukaku terasa kotor dan dengan bercelana dalam saja aku masuk ke kamar mandi untuk sekedar cuci muka dan menggosok gigi. Tidak afdhal rasanya bercinta dengan mulut yang kurang bersih. Aku sudah berpikir mau mandi tetapi Hesti menyusulku masuk ke kamar mandi dan memelukku dari belakang. Tangannya mengusap dadaku dan kepalanya dan pipinya ditempelkan di punggungku. Sebentar kemudian ia melepaskan pelukannya.

“Cuci penismu dengan sabun sampai bersih dan pinjam sikatmu To,” katanya.

Ha? Kalau dipikir pinjam meminjam sikat gigi tidak hygienis, namun sebentar lagi toh kami juga akan bertukar liur. Jadi apa bedanya? Kuberikan sikat gigiku dan iapun menggosok giginya. Kalau soal cuci penis, tentu saja itu sebuah ritual wajib. Aku keluar dari kamar mandi dan berbaring di ranjang. Tak lama Hestipun menyusulku dan berbaring di sebelahku.

Kupeluk dia dan dengan cepat kucium bibirnya. Iapun membalasku dengan penuh gairah. Kuremas dadanya dan kausnya kusingkapkan sampai ke atas buah dadanya. Kubuka seluruh pakaian Hesti dan kini tinggal pakaian dalam saja yang melekat di tubuh kami. Kupandangi sejenak wanita di sampingku ini. Kulitnya tidak begitu putih dengan dada yang sedang tapi masih terlihat kencang.

Dalam keremangan kamar kulihat Hesti menggerak-gerakkan bibirnya untuk menggodaku. Aku mulai mendekatkan bibirku pada bibirnya. Sedikit bau keringat di tubuh kami memancarkan daya rangsang tersediri.

Diterkamnya tubuhku dan ia naik di atas tubuhku. Kemudian dengan cepat kulumat bibir Hesti dan ia mulai terbawa permainan bibirku dan segera membalas lumatanku dengan penuh gairah. Kemudian tanganku mulai bermain di dadanya, menyusup di balik bra-nya. Buah dadanya masih kencang dan bulat, setelah itu langsung kuremas dan kupilin putingnya. Nafas kami mulai berkejaran.

“Eehh..,. Ouhh.” Lehernya kukecup dan kujilat.

Tanganku segera bergerak ke punggungnya dan membuka kancing bra-nya. Dengan usapan lembut di bahunya, tanganku dengan pelan melepas tali branya. Buah dadanya yang bulat segera mencuat keluar. Putingnya kecil berwarna coklat muda dan agak keras.
Ke Bagian 2

Tags : cerita 18sx, cerita sexs, tante, gadis 17 tahun,memek 17 tahun,film dewasa,cerita lucu,cerita humor, ngentot foto artis bugil, bugil abg, www.gadis bugil, gadis bugil indonesia, indonesia bugil

1 komentar 23 April 2010

Halaman

Kategori

Tautan

Meta

Kalender

Agustus 2014
S S R K J S M
« Jul    
 123
45678910
11121314151617
18192021222324
25262728293031

Posts by Month

Posts by Category

 
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.