Arsip untuk April 2010




Cerita 18sx – Kegilaan di Lift Kampus

Pengalamanku yang satu ini terjadi ketika masih kuliah semester empat, kira-kira empat tahun yang lalu. Waktu itu aku harus mengambil sebuah mata kuliah umum yang belum kuambil, yaitu kewiraan. Kebetulan waktu itu aku kebagian kelas dengan fakultas sipil, agak jauh dari gedung fakultasku, di sana mahasiswanya mayoritas cowok pribumi, ceweknya cuma enam orang termasuk aku. Tak heran aku sering menjadi pusat perhatian cowok-cowok di sana, beberapa bahkan sering curi-curi pandang mengintip tubuhku kalau aku sedang memakai pakaian yang menggoda, aku sih sudah terbiasa dengan tatapan-tatapan liar seperti ini, terlebih lagi aku juga cenderung eksibisionis, jadi aku sih cuek-cuek aja.

Hari itu mata kuliah yang bersangkutan ada kuliah tambahan karena dosennya beberapa kali tidak masuk akibat sibuk dengan kuliah S3-nya. Kuliah diadakan pada jam lima sore. Seperti biasa kalau kuliah tambahan pada jam-jam seperti ini waktunya lebih cepat, satu jam saja sudah bubar. Namun bagaimanapun saat itu langit sudah gelap hingga di kampus hampir tidak ada lagi mahasiswa yang nongkrong.

Keluar dari kelas aku terlebih dulu ke toilet yang hanya berjarak empat ruangan dari kelas ini untuk buang air kecil sejenak, serem juga nih sendirian di WC kampus malam-malam begini, tapi aku segera menepis segala bayangan menakutkan itu. Setelah cuci tangan aku buru-buru keluar menuju lift (di tingkat lima). Ketika menunggu lift aku terkejut karena ada yang menyapa dari belakang. Ternyata mereka adalah tiga orang mahasiswa yang juga sekelas denganku tadi, yang tadi menyapaku aku tahu orangnya karena pernah duduk di sebelahku dan mengobrol sewaktu kuliah, namanya Adi, tubuhnya kurus tinggi dan berambut jabrik, mukanya jauh dari tampan dengan bibir tebal dan mata besar. Sedangkan yang dua lagi aku tidak ingat namanya, cuma tahu tampang, belakangan aku tahu yang rambutnya gondrong dikuncir itu namanya Syaiful dan satunya lagi yang mukanya mirip Arab itu namanya Rois, tubuhnya lebih berisi dan kekar dibandingkan Adi dan Syaiful yang lebih mirip pemakai narkoba.

“Kok baru turun sekarang Ci?” sapa Adi berbasa-basi.

“Abis dari WC, lu orang juga ngapain dulu?” jawabku.

“Biasalah, ngerokok dulu bentar” jawabnya.

Lift terbuka dan kami masuk bersama, mereka berdiri mengelilingiku seperti mengepungku hingga jantungku jadi deg-degan merasakan mata mereka memperhatikan tubuhku yang terbungkus rok putih dari bahan katun yang menggantung di atas lutut serta kaos pink dengan aksen putih tanpa lengan. Walau demikian, terus terang gairahku terpicu juga dengan suasana di ruangan kecil dan dengan dikelilingi para pria seperti ini hingga rasa panas mulai menjalari tubuhku.

“Langsung pulang Ci?” tanya Syaiful yang berdiri di sebelah kiriku.

“Hemm” jawabku singkat dengan anggukan kepala.

“Jadi udah gak ada kegiatan apa-apa lagi dong setelah ini?” si Adi menimpali.

“Ya gitulah, paling nonton di rumah” jawabku lagi.

“Wah kebetulan.. Kalo gitu lu ada waktu sebentar buat kita dong!” sahut Syaiful.

“Eh.. Buat apa?” tanyaku lagi.

Sebelum ada jawaban, aku telah dikagetkan oleh sepasang tangan yang memelukku dari belakang dan seperti sudah diberi aba-aba, Rois yang berdiri dekat tombol lift menekan sebuah tombol sehingga lift yang sedang menuju tingkat dua itu terhenti. Tas jinjingku sampai terlepas dari tanganku karena terkejut.

“Heh.. Ngapain lu orang?” ujarku panik dengan sedikit rontaan.

“Hehehe.. Ayolah Ci, having fun dikit kenapa? Stress kan, kuliah seharian gini!” ucap Adi yang mendekapku dengan nafas menderu.

“Iya Ci, di sipil kan gersang cewek nih, jarang ada cewek kaya lo gini, lu bantu hibur kita dong” timpal Rois.

Srr.. Sesosok tangan menggerayang masuk ke dalam rok miniku. Aku tersentak ketika tangan itu menjamah pangkal pahaku lalu mulai menggosok-gosoknya dari luar.

“Eengghh.. Kurang ajar!” ujarku lemah. Aku sendiri sebenarnya menginginkannya, namun aku tetap berpura-pura jual mahal untuk menaikkan derajatku di depan mereka.

Mereka menyeringai mesum menikmati ekpresi wajahku yang telah terangsang. Rambutku yang dikuncir memudahkan Adi menciumi leher, telinga dan tengkukku dengan ganas sehingga birahiku naik dengan cepat. Rois yang tadinya cuma meremasi dadaku dari luar kini mulai menyingkap kaosku lalu cup bra-ku yang kanan dia turunkan, maka menyembullah payudara kananku yang nampak lebih mencuat karena masih disangga bra. Diletakkannya telapak tangannya di sana dan meremasnya pelan, kemudian kepalanya mulai merunduk dan lidahnya kurasakan menyentuh putingku.

Sambil menyusu, tangannya aktif mengelusi paha mulusku. Tanpa kusadari, celana dalamku kini telah merosot hingga ke lutut, pantat dan kemaluanku terbuka sudah. Jari-jari Syaiful sudah memasuki vaginaku dan menggelitik bagian dalamnya. Tubuhku menggelinjang dan mendesah saat jarinya menemukan klitorisku dan menggesek-gesekkan jarinya pada daging kecil itu.

Aku merasakan sensasi geli yang luar biasa sehingga pahaku merapat mengapit tangan Syaiful. Rasa geli itu juga kurasakan pada telingaku yang sedang dijilati Adi, hembusan nafasnya membuat bulu kudukku merinding. Tangannya menjalar ke dadaku dan mengeluarkan payudaraku yang satu lagi. Diremasinya payudara itu dan putingnya dipilin-pilin, kadang dipencet atau digesek-gesekkan dengan jarinya hingga menyebabkan benda itu semakin membengkak. Tubuhku serasa lemas tak berdaya, pasrah membiarkan mereka menjarah tubuhku.

Melihatku semakin pasrah, mereka semakin menjadi-jadi. Kini Rois memagut bibirku, bibir tebal itu menyedot-nyedot bibirku yang mungil, lidahnya masuk ke mulutku dan menjilati rongga di dalamnya, kubalas dengan menggerakkan lidahku sehingga lidah kami saling jilat, saling hisap, sementara tangannya sudah meremas bongkahan pantatku, kadang jari-jarinya menekan anusku. Tonjolan keras di balik celana Adi terasa menekan pantatku. Secara refleks aku menggerakkan tanganku ke belakang dan meraba-raba tonjolan yang masih terbungkus celana itu.

Payudara kananku yang sudah ditinggalkan Rois jadi basah dan meninggalkan bekas gigitan kini beralih ke tangan Adi, dia kelihatan senang sekali memainkan putingku yang sensitif, setiap kali dia pencet benda itu dengan agak keras tubuhku menggelinjang disertai desahan. Si Syaiful malah sudah membuka celananya dan mengeluarkan penisnya yang sudah tegang. Masih sambil berciuman, kugerakkan mataku memperhatikan miliknya yang panjang dan berwarna gelap tapi diameternya tidak besar, ya sesuailah dengan badannya yang kerempeng itu.

Diraihnya tanganku yang sedang meraba selangkangan Adi ke penisnya, kugenggam benda itu dan kurasakan getarannya, satu genggamanku tidak cukup menyelubungi benda itu, jadi ukurannya kira-kira dua genggaman tanganku.

“Ini aja Ci, burung gua kedinginan nih, tolong hangatin dong!” pintanya.

“Ahh.. Eemmhh!” desahku sambil mengambil udara begitu Rois melepas cumbuannya.

“Gua juga mau dong, udah gak tahan nih!” ujar Rois sambil membuka celananya.

Wow, sepertinya dia memang ada darah Arab, soalnya ukurannya bisa dibilang menakjubkan, panjang sih tidak beda jauh dari Syaiful tapi yang ini lebih berurat dan lebar, dengan ujungnya yang disunat hingga menyerupai helm tentara. Jantungku jadi tambah berdegup membayangkan akan ditusuk olehnya, berani taruhan punya si Adi juga pasti kalah darinya.

Adi melepaskan dekapannya padaku untuk membuka celana, saat itu Rois menekan bahuku dan memintaku berlutut. Aku pun berlutut karena kakiku memang sudah lemas, kedua penis tersebut bagaikan pistol yang ditodongkan padaku, tidak.. bukan dua, sekarang malah tiga, karena Adi juga sudah mengeluarkan miliknya. Benar kan, milik Rois memang paling besar di antara ketiganya, disusul Adi yang lebih berisi daripada Syaiful. Mereka bertiga berdiri mengelilingiku dengan senjata yang mengarah ke wajahku.

“Ayo Ci, jilat, siapa dulu yang mau lu servis”

“Yang gua aja dulu Ci, dijamin gue banget!”

“Ini aja dulu Ci, gua punya lebih gede, pasti puas deh!”

Demikian mereka saling menawarkan penisnya untuk mendapat servis dariku seperti sedang kampanye saja, mereka menepuk-nepuk miliknya pada wajah, hidung, dan bibirku sampai aku kewalahan menentukan pilihan.

“Aduh.. Iya-iya sabar dong, semua pasti kebagian.. Kalo gini terus gua juga bingung dong!” kataku sewot sambil menepis senjata mereka dari mukaku.

“Wah.. Marah nih, ya udah kita biarin Citra yang milih aja, demokratis kan?” kata Syaiful.

Setelah kutimbang-timbang, tangan kiriku meraih penis Syaiful dan yang kanan meraih milik Rois lalu memasukkannya pelan-pelan ke mulut.

“Weh.. Sialan lu, gua cuma kebagian tangannya aja!” gerutu Syaiful pada Rois yang hanya ditanggapinya dengan nyengir tanda kemenangan.

“Wah gua kok gak diservis Ci, gimana sih!” Adi protes karena merasa diabaikan olehku.

Sebenarnya bukan mengabaikan, tapi aku harus memakai tangan kananku untuk menuntun penis Rois ke mulutku, setelah itu barulah kugerakkan tanganku meraih penis Adi untuk menenangkannya. Kini tiga penis kukocok sekaligus, dua dengan tangan, satu dengan mulut.

Lima belas menit lewat sudah, aku ganti mengoral Adi dan Rois kini menerima tanganku. Tak lama kemudian, Syaiful yang ingin mendapat kenikmatan lebih dalam melepaskan kocokanku dan pindah berlutut di belakangku. Kaitan bra-ku dibukanya sehingga bra tanpa tali pundak itu terlepas, begitu juga celana dalam hitamku yang masih tersangkut di kaki ditariknya lepas. Lima menit kemudian tangannya menggerayangi payudara dan vaginaku sambil menjilati leherku dengan lidahnya yang panas dan kasar. Pantatku dia angkat sedikit sampai agak menungging.

Kemudian aku menggeliat ketika kurasakan hangat pada liang vaginaku. Penis Syaiful telah menyentuh vaginaku yang basah, dia tidak memasukkan semuanya, cuma sebagian dari kepalanya saja yang digeseknya pada bibir vaginaku sehingga menimbulkan sensasi geli saat kepalanya menyentuh klitorisku.

“Uhh.. Nakal yah lu!” kataku sambil menengok ke belakang.

“Aahh..!” jeritku kecil karena selesai berkata demikian Syaiful mendorong pinggulnya ke depan sampai penis itu amblas dalam vaginaku.

Dengan tangan mencengkeram payudaraku, dia mulai menggenjot tubuhku, penisnya bergesekan dengan dinding vaginaku yang bergerinjal-gerinjal. Aku tidak bisa tidak mengerang setiap kali dia menyodokku.

“Hei Ci, yang gua jangan ditinggalin nih” sahut Adi seraya menjejalkan penisnya ke mulutku sekaligus meredam eranganku.

Aku semakin bersemangat mengoral penis Adi sambil menikmati sodokan-sodokan Syaiful, penis itu kuhisap kuat, sesekali lidahku menjilati ‘helm’nya. Jurusku ini membuat Adi blingsatan tak karuan sampai dia menekan-nekan kepalaku ke selangkangannya. Kocokanku terhadap Rois juga semakin dahsyat hingga desahan ketiga pria ini memenuhi ruangan lift.

Teknik oralku dengan cepat mengirim Adi ke puncak, penisnya seperti membengkak dan berdenyut-denyut, dia mengerang dan meremas rambutku..

“Oohh.. Anjing.. Ngecret nih gua!!”

Muncratlah cairan kental itu di mulutku yang langsung kujilati dengan rakusnya. Keluarnya banyak sekali sehingga aku harus buru-buru menelannya agar tidak tumpah. Setelah lepas dari mulutku pun aku masih menjilati sisa sperma pada batangnya. Rois memintaku agar menurunkan frekuensi kocokanku.

“Gak usah buru-buru..” demikian katanya.

“Cepetan Ful, kita juga mau ngerasain memeknya, kebelet nih!” kata Rois pada Syaiful.

“Sabar jek.. Uuhh.. Nanggung dikit lagi.. Eemmhh!” jawab Syaiful dengan terengah-engah.

Genjotan Syaiful semakin kencang, nafasnya pun semakin memburu menandakan bahwa dia akan orgasme. Kami mengatur tempo genjotan agar bisa keluar bersama.

“Uhh.. Uhh.. Udah mau Ci, boleh di dalam gak?” tanyanya.

“Jangan.. gue lagi subur.. Ah.. Aahh!!” desahku bersamaan dengan klimaks yang menerpa.

“Hei, jangan sembarangan buang peju, ntar gua mana bisa jilatin memeknya!” tegur Adi.

Syaiful menyusul tak sampai semenit kemudian dengan meremas kencang payudaraku hingga membuatku merintih, kemudian dia mencabut penisnya dan menumpahkan isinya ke punggungku.

“Ok, next please” Syaiful mempersilakan giliran berikut.

Adi langsung menyambut tubuhku dan memapahku berdiri. Disandarkannya punggungku pada dinding lift lalu dia mencium bibirku dengan lembut sambil tangannya menelusuri lekuk-lekuk tubuhku, kami ber-french kiss dengan panasnya. Serangan Adi mulai turun ke payudaraku, tapi cuma dia kulum sebentar, lalu dia turun lagi hingga berjongkok di depan vaginaku. Gesper dan resleting rokku dia lucuti hingga rok itu merosot jatuh. Dia menatap dan mengendusi vaginaku yang tertutup rambut lebat itu, tangan kanannya mulai mengelusi kemaluanku sambil mengangkat paha kiriku ke bahunya. Jari-jarinya mengorek liang vaginaku hingga mengenai klitoris dan G-spotku.

“Sshh.. Di.. Oohh.. Aahh!!” desisku sambil meremas rambutnya ketika lidahnya mulai menyentuh bibir vaginaku.

Aku mengigit-gigit bibir menikmati jilatan Adi pada vaginaku, lidahnya bergerak-gerak seperti ular di dalam vaginaku, daging kecil sensitifku juga tidak luput dari sapuan lidah itu, kadang diselingi dengan hisapan. Hal ini membuat tubuhku menggeliat-geliat, mataku terpejam menghayati permainan ini. Tiba-tiba kurasakan sebuah gigitan pelan pada puting kiriku, mataku membuka dan menemukan kepala Syaiful sudah menempel di sana sedang mengenyot payudaraku. Rois berdiri di sebelah kananku sambil meremas payudaraku yang satunya.

“Ci, toked lu gede banget sih, ukuran BH-nya berapa nih?” tanyanya.

“Eenngghh.. Gua 34B.. Mmhh!” jawabku sambil mendesah.

“Udah ada pacar lo Ci?” tanyanya lagi.

Aku hanya menggeleng dengan badan makin menggeliat karena saat itu lidah Adi dengan liar menyentil-nyentil klitorisku. Sensasi ini ditambah lagi dengan Rois yang menyapukan lidahnya yang tebal ke leher jenjangku dan mengelusi pantatku. Sebelum sempat mencapai klimaks, Adi berhenti menjilat vaginaku. Dia mulai berdiri dan menyuruh kedua temannya menyingkir dulu.

“Minggir dulu jek.. Gua mo nyoblos nih! Walah.. Nih toked jadi bau jigong lu gini Ful!” omelnya pada Syaiful yang hanya ditanggapi dengan seringainya yang mirip kuda nyengir.

Paha kiriku diangkat hingga pinggang, lalu dia menempelkan kepala penisnya pada bibir vaginaku dan mendorongnya masuk perlahan-lahan.

“Ooh.. Di.. Aahh.. Ahh!” desahku dengan memeluk erat tubuhnya saat dia melakukan penetrasi.

“Aakkhh.. Yahud banget memek lu Ci.. Seret-seret basah!”

Kemudian Adi mulai memompa tubuhku, rasanya sungguh sulit dilukiskan. Penis kokoh itu menyodok-nyodokku dengan brutal sampai tubuhku terlonjak-lonjak, keringat yang bercucuran di tubuhku membasahi dinding lift di belakangku. Eranganku kadang teredam oleh lumatan bibirnya terhadapku. Senjatanya keluar-masuk berkali-kali hingga membuat mataku merem-melek merasakan sodokan yang nikmat itu. Aku pun ikut maju mundur merespons serangannya. Saat itu kedua temannya hanya menonton sambil memegangi senjata masing-masing, mereka juga menyoraki Adi yang sedang menggenjotku seolah memberi semangat.

Sementara dia berpacu di antara kedua pahaku, aku mulai merasakan klimaks yang akan kembali menerpa. Tubuhku bergetar hebat, pelukanku terhadapnya juga semakin erat. Akhirnya keluarlah desahan panjang dari mulutku bersamaan dengan melelehnya cairan kewanitaanku lebih banyak daripada sebelumnya. Namun dia masih bersemangat menggenjotku, bahkan bertambah kencang dan bertenaga, nafasnya yang menderu-deru menerpa wajahku.

“Uuhh.. Uuh.. Ci.. Yeeahh.. Hampir!” geramnya di dekat wajahku.

Tubuhnya berkelojotan diiringi desahan panjang, kemudian ditariknya penisnya lepas dari vaginaku dan menyemprotlah isinya di perutku. Dia pun lalu ambruk ke depanku sambil memagut bibirku mesra. Karena Adi melepaskan pegangannya terhadapku, pelan-pelan tubuhku merosot hingga terduduk bagai tak bertulang, begitu pun dengannya yang bersandar di lift dengan nafas ngos-ngosan. Aku meminta Syaiful mengambilkan tissue dari tasku, aku lalu menyeka keringat di keningku juga ceceran sperma pada perutku sambil menjilat jari-jariku untuk mendapatkan ceceran sperma itu. Hingga kini pakaian yang masih tersisa di tubuhku cuma sepatu dan kaos yang telah tergulung ke atas.

Tenggang waktu ke babak berikutnya kurang dari lima menit, Rois setelah meminta ijin dahulu, memegangi kedua pergelangan kakiku dan membentangkannya. Ditatapnya sebentar lubang merah merekah di tengah bulu-bulu hitam itu, kedua temannya juga ikut memandangi daerah itu.

“Ayo dong.. Pada liatin apa sih, malu ah!” kataku dengan memalingkan muka karena merasa risi dipelototi bagian ituku, namun sesungguhnya aku malah menikmati menjadi objek seks mereka.

“Hehehe.. Malu apa mau nih!” ujar Syaiful yang berjongkok di sebelahku sambil mencubit putingku.

“Lu udah gak virgin sejak kapan Ci? Kok memeknya masih OK?” tanya Rois sambil menatap liang itu lebih dekat.

“Enam belas, waktu SMA dulu” jawabku.

Kami ngobrol-ngobrol sejenak diselingi senda gurau hingga akhirnya aku meminta lagi karena gairahku sudah kembali, ini dipercepat oleh tangan-tangan mereka yang selalu merangsang titik-titik sensitifku. Rois menarikku sedikit ke depan mendekatkan penisnya pada vaginaku lalu mengarahkan benda itu pada sasarannya. Uuh.. Vaginaku benar-benar terasa sesak dan penuh dijejali oleh penisnya yang perkasa itu. Cairan vaginaku melicinkan jalan masuk baginya.

“Aa.. aadduhh, pelan-pelan dong!” aku mendesah lirih sewaktu Rois mendorong agak kasar. Sambil menggeram-geram, dia memasukkan penisnya sedikit demi sedikit hingga terbenam seluruhnya dalam vaginaku.

“Eengghh.. Ketat abis, memek Cina emang sipp!” ceracaunya.

Dia menggenjot tubuhku dengan liar, semakin tinggi tempo permainannya, semakin aku dibuatnya kesetanan. Sementara Syaiful sedang asyik bertukar ludah denganku, lidahku saling jilat dengan lidahnya yang ditindik, tanganku menggenggam penisnya dan mengocoknya. Sebuah tangan meraih payudaraku dan meremasnya lembut, ternyata si Adi yang berlutut di sebelahku.

“Bersihin dong Ci, masih ada sisa tadi!” pintanya dengan menyodorkan penisnya ke mulutku saat mulut Syaiful berpindah ke leherku.

Serta merta kuraih penis itu, hhmm, masih lengket-lengket bekas persenggamaan barusan, kupakai lidahku menyapu batangnya, setelah beberapa jilatan baru kumasukkan ke mulut, aku dapat melihat ekspresi kenikmatan pada wajahnya akibat teknik oralku.

Tak lama kemudian, Syaiful berkelojotan dan bergumam tak jelas, sepertinya dia akan klimaks. Melihat reaksinya kupercepat kocokanku hingga akhirnya cret.. cret.. Spermanya berhamburan mendarat di sekitar dada dan perutku, tanganku juga jadi belepotan cairan seperti susu kental itu. Saat itu aku masih menikmati sodokan Rois sambil mengulum penis Adi.

Kemudian Adi mengajak berganti posisi, aku dimintanya berposisi doggy, Rois dari belakang kembali menusuk vaginaku dan dari depanku Adi menjejalkan penisnya ke mulutku. Kulumanku membuat Adi berkelojotan sambil meremas-remas rambutku sampai ikat rambutku terlepas dan terurailah rambutku yang sebahu itu. Penis itu bergerak keluar-masuk semakin cepat karena vaginaku juga sudah basah sekali.

Tidak sampai sepuluh menit kemudian muncratlah sperma Adi memenuhi mulutku, karena saat itu genjotan Rois bertambah ganas, hisapanku sedikit buyar sehingga cairan itu tumpah sebagian meleleh di pinggir bibirku. Setelah Adi melepas penisnya, aku bisa lebih fokus melayani Rois, aku ikut menggoyang pinggulku sehingga sodokannya lebih dalam.

Bunyi ‘plok-plok-plok’ terdengar dari hentakan selangkangan Rois dengan pantatku. Mulutku terus mengeluarkan desahan-desahan nikmat, sampai beberapa menit kemudian tubuhku mengejang hebat yang menandakan orgasmeku. Kepalaku menengadah dan mataku membeliak-beliak, sungguh fantastis kenikmatan yang diberikan olehnya. Kontraksi otot-otot kemaluanku sewaktu orgasme membuatnya merasa nikmat juga karena otot-otot itu semakin menghimpit penisnya, hal ini menyebabkan goyangannya semakin liar dan mempercepat orgasmenya. Dia mendengus-dengus berkelojotan lalu tangannya menarik rambutku sambil mencabut penisnya.

“Aduh-duh, sakit.. Mau ngapain sih?” rintihku.

Dia tarik rambutku hingga aku berlutut dan disuruhnya aku membuka mulut. Di depan wajahku dia kocok penisnya yang langsung menyemburkan lahar putih. Semprotan itu membasahi wajahku sekaligus memenuhi mulutku.

“Gila, banyak amat sih, sampai basah gini gua!” kataku sambil menjilati penisnya melakukan cleaning service.

Setelah menuntaskan hasrat, Rois melepaskanku dan mundur terhuyung-huyung sampai bersandar di pintu lift dimana tubuhnya merosot turun hingga terduduk lemas. Dengan sisa-sisa tenaga aku menyeret tubuhku ke tembok lift agar bisa duduk bersandar. Suasana di dalam lift jadi panas dan pengap setelah terjadi pergulatan seru barusan. Aku mengatur kembali nafasku yang putus-putus sambil menjilati sperma yang masih belepotan di sekitar mulut, aku bisa merasakan lendir hangat yang masih mengalir di selangkanganku.

Adi sudah memakai kembali celananya tapi masih terduduk lemas, dia mengeluarkan sebotol aqua dari tas lusuhnya, Syaiful sedang berjongkok sambil menghisap rokok, dia belum memakai celananya sehingga batang kemaluannya yang mulai layu itu dapat terlihat olehku, Rois masih ngos-ngosan dan meminta Adi membagi minumannya. Setelah minum beberapa teguk, Rois menawarkan botol itu padaku yang juga langsung kuraih dan kuminum. Kuteteskan beberapa tetes air pada tissue untuk melap wajahku yang belepotan.

Kami ngobrol-ngobrol ringan dan bertukar nomor HP sambil memulihkan tenaga. Aku mulai memunguti pakaianku yang tercecer. Setelah berpakaian lengkap dan mengucir kembali rambutku, kami bersiap-siap pulang. Adi menekan tombol lift dan lift kembali meluncur ke bawah. Lantai dasar sudah sepi dan gelap, jam sudah hampir menunjukkan pukul tujuh. Lega rasanya bisa menghirup udara segar lagi setelah keluar gedung ini, kami pun berpisah di depan gedung sipil, mereka keluar lewat gerbang samping dan aku ke tempat parkir.

Dalam perjalanan pulang, aku tersenyum-senyum sendiri sambil mendengar alunan musik dari CD-player di mobilku, masih terngiang-ngiang di kepalaku kegilaan yang baru saja terjadi di lift kampus.

TAMAT

Tags : Cerita 18sx,mahasiswi, hp mahasiswi, mahasiswi hot, mahasiswi di, mahasiswi cantik, gadis mahasiswi, mahasiswi seksi, mahasiswi indonesia, cewek mahasiswi, mahasiswi bandung bugil, gambar mahasiswi, cewek mahasiswi bugil, mahasiswi toket, foto mahasiswi, payudara mahasiswi, seks mahasiswi

1 komentar 30 April 2010

Cerita 18sx – Gairah Tante Vivi 05

Sambungan dari bagian 04

Aku membuka mata kembali saat kurasa Tante Vivi menghentikan gerakan pinggul seksinya yang aduhai. Kini ia merebahkan tubuhnya yang berkeringat basah di atas tubuhku, kedua buah dadanya yang sebesar melon menekan lunak dan terasa kenyal di dadaku. Batang penisku masih perkasa tegak 100 % walau isinya serasa sudah terkuras habis.., jepitan daging liang vaginanya masih kurasakan begitu hebat meremas dan mengenyot alat kejantananku yang masih terbenam kandas di dalam situ.

“mm.., bagaimana Ar.., nikmat sayangg..”, bisiknya sambil memandang genit ke arahku.

“Ahh.., kau luar biasa sekali Vi..”, sahutku lirih. Masih lemas.

“Air manimu banyak sekali Ar..”, ujarnya polos. Wajahnya yang cantik kelihatan tersenyum puas bisa membuatku tak berdaya. Kuelus rambut hitamnya yang terurai panjang sampai menerpa leherku yang basah berkeringat.

“Kenapa Vi..? kau tidak suka air maniku sebanyak itu.”, tanyaku lemas.

“iihh.., hik.., hik.., tidak Ar.., cuman.., Tante khawatir kalo sampai hamil..”, bisiknya padaku tetap dengan senyum manisnya.

“aah.., Vi.., kau jangan nakut-nakuti gitu dong.., kita khan cum..”, Belum habis omonganku, Tante Vivi menempelkan jari telunjuk tangan kanannya ke bibirku.

“sstt.., Tante tau Ar.., Sudahlah.., ini cuman seks khan sayang..”, bisiknya lagi.

“Cupp..”, Mulutku mengecup gemas bibir ranumnya yang nakal itu. Sejenak kami saling bercumbu beradu bibir, saling mengulum dan mengecup.., begitu nikmat rasa bibir Tante Vivi itu.

Ketika kecupan mesra itu berakhir, aku berbisik mesra padanya.

“Vi.., aku masih punya kejantanan yang lain..”, kataku gemas.

“Apa itu Ar..?”, tanyanya mesra. Bibir ranumnya kelihatan basah habis kukecup dan kukulum tadi.

“Kamu belum puas khan Vi..?”, ujarku balas bertanya.

“Iyaa Ar.., mm.., tapi Tante capek sayang..”, bisiknya sambil mengerling genit.

“Aku yang akan memuasimu sekarang Vi..”, bisikku gemas.

“mm..”, ia tak menjawab, namun matanya dipejamkan seolah membayangkan apa yang akan aku lakukan.

Aku jadi bernafsu, membuat batang penisku yang masih terbenam nikmat di dalam liang vaginanya yang sempit jadi semakin berdiri dan tambah perkasa.

Aku memeluk pinggang Tante Vivi yang kecil dan ramping dengan erat, sambil kubisikkan kalimat mesra di telinganya. Dengan tersenyum senang dan saling berdekapan erat kugulingkan tubuh Tante Vivi ke samping kiri tempat tidur, lalu dengan posisi batang penisku masih tetap terbenam terjepit di dalam liang vaginanya, kugulingkan tubuhku ke samping sekali lagi dan menaiki tubuh Tante Vivi yang kini ganti berada di bawah tindihanku.

Woowww.., nikmatnya menindih tubuh bugil montoknya yang hangat. Terasa hangat empuk dan mulus sekali kulit tubuhnya. Apalagi sembari menikmati jepitan daging tubuhnya yang sangat terlarang itu.

Sejenak kami terdiam saling berpandangan mesra.

“Ar.., jujur saja.., sudah berapa wanita yang pernah kamu tiduri..?”, tanyanya pelan. Aku tersenyum geli mendengar pertanyaannya yang spontan dan sedikit aneh.

“mm.., baru seorang saja.., Vi..”, kataku terus terang.

“Selva khan..?”, tanyanya lagi.

“Bukan Vi.., orang lain..”, bisikku pelan. Pertanyaannya itu benar-benar membuat rasa bersalah itu hadir kembali dalam batinku.

“mm.., kamu nakal Ar.., awas sayang jangan menghianati Selva yaahh..”, bisiknya sedikit serius. Jemari tangannya mencubit pinggangku gemas.

oohh.., aku tak ingin melepas kenikmatan ini terlalu lama dengan soal Dina atau Selva karena hanya makin mengingatkanku dan menambah rasa bersalahku pada mereka. Aku menundukkan muka dan kembali mengulum bibir ranum Tante Vivi dengan gemas. Tante Vivi membalas cumbuanku tak kalah mesra, kedua mulut kami saling berpagutan mesra beberapa saat.

“Ar.., puasi Tante sayang..”, bisiknya manja di telingaku. Aku tersenyum penuh gairah mendengar permintaannya. Kukecup sekilas bibir ranumnya sekali lagi, lalu sambil saling berpandangan mesra, kutarik pinggulku keatas secara perlahan mengeluarkan batang penisku dari dalam jepitan liang vaginanya sampai keluar kira-kira sekitar 8-10 centi lalu dengan perlahan pula kembali kuturunkan pinggulku ke bawah memasukkan kembali alat kejantananku ke dalam liang vagina sempitnya yang seolah menyambut mesra dengan remasan dan urutan-urutan lembut penuh kenikmatan.

“uuhh..”. Tante Vivi merintih pelan keenakan sambil tetap tersenyum manis kepadaku. Kedua jemari tangannya mengusap-usap mesra pantatku yang lagi asyik secara teratur mulai bergerak turun naik menyetubuhinya.

“Uuhh.., uuhh.., uuhh..”, erang Tante Vivi lirih setiap kali batang penisku kutarik keluar menggesek daging liang vaginanya yang sempit dan licin. Untung saja air maniku yang tumpah tadi seolah membantu melicinkan pergesekan kedua alat kelamin kami. Aku merasa betapa liang vaginanya itu seolah berusaha menyedot dan mencengkeram kuat saat batang penisku berusaha menggesek keluar dan seakan seperti diremas, dilumat dan diurut begitu hebat tapi nikmat saat kembali kubenamkan batang penisku ke dalam liang vagina Tante Vivi.

“Aahhgghghgh.., aahhgghh..”

Mau tak mau aku kembali berkelojotan merasakan kenikmatan yang tiada tara. Seakan membangun kekuatan baru ketika kenikmatan menuju puncak ejakulasi itu mulai kurasakan muncul pada sekujur batang penisku. Aku semakin bersemangat dan dengan ritme teratur yang semakin lama semakin cepat, kuhunjam-hunjamkan dengan gemas batang penisku keluar masuk liang vagina Tante Vivi yang makin lama kurasakan juga makin menyempit lagi seperti hendak mendekati klimaknya.

“uuhh.., uuhh.., uhh.., uuhh.., uuhh..”, Tante Vivi mengerang semakin keras, kedua matanya kini dipejamkan rapat menikmati genjotan alat kejantananku yang bergerak semakin cepat seperti pompa ekplorasi minyak keluar masuk menggesek liang vaginanya. Aku tahu Tante Vivi sedang menuju puncak kenikmatan sexualnya. Kedua paha mulusnya yang mengapit lembut pinggangku sesekali dihentakkan ke bawah sambil mengejan kuat menahan kenikmatan. Wajahnya yang cantik kelihatan meringis saking tak kuatnya menahan rasa nikmat pada alat kemaluannya yang sedang kusetubuhi.

Aku benar-benar puas menyaksikan ekspresi wajahnya yang sedang didera pusaran kenikmatan yang kuciptakan di atas tubuhnya, seandainya saja ia juga tahu batang penisku yang sedang menggesek hebat liang vaginanya itu juga mulai menunjukkan tanda-tanda aktivitas bak gunung berapi yang hendak meletup. Namun karena ejakulasi pertamaku tadi, maka rasa nikmat luar biasa persetubuhan ini masih dapat kuredam dan kutahan lebih lama.

“aahh.., Vi.., ngghh.., vaginamu nikmat sekali sayang..”, erangku nakal. Tante Vivi tak menjawab, mulutnya yang menggemaskan itu hanya terus merintih berulangkali seiring dengan goyangan naik turun pinggulku yang makin kupercepat.

“Uuh.., hh.., uu.., hh.., uuhh.., uuhh..”, erang Tante Vivi semakin keras.

Menit demi menit berlalu yang terasa begitu lama dan melelahkan, entah sudah beberapa kali nyaris saja air maniku kembali muncrat ke dalam liang vagina Tante Vivi, gara-garanya ia mengejan terlalu kuat membuat jepitan daging liang vaginanya mendadak mengerut dan mengecil. Membuat batang penisku yang sudah mulai mendekati klimak seolah dilumat-lumat dan diremas-remas hebat. Batang penisku dibuatnya kelojotan keenakan, dan kedua kakiku sampai gemetaran meredam sekuatnya badai kenikmatan yang sontak menjalar di selangkanganku.

Sambil menggigit bibir menahan nikmat, kutelusupkan kedua jemari tanganku ke balik bokongnya yang bulat padat dan kenyal. Sembari kuremas gemas, kuhentak-hentakkan alat kejantananku keluar masuk menggesek liang vagina Tante Vivi secepat dan sekuat tenagaku. Kukayuh pinggulku naik turun dengan cepat, karena aku ingin segera menuntaskan persetubuhan ini.

“uuhh.., uhh.., uuhh.., uuhh.., uuhh.., uuhh”, aku merasa Tante Vivi begitu menyenangi permainan seks-ku yang sedikit kasar, pinggulnya sampai ikut digoyangkan kekiri dan kanan menikmati hunjaman demi hunjaman batang penisku yang memenuhi seluruh liang vaginanya yang semakin licin penuh cairan lendir kewanitaannya.

Sekitar 5 menit kemudian akhirnya pendakian puncak kenikmatan itu tergapai sudah, begitu lega rasanya melihat Tante Vivi sampai menggeliat-geliat hebat sembari menghentak-hentakkan kedua kakinya ke bawah dan mengejan kuat melepas kenikmatan orgasmenya yang telah menjadi penantiannya sekian lama. Mulutnya tanpa risih menjerit, memekik-mekik dan mengerang-erang dengan suara keras seakan tak peduli dengan keadaan sekeliling. Akupun tak peduli, yang jelas waktu itu tak pernah kulupakan kenikmatan yang kualami dari seorang wanita yang entah telah sekian lama hidup tanpa pemuasan batin. Kubenamkan sedalam-dalamnya seluruh batang penisku sepanjang 14 centi ke dalam liang kewanitaannya.

Sejenak kuhentikan gerakan naik turun pinggulku kini hanya sedikit kugerakkan memutar seolah batang penisku hendak memlintir daging liang vaginanya dan kubiarkan Tante Vivi merasakan seluruh sensasi kenikmatan puncak orgasmenya yang luar biasa. Begitu hebatnya kurasakan daging liang vaginanya menjepit batang penisku seakan hendak melumat habis, seakan dipilin-pilin dan dikenyot-kenyot kuat.

“aagghhff.., aahh”, aku sampai merem melek dan mengerang keenakan menikmati liang sorga dunianya yang sedang dilanda orgasme itu. Cairan lendir orgasmenya terasa menyembur lemah menghangati dan membasahi seluruh permukaan batang kejantananku yang sedang terjepit di dalamnya.

“aawww.., aawww.., sshh.., nngghh.., ngnngghh..”, erang Tante Vivi karena nikmatnya.

Saking nikmatnya, pantatnya sampai diangkat ke atas mendesak pinggulku yang juga sedang menekan alat kejantananku sedalam-dalamnya ke dalam liang vaginanya.

Kedua jemari tangan Tante Vivi sampai mencengkeram kuat kedua belah bokongku. Kuku-kuku jemari kedua tangannya seakan menghunjam masuk ke dalam kulit bokongku. Terasa sakit, namun aku tak peduli, kubiarkan Tante Vivi menikmati sepuasnya badai puncak orgasmenya yang panjang, kubiarkan daging liang vaginanya melumat habis batang kejantananku. Baru kali ini aku melihat seorang wanita yang orgasme saking begitu hebatnya sehingga tanpa risih lagi sampai berteriak-teriak seolah ingin melepaskan semua beban batin dalam dirinya akibat kenikmatan tak terkira yang melanda sekujur tubuhnya.

“oouuhh.., uuhh.., ngghh..”, erangnya keras berulang kali

Mungkin hanya sekitar 6-8 detik Tante Vivi tenggelam dalam lautan kenikmatan puncak orgasmenya, terasa singkat mungkin bagiku. Ketika pantatnya kembali dihempaskan ke atas pembaringan menandakan orgasmenya mulai berakhir, sambil kucumbu mesra mulutnya yang masih merintihkan sisa-sisa rasa kenikmatannya, kugerakkan pinggulku naik turun lagi secara amat perlahan menyetubuhinya kembali.

“Oouuhh..”. Aku mendesah nikmat merasakan jepitan liang vaginanya yang masih ketat sehabis orgasme, Cairan lendirnya yang keluar membasahi batang penisku terasa begitu licin dan hangat. Begitu nikmatnya saat alat kejantananku kutarik melungsur keluar dari dalam liang vagina Tante Vivi, seakan diurut dan dikenyot lembut. Uuhh.., kupejamkan kedua mataku meresapi kenikmatan liang surga dunia miliknya. Secara perlahan-lahan pula setelah hampir kira-kira 6-8 centi-an batang penisku keluar lalu kembali kubenamkan masuk ke dalam liang vaginanya yang kini seakan meremas dan memijat lembut. Sreengg.., rasanya aliran kenikmatan yang melanda alat kejantananku membuat air maniku perlahan-lahan mulai mendesak ingin muncrat keluar.

“oouu..”, erangku keenakan saat dengan nikmatnya liang vagina Tante Vivi kembali menjepit dan mengenyot seluruh batang penisku.

Begitu berulang kali, naik turun secara perlahan dengan ritme yang semakin lama semakin kupercepat menyetubuhi Tante Vivi yang kini setelah orgasmenya berakhir malah seolah hendak menggodaku. Entah sengaja atau tidak setiap kali batang penisku yang kutarik keluar hendak kubenamkam kembali menikmati jepitan daging hangatnya, pinggulnya digoyangkan manja kesamping kiri atau ke kanan, membuat alat kejantananku sampai keplintir serong kekiri atau kekanan pula.

“Vivii.., aduuhh.., nikmaatt..”, erangku pelan keenakan.

“Hik.., hik.., kamu mau keluar lagi sayang..”, bisik Tante Vivi genit di sebelah telingaku.

Aku tak menjawab dan hanya bisa merem melek menahan kenikmatan seks yang semakin lama semakin menggelora, air maniku semakin deras mengalir dan mendesak-desak di leher kepala penisku yang terjepit nikmat dalam liang vaginanya.

“mm.., punyamu tegang keras sekali Ar.., hik.., hik.., sudah mau keluar yaa..”, bisiknya genit.

Astaga.., aku tak mengira, dalam keadaan masyuk seperti ini ternyata Tante Vivi doyan sekali ngomong ngeres. Sebodo.., ahh..

“Nngghh..”, erangku semakin tak tahan.

“mm.., keluarin dong Ar..”, bisiknya genit semakin menggemaskan hati.

“Ohh.., jepit lebih keras Vii..”, erangku tak kalah genit.

“Mm.., seperti ini Ar.., mm..”

“aahhghghgghhghhghhghhgg..”, Aku mendelik dan menggeram keras saat kurasakan daging liang vagina Tante Vivi mengerut dan mengecil, seakan meremas-remas, mengurut-urut dan mengenyot seluruh batang penisku yang sedang meregang menahan kenikmatan.

Dan.., aahhghhghh.., aku tak kuat lagi dan menyerah..

“Craatt.., Craatt.., craatt..”

Air maniku bak tanggul jebol membanjir keluar dengan hebat di dalam liang vaginanya yang hangat. Kusembur-semburkan dengan nikmat sepenuh perasaan memenuhi liang senggamanya.

“oowww.., mm..”, Tante Vivi mendesah lirih saat air maniku menyembur-nyembur dengan kuat di dalam liang vaginanya yang hangat.

“aahhahh.., ku.., hamili kau Vii..”, erangku nakal, sambil terus kusembur-semburkan air maniku ke dalam rahimnya. Kuhentak-hentakkan dengan penuh nafsu alat kejantananku menggesek keluar masuk liang vaginanya yang semakin licin penuh cairan lendir kewanitaannya bercampur air maniku yang kental. Tante Vivi sesekali merintih kecil entah kesakitan atau nikmat menerima hunjaman batang penisku yang bergerak begitu buas mengoyak liang vaginanya yang sempit.

“Oowww.., iihh.., Ar.., Nggnnhh.., uu.., tegang sekali penismu sayang..”, rintihnya sambil mencengkeram bokongku yang bergerak turun naik dengan cepat dan kuat.

“Aahhgghhg.., Vii.., Sayangghh..”

Aku seakan terbang melayang ke atas awan, jauh membubung tinggi kesorga kenikmatan yang tiada tara.

“Uuhh.., Ar.., nggnghh.., manimu terasa kental sekali sayaang..”, rintih Tante Vivi genit.

Terasa begitu singkat namun begitu melelahkan sesudahnya. Tubuhku seakan lemas tak bertulang begitu 2 semburan terakhir yang merupakan semburan penghabisan, mengakhiri kenikmatan ejakulasiku. mm.., tubuhku seakan terhempas kembali jatuh ke bumi dan lemas tak berdaya.

Aku terbaring letih di atas tubuh Tante Vivi yang baru saja untuk kedua kali kureguk kenikmatan madu manis tubuhnya. Oouuh.., begitu indah rasanya meresapi sisa-sisa kenikmatan ejakulasi yang masih begitu terasa. Batang penisku yang masih terbenam di dalam liang senggamanya yang basah penuh cairan maniku yang seakan telah kehilangan kejantanannya. Loyoo.., Tetapi jepitan hangat daging liang vaginanya itu masih terasa nikmat, seakan mengurut-urut lembut. Kami saling berpelukan mesra, meresapi keindahan akhir persetubuhan yang sangat melelahkan namun penuh dengan sejuta kenikmatan yang tiada bandingnya di dunia ini. Kedua buah dadanya yang besar montok menekan lembut dan terasa begitu kenyal dan padat di dadaku yang bidang. Jemari kedua tangan Tante Vivi mengusap pelan dan sesekali memijit-mijit mesra pinggul dan bokongku yang terasa letih dan pegal. Mulut kami bercumbu hangat saling mengadu bibir seolah saling menukar kenikmatan.

“Mm cuupp.., cupp.., Ar.., kau benar-benar doyan seks yaa..”, bisk Tante Vivi gemas sambil berulang kali membalas kecupan bibirku yang masih bernafsu.

“Cupp.., entahlah Tante..”, bisikku lembut. Pertanyaan sederhananya itu seolah menyadarkanku kembali. Akal sehatku seakan kembali normal dan aahh.., rasa sesal itu kembali datang dan selalu saja datang dikala aku telah tuntas mereguk semua keinginan nafsu birahiku ingin rasanya kedua mata ini menangis mengapa aku begitu lemah dengan nafsu syahwatku sendiri.

Semenit kemudian.

Aku bergulir turun dari atas tubuh Tante Vivi, alat kejantananku yang mulai lemas mengecil seakan tercabut dari dalam liang vaginanya yang sempit hangat. Ia merintih kegelian.

Sejenak aku termenung.., memikirkan semua perbuatanku barusan, begitu lemahnya diri ini dengan yang namanya nafsu birahi. Bagaimana aku harus mempertanggungjawabkan semua ini kepada Selva.., aku benar-benar gila telah berani meniduri tantenya sendiri. Pikiranku seperti buntu memikirkan semuanya itu.

Seakan mengerti apa yang sedang kurenungkan, Tante Vivi mencium mulutku dengan hangat dan mengulum bibir bawahku sejenak. Anehnya aku sendiri tak bisa menolak dan membiarkan semua itu.

“Sudahlah Ar.., Tante mengerti apa yang kamu pikirkan.., ini cuma seks sayang.., tidak ada ikatan apapun diantara kita..,. selain.., seks..”, bisiknya lembut menenangkanku.

Mau tak mau aku tersenyum letih.

“Yaah.., Tante..”, jawabku pendek. Bingung!

“mm.., kita akan melakukannya lagi khan Sayaang..”, bisiknya kembali terus terang tanpa rasa sungkan lagi, sambil mengelus pipiku mesra.

Aku tak menjawab.., dan hanya bisa mengeluh dalam hati.., aku sudah keranjingan seks.., bagaimanapun nantinya.., kalau Tante Vivi menginginiku lagi, aku pasti menidurinya demi sekedar kenikmatan sesaat. aahh.., aku mengeluh pendek.

TAMAT

Tags : cerita 18sx, cerita 17 tahun, cerita dewasa, tante telanjang, tante girang, foto telanjang, tante bugil,abg telanjang bugil,memek abg bugil,cewe abg bugil,photo memek basah, memek basah abg, memek basah smu, cerita memek basah, memek tante basah, memek abg

Add a comment 27 April 2010

Cerita 18sx – Gairah Tante Vivi 04

Sambungan dari bagian 03

Tante Vivi menjerit dan mengerang-erang dengan keras, pinggulnya menggeliat semakin hebat menahan kenikmatan yang kuberikan pada alat kelaminnya. Aku benar-benar puas bisa membuatnya seperti itu. Kuremas dan kucengkeram kuat bulatan bokongnya yang kenyal agar jangan bergerak terlalu liar, seolah tak ingin melepaskan pagutannya, mukaku sedikit kuangkat kembali sembari menghirup udara segar lalu lidahku kujulurkan sepanjang mungkin sambil menyusuri dan menjilati permukaan bukit kemaluan lunaknya yang putih merangsang. Mulutku tak henti-hentinya mengecup gemas bukit terlarang milik Tante Vivi itu.

“oouuhh.., nngghhnngghh.., ngghh..”, mulut Tante Vivi merintih dan mengerang tak karuan menahan geli dan nikmat. Pinggulnya digoyang-goyang kiri kanan, sesekali kurasakan kedua pahanya yang kini menjepit kepalaku sambil mengejan kuat ke bawah seolah ingin memuntahkan cairan kenikmatan tubuhnya. Memang kenyataannya demikian, lidahku yang sesekali menelusup masuk ke dalam liang vaginanya sambil menyentil gemas daging clitorisnya seolah menemukan sumber air kecil yang mengalir deras. Sementara tangan kiriku masih mencengkeram bokongnya, dengan gemas lalu kusibakkan dengan jemari tangan kananku bibir kemaluannya yang tebal, jemariku itu sampai gemetar seolah masih tak percaya dengan segala keindahan ini, terasa begitu lunak, hangat dan basah ketika jemari tanganku secara perlahan menyibakkan bibir kemaluannya mengintip keindahan celah dan liang vagina sempitnya yang ternyata berwarna kemerahan.

oohh.., kulihat.., liang vaginanya yang terletak sedikit di atas lubang duburnya, begitu kecil dan terlihat sempit sembari mengalirkan keluar cairan lendir kemaluannya yang berwarna bening. Agak di sebelah atas liang kewanitaannya itu kulihat bulatan daging kecil clitorisnya yang besarnya mirip seperti biji kacang ijo. Aku sedikit heran, karena liang vagina milik Tante Vivi ini kecilnya hampir sama dengan liang vagina milik Dina. Aahh.., batang penisku yang sudah berdiri tegak menunggu giliran untuk take over jadi makin cenat-cenut.., teng-teng tidak karuan.., tidak tahan nih kalau sempitnya seperti ini.., bisa-bisa tidak sampai digenjot 5 menit air maniku sudah muncrat keluar.., seperti yang aku rasakan bersama Dina akhir-akhir ini. Aku sendiri tidak habis pikir kenapa sewaktu aku dulu memperawani Dina bisa menahan gesekan dan jepitan liang vaginanya sampai 20 menit, tapi akhir-akhir ini bisa tahan tidak muncrat sampai 10 menit saja itu sudah lumayan. Mungkin saja aku terlalu terangsang saat menggagahi Dina. Entahlah.

“A.. Aarr.., Lagi sayangghh..”, Tante Vivi berbisik sedikit serak. Aku sejenak tersadar dari lamunan.., He.. He.., aku jadi geli juga.., di saat lagi asyik masyuk seperti itu masih bisa juga aku ngelamun.., ngeres lagi.., he.., he..”.

Kudongakkan kepala ke atas sambil kupandang wajah cantik Tante Vivi yang berkeringat agak kusut sekilas, lalu kutundukkan muka, lidahku dengan liar penuh rasa gemas kembali menjilati kedua belah permukaan labia mayoranya, kepalaku sedikit kuputar sekitar 40 derajat kekiri lalu dengan nikmat mulut dan lidahku mulai mencumbu, mengulum, memilin dan menghisap bibir-bibir kemaluan Tante Vivi secara bergantian atas dan bawah, seperti kalau kami berdua berciuman mulut.

mm.., rasanya yang jelas tidak selezat daging hamburger McDonald atau Wendys tapi yang pasti ada semacam feel great dan sensasi keindahan bercampur kenikmatan tersendiri yang tak bisa diungkapkan kata-kata begitu indah rasanya mengulum dan mengecup bibir kemaluan wanita sambil menikmati aroma khas bau alat kelaminnya dan juga suara erangan nikmatnya.

mm.., aku benar-benar bangga membuat Tante Vivi sampai berulang kali mengejan ke bawah menghentakkan kedua belah pahanya yang putih seksi, sambil tak henti-hentinya mulutnya memekik kecil dan merintih panjang menahan geli bercampur sejuta kenikmatan.

“Aahh.., nnggngghghh.., ngghghnhgghh..”, rintih Tante Vivi berulang kali.

Kurang lebih 2 menitan aku mengenyot kedua belah bibir labia mayoranya dengan mulutku lalu dengan nakal kembali kusibakkan sedikit lebih lebar bibir vaginanya dan dengan cepat kujulurkan lidahku mengusap lembut celah merah diantara bibir kemaluannya.., menyentil mulut liang vaginanya yang sempit dan mungil beberapa puluh detik lalu kembali menggelitik daging clitorisnya. Tante Vivi sampai menaik-turunkan pinggulnya menahan rasa nikmat. Saat bibir dan lidahku secara bersamaan menghisap dan memilin daging kecil clitorisnya sampai pipiku sedikit kempot, tiba-tiba Tante Vivi memekik keras dan akhirnya mendesah panjang.., pinggulnya sontak diangkat ke atas seolah tak kuat menahan rasa nikmat dan mengejan pelan. Kedua pahanya menjepit ketat kepalaku dari samping kiri dan kanan. Jemari tangan kiriku yang kini terasa bebas, mengusap mesra kedua belah bulatan bokong Tante Vivi dan meremas-remas lembut.

“Aagghh.., aoohh.., sshhghffhhghh..”

Desah Tante Vivi panjang. Aku tahu ia pasti sedang meregang menuju puncak kenikmatan.., Sedetik.., 2 detik.., 3 detik.., aku merasakan kedua belah pahanya yang begitu halus dan padat menekan kepalaku mulai bergetar lembut dan mengejan semakin kuat menandakan cairan lendir kenikmatannya segera tumpah keluar.., orgasmee.

Tetapi aku berpikir lain, seketika cepat kulepaskan hisapan mulutku pada daging clitorisnya dan dengan kuat kedua tanganku membuka kedua belah pahanya yang masih menjepit kepalaku. Begitu lepas, dengan sigap aku merangkak keatas dan rebah di samping tubuh bugil Tante Vivi. Kulihat Tante Vivi masih memejamkan kedua matanya seolah sedang menikmati sesuatu, sejenak begitu tersadar kenikmatan yang ia inginkan tak tercapai.., kedua matanya terbuka dan jelalatan setengah melotot memandang selangkangannya yang kosong.., dan Tante Vivi mendapati diriku telah berada di sebelahnya sambil kutersenyum penuh kemenangan.

Wajah cantiknya yang berkeringat kelihatan memerah seolah menahan sesuatu, bibir bawahnya digigit keras seperti geram, kedua matanya yang sedikit merah memandangku seolah mau marah. Aku semakin tersenyum lebar, namun tidak demikian dengan Tante Vivi.., rupanya ia jengkel karena hampir saja aku membuatnya orgasme namun justru aku malah menghentikannya ditengah jalan.

“K.., kkamu.., benar-benar nakal sekali Arr.., hh.., teganya kamu Sayang..”, bisiknya dengan bibir gemetar. Lalu dengan cepat tanpa kuduga sama sekali, Tante Vivi menggulingkan tubuh montok seksinya yang putih mulus ke atas menaiki tubuhku, Kedua pahanya dibuka lebar dan kedua belah bokongnya yang bulat padat terasa begitu kenyal dan tanpa ampun menduduki buah zakarku sementara bukit kemaluannya yang besar terasa begitu empuk menekan batang penisku yang sudah sangat tegang.., ooh.., nikmatnya.

Sambil menyunggingkan senyuman sadis Tante Vivi memandangku seolah ingin menelanku.

“Tante mau lihat sehebat apa kamu Arr..”, bisiknya pelan. Aku yang masih terkaget menyaksikan ulahnya tadi hanya bisa melongo sambil menikmati sentuhan tubuh montoknya pada alat kejantananku sambil memandangi kedua buah payudara besarnya yang mengacung kencang ke depan memamerkan kedua buah puting susunya yang kelihatan sedikit membesar keras dan berwarna coklat kemerahan.

Aku masih terpana memandang keindahan tubuhnya, ketika dengan cepat Tante Vivi mengangkat pinggulnya yang ramping ke atas, kedua belah pahanya yang putih mulus kelihatan begitu seksi dan padat. Begitu gemas saat jemari tangan kanan Tante Vivi menggenggam dan meremas batang penisku.., lalu di arahkan ke bukit kemaluannya sebelah bawah.., ke depan mulut liang vaginanya.., oohh.., aku mendesah pelan menyaksikan semua itu. Aku tidak menyangka Tante Vivi melakukan semua itu tanpa perasaan risih sedikitpun, mungkin ia sudah begitu ngebet dan liang vaginanya sudah gatal kepingin disetubuhi. Sejenak aku mengira ia pasti sukar sekali memasukkan batang penisku yang sudah berdiri tegak dan besar mirip punya Rocco Siffredi. Kuluruskan kedua pahaku ke bawah agar Tante Vivi tidak terlalu kesulitan menyetubuhiku nantinya. Tetapi kali ini aku kecele.., sambil menundukkan wajah yang membuat rambut panjangnya terurai indah, kulihat Tante Vivi sejenak berkutat masih mengarahkan batang penisku ke pintu liang vaginanya lalu dengan perlahan pinggulnya diturunkan.

Oogghh.., Aahh.., aku mendelik dan mengerang nikmat saat dengan mata kepalaku sendiri kulihat bibir kemaluannya yang tebal itu vaginaar lebar menerima tusukan kepala penisku dan liang vaginanya yang merah dan sempit mulai tersibak dan menjepit ujung kepala penisku yang secara perlahan-lahan mili demi mili mulut daging liang vaginanya semakin melebar sesuai ukuran kepala penisku dan mulai menenggelamkannya ke dalam liang vagina Tante Vivi.

“Oougghhghh.., nngngnghhaahh..”, pekikku keras menahan rasa nikmat yang luar biasa saat kepala penisku dalam 5 detik telah berhasil memasuki liang vaginanya yang ketat. aahh.., di dalam situ kurasakan daging vaginanya seolah sudah menjepit sedemikian kuat seolah diremas-remas membuat kepala penisku berdenyut-denyut keenakan.

Tante Vivi melepaskan jemari tangan kanannya dari batang penisku, kini kedua tangannya diletakkan di atas dadaku sambil setengah membungkuk untuk menyangga tubuhnya bagian bawah yang masih melakukan penetrasi. Ia kini memandangku dengan senyuman manisnya kembali, bibirnya yang ranum merekah indah. Kedua buah dadanya yang besar dan kencang kini setengah menggantung bak buah pepaya.

“Enaak.., Arr..”, bisik Tante Vivi tanpa malu-malu padaku.

“I.., iiyaa tantee..”, sahutku gemetar menahan rasa nikmat.

“Mm.., milikmu besar juga sayangg..”, bisiknya lagi. Lalu dengan perlahan-lahan Tante Vivi mulai menurunkan pinggulnya kebawah lagi sambil memejamkan mata. Namun mulutnya yang indah itu malah tersenyum seolah ikut menikmati apa yang sedang kurasakan sekarang.

“Aahhgghh..”, erangku keenakan saat daging liang vaginanya yang luar biasa sempit itu mili demi mili secara perlahan terus menjepit kuat dan menenggelamkan batang penisku yang masih tersisa sekitar 11 centi lagi. Dengan sekuat tenaga sambil menahan rasa nikmat kusaksikan terus proses penetrasi itu, urat-urat di seluruh batang penisku sampai menonjol keluar membentuk guratan-guratan kasar di sekeliling permukaan penis menahan jepitan daging liang vagina Tante Vivi yang terus berusaha menenggelamkan seluruh alat kejantananku itu. Mili demi mili kini berganti centi demi centi.., dengan tanpa hambatan berarti walau terasa begitu sesak dan sempit batang penisku melungsur masuk dengan ritme semakin cepat kedalam liang vaginanya.

“Mm.., aahh.., mm”, Tante Vivi hanya mendesah dan merintih kecil saat batang penisku yang besar dengan perlahan telah hampir seluruhnya tenggelam ke dalam bagian tubuhnya yang paling sangat terlarang. Hanya tinggal 2 centi saja kulihat batang penisku yang masih tersisa di luar liang vaginanya. Kedua mataku sudah merem melek keenakan, kedua pahaku sampai gemetaran saking hebatnya rasa nikmat itu.

“oowww..”

“Aaghghghh..”

Kami berdua mengerang nikmat hampir bersamaan, saat penetrasi yang terakhir berlangsung. Kulihat sekilas bukit kemaluan milik Tante Vivi itu sedikit menggembung lebih besar karena seluruh batang penisku yang tebal sepanjangnya 14 centi itu telah terbenam kandas di dalam liang vaginanya. Betapa indah menyaksikan dua alat kemaluan milik kami berdua yang telah menyatu padu. Selain jepitannya yang luar biasa ketat, kurasakan daging vagina Tante Vivi yang terasa hangat dan licin itu seolah memijat-mijat mesra dan menghisap lembut. Woowww..’ ujung jemari kakiku sampai gemetaran keenakkan.

“mm.., Bagaimana sayang..”, bisik Tante Vivi pelan sambil memandangku mesra sekali.

“Aahhghghg.., Nikmat sek.., kali Vii..”, sahutku gemetar.

Kedua pahanya yang mulus kini menjepit pinggangku mesra, sementara pinggulnya menempel selangkanganku dengan ketat. Bokongnya yang kenyal menduduki kedua buah bola zakarku.

“Air maniku.., mau keluar Tante..”, bisikku menahan nikmat sambil setengah menggodanya.

“Iihh.., Awas yaa kamu Ar..”, sahutnya sambil tersenyum. Ia seolah mengerti batang penisku tidak bakalan lama bertahan dijepit liang vagina miliknya seketat itu.

“Ar.., Tante sudah lama sekali tidak melakukan ini.., mm.., tahan ya sayang.., tunggu Tante yaa..”, bisiknya begitu genit sekali.

Lalu dengan perlahan Tante Vivi mulai menggoyangkan pinggulnya naik turun secara perlahan menggesekkan daging liang vagina sempitnya dengan batang penisku yang sudah tegak tak terkira. Seolah tidak ada hambatan walaupun terasa begitu sesak saking sempitnya ketika kedua alat kelamin kami saling beradu dan bergesekan.

“Uuhh.., uhh.., uhh..”, Tante Vivi merintih kecil saat setiap kali pinggulnya bergerak turun memasukkan kembali batang penisku yang besar dan keras ke dalam liang vaginanya. Wajahnya yang cantik bergoyang lembut seiring dengan goyangan pinggulnya yang menggemaskan di atas selangkanganku. Kedua matanya dipejamkan rapat seolah sedang meresapi dan menikmati persenggamaan yang benar-benar luar biasa indah ini. Kedua buah dadanya yang besar terguncang-guncang begitu indah bak buah kelapa tertiup angin. Kedua jemari tangannya yang menyangga dan menekan lembut dadaku menghentak-hentak pelan setiap kali pinggul Tante Vivi bergoyang pelan naik turun secara teratur.

Aku tak sanggup lagi menikmati semua sensasi indah ini sendirian. Aku masih seakan tak percaya melihat sesosok tubuh cantik bak bidadari yang begitu montok dan seksi, begitu putih dan mulus dan kini malah sedang asyik menggoyangkan pinggulnya yang aduhai di atas selangkanganku menikmati alat kejantananku.

“Oohhaahh.., hahahhgghh..”, erangku saking nikmatnya. Batang penisku seakan dikocok, dibelit, disedot dan dikenyot habis-habisan oleh daging liang vaginanya yang luarbiasa sempit dan licin. Kedua mataku merem-melek secara bergantian menikmati gesekan itu, setiap kali pinggul Tante Vivi bergerak ke atas aku merasa batang penisku seakan disedot kuat daging liang vaginanya namun begitu pinggulnya bergerak turun ke bawah batang penisku seakan diremas dan dilumat hebat oleh liang vaginanya.

Sukar diungkapkan dengan kata-kata rasa nikmatnya.

“Vivi.., aagghh.., aahahhgghh..”, erangku berulangkali keenakan. Kedua tanganku berusaha menahan laju naik turun pinggulnya yang kurang ajar itu. Namun jemari kedua tanganku seolah tiada bertenaga mengangkat bokongnya yang berat, dan tanpa ampun secara terus-menerus liang vagina Tante Vivi dengan jepitannya yang luar biasa meluluh lantakkan seluruh batang penisku seperti pisang kepok yang tak berdaya diremas dan dipilin-pilin sampai lumat. Aku tak sanggup bertahan meredam rasa nikmat seks yang luar biasa itu, air maniku sontak langsung mengalir mendesak-desak hendak muncrat keluar. Tante Vivi seolah tak mau tahu terus bergerak naik turun menggoyang pinggul mengeluar masukkan batang penisku ke dalam liang vagina sempitnya.

“Uuhh.., uuhh.., uu.., hh.., uuhh..”, erangnya berulangkali menikmati alat kejantananku yang sedang berada di dalam liang vaginanya.

“aahahh..”, aku mengerang panjang sambil sejenak menahan napas untuk menghambat agar air maniku tidak sampai muncrat keluar.

“uuh.., kamu mau keluar sayang..”, bisik Tante Vivi genit.

“Iyyaa.., Vi..”, sahutku gemas tanpa memanggilnya dengan sebutan Tante lagi

“ooh.., Aku bener-bener tidak tahan lagi.”

“Hik.., hik.., oke Sayang.., kamu keluar duluan Ar.., Tante jepit lebih keras yaa Sayang..”, bisiknya semakin genit tanpa malu-malu. Aku jadi makin gemas dibuatnya.

Tante Vivi memang benar-benar luar biasa sambil menggoyang pinggul semakin cepat naik turun, kurasakan daging liang vaginanya seolah menjepit 2 kali lebih hebat, batang penisku seolah diremas dan dikenyot-kenyot hebat sambil digesekkan keluar masuk meski hanya sekitar 4 centi saja.

oohh.., bak tanggul jebol akhirnya aku menyerah kalah.., aku tak mampu menahan desakan air maniku yang sudah sampai di leher batang penisku. Kuremas gemas kedua belah payudara Tante Vivi yang besar terguncang dengan kedua belah jemari tanganku. Aku menggeram keras dan melepas puncak kenikmatan seks.

“aagghhghghhgaahh..”, Teriakku nikmat.., saat dengan hebatnya air maniku muncrat keluar dengan tembakan-tembakannya yang keras dan kuat.

“Craatt.., craatt.., Crraatt.., craatt..” ke dalam liang vagina Tante Vivi yang sempit licin dan hangat.

“uu.., mm.., uu.., mm.., oowww.., banyak sekali manimu sayangghh.., uu..”, desahnya lembut saat air maniku kutembakkan berulang kali dengan sepenuh rasa nikmat ke dalam liang vaginanya.

Jiwaku seakan terbang melayang jauh keatas awan.., begitu tinggi.., terasa begitu nikmatnya, “Oohh..”. Tubuhku seakan menggelepar dirajam kenikmatan yang tak terkira, begitu indah dan enaknya saat daging liang vagina Tante Vivi yang menyempit hebat menggesek semakin cepat pula batang penisku yang sedang collapse.., ejakulasi, seakan milikku diurut-urut mesra sembari memuntahkan air mani yang sangat banyak dan kental.

Crraat.., crraatt.., crraatt.., creett..

Kira-kira 8 semburan nikmat yang memabukkan. Aku masih terlena diawan kenikmatan menikmati sisa-sisa semprotan air maniku yang masih tersembur keluar di dalam liang vaginanya. Tante Vivi dengan masih bersemangat menggenjot pinggulnya naik turun dengan cepat meluluh lantakkan alat kejantananku yang benar-benar sudah lumat terkuras. Jiwaku seakan kembali terhempas keatas tanah.., seolah terlempar dari pusaran awan kenikmatan yang terasa begitu singkat.

Bersambung ke bagian 05

Tags : cerita 18sx, cerita seks, cerita tante, video abg, amoy bugil, cewek cantik,gadis telanjang bugil, abg telanjang bugil, sandra dewi telanjang bugil, telanjang bugil blogspot com, telanjang gadis indonesia, telanjang artis indonesia, gambar telanjang mahasiswi, bokep mahasiswi, mahasiswi jogja, mahasiswi toket gede

1 komentar 27 April 2010

Cerita 18sx – Gairah Tante Vivi 03

Sambungan dari bagian 02

Tante Vivi sambil tersenyum manis ke arahku rebah telentang dengan posisi setengah mengangkang mempertontonkan seluruh anggota tubuhnya yang paling terlarang. Kedua buah dadanya yang ternyata memang sangat besar terlihat masih begitu kencang, sama sekali tidak kendor, membentuk bulatan indah bak buah semangka. Kedua puting payudaranya yang kecil berwarna coklat kemerahan mengacung ke atas seolah menantangku untuk segera kujamah. Begitu pula perutnya masih terlihat ramping dan seksi tanpa lipatan lemak, menandakan Tante Vivi belum pernah melahirkan seorang anak. Aku menelan ludah melihat bagian bawah tubuhnya yang kini ternyata tak memiliki sehelai rambutpun. Rupanya Tante Vivi telah mencukur habis bulu kemaluannya yang kemarin sempat kulihat begitu sangar dan vulgar.

oohh.., tanpa terasa mulutku mendesah takjub menyaksikan keindahan bukit kemaluannya yang besar. Seumur hidup baru kali ini aku menyaksikan alat kemaluan wanita dari keturunan Tionghoa. Belahan bibir kemaluannya yang sangat putih mulus walau sedikit kecoklatan terlihat sangat tebal membentuk sebuah bukit kecil mulai sekitar 6-8 centi di bawah pusar yang terbelah di bagian tengahnya sampai ke selangkangan bagian bawah di atas lubang duburnya yang hitaman kecoklatan. Labia Mayoranya yang sangat merangsang itu terlihat masih saling menutup rapat satu sama lain meskipun Tante Vivi sudah setengah mengangkangkan kedua pahanya, seolah menyembunyikan liang vaginanya yang memang sangat terlarang. Ini berarti liang vaginanya pasti masih sangat sempit walaupun ia sudah tak perawan lagi. Dari lekukan sempit dan panjang yang terbentuk dari kedua belah labia mayoranya itu aku sedikit dapat melihat dan menduga betapa merahnya liang kenikmatan miliknya.

Batang penisku yang semula agak lemas kini langsung kembali perkasa. Dengan cepat kurasakan kepala penisku kembali mendesak ke atas melongok keluar dari celana dalam seolah ingin mengintip apa yang sedang terjadi dihadapanku dan membuatku takjub.

oohh.., Vivi..”, bisikku lemah. Batinku seolah menyerah kalah., “Maafkan aku Selva.., aku sangat mencintaimu.., tapi ini hanyalah seks.., bukan cinta..”

Lalu kreekk.., Dengan gemas kurobek celana dalamku yang terasa kecil bagi alat kelelakianku. Aku sudah tak peduli lagi dengan segala sesuatunya. Batang penisku yang tegang itu langsung mengacung keluar setengah mengarah ke atas sambil manggut-manggut naik turun menyetujui pikiranku yang ngeres. Aku sedikit heran juga menyaksikan batang penisku yang kelihatan sedikit lebih besar dari biasanya, begitu pula dengan kepala penisku yang terlihat begitu nanar dan mekal berwarna kemerahan saking tegangnya. Urat-urat diseluruh permukaan batang penisku sampai menonjol keluar semua membentuk guratan-guratan kasar setengah melingkar.

Dengan lutut setengah gemetar seakan tak percaya menyaksikan semua itu, perlahan-lahan aku mulai naik ke atas pembaringan menyusul Tante Vivi yang sudah menungguku sejak tadi. Dengan rambut setengah terurai di pipi Tante Vivi tersenyum manis memamerkan keindahan bibir dan gigi-giginya yang putih menawan. Matanya seolah meredup dan pasrah. Namun nafasnya sedikit terdengar kurang teratur menandakan ia sedikit tegang atau mungkin juga ia sedang dilanda nafsu birahinya.

“Vivii..”, bisikku penuh nafsu. Setengah dag-dig-dug kubaringkan tubuhku persis di sebelah kanan tubuhnya yang bugil. Kupandangi wajahnya yang cantik mempesona, lalu dengan jemari gemetar kuelus mesra kedua belah pipinya yang halus. Tante Vivi tersenyum manja padaku.

“Ar.., beri aku kenikmatan..”, bisiknya tanpa malu-malu. Sorot matanya terlihat lemah seolah memohon. Aku tersenyum penuh gairah.

“Aahh Vivi.., aku akan memberimu kepuasan.., aahh.., kau lihat penisku Vi.., dia yang akan memberimu kenikmatan..”, bisikku nakal. Tante Vivi mau tak mau melirik ke bawah menyaksikan alat vitalku yang besar dan keras saking kuat ereksinya.

“Iihh.., hik.., hik.., kau nakal Ar.., oohh.., sshh.., lakukanlah sekarang Ar..”, tiba-tiba ia berbisik sedikit keras. Aku terkaget heran.

“Sekarang Tante..?”, tanyaku heran, sedikit kurang sambung.

“Yaa.., sekarang Ar.., naiki aku.., masuki tubuhku sekarang.., sshh..”, bisiknya semakin keras. Sembari jemari tangan kirinya memegang lenganku mengajak untuk..

Astagaa.., Tante Vivi begitu bernafsunya sampai tanpa sungkan-sungkan lagi memintaku untuk segera menyetubuhinya. Namun sebenarnya aku masih ingin mencumbunya terlebih dulu, menikmati kehalusan kulit tubuhnya, meremas-remas dan menghisap kedua puting susunya sampai puas dan yang paling aku gemari adalah pasti mencumbu alat kelaminnya sampai ia orgasme seperti yang sering aku lakukan terhadap Dina. Terus terang aku sudah tergila-gila pada alat kelamin wanita. Setiap akan bersenggama dengan Dina tak pernah sekalipun aku mengawali persetubuhan tanpa terlebih dahulu aku mencumbu alat kewanitaannya sampai Dina orgasme berulang-ulang. Baru setelah Dina lemas kehabisan tenaga setelah melepas kenikmatan, aku baru memasukkan batang penisku ke dalam liang vaginanya yang sempit dan licin terkena muntahan cairan orgasmenya, mengocoknya di dalam situ sampai air maniku muncrat ejakulasi.

“Kita bercumbu dulu Tante..”, bisikku merasa diatas angin. Aku bisa menduga mungkin Tante Vivi terlalu lama menahan keinginan seksualnya sampai begitu kesempatan untuk itu ada ia sudah tak mampu menahan gejolak birahinya yang sekian lama tertahan.

“aahh.., kita lakukan sekarang saja Ar..”, bisiknya seolah setengah memaksa. Tanpa rasa malu sedikitpun. Kuperhatikan jemari tangan kirinya kini telah berada di atas selangkangan mengusap-usap bukit kemaluannya yang montok merangsang.

Astaga.., rupanya Tante Vivi sudah tak tahan lagi. Aku tersenyum penuh gairah, aku tahu liang vaginanya pasti sudah gatal karena sekian lama tidak dipakai. Beruntung sekali suami Tante Vivi dulu yang pertama kali mencicipi dan menikmati keperawanannya.., pasti luar biasa nikmat saat pertama kali menembus liang vaginanya yang sempit. mm.., aku jadi tak tahan karena teringat saat pertama kali batang penisku memasuki liang vagina Dina dan merobek selaput keperawanannya. Adalah saat terindah bagi seorang laki-laki ketika memuntahkan air maninya dengan sepenuh rasa nikmat ke dalam liang vagina seorang wanita yang masih perawan. Saya telah mengalami hal itu dan memang luar biasa nikmat. Dan kini mungkin saatnya bagi saya untuk menikmati liang vagina seorang janda.., mm.., pikirku ngeres.

“Kau yakin Vi.., kita tidak bercumbu dulu sayang..”, bisikku gemas.

“Ar.., kamu nakal..”, sahut Tante Vivi padaku, wajah cantiknya kelihatan memelas. Aku jadi geli baru pertama kali ini aku melihat seorang wanita dengan nafsu seks sebesar Tante Vivi, sampai memelas-melas seperti ini. Tapi aku maklum karena mungkin Tante Vivi telah ngempet tidak berhubungan seks bertahun-tahun. Tapi bagaimanapun aku berpantangan untuk tidak langsung menyetubuhinya. Tante Vivi bukanlah ayam betina yang langsung saja bisa digagahi. Aku ingin memberinya terlebih dahulu sensasi-sensasi seks terindah pada seluruh sekujur tubuhnya sampai ia benar-benar merasakan puncak sekaligus akhir dari pendakian indah sebelum memasuki tahap persetubuhan untuk mencapai kenikmatan sesungguhnya. Walaupun sebenarnya aku mau saja langsung menggagahinya dan memuasinya dengan cepat, tapi bagiku itu tiada berkesan selain merasakan kenikmatan sesaat. Dan seolah bagai mimpi saja ketika akhirnya dengan sigap aku telah berada diatas tubuh Tante Vivi yang telanjang bulat dan menindihnya gemas.

Kami berdua secara bersamaan melenguh nikmat saat kulit tubuh kami saling bersentuhan dan akhirnya merapat dalam kemesraan. Aku tak pernah menyangka bisa meniduri bidadari secantik Tante Vivi. Batang penisku yang berdiri tegak seakan kena setrum saat menyentuh bukit kemaluan Tante Vivi yang halus dan sangat empuk. Maklum bukit kemaluannya memang relatif sangat besar dan montok. Jauh lebih montok dibanding milik Dina.

Dengan nakal kepala penisku menyelip diantara bibir kemaluannya yang rapat. mm.., terasa begitu nikmat saat kulit kepala penisku menggesek daging celah labia mayoranya dan menyelip ke dalam. Tante Vivi mungkin mengira batang penisku ingin memasuki liang vaginanya, karena begitu kepala penisku menyelip di antara labia mayoranya kurasakan ia membuka kedua pahanya lebar-lebar. Aku merasa betapa begitu halus kulit kedua belah pahanya yang langsung mengapit pinggangku lembut. Sengaja aku tidak menekan pinggulku terlalu ke bawah untuk berjaga-jaga agar jangan sampai kepala penisku sampai terdorong kebawah memasuki liang vaginanya, walau aku sebenarnya juga bisa menduga pasti tidak mudah bagiku nanti memasukkan alat kejantananku ke dalam liang vaginanya. Kalau benar Tante Vivi sudah lama tidak berhubungan seks.., mm.., liang vaginanya pasti sempit luar biasa.

Sambil mengusap mesra rambut Tante Vivi yang panjang, mulutku dengan gemas kembali mengecup dan mengulum bibir Tante Vivi yang basah dan hangat. mm.., cupp.., cupp.., mulutku secara bergantian mengulum bibirnya yang atas dan yang bawah. Dengan tak kalah mesra Tante Vivi membalas cumbuanku pada bibirnya. Sesekali lidahnya dijulurkan keluar untuk dengan segera kuhisap dan kukulum mesra. Terasa begitu gurih manis lidah dan bibirnya. Sementara bibir kami bercumbu, kurasakan dua sensasi indah di dua tempat yang paling terlarang pada tubuh Tante Vivi. Pertama di selangkangannya, kedua di bagian dadanya.

mm.., kedua payudaranya yang luar biasa besar itu terasa begitu kenyal dan padat menekan nikmat dadaku, kedua puting payudaranya yang lancip seakan menggelitik kulit dadaku. Kedua jemari tangan Tante Vivi yang halus mengusap-usap gemas daging bokongku, berulang kali ia mencoba untuk menekan pantatku ke bawah agar batang penisku segera memasuki liang vaginanya, namun aku bertahan agar pinggulku tetap setengah terangkat, hanya kepala penisku saja yang sedikit terjepit diantara labia mayoranya. Butuh suatu kesabaran agar rasa nikmat pada kepala penisku yang sudah setengah terjepit di bibir kemaluannya itu tidak membuatku berbuat lebih jauh lagi menuruti keinginan Tante Vivi yang sudah ngebet.

Sesekali Tante Vivi dengan tak sabar menyelipkan jemari tangan kanannya diantara selangkangan kami, lalu dengan gemas ia meremas batang penisku dan mengarahkan kepala penisku yang sudah setengah terjepit di situ ke mulut liang vaginanya yang terasa licin dan buntu, menandakan liang vaginanya itu sangat jarang dipakai. Mungkin hanya mantan suaminya saja dulu. Aku segera menarik pinggulku agak ke atas karena terasa geli-geli nikmat pada batang penisku yang diremasnya. Aku melepaskan ciumanku pada bibir Tante Vivi.

“Aaoohh.., Tante geli ahh..”, erangku setengah keenakan.

“Uuhh.., kamu nakal Ar..”, bisik Tante Vivi lirih. Bibirnya yang ranum kemerahan sangat basah penuh air liurku. Kulihat wajah cantiknya tampak berkeringat basah. Kelihatan ia sudah sangat ngebet kepingin senggama. Kedua matanya yang semakin sipit memandangku lemah seolah memelas. Aku kasihan juga melihatnya.

“Tante sudah kepingin sekali yaachh..”, bisikku gemas melihatnya.

Tante Vivi tidak menjawab namun jemari tangannya mencubit pinggangku keras-keras. Aku memekik kesakitan. “Aaoowww..”.

Lalu dengan gemas, mulutku kembali melumat bibir ranumnya yang basah.., hanya lima detik mulutku melepas bibirnya dan bergerak ke atas dan, “Oouuhh..”, Tante Vivi merintih manja saat bibir dan lidahku dengan gemas mulai menggelitiki telinga kirinya. Sesekali gigiku setengah menggigit membuat Tante Vivi menggelinjang geli keenakan.

“Nngghh.., eenngghh.., Ar..”, pekiknya lirih. Ia sangat terangsang sekali dengan ulahku.

30 detik kemudian dengan cepat aku menggeser tubuh ke bawah. Kini saatnya bagiku untuk bermain-main dengan kedua buah payudaranya sepuas mungkin. Kali kurebahkan perutku merapat ke tubuh Tante Vivi, dan mm.., perutku terasa menekan nikmat bukit kemaluannya yang besar.., sedikit kurasakan kalau bukit kemaluannya itu sedikit agak kasar, seperti bekas kalo ada rambut yang dicukur.

Dari dekat aku dapat menyaksikan betapa luar biasa besarnya payudara Tante Vivi, warnanya begitu putih bersih dan mulus. Kedua puting payudaranya yang kecil lucu seakan tidak sebanding dengan besar susunya, berwarna coklat kemerahan. Baru kali ini aku melihat seorang wanita memiliki susu yang sangat besar, selama ini aku hanya melihatnya di dalam film BF, itupun milik cewek bule. Bahkan jemari tanganku yang kubuka selebar mungkin masih belum bisa melingkari bulatan kedua buah dada Tante Vivi yang extra large. Dalam hati.., susu sebesar ini berapa ukuran BH-nya yaah.., aku jadi makin tegang sendiri memikirkannya. Dengan gemas kedua jemari tanganku yang sudah melingkari kedua buah dadanya bergerak meremas-remas pelan.., woowww.., begitu kenyal, kencang dan hangat.

“Nngnngghh.., oouuhh”, Tante Vivi memejamkan kedua matanya dan mulutnya yang basah mengerang keenakan. Aku tersenyum. “Kuperkosa habis-habisan kau nanti Tante..” bisikku dalam hati penuh nafsu. Aku menunduk dan mulutku mulai menghisap nikmat susunya yang sebelah kiri secara perlahan. Lidahku dengan gemas menyentil putingnya dan menggigit pelan.

“Aawww.., nngghh..”, Tante Vivi merintih semakin keras. Aku jadi ikutan terangsang. Mulutku mulai menghisap putingnya sedikit lebih keras dan semakin keras. Kubuka mulutku selebar mungkin, seolah ingin menelan susunya. Kuhisap sekuatnya susu kirinya sampai pipiku terasa kempot, lidahku dengan ganas memilin-milin putingnya dengan perasaan geregetan.

mm.., nikmatnya.., Pop.., pop.., berulang kali aku menghisap dan melepaskan hisapanku dengan kuat sampai berbunyi nyaring. Puas dengan hisapan, lidahku yang basah kujalarkan menjilati seluruh permukaan payudaranya sampai penuh dan basah oleh air liur.

Tante Vivi bergerak semakin liar. Mulutnya berulang kali memekik dan mengerang keenakan menikmati sedotan mulutku pada susunya.

“Aawww.., ngghh.., awww..”. Jemari tangannya tak tahan mengerumasi rambut kepalaku dengan gemas. Mulutku kini berpindah untuk menghisap, mengulum dan menjilati susunya yang sebelah kanan, sementara susunya yang kiri gantian kuremas-remas dengan lembut. Seperti juga yang kiri, aku mengenyot-ngenyot payudara kanannya membuat Tante Vivi semakin menggeliat hebat keenakan.

“aawww.., Ar.., hu.., hu.., sudah Ar.., ngghh.., sudah sayang..”, erangnya tak kuat menahan rasa nikmat. Aku semakin bersemangat. Kuhisap, kukulum, kupilin, kukenyot dan kujilati payudaranya yang kanan berulang-ulang kali tanpa ampun, membuat Tante Vivi berulangkali pula memintaku untuk segera menyudahi.

“aawww.., sudah sayang.., aduuh.., hu.., huu.., ngghh.., k.., kau nakal Ar..”, erang Tante Vivi sambil tetap mengerumasi rambut kepalaku. Aku tak peduli, cukup lama sekali aku mengenyot dan menyusu kedua belah payudaranya yang besar. Mungkin sekitar 10 menitan lebih.

Setelah puas barulah aku dapat melihat kedua buah dadanya yang tadinya begitu putih mulus dan bersih itu kini sampai basah penuh liur, dan di sana sini tampak kemerahan bekas hisapan mulutku. Terutama disekitar kedua putingnya yang kini tampak semakin merah saja, kulihat ada sedikit guratan merah di situ mungkin bekas gigitanku tadi.., gemass sih.

Tante Vivi memandangku sayu, kedua matanya sedikit berair dan memerah, bibirnya gemetar. Wajah cantiknya itu kelihatan sedikit geregetan.

“Kamu benar-benar nakal sekali Ar.., Awas kamu yaa..”, bisiknya lirih padaku seakan ingin membalas dendam. Aku tersenyum padanya, lalu tiba-tiba kedua jemari tangannya tadi mendorong kepalaku ke bawah.

mm.., rupanya Tante Vivi ingin aku mencumbu alat kemaluannya. Woowww.., ini favoritku malah.., dengan sigap aku menggeser ke bawah.., mm terasa enaak saat perutku menggesek bukit kemaluannya. Lidahku kujulurkan menjilati permukaan perutnya yang halus dan sejenak sempat kugelitik lubang pusarnya dengan lidah dan bibirku. Dan ketika mukaku sampai di atas selangkangannya.., woowww.., ini dia ee.., alamak indahnya alat kemaluan milik Tante Vivi ini. Begitu putih dan mulus sesuai dengan warna kulit tubuhnya, disana-sini masih bisa terlihat secara samar kehitaman bekas cukuran bulu jembut kemaluannya. Alat kemaluannya itu kelihatan besar dan tebal, membentuk sebuah bukit kecil di atas selangkangannya.

Kini dengan jelas aku dapat melihat dari jarak kurang dari 15 centi bibir labia mayoranya yang tebal saling menutup sangat rapat satu sama lain membentuk lekukan celah sempit memanjang vertikal sampai diatas lubang duburnya yang kecil berwarna hitam kecoklatan. Liang vaginanya seolah tertutup rapat tersembunyi oleh ketebalan labia mayoranya itu. Aroma khas bau alat kemaluannya benar-benar memabukkanku. Hidungku kembang-kempis menarik napas panjang menghirup aroma nikmat bau alat kelaminnya.

Mm.., memang aku begitu menyukai bau alat kelamin wanita. Baunya seharum milik Dina. Namun berbeda dengan milik Dina yang sedikit lebih kecil bentuknya, alat kemaluan Tante Vivi yang besar ini dapat kuduga memiliki liang senggama yang lebih panjang dan dalam. mm.., pasti daya tampung air maninya pasti banyak sekali. Seolah mengerti pikiranku, batang penisku yang sudah ereksi bak pisang raja itu manggut-manggut pelan mengiyakan walau sudah terjepit di atas kasur.

Tiba-tiba tanpa kuduga tangan Tante Vivi menekan kepalaku ke bawah, sehingga tanpa dapat kucegah lagi mukaku langsung nyosor terbenam ke dalam selangkangannya yang putih merangsang. Hidungku sampai amblas masuk terjepit diantara labia mayoranya yang tebal. Aku tidak bisa bernapas bebas, yang kurasakan hidungku hanya bisa menghisap udara bercampur aroma khas bau alat kewanitaannya yang menyengat dan memabokkan dari sela-sela bibir kemaluannya. Sementara mulutku yang menekan bukit kemaluannya agak sebelah bawah terasa pas berada dimulut liang vaginanya. Aku tak menyia-nyiakan. Lidahku langsung kujulurkan ke bawah sepanjang mungkin menyelip dan menembus bibir kemaluannya dan secara perlahan mulai memasuki liang vaginanya yang terasa sempit dan licin. Aku kira cairan lendir vaginanya mulai mengalir keluar cukup banyak, terbukti ketika lidahku yang masuk sekitar 1 centi ke dalam, liang vaginanya terasa penuh dengan cairan lendir yang sedikit amis namun nikmat dirasakan. Mulutku sampai mengecap nikmat berulangkali menyedot cairan vaginanya itu.

Tante Vivi menggeliat hebat dan mulutnya mengerang panjang keenakan.., pinggulnya terkadang digoyangkan lembut kekiri-kanan dan juga keatas menikmati cumbuanku.

“aagghghh.., nggnnhhff.., sshh.., aarr..”, pekiknya nikmat. Jemari tangannya semakin menekan kepalaku ke bawah, membenamkan mukaku seluruhnya ke bukit kemaluannya.

Dalam posisi seperti ini, mau tak mau membuat hidungku semakin tak bisa bernafas, hidungku seolah tenggelam terjepit diantara bibir kemaluannya yang tebal. Bau khas alat kemaluannya terasa makin menyengat. Meski membuatku semakin terlena, namun aku bisa-bisa mati kehabisan napas juga. Kususupkan kedua jemari tanganku menyusuri ke bawah ke balik bulatan pantatnya yang kenyal dan padat, tanganku mulai meremas gemas lalu dengan buas kugoyang-goyangkan mukaku mengusap ke seluruh permukaan bukit kemaluan Tante Vivi yang hangat dan empuk. Hidungku mengambil napas sebentar lalu dengan gairah tinggi kembali kuselipkan diantara bibir kemaluannya menyentil-nyentil bulatan mungil clitorisnya dengan ujung hidungku, sementara bibir dan lidahku yang kembali kutelusupkan sekitar 1 centi memasuki liang vagina sempitnya, menggelitik-gelitik lembut mulut liang vagina merahnya sembari terus menyedot cairan lendir miliknya yang masih tersisa.

Bersambung ke bagian 04

Tags : cerita 18sx, cerita ngentot, artis bugil, video bokep, tante bugil, cerita sexs, cerita nafsu, nafsu seks, nikmat nafsu, birahi nafsu, nafsu pembantu, nafsu kontol, nafsu mama, memek nafsu, nafsu ngentot, nafsu perawan

Add a comment 26 April 2010

Cerita 18sx – Gairah Tante Vivi 02

Sambungan dari bagian 01

Selama 30 menit kedepan, bak seorang instruktur kawakan aku mengajari Tante Vivi tentang penggunaan program aplikasi Windows dan Internet. Aku berusaha menjelaskan sesingkat dan seefisien mungkin agar tidak terlalu membuang banyak waktu, bagaimanapun aku jadi tidak enak juga karena hari sudah semakin malam. Kulirik arlojiku sudah hampir setengah 12 malam.

“Sudah malem Tante.., besok-besok khan masih bisa belajar Tante.., mm sekarang saya pulang dulu ya Tante..”, kataku sambil setengah berjalan hendak keluar kamar.

“Iya deh.., waah.., makasih ya Ar.., kamu pinter sekali mm.., Tante gimana harus ngucapin terima kasih sama kamu Ar.., hik.., hik..”, tanyanya sambil tertawa kecil.

“aah.., Tante ini ada-ada aja.., sudah deh.., sudah malem Tante..”, jawabku sambil berjalan keluar, Tante Vivi mengikuti di belakangku. Kami terdiam sejenak. Sambil berjalan aku tersenyum, “Gilaa..”, Tante Vivi begitu baik dan sopan, ternyata tak seperti yang aku duga dasar otak ngeres, bisikku dalam hati.

Dipintu depan, sekali lagi Tante Vivi mengucapkan banyak terima kasih, aku menyalaminya tangannya yang halus erat-erat. Aku sudah hendak membuka pintu depan, ketika tiba-tiba seekor laba-laba hitam yang cukup besar dengan kaki-kakinya yang panjang langsung meloncat ke lantai begitu tanganku memegang handle pintu, refleks tanganku kutarik ke belakang sambil meloncat mundur, aku tidak tahu dan tidak sengaja ketika diriku menabrak tubuh Tante Vivi, sontak ia terhuyung dan menjerit hendak jatuh. Namun dengan sigap walaupun tubuhku masih setengah merinding, aku langsung memegang lengan kanannya dan kutarik tubuhnya ke arahku. Dalam sedetik tubuhnya telah berada dalam pelukanku. Sweear.., saya memang tidak sengaja memeluk tubuhnya.

“Aduuh.., Ar.., ada apa sih kamu..”, pekiknya.

“Anuu Tante.., laba-laba gedhe..”, sahutku sambil memandang ke sekeliling ruangan, aku bener-benar senewen sekali rasanya. Sialaan, laba-laba sialaan ngagetin orang aja” bisikku dalam hati. Saat itu aku masih belum sadar kalau kedua tanganku masih memeluk tubuh Tante Vivi, maklum aku sendiri masih terasa merinding.

“Ar..”, bisik Tante Vivi di telingaku. Aku menoleh dan terjengah. Ya Ampuun, wajah cantiknya itu begitu dekat sekali dengan mukaku. Hembusan nafasnya yang hangat sampai begitu terasa menerpa daguku. Wajahnya kelihatan sedikit berkeringat, sorotan kedua matanya yang sedikit sipit kelihatan begitu sejuk dalam pandanganku, hidungnya yang putih mbangir mendengus pelan, dan bibirnya yang ranum kemerahan terlihat basah setengah terbuka.., duh cantiknya. Sejenak aku terpana dengan kecantikan wajahnya yang alami. Ada banyak kesamaan lekuk wajahnya yang cantik dengan wajah kekasihku Selva. Seolah teringat kemesraan dan kebersamaanku bersama Selva, seolah tanpa sadar dan tanpa dapat aku mencegahnya.., kudekatkan mukaku kepadanya. Kesemuanya seolah terjadi begitu saja tanpa aku mengerti sama sekali. Seolah ada magnet yang menuntun dan membimbingku di luar kesadaran.., dan dalam 2 detik bibirku telah mengecup lembut bibir Tante Vivi yang setengah terbuka. Begitu terasa hangat dan lunak. Kupejamkan kedua mataku menikmati kelembutan bibir hangatnya.., terasa manis.

Selama kurang lebih 10 detik aku mengulum bibirnya, meresapi segala kehangatan dan kelembutannya. Dan ketika aku menyadari bahwa Tante Vivi bukanlah Selva, maka..

” ooh..”, bisikku kaget, sesaat setelah kecupan itu berakhir. Dengan perasaan kaget bercampur malu aku melepaskan pelukanku. Aku memandang Tante Vivi dengan sejuta rasa bersalah, namun seolah tak yakin aku juga baru menyadari kalau Tante Vivi sama sekali tak memberontak ketika aku menciumnya. Kini yang aku lihat betapa wajahnya yang cantik kelihatan semakin cantik. Kedua pipinya yang putih bersih bersemu merah bak boneka barbie, kedua matanya yang sipit memandang redup kepadaku, sementara kedua belah bibirnya masih setengah terbuka dan merekah basah menawan hati.

“Tan.., te.., apa yang kulakukan..”, bisikku masih setengah tak percaya atas sikapku barusan kepadanya.

Tante Vivi sama sekali tak menjawab. Tidak ada rona kemarahan di wajahnya yang cantik. Ia hanya tersenyum setengah malu-malu dan menundukkan muka. Sejenak kami berdua terdiam.., hening dalam pikiran masing-masing.

Kali ini aku benar-benar malu pada diriku sendiri, terlalu gampang mengumbar perasaan kepada setiap orang.., aahh tetapi.., kenapa ada sesuatu yang lain pada tubuhku.., sesuatu yang aku begitu sangat mengenalnya.., astaga.., aku merasa batang penisku telah berdiri tegak.., tuing.., tuiing.., gilaa begitu cepatnya batang penisku mengeras dan mendesak celana dalamku seolah ingin berontak keluar.

“Sudahlah Ar.. “, bisik Tante Vivi lirih, memecah keheningan itu. Aku tersadar pula.

“Maafkan Ari Tante.., sa.., saya.., teringat Selva Tante..”, sahutku setengah gugup.

Tante Vivi tersenyum semakin manis. Bibir ranumnya yang barusan kukecup semakin indah menawan membentuk senyuman mesra.

“Kamu rindu Ar.., sama dia..”, tanyanya seolah melupakan peristiwa yang barusan. Aku sedikit bernapas lega karena ia kelihatan sama sekali tidak marah. Aku tidak tahu apa alasannya namun yang penting aku bisa meredam rasa maluku.

“Eehh.., iya Tante..”, sahutku beralasan.

“Ya sudahlah.., tidak pa-pa Ar..”, sahutnya enteng. Mau tak mau aku jadi bingung juga melihat sikapnya. Semudah itukah. Mencium seseorang yang bukan apa-apanya secara disengaja, itu tidak apa-apa?

“Tante tidak marah..?”, tanyaku balik. Entah kenapa aku seolah diatas angin melihat sikapnya dan seolah timbul keberanianku.

“Tidak Ar..”, jawabnya sambil tetap tersenyum manis. Kedua matanya memandangku dengan sejuta arti. Dalam pandanganku wajahnya kelihatan semakin bertambah cantik dan cantik. Sebagai seorang laki-laki dan sebagai seorang terpelajar seperti aku yang sudah kenyang dengan cerita pengalaman orang lain plus pengalamanku sendiri, apalagi soal perilaku seks. Sikap Tante Vivi seperti itu seolah sebagai tantangan dan ajakan. Otakku berpikir cepat, menimbang.., dan memutuskan. Sampai disitu jalan pikiranku menjadi buntu.., yang ada hanyalah.., nafsu.

Seolah ada yang memberiku kekuatan dan keberanian, kuraih tubuh Tante Vivi yang masih berada di hadapanku dan kubawa kembali ke dalam pelukanku. Benar saja.., ia sama sekali tak melawan atau memberontak. Seolah lemas saja tubuhnya yang seksi montok itu berada dalam dekapanku. Wajahnya yang cantik bak bidadari kahyangan memandangku pasrah dan tetap dengan senyum manis bibirnya yang kian menggoda. Kedua pipinya kelihatan semakin memerah pula menambah kecantikannya. Aku semakin terpana.

“Apa yang ingin kau lakukan Ar..”, bisiknya lirih setengah kelihatan malu.

Kedua tanganku yang memeluk pinggangnya erat terasa sedikit gemetar memendam sejuta rasa. Dan tanpa terasa jemari kedua tanganku telah berada di atas pantatnya yang bulat. Mekal dan padat. Lalu perlahan kuusap mesra sambil berbisik.

“Tante pasti tahu apa yang akan Ari lakukan..”, bisikku pelan. Jiwaku telah terlanda nafsu. Telah kulupakan bayangan Dina dan juga Selva. Aku lupa diri, setan-setan burik telah menyapu habis pikiranku tentang mereka.

“Kau yakin Ar..”, tanya Tante Vivi lirih. Ooh.., desakan kedua buah payudaranya yang besar pada dadaku membuat batang penisku semakin tegang tak terkira.

“Yaa.., Tante..”, sahutku tanpa mengerti maksud pertanyaannya. Dengan cepat aku sudah membayangkan keindahan tubuhnya yang telanjang bulat, kemontokan payudaranya yang besar dan kencang, kemulusan kulit tubuhnya dan.., aahh bukit kemaluannya yang besar.., woowww..

Tanpa terasa batang penisku kurasakan memuntahkan cairan beningnya, aku merasa seolah telah memasuki liang vaginanya. Tanpa dapat kucegah, kuremas gemas kedua belah pantatnya yang terasa kenyal padat dari balik celana jeans ketatnya.

“Oouuhh.. “, Tante Vivi mengeluh lirih.

Bagaimanapun juga anehnya aku saat itu masih bisa menahan diri untuk tidak bersikap over atau kasar terhadapnya, walau nafsu seks-ku saat itu terasa sudah diubun-ubun namun aku ingin sekali memberikan kelembutan dan kemesraan kepadanya. Hanya setan-setan burik sialan itu yang menyuruhku agar segera melucuti pakaian Tante Vivi dan memperkosa sepuasnya.

“aah.., ki.. Kita ke kamar Tante..”, bisikku semakin bernafsu.

Lalu dengan gemas aku kembali melumat bibirnya. Kusedot dan kukulum bibir hangatnya secara bergantian dengan mesra atas dan bawah. Kecapan-kecapan kecil terdengar begitu indah, seindah cumbuanku pada bibir Tante Vivi. Kedua jemari tanganku masih mengusap-usap sembari sesekali meremas pelan kedua belah pantatnya yang bulat padat dan kenyal. Aku masih menahan diri untuk tak bergerak terlalu jauh, walau sebenarnya hatiku begitu ingin sekali meraba selangkangan atau meremas payudaranya. Entah kenapa aku ingin bersikap lembut dan romantis. Bahkan kecupan bibirku padanya kulakukan selembut dan semesra mungkin, aku kira Tante Vivi sangat menyukainya. Bibirnya yang terasa hangat dan lunak berulang kali memagut bibirku sebelah bawah dan aku membalasnya dengan memagut bibirnya yang sebelah atas. ooh.., terasa begitu nikmatnya. Dengusan pelan nafasnya beradu dengan dengusan nafasku dan berulang kali pula hidungnya yang kecil mbangir beradu mesra dengan hidungku. Kurasakan kedua lengan Tante Vivi telah melingkari leherku dan jemari tangannya kurasakan mengusap mesra rambut kepalaku.

Batang kejantananku terasa semakin besar dan mendesak liar di dalam CD-ku. Teng.., teng.., teng.., aku mulai merasakan kesakitan apalagi karena posisi tubuh kami yang saling berpelukan erat membuat batang penisku yang menonjol dari balik celanaku itu terjepit dan menempel keras di perut Tante Vivi yang empuk.

Sampai disitu aku tak mampu menahan diri lagi, birahiku telah mengalahkan segala-galanya. Keyakinan dan akal sehatku seakan telah tertutup oleh lingkaran nafsu. Kenikmatan seks yang pernah kurasakan bersama Dina telah membuatku semakin lupa diri. Seolah menemukan daging segar yang baru, sejenak kemudian kulepaskan pagutan bibirku pada bibir Tante Vivi.

aah.., wajah cantiknya itu kelihatan semakin berkeringat, dan bibirnya yang basah oleh liurku merekah indah. Begitu ranum bak bibir gadis remaja. Kedua bola matanya sedikit redup dan memandangku pasrah. Aku melihat ada sejuta keinginan terpendam dalam sorot matanya itu. Aku bisa menduga Tante Vivi pasti tak tahan hidup menjanda, bagaimanapun aku tahu ia pasti jelas sudah tak perawan lagi,.. aku hanya bisa menduga-duga dengan apa Tante Vivi melampiaskan kebutuhan batinnya selama ini.

“Aku menginginkanmu, Tante..”, bisikku padanya terus terang. Pikiranku sudah tertutup oleh nafsu, namun bagaimanapun aku tak ingin grusa-grusu seenak sendiri. Dengan sikapku ini otomatis aku melatih diri untuk mengontrol keinginan seks-ku yang cenderung vulgar.

“oouh.., Ar.., Tante juga ingin.., oouhh..”.

Belum habis ucapannya yang sangat merangsang itu, badanku membungkuk dan meraih tubuh montok Tante vivi dalam pondonganku. Ia agak sedikit kaget melihat tindakanku, namun sejenak kemudian ia tertawa genit dan manja ketika aku mulai membopong tubuh seksinya itu masuk kembali melintasi ruang tengah menuju ke dalam kamar. Lengan kanannya merangkul leherku sementara jemari tangan kirinya mengusap mesra kedua pipi dan wajahku. Tante vivi kelihatan setengah malu-malu kubopong seperti ini.

“Kamu ganteng Ar..”, bisiknya padaku mesra sambil tersenyum manis.

“Kamu juga cantik Tante..”, balasku tak kalah mesra. Kami berdua sempat tertawa kecil karena kekanakan ini.

“Ar.., panggil aku Vivi saja yaa..”, ujar Tante Vivi padaku. Aku mengangguk senang.

Di dalam kamarnya, kuturunkan tubuh Tante Vivi dari boponganku di sisi kiri tempat tidurnya. Kami berdua saling berpandangan mesra dalam jarak sekitar 1 meter. Aah.., kunikmati seluruh keindahan bidadari di depanku ini, mulai dari wajahnya yang cantik menawan, lekak-lekuk tubuhnya yang begitu seksi dan montok, bayangan bundar kedua buah payudaranya yang besar dan kencang dengan kedua putingnya yang lancip, perutnya yang ramping dan pantatnya yang bulat padat bak gadis remaja, pahanya yang seksi dan aah.., kubayangkan betapa indah bukit kemaluannya yang kelihatan begitu menonjol dari balik celana jeansnya.., mm.., betapa nikmatnya nanti saat batang penisku memasuki liang vaginanya yang sempit dan hangat.., mm akan kutumpahkan sebanyak mungkin air maniku ke dalam liang vaginanya sebagai bukti kejantananku.., “Oohh.., Vivi..”, bisikku dalam hati. Akan kulumat dirimu dengan kenikmatan.

“Ar.., kamu duluan sayang..”, bisik Tante Vivi, membuyarkan fantasi seks-ku padanya.

Wajahnya yang cantik tersenyum manis, seolah ia mengetahui apa yang ada dalam pikiranku kedua jemari tangannya kini berada di atas kedua belah payudaranya sendiri. Tante Vivi mulai mengusap perlahan kedua bulatan payudaranyanya yang besar dari balik baju kemejanya. Seolah merangsang dan menggodaku. Aku tak tahan melihat tingkahnya, andai saja Tante Vivi tahu betapa sakitnya batang penisku yang terjepit di dalam CD-ku seolah memberontak ingin keluar. aah.., dengan cuek aku mulai membuka kancing kemejaku satu persatu dengan cepat.., srrt.., kulemparkan bajuku sekenanya ke samping, pandangan kedua mataku seolah tak lepas dari tubuh Tante Vivi yang semakin menggoda.., srrt.., kutarik kaos singletku keatas sampai lepas dan kulempar sekenanya pula. Tak puas sampai di situ, dengan jemari gemetar menahan nafsu aku mulai membuka sabuk celana dan menarik turun ritsluiting celana panjangku dan sruut.., langsung turun ke bawah (kebetulan aku mengenakan celana baggy dari katun).

“Ooh..”, Tante Vivi memekik kecil saat melihat tubuhku yang setengah polos. Kulihat kedua jemari tangannya meremas kuat payudaranya sendiri yang besar, mulutnya yang manis sedikit melongo dan kedua bola matanya yang hitam seakan setengah melotot pula memandang ke tubuhku bagian bawah. Sekilas aku melirik ke bawah dan tersenyum geli sendiri. Bagaimana tidak ternyata batang penisku yang sudah tegak itu mendesak hebat ke atas sampai kepala penisku tanpa terasa melongok keluar dari dalam celana dalamku. Begitu besar dan tebal mendongak ke atas persis di bawah pusarku. Kepala penisku kelihatan bengkak memerah karena tegang yang tak terkira. Batang penisku tidak terlalu panjang memang hanya sekitar 14 centi, namun ukuran diameternya cukup besar dan yang paling membuatku bangga adalah bentuknya yang mirip sekali dengan milik bintang film porno “Rocco Siffredi”.., montok dan berurat.

Kuusap pelan batang penisku yang sedang berdiri nakal itu dari balik celana dalam. mm.., terasa begitu nikmat. Kurasakan ada sedikit cairan bening yang keluar dan menempel pada jemari tanganku. mm.., bagaimanapun juga batang penisku ini pernah merobek dan merenggut keperawanan Dina. Tass.., Sekelebat bayangan wajah Dina seolah berada di depan pelupuk mataku. Aku seolah tersadar kembali.

Astaga.., aah.., apa yang aku lakukan ini?, nuraniku seakan menjerit. Sejenak pikiranku berkecamuk. Dan ketika bayangan wajah kekasihku Selva muncul, batinku semakin menjerit. aah.., apa yang aku lakukan Selva..? Terjadi perang berkecamuk di dalam batinku. Nuraniku mengatakan agar aku sadar mengingat resiko buruk yang mungkin terjadi dengan perbuatan bejatku, namun dilain pihak pikiranku mengatakan sangat ingin mencumbu dan melampiaskan nafsu seks-ku kepada Tante Vivi. Sikap Tante Vivi bagiku merupakan kejutan besar yang menggairahkan hati. Aku tak ingin melewatkan kesempatan indah yang tak mungkin dilain waktu akan terulang lagi. Batinku menjerit namun pikiranku yang dipenuhi nafsu seolah lebih kuat. Entah berapa lama aku memejamkan mata menanti perang di batinku akan berakhir. Aku merasa imanku terlalu lemah sedangkan darah mudaku yang penuh dengan gejolak birahi terlalu begitu perkasa.

Ketika aku membuka kedua mataku kembali kulihat Tante Vivi sudah tak berada di hadapanku lagi. Semula aku sedikit heran, lalu instingku menoleh ke samping kiri dan.., Astagaa.., mataku terbeliak kaget menyaksikan pemandangan indah yang begitu luar biasa.., begitu mempesona.., begitu menggairahkan.., begitu aahh..

Kedua mataku melotot sampai ingin keluar menyaksikan tubuh Tante Vivi yang kini ternyata telah berada di atas pembaringan tanpa tertutup sehelai benang. Betapa begitu putih mulus tubuh moleknya yang bugil telanjang bulat, jauh lebih putih dari tubuh Dina.., memamerkan semua keindahan, kemulusan dan kemontokan lekak-lekuk tubuhnya yang bak gadis usia remaja.

Bersambung ke bagian 03

Tags : cerita 18sx, cerita pemerkosaan, telanjang, cewek bugil, 3gp gratis, abg telanjang,gadis telanjang bugil, abg telanjang bugil, telanjang artis indonesia, telanjang abg, telanjang blogspot, spg telanjang, galeri artis bugil, artis bugil gambar telanjang, gadis smu bugil, jilbab bugil

1 komentar 26 April 2010

Cerita 18sx – Gairah Tante Vivi 01

Tante Vivi menyuruhku datang malam ini ke rumahnya. Sebenarnya agak malas juga dan khawatir, bagaimanapun saya lebih senang mengajak Selva, pacarku untuk menemani, ini membuatku ragu-ragu untuk berangkat.

9.15 malam: Aku masih ragu-ragu.., berangkat.., tidak.., berangkat.., tidak.

9.25 malam: Akhirnya Tante Vivi tanpa kuduga benar-benar menelepon, kebetulan aku sendiri yang menerima.

“Lho.., Ar.., kok kamu belum berangkat, bisa dateng tidak Ar?”, tanyanya kendengaran agak kecewa.

“Mm.., gimana ya Tante.., agak gerimis nih di sini..”, sahutku beralasan.

“Masa iya Ar.., yaah.., kalo gitu Tante jemput aja yaa..”, balasnya seolah tak mau kalah. Aku jadi blingsatan dibuatnya.

“Waah.., tidak usah deh Tante.., okelah saya ke sana sekarang Tante.., mm Selva saya ajak ya Tante..”, sahutku kemudian. Aku pikir ke sana malm-malam mau tidak mau akhirnya pasti harus nginap. Kalau ada Selva kan aku tidak begitu risih, masa aku bawa Selva pulang malam-malam. Tapi..

“iih.., jangan Ar.., Selva jangan diajak.., mm pokoknya ke sini aja dulu Ar.., yaa.., Tante tunggu.., Klik”, sekali lagi seolah disengaja Tante Vivi langsung memutuskan hubungan. Sialan pikirku, dia mengerjaiku, ngapain malam-malam ke sana kaya tidak ada waktu siang atau pagi kek. Aku jadi kesal, ngapain Selva kemarin cerita kalau aku banyak ngerti masalah Komputer. Wuueek.., kaya pakar wae.., sekarang baru kena getahnya.

Akhirnya dengan perasaan malas, malam itu benar-benar agak gerimis, badanku sampai kedinginan terkena rintik air gerimis malam yang dingin

.Sekitar pukul 10.00 malam: Aku sampai juga di tempat Tante Vivi, suasana di komplek perumahan itu sudah sepi sekali, aku membuka pintu pagar yang sengaja belum dikunci dan kumasukkan sepeda motor ke dalam.

Belum sempat aku mengetuk pintu, ternyata Tante Vivi rupanya sudah mengetahui kedatanganku. Mungkin ia mendengar deru suara motorku ketika datang tadi.

“aahh.., akhirnya dateng juga kamu Ar..”, katanya ramah dari balik pintu depan.

“Iya.., Tante..”, sahutku berusaha ramah, bagaimanapun aku masih setengah kesal, sudah datang malam-malam kehujanan lagi.

“Agak gerimis ya Ar..”, tanyanya seolah tak mau tau.

“Hsii..”, Tanpa sadar aku terbersin.

“Eehh.., kamu Flu Ar..”, tanyanya kemudian.

Aku mengusap wajah dan hidungku yang setengah lembab terkena air gerimis. Tante Vivi menarik tanganku masuk ke dalam dan menutup pintu. “Klik..”, sekaligus menguncinya. Aku tak begitu memperhatikannya karena aku sendiri kuatir dengan kondisiku yang terasa agak meriang. Kuusap berulang kali wajahku yang dingin. Lalu tiba-tiba kurasakan sebuah telapak tangan yang hangat dan lembut membantu ikut mengusap pipi kananku.

“Pipimu dingin sekali Ar.., kamu pasti masuk angin yaa.., Tante bikinin susu jahe anget yaa..”, sahutnya lembut. Aku menoleh dan astaga wajahnya itu begitu dekat sekali dengan mukaku. “Duh.., cantiknya”. Kulitnya yang putih mulus dan halus, matanya yang hitam bulat sedikit sipit dengan bentuk alisnya yang hitam memanjang tanpa celak, hidungnya yang kecil bangir, dan bentuk bibirnya yang menawan tanpa lipstik. Terlihat sedikit tebal dan begitu ranum. Sexy sekali bibirnya. Tante Vivi tersenyum kecil melihatku setengah melongo.

“Kamu duduk dulu Ar.., Tante ke belakang dulu..”, sahutnya pelan.

Tanpa menunggu jawabanku, ia membalikkan tubuh dan bergegas berjalan melintasi ruang tengah menuju ke belakang. Tubuhnya yang tingginya mungkin sekitar 160 cm kelihatan begitu seksi ramping dan padat. Sempat kulihat langkah kakinya yang berjalan sangat elok, saat itu kuingat jelas ia memakai celana Jeans putih ketat serta memakai baju kemeja halus berwarna merah muda dan dibiarkan berada di luar celana. Baju yang dikenakannya seperti umumnya baju kemeja sekarang yang relatif panjang, membuat celana jeans yang dikenakannya tertutup sampai ke atas paha. Namun karena sifatnya yang lemas, membuat bajunya itu seolah menempel ketat pada bentuk tubuhnya yang memang sangat seksi dan montok. Pinggulnya yang bulat padat bergoyang indah kekiri dan kanan. Begitu gemulai bagai penari Jaipong.

Kuhempaskan pantatku dengan perasaan lelah di atas sofa empuk ruang tamunya. Aku memandang ke sekeliling ruangan tamunya yang cukup mewah. Lukisan besar pemandangan alam bergaya naturalis tergantung di atas tembok persis di belakang tempat dudukku. Selebihnya berupa lukisan-lukisan naturalis sederhana yang berbingkai kecil dan sedang tentang suasana kehidupan pulau Bali. Aku tak begitu tertarik dengan lukisan, sehingga aku tak sampai mengamati lama-lama.

Sepuluh menit kemudian, Tante Vivi muncul dengan segelas besar susu jahe yang masih kelihatan panas, karena asapnya masih terlihat mengepul. Dengan wajah cerah dan senyum manis bibirnya yang menggemaskan, mau tak mau aku jadi ikutan senang.

“Waah.., asiik nih kelihatannya.., wangi lagi baunya.., mm..”, kataku spontan.

“Pelan-pelan Ar.., masih panas..”, sahutnya pendek, sambil memberikan minuman jahe itu kepadaku. Lalu tanpa risih ia duduk di sebelahku. Aku jadi deg-degan juga.

“Gimana kuliah Selva Ar.., kapan nih rencana mau majunya..”, tanya Tante Vivi kemudian.

“Entah Tante.., setahu saya sih bulan depan ini dia harus menyelesaikan seluruh asistensi skripsinya. Soal maju ujian skripsi saya kurang tau Tante..”, sahutku polos.

“iih.., kamu ini gimana sih Ar.., pacarnya sendiri kok tidak tahu, asyiik pacaran aja yaa rupanya..”, ujar Tante Vivi setengah bercanda.

“aah.., Tau aja Tante.., tidak salah..”, sahutku sambil ketawa nyaring.

“Kamu menyukai dia Ar..”, tanya Tante Vivi kemudian, seolah setengah malas menanggapi candaku.

” Waah.., Tante ini gimana sih.., ya jelas dong Tante.., lagipula sekarang kami sudah sangat serius menjalin hubungan ini.., saya mencintainya Tante..”, sahutku sedikit serius.

Tante Vivi tersenyum kepadaku, giginya yang putih bersih terawat kelihatan indah, serasi dengan bentuk bibirnya yang tak terlalu lebar.

“Tidak Ar.., Tante khan cuman nanya.., soalnya Tante lihat Selva sayang sekali sama kamu..”, ujarnya kemudian.

“Jangan kuatir deh Tante..”, sahutku pelan sambil mulutku mulai menyeruput wedang susu jahe bikinannya itu. Terasa sedikit pedas di bibir namun hangat manis di lidah dan kerongkonganku.

“Komputernya di taruh mana Tante..”, tanyaku tanpa memandangnya sambil terus seteguk demi seteguk menghabiskan minumanku.

“Tuh.., di kamar kerja Tante..”, sahutnya pendek. Sejenak aku meletakkan minuman dan memandang Tante Vivi yang berada di sebelahku.

“Lalu tunggu apalagi nih..”, ujarku setengah bercanda.

“Apanya..?”, tanya Tante Vivi seakan tak mengerti. Pandangan matanya kelihatan sedikit bingung.

“Lhoh.., katanya pengen diker.., eeh diajarin..”, lanjutku. Hampir aja aku kelepasan ngomong ngeres, jantungku sampai kaget sendiri dag-dig-dug tidak karuan. Untung tidak kebablasan ngomomg.

“ooh.., iya.., aduuh Tante sampai kaget.., Yuk ke kamar Ar..”, sahutnya sambil mencolek lenganku. Kami berdiri dan berjalan beriringan ke tempat yang ia maksud. Kami melintasi ruangan tengah yang lebih lapang dan mewah. Kulihat sebuah meja pendek tempat dudukan pesawat Televisi ukuran besar mungkin sekitar 51 inchi lengkap dengan satu set sound systemnya sekaligus berada di sebelah kiri ruang itu. Sedangkan kami menuju ke sebuah ruangan di sebelah kanan yang pintunya sudah setengah terbuka. Tante Vivi menyilahkanku masuk duluan.

“Masuk Ar.., sorry ruangannya agak berantakan..”, ujarnya sambil memberi jalan. Aku masuk dulu kedalam ruangan diikuti Tante Vivi. Ruangan atau kamar itu cukup besar berukuran 5 x 7 meter dan pada umumnya tampak rapi walau masih ada sedikit acak-cakan karena di atas lantai persis di depan tempatku berdiri yang terhampar sebuah karpet berukuran sedang tampak berserakan beberapa majalah wanita yang halamannya masih terbuka disana-sini. Di depannya ada sebuah meja kerja yang cukup besar, dan di atas meja terdapat beberapa buah buku kecil dan agenda kerja, selain itu terlihat 2 kardus besar dan beberapa kardus kecil yang aku sudah hapal bentuk dan cirinya, apalagi pada kardus besar yang berbentuk kotak itu terdapat tulisan besar GoldStar Monitor. Ketika aku menengok ke sebelah kiri, waah.., ternyata di situ terdapat sebuah ranjang berukuran sedang. Kasurnya jelas Spring Bed yang terlihat dari ukurannya yang tebal, tertutup dengan sprei berwarna merah jambu. Bantalnya bertumpuk rapi di sisi kiri dan kanan tempat tidur. Di sebelah kiri tempat tidur terdapat sebuah meja kecil dan seperangkat mini stereo.

“Waduuh.., ini tempat kerja apa kamar Tante..?”, tanyaku heran dan kagum. Bagiku ruangan selapang ini terlalu besar untuk kamar tidur. Kamarku sendiri yang berukuran 3×4 meter aja menurutku sudah gede, apalagi sebesar ini.

“Dua-duanya Ar.., ya kamar kerja ya.., tempat tidur.., mm.., Tante khan cuman sendirian di rumah ini Ar..”, sahut Tante Vivi yang berada di sebelah kananku.

“Sendirian.., maksud Tante?”, tanyaku kepadanya tak mengerti.

“Lhoh.., apa Selva tidak pernah bilang sama kamu.., Tante khan.., sudah bercerai Ar..”, sahutnya kemudian. Kedengaran sekali kalimat terakhir yang diucapkannya sedikit terpatah-patah.

Astaga.., seruku dalam hati. Pantas, seolah baru menyadari. Selama ini aku tak pernah ingat apalagi menanyakan tentang suami Tante Vivi ini. Jadi selama ini Tante Vivi itu seorang Janda. Ya ampuun.., kenapa aku tak menyadari sejak semula. Semenjak pertama kali aku datang ke sini bersama Selva, memang aku tak melihat orang lain lagi selain Inem pembantunya. Waktu itu kupikir suaminya sedang bekerja. Pantas ketika aku datang tadi hanya Tante Vivi sendirian yang menyambutku. Jadii.., hatiku jadi setengah grogi juga. Aku jadi teringat tentang beberapa kisah nyata di majalah yang pernah kubaca tentang kehidupan seorang janda muda, terutama sekali mengenai soal seks. Pada umumnya katanya mereka sangat mudah dirayu dan tak jarang juga pintar merayu. Jangan-jangan.., pikirku mulai ngeres lagi.

“ooh.., maaf Tante saya baru tahu sekarang..”, ujarku lirih sejenak kemudian. Tante Vivi tersenyum kecil.

” Udahlah Ar.., itu masa lalu.., tidak usah diungkit lagi..”, ujarnya setengah menghindar. Terlihat ada setetes air menggenang di pelupuk kedua matanya yang indah.

Sedetik kemudian ia sengaja memalingkan mukanya dari tatapanku, mungkin ia tak ingin terlihat sedih di depanku. Kemudian ia berjalan ke depan dan setengah berjongkok memunguti semua majalah yang masih berserakan di atas karpet, spontan aku segera menyusul hendak membantunya.

“Sini Ari bantu Tante..”, kataku pendek. Tanpa menoleh ke arahnya aku langsung nimbrung mengumpulkan majalah yang masih tersisa.

“iih sudah Ar.., tidak usah.., kok kamu ikutan repot..”, sahutnya. Kali ini wajahnya kulihat sudah cerah kembali. Bibirnya yang ranum setengah terbuka menyunggingkan sebuah senyuman manis. Manis sekali. Aku sempat terpana selama 2 detik.

” Tante tidak menikah lagi..?”, tanyaku padanya tanpa sadar. Sedikit kaget juga aku dengan pertanyaanku, jangan-janga ia marah atau sedih kembali. Namun ternyata tidak, sambil tetap tersenyum ia balik bertanya.

“Siapa yang mau sama aku Ar..?”

“aah.., Ari kira banyak Tante..”

“Siapaa..?”

“Ari juga mau Tante..”, kataku cuek, karena maksudku memang bercanda. Ia mendelik lalu sambil setengah ketawa tangannya mencubit lenganku sekaligus mendorongku ke samping.

“Hik.., hik.., kamu ini ada-ada aja Ar.., jangan nyindir gitu dong Ar, memangnya gampang cari laki-laki jaman sekarang..”, ujarnya. Lalu kulihat ia terduduk diam seribu bahasa. Aku jadi heran sekaligus geli melihatnya melamun sambil memegangi majalah.

“Kenapa Tante.. “, tanyaku padanya. Tante Vivi sedikit kaget mendengar pertanyaanku. Namun sambil tersenyum kecut ia hanya menjawab pendek.

“Sudahlah Ar.., jangan bicara masalah itu..”. Akupun tak mengubernya walau sebenarnya masih penasaran apa yang sebenarnya terjadi dulu dengan perceraiannya.

Singkat cerita, malam itu aku hanya menghabiskan waktu sekitar 20 menit untuk merakit komputer barunya. Untung saja Tante Vivi membeli komputer jenis Build Up sehingga aku tak perlu untuk memeriksa 2 kali, cuman periksa tegangan input, tinggal sambung kabel ke monitor dan CPU, pasang external modem, pasang speaker aktifnya ke output soundcard, sambung ke stavolt.., sudah beres.

“Sudah beres Tante.., mm.., mau sambung ke internet..?”, tanyaku puas. Agak keringetan juga rasanya mukaku, walau cuman sekedar sambung sana-sini.

“aah masa..?, secepat itu Ar..?”, tanya Tante Vivi yang sejak tadi juga tak pernah beranjak dari sebelah kananku, asyik melihatku bekerja.

“Lha.., iya.., gampang khan..”, sahutku pendek. Kupandangi wajah cantiknya yang setengah melongo seolah tak yakin.

“Makanya dicoba dulu dong Tante.., biar tidak nanya-nanya lagi.., mana nih stop kontaknya”, tanyaku kemudian.

“iih.., hik.., hik.., gitu aja sewot.., jahat kamu Ar.., hik.., hik.., ehem.., itu ada di belakang meja sebelah bawah Ar..”, jawabnya sambil setengah tertawa kecil.

Aku melongok ke bawah meja.., astaga di bawah situ berarti mestinya aku harus merangkak di situ.., sejenak aku melongo.

“Kenapa Ar..?”

“Ooh tidak Papa Tante..”.

Akhirnya mau tak mau akhirnya aku harus merangkak masuk ke bawah meja kerjanya yang cukup besar itu sambil tangan kananku menarik kabel power CPU-nya ke bawah. Pengap juga di bawah situ karena memang agak remang, maklum penerangan di kamar ini hanya cuma menggunakan sebuah lampu bohlam sekitar 100 Watt, sinarnya kurang kuat di bawah sini. Sedang lampu meja kerja terpaksa dimatikan untuk stroom komputer. Setelah terpasang ke stop kontak, sambil setengah merangkak mundur aku langsung membalikkan tubuh dan astaga.., aku terhenyak kaget karena melihat Tante Vivi ikut juga melongok membungkuk ke bawah meja, tanpa disengaja kedua mataku menyaksikan pemandangan vulgar yang luar biasa indah.

Woow, Tante Vivi dengan posisi tubuh seperti itu membuat baju kemejanya yang sedikit gombrong dan karena jenis kainnya yang sangat lemas membuatnya jadi merosot ke bawah pas dibagian dada, apalagi kancing kemejanya yang sedikit rendah, membuat kedua bulatan payudaranya yang sangat besar dan berwarna putih terlihat menggantung bak buah semangka, diantara keremangan aku masih dapat melihat dengan sangat jelas betapa indah kedua bongkah susunya yang kelihatan begitu sangat montok dan kencang. Samar kulihat kedua puting mungilnya yang berwarna merah kecoklatan. “Yaa aammpuunn..”, bisikku lirih tanpa sadar, “Ia tidak pake Behaa..”

Tante Vivi semula tak menyadari apa yang terjadi dan apa yang sedang kupelototi, 5 detik saja.., bagiku itu sudah cukup lama, Tante Vivi seolah baru menyadari ia menjerit lirih.

“iih..”, serunya lirih. Masih dalam posisi membungkuk, tangan kanannya reflek menarik bajunya sampai ke atas leher, setengah pucat ia memandangku lalu berdiri dan mundur 1 langkah. Sudah telanjur, percuma kalau malu, akhirnya dengan cuek aku merangkak ke luar dan berdiri di hadapannya, sambil senyam-senyum seolah tidak salah, akhirnya aku minta maaf juga kepadanya.

“Maaf Tante.., sa.., Ari tidak sengaja..”, ujarku cuek. Tante Vivi masih dengan sedikit pucat, akhirnya hanya bisa tersenyum kecil. Wajahnya kelihatan memerah.

“Sudahlah.., Ar..”, sahutnya pendek. Dalam hati aku berbisik, lumayan dapat tontonan susu gede gratiss.

Bersambung ke bagian 02

Tags : cerita 18sx, cerita seks, cerita daun muda, gadis bandung, video bugil, cerita sexs, tante,gadis 17 tahun,tante girang bugil,gadis bugil abg,gadis bugil 3gp,jepang bugil, artis ngentot, memek bugil, mahasiswa bugil, indonesia bugil

1 komentar 26 April 2010

Cerita 18sx – Seks Romansa

Namaku Djony (pria Chinesse, 28 Tahun), aku termasuk baru dalam mempraktekkan kehidupan seks dan ini yang akan menjadi cerita petualangan kali ini.

Cerita ini berawal dari keingintahuanku mengenai hal yang berhubungan dengan seks, di mulai dari membaca buku-buku infotaiment mengenai kehidupan malam, majalah atau koran yang memuat gambar menggiurkan sampai dengan menggakses halaman internet yang memuat cerita-cerita seks. Karena keingintahuan itu, suatu hari aku menelepon salah satu iklan yang termuat dalam harian ibukota yang menyediakan gadis untuk di ajak kencan. Singkat cerita, pada waktu yang telah di rencanakan, kami melakukan kencan di sebuah hotel di sekitar pasar baru, dan terjadilah apa yang terjadi.

Setelah membayar dan masuk kamar, teman kencanku (sebut saja namanya Dik) menghidupkan TV yang ternyata memiliki saluran film Blue, dan sekejab kami larut dalam visualisasi yang tergambar dari TV tersebut, kemudian kami mulai berbincang-bincang.
"Bang, suka nggak ngeliat film beginian?"
"Ya suka aja, emang Dik nggak suka?", tanyaku balik tanpa memalingkan muka dari layar TV.
"Suka sih, tapi yang begini mah udah bosen, lebih baik yang langsung praktek aja", katanya menggoda.
Dan, ini dia yang kutunggu, sambil tersenyum kupalingkan muka menghadap dia dan segera kucerca dengan pertanyaan yang memang ingin kuketahui segera jawabannya.
"Kalo begitu, Dik udah pengalaman banget dong?"
"Gak juga, saya baru kok jadi beginian", katanya polos.
Nah lo, tadi bilang udah bosen, tapi baru katanya, namun aku tidak mempersoalkan hal itu lagi, karena sederet pertanyaan sudah berebutan keluar dari otakku.
"Dik, kalo kamu di bayar untuk di puasin, mau nggak?"
Dengan sedikit mengerutkan alis, dia bertanya apa yang baru saya katakan, dan setelah saya tegaskan kembali, dia menjawab tanpa mengatakan ya atau tidak.
"Emang ada yang mau begitu?"
Ini aku anggap tanpa penolakan, sehingga hatiku menjadi lega dan langsung menuju sasaran sebenarnya.
"(Dik, sebenarnya aku minta kamu ajarin cara puasin cewek, karena aku belum pengalaman)", namun hal itu tidak terucapkan, tetapi "Ya udah, kalo gitu kita harus melakukannya pelan-pelan dan aku harap kamu juga puas nantinya, OK?"
Dia kembali mengerutkan dahi, namun dia sepertinya menurut saja, sehingga kami melanjutkan ke tahap selanjutnya.

Setelah membasuh diri masing-masing, sekilas kulihat dia berpotongan mirip dengan Rachel Mariam, dan seperti yang ada di benakku, bahwa ini ada pembelajaran, jadi hayatilah dengan sebaik-baiknya. Sengaja kupeluk dia dan kucium mulutnya dengan pelan, dan kami mulai saling berciuman bibir, (memang bibir rasanya sangat lembut!) dan dalam hati timbul pertanyaan, gimana lagi nih lanjutannya? Berbekal dari sedikit pengetahuanku, kujulurkan lidahku ke dalam mulutnya, dan memang dia langsung membalasnya dengan menjulurkan lidahnya kedalam mulutku dan langsung menekan isi dalam mulutku, terasa sensasi yang selama ini hanya kubayangkan, namun sekarang dapat kurasakan dan kulanjutkan dengan juga mengulum lidah dan menyentuh isi mulutnya dan kuperhatikan tidak ada perubahan dalam wajah dan tatapannya (Dalam hati aku berpikir, dia nggak merasakan apa yang aku lakukan?)

Seterusnya aku melanjutkan dengan memegang kepalanya, mencium lehernya, terus ke telinganya, dan kurasakan dia bergeliat dan pelukannya semakin erat, (mungkin geli, dan dalam hati aku bersorak), dan terus ku jilat sampai akhirnya dia berontak dengan cara mengganti menjilati leherku dan tangannya mulai menyelinap dibalik kemejaku diantara kancingnya, aku merasakan getaran yang membuat bulu kudukku berdiri sejenak berganti dengan perasaan nikmat yang tidak terucapkan. Dibukanya kancing kemejaku satu persatu diiringi jilatan yang mengikuti terbukanya kancing bajuku, dan aku tidak tinggal diam juga, kurangkul pinggangnya dengan menyibakkan blus kain warna pink yang di kenakannya sambil mengelus punggungnya, terasa halus di tangan, dan bergetar tubuhku karena ciumannya terhadap kedua putingku.

Dan setelah kulepas baju kemejaku, aku langsung kembali memelukku sambil berusaha untuk mengangkat blus yang dipakainya ke atas dan seiring dengan itu, dia mengangkat kedua tangannya dengan maksud untuk memudahkanku melepas bajunya. Terus kuangkat blusnya hingga mencapai lengannya dan kudorong bandannya bersandar ke dinding, dengan posisi tangan terangkat itu, aku menikmati pemandangan didepanku, dan segera ku cium, mulai dari leher, antara dua payudaranya, terus hingga pusarnya. Dia sepertinya menikmati adegan tersebut sambil eh.. ehnm.. dan badannya bergeliat-geliat kecil mengiringi ciumanku (aku berpikir, mungkinkan rangsanganku berhasil?). Setelah blus itu dilepaskan dari tanggannya, kubalikkan badannya dan kuciumi kembali dari leher terus ke bawah hingga pinggang, namun tali BH sangat mengangguku, langsung kulepaskan pengaitnya tapi tidak terlepas dari payudaranya karena langsung di tahan oleh kedua tangannya. Hal itu kubiarkan, mungkin dia ingin menambah sensasi nya, begitu pikirku. Terus ku ciumi hingga pinggang dan tanganku mulai nakal menyusup sedikit demi sedikit ke arah kedua payudaranya. Dia mengembangkan ketiaknya perlahan untuk mempermudah penyusupan tanganku, dan akhirnya seluruh payudara tersebut telah berada dalam genggaman kedua tanganku, dan BH telah terlepas dengan begitu saja.

Ku peluk erat dia dari belakang, kurasakan sensasi yang luar biasa, tubuhku beradu dengan punggungnya, terasa sentuhan lembut dan tangganku terasa bergetar memegang kedua payudaranya. Setelah menikmati sensasi pelukan tersebut, tiba-tiba dia membalikkan badan yang membuatkan bingung harus berbuat apa, kecuali menatap bengong kedua payudaranya, dan tanpa kusangka, ditariknya kepalaku hingga terbenam di payudara kirinya. Aku langsung mengerti dan kuciumi payudara tersebut berputar hingga akhirnya mendarat pada kuluman di tengah putingnya. Langsung terdengar ach.., ach.. achh.. (sebenarnya aku ingin berteriak kegirangan karena aku menganggap berhasil merangsang dia dengan baik), dan tanpa menunggu lagi, kulanjutkan dengan yang sebelah kanan.

Memang kuakui, walaupun aku baru pertama kali bercumbu dengan perempuan, namun dari yang kuketahui, perempuan ini memiliki ransangan seks yang sangat baik terhadap pasangannya, seperti yang terlihat saat ini dimana dia mengangkat kedua tangannya ke atas yang menyebabkan ransangan ke payudaranya semakin terbuka dan membuat keIndahan visual yang ditampilkan sangat menggairahkan.

Setelah beberapa saat menikmati kecupan dan remasan pada payudaranya, tiba tiba dituntunnya tangannku untuk membuka kaitan celana kulotnya, karena kesulitan membuka, akhirnya kedua tanganku berhasil membuka sekaligus resleting celananya dan dengan sedikit goyangannya, celana tersebut telah terjatuh di lantai, dan terlihat celana dalam putih berenda yang dikenakannya. Diciumnya bibirku sambil memegang kepalaku dan kupeluk dia pada punggungnya, kemudian dituntun tangan kananku untuk meremasi pantatnya yang cukup berisi tersebut. Langsung kedua tanganku menyusup diantara celana dalamnya dan mulai meremas pantatnya dengan perlahan dan semakin lama semakin cepat, dan tanpa kusangka, dia memiringkan tubuhnya dan dalam sekejab celana dalam tersebut telah terlepas dari badannya, dan tampaklah olehku daerah kewanitaanya yang di tumbuhi rambut tipis.

Dan tanpa komando dariku, dia berbaring dengan kaki terbuka di sisi ranjang dan memintaku untuk menciuminya. Mulanya kulakukan dari bibir, turun ke leher, payudaranya, namun kepalaku terasa ditekan kebawah sehingga mencapai bawah pusarnya. Ku ikuti kemauannya, dan terus didorongnya kebawah sambil ku jilati dan ketika mencapai rambut halus di atas kemaluannya, dia bergeliat pelan, oh.. oh.. ochh. Terlintas dibenakku, apa yang harus kulakukan selanjutnya, namun dengan posisi kaki terbuka yang diangkat dengan kedua tangannya, kutahu bahwa dia menginginkanku untuk mencium bibir bawahnya. Langsung ku julurkan lidahku untuk menciumnya, namun ujung lidahku merasakan cairan dan hidungku mencium bau yang khas, ku urungkan niatku sebentar sambil mencium pahanya ke bawah sekaligus untuk menghirup udara segar. Mungkin dia merasakan rasa risiku, sehingga dia langsung bangkit dan memintaku untuk berdiri di tembok. Diciumnya aku mulai dari leher, terus kebawah dan tangannya bergerak di seluruh badanku, rasa geli dan enak bercampur jadi satu di otakku dan tubuhku bergeliat ketika tanganya menyentuh daerah dibawah pusarku, dengan menyelipkan tangannya dicelanaku, dibelainya daerah rambut tersebut, ah.. ach..

Dibukanya ikat pinggang dan kancing celana jeansku dengan perlahan, dan kini, aku hanya mengenakan celana dalam coklatku. Dengan oerlahan, dalam posisi jongkoknya, kurasakan ada tangan yang menyelinap dari bawah kanan celana dalamku, dan langsung mencari batang kemaluanku. Digenggamnya batang tersebut beserta bijinya dan langsung mengeraslah batang tersebut dan dikeluarkannya dari balik celana dalamku, terlihat batang beserta dengan buahnya tersebut mencuat dari bungkusannya dan di ciumnya dari buahnya kemudian ke arah batangnya. Aku sangat menikmati hal ini, melalui gerakan dan sentuhan tangan serta mulutnya, aku hanya mampu mengangkat kepalaku dan memejamkan mataku serta dengan reflek mengangkat kaki kiriku untuk memudahkan dia menciumnya.

Satu hal yang kupelajari dari dia adalah, dengan menggunakan ludahnya, dia mulai menciumi batangku, kurasakan kenikmatan yang belum pernah kurasakan, namun dia juga sangat menikmatinya tanpa ada kesan bau dan kotor dan sebagainya. Dan dibaringkannya tubuhku ke ranjang dengan posisi kaki menghadap ke sisi ranjang dan celana dalamku telah terlepas. Didorongnya kaki kiriku hingga terangkat ke atas dan ku pegang dengan tangan kiriku dan didudukinya sambil berjongkok kaki kanan yang terjulur, dan dia mulai mengulum kembali batangku yang telah bebas terlentang dan menghasilkan gesekkan antara kaki kananku dan belahan pantatnya. Dengan kenakalanku, kutarik sedikit kakiku sehingga posisinya mendekati belahan dibawah lubangnya, dan kurasakan gesekan yang semakin kencang dan intim dibawah lewat gerakannya, dan suara bercampur ludah di mulutnya.

Setelah sekian lama menikmati kulumannya pada batangku, kurasakan tidak mungkin lagi menahan lava akan akan meledak, sengaja aku tidak memberitahukannya, hanya badanku sudah bergeliat hebat dan ehm..ehm berakhir dengan ow..wow.., tumpahlah lava tersebut di mulutnya dan diludahkannya kembali ke batangku sehingga basah meleleh hingga ke atas kasur. Selanjutnya dengan posisi yang masih terletang setelah menikmati keluarnya lava, aku istirahat dengan mata terpejam puas, namun merasakan ada yang naik ke atas ranjang, dan kakinya berhenti diantara kepalaku, apaan itu..?

Kubuka mataku, sambil berpegangan pada kepala rangjang, dia berjongkok di hadapanku dengan posisi bibir kemaluannya tepat di depan mukaku. Sebenarnya aku ingin segera beranjak untuk menghindarinya, namun tiba-tiba pantat tersebut bergoyang perlahan kekiri dan kekanan menghasilkan pemandangan yang lain dan menciptakan ransangan visual yang sangat menggoda. Beberapa saat kemudian, hilanglah semua perasaan risi yang pertama tadi menghantui, dengan berubahnya gerakan pantatnya ke depan dan ke belakang, sekali kali, bibir kemaluannya menyentuh hidungku, dan selanjutnya telah ku sapu dengan bibirku, aku juga merasakan kenikmatan melalui erangan yang keluar dari mulutnya. Gerakan itu tetap konstan dan perlahan, membuatku penasaran tapi tidak berlangsung lebih lama lagi, karena detik berikutnya, bibirku telah berciuman dengan bibir kemaluannya karena dimajukannya pantatnya dan bertumpu pada lututnya.

Aku bingung harus berbuat apa, namun kulakukan ciuman dengan memberikan ludah dan tidak kurasakan lagi bau khas dan cairan di situ semakin bertambah, bercampur dengan ludah yang keluar dari mulutku, dan kujulurkan lidahku dan kukeraskan dan kutekan ke dalamnya, eh hhe.. eh hhe. Dan gerakan berikutnya adalah maju mundur kembali pantat tersebut dengan hebatnya, dan ku julurkan lidahku dengan keras sehingga terasa lidahku menusuk kedalam dan bibirku berciuman dengan bibir kemaluannya. Gerakan tersebut berhenti seiring dengan lengkuhan keras dan ku hisap seluruh isi kemaluannya, dan kutahan dalam mulutku. Aku hampir kehabisan napas, untung dia segera rubuh ke atas ranjang dan aku langsung bangun untuk membasuh mukaku yang di penuhi dengan lendir dari kemaluannya.

Pada saat aku sedang membasuh diri, tiba tiba dia masuk dan memelukku erat dari belakang seoerti kekasih yang memendam rindu dengan amat sangat dan mengecup punggungku berkali-kali, aku bingung, namun kubiarkan perlakuannya hingga akhirnya kubalikkan badan dan memeluknya erat, lalu kami setuju untuk mandi bersama. Tak terasa, setelah berpakaian, kami telah menghabiskan dua jam bersama, dan setelah membayarkan, aku sepakat untuk mengantarnya pulang ke tempat kostnya tidak jauh dari hotel tersebut, dan dalam perjalanan pulang, dari hasil obrolan kami, diketahui bahwa dia menggaku belum pernah penetrasi dengan langganannya dan dia melakukan itu untuk membiayai hidupnya dan cita-citanya. Dan yang paling kuingat adalah perkataanya bahwa ‘Seks bukanlah text book, tapi perasaan melayani yang menyatu dengan pasangan’, sehingga seks itu tidak harus dipraktekkan dulu karena takut gagal, namun dihayati untuk saling melayani pasangan kita.

Setelah turun, dari jendela mobil yang buka dia berkata dengan sedikit berteriak "Abang hebat juga untuk seorang pemula", sambil tersenyum manis. Dalam hati aku juga menggakuinya (dari pancaran matanya), namun dari mana ‘keahlian’ ini, dan aku menggakui bahwa dialah yang sebenarnya membimbingku dalam setiap langkah pencumbuan tadi, sungguh hebat dia. (Rp. 750 ribu untuk dua jam, kalo nggak hebat pasti nggak ada yang mau beli lagi, ya nggak?).

E N D

 

Tags : cerita 18sx, cerita seks, cerita daun muda, gadis bandung, video bugil, cerita sexs, tante,gadis cantik, telanjang gadis indonesia,gadis telanjang,foto telanjang,artis bugil,cewek telanjang,indo bugil,cewek bugil,gambar telanjang,smu bugil,gambar bugil,wanita bugil

1 komentar 25 April 2010

Cerita 18sx – Pelajaran Bercinta

Aku Sony, berumur 23 tahun. Ini cerita mengenai pengalamanku. Pertama-tama aku mau cerita soal diriku. Aku saat ini kuliah di salah satu perguruan tinggi swasta di Malang. Di Malang aku tinggal dengan tanteku. Tanteku orangnya masih muda, umurnya hanya selisih 3 tahun denganku. Itulah mengenai diriku, dan selanjutnya silakan ikuti pengalamanku ini.

Saat itu aku baru saja pulang kuliah, langsung saja kumasuk ke kamar. Ketika baru sampai di depan pintu kamar, samar-samar kudengar tante sedang bicara dengan temannya di telpon. Aku orangnya memang suka jahil, kucoba menguping dari balik pintu yang memang sedikit terbuka. Kudengar tante mau mengadakan pesta seks di rumah ini pada hari Sabtu. Aku gembira sekali mendengarnya. Untuk memastikan berita itu, langsung saja aku masuk ke kamar tante. Setelah selesai telpon, tante kaget melihatku sudah masuk ke kamarnya.

“Lho Son, Kamu udah pulang rupanya. Kamu ada perlu ama Tante, ya..?” katanya.

Aku langsung saja to the point, “Tante, Sony mau nanya.., boleh khan..?” kataku.

“Boleh aja keponakanku sayang, Kamu mau nanya apa..?” sambungnya sambil menyubit pipiku.

“Tapi sebelumnya Sony minta maaf Tante, soalnya Sony tadi nggak sengaja nguping pembicaraan Tante di telpon.”

“Aduhh.. Kamu nakal ya Son, awas nanti Aku bilangin ama Mama Kamu lho. Tapi.. Oke dech nggak apa-apa. Terus apa yang mau Kamu tanyakan, ayo bilang..!” katanya agak jengkel.

“Sony tadi dengar Tante ama teman Tante mau ngadain pesta seks disini, benar itu Tante..?” kataku pelan.

“Idihh.. jorok ach Kamu. Masak Tante mau ngadain pesta seks disini, itu nggak benar Son.”

“Tapi tadi Sony dengar sendiri Tante bicara ama teman Tante, please donk Tante, jangan bohongin Sony. Nanti Sony bilangin ama Om kalau Tante mau ngadain pesta disini.” kataku agak mengancam.

“Apaa..! Aduhh.., Son, please jangan bilang ama Om Kamu. Iya dech Tante ngaku.” katanya agak memohon.

“Nah, khan ketahuan Tante bohongin Sony.” kataku senang.

“Terus Kamu mau apa kalau Tante ngadain pesta..?” katanya penasaran.

“Gini Tante, anuu.., anuu.., Sony.., pengen.. anuu..”

“Anu apa sih Son..? Ngomong donk terus terang..!” katanya tambah penasaran.

“Boleh nggak, Sony ikutan pestanya Tante..?”

Aduh tante melotot lagi sambil berkata, “Udah, ah, Kamu ini kayak orang kurang kerjaan aja.”

Terus kurayu lagi, “Yaa.. Tante.. ya.. please..!”

“Tapi ini khan untuk orang dewasa lagi, Kamu ngaco dech. Lagian khan Kamu masih kecil.” katanya agak kesal.

“Tapi Tante, Sony khan udah gede, masak nggak boleh ikut. Kalau nggak percaya, Tante boleh lihat punya Sony..!”

Lalu kulepaskan celana dan CD-ku. Lalu terlihatlah batang kemaluanku yang lumayan besar, kira-kira panjangnya 17 cm dengan diameter 10 cm.

Tante kaget sekali melihat ulahku lalu, “Wowww.., Sony sayang.., punya Kamu besar dan panjang sekali. Punya Kamu lebih besar dari Om Kamu. Hhhmm.., boleh nggak Tante pegang kepala yang besar itu Sayang..?” katanya dengan genit.

“Tante boleh ngobok-ngobok kontolku, tapi Tante harus ngijinin Sony ikut pesta nanti..!” kataku agak mengancam.

“Ya dech, Sony nanti boleh ikut. Tapi Tante mau nanya ama kamu, Sony udah pernah ngeseks belom..?” tanyanya.

Lalu kukatakan saja kalau aku belum pernah melakukan seks dengan cewek, tapi kalau raba sana, raba sini, cium sana, cium sini sih aku pernah melakukannya.

“Mau nggak Tante ajarin..?” katanya dengan genit.

Aku hanya terdiam. Lalu tiba-tiba tante meletakkan tangannya di pahaku. Aku begitu terkejut.

“Kenapa Kamu terkejut..? Tante hanya memegang paha Kamu aja kok..!”

Kemudian tante mengambil tanganku, lalu dia mulai menciumi tanganku. Aku merasakan barangku mulai bangun.

Tanteku mulai menciumi leherku, kemudian bibirku dilumat juga. Dia masukkan lidahnya ke dalam mulutku, tanpa kusadari aku mengulum lidahnya. Nafasnya mulai tidak beraturan kudengar. Sementara kami asyik berciuman, tangannya mulai meraba-raba batang kemaluanku. Dia meremas-remas pelan. Aku pun jadi mulai berani. Kumasuki tanganku ke dalam bajunya untuk meraba payudaranya. Kumasukkan tanganku ke dalam bra-nya, terus kuremas-remas.

“Aaahh..” dia mulai mendesah.

Tidak lama aku disuruh duduk di tepi ranjang, sementara tante melepaskan bajunya step-by-step. Mataku tidak berkedip sedetik pun. Aku tidak mau melepaskan pemandangan yang indah itu dari mataku. Kelihatan bra-nya yang berwarna hitam transparan, sehingga payudaranya yang putih dengan putingnya yang merah kecoklatan samar terlihat. CD-nya ternyata berwarna hitam transparan berenda. Kulihat belahan vaginanya yang tidak ada bulunya itu. Lalu dia melepaskan bra-nya, payudaranya yang lumayan besar itu seperti loncat keluar dan mulai berayun-ayun, membuatku tambah tegang saja. Kemudian dia melepaskan CD-nya. Kelihatan vaginanya begitu menarik, agak kecoklatan warnanya. Lalu tante jalan menghampiriku yang duduk di tepi ranjang.

“Tante buka baju Kamu yaa.., Son..?” katanya genit.

Aku hanya mengangguk. Setelah aku telanjang total, tante langsung jongkok di depanku dan menyuruhku membuka kaki lebar-lebar. Batang kejantananku yang sudah tegang itu tepat di depan wajahnya. Lalu dia mulai menjilati kakiku mulai dari jempol kakiku dan yang lainnya. Dia naik ke betisku yang berbulu lebat, persis hutan di Kalimantan. Kemudian dia naik lagi ke pahaku, dielusnya dan dijilatinya, setelah itu dia berpindah ke lubang anusku yang juga dicium dan dijilatinya. Tidak hanya itu, ternyata dia memasukkan jari tengahnya ke lubang anusku. Ohh.., nikmatnya. Lalu dia mulai mengelus-elus batang kejantananku dan tangan satunya memijat-mijat my twins egg-ku.

“Aaahh..!” aku mengerang kenikmatan.

Kemudian dia memasukkan batang kejantananku ke mulutnya, dia hisap penisku, terus diemut-emutnya senjata kejantananku. Dia gerakkan kepalanya naik-turun dengan batang kejantananku masih di dalam mulutnya. Terasa penis saya menyentuh tenggorokannya dan masih terus dia tekan. Masih dia tekan terus sampai bibirnya menyentuh badanku. Semua batang penisku ditelan oleh tanteku, lidahnya menjilat bagian bawah penisku dan bibirnya dibesar-kecilkan, sebuah rasa yang tidak pernah kubayangkan. Penisku kemudian dikeluar-masukkan, tapi tetap masuk seluruhnya ke tenggorokannya.

Setelah beberapa lama dihisap dan dikeluar-masukkan, terasa batang penisku sudah mau mengeluarkan cairan.

Sambil memeras biji kemaluanku dan tangan yang satu lagi dimasukkannya ke dalam lubang pantatku, kubilang sama tante, “Tante.., Aku mau keluar, ohh..!”

Dia keluarkan penisku dan bilang, “Go on come in My mouth. I want to taste and drink your cum, Sony. Hhhmm..”

Penisku dimasukkan lagi, dan sekarang dia memasukkan dengan lebih dalam dan dihisap lebih keras lagi. Setelah beberapa kali keluar masuk, kukeluarkan spermaku di dalam mulut tante, dan langsung ke dalam tenggorokannya. Terasa tengorokannya mengecil dan jari di lubang pantatku lebih ditekan ke dalam lagi sampai semuanya masuk. Aku benar-benar merasakan nikmat yang sulit dikatakan.

Perlahan-lahan dia mengeluarkan batang penisku sambil berkata, “Punya Kamu enak Son.., Tante suka,” katanya, “Sekarang giliran Kamu yaahh..!” pintanya.

Kemudian dia berbaring di tempat tidur dan kakinya dikangkanginya lebar-lebar. Tante menyuruhku menjilat vaginanya yang kelihatan sudah basah. Baru pertama kali itu kulihat vagina secara langsung. Dengan agak ragu-ragu, kupegang bibir vaginanya.

“Jangan malu-malu..!” katanya.

Kugosok-gosok tanganku di bibir kemaluannya itu. Mmmhh.., dia mulai mengerang. Lama-lama klitorisnya mulai mengeras dan menebal.

“Kamu jilat dong..!” pintanya.

Kemudian aku menunduk dan mulai menjilati liang senggamanya yang sudah merah itu.

“Mmmhh.., enak juga..” kupikir.

Aku semakin bersemangat menjilati vagina tanteku sendiri. Sedang asyik-asyiknya aku menjilati liang senggama, tiba-tiba badan tanteku mengejang.

Desahannya semakin keras, “Aaahh.., aahh..!”

Lalu muncratlah air maninya dari lubang senggamanya banyak sekali. Langsung saja kutelan habis cairan itu. Mmmhh.., enak juga rasanya.

Kemudian dia bilang, “Ohh.., God.. bener-bener hebat Kamu Son.. lemes Tante.. nggak kuat lagi dech untuk berdiri.., ohh..!”

Lalu dengan perlahan kutarik kedua kakinya ke tepi ranjang, kubuka pahanya lebar-lebar dan kujatuhkan kakinya ke lantai. Vaginanya sekarang sudah terbuka agak lebar. Nampaknya dia masih terbayang-bayang atas peristiwa tadi dan belum sadar atas apa yang kulakukan sekarang padanya. Begitu tante sadar, batang kejantananku sudah menempel di bibir kemaluannya.

“Tante, Sony udah nggak tahan nich..!” kataku memohon.

Dia mengangguk lemas, lalu, “Ohh..!” dia hanya bisa menjerit tertahan.

Lalu selanjutnya aku tak tahu bagaimana cara memasukkan penisku ke dalam liang senggamanya. Lubangnya agak kecil dan rapat. Tiba-tiba kurasakan tangan tante memegang batang kejantananku dan membimbing senjataku ke liang kenikmatannya.

“Tekan disini Son..! Pelan-pelan yaa.., punya Kamu gede buanget sih..!” katanya sambil tersenyum.

Lalu dengan perlahan dia membantuku memasukkan penisku ke dalam lubang kemaluannya. Belum sampai setengah bagian yang masuk, dia sudah menjerit kesakitan.

“Aaa.., sakit.. oohh.., pelan-pelan Son, aduhh..!” tangan kirinya masih menggenggam batang kemaluanku, menahan laju masuknya agar tidak terlalu keras.

Sementara tangan kanannya meremas-remas rambutku. Aku merasakan batang kejantananku diurut-urut di dalam liang kenikmatannya. Aku berusaha untuk memasukkan lebih dalam lagi, tapi tangan tante membuat penisku susah untuk memasukkan lebih dalam lagi.

Aku menarik tangannya dari penisku, lalu kupegang erat-erat pinggulnya. Kemudian kudorong batang kejantananku masuk sedikit lagi.

“Aduhh.., sakitt.., ohh.. sshh.. aacchh..” kembali tante mengerang dan meronta.

Aku juga merasakan kenikmatan yang luar biasa, tak sabar lagi kupegang erat-erat pinggulnya supaya dia berhenti meronta, lalu kudorong sekuatnya batang kemaluanku ke dalam lagi. Kembali tante menjerit dan meronta dengan buasnya.

Aku berhenti sejenak, menunggu dia tenang dulu lalu, “Lho kok berhenti, ayo goyang lagi donk Son..,” dia sudah bisa tersenyum sekarang.

Lalu aku menggoyang batang kejantananku keluar masuk di dalam liang kenikmatannya. Tante terus membimbingku dengan menggerakkan pinggulnya seirama dengan goyanganku.

Lama juga kami bertahan di posisi seperti itu. Kulihat dia hanya mendesis, sambil memejamkan mata. Tiba-tiba kurasakan bibir kemaluannya menjepit batang kejantananku dengan sangat kuat, tubuh tante mulai menggelinjang, nafasnya mulai tak karuan dan tangannya meremas-remas payudaranya sendiri.

“Ohh.., ohh.., Tante udah mo keluar nich.., sshh.. aahh..” goyangan pinggulnya sekarang sudah tidak beraturan, “Kamu masih lama nggak, Son..? Kita keluarin bareng-bareng aja yuk.. aahh..!”

Tidak menjawab, aku semakin mempercepat goyanganku.

“Aaahh.., Tante keluar Son..! Ohh ennaakk..!” dia mengelinjang dengan hebat, kurasakan cairan hangat keluar membasahi pahaku.

Aku semakin bersemangat menggenjot. Aku juga merasa bahwa aku juga akan keluar tidak lama lagi.

Dan akhirnya, “Ahh.., sshh.. ohh..!” kusemprotkan cairanku ke dalam liang kewanitaannya.

Lalu kucabut batang kejantananku dan terduduk di lantai.

“Kamu hebat..! Sudah lama Tante nggak pernah klimaks.., oohh..!” katanya girang.

“Ohh.., Sony cape.., Tante!” kataku sambil tersenyum kelelahan.

Kami tidak lama kemudian tertidur dalam posisi kaki tante melingkar di pinggangku sambil memeluk dan berciuman. Aku sudah tidak ingat jam berapa kami tertidur. Yang kutahu, ada yang membersihkan penisku dengan lap basah tapi hangat. Ternyata tante yang membersihkan batang kejantananku dan dia sudah terlihat bersih lagi. Setelah selesai membersihkan penisku, dia langsung menjilatinya lagi. Dengan tetap semangat, batang kejantananku dihisap dan dimasukkan ke dalam mulutnya. Yang ini terasa lebih dalam dan lebih enak, mungkin posisi mulut lebih cocok dibandingkan waktu aku berdiri.

Dengan cepat batang keperkasaanku menjadi keras lagi dan dia bilang, “Son, sekarang Kamu kerjain Tante dari belakang ya..!”

Dia kemudian membelakangiku, pantat serta vaginanya terlihat merekah dan basah, tapi bekas-bekas spermaku sudah tidak ada. Sebelum kumasukkan batang kejantananku, kujilat dulu bibir vaginanya dan lubang pantatnya. Tercium bau sabun di kedua lubangnya dan sangat bersih. Cairan dari liang senggamanya mulai membasahi bibir kemaluannya, ditambah dengan ludahku. Di ujung kemaluanku terlihat cairan menetes dari lubang kepala kejantananku. Kuarahkan batang kemaluanku ke lubang vaginanya dan menekan ke dalam dengan pelan-pelan sambil merasakan gesekan daging kami berdua. Suara becek terdengar dari batang kejantananku dan vaginanya, dan cukup lama aku memompanya dengan posisi ini.

Tante kemudian berdiri dan bersandar ke dinding di atas tempat tidur sambil membuka pahanya lebar-lebar. Satu dari kakinya diangkat ke atas. Dari bawah, kemaluannya terlihat sangat merah dan basah.

“Ayo masukin lagi sekarang, Son..!” pintanya tak sabar.

Aku dengan senang hati berdiri dan memasukkan batang kejantananku ke liang senggamanya. Dengan posisi ini, kumasuk-keluarkan batang kejantananku. Setiap kali aku mendorong batang penisku ke liang senggamanya, badan tante membentur dinding.

Sambil memelukku dan sambil berciuman, dia bilang, “Son, Tante mo keluar nich..!”

Kemudian kurasakan lubang senggamanya diperkecil dan memijat batang keperkasaanku dan bersamaan kami keluar dan orgasme. Aku masih bisa juga keluar, walaupun tadi sudah keluar dua kali. Dan yang kali ini sama enaknya.

Kami terus rebahan di kasur sambil berpelukan. Kepala tante di dadaku dan tangannya memainkan penisku yang masih basah oleh sperma dan cairan vaginanya. Dengan nakal tante menaruh jari-jarinya ke wajahku dan mengusap ke seluruh wajahku. Bau sperma dan vaginanya menempel di wajahku. Dia tertawa waktu aku pura-pura mau muntah. Untuk membalasnya, kuraba-raba vaginanya yang masih banyak sisa spermaku dan seluruh telapak tanganku basah oleh sperma dan cairan dia. Pelan-pelan kutaruh di wajahnya, dan wajahnya kuolesi dengan cairan itu. Dia tidak mengeluh tapi justru jari-jariku dijilat satu persatu.

Setelah jari dan tanganku bersih, dia mulai menjilati wajahku, semua bekas sperma dan cairannya dibersihkan dengan lidahnya.

Selesai dengan kerjaannya, dia bilang, “Son, sekarang giliran Kamu yaahh..!”

Wow, tidak disangka aku harus menjilat spermaku sendiri. Karena tidak punya pilihan, aku mulai menjilati cairan di wajahnya, dimulai dari bibirnya sambil kukulum keras-keras. Nafas tante terasa naik lagi dan tangannya mulai memainkan batang kejantananku. Tidak disangka kalau aku bisa juga membersihkan wajahnya dan menjilat spermaku sendiri.

Tanganku diarahkan ke liang senggamanya dan digosok-gosokkan ke klit-nya. Kami saling memegang kira-kira 30 menit. Terus kami berdua mandi untuk membersihkan badan kami.

TAMAT

Tags : cerita 18sx, cerita sex, foto ngentot, smu bugil, gadis indonesia, gambar bokep, gadis telanjang bugil, abg telanjang bugil, sandra dewi telanjang bugil, telanjang bugil blogspot com, telanjang gadis indonesia, foto mahasiswi, payudara mahasiswi, seks mahasiswi, gadis mahasiswi bugil

1 komentar 25 April 2010

Cerita 18sx – Kisah dengan Tetangga 1: Hesti – 4

Dari Bagian 3
Hesti menggeserkan tubuhnya ke arah bagian atas tubuhku sehingga payudaranya tepat berada di depan mukaku. Segera kulumat payudaranya dengan mulutku. Putingnya kuisap pelan dan kujilati.

“Aacchh, Ayo Anto.. Lagi.. Teruskan Anto.. Teruskan”. Ia mulai menaikkan volume suaranya..

Kemaluanku semakin mengeras. Kusedot payudaranya sehingga semuanya masuk ke dalam mulutku kuhisap pelan namun dalam, putingnya kujilat dan kumainkan dengan lidahku. Dadanya bergerak kembang kempis dengan cepat, detak jantungnya juga meningkat, pertanda nafsunya mulai naik. Napasnya berat dan terputus-putus.

Tangannya menyusup di balik celana dalamku, kemudian mengelus, meremas dan mengocoknya dengan lembut. Pantatku kunaikkan dan dengan sekali tarikan, maka celana dalamku sudah terlepas. Kini aku sudah dalam keadaan polos tanpa selembar benang pun.

Bibirnya mengarah ke leherku, mengecup, menjilatinya kemudian menggigit daun telingaku. Napasnya dihembuskannya ke dalam lubang telingaku. Kini dia mulai menjilati putingku dan tangannya mengusap bulu dadaku sampai ke pinggangku. Aku semakin terbuai. Kugigit bibir bawahku untuk menahan rangsangan ini. Kupegang pinggangnya erat-erat.

Tangannya kemudian bergerak membuka celana dalamnya sendiri dan melemparkannya begitu saja. Tangan kiriku kubawa ke celah antara dua pahanya. Kulihat ke bawah rambut kemaluannya tidaklah lebat dan dipotong pendek. Sementara ibu jariku mengusap dan membuka bibir vaginanya, maka jari tengahku masuk sekitar satu ruas ke dalam lubang guanya. Kuusap dan kutekan bagian depan dinding vaginanya dan jariku sudah menemukan sebuah tonjolan daging seperti kacang. Setiap kali aku memberikan tekanan dan kemudian mengusapnya dia mendesis.

Ia melepaskan tanganku dari selangkangannya. Mulut bergerak ke bawah, menjilati perutku. Tangannya masih mempermainkan penisku, bibirnya terus menyusuri perut dan pinggangku, semakin ke bawah. Ia memandang sebentar kepala penisku yang lebih besar dari batangnya dan kemudian mengecup batang penisku. Namun ia tidak mengulumnya, hanya mengecup dan menggesekkan hidungnya pada batang penis dan dua buah bola yang menggantung di bawahnya. Aku hanya menahan napasku setiap ia mengecupnya.

Hesti kembali bergerak ke atas, tangannya masih memegang dan mengusap kejantananku yang telah berdiri tegak. Kugulingkan badannya sehingga aku berada di atasnya. Kembali kami berciuman. Buah dadanya kuremas dan putingnya kupilin dengan jariku sehingga dia mendesis perlahan dengan suara di dalam hidungnya..

“Sshh.. Sshh.. Ngghh..”

Perlahan-lahan kuturunkan pantatku sambil memutar-mutarkannya. Kepala penisku dipegang dengan jemarinya, kemudian digesek-gesekkan di mulut vaginanya. Terasa masih kering, tidak lembab seperti tadi. Dia mengarahkan kejantananku untuk masuk ke dalam vaginanya. Ketika sudah menyentuh lubang guanya, maka kutekan pantatku perlahan. Kurasakan penisku seperti membentur tembok lunak.

Hesti merenggangkan kedua pahanya dan pantatnya diangkat sedikit. Kepala penisku sudah mulai menyusup di bibir vaginanya. Kugesek-gesekkan di bibir luarnya sampai terasa keras sekali dan kutekan lagi, namun masih belum bisa menembusnya. Aku juga heran kenapa sekarang justru setelah kusetubuhi dua kali vaginanya menjadi kering dan peret. Hesti merintih dan memohon agar aku segera memasukkannya sampai amblas.

“Ayolah Anto tekan.. Dorong sekarang. Ayo.. Please.. Pleasse..!!”

Kucoba sekali lagi. Kembali tangannya mengarahkan ke lubang guanya dan kutekan, meleset dan hampir batang penisku tertekuk. Ia menggumam dan menarik napas dan melepaskannya dengan kuat, gemas. Didorongnya tubuhku ke samping. Dikocoknya sebentar untuk menambah ketegangan penisku. Kepalanya yang sudah kemerahan nampak semakin merah dan berkilat.

Ia merebahkan diri lagi dan kutindih sambil berciuman. Kucoba untuk memasukkannya lagi, masih dengan bantuan tangannya, tetapi ternyata masih agak sulit. Akhirnya kukencangkan otot diantara buah zakar dan anus, dan kali ini.. Blleessh. Usahaku berhasil, setengah batang penisku sudah tertelan dalam vaginanya.

“Ouhh.. Hesti,” desahku setengah berteriak.

Aku bergerak naik turun. Perlahan-lahan kugerakkan pinggulku karena vaginanya sangat kering dan sempit. Kadang gerakan pantatku kubuat naik turun dan memutar sambil menunggu posisi dan waktu yang tepat. Hesti mengimbangiku dengan gerakan memutar pada pinggulnya. Ketika kurasakan gerakanku sudah lancar dan mulai ada sedikit lendir yang membasahi vaginanya maka kupercepat gerakanku. Namun Hesti menahan pantatku, kemudian mengatur gerakan pantatku dalam tempo sangat pelan. Untuk meningkatkan kenikmatan maka meskipun pelan namun setiap gerakan pantatku selalu penuh dan bertenaga. Akibatnya maka keringatpun mulai menitik di kulitku.

“Anto.., Ouhh.. Nikmat.. Oouuhh. Kamu memang betul-betul perkasa” desisnya sambil menciumi leherku.

Kuputar kaki kirinya hampir melewati kepalaku. Tetapi ia menahan tanganku.

“Aku mau nungging!” bisikku.

Dilepaskannya tanganku dan kini aku sudah dalam posisi menindih tubuhnya yang tengkurap. Perlahan kugerakkan pantatku naik turun. Beberapa saat kemudian kupeluk perut dan pinggulnya dan kuangkat naik. Tubuhnya dalam posisi nungging dan akupun segera menggenjot dari belakang. Hesti menggerakkan pantatnya maju mundur mengimbangi ayunan pantatku. Kupegang bongkahan pantatnya untuk menjaga irama dan kecepatan ayunanku.

“Antoo oohh.. Uuhh. Lebih cepat lagi saayy” ia setengah menjerit.

Kupercepat ayunan pantatku. Kutarik rambutnya ke belakang sampai kepalanya menengadah. Kurapatkan badanku dan dari belakang kucium leher kemudian bibirnya. Kepalanya miring menyambut ciumanku. Tanganku meremas dan mengusap buah dadan dan putingnya.

Kucabut penisku dan kugulingkan badannya, dan segera kumasukkan penisku kembali ke dalam vaginanya. Kami kembali dalam posisi konvensional. Beberapa saat kemudian kedua kakinya kurapatkan dan kujepit dengan kedua kakiku. Penisku hampir-hampir tidak bisa bergerak dalam posisi ini. Dalam posisi ini vaginanya terasa sangat sempit menjepit penisku.

Kugulingkan tubuhnya lagi sampai ia menindihku. Akan kubiarkan ia mencapai puncak dalam posisi di atasku. Kakinya keluar dari jepitan kakiku dan kembali dia yang menjepit pahaku. Dalam posisi ini gerakan naik turunnya menjadi bebas. Kembali aku dalam posisi pasif, hanya mengimbangi dengan gerakan melawan gerakan pinggul dan pantatnya. Tangannya menekan dadaku. Kucium dan kuremas buah dadanya yang menggantung. Kepalanya terangkat dan tanganku menarik rambutnya kebelakang sehingga kepalanya semakin terangkat. Setelah kujilat dan kukecup lehernya, maka kepalanya turun kembali dan bibirnya mencari-cari bibirku. Kusambut mulutnya dengan satu ciuman yang dalam dan lama.

Ia mengatur gerakannya dengan tempo pelan namun sangat terasa. Pantatnya diturunkan sampai menekan pahaku sehingga penisku terbenam dalam-dalam sampai kurasakan menyentuh dinding rahimnya. Ketika penisku menyentuh rahimnya Hesti semakin menekan pantatnya sehingga tubuh kamipun semakin merapat.

Ia menegakkan tubuhnya sehingga ia dalam posisi duduk setengah jongkok di atas selangkanganku. Ia kemudian menggerakkan pantatnya maju mundur sambil menekan ke bawah sehingga penisku tertelan dan bergerak ke arah perutku. Rasanya seperti diurut dan dijepit sesuatu kuat namun lunak. Semakin lama-semakin cepat ia mengerakkan pantatnya, namun tidak kasar atau menghentak-hentak. Darah yang mengalir ke penisku kurasakan semakin cepat dan mulai ada aliran yang mendesir-desir.

“Ouhh.. Sshh.. Akhh!”

Desisannya pun semakin sering. Aku tahu sekarang bahwa iapun akan segera mengakhiri permainan. Aku menghentikan gerakanku untuk mengurangi rangsangan yang ada karena desiran-desiran di mulut penisku makin kencang. Aku tidak mau kalah.

Aku sebenarnya ingin menyelesaikannya dengan posisiku di atas sehingga aku bisa menghunjamkan kemaluanku dalam-dalam. Namun kali ini aku mengalah, biarlah ia yang mengejang dan menekankan pantatnya kuat-kuat.

Setelah beberapa saat kurasakan rangsangan itu menurun. Kini penisku kukeraskan dengan menahan napas dan mengencangkan otot antara buah zakar dan anusku seolah-olah menahan kencing. Kulihat reaksinya. Ia kembali merebahkan tubuhnya ke atas tubuhku, matanya berkejap-kejap dan bola matanya memutih. Giginya menggigit bibir bawahnya kuat-kuat. Akupun merasa tak tahan lagi dan rasanya akan segera menembakkan peluru terakhirku untuk menyelesaikan pertempuran. Akhirnya beberapa detik kemudian..

“Anto.. Sekarang say.. Sekarang.. Aakkhh.. Hhuuhh!” Hesti memekik kecil.

Pantatnya menekan kuat sekali di atas pahaku. Dinding vaginanya berdenyut kuat menghisap penisku. Aku menahan tekanan pantatnya dengan menaikkan pinggulku. Bibirnya menciumiku dengan pagutan-pagutan ganas dan diakhiri dengan gigitan pada dadaku. Desiran yang sangat kuat mengalir lewat lubang penisku. Kupeluk tubuhnya erat-erat dan kutekankan kepalanya di dadaku. Napasnya bergemuruh kemudian disusul napas putus-putus dan setelah tarikan napas panjang ia terkulai lemas di atas tubuhku.

Denyutan demi denyutan dari kemaluan kami masing-masing kemudian melemah. Spermaku yang masuk dalam vaginanya sebagian tertumpah keluar lagi di atas pahaku. Ia berguling ke sampingku sambil tangan dan mukanya tetap berada di leherku. Kuberikan kecupan ringan pada bibir, dan usapan pada pipinya.

“Terima kasih To. Kamu sungguh luar biasa, begitu nikmat dan indah. Perkasa dan sekaligus romantis. Thanks”. Katanya lembut.

Kami masih berpelukan sampai keringat kami mengering. Kembali kami tertidur beberapa saat. Begitu terbangun kulihat jam tanganku sudah menunjukkan pukul empat sore. Aku bangkit, masuk ke kamar mandi dan mandi di bawah guyuran shower. Setelah mandi dan hendak mengenakan pakaian, Hesti menahan tanganku yang sudah memegang celana dalam.

“Kita tidur disini lagi malam ini, please. Besok siang kita check out dan kamu bisa berangkat ke kantor dari sini saja. Aku.. Masih ingin lagi..” katanya dengan tersipu-sipu.

Kuikuti saja kemauannya, toh cutiku belum lagi habis. Malam itu setelah makan malam sampai besok siangnya kami tidak keluar kamar dan tidak sempat mengenakan pakaian lagi. Kuikuti permainannya sampai ia merasa tidak mampu lagi mengangkat tubuhnya.

Keesokan siangnya kuantar ia sampai Blok M dan ia naik taksi ke Sawangan.

When will we meet again, Hesti?
E N D

Tags : cerita 18sx, cerita merangsang, bugil, 17 tahun keatas,indocerita 17 tahun,cerita seru 17 tahun, telanjang,bugil,artis,gadis,cerita

1 komentar 24 April 2010

Cerita 18sx – Kisah dengan Tetangga 1: Hesti – 3

Dari Bagian 2
Hesti kemudian berjongkok dan pantatnya bergerak naik turun, memutar dan maju mundur seperti joki yang sedang memacu kudanya. Payudaranya bergoyang-goyang dan segera kuremas-remas. Aku bergerak menaikkan tubuhku sehingga kini posisiku duduk memangkunya. Payudaranya kupermainkan dengan tangan dan mulutku. Tangannya memegang pahaku, dadanya semakin tegak dan kepalanya mendongak. Tidak ada bagian tubuh atasnya yang kulewatkan. Gerakan pantatnya semakin dipercepat sampai tubuhnya seakan meliuk-liuk.

Aku bangkit berdiri dan kuangkat tubuhnya, tanpa melepaskan penisku dari vaginanya kugendong ke ranjang. Aku ingin menuntaskan di atas ranjang yang empuk. Ternyata sebelum mencapai ranjang penisku terlepas.

Kurebahkan tubuhnya di ats ranjang dengan kaki mengangkang. Aku menjilat pangkal pahanya dan kususuri betis hingga pahanya dan kemudian lidahku sudah menggelitik vaginanya yang kemerahan. Ia semakin menekan kepalaku ke selangkangannya dan meremas-remas rambutku. Sementara itu tanganku bekerja mengusap, meremas dan memilin payudaranya. Akhirnya ia sudah tidak sabar minta kusetubuhi.

“Anto cepat To.. Ayo aku sudah tidak tahan lagi. Masukin oohh.. Masukin!”

Aku naik ke atas tubuhnya dan mengarahkan penisku ke vaginanya. Dengan sedikit mengangkat kakinya, maka penisku dengan mudah amblas ke dalam vaginanya. Kupompa vaginanya, sementara bibir kami di atas juga saling berpaut. Tangannya memeluk punggungku sedangkan tanganku meremas payudaranya atau mengusap pinggulnya. Kami bergerak saling menimba kenikmatan agar gairah kami segera tuntas.

Ia memutar pinggulnya dan penisku tersedot sedemikian rupa sehingga kadang aku harus menghentikan gerakanku agar spermaku tidak cepat tumpah. Dinding vaginanya sama sekali tidak berdenyut, namun sedotan akibat gerakan memutar pinggulnya membuatku untuk cepat menyelesaikan babak ini.

Kukencangkan penisku dan kukocok vaginanya dengan cepat sampai terdengar bunyi paha beradu dan seperti tanah becek yang terinjak kaki. Semakin cepat kami bergerak, maka sedotan pada peniskupun semakin kuat sehingga akhirnya..

“Hesti.. Ohh Hesti.. Nikmat sekali..!”

“Ouuhh Anto, kamu benar-benar.. Ouhh..!”

Kami mengendorkan gerakan untuk sedikit menurunkan gairah. Setelah gairahku turun, kupacu lagi kuda binalku ini untuk segera mencapai finish.

“Anto.. Yacch.. Ayo sekarang keluarkan. Kita sama-sama..!” Ia menggigit lenganku. Kakinya membelit pinggangku segera kuhantam dengan keras vaginanya dengan penisku dan.. Croott.. Crott.. Crott… Ia pun mengejang, pantatnya naik menyambut hunjamanku dan ia merapatkan tubuhnya padaku. Menyemburlah spermaku di dalam vaginanya dan kamipun berpelukan lemas.

Setelah napas kami teratur, kami mengobrol tentang keadaan kota kami. Dari tadi malam identitas diriku berusaha kututupi, aku belum mau dikenalinya.

“Ayu sekarang di mana?” tanyaku.

Aku tercekat karena pertanyaan ini akan membuka rahasia diriku, namun sudah telanjur. Ayu adalah adiknya yang juga teman sekelasku. Ia memandangku keheranan.

“Kamu kenal Ayu?” tanyanya. Sudahlah, aku akan berterus terang siapa diriku ini sebenarnya.

“Ya, dan aku kenal almarhum Pak Setyo,” kataku tersenyum. Pak Setyo adalah ayahnya yang sudah almarhum. Ia makin keheranan dan memandangku tajam menyelidik.

“Kamu.. Kamu..”

“Ya, aku Anto, tetanggamu di kampung. Sorry kalau aku dari tadi malam menutupi identitas diriku”.

Ia menarik napas panjang dan menutup mukanya dengan bantal. Setelah beberapa saat ia kemudian menatapku dan menggelengkan kepalanya.

“Dari semula aku merasa ada yang aneh. Seakan-akan aku pernah mengenalmu, tapi aku lupa kapan dan di mana. Kenapa kamu merahasiakan dirimu?”

“Sekali lagi sorry, bukan maksudku berbuat jahat begini”.

Tentu saja, mungkin kalau identitas diriku kubuka dari awal belum tentu aku dapat menikmati tubuhnya.

“Hh.. Ya sudah, sudah telanjur mau apa. Apa lagi permainanmu tadi dahsyat juga,” akhirnya ia berkata dan mencubit lenganku kuat-kuat sampai meninggalkan bekas kemerahan.

“Kita pulang sekarang?” tanyaku.

Ia kelihatan ragu dan menatapku minta pertimbangan. Kutatap matanya dengan penuh percaya diri dan seolah untuk memberi tekanan untuk melanjutkan permainan ini sampai sore nanti.

“Baiklah, aku menyerah. Aku sudah telanjur kalah telak,” katanya hambar.

“Nggak begitu, kadang kita perlu sedikit kejutan dalam hidup ini agar tidak monoton,” kataku.

Menjelang tengah hari kuajak ia makan sate dan sup kambing. Ia hanya tersenyum dan menatapku menggoda.

“Mau nanduk nih?” sindirnya.

“Persiapan saja,” kataku singkat.

Kuajak ia ke sebuah Department Store di dekat situ. Kubelikan ia sebuah baju tidur hijau muda tipis dan lingerie hitam transparan. Aku ingin ia memakainya nanti di kamar pada saat foreplay permainan berikutnya. Membayangkan hal demikian membuat aliran darahku semakin cepat.

Kami kembali ke hotel. Aku merebahkan tubuhku di ranjang tanpa melepas pakaianku. Hesti masih sibuk mematut-matut pakaian yang kubelikan.

“Sudah, pakai saja. Aku juga ingin menikmati tubuhmu dengan pakaian itu,” kataku dengan sedikit tekanan.

Hesti masuk ke kamar mandi sambil membawa bungkusan pakaiannya. Aku memejamkan mataku dan berbaring miring membelakangi pintu kamar mandi. Tak lama kurasakan Hesti keluar dari kamar mandi. Aku sengaja tidak menengok ke arahnya meskipun hatiku penasaran ingin melihat tubuhnya di balik pakaian tidur dan lingerrie yang transparan.

“Anto.. To. Bagaimana menurutmu?” tanyanya.

Perlahan aku berbalik dan duduk di tepi ranjang dan kulihat ia makin menarik dengan pakaian seperti itu. Dengan pakaian seperti itu seolah-olah ia dalam keadaan telanjang bulat diselimuti kabut tipis. Belahan dadanya sangat rendah sehingga makin menonjolkan lekuk dadanya. Ia menggoyang-goyangkan badan dan membusungkan dadanya. Hesti duduk di pangkuanku dan tangannya merangkul leherku. Kepalanya disandarkan dan digesekkannya ke pipiku.

“To, aku merasa sangat seksi dan ada semacam gairah berbeda dengan gairah yang tadi,” katanya. Kubelai pundaknya dan kuusap perlahan.

Ia tidak sabar lagi. Diciumnya pipiku dan tangannya tergesa-gesa membuka kancing bajuku.

“Ayo To kita berpacu lagi. Puasin aku lagi!” rintihnya sambil memejamkan matanya.

Mulutnya berhenti merintih waktu bibirku memagut bibirnya yang merekah. Lidahku menerobos ke mulutnya dan menggelitik lidahnya. Hesti menggeliat dan mulai membalas ciumanku dengan meliukkan lidahnya. Tanganku mulai menari di atas dadanya. Kuremas dadanya. Kurasakan payudaranya sudah mengeras. Jariku terus menjalar mulai dari dada, perut terus ke bawah hingga pangkal pahanya. Hesti makin menggeliat kegelian. Lidahku sudah beraksi di lubang telinganya dan gigiku menggigit daun telinganya.

Kugeser tubuhnya sehingga ia duduk di atas pahaku membelakangiku. Tanganku yang mendekap dadanya dipegangnya erat. Payudaranya terasa mengencang. Kucium rambutnya. Mulutku menggigit tengkuknya. Hesti kini benar-benar sudah takluk dalam pelukanku meskipun ia sudah mengetahui identitasku.

Badannya mulai menghangat dan detak jantungnya semakin cepat. Bibir dan hidungku makin lancar menyelusuri kepala dan lehernya. Hesti makin menggelinjang apalagi waktu tanganku meremas buah dadanya yang masih tertutup baju tidur itu dari belakang. Kuletakkan mukaku dibahunya dan kusapukan napasku di telinganya. Hesti menjerit kecil menahan geli dan rasa nikmat. Ia mempererat pegangan tangannya di tanganku.

Kuangkat tubuhnya berdiri tetap dalam pelukanku. Tangannya bergerak ke belakang dan meremas isi celanaku yang mulai memberontak. Aku merendahkan badan dan mulai mencium dan menggigit punggungnya. Ia mendongakkan kepalanya dan berdesis lirih tertahan. Gigi atas menggigit bibir bawahnya.

Aku menunduk di belakangnya dan meneruskan aksi tanganku ke betisnya, sementara bibirku masih bergerilya di sekitar pinggul dan bongkahan pantatnya. Ia merentangkan kedua kakinya dan tubuhnya bergetar. Kucium pahanya dan kuberikan gigitan semut. Ia makin meliukkan badannya, namun suaranya tidak terdengar. Hanya napasnya yang mulai memburu.

Pada saat ia sedang menggeliat, kuhentikan ciumanku di lututnya dan aku berdiri di hadapannya. Kuusap pantat dan pinggulnya. Kembali ia berdesis pelan. Tubuhnya memang padat dan kencang. Lekukan pinggangnya indah, dan buah dadanya nampak bulat segar dengan puting tegak menantang berwarna coklat kemerahan.

Dengan cepat langsung kusapukan bibirku ke lehernya dan kutarik pelan-pelan ke bawah sambil menciumi dan menjilati leher mulusnya. Hesti semakin merepatkan tubuhnya ke dadaku, sehingga dadanya yang padat menekan keras dadaku. Bau tubuhnya dengan sedikit aroma parfum makin menambah nafsuku. Ia menggerinjal dan mulutnya mulai menggigit kancing bajuku satu persatu.

Dengan sebuah tarikan pelan ia melepas bajuku. Diusap-usapnya dadaku dan kemudian putingku dimainkan dengan jarinya. Kucium bibirnya, ia membalas dengan lembut. Lumatanku mulai berubah menjadi lumatan ganas. Ia melepaskan ciumanku. Ia menatap mataku dan berbisik..

“Ayo To.. Kita masih punya waktu sampai sore. Aku ingin kita bermain dengan pelan tetapi bergairah!”

Kubuka kancing baju tidurnya. Kini tangannya membuka celana panjangku. Kini kami tinggal mengenalan pakaian dalam saja. Bra dan celana dalamnya berwarna hitam berpadu dengan kulitnya yang sawo matang. Bra-nya yang transparan tidak cukup memuat buah dadanya sehingga dapat kulihat lingkaran kemerahan di sekitar putingnya. Celana dalamnya menampilkan bayangan ‘padang rumput hitam’ di bawah perutnya.

“Eehhngng..” Ia mendesah ketika lehernya kujilati. Kulirik bayangan kami di cermin lemari kamar.

Hesti mendorongku ke ranjang dan menindih tubuhku. Tanganku bergerak punggungnya membuka pengait bra-nya. Kususuri bahunya dan kulepas tali bra-nya bergantian. Kini dadanya terbuka polos di hadapanku. Buah dadanya besar dan kencang menggantung di atasku. Putingnya berwarna coklat kemerahan dan sangat keras. Digesek-gesekkannya putingnya di atas dadaku.

Bibirnya lincah menyusuri wajah, bibir dan leherku. Hesti mendorong lidahnya jauh ke dalam rongga mulutku kemudian memainkan lidahku dengan menggelitik dan memilinnya. Aku hanya sekedar mengimbangi. Akan kubiarkan Hesti yang memegang kendali permainan. Sesekali ganti lidahku yang mendorong lidahnya. Tangan kananku memilin puting serta meremas payudaranya.

Ke Bagian 4

Tags : cerita 18sx, gadis indonesia, gambar bokep, bunga citra lestari telanjang, telanjang bulat, cynthiara alona telanjang, tante girang telanjang, ayu anjani telanjang, mahasiswi jogja, mahasiswi bispak, dengan mahasiswi, mahasiswi toket gede, mahasiswi baru, cerita mahasiswi

1 komentar 24 April 2010

Laman

Kategori

Tautan

Meta

Kalender

April 2010
S S R K J S M
    Mei »
 1234
567891011
12131415161718
19202122232425
2627282930  

Posts by Month

Posts by Category